Sabtu, 28 November 2009

WANTED : Mahkluk-mahkluk seperti ini


Kunyir - Production Manager - Pemimpin Jamaah Al Jamuiyah, bau Minyak Tawon, sedia Tolak Angin ke mana pun. Cewe, 30 tahun, Jawa.


Jilbabe - Asisten Sutradara - Wanita berkalung silet, dan berkerudung petasan.
cewe (atau mantan cowo), 23-27 tahun, sunda.



DICARI : Produser/ Suami

Seriously. Lebih gampang nyari duit buat bikin film daripada nyari produser buat partner bikin film.

9 Matahari punya banyak proyek lain. Gue butuh produser yang bisa jadi partner gue di Demi Ucok biar gue bisa konsentrasi directing.

Gue diketawain. Di mana-mana produser yang nyari sutradara. Kok ini sutradara nyari produser? Namanya juga zaman emansipasi sutradara. Sutradara-suradara harus pdkate duluan dong.

Hihihi kalik aja gue bisa mengikuti trend sutradara-produser masa kini yang berlanjut ke jenjang perkawinan. JAdi gue bisa hahahihi bikin film sementara doi nyari duit. Jadi para produser di luar sana: adakah yang sevisi denganku?

I can't wait to meet you=D

SOLD OUT

cin(T)a di medan... abis.

Jogja... abis.

Salatiga... abis.

Surabaya... abis.

Di bangkok... cuma 30 orang. Baru tau ternyata di festival tuh kita harus publikasi sendiri.

Hari pertama 20 orang, ke dua 10 orang. But somehow it's enough=D

Terima kasih.

Jumat, 27 November 2009

Please welcome, My New Baby!




Please welcome, my new baby. Ayu Riana: The Next Rita Sugiharto=D

13 tahun, tapi suaranya... speechless.

Karya terbaru Sammaria dan Sally, yang kali ini dokumenter tapi tetep di bioskop. Abis ini Sally gak mau lagi bikin film ama gue, bisi keterusan cenah.(Padahal kayanya doi takut jatuh cinta ama gue. Aji cuma kamuflase.)

Filmnya bakalan release akhir tahun 2010. Tentang dangdut, wanita, dan kemiskinan.

roadshow

“Mbak, udah jam 5:30” seru Fitri di sela-sela kokok ayam pagi-pagi.

Hwaaa!!!

Belum mandi. Belum packing. Langsung gue sambar BH, celana disposable, laptop, baju seadanya, dan tak lupa penyelamat hidupku: catokan + hair dryer. Pesawat gue take off in 30 minutes.

Untung bandara Bandung cuma 10 menit dari rumah gue di pagi buta di mana kambing pun belum bangun ini.

Damn! Ternyata hari ini Idul Adha. Kambing udah bangun, siap2 dipotong. Pajajaran ditutup. Jalanan dipake shalat. Arrrrgggghhh... Terpaksa harus muter.

Nyampe airport, loket check in dah tutup. Delikan bulu mataku tak cukup merayu petugas untuk membiarkan gue masuk. Memble. Hanguslah ticket air asia ku yang tak refundable dan tak transfarable itu.

No debatable, aye didepak pulang. Nyoba cari tiket lain, mahalnyooo! Kerana long wiken , semua orang nak pigi kat KL. Mana katanya Indonesia krisis duit? Maaf sangat , eda dohot ito se-singapur dan Malaysia. Nangboru tak jadi datang retreat=C

Apa mau dikata... padahal dah pasang alarm jam 4 pagi. After a series of 4am morning calls, ternyata hari ini gue tepar juga, tak terbangunkan. Mungkin memang ini pertanda harusnya gue tidur saja. Atau harusnya gue di rumah saja, nulis my so long talk about script “Demi Ucok” yang berenang-renang di kepala tapi tak juga bertransformasi jadi file .doc .

Atau gue di rumah aja, ngerjain foro prewed singa – sigit yang tak juga dikerjakan, padahal dah bawa2 hard disc gede keliling Bangkok- medan- jogja- salatiga-surabaya... tapi tetep gak ada waktu untuk ngerjain foto kakakku singa tercinta. Sibuk pijat dan facial=D

Apalah daya. Aku memang wanita lemah. Tak kuat menahan bujukan John Badalu. Di mana lagi facial 16 steps dengan 9 cream warna warni? Di Jakarta biasanya facial jadi siksaan lahir batin. Teriak-teriak berasa disiksa. Beauty is hell indeed. Tapi di Bangkok beauty is heaven, baby!

Thai massage juga sejam cuma Baht 250. Cowo-cowonya lembut, curiga semuanya gay. Benarkah ini akibat mengkonsumsi makanan rekayasa genetika sejak bayi? I have no idea but ... Man! I love this city. I met mostly gay guys. I came to a point that I have to admit: I love gay guys. I think I am a gay guy trapped in a body of a girl.

Nyampe Medan, langsung creambath. Jomplang banget dibanding sensasi 9 krim Bangkok. Kucoba salon lain yang katanya paling oke semedan. Ternyata doi harus dididik bagaimana melayani tamu. Daripada diperlakukan kaya kambing, gue cabut. Dini danti langsung gue kirim SMS SOS, mnta dicarikan salon di jogja biar insiden Medan tidak terulang lagi.

Tak jadilah aku berburu lelaki di medan. Akibat bulu mataku keburu rontok hihihi. Jadi tidak bisa menipu lelaki dengan mata cling cling bersinar menarik hati. Semua gara2 salon asshole yang tanam bulu mata aja gak bisa tapi lagaknya selangit. Tapi gue tetep cinta kota ini berhubung babi dan sate padangnya menyejukkan jiwa. Nyum. Nyum.

4 am morning call di medan, akyu dan sally langsung ke jogja. Entah kenapa semua panitia di jogja langsung menatap dalam mata ini tiap berkenalan. Ternyata semua ini gara-gara DIni. Doi menginstruksikan semua panitia untuk survey tempat bercocok tanam bulu mata paling oke se Jogjakarta. Monyet. Ketahuan deh bulu mata gue rekayasa.

But they did a good job. Salonnya oke. Jadi sutradara terhindar dari low self esteem akibat bulu mata merontok.

Ternyata sampai Salatiga pun gosip terlanjur menyebar. Panitia menatap dalam mata gue. Dasar dini monyet gak demen liat orang cantik. Padahal gue dah sengaja pake batik cantik Rp 35 ribu hasil berburu di Malioboro. Peduli amat kata Danti gue kaya ubur-ubur. Peduli amat panitia menyangka gue ibu-ibu. Yang penting gue berasa kece. Heheheh.

Orang-orang nonton cin(T)a di Salatiga, gue pijit=D

Orang-orang nonton cin(T)a di Surabaya, gue pijit=D

Maklum kan gue di roadshow ini harus banyak berpikir dan meladeni pertanyaan para mahasiswa mahasiswi harapan bangsa yang pintar-pintar ini. Jadi butuh banyak tekanan untuk melegakan urat syaraf=D

Surabaya-Bandung non stop 24 jam si om Pur nyetir. Berkat om Pur pake baju loreng, kite terhindar dari tangkapan beberapa cicak berbuaya.

Nyampe ke Bandung, bela-belain macet2an langsung ngapelin my new Baby, Ayu Riana. Soalnya besok harus ke Malaysia. Gak bakal ketemu doi lagi sampe desember nanti. Ternyata doi gak di rumah.

Memble, aye pulang. Macet lagi di Pasteur. Nyampe rumah langsung tidur. Gak mandi. Gak packing.

Apa mau dikata. Takdir berkata berbeda. Alarm telah menyala, aku ngorok keterusan. Malaysia terlupakan.

Selasa, 27 Oktober 2009

15 Jam

Dia akan datang jam 11. Rambut gue dah abis dicatok. Alis gue dah rapi dicabutin. Dan hal gak penting lainnya.

Jam 12, gue kebangun. Belum ada SMS dari dia.

Jam 1, dia mau makan dulu dengan keluarganya=C Gue menunggu sambil membaca tentang nasib cewe2 di afghanistan.

Jam 2, serpihan-serpihan tubuh berterbangan bercampur debu di afghanistan sana. Tapi gue lebih peduli kenapa dia gak ngasih kabar juga. Ditelepon gak dijawab.

Jam 3, gue mulai nangis. Gak penting.

Jam 4, akhirnya ketemu dia. Gue lupa tadi gue nangis.

Jam 5, ngobrol gak penting.

Jam 6, ngobrol gak penting.

Jam 7, ngobrol gak penting.

Jam 8, ngobrol gak penting.

Jam 9, tau2 udah jam 9. Pindah tempat yuk.

Jam 10, ngobrol gak penting.

Jam 11, ngobrol gak penting.

Jam 12, dia gue anter pulang ke hotel. Biar gak jadi labu.

Jam 1, gue gak bisa tidur.

Jam 2, gue gak bisa tidur.

Jam 3, gue sms dia. Gak dibales. Gak bisa tidur.

Jam 4, gue gak bisa tidur. Ini gara2 kopi tadi atau gara2 dia?

Jam 5, gue gak bisa tidur.

Jam 6, gue nelpon dia. ternyata dia udah bangun.

Jam 7, gue jemput dia. Kopi Lay ternyata belum buka. Kita jalan ke Prima Rasa. Nyebrang jalan, asyik. Tangan gue dipegang.

Jam 7.30 balik ke kopi lay. Nyebrang lagi=D

Jam 8, ngobrol gak penting.

jam 9, ke itb. Ngobrol gak penting.

Jam 10, dia motong rambut, ritual sekali setahun. Gue akhirnya ngantuk.

Jam 11, ngobrol gak penting.

Jam 12, bokapnya nyuruh pulang. Baru nyadar ternyata semua obrolan gak penting itu penting.

Jam 1, injury time. Detik2 terakhir sebelum dia sampai ke hotelnya. Pengen ngobrol gak penting, malah bingung. Malah diem.

Last moment syndrome.

Jam 2, ngikutin dia di mobil depan. Pengen ngobrol gak penting.

Mobilnya belok kiri, gue terus. Pengen ikutan belok.

15 jam gak penting bareng dia udah selesai. Diakhiri sebuah SMS yang juga gak penting:

"Eventhough you don't believe in God, I do thank Her for 15 hours I spent with you.

Have a good life in Melbourne, babe. Aminnnn=D"

Rabu, 14 Oktober 2009

KLA

Jenny Jusuf on SMS:
"BTW, congrats on the KLA Award Nominee! So happy to see your name there! :-)"

Sammaria replying on SMS:
"KLA award nominee? Apaan tuh?"

Jenny Jusuf:
"Don't tell me you have no idea bahwa novel lo masuk 10 besar Khatulistiwa Award..."

Sammaria:
"Nggak. See? Another reason to find another publisher."

Jenny Jusuf:
"Bok serius lo gak dikabarin sama sekali? Gw bisa nari telanjang kali kalo buku gw sampe menang KLA."

Sammaria:
"Benerannnnn boooo gak tau=C Thanks bgt lo dah ngasih tau huhuhu."


PS:
Cerita di atas dituliskan bukan untuk menjelekkan pihak mana pun yang tanpa dijelekkan pun namanya sudah jelek. Hanya untuk bukti tertulis kalau-kalau Jenny Jusuf menang KLA someday. A promise is a promise, Ms. Jusuf!" =D"

Senin, 12 Oktober 2009

A Question





I am not the only one who ask.

Minggu, 11 Oktober 2009

The Purple Guy

“Your movie is one of a little girl. A very mature little girl.”

It was an SMS from a stranger I just talked to for about 10 minutes.

You could know someone forever, and yet you feel so distanced and struggle to have interest in finding out more about them. Then you meet someone and you already feel like you knew him just by seeing his smile. You suddenly expose all of your personal tales to him, because somehow you feel there is nothing that he didn’t know already anyway.

This kind of person makes being honest seem like an everyday thing. So I sent him a reply and insist him to come to Bandung.

The first hour I met him, I already suspect him as a purple guy, the kind of species that I, the greens: opposite of purple, usually attracted to. Green is the bossy extrovert one. Purple is the quite peaceful one.

The second hour, He already showed me that he ia a yellow. Smart jokes. Laidback. Paying for my food. Exactly the kind of company I love having around.

The third hour, he already reveals that he was also a blue: a thinker. He describes a country he visited 3 times only better than me, who lived there for a year and came back a lot of time. He talked about how the cinema and the country are so in need of an identity. He talked about how they try so hard to minimize their own language, the Hokyan dialect, in their movie... and never bother to turn itself into a racing circuit (when they have no history of race car... and have tremendous unresolved history about other race problems)

The fourth hour, he reveals some of the fact that I never knew... or did know but just never realize... about one thing I shoulda known more: myself.

Then it occurs to me why I hate and love Singapore at the same time. It’s just like me, trapped in the middle of so many cultures, in need of an identity.

Six hours later, I have no idea what color he is. But now I know that he’s married and has a baby.

But somehow it doesn’t bother me. Cause I am all for the idea that love is something you can share with some special people, and marriage is all about commitment to one of those special people.

And He smiles. I hate his smile now. It’s like saying: “Aha! Little girl!” So I sent him and his annoying smile home back to Switzerland, Belgium, France, Germany, or whereever it is he comes from.

I think he's also in search of an identity.

Miss you, purple guy=D

Jumat, 02 Oktober 2009

demi ucok



ini sketch teaser poster film berikut gue.

chick flick abis.

tapi menurut dewan perwakilan target pasar terbesar gue (kak ria)... doi gak mau nonton. posternya serem.

damn. masa sih? padahal dah gue bikin pink lhoooo...

susah nihhh cewe2 ini maunya apa sih?

Minggu, 20 September 2009

How do I get The Money For My Film?

Often I was asked by another young aspiring filmmakers .

This is the question that bugs me the most. First because I don’t know how. (The money for my film get me when I was sipping cheap wine by the Lake Toba.) Secondly, because money is the last thing you need to make a movie.

Robert Rodriguez was right when he said that the world is full of big talents, but they will never get anywhere because they were so negative in thinking. You only need crew, cast, and camera to make a movie. Or in Rodriguez’ case, only cast and camera. Not money.

And some might think it was easy for me to say since the money came to me just like that.

Yes! The money came to me just like that.

And no! It’s not just like that. It involved series of rejection and disappointment before I get the money just like that.

A series of painful no in interviews.

A series of unreplied emails.

A series of approaching directors on the spot.

A series of eavesdropping director’s number and rejected calls.

A series of embarrassment bearing the look on their face when I say I want to make a movie.

I even applied to be the permanent residence of Singapore without my company recommendation just to get that $ 6000 short movie grant. Failed.

And don’t even ask about festivals and competition. I tried it all. Some think I am too classic. Or my film is not art enough. while I don’t even have any idea what classic is ... or what art is.

So if you never get yourself out there shooting something and feel the embarrassment and fear after finding out that you are not that good; or you never applied to all the festivals and production houses just to find out you are not qualified; and you never sell your body to some drug testing company to fund your movie ... don’t you ever whine about money and how it it is the problem that gets in your way to finish your so-long-talk-about movie.

I think the problem is you.

Will I marry someone with a different faith?

It took me a feature movie and endless travelling to answer it. Why does it take me so long for a simple yes or no question?

I was so afraid that my NO will hurt this movie… and above all, you.

It’s not because I think that you are not qualified enough to be my partner in life. God knows how tempting you are to me. It’s me. I am a very weak and selfish person. I am incapable of loving anyone, even you, forever and ever till death do us apart. My love will definitely fade away some day.

That’s why I need a (T) in my cinTa (Indonesian word for love). (T) is the only one who could strengthen me to stand by him through his weaknesses, entertain me through my incidental boredom of marriage, and comfort me not to take divorce as an option no matter how hard it gets.

And I don’t believe your love, or any love will last. I need a man who loves God more than he loves me. Otherwise, he will just leave this stupid weak girl eventually.

OK. I know you love God too, just in a different way. You think it is ridiculous that we cannot be together. But I happen to love singing in the church, and the idea of a God that is more like a father, and I need a partner who see Him as a father. It’s just like I cannot marry anyone who loves partying all night because I am more of a stay home person. It doesn’t mean that partying is bad, it’s just not for me.

The different lifestyle makes me uncomfortable. I need a guy who I can pray with every morning. I need a guy who refers to the same book for our problems. Because no matter how hard I try to tell myself that we are the same, we are not.

Despite my NO, I do believe that God creates us differently for a beautiful reason, not to make myself feel better than others. And I am very grateful that God let me get to know you. If you can see through my eyes, you will see how blessed I feel just to spend an afternoon of absolutely nothing with you.

Thank you. I love you. I always will.

Round and round and round....

Setelah nonton adegan Cina dan Annisa ngomongin agama di sebuah mainan puputeran , banyak penonton pusing. Sangkin pusingnya, ada yang ngusulin supaya adegan itu dihapus saja.

Akhirnya dipotong dari 4 menit ke 2 menit, tapi gak boleh dihapus! Karena emang gitu yang gue rasain kalo ngobrol tentang banding-bandingin agama. Puter-puter terus di tempat yang sama, dan ujungnya cuma bikin pusing. Hal lain menjadi semakin blur, yang jelas bagi kita cuma diri kita sendiri. Dalam situasi ini, yang bisa kita lakukan hanya melihat ke Atas, dan tersenyum mensyukuri sinar matahari yang masih bisa dinikmati.

“Kalau lo nggak bisa nyelesaiin konflik yang jau di sana.. the least you can do, jangan bikin konflik baru di sini deh!” seru Annisa mengakhiri puputeran tanpa ujung.

Dinding Teror

“Hi Kak Sammaria, salam kenal. Film kakak keren bgt! spiritual! saya jadi teringat ketika saya masih animisme dan dia hedonisme. Ditunggu yah film2 perang kolosalnya...”

Sekilas seperti wall manusia biasa yang sekarang mulai mengunjungi facebook aku. Tapi tidak. It takes me a while to encrypt this. Ini mungkin adalah awal dari terror konspirasi yang lebih universal, yang akan meracuni hidupku sekali lagi.

Penulisnya adalah Pandu, sesorang dari masa lalu, ketua sindikat scene di-cut , aktor senior pemimpin geng barisan sakit hati yang scene-nya di cut dari cin(T)a.
Pandu inilah yang dulu menjerumuskanku dalam dunia gelap pengikut sekte gelap berkedok band metal KOIL. Padahal saat itu aku masih seperti wanita lainnya, suka mendengarkan buaian lagu merindu, ciptaan seorang biduan yang punya banyak pasangan.

Tapi sekarang... aku telah ternoda. Aku harus tiap hari berjuang menahan diri dari keinginan membara menukarkan harga diriku dengan boot dan kaos hitam-hitam... sejak diracuni lirik-lirik KOIL.

“Heh! Ini bukan lirik! Ini wahyu!” bentak pandu menggelegar.

Lirik Koil mencuci otak, mengkeraskan hati wanita-wanita normal seperti aku yang suka berdendang lagu putus cinta dan mencari harapan kembali dengannya. Tiap hari kukumandangkan syair keluguan, mengharap keadilan di muka dunia agar dia kembali. Sebuah syair keluguan yang menjerumuskan seorang teman dan akhirnya aku melukainya tanpa kesadaran. Tanpa sadar aku ikatkan dia pada kesengsaraan karena cintaku yang tak hanya untuknya.

Sampai kapan aku akan menunggunya? Sampai beruban dan waktu terus berlalu. Aku bosan menyanyi kekeluhan, dan mengharap belas kasih alas mental pengampunan. Aku yakin konspirasi inilah..... arrggggggggggghhhhhh. monyet!

Gak cocok deh gue bikin suspense romantis. Is that even a genre? Nyerah ah nyerah!

Pandu, kita bikin komedi aja yukkkk=D

5.1

“Krrralau tttujuh pulruh mrrenit fffilmnya langggsung happpprrry endrrring, ntar garrkkk serrrru,” tutur robot Annisa sambil memeluk cyborg Cina pada saat premiere cin(T)a di Blitz Bandung.

Buyar sudah kenangan nikmatnya menonton cin(T)a dengan suara bening dan gambar jernih seperti pertama kali menyaksikan cin(T)a di layar lebar National Film Theater London. Premiere di Bandung jadi special edition banget karena... Annisanya blasteran Jawa – Transformer!#?!

Itu cuma sebagian kecil dari cacat suara akibat sutradara bego gak tahu kalau encoding suara dari stereo ke 5.1 itu beresiko tinggi gagal. Akibatnya satu setengah jam premiere menjadi lebih menegangkan dari nonton film action dan menyengsarakan buat sutradara dan produser cin(T)a yang berpelukan duduk di barisan depan dengan posisi ‘get a room’. Tiap suara delay dan Annisa merobot, sutradara menangis-nangis sambil menggigiti produser yang coba menenangkan sambil juga meraung-raung bersama.

But the show must go on! Film gak bisa diberhentikan. Dan sutradara gak boleh keluar,dipaksa menyaksikan her baby transformed into some sci-fi robotic movie. Habislah si produser biru-biru digigiti sutradara selama 79 menit pemutaran.

Untungnya hari itu yang menghadiri premiere adalah keluarga dan calon keluarga kru dan cast, kaum-kaum ‘terpaksa nonton’ yang gak akan mencela film ini karena besarnya cintanya pada kami, filmmaker-filmmaker bodoh ini. Jadinya gue masih punya waktu seminggu sebelum cin(T)a dillepasin ke piranha-piranha film Indonesia minggu depan !

Sejak hari itu sutradara punya hobi baru: Test screening.

Tiap jam 8 pagi sebelum Blitz buka, dan jam 1 pagi setelah Blitz tutup, sutradara terlihat berkeliaran di Grand Indonesia dengan mata hitam tanpa bantuan eye liner. Bahkan pernah suatu hari test screeningnya disusul sprint naek busway ke Blok M di mana wartawan-wartawan udah pada nunggu untuk press conference.

Sammaria terlambat 5 menit, gak sempet pake eye liner, keringetan, bau terminal, dan langsung disambut dengan tuduhan menghina Tuhan dan berusaha membuat agama baru oleh salah satu wartawan. Ngiiik...

Diakhiri dengan tidak jadinya interview cin(T)a ditayangkan di dua televisi nasional Indonesia karena produser mereka merasa isu cin(T) a terlalu sensitive. Batallah program cari jodoh Sammaria di media nasional.

Ditambah dua surat dari organisasi masyarakat kepada LSF yang menyarankan agar cin(T)a ditarik dari peredaran, pemutaran cin(T)a terancam ikutan dibatalkan.

Selain lulus sensor, cin(T)a juga harus lolos test screening Blitz. Kualitas suaranya sudah lebih mendingan dibandingin pas premiere Bandung, tapi masih belum lolos standard screening komersial Blitz.

“Kalau Tuhan mengizinkan, biarlah film ini ditayangkan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa.”

Sammaria, Kunyil, dan Kunyir: tiga mbak-mbak pencari jodoh dengan dalih promo cin(T)a cuma bisa pasrah.

“Masa sudah tiga kali test screening gak lulus juga?” kata si Kunyil nyinyir di suatu pagi buta sepulang test screening, berusaha menirukan salah satu adegan cin(T)a yang di-dubbing si Kunyir. Si Kunyir yang disangka sudah tidur tertawa tanpa suara di pojok sana.

Akhir cerita, trimbakentir tetap tertawa. Some invisible hand save their kere ass from trouble. Pihak Bllitz setuju menayangkan cin(T)a dengan suara stereo walau dengan resiko harus terus merubah setting karena setting cin(T)a tidak standard.

Untungnya filmnya laku, jadinya Blitz agak heppi dikit. Dan untungnya Cina dan Annisa cakep, jadi banyak penonton yang masih mentolerir kualitas suaranya yang kadang-kadang mendem di beberapa studio.

Banyak juga sih yang galak... huhuhu maafkan.

Next time... when we have more money... and more knowledge... and more wisdom... I’ll make sure we have a proper sound man. Janji gak bikin pusing sound editor lagi.

Tapi kalo gak bikin biru-biru pak produser, gak janji ya... Karena ternyata enak juga gigit-gigit produser... Nyum... nyum... krauk...=D

Sabtu, 19 September 2009

What’s next?

Setelah dua bulan jadi manusia nomaden, gue termenung sendirian di Medan yang tiba-tiba sepi entah karena lebaran atau karena hujan yang mencegah gue untuk makan Mie Pangsit Semarang, sementara manusia di pantai utara Jawa berdesak-desakan pengen pulang.

So what’s next? Apa film ke dua gue?

“Buruan bikin lagi! Ntar keburu orang lupa lho,” teringat teriakan Garin Nugroho dari ujung Teater Kecil di sela-sela kerumunan handai taulan mengerumuni. Sementara gue duduk di pojok sana, tak ada yang mengerumuni. Paling cuma semut2 berhubung gue manis.

Gue dah kebelet pengen bikin film lagi, berhubung cin(T)a sepertinya gagal mendatangkan jodoh. Berbekal kesalahan di cin(T)a dan kebebalan gue tetep bikin lagi walaupun yang pertama amburadul, gue mulai mikirin tema film berikutnya. Di cin(T)a gue salah strategi soalnya yang gue casting adalah cina-cina yang lebih muda dari gue.

Sekarang gue harus casting yang sesuai dengan target pasar gue... cowo berdada bidang berkulit gelap dan bukan Simanjuntak. Cerita yang sesuai dengan target pasar gue adalah:

1) Raja kata.

Tentang perjuangan sekumpulan masyarakat desa yang gemar berkata-kata. Dari sekian banyaknya kata yang mereka ucapkan, di kamusnya literally gak ada satu pun kata maaf. Ceritanya simple aja. Tentang perjuangan mereka untuk saling memaafkan. Karena ternyata memaafkan ini jauh lebih sulit daripada memerdekakan Indonesia. Masyarakat ini bernama Batak Toba by the way.

Sebenarnya tema ini paling menarik buat gue. Selain karena gue memang punya disability in forgiving others, ini juga kesempatan gue untuk lebih menghargai Opung-Opung yang kata Malcolm Gladwell turut membentuk gue yang sekarang.

Tapi temanya overweight banget buat mahkluk sekecil gue. Cukup sudah kemaren aku berhadapan dengan ekstrimis-ekstrimis agama, gue butuh break tarik nafas dulu sebelum gue harus berhadapan dengan Batak-Batak galak yang sebenarnya berhati lembut tapi tetap saja menyeramkan. Untuk seorang filmmaker nekat yang film pertamanya masih bermasalah dengan audio, Raja Kata ini bukan lagi menanti keajaiban... tapi sudah langkah memaksa keajaiban to the point it’s very ambitious and thoutghtless.

2) Famenism (when fame and feminism collide)

“Kecantikan Berbanding terbalik dengan kepintaran,” kata Cina.

Andai saja Cina benar. Andai saja cewe cantik memang bego-bego, tentunya masyarakat tanpa kelas Karl Marx akan lebih mudah terwujud. Tapi gue selalu dikutuk dengan teman-teman yang gak hanya cantik dan pintar, mereka juga kaya-kaya dan baik hati. Monyet!

Untunglah Saira Jihan masih gaptek dan foto paspornya ‘fashion-nista’ banget jadi setidaknya sampai Juni 2011, I still have reasons for not crying out loud “Tuhan gak adil Huaaaaaaaaa” .

Famenism bercerita tentang seorang sutradara interseks dan artis cantiknya. Si sutradara dibesarkan sebagai cowo padahal dia interseks, memilih untuk menjadi cewe padahal penampakannya lebih maskulin, dan berusaha sekuat tenaga untuk terlihat cantik. Si artis adalah artis papan atas mantan model yang selalu berusaha agar terlihat pintar.

The Brain and The Beauty ini disatukan dalam sebuah produksi film dan dipaksa untuk saling bekerja sama despite of how much they hate and adore each other at the same time. Kompetisi mereka menjadikan produksi film harus ditunda sampai akhirnya masing2 berdamai dengan dirinya sendiri.

Atau sampai gue berdamai dengan diri sendiri karena menulis tentang interseks dalam sebuah film komedi ternyata tidak selucu itu. Banyak sekali penderitaan dan ketidakadilan yang mereka alami di dunia yang berpura-pura kalau cuma ada dua jenis kelamin ini. Banci-banci transgender yang bertebaran di film komedi Indonesia saat ini sama sekali tidak mewakili betapa menariknya human being yang kebetulan mempunyai anatomi seksual berbeda dengan manusia kebanyakan ini.

Awalnya gue tertarik dengan topik ini karena salah satu sutradara favorit gue diisukan interseks. Banyak yang bilang she just made it up soalnya emang dasar dia pengen jadi cewe aja. Buat gue, even sekalipun dia bukan interseks pun... selama itu mendekatkan dirinya dengan tuhannya, walaupun harus ganti kelamin... what the fuss? Who am I to judge?

3) Dharmo

Film thriller tentang sebuah group pertunjukan wayang orang yang sudah mulai meredup dan semua anggotanya mencoba melestraikan diri dengan caranya masing-masing.

Sebenarnya ide ini dari Anky, editor cin(T)a yang belum juga menulis padahal gue selalu percaya tulisan Anky bakal menyegarkan dunia boy-lit Indonesia hihihi=D

Tema ini menggoda gue karena memperlihatkan tubrukan dua generasi, yang sama-sama ingin melestarikan budaya, dan dikemas dengan shot-shot thrilling yang seksi,eksotis, tapi bisa low budget. Di satu sisi budaya sangat penting disuapi ke konsumen MTV yang baru make Batik setelah diakui Malaysia. Di sisi lain, pemaksaan yang tua untuk menolak perubahan dan memaksa yang muda to be more like them malah mengaborsi lahirnya budaya baru.

Apalagi pas lagi ribut2 Malaysia maling sia yang dianggap mencuri Tari Pendet. Pernah gak ya di India terjadi keributan membakar bendera Indonesia karena Yudisthira dan empat adiknya diakui sebagai cerita wayang Indonesia?


So that's top three on my list.

Herannya kupu-kupu di perut gue tidak juga berterbangan. Bukan karena terhambat pangsit dan sate yang memenuhi usus gue akhir2 ini, bukan juga karena belum ada produser dan PH, tapi somehow... Belum ada satu cerita pun yang smells like home.... yet.

Kenapa Kita Harus Menikah?

...tanya gue di satatus Facebook.

Dalam sekejap responsnya 40, ngalah2in respon status gue yang “Menurut lo, gue lesbi gak?” yang responsnya cuma 30an.

Ada yang dengan pede bilang menikah itu pilihan, bukan keharusan.

Ada yang mo nyenengin orang lain (masyarakat, orang tua, anybody but herself)

Ada yang gak mau dibilang ‘mulak malging’ (apaan nih?)

Ada yang ngeliat nikah as a way to escape all the nagging so he can say back off.

Ada yang gak rela dibilang gak laku.

Ada yang pengen punya anak, jadinya nikah dulu biar gak ditanyain anak siapa.

Ada yang pengen namanya diteruskan.

Ada yang pengen make love tanpa berdosa.

Ada yang mengikuti instinct to replicate themself. Spread the SEED!

Ada yang pengen meng-hekter seseorang.

Ada yang biar bisa cerai kaya Krisdayanti.

Ada juga yang gak bisa bangun peradaban, jadinya bangun keluarga aja karena keluarga adalah bangunan agung.

Ada yang ingin dilengkapi.

Ada yang ingin ditemani.

Ada yang ingin dimengerti.

Ada yang gak ngerti and ikutan nimbrung nanya di status gue.

Ada yang biar bisa beranak cucu dan memenuhi bumi biar bisa memuliakan Tuhan.

Ada yang nyuruh gue tobat dan cepetan kawin biar mamakku senang.

Ada yang bosen ama tangan kanannya, dan butuh jenis otot lain yang juga fungsinya mencengkeram. (I hope he gets a wife instead of a motor bebek)

Ada yang takut pintu rumah digedor orang sekampung kalo cowonya nginep di rumah.

Ada juga karena that's the only way he'll ever get laid.

Ada yang ikutan trend Bang Rhoma. Film ini gak sah tanpa wawancara bang rhoma cause dia salah satu pakar buat hal ini... :D

Semuanya bikin gue ketawa2 dan bertambah yakin:

Nikah is a serious thing, but it can make a very funny movie=D

A Story I Care Most About

“Why did you make cin(T)a?” Tanya Roland Samosir, amang gila yang rela duitnya dipertaruhkan para penjudi takdir di cin(T)a.

“I guess I just had too many anger that time,” jawab Sammaria sambil menyeruput juice melon dingin di tengah udara utara Bandung yang konon menusuk tulang, tapi tak mampu menusuk lemak Sammaria.

“And what are you angry about now?” tanyanya lagi.

“Nothing. I am not angry anymore. I guess making a movie is really a good therapy for my soul,” jawab Sammaria jujur... sambil melirik daftar menu siap2 mesen lagi.

“Not angry, but hungry, huh?” celutuk amang Samosir melihat Sammaria melambaikan tangan ke arah pelayan.

“Not really hungry for food. I am hungry for something warm... Like hot chocolate..., “ kata sammaria pada si pelayan.

Lalu Sammaria menoleh sok misterius pada amang, “and hot boys...hehehehhe.”

But her ‘hehehehe’ ternyata ditanggapi serius oleh si amang. Amang malah melipat tangan dan menutup mata.

“I think this should be your next movie,” tutur amang tiba2 dapet wangsit.

Sammaria bengong. Amang tetep bersabda, “About an unconventional Indonesian women trying to find a husband with the background of her sister getting married.”

Petir menyambar di kejauhan.

Sabda amang, sesuatu yang jujur dan dari hati itu pasti akan relate dengan orang banyak. The reason why cin(T)a speaks to so many people is because it came from the heart... no matter how dark and painful that heart was.

Thus spake amang. She doesn’t think so.

Bosen ah nyeritain diri sendiri. Masih banyak perkara lain yang lebih penting di dunia ini. Banjir Bandang di Madina. Desa yang longsor karena kades korup. Perjuangan ibu nyelamatin anaknya di Gaza. Something more important like Yasmin Ahmad’s blog. She writes so much about all the important things in this world. Sammaria gak mau filmnya cuma tentang cewe gak laku-laku pengen kawin gara2 kakaknya kawinan.

Sammaria bercerita tentang ini ke kakaknya. She can’t help noticing the excitement in her sister’s eyes. Even the idea of having a character based on the sister really makes her tersanjung 6. Si kakak nggak ngomong... tapi bibir atasnya merapat dan gigi tonggosnya (despite of years of kawat gigi) menyembul ke luar. Gigi yang gak bisa disembunyikan tiap si kakak senang. Makanya si kakak nggak bisa boong dan gak bisa ikutan maen film walaupun cuma jadi ekstras jualan pulsa.

“Ah kau! Kutu di seberang lautan kau cari. Gajah di depan mata kau tak lihat,” sungut si kakak masih sakit hati karena foto2 di kamarnya diturunin semua pas shooting cin(T)a. Alhasil kamarnya tenar, foto doi nggak.

Habisnya penonton Indonesia lebih prefer kutu daripada gajah. Kalau pake gajah kayak si kakak, bisa2 gak laku filmnya.

“Aku pun mau maen pilem lah... Kalo belon, tak mau dulu aku mati,” sahut Opung Sammaria yang tak kalah gajah. Kalau gajah yang ini susah ditolak. Mending kalau cuma dikutuk jadi batu. Bisa-bisa supply Batak ganteng berkurang.

Terpaksalah Sammaria mengangguk.

“Tapi nanti mami pake baju apa ya?” tiba-tiba Mak Gondut udah milih2 baju di depan lemari 10 meternya tapi tetep ngaku gak punya baju tiap ada kawinan. Ternyata Mak Gondut juga sudah kegeeran bakal diajak shooting.

“Enam bulan lagilah kita shooting. Biar kuturunkan dulu berat badan,” kata Kak
Melda, another Boru Juntak yang tak kalah gajah dan tak kalah menyeramkan kalau sampai ditolak ikutan.

Jadi film ke dua Sammaria sudah diputuskan sebelum Sammaria sempat berkata tidak. Ternyata tidak hanya perkawinan di Batak saja yang ditentukan orang tua. Film tentang perkawinan di Batak pun ditentukan orang tua.

Sammaria merenung berusaha mencari inspirasi. Tiba2 sebuah message di facebook nongol.

Dari si Kunyir, si nyinyir 30 tahun yang belon kawin2. Kunyir ngirimin foto hasil eksperimen dia biar Sammaria bisa makan chocolate fondant kesukaannya yang cuma ada di Jakarta. Mencium baunya aja Sammaria udah goyang-goyang ekor.

Sontak Sammaria terharu. Bau chocolate fondant tidak lagi begitu ngangenin. Tiba-tiba Sammaria malah kangen semilir minyak tawon si Kunyir yang selalu bikin bau satu kamar tiap nginep bareng Kunyir.

Sammaria looked back at her laptop, trying to write something important.
But what is important to her?

Si Kunyir, mbak2 nyinyir 30 tahun yang belum kawin2 because of some mas-mas autis who cannot see how beautiful she is.

Si Kunyil, neng2 geulis bin ajaib yang cuma pernah 2 kali jadian di hidupnya while she deserves better than those two snobs.

Mak Gondut, mak comblang nomor wahid yang kesusahan nyomblangin anak sendiri.

Opung Mak, nenek2 yang mulai halusinasi karena kurang temen ngobrol semenjak suaminya meninggal.

Si Chica, singa galak yang ngakunya galak karena belum kawin2 (dan pas mo kawin tetep galak karena stres mo kawin)

These are the people important to her. If making a movie based on their characters put a bit of light in their eyes, then this is a story she should write.

But what about the intersex director that fight for human being? About some hungry people in Gaza? About helping the flood victim in Medina? About all those important stuffs in this world?

I guess some important people will write about them.

So this is my next story.


A story about an unimportant Indonesian girl, in search of a perfect love, but never feels less important, because she was surrounded by those she loves, the unimportant people of the world.

menonton penonton

Juli dan Agustus gue lewati tanpa menulis. (Good job for someone who wish to be a writer someday) Juli dan Agustus gue diisi dengan menonton penonton cin(T)a di berbagai tempat, monopoli microphone di tiap diskusi dengan harap2 disuruh nyanyi, dan mengurangi populasi unggas dan babi di berbagai pelosok dunia yang mengundang gue muterin cin(T)a. Wauahahhahhahah alhasil program “amazing sammaria, truly asia” gue ditunda karena tidak bisa tampil singset pas premiere.

Juli dan agustus jadi roller coaster terseru di hidup gue, menggeser posisi magic mountain di Anaheim yang efek thrillingnya cuma tahan 5 menit. Ternyata ada lhooo yang mau nonton film cin(T)a. Di atas kertas kotretan produser2 hantu masa kini, film beginian mustahil ada yang nonton. Pemainnya cuma 2 dan entah siapa; produser dan semua krunya baru pertama bikin film; gak ada adegan seks, kekerasan, maupun seks dalam kekerasan; ngomonginnya suku agama ras dan IP sepanjang film... mak! Malas kali pun muda mudi Indonesie ‘ni menonton film macam tu. Untung sutradaranya cantik dan pandai merayu.

Makanya pas tiket cin(T)a sold out di mana-mana, gue diserang rasa takjub sekaligus bersalah. Takjub karena ternyata God Is Really A Director. Cin(T)a adalah bagian kecil dari skenario besar Doi yang jauh lebih seru. Merasa bersalah karena ternyata tagline “God Is A Director” tidak mampu menggambarkan kreativitas Doi. Ternyata God Is A Producer juga. A Promo Manager juga. A Marketing Executive juga.

God is everything... and nothing....

Hahaha... I’ve heard that before, but never could understand the nothingness bullshit. How come anything be nothing and everything at the same time? It took some people a calm and quiet minute to understand. It took me 24 months of hectic movie production , long debates, and endless travelling to actually understand that God is nothing and everything. I guess some Batak are just too stubborn to understand things in serenity.

Respon cin(T)a sangat beragam. Ada yang menyebut gue titisan Yasmin Ahmad. Ada yang bilang gue titisan tukang sampah dan sebaiknya gak usah ada. (Berhubung gua dari Bandung di mana tukang sampah sangat dibutuhkan, I took that as a compliment hehehe) Yang lebih menarik dari menonton cin(T)a ya memang menonton penontonnya. Menonton penonton cin(T)a seperti menonton Indonesia sepuluh tahun ke depan. Karena dalam 10 tahun, orang2 inilah yang akan megang Indonesia.

Bertemu dengan para penonton cin(T)a, gue jadi semakin tenang. Hilang semua kemarahan dan pahit hati yang membensini gue untuk bikin cin(T)a. Mereka tidak selalu setuju dengan gua, dan masih ada juga manusia2 galak yang kupingnya cuma asesoris, tapi setidaknya kebanyakan kuping ternyata masih dipakai untuk saling mendengarkan.

I have a feeling God is smiling watching all of us here.

Selasa, 30 Juni 2009

Revisi Film

“There is not that many bombings in Indonesia,” tuduh salah satu penonton dengan basa Inggris terpatah-patah karna emosi di salah satu diskusi setelah pemutaran cin(T)a di London. Dia keberatan dengan daftar gereja yang dibom di dalam film.

“It is very important for everyone to have their own thoughts. So please do check the facts by yourself. I might be a liar. Please don’t take my words for granted,” jawab gue apa adanya.

Karenanya gue merevisi film ini untuk diputer di Indonesia.

Tapi bukan revisi daftar gereja yang dibom.

Revisi percakapan di dalam film. Sekarang di film ditambahkan ada percakapan di mana seseorang menuduhkan, “There is not that many bombings in Indonesia.”

Dan scene ini terasa menjadi lebih bernyawa karena pergantian dialog ini.

Terima kasih, Mbak=P

“Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?”

Banyak sekali jawaban yang saya dapatkan melalui roadshow ini. Semua jawabannya menarik dan meyakinkan dan diucapkan dengan penuh keyakinan yang semua terdengar sama yakinnya walaupun berbeda-beda.

Teringat saya akan suatu cerita tentang beberapa orang buta yang mencoba menggambarkan Gajah.

Si buta yang satu berteriak-teriak yakin kalau Gajah itu seperti ular. Mentang-mentang dia pernah memegang belalai Gajah. Si buta lain yang memegang kaki Gajah dan menganggap Gajah itu seperti batang pohon pasti salah! Apalagi yang memegang telinga Gajah dan menganggap Gajah itu seperti daun teratai. Pasti salah!

Sesungguhnya Gajah terlalu besar untuk bisa digambarkan sendiri oleh si buta-si buta sok tahu ini. Si buta lupa kalau dia masih diperlengkapi telinga. Kalau saja telinganya dipergunakan untuk mendengar si buta- si buta lain, tentunya si buta akan mendapat pemahaman yang lebih utuh tentang Gajah.

Sayang banyak si buta yang tidak lagi mendengar, padahal masih bertelinga.

Untungnya roadshow cin(T)a ini mempertemukan saya dengan banyak si buta lainnya yang telinganya tidak hanya jadi aksesoris. Mereka tidak selalu setuju dengan saya, tapi mereka masih mau mendengar. Mendengarkan mereka, walaupun tidak selalu sejalan dengan saya, menjadi pengalaman baru yang menyejukkan bagi saya. Roadshow ini telah membuka dialog-dialog yang memperbanyak sekali pelajaran bagi tim kecil ini, dan mudah-mudahan bagi yang lain juga.

Ahhh... andai saja kita mau mendengar... mungkin kita masih bisa tertawa bersama-sama.

Hahahaha=P

Bertanya

Cin(T)a akhirnya selamat jalan-jalan ke lima kota yang berbeda bersama sebuah mobil yang konon seven seaters dan diisi oleh 8 entertainer (sesuai visa). Untungnya Sammaria selalu ditaro di depan (tentunya karena Sammaria paling cantik) sehingga tidak perlu dempet2an di belakang dengan manusia dan film kit.

cin(T)a ditonton orang-orang yang berbeda-beda dari berbagai bangsa, merasakan tanggapan yang berbeda-beda, diajak foto sama berbagai muka (terutama si Cina... laku ih laku), dan mendapatkan pertanyaan yang ‘berbeda-beda”.

“Apa tujuan anda membuat film ini?”

Tujuannya nyari duit. Biar filmnya laku dan gue hidup kaya raya,mati masuk surga.

Gak boleh begitu ternyata. Tujuannya harus yang mulia cenah.

Jika tujuan diartikan sebagai goal yang harus dicapai untuk parameter sukses tidaknya film, tentunya saya tidak punya. Saya tidak ingin merubah siapa pun dan apa pun. Saya tidak punya solusi untuk persoalan apa pun.

Tapi kalau harapan punya dong. Saya berharap film ini akan menjadi sebuah pemicu ngobrol-ngobrol sore tentang hal yang konon tabu dibicarakan, padahal merupakan persoalan mendasar bangsa ini: perbedaan.

Kita enggan membicarakan, saling buruk sangka di belakang, dan membiarkan agama, suku, ras, dan IP dimanfaatkan sebagai propaganda termurah dalam sejarah bunuh-bunuhan manusia.

“Apa visi misi anda membuat film ini?”

Sebenarnya pertanyaan yang sama. Tapi dibungkus lain menyambut maraknya debat SBY, JK, dan Mega menggeser jadwal prime time Manohara.

Saya punya visi yang lebih tepatnya dibilang mimpi. Di mimpi saya, saya sedang bercinta di negara Indonesia yang masyarakatnya sudah terbiasa berbeda dan berdialog. Manusia-manusianya tidak merasa lebih baik dari manusia lain. Saya membayangkan Indonesia yang dewasa tapi tetap menyenangkan, di mana tidak ada masalah yang tidak bisa dibahas sambil bercanda. Dan orang-orang galak yang merasa benar sendiri tidak lagi bersuara paling lantang karena tertutup suara tawa manusia-manusia yang menghargai perbedaan.

Apakah ada hidden agenda dalam film ini?

Ada donggg. Cari jodoh. Kasian emak gue udah stress nyuruh gue kawin hihihi.

Selain itu ada juga agenda membuka sebuah ruang kejujuran bagi masyarakat untuk terbiasa berdialog dan menghargai perbedaan. Tapi ini bukan agenda pribadi. Kayanya udah keduluan ama Soekarno.

Apa pesan yang ingin anda sampaikan melalui film ini?


Oh my God. Masih musang yang sama dengan bulu yang berbeda. Dan sangat berbahaya jika saya jawab ‘tidak ada’ kepada bangsa yang terbiasa dengan film-film berpesan, seakan tak ada film jenis lain.

Meminjam pemikiran Wim Wenders, seorang sutradara besar di Jerman, ada dua alasan seorang auteur membuat film. Yang pertama adalah film yang dibuat karena si auteur punya sebuah pernyataan/ pesan/ massage yang mau dia sampaikan ke penonton. Yang ke dua adalah film yang dibuat karena si auteur punya pertanyaan yang ingin disampaikan ke penonton. Film adalah media si auteur untuk mencari jawaban atas kegelisahan dirinya sambil berharap kegelisahan ini ternyata juga mengusik penonton.

“Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?”

I Was Born To Sing.

Tour UK membawa pencerahan. Gue menemukan legenda hidup gue yang sebenarnya... the very reason God created me in this world.

I was born to sing... and I believe that more than Maribeth!

Lupa sudah awalnya dulu gue menangisi kekerean gue yang tidak mampu mendatangkan Homogenic full team sehingga Homogenic harus tampil tanpa Risa Saraswati, vokalisnya. Untungnya di pemutaran perdana cin(T)a di National Film Theater London, Dina Dellyana mendapat wahyu untuk memberi mic ke gue... dan kutemukanlah destiny gue sebenarnya.

Destiny, Here I Am!

Dina sampai bengong ngeliatin gue nyanyi. Tampaknya dia sangat terpana dengan bakat terpendam gue ini.

“No!!! Please stay in directing!!!” protes Kak Nora sambil tutup kuping.

Memang selalu ada suara-suara sumbang yang mencoba menggoyahkan mimpi lo. Untung gue teringat kata-kata Paulo Coelho: “Saat paling gelap itu adalah saat2 menjelang matahari terbit”

Selain menginspirasi maling-maling yang selalu beroperasi menjelang subuh, kata-kata ini juga menginspirasi gue untuk tetap bernyanyi tak peduli suara sumbang sekitar.

Tiba-tiba suara falcetto ala Bee Gees mengganggu eksistensi gue di Birmingham. Ternyata Mr. Roland Samosir diam-diam juga mengincar posisi sebagai vokalis Homogenic.

Goyangan pantat doi sih oke juga ternyata ... suaranya juga manis dan imut... tapi tampang gue lebih menjual... jadi tetep donggg gue menjadi vokalis Homogenic selama tour UK ini. Yeah, baby!

Di Leeds pun posisi gue terancam oleh seorang Kristy Nelwan. Selain suaranya OK, tampangnya juga cukup menjual. Damn.

Untungnya sound systemnya rusak, jadi gue batal diadu dan masih terus menjadi vokalis Homogenic for the rest of the tour. Bring it on!

Di Manchester gue nyanyi 5 lagu sekaligus. Homogenic is rocking UK! Semua CD Homogenic yang dibawa ke UK terjual habis. Gak sia-sia suara gue abis. Untung Manchester udah kota terakhir.

Sekarang tinggal merencanakan gimana cara ngomongnya ke Risa. She’s been with her for years. It’s not that easy to end it.

“Tid, video-video UK yang lo nyanyi Homogenic jangan di-upload ke internet ya. Ntar album gue gak laku,” pinta Dina Dellyana mengakhiri khayalku.

Aku terpuruk sakit hati. Ternyata Dina malah kembali ke Risa. Aku dicampakkan. Hik! Hik! Huouououououououo...

Tuh kan... bahkan suara tangisan gue pun lebih ok dari Nia Daniati.

Indonesian Idol kapan sih? Biar gue buktikan pada Dina Dellyana kalau suara gue tuh unik dan berkarakter banget. Mungkin kalo Indra Lesmana yang bilang, baru deh doi percaya.

Huououououooooooooo....

Namun semua tinggal ceritaaa... hati yang lukaaaaaaaa....

Kartini Nggak Sampai Eropa

Tapi Sammaria nyampe!

Walaupun nyampenya di London terminal 3... yang tidak berasa seperti Eropa karena mukanya Asia semua. Gue sempet ngira gue nyasar ke Istanbul. Next movie gue ke terminal 5 ah. Amin.

London menyambut rombongan cin(T)a dengan penuh cinta. Matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicau. Dan cowo-cowo berdada bidang melepas atasan mereka tanpa dipaksa. Hmmmm=P

Ini sebenarnya kali ke dua gue ke London. Dulu yang pertama adalah suatu masa di mana Soeharto masih dianggap bapak pembangunan, dan satu lembar Soeharto tersenyum masih berharga sekitar 17 Pound. Di masa-masa itu, turis-turis Indonesia punya tour guide local berbahasa Indonesia, dan turis Indonesia masih hahahihi keluar masuk Harrods.

Sekarang lembaran Soeharto tersenyum sudah diganti lembaran I Gusti Ngurah Rai yang menatap kosong ke depan. Selembarnya cuma bisa dituker kurang dari 3 pound. Dan turis-turis Indonesia tidak lagi terlihat di sekitar Harrods, sekarang banyak berkeliaran di sekitar Primark. Termasuk gue dan Dina Dellyana tentunya... Cowo-cowo pada cemberut nemenin kita belanja.

Tapi dua jam kemudian mereka datang dengan baju baru minta perpanjangan waktu. Pritttttttttt!!!

Mbak-mbak London gaya-gaya, bikin gue pengen ikutan begaya. Apalagi di sini size gue lengkap tersedia. Tak tahanlah hati ini ingin belanja.

Tadinya pound gue yang terbatas ini mau dibeliin baju aja, gak usah makan. Demi belanja, aku rela berpuasa.

Tapi Dina Dellyana ngidam pengen KFC. Jadi gue terpaksa nanya ke mas2 London yang lagi begaul di pinggir Soho ke mana KFC terdekat.

Dan si mas-mas gaul memandang gue dengan tatapan nista sekan berkata, “What?!? Sista, you are in bloody London. Why the hell are you looking for KFC?”

Malu aku malu. Sejak hari itu gue tobat. Gue mengikuti sabda Kak Nora:

“Thou shall have Pret A Manger in London.”

No more KFC or Mc D.

And no English food! Scone? Fish and Chips? Whimpy?

Sorry! This girl needs some boemboe in her food. Top 3 on my UK trip adalah:

3) cumi 2 gratisan di restoran Cina di Manchester
2) keju bayem gratisan di restoran Pakistan di London
1) Sapi masak bir gratisan di restoran Belgia di London

Untung ada bapak-ibu baik hati yang mencegah kami dari daily dose of chicken cottage, fastfood halal murah meriah berkat daging suntikan di perbatasan zona 3 London.

Dan ternyata rata-rata museum di London itu gratisan. Pantesan orangnya pinter-pinter dan jago ngejajah. Ekor gue goyang2 berjalan-jalan mengelilingi National Gallery, Tate, V&A... menyaksikan barang-barang rampasan paling indah yang dikumpulkan pemerintah kolonial Inggris dari berbagai negara .

British Museum sebentar aja ah... males liat mumi. Paling si Soniboni yang excited ngeliatin mayat cewe mesir. Giliran gue yang masih berdarah dan berdaging ini lewat, doi diem aja. Ihhhh. Autisme akut.

And what about the premiere?

Hah? Premiere apaan?

Oh yaaaaaaa ya ampunnnnnnnnnnn... Gue kan di London kan buat premiere cin(T)a. Malahan sibuk foto turis... hahaha. Woalah... lali aku.

Be still and know that I am Akbar.

Sebuah SMS di pagi hari : Visa UK sudah di-approved...

Tapi hanya untuk Sammaria dan Sunny. Tidak untuk Danti, M. Budi Sasono, dan Dina Dellyana.

“Lo berdua bukan Muslim sih,” tutur Budi Sasono bercanda. But everyone knows his joke is only a way to tell his truth without sounding vulnerable. Punya nama depan Mohamad di depan Budi Sasono memang bukan hal yang menguntungkan di dunia paranoid pasca 9/11.

“Kalau visa lo ditolak karena nama lo Mohamad, be proud of it,” jawab Sammaria berusaha tegar. Dalam hati ikutan gondok kalau sampai visa tiga temannya gak di-approved gara-gara segelintir bule paranoid.

Ternyata yang paranoid kita. Visa ketiganya udah di- approved juga. Hanya belum diberitakan lewat SMS aja. I blame it to technology. Maaf ya, bule2.. kita dah terlanjur paranoid ama kalian.

Sampai di London, kita pun disambut manusia-manusia paranoid lainya.

Oh My God, what have we done to each other? How come we get to be this bitter and paranoid?

Seorang bapak menyarankan gue untuk tidak menanyangkan film ini. Selidik punya selidik, setelah ngobrol panjang lebar, dia ternyata punya ketakutan film ini ada misi Kristenisasi melalui promosi perkawinan beda agama. Di daerah asalnya, ada isu bahwa banyak wanita Muslim yang dihamili dan kemudian dipaksa pindah agama jika ingin dinikahi. Makanya dia sangat mewanti-wanti wanita Muslim untuk tidak berpacaran dengan pria Kristen.

Tentunya teman-teman yang Kristen juga sudah sangat familiar dengan isu ini. Hanya saja subjeknya diganti pria Muslim dan objeknya wanita Kristen.

Si Bapak kaget. Doi meragukan kalau ada pria yang benar-benar Muslim akan tega melakukan hal itu.

Tentunya gue juga yakin gak ada pria yang benar-benar Muslim akan tega melakukan penyebaran Islam melalui penyebaran sperma. It’s just the fact kalau kedua isu ini sangat mirip dan hanya tinggal diganti subjek dan objeknya menunjukkan ada modus yang sama yang memecah belah bangsa ini dengan cara-cara yang tidak kreatif. Tentunya kita tidak akan begitu saja diadu domba kalau saja kita tahu dipadang rumput seberang cerita yang sama pun didesas desuskan.

Indonesia… Indonesia… sudah bertahun-tahun ditinggal kumpeni masih aja bisa diadu domba.

Makanya kita butuh dialog… karena tak kenal maka taakut.

Ada lagi bapak lain yang menyatakan takut bahwa film ini akan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang tidak benar.

Oh, My God, what have we done to our faith? Do we really believe in Your power? Do we really believe that You are so akbar and have all the power to this world? Why the hell… eh heaven… are we so afraid then?

People, I know there are so many dangers and bitterness in this world. I know that we are all weak and worried and troubled and tired. But please remember… God is great, be still.

The God that took care of you will also take care of your children. Pasti!

doa

Akhirnya cin(T)a diperbolehkan tayang di UK oleh (T)... walaupun beberapa pengikut-Nya masih tidak memperbolehkan.

Dan doa gue terkabul. Seorang Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan simanjuntak pun didatangkan menonton cin(T)a...

Hihihi... (tersipu-sipu)

Tapi sayang doa gue kurang lengkap.

Harusnya ditambahkan berdada bidang dan belum punya cewe... Damn.

Jumat, 22 Mei 2009

cin(T)a goes to UK

Dengan rahmat syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, telah sampailah kita ke saat yang berbahagia (walaupun ternyata sama saja seperti hari-hari lainnya)...

cin(T)a goes to UK.

Perjalanan agak panjang mencari tiket untuk memberangkatkan cin(T)a akhirnya berbuahkan hasil. Salah satu mantan pejabat papan atas ibu kota akhirnya tergerak hatinya untuk membantu ekspor beberapa produk unggulan Indonesia ke UK.

Komoditas yang diekspor adalah...

Budi Sasono, the DOP... fungsinya jadi kameramen biar kami punya footage video yang layak untuk disalurkan ke beberapa televisi.
Sunny Soon, mewakili actors department... sekaligus jadi tukang potret keliling memastikan kita punya foto yang layak untuk berita.
Ardanti Andiarti, the publicist... ngakunya sih mau bikin news feed untuk cin(T)a, tapi sepertinya ada agenda cinta yang lain.
Dina Dellyana, the musician... ceritanya sih mewakili homogenic, tapi kalo kita sampai kere kurang duit kayanya doi yang pertama laku dijual. hihihi.
Sammaria Simanjuntak, the director... buat dipajang di depan mengobati luka hati fans saira jihan yang gak ikutan ke london.

Sementara itu Dini Dellyini akan ditinggal di Indonesia buat jaga kandang, agar produk-produk ini bisa diekspor ke tempat lainnya di Indonesia dan mancanegara.

Belum berangkat, sudah ada larangan menonton film ini dari beberapa komunitas. Katanya film ini menghina Tuhan.

God, please...

kalau memang film ini menghina Dirimu, tolong jangan biarkan film ini ditayangkan.

tapi kalau Kau memperbolehkan ditayangkan, tolong undang beberapa ciptaan-Mu yang berdada bidang dan berkulit gelap dan bukan simanjuntak untuk nonton. hihiy=P

And if anything happens, please save me from your followers.

Galak-galak abisnya. serem=P

Senin, 04 Mei 2009

May 4th 2009 : RESIGN CLUB 2nd anniversary

Dua tahun yang lalu gue resign karena pengen bikin film. Film yang beda. Film cin(T)a.

“Cinta lagi?”
“Gak kurang banyak apa yang bikin film cinta? “
“Gak salah lo milih judul?”
“Yang maen Desy Ratnasari ya?”

Berkali-kali gue menjelaskan kalau film gue bukan cinta biasa. Ini cintanya dengan T dalam kurung.

Cin(T)a.

Isinya tentang cinta segitiga antara Cina, Tuhan, dan Annisa.

“Oh... cinta beda agama?”
“Sequel Ayat-Ayat Cinta?”
“Yang jadi Tuhan siapa? Kayanya Alex Komang cocok tuh.”
“Mending judulnya Annisa Di Ranjang Cina, gimana?”

Nih judul gak bisa diganti, walaupun banyak yang wanti-wanti nih film bakalan merugi.

“Tenang aja! Duit mah pasti ngejar gue,” jawab gue dengan sombong-sombong cemas meladeni para pesimistis kapitalis.

“Duit tuh ibarat cewe cantik yang biasa dikejar-kejar. Dia cuma mau ngejar orang yang gak ngejar dia,” sabda ketua Babacan dalam salah satu khotbahnya.

Walaupun kadang ragu datang menyerang. Takutku bilang akankah gagal membayang. Apalagi setelah lima minggu, respons sponsor tak kunjung datang.

Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance


Untungnya Ronan Keating kembali berdendang, mengajak gue untuk kembali bergoyang.

Cha cha cha... tu wa ga pat....
Dangdut tali kecapi...
biar gendut yang penting seksiii...


Kalau bukan karena uang, kenapa gue masih bergoyang?
A) Karena cape nonton film cinta yang bikin cinta terpolusi dan butuh revitalisasi lebih banyak dibanding Cikapundung.
B) Cape dehhh nyela-nyela film orang, gantian sekarang dicela-cela.
C) Karena gue sering mencintai manusia lebih daripada gue cinta Tuhan.
D) Tadinya mo bikin film hantu. Eh kok jadinya film Tuhan?
E) None of the above.

Dua tahun berlalu sejak gue belajar bergoyang. I used to have money, home, and a job with a name card, but I was always afraid of having no money, no home, no job, and no name card. Now I have no money, no job, no name card, and no fear!

And no one to dance with.

Ada yang berani menemani gue bergoyang? =P

No Simanjuntak, please.

Sabtu, 02 Mei 2009

Agama : Manfaat dan Mudarat

Meminjam pemikiran seorang teman yang telah 41 tahun bergumul dangan Tuhannya dan masih seksi ajeee, akhirnya doi berkesimpulan agama ternyata gak semuanya mudarat, Bo. Ada juga manfaatnya. Setidaknya ada dua manfaat agama:

Yang satu memberi tempat kepada mereka yang terpinggirkan.
Di gereja doi, ada beberapa teman cacat mental yang sekolah bareng ama doi. Semakin dewasa,teman-teman ini semakin menghilang dari sekolah karena keterbatasan kemampuan mereka. Sementara di gereja, mereka masih bisa eksis dan masih nyanyi ajeee.

Setidaknya agama memberi kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa batas kemampuan otak, finansial, sosial, dan lain-lain. Agama memberi tempat buat mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Yang ke dua: agama sebenarnya lebih bermanfaat buat anak-anak... yang masih harus dicerewetin jauh-jauh dari api biar gak kebakar. Agama juga memberikan kesempatan minta baju baru dan makan-makan seru sekali setahun... pokoknya festive! Suasana yang paling bikin anak-anak senang dan menanti-nanti.

Semakin dewasa,kita gak butuh sekedar festive.Kita butuh cara beragama yang lebih advanced. Kita membutuhkan beragama bukan karena baju baru sekali setahun. Kita membutuhkan agama bukan karena kita takut dihukum. Kita membutuhkan agama bukan karena kita nggak bisa ngatur diri sendiri. Kita mulai belajar beragama gak lagi secara childish. (There is a difference between childish and child-like.)

Bayangkan jika semua orang masih beragama dengan cara yang anak2. Ada yang beda sedikit, marah. Ada yang gak sesuai dengan hatinya, ngamuk. Jika ditanya kenapa nangis, gak bisa menjelaskan... cuma bisa menjerit sambil mecah-mecahin barang. Kita menjadi monster-monster kecil yang bertindak berdasarkan keinginan hati sendiri. Mama, papa, dan kakak-kakak harus turut kebenaran gue.

Dari semua manfaat agama, sayangnya agama jugalah yang menciptakan monster-monster infantil ini.

Infantil. That’s a better word. Bukan childish. Maaf ya, anak-anak.

Bandung : Verona Van Java

Tralala trilili. Gue mau nonton Romeo Juliet. Ceritanya gak jauh beda ama film gue, cinta beda agama. Yang satu agamanya Viking, yang satu The Jak. Tuhan dan keluarga merestui hubungan mereka, tetapi sepak bola tidak.

Ternyata film ini dilarang beredar di Bandung. Kabarnya karena ada sebagian masyarakat yang menganggap film ini menghina masyarakat Sunda. Polisi takut film ini akan menimbulkan keresahan pada masyarakat bla bla bla.

Akhirnya Ucup, si sutradara, bikin private screening di Blitz dengan mengundang pihak-pihak yang merasa dihina, terutama komunitas Viking. Para wakil yang diundang menonton akhirnya datang. Bukan untuk menonton, tapi untuk ngegebukin sutradaranya.

Screening dibatalkan.

Sebagai orang Bandung, gue merasa malu. Ini adalah bukti kami tidak cukup dewasa menerima pendapat orang lain. Kami membiarkan minoritas radikal bersuara lantang dan menyetir keputusan di kota ini. Sementara mayoritas yang sebenarnya tidak radikal ternyata tidak cukup punya keberanian... atau kepedulian.

Di usianya yang sudah aki-aki, Bandung melewatkan satu lagi momen untuk tumbuh dewasa.

Kamis, 30 April 2009

Thank You, Robert Rodriguez

I cut this from his book. It gets me out there and keeps enjoying making imperfect movies. I hope you and I are not done yet in whatever passion we have.

A Rebel Without A Crew:

I think that everyone has at least a dozen or so bad movies in them. The sooner you get them out, the better off you are.

Think of it as a research or studying before the big test. If you walk in for the test on the day, having not done some homework or studying on your own, you’ll get clobbered. Many students in the film class spent about $1000 on their projects since it was 16mm and the projects came out lame, because they were trying to learn everything at once and expected the results to be better.

I talked to a few of these students who all semester had been talking about how much they wanted to be directors, then they made their first film and it’s less than they expected and so they got discouraged. They gave up and said “I don’t want to be directors anymore,I don’t think that’s my bag. What I really want to do is produce!”

First of all, this is where producers come from.
Second, they wouldn’t have been so discouraged and given up so easily if they had just kept going.
Third, the more experience you give yourself, the more prepared you are for the next project. If you want to be a rock star, you don’t go to a rock star school and expect to come out like Jimi Hendrix after a few short classes. You have to lock yourself in the garage and practice till your fingers bleed.

Enough schooling. Get your ass out there and make a movie because I’m telling you, Hollywood is ripe for the taking. There are so many creative people out there itching to make something, but they’re too negative in thinking they’ll never get anywhere or it’ll never happen.

Good luck to following whatever passion you have. You will most probably succeed in attaining it. And if you don’t, you’ll find that if it’s really your passion you are following then you will find enormous fulfillment and incredible satisfaction from at last trying.

Thank you for your time and I hope someday I can meet you in person. Until then... Good luck and God Bless.

TIPS BIAR DICINTAI AUDIO COMPOSER

Tips biar gak dimusuhi audio composer: I have no idea. Mas Muhammad Betadikara ini species phlegmatis yang tenang, santai, go with the flow, dan gak juga memusuhi gue sekalipun disuruh mengerjakan pekerjaan satu orkestra sendirian. Hasil kerja setahun John Powell and co. bisa dikerjain Beta and co.mputer hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baru di tengah jalan ada beberapa Strangers yang kebetulan lewat bernama Gugun dan Lanlan ngebantuin Beta. Jadinya sutradara kembali dikelilingi musisi-musisi ganteng... damn. I love this job.

Tadinya gue mo menulis tips bagaimana biar dicintai audio composer instead. Tapi ini juga kayanya gak mungkin deh. ‘Komunikasi intens’ gue dengan bapak audio composer tidak mengalihkan cintanya dari Mustika Ramhatoa. Dikasih nama RahmaTOA bukan tanpa prestasi. Rahmatoa baru nyampe Dago, suaranya dah nyampe Cicadas sangkin kerasnya.

Gue curiga jangan-jangan gendang telinga Beta sudah mengalami infeksi kronis yang sudah menjalar ke otak sehingga Beta tidak lagi mampu menerima sinyal-sinyal cinta dari wanita-wanita normal yang desibel suaranya masih dalam range manusia, bukan toa.

Atau mungkin juga karena si Toa jago merayu. Aku terharu deh baca blog mereka. Please check out http://rahmathya.multiply.com/

TIPS BIAR GAK DIMUSUHI SOUND EDITOR

1) Jangan pernah bikin script di mana karakter Batak dan Jawa disatuin!

Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.

Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...

2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.

Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.

I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.

3) Sediakan deodoran

Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.




Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.

Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.

Rabu, 29 April 2009

TIPS BIAR GAK DIJUTEKIN EDITOR: Catet Adegan!

“Pasti lo shooting diem-diem deh! “ gugat Anky, the editor, sewot gara-gara banyak footage tanpa keterangan dan catatan. Anky harus ngedit footage 25 jam menjadi 2 jam dengan banyak footage yang diambil diam-diam oleh sutradara tanpa sepengetahuan kru lain. Hihihi.

Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.

What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.

What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.

Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.

“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”

Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.

Annisa-Annisa Di Kontes Kecantikan Ibu Kota

“Gue dah dapet Annisa!!!” teriak Sammaria menggetarkan nyali seluruh penduduk Sembian Matahari Film.

Ruang sempit yang diiisi 4 poster film di salahsatu dinding itu hening beberapa saat. Jangkrik pun berhenti berderik sesaat, ikut tidak percaya dengan pernyataan Sammaria.

Lalu para pejuang tim casting dan jangkrik itu menghela nafas panjang setelah lebih dari 4 bulan menahan nafas akibat tidak juga menemukan sang putri utopia ciptaan Sammaria. Yang ini kurang cantik. Yang cantik kurang pinter. Yang pinter kurang menjual. Yang menjual, kurang kurus.

“Kalo ginian, mending gue yang jadi Annisa!” lanjut Sammaria sambil memamerkan lemak di kiri kanan pinggangnya yang konon dianggap seksi di jaman Monalisa.

Tapi akhirnya pencarian jarum di jerami itu berakhir setelah Sammaria bertemu dengan Rainy.

Rainy memang berbeda dengan cewe cantik lainnya yang mereka casting. Dia tidak hanya pintar, tapi juga charming dan rendah hati. Species wanita langka yang bikin wanita lain ingin mempunahkan demi terjaganya kestabilan stock lelaki.

“Rainy dan Sunny! Kebetulan banget gak sih? Emang udah rencana Tuhan nih kayaknya.” Seru Sammaria euphoria sambil menempelkan data casting kedua pemeran utama pilihannya di board depan ruangan.

Sunny dan Rainy. It’s too good to be true. Bahkan sampe membuat Sammaria percaya ada Tuhan yang cukup kreatif menciptakan dunia ini. Terdengar seperti nama karakter fiktif di sebuah chicklit murahan, cetakan penerbit remaja kodian. Tapi ini bukan fiksi. Sunny dan Rainy akan memerankan tokoh Cina dan Annisa dalam film pertamanya.

“If it’s sunny and rainy at the same time, you’re gonna have a rainbow!” seru sebuah YM dari Winda di ujung kota lainnya.

Sammaria sudah tidak sabar melihat pelangi.

“Kapan kita tanda tangan kontrak ama Sunny dan Rainy?”

“Sabar, Bo. Kita harus nego harga dulu ama mereka,” jawab Mas Adi Panuntun pusing karena pilihan Sammaria ternyata pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota. More money.

Sammaria sudah tidak sabar untuk memulai proses rehearsal. Sunny dan Rainy akan menjadi pasangan yang lebih legendaris dari Cinta dan Rangga.

+++


When it rains, it really does pour.

Rainy mengundurkan diri.

Sammaria masih bengong sendirian sepeninggal Rainy. Sammaria terlihat sangat kecil terduduk di antara dua pilar neo Klasik Campus Center putih ITB yang menjulang tinggi, terpuruk dengan keputusan Rainy. Manusia lalu lalang di depannya. Dunia terus berputar, seakan tidak peduli dengan hidup Sammaria yang berhenti beberapa menit yang lalu.

“Kita semua tentunya ingin film ini mencapai hasil yang maksimal. Karenanya, untuk kebaikan semua pihak lebih baik gue mengundurkan diri daripada gue menjadi penghambat di proyek ini,” tutur Rainy dengan bahasa yang sopan dan diatur hasil polesan setahun menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota.

“Anjing! Lo harusnya ngomong gitu dari dulu pas kita nego harga dan jadwal! Bukan pas shooting tinggal sebulan lagi, goblog!” teriak Sammaria sambil melancarkan turbo kick bertubi-tubi ke dada dan pipi Rainy. Tubuh semampai indah itu terkapar tak berdaya, terjatuh terguling-guling sampai di bawah tangga. Sehabis ini, Rainy pasti tidak bisa melenggang indah di panggung catwalk lagi.

Untungnya Sammaria masih berbudaya.

“Gue menghargai keputusan lo. Tapi coba pikirin lagi,” tutur Sammaria ikutan bijak dengan senyum politik paling tulus yang bisa ia pamerkan. Siapa bilang sutradara tidak bisa akting.

“Ntar gue telepon lo lagi setelah gue pastiin jadwal gue,” jawab Rainy mengakhiri pertemuan mereka.

“Tai! Gue tahu lo gak bakalan berani nelpon gue lagi!” teriak Sammaria sambil memberondong tubuh Rainy dengan AK - 47. Rainy berenang gaya punggung sejenak di udara sebelum akhirnya terkapar jatuh menghantam paving block.

Tapi Sammaria masih berbudaya.

Sammaria terseyum sambil memandangi tubuh 172cm yang semakin lama semakin mengecil, dan menghilang menjadi sebuah titik di kejauhan.

“Dor!” sahut Sammaria lemah sambil mencoba menembak titik Rainy dengan pistol jarinya. Tapi titik kecil itu tetap mengecil dan akhirnya lenyap.

Setetes air mendarat di pipi Sammaria. Sammaria menengadah memandang langit mendung yang seakan-akan turut berduka cita dengan kegalauan hatinya. Beginilah akibatnya kalau bekerja pakai hati. Kalau gagal, rasanya lebih sakit daripada putus cinta.
Kalau putus cinta sih gampang, tinggal cari lagi. Kalau diputusin aktris, lebih susah karena melibatkan waktu masyarakat banyak dan modal yang tidak sedikit.

Lebih banyak tetes air mendarat di pipi Sammaria. Manusia-manusia tidak lagi lalu lalang di depan Sammaria. Semuanya sudah mencari tempat berteduh, tidak sudi rambut salonnya keguyur hujan.

Sammaria tetap terduduk, membiarkan tetes demi tetes rainy membasahi tubuhnya. Kebetulan. Biar air mata yang menetes deras dari matanya tersamar oleh air hujan. Sammaria terlalu banyak terkena Efek Rumah Kaca, membuat hati Melayunya semakin mendayu-dayu.

Sammaria tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Mengangis kenapa? Gara-gara cewe kaya Rainy doang? Kaya gitu doang sih sepuluh juga bisa langsung dapet di pasar.

Tapi pasar mana? Rainy itu sempurna. Air mata Sammaria tambah deras memikirkan proses casting panjang yang harus dia lewati untuk menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy. Lebih baik mati saja.

Sammaria mendekati ujung lantai, siap mementalkan tubuh gempalnya ke lantai dasar.
Untungnya tiba-tiba Sammaria teringat komedo di hidung Rainy.

Memang sepertinya ini petunjuk. Rainy kurang sempurna untuk peran Annisa. Nanti Sammaria gak bisa banyak pake shot close up. Sementara wide shots will cost her more.

Sammaria menghapus air yang terus mengguyur wajahnya. Sammaria needs revenge. Sammaria harus menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy, membuat film terbaik Indonesia, dan mati ketawa melihat wajah penuh penyesalan Rainy saat diundang ke premiere.

Anger really corrupted her soul.


PS: cerita di atas kayanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan tempat peristiwa, mungkin memang disengaja.


+++


It’s rainy day. Hallelujah.


Setelah beberapa hari terpuruk di kamar menangisi kepergian Rainy, Sammaria bangkit.
Yang terpikir pertama kali di benak Sammaria adalah seorang cewe yang juga pernah menang si kontes kecantikan ibu kota sebelum Rainy. Hayu adalah salah satu cewe paling cantik dan anggun yang pernah dikenal Sammaria.

“Hi, I’m a new inbound from India,” sapa Hayu ramah saat pertama kali bertemu Sammaria yang duduk di sebelahnya pada suatu acara Rotary Exchange Program di Jakarta.

Sammaria terkesan dengan inbound India yang cantik dan ramah ini. Sammaria menceritakan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris dengan bersemangat.

“This is combro, our traditional food from West Java.”

“Interesting,” jawab Hayu penuh antusiasme.

Sammaria pun kembali beredar menyapa teman-temannya yang lain yang sudah setahun tidak dijumpainya sejak Rotary ke Amerika.

“Liat deh ada inbound dari India. Cantik banget. Baik lagi,” tutur Sammaria pada Ama sambil menunjuk ke arah Hayu yang sedang tertawa-tawa bersama sekumpulan teman lain. Ternyata selain cantik, dia juga jago bergaul. Baru sampai sebentar di Indonesia, dia sudah punya banyak teman.

Ama menoleh melihat ke arah yang ditunjuk dengan heran.

“Itu kan Hayu, baru pulang dari Jepang.”

Monyet! Ternyata Hayu dkk lagi ngetawain gue. What the hell was I doing explaining combro to an Indonesian... in English???

Cantik, anggun, jago menipu. Exactly the type that would be perfect for Annisa. Tanpa casting, gue tawarin Hayu jadi Annisa.

“Ada adegan ciuman??? Lo mau bikin gue cerai?” reaksi Hayu pertama kali gue tawarin. Damn. She’s married now. Two years too late.

Hayu menyarankan beberapa temannya yang juga jebolan kontes kecantikan ibukota dan satu junior kita di Rotary yang ternyata baru saja menjadi finalis salah satu kontes kecantikan ibu kota lainnya, Saira Jihan.

What’s with all this kontes kecantikan ibu kota? Kenapa somehow mereka yang cocok jadi Annisa adalah mereka yang telah dididik di kontes-kontes ini? Mungkin cuma mereka yang telah merasakan seminggu dikarantina tersenyum inilah yang bisa mengerti senyum Annisa.

Bukan senyum terpaksa. Bukan senyum takut dicela wartawan. Bukan senyum takut dikritik juri. Bukan senyum takut menyinggung perasaan orang lain kalau tidak tersenyum. Tapi bukan senyum yang tulus juga. Senyum Annisa... susah digambarkan dengan kata-kata. Senyum yang menyimpan sejuta misteri dan seribu kepedihan. Seyum yang bikin cowo-cowo pengen meluk dan melindungi Annisa dari segala perih dunia.

Aihhhhh mulai kan gue melayu mendayu-dayu. Gue ajalah jadi Annisa. Senyum doang bisalah gue.

Shooting Is My Purgatory. Simei Is My Paradiso.

After “Taxi Driver”, Scorcese said that shooting a movie was a horrible experience. I couldn’t agree more.

After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!

Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”

Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!

Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.

Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?

Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.

Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.

Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.

Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.

Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.

Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.

Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.

She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.

But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .

But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.

Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.

# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......

Thank you, Yasmin Ahmad.

I got this from her blog.

http://yasminthestoryteller.blogspot.com/2008/11/artists-today-think-of-everything-they.html

The reason I'm writing this is not to boast some sort of comeuppance to my detractors in the past. I don't even consider myself an artist, let alone one whose work comes anywhere near as good as Andrew Wyeth's. But I feel this is something I need to say to new, struggling filmmakers out there who, despite their best intentions, often find their work spat at by naysayers.

If you're honest with your work, feel free to come back to this posting to read what dear Ali said to me, all those years ago.

Follow your inner instincts. Because, as Mr.Wyeth himself once said, "If you clean it up, get analytical, all the subtle joy and emotion you felt in the first place goes flying out the window."

Today, after making about 50 television commercials and six feature-length films, after winning 11 international awards, I often feel like I don't know the first thing about filmmaking. But I know this much:

If your intentions are pure, if you apply your craft with a view to observe humanity and, ultimately, God himself, very often something powerful will surface. And the next thing you know, hordes of strangers from all around the world are stepping forward to tell you "the story of their life or how their father died."

90% OF MOVIE MAKING HAVE NOTHING TO DO WITH MOVIE

When you come close to selling out, reconsider
Give your heaven above more than just a passing glance
And when You get the choice to sit it out or dance
I hope you dance


Sudah lima minggu gue bolak balik Jakarta. Making a movie is one thing. Distributing it is a lot tougher.

Baru aja baca Rebel Without A Crew. Curang. Robert Rodriguez punya Columbia Pictures, Disney, dan Tristar rebutan buat distribusiin film dia. Jadi habis bikin El Mariachi, dia bisa konsentrasi bikn film selanjutnya tanpa pusing dengan distribusi.

Untungnya gue lahir di Indonesia. Jadinya gue masih harus berjuang lebih banyak lagi.

Launching.

Bioskop.

Roadshow.

Bring it on!

MY OWN FILM SCHOOL

Cin(T)a is finished. I have one movie in hand, no money, and still a lot of things to learn for my next movie. Film school is no option. It will cost me SGD 55.000 a year just for tuition. Bisa aja sih kalo bokap gue jendral tajir atau something Riyadi. Too bad I am not, so the only way is : I need to make my own film school.

I make my own curriculum. And I chose my own list of teachers.

Film cin(T)a gue kirimin ke para pencipta favorit gue. Yasmin Ahmad,Joko Anwar, Garin Nugroho, John De Rantau, Nia Dinata, dan Enison Sinaro in the directing sections. Ayu Utami and Dewi Lestari in the writing sections. Jalaludin Rahmat, Romo Muji, and Bambang Sugiharto in the spiritual sections.

Thanks to XL gratis SMS setiap hari setelah ngirim 8 SMS, gue jadi bisa setiap hari men’teror’ orang-orang sibuk ini sampai akhirnya luluh mau menonton film gue. Garin Nugroho, Nia Dinata, dan Yasmin Ahmad belum berhasil gue ‘teror’. Tapi selama Mentari masih terbit di timur, dan selama XL masih gratis SMS, teror gue belum akan selesai hihihi=P

Thanks to mereka yang bersedia gue ‘teror’. Now I have a better understanding of what I want to do next. Can't wait for it.

OUR OWN FILM CITY

Jababeka boleh jadi mengakui diri sebagai one stop shopping for filmmaker yang pertama di Indonesia. Tapi kita dah bikin duluan dong! Rumah gue: the jalan Bali nomor 7. It’s our own one stop shopping buat film cin(T)a. Mulai dari akomodasi buat kru dan cast, berbagai alternatif lokasi shooting, fasilitas casting, sampai fasilitas editing ada di the Jalan Bali nomor 7!

Mulai dari kamar Annisa yang cantik dengan tesktur dinding, lantai, sampai langit-langit penuh kayu ramin.. sampai ke kamar Cina yang low budget dengan dinding bata, cat biru murahan, dan lantai tripleks dilapisi karpet meteran... semuanya ada di rumah gue! Semuanya mahakarya Ajo, si tukang sulap yang menyamar jadi art director.

MULTI TALENTED CREWS

Hari H!

Chief lighting gue menghilang. Sound man gue entah di mana. Kameramen gue mengundurkan diri karena ditawari kerjaan oleh Nia Dinata (Ya iyalahhh... bego aja kalo gak ngundurin diri). Terpaksa Budi Sasono sebagai Director Of Photography merangkap Chief Lighting, merangkap Director of Sound, merangkap kamera operator juga.

Kru gue emang multi talented. Hanya menye2! Cowo2 ganteng ini kagak ada yang bisa nyetir dong! Budi Sasono bisa nyetir, tapi gak punya SIM. Jadi selama shooting cowo-cowo ganteng ini disupiri oleh 2 cewe tangguh: gue dan Erika. Ternyata Miss Jihan juga gak bisa nyetirrr! Padahal ada adegan doi nyetir di film ini.

“Bisa sih. Dulu pernah belajar,” aku Jihan.

Yeah right. Baru jalan dikit, tuh mobil udah ndat nduttt. I can’t risk it. Mobilnya pinjeman dari Danu. Terpaksa semua kru dikerahkan untuk mendorong mobil sementara Jihan pura-pura nyetir. All she had to do cuma neken rem.

Cut! Jihan panik jadinya neken remnya terlalu kenceng. It looks really ugly on screen. Terpaksa ditaruh batu di tempat mobil seharusnya berhenti jadi Jihan gak perlu neken apa pun. Doi Cuma perlu terlihat wajar dan pura-pura nyetir. Huahahha mukanya tegang abis! Untung kaca mobilnya gelap. That’s good enough leh! Let’s move on. We still have 20 scenes to go.

Selain menjadi sutradara, scriptwriter, dan produser... gue juga merangkap menjadi supir, tukang pijit, tukang nyapu, dan kadang-kadang astrada di kala astrada Burhan lagi merangkap jadi boomer. Memang kru-kru film cin(T)a ini multi talented semua;P

MENULIS FILM CINTA

“Gue pengen bikin film cinta yang dewasa,” seru gue penuh iman dan keyakinan.

Dan Sali pun tertawa.

Huahahhahaha. Cinta yang dewasa tuh kayak apaan sih? Gue keukeuh pokoknya harus cinta yang dewasa. Yang tidak menuntut. Yang gak mendominasi satu sama lain. Sally akhirnya berhenti tertawa gara-gara gue pelototin.

Gara-gara gue berusaha bikin cinta yang dewasa, sementara pengalaman cinta dewasa gue cuma sebatas baca Anthony Giddens dan Paulo Coelho, draft 1 film cin(T)a jadi super basi dan cupu. Gue berusaha memasukkan semua idealisme gue ke dalam tokoh Cina yang masih ABG dan belum seharusnya dewasa. Dia harus nyinyir dulu baru nanti dia bisa ikhlas. He has all the freedom to be nyinyir and demanding . It’s a privelege of an 18 years old boy.

Setelah gue edarkan film ini ke beberapa tokoh yang gue anggap kompeten, semuanya punya tanggapan berbeda-beda. Ada yang menganggap gue Kieslowsky berikutnya. Ada yang gemes pengen ngambil cerita gue dan di-shoot ulang karena gue menyia-nyiakan tema yang keren. Tapi semuanya merasakan hal yang sama: Anger. Pernyataan paling mewakili mungkin adalah .... film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa.

Film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan agama dan kepura-puraan di sekitarnya. Pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan topeng-topeng saleh yang menganggap dirinya atau agamanya lebih baik dari orang lain. I just realized how much anger I had. Untung gue gak bisa bikin bom, jadi bikinnya film.

Man! Dua karya pertama gue ternyata dimotivasi amarah! Padahal gue pengennya bikin film kaya Shawshank Redemption, Little Miss Sunshine, History Boys, Crash, and all other inspiring movies. Pantesan gue gak bisa bikin karya kaya gitu. There are just too much negative energy in my soul to energize a postive energy to others.

Gue baru mengerti kenapa they call it film making. Film is life. So film making is basically life making. In order to learn to make film, I have to learn to live. Pantesan banyak sekolah film di Amerika baru mengajarkan directing sebagai bahan S2. I really need to learn life first, then I can direct. Otherwise, I will be just a visualizer, not a director.

But I hope these two works are enough to get the bad energy out of my system. I am ready to make something I am more shaped to do: menebar benih-benih cinta.

Oh cinta, come to mama! I am ready to love you now. Huehehehe.

MENULIS SAMPAI TITIK PENGHABISAN

I loved telling stories. I wrote novels. I drew comics. But I never finished any of them.

It happens over and over. Excitement yang gue punya di awal bikin karya gak bisa gue pertahankan buat menyelesaikan karya. Selalu banyak alasan keren buat gue untuk gak menyelesaikan. Gue bahkan pernah berpikir kalau gue emang tipe orang yang cuma didesain untuk proyek pendek. Gak buat nulis film panjang atau novel. I hate myself for that because I would like to picture myself with endurance longer than that pink rabbit on TV.

Sampai seorang malaikat yang mengaku temen abang gue ngirim gue pdf: How To Write A Damn Good Novel. I don’t know him and I don’t think any angels will bother to be friends with Sharondeng, abang gue. Tapi buat gue pdf ini another massage from God.

Finish one! And you’ll finish all the next ones.

Karenanya gue harus menyelesaikan satu novel dulu baru gue bikin film. Karena novel itu lebih sendirian, sementara film melibatkan banyak orang. Kalau gue gagal menyelesaikan novel, setidaknya gue cuma merugikan diri sendiri. Kalau gue sampai gagal bikin film, gue merugikan semua orang yang gue ajak. If I can taste the feeling of finishing something, that feeling wil remain and remind me to stay fighting for the longer one: cin(T)a the movie.

So I started writing my first finished novel, Kartini Nggak Sampai Eropa. Gue mengurung diri di kamar selama seminggu penuh. Cuma makan apel dan minum air putih.

Di hari ke tujuh, gue muntah. I hate my writing. I wish it would turn out a lot better. I didn’t even bother to read it again. I sent the first draft right away to the publishers.

Inilah bedanya penulis profesional dan amatir. Everybody can write. But only the professionals rewrite.

Gara-gara tanpa rewrite, tulisan gue jadi terlalu vulgar, tanpa basa-basi , gak indah, bitter... tapi jujur. Terlalu jujur that it drove myself more depressed. I am exposing my own personal tale and others whom I love to public. What am I thinking? But I can’t think of any other story I would die to write that time. I guess anger could really drive you to do anything, even finishing a novel : something I never could have before.

Kartini Nggak Sampai Eropa akhirnya diterbitkan walaupun dengan cover yang berbeda selera dengan gue. Covernya sih sebenernya lumayan, kalau saja tidak dihiasi sebuah bulatan kuning mencrang bertuliskan : Sebuah Novel Karya Sammaria.

Who the hell is this Sammaria? Artis bukan penulis bukan. Ngapain juga namanya harus dikasih bulatan kuning as if her name wil raise the selling? Yuck!

Malu aku malu! Jadi gue gak pernah bilang-bilang ke orang-orang kalo gue bikin novel. But somehow they managed to know. Monyet!

Thanks to tragedi bulatan kuning, temen-temen gue jadi punya bahan celaan baru. Huahahaha. Publishing a novel harusnya membanggakan dongggg... ini malah jadi bikin gue bahan celaan. Belum lagi ditambah tulisan di back cover novelnya yang menyebutkan gue dapet TA terbaik di arsitektur. Monyet! Lagi-lagi mereka dapet bahan celaan baru.

“Cieeeeeeee... TA terbaik!!!” Monyet!

Buat lo yang udah terlanjur beli, silakan menghubungi gue untuk mendapatkan cover asli pilihan hatiku. Gambarnya adalah seorang cewe berkebaya, bersanggul, bercelana jeans, dan merokok. Karya seorang seniman kontemporer berbakat, Patra Aditia. Kata penerbitnya cover ini terlalu old school, gak lagi menjual. They know how to sell more than I do. I wish.

Lepas dari semua perbedaan selera gue dengan penerbit, gue tetap bersyukur dan berterima kasih novel ini bisa terbit. Gue cukup takjub ternyata kenyinyiran gue ada gunanya juga buat orang lain. Ada yang ngirim email ke gue kalau doi gak jadi jadi lesbian setelah baca novel gue. Trus ada yang mau bikin skripsi based on novel gue. Judulnya something like :

"Pencitraan Terhadap Tokoh Wanita dalam Novel "Kartini Nggak Sampai Eropa"
(Analisis Wacana terhadap karakter "Anti" dan "Tesa")

Gue jadi berasa seperti penulis benaran karena karya gue dianalisa. Gue udah kasih si penulis warning kalau in a way dia bakal menganalisa kepribadian gue. Dan kepribadian gue nggak segitunya buat dijadiin skripsi. Kalau kecantikan sih emang gue gak ada taranya.

Thanks. You guys gave me a dose of energy to keep on moving. But the good thing that came out of this novel is: I have the confidence to finish my feature length movie. Dan gue juga turun 4 kilo dalam seminggu. Yeyyyy=P (And I was wondering why I was depressed???)

MENJALA KRU

“Hah? Bikin film harus PT???” tanya gue dengan terkejut. Baru tahu kalau untuk ngurus izin nanyangIn film, lo harus bernaung di bawah sebuah Perusahaan Terbatas yang punya surat izin untuk memproduksi film.

Hueh! Gak bisa ya bikin film aja sendiri? Kaya jaman gue kuliah dulu. Ngajakin temen-temen yang sudah mengenal gue seperti apa adanya. Teman-teman yang bisa ngerti kalau gue kena sindrom PMS permanen.

Untungnya gue bertemu Adi Panuntun, another si ganteng smells like home, yang menjadi EO LA Lights Indiemovie. Perusahaan mas Adi ini baru saja menjadi PT. Jadinya urusan izin mengizinkan buat film beressss. Sekali lagi some invisible hands save my ignorant ass from trouble. Fiuhhh.

Berhubung gue gak bisa nulis, gak bisa ngedit, gak ngerti kamera, dan gak bisa mimpin... film making ala rebel without a crew versi robert rodriguez really didn’t work for me. Mulailah gue merayu teman-teman gue yang berbakat dan haus bikin film tapi terjebak di kerjaan mereka.

Writer:
Sally, senior gue di Liga Film Mahasiswa ITB. Tugas fotografi gue pas mau masuk LFM dicela-cela ama anak ini. But she’s a damn good writer! Writing with her is like a short course on how to make a mendingan script. Draft 1 gue yang cupu jadi agak layak difilmkan.

Editor:
Anky, musuh seperjuangan gue dari jaman kuliah dulu. Dia yang pertama kali menjebak gue ke dunia kelam perfilman. Jaman dulu gue cuma suka moto. Kalau dia gak pernah ngajak gue buat jadi DOP di film dia, tentunya gue sekarang sudah berbahagia jadi arsitek di Singapur, trus beasiswa S2 ke Delft, trus stay forever di Amerika. Anky gue rayu buat resign dari kerjaannya di Trans 7 sebagai... gak tau jadi apaan.

Director Of Photography:
Tadinya mo nyewa profesional, tapi nggak mampu bayar. Jadi produsernya turun langsung jadi DOP. Budi Sasono, another si ganteng smells like home. Hmmmm. Hidungnya mirip Boni, golden retriever gue yang sering disangka sapi ama publik. Jadi gemes pengen nyubit2 Budi Sasono. Akhirnya anjing gue berubah nama dari Napoleon Bonikarpet menjadi Boni Sasono.

Tugas utama DOP adalah membangun’komunikasi intens’ dengan sutradara. Hihihihi. Lighting the set mah gimana ntar. Yang penting intens dulu dengan sutradara. Hmmmmmm;P

Art Director:
Ajo. Dari belakang gue kira dia mau casting jadi Annisa. Cantik sihhh... sayang berkumis. Hihihi. A very talented and wild art director. Gue berharap our next movie is something that gives more space to imagination so he can show off his unlimited creativity. Ajo dan Koben made up our whole art department sections. Wow.

Production Manager:
Monyet! Gara-gara anak ini nih diet gue gagal. Padahal film sebelumnya, gue turun sekilo sehari. Di film ini, sangkin bahagianya, gue malah tambah gendut. She’s doing a too good of a job. Gue curiga dia emang mensabotase diet gue biar doi tampil cantik sendiri di premiere.

Assistant Director:
Burhan Yogaswara. Sebenernya doi pengennya jadi artis, tapi berhubung mukanya kagak ada cina-cinanya, dan kagak ada cantik-cantiknya, dia jadi astrada aja lah. Sepanjang shooting kerjaannya bikin kegaringan yang menyebabkan kemarau panjang. Di akhir shooting doi dianugerahi tokek award atas prestasi kegaringannya. Krik.... krik... krikk...

Assistant Director 2:
Yunitantri DJ. Tadinya editor gue mo jadi astrada 2. Taunya doi lebih memilih bulan madu daripada memajukan perfilman Indonesia. Yuni sebenarnya pengen jadi artis juga. Tapi berhubung ini bukan film Bollywood, terpaksa Yuni dijadikan astrada merangkap breakfast girl, sekaligus maketor, trainer logat batak, Konti girl, dan merangkap P2 girl.

Wardrobe/ Make Up:
Ibu Yuvie pun gue rayu biar meluangkan waktu di sela-sela jadwal fashion show doi. Sebenernya doi kayanya agak trauma di dunia perfilman setelah bertemu beberapa artis muda kurang berbakat yang juga kurang adat. Tapi doi berhasil dirayu demi kemajuan perfilman kami. Doi dibantu muridnya, Mbak Wenti yang juga belon pernah bikin film.

Production Assistant:
Untungnya si pak produser juga merangkap dosen. Jadinya banyak anak didiknya yang membantu terselenggaranya film ini sampai selesai.Eka, Fauziah, Galih, Reza, Awal,Dina, Asep, Shendi, dan Bagus. Ayo! Kalau mau nilai A, buang astrada 1 ke kolam! Byuuurrrrrr. Good job! We don’t know what to do without you, guys!

Setelah shooting selesai gue baru nyadar ternyata berondong-berondong ini ganteng2. Damn. Inilah akibat terlalu intens dengan DOP jadinya lupa lihat-lihat sekeliling.

Setelah filmnya jadi, ternyata perburuan gue belum selesai. Distributing the movie is a whole new art. Kerjaan satu studio dikerjakan bertiga dengan duo mbak kenthir yang menmani gue betiga menjelajahi jalan-jalan 3 in one jakarta with no money and no boyfriend, but a lot of love to share.

Publicist (merangkap mbok pijit):
Ardanti Andiarti. Doi tumbuh sebagai minoritas di sebuah sekolah katolik. Danti beradaptasi dengan habitatnya sehingga matanya ikutan menyipit. Bahkan doi disangka muallaf pertama kali pake jilbab. Exactly the perfect profile we need to promote this movie. She smells a lot like home, walau kadang ada semilir bau minyak tawon menyertai.

Promo manager (merangkap supir karena mbak-mbak lainnya gagap Jakarta):
Dini Aprilia Murdeani. Sebelum doi dinyatakan lulus dari sekolah bisnis di Bandung, gue udah nongkrong di luar ruang sidangnya, siap-siap menangkap doi sebelum diambil orang lain. I knew her from SMA. We made a great team sebelum doi mengurangi komunikasi intens gue dengan DOP. Ternyata doi punya agenda cin(T)a yang lain.