Senin, 07 Desember 2015

Tapi Tapi Tapi

Nonton Orange Is The New Black, gue beryukur kemaren gue gak jadi bikin  sinetron di sebuah TV lokal yang bahkan gue sendiri aja malas nonton. Sejak Sex And The City, baru kali ini gue menemukan ensemble cast cewe-cewe semenarik mereka.  Look-nya biasa,  tapi bisa bikin lesbi psycho, transgender, pembunuh, atau pengedar berasa manusia biasa.

Yang menciptakan Orange lahir dan dibesarkan di antara penulis  dan musisi. Di Hollywood. Abangnya aja penulis Will and Grace.  Dia juga sempet bantuin nulis bentar, walau dia ngerasa terlalu dark untuk  sitcom di zaman itu.

Ketika akhirnya doi mewujudkan sitcom dark pertamanya,  tentang emak-emak suburb jualan ganja,  Jenji udah tahu kalau mau bikin karakter-karakter yang dianggap gak menjual gak cukup hanya bermodal ide.  Dia juga harus juga memahami tindak-tanduk Hollywood.

Kalau dia pitch cerita tentang the amazing women in a prison, gak bakal ada yang mau bayarin. Makanya dia pitchnya tentang  a cute white girl in a prison, a fish out of water.  Setelah dapet duit, barulah dikeluarkannya cewe-cewe hits yang dianggap kurang menjual oleh nalar produser kebanyakan tapi ternyata fakta berkata beda.  

Tapi tapi tapi... untuk ngerti tindak-tanduk Hollywood ya harus tumbuh di Hollywood.  Dan gue hanya seekor babi air nun jauh di negara dunia ke tiga.

Tapi kan Mira Nair bisa! Dia juga dari dunia ke tiga, eh berjaya di Amerika. Selama gue punya original voice kaya dia, pasti filmnya akan berasa.

Tapi tapi tapi... doi kan kaya dan terpelajar. Kuliahnya aja Harvard. Pas bikin Monsoon Wedding,  dia udah bikin banyak dokumenter  pintar.

Sementara gue sepanjang hidup nontonnya Hollywood. Sering lebih milih Facebook-an daripada berita.   Gak punya wawasan soal the important things in the world.

Tapi Yasmin Ahmad bisa! Filmnya kan gak pernah ngomongin yang gede-gede, selalu tentang cinta dan keluarga. Asal dibuat  tanpa judgement,  tetap bisa berasa.
 
Tapi tapi tapi... emak bapaknya kan menerima dia tanpa penghakiman. Gak peduli dia kelaminnya apa. Atau jatuh cinta ama siapa.

Sementara gue gak pernah fully diterima.  Bagaimana mungkin orang macam gue bisa bercerita tanpa menghakimi?

Lalu kudengarlah cerita hidup Bang Joko.


Dan selesailah semua tapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar