Senin, 07 Desember 2015

No Country For Congki

"Tapi dia nggak gay, kan?" tanya client.

Mereka baru saja menonton sebuah webseries di mana pemeran utama brand  mereka ciuman 3 menit sama sesama cowo.

Tadinya gue mau jawab iya, ditambah gue juga lesbi. Tapi akhirnya gue menjawab.

"Gak tahu."

Disambung dengan argumen kalau semua aktor hebat Hollywood pasti pernah memerankan karakter gay. Client sedikit lega dan memutuskan meneruskan project.

Teringat dulu seorang teman sebal sama si aktor karena in this day and age, kok bisa-bisanya masih ada yang nggak ngaku cong.  Hari ini gue lebih mengerti kok bisa.

Setelah si aktor bersusah payah shooting sampai jam 6 pagi, tetap fit di saat ayam-ayam aja udah malas berkokok, ternyata dia sukanya kontol atau memek masih jadi masalah buat client.

Bukan kualitas aktingnya.  Bukan semangat kerjanya.

Gue celinguk kanan kiri, berusaha mencari bos mereka yang gue yakin juga gay. Tapi kalaupun dia ada di sini, mungkin dia juga gak akan ngomong apa-apa. Takut sama anak buahnya sendiri.

"Dia gay ya? Hiyyyyy...," kata salah satu pembuat musik jijay ketika melihat wajah si aktor di monitor kecilnya.

Kali ini gue lebih ternganga. Si musisi berbagi kantor dengan sutradara gay paling terkenal se-Indonesia.  Tiap hari ketemu, becanda. Kok bisa masih homophobic?

"Ya sama aja kaya kasusnya Cina. Kalau temen lo ada yang Cina, ya lo anggap dia anomali. Tapi Cina lain tetep aja Cina," kata Ucu mencoba menganalisa.

"Harus ada yang jadi martir. Out duluan. Berbaur ama orang biasa. Biar orang-orang terbiasa," kata Ucu memberi solusi.

Barulah the so called 'this day and age' sampai ke Indonesia.


Martir, anyone?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar