Selasa, 04 November 2014

Biografi Kesenian



Saya dilahirkan di zaman Soeharto di saat pendidikan Cara Belajar Siswa Aktif membuat kegiatan berkesenian saya hanya sebatas menggambar dua gunung, satu jalan melintas sawah, dan matahari di balik celah kedua gunung. 

Kadang di kanan atas. 

Saya mulai mengenal jenis gambar lain ketika komik Jepang mulai membanjiri Gramedia. Gambar saya pun mulai menyerupai karakter-karakter di Candy-Candy.

Baru ketika tahun 2000 saya pertukaran pelajar ke Amerika, saya mulai mengenal jenis kesenian lain. Saya mulai mencoba berbagai jenis media seperti  lukisan cat air, lukisan cat minyak, gambar realis, fotografi, kerajinan besi, keramik, paduan suara, band, dan lain-lain. Gambar saya tidak lagi seperti Candy-Candy.  

Sepulang dari Amerika, saya kuliah di  Arsitektur ITB walaupun tidak terlalu mengerti serunya membentuk ruang. Tapi Arsitektur satu-satunya jurusan yang mungkin saya pahami di institut yang diinginkan mama saya. Saat itu saya tak peduli kuliah apa, yang penting ITB. 

Di ITB, saya mulai menonton dan membuat film pendek. Saya sangat senang membuat film karena berbeda dengan bidang seni lain yang cenderung sepi, film media yang populer dan mudah dijangkau masyarakat luas. Setelah lulus, saya ingin menjadi filmmaker.

Setelah lulus, tentunya saya tidak berani dan akhirnya menjadi asitek. Baru setelah saya gagal mendapat visa kerja dan tidak punya pilihan lain selain bikin film, saya mulai membuat film pertama saya.

Film pertama saya judulnya cin(T)a, dibuat oleh orang-oang yang semuanya baru pertama kali membuat film. Filmnya sangat sederhana dan temanya berhasil mencuri perhatian muda-mudi yang naksir orang yang beda agama tapi gak bisa. Film ini memberikan saya Piala Citra untuk skenario dan menjadi tiket masuk saya mengenal filmmaker Indonesia yang komunitasnya cenderung kecil dan tertutup.

Film kedua saya diproduseri salah satu sutradara favorit saya, Nia Dinata. Sebuah dokumentar pendek tentang seorang anak SMP yang juara kontes menyanyi instant di TV yang akhirnya menjadi tulang puggung keluarga. Perjalanan membuat film ini membuat saya berpikir ulang tentang popularitas dan dampaknya kepada passion kita.

Karenanya film ke tiga saya tetap saya produseri sendiri, tanpa artis terkenal, dan didanai ribuan orang lewat program crowdfunding. Judulnya Demi Ucok, tentang seorang anak yang tidak ingin menjadi ibunya yang kawin dan melupakan mimpinya menjadi artis terkenal.  Film ini sangat penting bagi saya karena dibintangi ibu saya sendiri dan perjalanan crowdfunding mengharuskan saya menemui satu per satu orang dan sering kali menemui penolakan. Film ini adalah sebuah begging pilgrimage yang berakhir manis. Film ini menjadi Film Indonesia Terbaik pilihan Majalah tempo dan Ibu saya mendapatkan Piala Citra dan menjadi artis sesuai cita-citanya.

Film ke empat adalah ‘Selamat Pagi, Malam’, film pertama yang tidak saya sutradarai sendiri. DI film ini saya belajar lebih dalam tentang identitas,  seksualitas,  dan melihat keindahan dari keburukan Jakarta.

Industri film Indonesia yang semakin hari semakin krisis penonton menyebabkan saya sempat berpikir untuk tidak lagi menjadi filmmaker. Di jaman New Media ini, sepertinya kita harus lebih fleksibel dan kolaboratif dalam menciptakan karya. Tidak boleh terlalu terpaku pada format film komersial berdurasi 90-360 menit. Sebelum berhenti, saya akan membuat setidaknya satu film lagi, Raja Kata. Sebuah cerita sederhana tentang memaafkan yang terinspirasi dari ayah saya.



Statement Karya

Film adalah bidang seni yang menuntut kompromI paling tinggi karena sangat kolaboratif dan membutuhkan dana yang sangat besar. Karenanya, saya harus sangat berhati-hati dalam membuat film agar tidak terseret arus keinginan populer.

Sejauh ini, saya hanya membuat film yang meresahkan saya. cin(T)a merupakan keresahan saya tentang agama atau cinta. Lima Menit Lagi  tentang popularitas atau passion. Demi Ucok tentang nurut ke orang tua atau mengejar mimpi. Selamat Pagi, Malam tentang mencoba melihat keindahan dalam keburukan. Karenanya, saya membuat film untuk menjawab keresahan diri sendiri. Sambil berharap semoga keresahan ini juga dirasakan cukup banyak orang sehingga filmnya balik modal dan bisa bikin film selanjutnya.

Selama saya masih banyak keresahan dan uneg-uneg, mungkin saya masih akan terus membuat film. 








Sabtu, 01 November 2014

Belajar Terbang

Di depan pintu bar itu dipajang tulisan Ladies Only. Tapi Lucky dan dua teman lelakinya rela masuk demi menemani kami, dua anak burung dari negeri yang tak punya lesbian bar.

Gue melintasi dance floor sempit dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap. Gue cuma berdiri ngintip-ngintip dari ujung ruangan mengamati lesbian Tokyo, sementara si anak burung lain sudah disamperin mbak-mbak berbahasa Inggris di bar.

Lucky dan dua temannya menjauh, seperti induk burung yang menendang anaknya keluar sangkar biar bisa terbang. Tapi sepertinya anak burung ini lebih memilih kembali ke sangkar.

Ini pertama kalinya gue ke Lesbian Bar.  Ternyata banyak juga yang cantik di antara buci-buci. 

Sayup-sayup di belakang sana, gue mendengar Lucky menceritakan kisah gue pada dua temannya. 

“Emang ini semuanya lesbian?” tanya gue pada Anak Burung 2.

“Ya iyalah, Mbak.  Namanya aja Gold Finger. Kalau gak suka cewek sih ya gak akan ke sini,” katanya 

“Lha elo nggak lesbi  ke sini,” tuduh gue.

“Ya gue kan bi,” katanya. 

Ini pertama kalinya gue denger confirmed dari mulut dia. Biasanya Anak Burung 2 berusaha terkesan dia eksperimen doang.

Anak burung 2 lanjut berburu. Anak burung 1 tetap diam mengamati  femme-femme yang datang dengan kostum polisi blasteran suster.

Hari ini malam Halloween.  

Papa burung memutuskan pindah ke restoran Thailand di sebelah biar Anak Burung 1 gak punya sangkar untuk kembali. Tapi Anak Burung 1 malah ngekor.

“Lo party pupper banget sih,” keluh Papa Burung.

“Ih baru tau? Emang kapan gue gak party pupper?” tangkis si anak burung yang  lebih pengen makan pad thai daripada kenalan sama femme-femme cantik. 

Bar memang bukan kandangnya.  Cukup baginya untuk melihat-lihat seperti apa sih lesbian bar. Setelah itu, kembali pulang dan menulis.

Anak Burung 2 yang dicurigai sudah sibuk ciuman di Bar me-whatsapp, ngajak Papa Burung pindah ke club buat dancing-dancing. Papa Burung yang sudah mulai ngantuk pun terpaksa ikut clubbing, menemani Anak Burung 2.

Gue berjalan melewati ribuan manusia dengan kostum Halloween yang merajai  jalan Nicome yang sebelum tengah malam mungkin dipenuhi mobil, Semuanya tertawa senang berusaha memanfaatkan momen Halloween untuk merayu dan dirayu and make the most of their youth. Gue menatap sekeliling, sambil bertanya-tanya what is wrong with me. Apa benar gue gak mau stay dan menikmati semua ini? Apa gue akan jadi party pupper seumur hidup kalau malah naik taksi dan pulang ke hotel?

Bukankah gue seharusnya pengennya di luar sini merayu dan dirayu and make the most of my youth?

Mungkin  deep down inside, I already found you. 

“Hotel Okura, please.”











Death

“I guess as we get older, we are not as funny,” jawab Lucky ketika ditanya kok bisa film ke duanya sangat berbeda dengan Madame X yang kocak dan penuh letupan. ‘In The Absence Of The Sun’ mellow to the low.

Si penerjemah Jepang ikutan mellow to the low mendengar jawaban Lucky.

“You are not old. How old are you?” tanyanya.

“34.”

“You still got a long way to go. People in Japan lives to a hundred.”

“Well, In Indonesia it is only 65.”

“Life expectancy that low?” tanyanya kaget. Padahal dulu dia pernah tinggal di Indonesia. Mungkin tinggalnya di Indonesia bagan expat, di mana udaranya bersih dan makanannya sehat.

Kalau dikonversikan ke mata umur Jepang,  Lucky sudah 50. Gue sedikit mudaan. Tapi akibat tak yoga dan gemar gula, mungkin jadinya lebih tua.

Gue tidak bertanya berapa umur Yumi. Tapi kalau orang tuanya sudah berumur 80, Yumi mungkin sekitar 50. Walau mukanya 30an.

“I am 48,” kata seorang mantan bintang porno.  Mukanya juga 30an.

Mungkin karena dia mantan aktor bintang porno Jepang yang sudah ngecrot di depan kamera di lebih dari seratus film. 

Nggak juga. 

Mungkin karena kulit mereka memang lebih tak berminyak dan cerah. Mungkin makanannya. Mungkin udaranya. Di Tokyo, gue bebas jerawat tanpa obat padahal tiap hari pulang ketiduran lupa cuci muka.  

Teringat papi yang sudah 67 dan selalu merasa waktunya bentar lagi. Papinya Papi meninggal umur 69, karenanya Papi yakin usianya tidak lama lagi. Apalagi mengingat  sudah 3 kali papi pingsan padahal sudah keluar masuk rumah sakit. Dan selalu dokter bilang dia sehat, tak boleh banyak pikiran, tapi nanti pingsan lagi.

Gue selalu tidak percaya setiap Papi bilang mungkin waktunya hanya dua tahun lagi. Papi terlihat sehat-sehat saja. Kematian seperti hal yang mustahil terjadi di hidup gue.

Sampai suatu sore di stasiun Sedagaya.

Sebuah whatsapp roaming dari Bang Gigit mengabarkan si Bobot, anjing menyebalkan yang selalu membuat gue merasa dibutuhkan dengan goyang-goyang ekor tiap gue pulang, ditemukan meninggal di kebun belakang.  

Sebelum gue berangkat ke Tokyo, memang Bobot mengurus. Sudah gak mau makan. Nafasnya terengah-engah.  Mak Gondut sudah mewanti-wanti agar parit kebun belakang ditutup. Anjing  kalau mau mati biasanya  kabur dari rumah.  Bobot jangan dikasih keluar-keluar. Nanti sore mau dibawa ke dokter.

Dan siang itu Bobot diam-diam pergi ke kebun belakang dan gek pernah kembali. Ditemukan sudah kaku.

Gue terdiam di peron, air mata mengalir tanpa suara, cuma menatap kosong, gak ikut rombongan yang terburu-buru keluar stasiun. 

“Yuk makan dessert yuk,” kata Lucky sambil menggiring ke toko kue serba green tea. 

Sejenak lupa Bobot.

Gue melanjutkan hidup berharap Bobot sudah bahagia di sana. Tapi tiba-tiba air mata netes sedikit saat wawancara radio, dan sedikit saat nonton film di sebelah bapak-bapak berkaki bau. Teringat nanti gue pulang gak ada lagi yang goyang-goyang ekor menyambut. 

Melewati stasiun Shibuya, Lucky sudah wanti-wanti jangan sampai gue dekat-dekat patung Hachiko. Tapi gue melipir dan berdoa sebentar.

Bobot tidak dibuatkan patung seperti Hachiko, padahal Bobot  lebih cantik. Bobot dikuburkan di depan jendela kamar Mak Gondut, hanya beda semeter dari tempat dia biasa bobo menemani Mak Gondut. Nanti kalau gue pulang, hanya ada bunga-bunga palsu pindahan dari ruang tamu yang sekarang menandai di mana Bobot bersemanyam.

Gue memandangi foto jenazah Bobot di FB Mak Gondut. Diselimuti kain putih, Bobot terlihat seperti bobo.

“Mukanya sih damai,” whatsapp-nya berusaha menghibur gue.

“Eh nggak ding. Mukanya nyolot.” 

Gue melihat lagi foto Bobot. 

Iya mukanya masih nyolot. Kupingnya berdiri galak. Siaga bacok kalau ekornya disenggol.

Gue tertawa. Iya ya gue gak perlu khawatir dengan Bobot. Preman aja serem ama doi, apalagi hantu dan malaikat maut. Bobot akan baik-baik saja di mana pun dia berada. Dia akan  bacok  siapa saja yang nyenggol ekornya di surga sana.

“Bobot mana masuk surga! Hanya manusia yang dipenuhi kasih Kristus yang masuk surga,” sambar Mak Gondut di satatus FB-nya.

Gue tidak membalas. Tidak membahas.

Di mana pun Bobot berada, semoga dia tahu dia disayang.

“Death really changes the way you see life,” kata Lucky mengenang sewaktu bapaknya meninggal. Dia jadi lebih tidak peduli the nonsense of life. 

Yang penting jambul harus hits. Potong rambut di mana ya?

Menyadari ternyata hidup bisa berakhir, semua keriaan Tokyo menjadi seperti tidak penting.

Gue melihat foto Papi dan Mami.  

Semoga Papi Mami tahu mereka disayang.

“Yuk biin pilim.”


Kartu Nama

“And the best film goes to… Heaven Knows What,” kata James Gunn bersemangat dari atas panggung Tokyo IFF yang kaku dan gak matching dengan aura James Gunn yang sangat hidup. 

Mas-mas Amerika sayang pacar yang pembicaraannya gue kupingin beberapa breakfast yang lalu ternyata sutradaranya. Selain Best Film, dia juga menang Best Director. 

“Bukan pacarnya bok! Istri. Itu udah pake cincin,” sambut Lucky saat gue ceritakan betapa manisnya si Best Director menelepon pacarnya.

“Abis pas nelepon, matanya berbinar-binar banget,” jawab gue yang belum nonton Gone Girl tapi sudah setuju dengan betapa membosankannya perkawinan.

“Ihhh emang kalau ama istri gak bisa berbinar-binar ya?” kata Lucky yang juga sebenanrnya malas kawin tapi gak rela kalau gue benar.

Gue gak menjawab karena terlanjur digiring Attendant tak berbahasa Inggris yang semalaman menjaga kami agar tak kabur. Dia menunjuk-nunjuk luar sambil ngomong something yang sepertinya Bahasa Inggris agar gue melanjutkan langkah ke lantai 49 Roppongi Hills. Semua filmmkaer, distributor, dan programmer sudah dikumpulkan di sana. Waktunya berburu.

Lucky mengarahkan gue menuju ke seorang sutradara Singapur dan distributornya yang kalik aja mau mendistribusikan film kita juga. Mumpung kita jadi closing film di Singapur, kalik aja mereka tertarik.

Belum ditawarin, mukanya udah pada judes. jadi gue batal menawarkan.

Lucky menyuruh gue untuk mingle-mingle. Gue bingung dan akhirnya malah mendekati Sharifa Amani dan tertawa-tawa membayangkan pemutaran ‘Muallaf’ back to back dengan ‘Sayang Can’t Dance’, dua film  yang dibintanginya. Yang satu menang di Tokyo, yang satu malu dia bahas. 

Semakinlah gue bahas.

Lucky balik dengan 2 kartu nama dari Japan Foundation. 

“Nih gue aja udah dapet kartu nama. Kok lo ngobrolnya ama Sharifa Amani muluk?” 

“Eh kalau yang kartu nama ini sih gue udah dapat kalik. Dah pernah ngobrol,” kata gue membela diri. Lagipula ternyata dekat-dekat Sharifa Amani malah sangat strategis,  karena semua lini perfilman kenal dia. Gak usah mingle-mingle, orang yang akan datangin dia dan gue tinggal ikutan nebeng dikenalin. 

“Kayanya next time emang mending artisnya dibawa deh. Enak banget kalau artisnya festival darling kaya dia,” kata gue.

“Well… harusnya kitanya sih yang jadi festival darling,” kata Lucky.

Tapi darlingnya malam ini si mas-mas breakfast. Filmmaker tanpa award terpaksa mengais-ngais kartu nama. Capek, mending ke tempat ruang merokok padahal gue gak ngerokok. Dan tentunya ketemu Malaysia-Malaysia lagi. Tertawa-tertawa, memang paling enaklah ngobrol sesama manusia pulau.

“Where is your executive producer?” tanya gue pada si produser Malaysia.

“Lagi meeting,” jawabnya.

“Tuh produser tuh kaya gitu. Meeting meeting,”  kata Lucky.

Gue mau protes bilang kan doi pejabat Astro. Dan dia udah memproduseri banyak film. Dan produser-produser first time ya  nasibnya masih nongkrong di Smoking Room. Tapi ya sudahlah. Mungkin gue memang bukan produser.

Langsung curhat-curhatan ama produser Malaysia, sesama produser first time.

“You have a screener? I can give it to my executive producer nanti kalau dia dah selesai meeting,” katanya.

Gue memberikan screener dengan bahagia. Sejujurnya, ini screener pertama yang gue beri dan gue rasa akan ada kelanjutannya. Dan semuanya dimulai dengan tertawa-tawa tanpa tukaran kartu nama.

“We should make something together,” katanya sambil membayangkan artis-artisnya disatukan dengan Adinia Wirasti dan si Lesung Pipit Filipina.

Gue setuju dan berjanji akan datang ke premiere dia tanggal 9 Desember nanti di Damansara.

Semoga film kita bisa beredar di Malaysia. Kalaupun tidak, setidaknya 9 Desember nanti akan kita akan menonton hasil karya sahabat-sahabat kita.

Fuck kartu nama.



  

Rabu, 29 Oktober 2014

Nasehat Lipstik Ungu

Dari dalam hangatnya Roppongi Hills Theater, gue melihat mbak-mbak berlipstick ungu meladeni oma-oma Jepang foto bersama di tengah angin musim hampir winter Tokyo yang semakin malam semakin berangin, semakin menghantarkan pantat gue ke dalam Roppongi Theater.

She looks like Yasmin Ahmad's girl.

Wait.

She is Yasmin Ahmad's girl.

Pantat gue kembali mengarungi angin, bergabung dengan oma-oma Jepang minta poto bersama Sharifah Amani. Monik gue seret untuk ikut motoin dengan kamera Olympus barunya, jangan pake kamera Fuji berbatere AA gue.

"Amani," katanya sambil menjulurkan tangannya.

"We met in Jiffest."

"Oh no. It was so long ago... when was it?"

"It was right after she was dead, there was a retrospective on her," jawab gue.

Dia terlihat sedikit menerawang, mungkin teringat almarhumah Yasmin Ahmad.

Hanya sedetik. The next second dia udah kembali pecicilan di depan lensa kamera Monik.

Gue memeriksa hasil fotonya, OMG. Gue terlihat raksasa kali di samping doi. Jadilah itu foto batal jadi profile picture facebook.

"Titip ini tas ye," katanya sambil dipanggil produsernya untuk another foto bareng.

"Sure," jawab gue senang.

"But this is not Malaysia, what? No need lah. No copet here. Aman," katanya jahil.

Gue kembali ke dalam karena Q&A In The Absence Of The Sun hampir dimulai. Meninggalkan Sharifa Amani dan onggokan tas yang diyakini bebas copet Tokyo.

Sempat menyesal kenapa tidak minta nomor contact doi. Harap-harap dia nonton In The Absence Of The Sun.

Nggak.

Ah kalau memang takdir pasti besok ketemu lagi.

Besoknya ketemu lagi di party gathering distributor yang sepertinya langka distributor. Kanan kiri mata memandang hanya ada filmmaker, filmmaker, dan ... alhamdulilah Sharifa Amani.

"The last time I heard you were thinking about directing, right? How is it?"

"I did some short films. One of them was screened here... and in Kyoto, actually," katanya.

Dilanjutkan dengan cerita film terakhir Yasmin Ahmad yang seharusnya di-shoot di Tokyo, dan tampaknya enggan dia ceritakan lebih lanjut.

"You know how it is when you have something precious and everyone wants to have it," katanya mengakhiri cerita yang tidak ingin diceritakan.

"What about your own feature film?"

"I try to take it slow... you know being anak emas Yasmin Ahmad, it certainly has a pressure on it," katanya.

"Well, it doesn't have to be good, right? Just do it," kata gue yang belum pernah merasakan beratnya jadi anak emas Yasmin Ahmad. Gue menyesal memakai tagline Nike sembarangan.

"Well I do short films first lah. Like the first script I wrote, I gave it to Yasmin AD which became my DoP. He was like saying... why was the script so sad? Did Yasmin ever teach you to be this sad?"

Actually, Yasmin never told them anything. She never told anyone to do anything.

But she always wanted her film to have Hope, because it is the only presents she could give to her audience.

Karenanya, Amani menulis ulang scriptnya, berharap ada harapan yang bisa dia berikan pada penonton di sana.

Hope.

Bagi filmmaker yang bikin film dengan tagline 'There's No Place For Us Here', Hope terdengar seperti kemewahan.

"Are you doing anything tonight? Let's go dancing-dancing," kata Amani sambil joget-joget di tengah jalan depan Bar.

Mumpung di Tokyo. Gak ada paparazzi.

"Indonesia are so much better. Di Malaysia, kalau nak dancing-dancing or to smoke in public, it will make it to the front cover," katanya sebal. "But I don't care. I just smoke."

"Well... come to Indonesia then. You can smoke and dance and become the minister," jawab gue merayu doi ke Indonesia.

Muke Lucky sudah siap pulang, malas ikut dancing-dancing. Gue pun akhirnya pulang, bukan karena males ikut dancing-dancing. Tapi karena pengen beli i Phone. Harus hemat.

Lupa lagi minta contact doi.

Damn.

"I just take it slow. Kalau Allah dah mau, semue pasti jadi," kata Sharifah Amani tadi.

Ah kalau memang takdir pasti besok ketemu lagi.

Senin, 27 Oktober 2014

Lost In Calculation

“It was so great. They put the subtitle on the side… yeah… like, vertically. Watching it like that is such a wonderful experience… and the graphic was beautiful…” katanya di antara buah dan teh breakfast paket dari Hotel Okura.

Gue mau tak mau menguping bersama oatmeal, croisant coklat 3 biji, omelette, dan kiwi-kiwi yang mungkin nantinya akan dimakan. Kalau croisant belum mengenyangkan, tentunya.

Teringat pertama kalinya gue melihat Demi Ucok degan subtitle Korea di samping kanan. Langsung gue foto dan whatsapp ke Bang Gigit dan Mama Singa. Scene Bang Gigit dan Mama Singa kawinan denan subtitle Korea langsung dijadiin profile picture sama Bang Gigit. Biar teman-temannya mengira dia jadi bintang pilim Korea.

“And we were also watching The City Lights in the Kabuki Theatre… yes, Chaplin… it was also beautiful,” sambung si sutradara muda dengan mata indah walau sepatu nike-nya tasteless. Teringat 3 menit lagi buffet sarapan pagi akan ditutup, dia berdiri sambil terus menceritakan harinya kepada si pacar nun jauh di salah satu kota di Amerika dengan semangat.

Mungkin dia baru pertama kali ke Tokyo.

Gue juga. Tapi mata gue gak sebersinar dia.

Mungkin dia  punya orang buat ditelepon dan diceritakan.

So I write instead. This is the closest I can get.

Jadi begini ceritanya.

Tadi malam gue pulang ke hotel higienis ini dipenuhi bau rokok dan sake setelah semalaman mencoba mingle-mingle dengan para hadirin Tokyo International Film Festival. Kirain yang diundang minum-minum Maggie hanya gue dan Lucky  doang. Ternyata kita gak that special. Masih ada 4 meja lainnya. Untungnya semua international press, habitat ideal untuk berburu interview.

Gue duduk di ujung dekat tembok, tempat yang sangat tidak strategis untuk berburu wartawan. Pilihan gue hanya ngomong sama tembok atau sama gerombolan filmmaker Filipina yang baru saja premiere film baru mereka.  Bapak si lead actor memperlihatkan video anaknya di atas panggung dengan mbak-mbak Manila berteriak histeris mengharapkan sambutan tangannya.

Ternyata si Lesung pipit manis yang belum cukup umur untuk minum bir ini sejenis Afghan versi Manilla.

Dan lawan mainnya, sejenis Mick Jagger versi Manilla - in his own words describing himself. 

Untung ada Lucky, jadi gue tidak harus ngobrol dengan tembok. Tapi ngapain jauh-jauh ke Jepang hanya untuk ngobrol ama Lucky. Mangsa kami ada di sana,  para wartawan Variety dan Hollywood Reporter.

“Biar filmnya ditulis boooo. This is work,” kata Lucky ketika gue enggan bergerak.

“Oh harus gitu ya?” tanya gue polos. Disambut tatapan ‘ya eyalaaaa’ versi Lucky yang akhirnya mengantarkan gue mengarungi meja seberang. Gagal.

“Cape juga ya mingle-mingle gini. Orang2nya itu-itu aja,” kata lucky.

Ternyata waktu zaman Lucky masih bikin film pendek dan masuk Cannes, Maggie masih di Holywood reporter. Trus pindah Variety. Trus sekarag programmer Tokyo International Film Festival. 

“Filmmakernya aja yang baru-baru,” tambahnya.

Misalnya gue. Saat film pendek Lucky masuk Cannes, gue masih bingung resign atau nggak dari arstektur. 

“Tapi Teteh tuh paling gak pernah deh ikut gini-ginian,” katanya lagi mencari pembenaran gak usah mingle-mingle lagi.

Mungkin dia sudah melewati apa yang kita jalani sekarang. Mingle-mingle sampai bosan demi sebuah review di Variety. Sekarang film dia hanya diputar di film-film festival temannya. Dia gak peduli soal Cannes, kompetisi, atau review Variety. 

Mungkin akan ada saatnya gue juga begitu.  

Lebih baik gue mengamati sekitar gue. Ini kan pertama kalinya gue ke Tokyo. Tapi sudah berasa kenal. Mungkin karena budaya Jepang, NHK, Manga, dan Toyota sudah merajai Jakarta. 

“The road in Japan are so bad,” teringat kata Host Mom gue di tengah salju midwest Amerika. 

Dia belum pernah ke Indonesia.

Jalan dari Narita ke Roppongi yang bertingkat tiga dan melewati lantai 8 bangunan kanan kiri ini jauh dari ‘so bad’. Setiap beberapa kilo ada telepon emergency. Dan semua perubahan jalan diberi tahu dengan signage penunjuk jalan yang bahkan gue yang buta Jepang saja bisa menerka-nerka artinya apa.

“And we should pay to get through???” katanya mengkomplein jalan berbayar di Jepang.

Dia belum pernah ke Indonesia.  

Tapi jalan tol di Indonesia gak ada yang sekali lewat 250 ribu sih. Kaya di sini.

Sebelum pergi Papi memang sudah mewanti-wanti agar tidak belanja apa pun. Di Jepang semua mahal, katanya.

“Ramennya cuma 1000 yen. Sama aja kan kaya di Jakarta,” kata Lucky di Ishiren, yang menurut dia ramen terenak di Tokyo. Gue gak protes karen ramen ini emang enak sekali dibandingkan ramen 50 ribuan di Jakarta. Padahal Ishiren ini sekelas warung tegal di Tokyo.

Walaupun Warung Tegal, ke Ishiren harus melewati tangga perpaduan besi dan kayu jati yang di Jakarta hanya dipakai kafe-kafe hipster  di hotel-hotel boutique Jakarta.

Sebelum masuk kita harus bayar dulu di sebuah vending machine tanpa bahasa Inggris, jadi biar Lucky sajalah yang menentukan.  Begitu masuk harus duduk di meja warteg yang  dikasih pembatas antar tetangga biar gak saling ngobrol. Di depan gue ada sebuah jendela kecil yang menghubungkan gue dan si mas-mas warteg ramen. Begitu ramen diasjikan, tirai ditutup krai bambu, memutuskan gue dari kontak dengan siapa pun. Hanya aku dan ramenku. 

Setelah makan ramen 1000 Yen, gue ikut Lucky makan dessert 1000 yen, minum sake 1000 yen, naik taksi 1000 yen, dan bayar bell boy 1000 yen. Sudah lupa nasehat Papi.

“Di Jepang harusnya gak ada budaya tips,” kata Lucky ketika gue tanya berapa ngasih si bell boy. Tapi karena cakep, bolehlah dikasih 1000.

Total hari ini habis 600 ribu, memang tak jauh beda dengan hidup bersama Lucky di Jakarta.

Tapi kan gue hidupnya sama Sunny Soon.  600 ribu udah bisa seminggu keliling asia tenggara bersama sunny.

Besok harus lebih hemat.

Makan pagi lebih banyak.

Tinggal 1 menit lagi.


Langsung ambil croisant. 

Sabtu, 05 Juli 2014

There
















































Akhirnya "Selamat Pagi, Malam" turun dari bioskop. Tapi perjalanan kita belum selesai. 

If there’s no place for us here, maybe there's a place for us there.

There.


Galeri Kita

Dia punya galeri baru, dikasih nama salah satu teman kita yang mati. Kebanyakan kerja, kata mereka.

Mungkin.

Gue pengen punya galeri kaya dia. 

Do I?

Be careful what you wish.

Punya galeri seperti itu harus dia lewati dengan dibenci banyak orang yang merasa tenaganya dimanfaatkan tanpa dibayar dan diberi credits yang sesuai. 

Dan hari ini dia berkampanye, “Prabowo sudah kaya, nggak mungkin korupsi.”

Wakwaw.

Jangan percaya orang yang dasinya jutaan tapi bayar pegawai kecil.  

Tapi orang seperti gue seringkali silau dengan apa yang di luar. Mahkluk seperti Jokowi mungkin sudah gue lewati kalau pertama kali bertemu.

Padahal kalau gue bisa hidup sederhana, banyak  sekali masalah dunia yang bisa gue minimalisir. 

Kalau gue makan sederhana, gue tidak perlu keluar uang banyak. Tidak perlu asuransi akibat dosa klesterol menahun.

Kalau gue beberes kamar sendiri, gue tidak perlu bayar iuran gym per bulan. Gak perlu nambah pembantu.

Kalau gue menguruskan badan, gue tidak perlu beli baju lagi. Sudah ada satu lemari khusus baju kekecilan yang I wish someday bakal muat siap menyambut tubuh singset ini. Bahkan ada yang belum pernah dipakai sama sekali. Dibeli karena harapan yang tak kunjung kesampaian.

Asal gue bisa hidup sederhana. Tapi kadang diri ini tidak pede berjalan dengan baju yang itu-itu lagi.

Mungkin kita gak butuh galeri. Hanya butuh revolusi diri. 

Enam Rakyat





Mak Gondut meminjam bayi tetangga untuk menambah simpati warga. Diperkirakan dengan image keibuan, warga sekitar akan memilih dia. Manuver terakhir Mak Gondut di hari perhitungan suara yang bebas logo partai.


Ternyata yang milih hanya enam. Dikurangi gue papi dan doi, berarti hanya tiga.

“Gak usah bilang dia,” kata Papi sepulang dari tempat perhitungan suara. Biarkan Mak Gondut bobo setelah berbulan-bulan lelah berkampanye.

“Nanti kita ajak makan es krim aja, biar hepi.”





Downgrade

Hati-hatilah membeli bantal dan guling enak. Sekali beli yang mahal, gak bisa downgrade.

Hati-hatilah membeli kasur enak. Sekali beli yang mahal, gak bisa downgrade.

Seperti juga tas, kata Luckus.

* No comment, gak pernah. Paling mahal 3 juta.

Seperti juga headphone. Sekali rasain yang enak, kuping gak bisa downgrade.

Seperti juga cinta. Sekali rasain yang enak, hati gak bisa downgrade. 


*sigh

Ikut Rhoma Atau Dira

“Ibu Indri mah milihnya Jokowi. Abisnya Prabowo mah Kristen,” kata Indri polos.

Gue tertawa.

All for the wrong reason, tapi I guess senjata makan tuan ya.

Dengan Ibu adik Kristen dan anak gay, gue bingung kenapa banyak partai Islam garis keras berdiri di belakang Prabowo.  

“Sebenernya Ibu Indri tuh ngefans pisan sama Rhoma Irama. Pas tahu Rhoma Irama dukung Prabowo ya si Ibu teh galau. Akhirnya ya terpaksa pisah dulu sama Bang Haji. Tetap dukung Jokowi.”

“Emang Rhoma Irama sebanyak itu ya yang suka?”

“Si Ibu mah suka pisan.”

Kalau Indri sih sukanya agnes Monica.

“Dira Sugandi juga, Atid,” protes Indri masih sebal karena gue bilang Indri suka Agnes di depan Dira Sugandi.

Oh iya Dira juga.

“Jadi Indri pilih siapa?”

“Jokowi we lah.”

Jumat, 04 Juli 2014

Satu Demi Satu

Ada film-film terpilih hasil bajakan dari Daud, Lucky, dan Teteh di hard disc 1 tera yang belum gue tonton.

Ada buku-buku di 3 jejer rak yang belum gue baca.

Ada 4 film yang harus dibuat sebelum gue pensiun dan leha-leha.

Ada 23 juta yang harus dicari untuk akhir Juli ini.

Semuanya bersatu padu membuat gue tambah bingung apa yang duluan harus diselesaikan.

Sepertinya dulu semuanya gampang.

Well, sebelumnya gak pernah gampang juga sih. Hanya dulu gue berasa gak ada beban.

Sekarang juga gak ada beban. Gue aja yang sok menciptakan beban-beban tak tampak ini. 

PAdahal gak ditonton juga gapapa. Gak dibaca juga gapapa. Gak dibuat juga gapapa.

Tapi gak dibayar, Indri dan Fatwa bisa murka.

Ayo mulai dari sedikit demi sedikit. Jangan donlod film dulu. Jangan beli buku dulu. Jangan nambah project dulu. 


Kerjakan satu-satu.

Curious Atid

“Find the joy that is only in your heart,” kata spanduk  di sekolah minggu itu.

Bah. Bijak kali ini anak-anak.

Sebenarnya anak kecil dari dulu sudah dikasih kunci bahagia ya. Hanya mungkin gue lupa.

Atau mendengarkan tapi gak mudeng.

Atau waktu kecil memang udah tahu, jadi gak perlu dibilangin. Makin gede makin lupa.

Hei atid kecil yang selalu curious dan menjadikan semua ruangan istana petualangannya, where are you?



Korban First Impression

Gue terlalu gampang terpesona dengan first impression.

Dengan mbak-mbak bule yang kayanya kenal semua orang, gue langsung suka. Tanpa detail pekerjaan, akhirnya semua berantakan. Ya mungkin karena di tidak dibayar.

Next project : no such thing as a free lunch. 

Bapak-bapak berkumis di Bogor nyuruh makan protein dan lemak only. Konon membuat artis-artis itu tambah padat. Sebulan dijalani,   badan gue tetap sapi dengan emosi serigala. Padahal udah bayar sejuta setengah. 

Next : nothing instant in this world.

Dia mengenalkan gue dengan media yang konon banyak pembacanya. Dijanjikan dibuatkan acara pas Ulang Tahun Jakarta, semua tanpa hitam di atas putih. Gue sangat berterima kasih padanya. Dan tak mungkin menolak ketika ditawari kerjaan yang gue gak suka.

Next : Generosity is power. If u don’t want anyone to have power over you, better be generous to others.

Konon gak ada yang perlu kita pelajari di dunia ini. Sebenarnya gue udah tahus emua hal di atas, hanya budeg dan bebal karena silau dengan impression dan impression. Padahal kan gue marie France.


Ah, yang itu juga gagal.

Film Bodoh

“Generositiy is power,” kata Frank Underwood, Fadli Zon versi pintar di serial House Of Cards yang oleh David Fincher dibuat jadi protagonis.

Kenapa ya orang-orang di White House ini ngobrolnya asik kayak lagi  ngerumpi tapi berbobot?

Sementara film-film kita selalu terlihat sok berat tapi dengernya mau ketawa? Bahkan diperankan oleh aktor yang pernah belajar teater di kandangnya Shakespeare pun, dialog-dialog di film ini tidak terselamatkan kakunya. 

Apakah karakter-karakter sok serius ini sebenernya tameng para filmmaker yang sebenarnya gak tahu apa-apa soal politik dan mafia Jakarta yang dibicarakannya? 

Ujung-ujungnya karakter film kita semua jadi KW  film Hollywood.

No wonder kita ditinggalkan penonton kita.

Mungkinkah kita gak ditonton bukan karena penonton kita inferior complex? Bukan karena bioskop kita kemahalan. Bukan karena udah banyak hiburan lain di smartphone masing-masing.

Tapi simply karena film kita not that good.

“Ah di Indonesia sih semua masalah marketing. Semua bisa digiring,” katanya yakin.

Somehow gue gak percaya kita sebodoh itu.


Jakarta Rampok

“Jakarta itu mahal”, katanya.

“Emang lo pernah di Jakarta?” tanya gue.

“Kan gue emang rumahnya di Jakarta. Ampe SMA.” 

“Tapi kan SMA lo masih dibayarin orang tua kan???”

“Tetep. Lo naik angkot 2000. Trus sambung metro mini 4000. Itu sekali jalan. Belum minum, kan harus tuh panas. Trus baliknya kalau kemalaman ga ada angkot harus pake ojeg.”

Taksi is not an option. 

Sementara untuk filmmaker yang harus terlihat produser, mau gak mau naik taksi terus. 

Kadang-kadang ojeg, kalau bukan mau ketemu orang dan gak butuh rambut wangi kalau cipika cipiki.

Pernah mencoba naik metro mini, penuh kepanasan. Kosong, tambah kedengeran bunyi kaleng beradu kaleng.  Pulangnya langsung taksi lagi.

Kereta di beberapa jam oke, kalau gak tiba-tiba nabrak truk minyak. Kalau lagi rush hour, siap-siap tidak berprikepindangan.

Bawa mobil di Kalibata City, siap-siap waktu nyari parkir 2 jam setiap malam. Terpaksa parkir di luar, di jalan depan yang kalau malam 4 jalurnya berubah menjadi lahan parkir di bawah asuhan pemuda-pemuda FBR.  Dengan 10 ribu rupiah mobil anda dijamin masih ada hingga pagi. 

Kelengkapan di luar jaminan.

Tapi besoknya jam tujuh setengah lapanan harus udah dipindahin biar yang lain bisa keluar.

Gue jam tujuh setengah lapanan udah standby di mobil siap memindahkan mobil. Mobil-mobil di depan gue masih parkir dengan sesuka hati dan seprtinya tidak ada tanda-tanda akan dipindahkan pemilik. Para pemuda FBR tadi malam yang semalam menagih 10 ribu pun tidak lagi berkeliaran.  Juga tidak ada tanda-tanda petugas menyegel ban, mungkin terlalu banyak ban yang harus disegel.

Gue menyerah dan kembali nanti sajalah. Kapan-kapan. 

Dengan keadaan kaya gini, naik mobil bukan jawaban. Lebih baik ke mana-mana naik taksi.

Ahok bilang sanggup membuat Jakarta bebas macet dalam 2 tahun kalau warganya semua naik transportasi umum.

Godaan mobil murah pun berdatangan, diijinkan Pak SBY, bertentangan dengan kemauan para pengurus Jakarta.


Waktunya pulang ke Bandung. Nanti saja kembali 2 tahun lagi saat Pak Ahok sudah jadi gubernur dan penghuni Jakarta sudah mau naik angkutan umum.

Modifikasi Diri

Gue menggosok-gosok lengan atas gue yang lebih dingin dari bagian tubuh lainnya. Lemak lemak hilir mudik berlawanan arah dengan arah gosokan. 

Bagian terlemah tubuh ini sepertinya tangan. Terbuka sedikit, langsung gue bersin-bersin. Hilanglah sudah harapan memakai baju tanpa lengan kalau tak mau terserang demam. Tapi toh gak akan juga gue pakai begituan, nanti bisa-bisa lemak tangan gue berkibar ditiup angin, walau tak seberkibar dia.

Dia, leher. Jadinya ke mana-mana pakai syal. Jadi lebih fashionable.

Apa mungkin akan ada suatu hari di mana tangan-tangan ini akan firm seperti mereka para wanita-wanita yoga? Dari jauh seperti berotot, tapi ketika dipegang lembut sangat. 

“Dia baru boobs job ya?” tanya seorang teman yang tak tertarik membahas lengan.

Sesama tetek besar, gue membela dalam ketidaktahuan. Mungkin karena dia mengurus. Mungkin nanti kalau gue mengurus juga, tetek gue pasti lebih disangka boobs job.

“Gue sih mau kalau boobs job. Yang gak mau sedot lemak,’” kataya sambil memperagakan dokter mengubek-ngubek lemak perutnya seperti abang-abang soto angkar mengaduk jeroan dengan dayung. 

“Mending gue diet dan olah raga sampai mampus.”

Tapi boobs job tetap mau. Karena olahraga mampus gak bisa bikin tete gede. 

Gue membayangkan maintenance saat suatu masa dulu gue pakai bulu mata palsu. Membawa-bawa ekstra bulu di mata benar-benar menyusahkan dan menyita waktu gue yang harus seminggu sekali ke salon. Aplagi kalau nambah balon-balonan di dada. 

Kalau orang seperti mereka saja tak pede dengan badannya, wajarlah ya kalau gue juga insecure dengan badan gue.

Gue gak punya waktu buat maintenance boobs job. Gue udh banyak kerjaan: nonton DVD seharian.

“Kalau lo boobs job, lo gak akan sempat nonton DVD seharian. Pasti banyak yang ngajak keluar.”


Bah.

Mimpi Frustasi

Tadi malam gue bermimpi.

Shooting diselingi dengan DJ dan party. Si actress yang tadinya heran ada DJ akhirnya setuju karena dia bisa party sementara kita setting.

Gue menguping pembicaraannya dengan lawan mainnya. Dia ingin meneruskan kisah on screen mereka sehari lagi. Lawan mainnya ragu tapi mau. Sayangnya tidak ada adegan ciuman karena gue keburu pergi. 

Gue mencari taksi, mumpung taksi masih ada di Karawang walau dini hari. Supir taksinya menyebalkan, walaupun penumpangnya lebih menyebalkan. 

Entah kenapa gue minta diturunkan. Dia tidak mau kecuali gue membayar 200 ribu, sesuai ongkos yang dijanjikan membawa gue dari Karawang ke Jakarta.

Gue memfoto-foto semua identitasnya yang sudah tergaruk tak terbaca. Penumpang di belakang (Yes, I suddenly share the cab) bilang biarkanlah gue turun dan biar si bapak-bapak sok bijaksana ala Kolonel Sanders versi Jawa ini yang membayar semua ongkosnya, tak perlu dibagi.

Di pinggir jalan, gue bertanya angkotke mana ke pada segerombolan wanita bisu berjilbab. Angkot nomor 18 disusul metro mini jurusan Cibubui, semuanya dituliskan besr-besar dengan darahnya yang putih di dinding berjamur. 

Gue malah sampai ke sebuah padepokan Cina yang tampaknya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.  Gue disuruh ke kamar mandi dulu sebelum giliran diperiksa.

Kamar mandinya mewah, tapi ketika bilik-bilik itu dibuka, klosetnya  old school dengan kerak-keak jarang dibersihkan dan air stand by kekuningan. Setidaknya tidak ada tahi mengapung.

Gue sedang boker, seorang tentara seenaknya masuk dan memandangi gue tanpa nafsu.  Gue bilang kamar mandi cowo dii bilik sebelah. Dia celingak celinguk enggan pergi. Tidak ada nafsu, hanya angkuh. Terpaksa gue cebok di depan dia.

Keluar kamar mandi, gue melihat sudah ada goodie bags ulang tahun. Satu pasien sebelum gue keluar membawa kue ulang tahun dengan icing  mawar coklat. Kue satunya mawar pink. 

Gue tidak jadi diperiksa dan kembali ke kantor Kepompong Gendut. Entah bagaimana caranya. Seorang teman telah menunggu sambil  menangis.

Gue berikan laptop gue untuk menghibur. Gue keluar sebentar, mencari segelas air untuk dia. 

Begitu kembali dia langsung bertanya dengan kaget, masih di sela-sela tangisnya.

“Do you have sex with her?”

Moral of the story: Jangan lagi meminjamkan laptop ke orang. walau hanya dalam mimpi.

Asuransi

Tiga bulan yang lalu Fatwa berhenti asuransi. Rencananya mau ikut BPJS, 60 ribu saja sebulan. Asuransi 100 ribuan.

Tiga hari yang lalu dia gak bisa bangkit dari tempat tidur, kesakitan. Ternyata ada janin di luar kandungan. Operasinya 14 juta.

“Lain kali kalau mau pindah asuransi make sure harus udah masuk asuransi satunya,” sabda Fatwa sambil mengelus-elus baret 14 jutanya.

“Jangan pernah berhenti asuransi.  Gue udah lihat betapa waktu itu klien gue lebih bahagia lihat muka gue datang daripada orang tuanya datang,” kata mantan agen asuransi.

Sementara Paulo Coelho  gak mau punya asuransi karena membatasi keajaiban hidup. Dan Sammaria yang konon gampang banget terpengaruh sama orang yang dia sudah suka, langsung bertahan gak mau punya asuransi.  

“Tapi perusahaan lo punya BPJS kan? Wajib lho,” kata Sally mewanti-wanti.

Gue memandangi wajah Fatwa dan Indri yang sepertinya gak pernah baca Paulo Coelho. Tapi bisa sewaktu-waktu butuh operasi 14 juta.


Yuk antri BPJS.

Cuma Sampai 9 Juli

Dulu kita harus hati-hati. Banyak politikus yang menunggangi untuk mendompleng image.

Kini, Jokowi dan Prabowo yang harus hati-hati. Banyak banci eksis yang menunggangi mereka biar view you tube-nya nambah.

Salah satu cara untuk eksis saat ini adalah bikin video kampanye Jokowi.

Salah satu cara untuk kaya saat ini adalah bikin video kampanye Prabowo.

Nama-nama antah berantah jadi ramai-ramai mendukung Jokowi. Sampai kerjaannya sendiri dilalaikan. Alasannya Jokowi kalau sampai kalah, kita bisa sengsara.

Sumbangsih tebaik untuk bangsa ini  adalah dengan mengerjakan bagian kita sebaik-baiknya. Jokowi dan Prabowo udah banyak yang bantuin, termasuk para pemilik kapling tambang dan properti negeri ini. 

Tapi ada juga yang dengan mengagumkan bisa menyisihkan waktu di tengah-tengah kesibukan mereka tanpa melalaikan kewajibannya.  

Semua orang berhak terlibat dalam pesta demokrasi ini. Toh hanya sampai 9 Juli. Tidak apa-apalah.

*kembali kerja


Bersatu Kita Teguh, Berdua Kita Teguh

























“Males banget deh. Makin kenal makin tak sayang,” katanya di whatsapp group sambil memposting gambar yang menyudutkan Jokowi.

Gue sudah siap memborbardir dia dengan tuduhan bermacam-macam. Gimana mau kenal kalau riset lo sebatas gambar-gambar fitnah?

Black campaign akhir-akhir ini semakin membuat muak.  Dua kubu saling menghina. Yang satu bikin film pendek dengan slogan fun campaign yang sama sekali gak lucu. Yang satu bikin epic battle gak lucu. Mau dukung Jokowi sekalipun, kalau bawaannya udah ngehina-hina sotoy, gue gak ketawa.

Memang Jokowi harus kita dukung karena mencerminkan harapan. Tapi gak usah menghina yang kaum seberang. Di belakang Jokowi pun banyak manusia-manusia menjijikkan. Semuanya sama saja boroknya, hanya yang satu masih ada harapan. Tapi harapan bisa jadi bumerang, melihat  Jokowi  bisa jadi mengulang cerita melempemnya SBY yang dulu kita harapkan. 

Kalau nomor 1 menang, ya gue amini juga. Maybe WE deserve-nya emang dipimpin yang kayak Prabowo.

“Wah Atid bener banget, siapapun pilihannya yang penting kita sebagai bangsa Indonesia tetap bersatu ya gak?” whatsapp teman lain yang dicurigai pendukung 1 tapi gak mau ngaku.

“Ya nggaklah. Kalau Prabowo menang gue langsung cabut dari negara ini. Hidup ini singkat, ngapain dihabisin berkarya di negeri yang menterinya Tifatul? There’s no place for us here,” jawab gue sambil tetap promo film Selamat Pagi, Malam.

“Udah pada nonton belum tuh?” Kata si makin kenal makin tak sayang mempromosikan film gue. Sepertinya cuma dia yang sudah nonton di whatsapp group yang lebih tertarik meributkan calon presiden ini.

Dilanjutkan dengan dia curhat betapa tiga tahun belum pernah diperbolehkan cuti.  Di kantornya dia sudah apatis,  tidak berguna proaktif. Mending nunggu dikasih THR baru resign.  Dia pengennya tidur-tidur meluk anaknya. Tapi uang tetap dibutuhkan.

Tak ada yang peduli dengan dia.

Gue jadi malu sendiri sudah menghamikimi membayangkan sulitnya hidupnya. Di negara yang masyarakatnya sudah jenuh dan resah ini, mungkin memang riset politik adalah prioritas nomor ke sekian. Lebih baik waktunya dipakai meluk-meluk anak sehabis kerja seharian.

Mungkin kalau gue jadi dia, gue pun demikian.

Kita hanya sesama warga yang butuh berjuang. Siapapun pemimpinnya, tetap 5 tahun ke depan akan susah. 


Lebih baik tidak saling memusuhi. Kita saling membutuhkan.

Albert dan Lez

Konon ada dua mahkluk yang menghuni diri kita. Si rasional bernama Albert yang menuntun kita ke jalan yang benar, dan  si reptil pemalas Lez yang selalu mengajak kita tidur dan bermain. Kalau kita dengerin Lez terus, kita akan menjadi manusia yang  tidak bertanggung jawab. Karenanya, Albert kita harus dilatih agar bisa menguasai Lez.

Begitulah teori sebuah artikel whatever yang baru setengah baca gue sudah open new window.

Sebagai insinyur yang terlalu banyak dididik di ITB, gue percaya Lez lah yang menuntun Albert ke personal legend-nya menjadi scientist. Kalau nggak, Albert pasti akan lebih memilih jadi engineer yang lebih pasti banyak duit.  Joy has been my guide since the beginning of my happiness, ketika gue resign dan mengikuti jalan hidup sebagai storyteller.

Teringat cerita Sally tentang Yori Sebastian. Setiap ditawari pekerjaan, dia selalu menutup mata  dan membayangkan apakah pekerjaan ini akan membuat dia bahagia. 

Kalau iya, baru liat duitnya.

Kalau duitnya cukup,walau tak banyak,  pasti dia kerjakan dengan bahagia.

Tapi akhir-akhir ini gue mulai lupa apa yang membuat gue bahagia. Terlalu banyak terjebak dengan image dan katanya katanya dan ketakutan gak punya uang yang akhirnya membuat gue lupa tutup mata dan membayangkan apakah ini akan membuat gue bahagia.

*tutup mata


Ayo Lez, kita panggil uang.

Nabi Nuh Menari

“Nabi Nuh dan tiga anaknya dan tiga menantunya…”

Sebuah kaset bernyanyi rebek, dan boneka-boneka yang digerakkan orang dari balik kotak di bawahnya bergerak-gerak seakan merekalah keluarga Nuh yang naik perahu di tengah banjir sambil bernyanyi  tentang kisah  mereka sendiri.  

Di belakang keluarga Nuh, ada singa harimau gajah dan Finding Nemo ikut menari. 

Gue mendengarkan kisah banjir yang sudah gue dengar sejak kecil. Tapi kali ini tidak terdengar lagi kisah betapa besarnya iman Nuh seperti yang sudah mereka doktrinkan.

Ternyata kisah Alkitab pasca membaca Sejarah Alkitab, Sejarah Tuhan, dan Utusan Damai di Kemelut Perang  sangat berbeda. Gue tidak lagi melihat Nuh sebagai karakter yang beriman dan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan. Nuh telah berubah menjadi alegori yang tidak bisa gue percaya bulat-bulat.

Tapi di negara di mana Noah dilarang tayang karena dianggap menggambarkan nabi, teater boneka dengan Nuh berkaca mata dan Finding Nemo ini mungkin sudah dianggap progresif. 


Jadi pengen nonton Noah. 

Jerawat Jijik

Jerawat jijik muncul di hidung kanan, apa artinya?

Katanya ada yang rindu.

Rindu palamu.

Gue jorok dan tak merawat diri. Tidur tanpa cuci cuci di atas seprai yang sudah menumpuk debu dua bulan tak diganti.

Juga karena detoks yang tak jadi-jadi padahal sudah beli kelapa ijo di kosambi.

Akhirnya jerawat jijik ini bersarang di hidung, membuat gue malas keluar-keluar. Padahal hari ini harus merekam gambar Mak Gondut mau pentas wayang.

Gue pandangi foto gue di kaiwinan Jihan tahun lalu. Not bad.  Really good compared to now.

Atau emang dasar gue  fotogenic? 

Ya udahlah kalau gitu gue di rumah aja seumur hidup. Fotonya aja yang beredar.

Tenang. Semua orang sudah sibuk kok dengan jerawat masing-masing. Gak akan ada yang merhatiin jerawat lo.

*kembali bobo tanpa cuci cuci

Eh tapi kan kalau gak ada jerawat nih muka nggak sakit-sakit. Udahlah berhenti pemalas dan bergerak sikit. Enak kok cuci muka.

Akhirnya mandi.


Byur.