Rabu, 09 Desember 2015

Underdogs

"Siapa yang mau jadi mentor mereka?"

Tidak ada yang maju. Mungkin karena mereka terlihat gak seru dibandingkan kelompok lain. Solidaritas sesama underdogs, gue akhirnya maju.

Mereka beneran underdogs. Gak pede ngomong. Gak pede nunjuk tangan di kelas. Gak pede nunjukin film.

Padahal ceritanya bagus. Tentang orang buta pengen jadi kameramen, orang tuli pengen jadi artis, dan orang bisu pengen jadi sutradara.

"Sounds like our industry," kata Lucky.

But they do not have his perspective.  Such a great story di tangan mereka jadi another komedi gak lucu.

"Lo jangan ngaceng dulu deh denger premis bagus. Anak-anaknya belum mampu. Mending ceritanya lo arahin jadi komedi romantis aja."

Tentunya gue tetap ngotot. Gue masih yakin cerita is everything.

Menjelang deadline, barulah gue nurut. Semua scene mereka gue apus, nyisa satu. Isinya tinggal cewe buta mau nyebrang, trus ada cowo bisu dan cowo tuli rebutan mau nyebrangin.
 
"Script tuh harus sederhana. Pengadeganannya yang kompleks. Jangan sebaliknya," omel gue sambil menertawakan film pendek mereka sebelumnya.

Tapi ternyata cerita bukan everything. Saat shooting, mereka tetap harus disuruh-suruh.  Jadilah muka gue singa terus sepanjang shooting.

Dan muka singa itulah yang mereka edit dan frame sebagai kenang-kenangan buat gue.

Muka gue berubah bahagia. Ternyata anak-anak ini manis-manis.

"Kak, mending cerita orang buta bikin film itu kakak aja yang bikin. Pasti jadinya bagus," kata mereka.

Bagian 'pasti jadinya bagus' gue tambah-tambahin.

"Tapi nama kita masukin ya kak."

Bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar