Rabu, 27 Januari 2016

Love Over Stupidity

Mak Gondut nge-whatsapp sebuah berita yang sepertinya dia copas dari whatsapp lain yang copas dari web aceh cyber berdesain ala matrix reloaded yang dicopas dari online sebuah koran terbelakang yang dikutip dari seorang Menteri Agama yang melihat LGBT hanya dari sudut pandang agama versi dia sendiri.

"Masyarakat hendaknya tidak menyalahkan dan menyudutkan pelaku LGBT, mereka adalah korban yang perlu bantuan."

Gue memilih tidak menjawab whatsapp Mak Gondut. Di saat banyak  hal yang seharusnya diurusi agama terjadi di dunia malah tidak mendapatkan bantuan, berdebat soal LGBT boleh atau tidak menjadi menjemukan. Korban perang Siria yang ditolak di mana-mana, misalnya.

"Perilaku LGBT bisa saja disebabkan oleh genetik atau keturunan dan faktor lingkungan yang telah menjadi gaya hidup. Mereka ini seharusnya dapat dirangkul dan diayomi serta dibimbing agar mendapatkan solusi yang terbaik."

Gue juga tidak akan mengkhotbahi betapa homoseksualitas sudah ada di semua spesies sejak dahulu kala.Kalau mereka mau mereka bisa baca sendiri. Tapi kalau mereka ada waktu membaca lebih baik membaca kenapa Arab Saudi bisa sesuka hati ngebom Yaman.

Mungkin karena didukung lingkungan, tetmasuk the big brothers Inggris dan Amerika. Arab Saudi ini seharusnya dirangkul dan diayomi agar tidak terus menerus membunuh orang demi keuntungan dagang senjata dan minyak.

"Bahkan, bisa saja mereka sebenarnya tidak ingin terus-menerus berperilaku seperti itu. Mereka bisa saja ingin bebas dari masalah yang mereka rasakan."

Ah itu kan perasaan sok tahu bapak saja. Gue sudah menerima kok kalau gue memang diciptakan begini, dan tidak ingin menjadi orang lain yang sesuai standar baik seorang menteri yang tidak berusaha mendalami masalah dan hanya menjawab berdasarkan komentar populer.

Lebih baik kita bersama-sama membicarakan hal-hal yang kita bisa sepakati. Hal-hal yang membuat lingkungan hidup kita lebih baik. Gak usah jauh-jauh ke Yaman dan Siria.

Bisa dimulai dengan gimana caranya si Nur yang kerja di rumah kita demi anaknya di kampung bisa merasa lebih berarti. Atau industri film yang akan dihapus dari Daftar Negatif Investasi dan dampaknya pada budaya dan ekonomi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar