Senin, 14 Desember 2015

Akhir Jurus Dimsum

 Di awal-awal tiga puluhan, tiap ulang tahun Bang Gigit selalu ditodong mentraktir Chica dan rombongannya (a.ka. gue, tapi anggap aja rombongan karena makannya tak cukup seporsi). Karena rombongan maunya nyoba restoran-restoran termahal Jakarta, seringkali ternyata kemahalan. Tapi Bang Gigit selalu punya jurus untuk  pindah resto tanpa malu ketahuan gak punya uang.

"Ada dim sum gak?" tanya Bang Gigit padahal udah baca di menu gak ada. 

"Gak ada, Pak," jawab pelayan bingung.

Keluarlah kami dari lantai entah berapa di tower tertinggi Jakarta saat itu. 

Tahun ini Bang Gigit tiga lima. Masih tetap bankir tak berbudaya tapi dengan  annual fee ratusan juta.

"Ada dim sum nggak?" tanya Bang Gigit padahal jelas-jelas restorannya bernama Dim Sum Something.

"Ada," jawab si pelayan keheranan, terjebak di antara kekehan lawakan intern.

"Pesan ini, ini, ini, dan ini..." kata Bang Gigit penuh percaya diri, masih diiringi kekehan bangga rombongan pemakan dim sum fiktif.

Akhirnya hari itu kami makan dimsum sampai kekenyangan.

Enak kali.

Dan jurus dimsum pun diturunkan ke gua.

Tiga tahun lagi, gue tiga lima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar