Selasa, 23 Agustus 2016

Sabar

Apa yang paling diperlukan untuk selamat menjadi storyteller di luar jalur mainstream?

Sabar.

Ketika dapat pinjaman dua kamera dan dua-duanya baterainya  drop.

Ketika art team baru yang sudah di set 3 jam yang lalu belum masang green screen.

Ketika studio sejuta 12 jam ini gak punya speaker dan masih dipenuhi lampu-lampu yang punya.

Ketika tim produksi gak mau meminjamkan orangnya karena itu bukan kerjaan dia. Dan memang bukan kerjaan dia.

Ketika gue sadar untunglah ini cuma test cam. Bukan shooting beneran.

Tapi orang-orang inilah yang nanti akan shooting beneran bareng gue.

Sembilan tahun yang lalu, waktu bikin cin(T)a, kami memulai dengan semuanya orang baru. Tapi sekarang kesulitan filmnya meningkat. Orang-orang baru jadi keteteran.

Bisa saja sih sabar kalau waktunya lama. Bisakah gue sabar kalau shootingnya dua minggu lagi? Apa yang penting buat gue?

Film dan pembuatannya adil.

Senin, 22 Agustus 2016

Para Penari Istana

Ada yang pagi-pagi sudah mendatangi tetangganya.

"Saya mau nari di sini. Sitayana, bukan Ramayana," katanya. Lalu si tetangga dijadikan api biru yang mengelilingi dia. Dia tentunya jadi Sitayana.

"Padahal dia sudah enam puluhan dan tak kecil lagi," kata salah satu muridnya. Tapi katanya nanti di Bali yang jadi Sita muridnya.

Ternyata dia lagi.

Pernah dia menari bersama segerombolan penari Jawa. Gantian. Saat Penari-Penari Jawa mentas, dia berisik di pinggir panggung memberi instruksi kepada murid-muridnya. Saat mereka manggung, yang Jawa duduk tak bergeming sedikit pun di pinggir panggung.

Saat pengajuan dananya ditolak oleh Departemen, dia berteriak-teriak mengamuk sampai ke lift.

Ada lagi penari lain yang sudah dijanjikan 800 juta oleh departemen untuk pagelaran 70 tahunnya setelah mengabdi bertahun-tahun menjadi penari istana. Tiba-tiba si Bapak berkelat-kelit tak jadi ngasih padahal semua persiapan sudah dimulai.

Dia hanya diam, mengambil semua berkasnya, dan kembali ke rumahnya tanpa dendam. Menghitung ulang semua dengan dana seadanya.

Tapi dari wajahnya yang diam, kita tahu dia menekan kemarahan.

Ada lagi yang memang tulus ikhlas dari sananya. Seperti si penari Jawa yang hanya diam di pinggir panggung tanpa bergeming.

Penari... penari... ceritamu banyak sekali.

Ingin kuberi kalian panggung.

Tentang Yang Lain

"Kita bertiga pernah ngobrol... Seandainya Sammaria bikin film yang tidak tentang dirinya sendiri... Lebih tentang karakter urban Batak sekitarnya, pasti filmnya lebih bagus," kata seorang aktivis film menceritakan diskusinya dengan dua pengamat/pembuat lain.

Gue hanya menjawab dalam hati. Seandainya Demi Ucok bukan tentang dirinya sendiri dan mamaknya sendiri, filmnya gak akan jadi. Terlalu banyak bensin dibutuhkan untuk menyelesaikan Demi Ucok. Butuh alasan yang sangat sangat personal sampai film tanpa bintang tanpa CGI selesai.

Dan tayang.

Lalu dia menceritakan tentang film-film yang ingin dia bikin. Tentang karakter-karakter terpinggirkan di Jakarta. Yang bukan dirinya sendiri. Yang belum jadi-jadi.

Apapun cerita gue, semoga gue bisa bikin film jujur. Bukan jujur honest, tapi truthful.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Pilih-Pilih

Seorang ibu beranak tiga membuat sanggar seni untuk anak-anak. Di saat anak-anak lain sibuk ber-Frozen dan ber-Justin Bieber, anak-anaknya bermain gendang afrika dan membuat lagu tentang pergi ke gunung.

Brand pun mulai berdatangan mengajak mereka pentas untuk acara promo mereka. Keuangan sanggar mulai membaik.

Tapi Brand mengatur kostum, mengatur waktu, mengatur lagu mereka agar lebih sesuai image brand.

"Tapi yang bikin gue akhirnya gak terima adalah ketika mereka memilih pemeran," katanya menyembunyikan sedih dan amarah di balik ketenangannya.

Gak mau yang gendut. Gak mau yang kaca mata. Bagusan yang cantik. Mending yang udah terkenal.

"Ini kan anak-anak... Kalau dari kecil sudah kita bawa masuk ke dunia dengan pemikiran seperti itu,  buruk untuk masa depan mereka," katanya.

Akhirnya dia memilih jalan yang berbeda. Setelah setahun bekerja sama dengan sebuah badan  pendana untuk membuat teater musikal anak, mereka pun percaya padanya. Cast menjadi otoritas dia tanpa boleh diganggu gugat.

Dia pun memakai si gendut, si kacamata, si tak cantik, dan semua yang tak  dipandang industri hiburan yang semakin hari semakin membuat anak-anak kita cita-citanya menjadi cantik dan terkenal.

Sebagai anak gendut berkacamata tak cantik dan tak terkenal, gue bersyukur ada di sini.

Jujur/ Syukur

Seorang Ibu mengajak dua pengasuh baby-nya makan-makan di restoran.

"Gimana basonya?"

"Enak banget, Bu," kata Yang Tua.

"Biasa aja," kata Yang Muda.

Mungkin yang muda kurang bersyukur. Mungkin simply lebih jujur.

Guess siapa yang akan diajak next time si Ibu jalan-jalan.

Kamis, 18 Agustus 2016

Bangga

Sepasang atlet bulu tangkis berhasil memenangkan medali emas sebuah ajang olah raga yang seringkali jadi ajang konsumerisme berbulu heroisme. Gue berusaha tidak ikut-ikutan jadi anak dunia ke tiga yang silau dengan kata dunia, tapi melihat mereka berdua menggigit emas dengan jahil mau tak mau terharu juga.

Seperti kata artikel di facebook seorang teman bermata sipit, mereka adalah paduan yang pas untuk membungkam semua kata-kata pedih yang menghina perbedaan. Yang satu Islam, satu Kristen. Satu cowo, satu cewe. Satu pribumi, satu Cina.

Ternyata shuttle cock tidak mengenal ras, katanya.

Melihat rambut salah satu atlit, gue menulis komen, "Curiga shuttlecock tidak mengenal orientasi seksual."

Semenit kemudian, gue delete.

Curiga kita masih di tahap memahami perbedaan ras. Gak usah curi spotlight.

Rabu, 17 Agustus 2016

Merdeka

Di sela-sela roti Nutella, sebuah lagu berkumandang khidmat dari siaran TV One.

Ini lagu apa? Sepertinya lagu kebangsaan Indonesia. Dimainkan dengan drum band, orchestra ala Eropa, dan oleh pemuda pemudi berseragam macam tentara Eropa abad pertengahan. Tapi indah dan menggugah rasa bangga jadi orang Indonesia.

Oh hari ini hari kemerdekaan kita.

Gue tidak lagi mengunyah Nutella dan mulai mendengarkan TV One. Sudah sering gue mendengarkan lagu-lagu ini. Hanya biasanya dengan lirik-lirik patriotis yang untuk zaman sekarang malah mengingatkan pada pemuda-pemuda asal teriak NKRI harga mati.

Tapi jika dilantunkan tanpa lirik, malah membawa gue membayangkan zaman dahulu kala. Ketika Indonesia masih jajahan orang. Dan pemuda-pemudinya merindukan kemerdekaan. Dan slogan-slogan kebangsaan mungkin bukan hanya di mulut saja, memang mengalir ke jiwa raga mereka, dan tersampaikan  dengan sendu dan bangga pada gue melalui musik mereka.

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya...

Apa yang bisa gue lakukan di kemerdekaan ini?

Makan buy 1 menu 17.000 di Tawan. Atau diskon 17+8+45% di Haagen Dasz.

Selasa, 16 Agustus 2016

Satu Scene

Akhirnya storyboard untuk satu scene 'Weaving Anteh'  selesai juga. Total 41 gambar. Dua jam-an. Gambar sendiri. Gak ada budget storyboard artist.

Masih ada 9 scene lagi.

Tiba-tiba malas mulai menjangkit. Gak bisa ya langsung shooting aja? Toh nanti gak ada yang bakal lihat storyboard ini.

Kalau ngegambarnya aja malas, apalagi shootingnya.

Teringat film-film yang lalu-lalu. At the end, yang gue inget bukan award-nya, bukan screening-nya, tapi ngebuatnya. Saat gue menikmati dan mencurahkan semua energi gue untuk the lot that has been given to me.

Cause all is vanity and striving after wind.

Lanjut scene dua dengan seksama.

Senin, 15 Agustus 2016

Seni dan Doa

"Bu, ntar set-nya gak jadi kaya teater ya? Gak realistis?" tanya Director Of Photography.

"Bisa jadi," kata gue.

But it wasn't a bad thing. For me. Gue udah pernah lihat stage dia. Mistis. Beda. Gak kaya set film memang, tapi gue pengen nyoba.

Dan bukan set mereka saja yang berbeda. Cara kerja mereka pun berbeda.

Tidak ada gambar kerja detail yang bisa di-breakdown menjadi daftar belanja/sewa. Haram menyebut kata budget, bilangnya list art.

Alhasil Line Producer mulai bertaring bekerja tanpa pegangan dokumen apa-apa. Mengharapkan keajaiban hari H set langsung jadi magic sepertinya impossible di kamusnya.

"Gue tuh setiap hari berdoa, berharap dituntun apa yang harus gue lakukan," kata si Production Designer dulu saat menceritakan pagelaran epiknya di sebuah lapangan tengah kota bersama 2500 penari. Hasilnya di luar dugaan.

Mungkin gue juga harus berdoa.

Line Producer tambah bertaring.

Minggu, 14 Agustus 2016

Baby Cewe

"Lo hamil? Pantesan muka lo bersinar," kata gue.

"Kata suami gue juga gue jadi lebih dandan," katanya.

"Mungkin anaknya cewe," kata yang lain.

"Atau cong!" kata gue.

Tidak ada yang menjawab.