Kamis, 31 Maret 2011

Papi Gak Jadi Pulang

Papi pergi ke Medan, berusaha menghubungkan dua teman dalam jual beli tanah 100 hektar. Lumayan dapat komisi satu dua persen. Aktivitas papi di sela-sela nyuci mobil, mandiin Boni Bonyet Mari, dan nganter-nganter Mami.

Hari ini Papi pulang. Opung sudah menanti-nanti anak kesayangannya datang membawa roti kacang merah. Sebenarnya anaknya ada sembilan, tapi cuma si Mondang yang dia cari-cari.

Eh, delapan. Anaknya sudah meninggal satu. Dua tahun yang lalu.

Dan hari ini adiknya yang meninggal. Opung Godang.

Papi gak jadi pulang.

Opung Godang yang mana ya?

Opung Godang itu yang tinggal di Siantar. Yang badannya tidak lebih godang dari Opung. Lebih sehat. Lebih muda.

Kok bisa dia pulang duluan?

Sementara Opung gak pulang-pulang di usianya ke delapan puluh sekian.

Akhirnya Opung memilih hidup di masa lalu. Malam-malam terbangun, panik karena Jepang menyerang. Atau bingung karena belum sempat memeriksa ujian. Belanda datang.

Atau tentang macan jadi-jadian yang akan mengambil batak tercantik di Jakarta, Chica.

???

Karenanya jangan bilang-bilang ke Opung kalau adiknya meningal. Biarlah dia hidup di dunianya sendiri. Di dunia di mana Belanda itu baik dan Jepang itu bodat.

"Mana Bapak kau?" tanya Opung.

Lima menit kemudian: "Mana Bapak kau?"

Tiga menit kemudian: "Mana Bapak kau?"

Daripada diajak ngobrol, mending gue pijitin Opung.

Opung malah mengira gue peduli padanya. Dari puluhan cucu Opung, gue jadi terikut jejeran 3 cucu-cucu baik hati (bersama Chica dan Echa)yang dikasih gelang sama Opung.

Gelangnya enyoi-enyoi, gak indah dipake. Ternyata 24 karat dan seharga 2 ipad.

Apa gue beliin i pad aja ya?

Chica mendengus. Gak rela gue dapet gelang juga.

"Mana Bapak kau?"

Opung sudah menanti anak kesayangannya pulang dan mengunjungi.

"Bilang aja nunggu tanahnya kejual dulu," kata papi.

Dan Opung terus menanti.

Rabu, 30 Maret 2011

Of All

Of all people, satu per satu kontingen perusak foto prewed berguguran. Tinggal gue dan dia.

Of all places, dia milih tempat ketemuan bernama Karnivor.

Karena si herbivor tak ada mangsa, mereka pindah ke Nanny's Pavilion. Tempat pilihan si herbivor dalam setiap perjodohan. Walaupun gak dapet suami, setidaknya dapet Peanut Butter Caramel Pancake gratis.

Tapi hari ini gak gratis. Karnivor sedang pengiritan besar-besaran.

Demi kawin. Demi jalan-jalan ke Australia minggu depan. Demi jalan-jalan ke Flores setelahnya.

Of all topics, dia memilih air.

"Bukannya menurut gue Ahmadiyah gak penting, tapi banyak hal lain yang lebih penting dan real tapi kurang seksi diangkat media. Misalnya pipa-pipa PDAM di Jakarta Utara yang dibocorin ama mafia-mafia air buat dijualin ke rumah-rumah. Pantesan PDAM rugi terus."

Atau tentang petani coklat Indonesia yang nomor tiga di dunia. Biji-biji hitam seharga emas ini sekarang dikuasai Nestle.

Real. Tapi kurang seksi. Pimred gak mau angkat. Kurang sensasional.

Gak kaya agama.

Gak kaya wanita dan kemiskinan.

Gak kaya film gua.

"Gue gak tahu mau jadi apa, tapi gue tahu gue mau ngapain. Kalau misalnya pemerintah berjalan dengan semestinya, kerjaan yang gue pengen itu ya di pemerintahan. Tapi sementara ini gue di UI dulu soalnya mereka ngebolehin gue bikin lab."

Dan cerita-cerita lain yang gue gak ngerti: betapa menyenangkannya mencoba menjernihkan sungai. Dan betapa cantiknya Keira Knightley.

Not my type.

Of all the clothes, dia pake kaos putih.

Monyet.

Selasa, 29 Maret 2011

eh...

"Finish one and you'll finish the rest!" petuah bijak how to write a story.

Heh?!?!

Gue dah menyelesaikan 1 novel dan 1 film panjang, tetep aja yang ke dua butuh perjuangan.

Eh hard disc belum dirapiin.

Eh kamar belum diberesin.

Eh kangen Jodie Foster. Silence of The Lambs boleh juga nih.

Eh Hannibal juga deh.

Eh jadi pengen makan.

Nyummm.

Eh Yazujiro Ozu kan tentang keluarga tuh. Mungkin akan nolong gue nulis script.

Zzzz....

Eh dia lagi ngapain ya?

Eh dia suka gak ya ama gue?

Eh kemaren di Kick Andy gue ngomongnya keren gak ya?

Eh makan lagi ah.

Dan eh eh lain. Tau-tau udah 30 Maret.

Apakah eh eh ini hanya pelarian gue dari keinginan diri menulis script film panjang terbaik di seluruh Indonesia? Narcotization dari usaha membuat sebuah dunia lain yang sebenarnya tak jauh dari dunia gue.

Tapi harus menarik!

Huaaaaaaaaaaaaa....

Baru mengerti kenapa SBY hendak mengirimkan pasukan perdamaian ke Libia sementara negeri sendiri haus perdamaian. Libia seems like an easier, a more manageable case to handle.

Maybe I need to break this script into something more manageable. I cannot manage Indonesia, but I can handle 33 different little Indonesia.

Hari ini gue mau menulis script film panjang, eh... 12 film pendek tanpa eh eh menghantui.

Eh... harus ke rumah buku balikin DVD.

Senin, 28 Maret 2011

Kulit Indah

Udah mulai hilang ya jerawatnya. Cuma tinggal di dagu.

Tuh beda banget ama bulan lalu.

Hmmm, kalau gitu obat minum Doxicor Caps 100 mg dilanjutkan ya 30 hari lagi.

Sekarang kita lanjut ke Acne Foundation 4 aja ya.

Itu buat tabir surya. Kalau bercak hitam diilanginnya pake krim malam. Yang Acne Night Cream 4.

Jadi pagi cuci muka dengan sabun ACS BP.

Dilanjutkan dengan Acne Moisturising Gel 5 dan Acne Foundation 4. Diulangin lagi sore hari.

Obat DP-nya diminum sehari sekali sehabis makan.

Malam cuci muka lagi dengan sabun ACS BP dan dilanjutkan Acne Night Cream 4. Obat Acne Gel 2 - nya masih ada kan?

Biar cepet ilang, pagi-pagi setelah Acne Moisturizing Gel 5, totol Acne Gel 2 juga deh.

Minggu depan kalau jerawatnya udah kering, boleh facial ya. DPCT.

Deep Pore Cleansing Treatment.

Enam ratus tujuh puluh satu ribu rupiah.

Bulan depan datang lagi ya.

Minggu, 27 Maret 2011

Nggak Gereja

"Ke gerejalah kau. Masa gak gereja?" kata Mak Gondut melihat gue minggu siang baru bangun.

Tadinya gue udah mau gereja sore. Gak jadi.

Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya
Bukalah pintunya, lihat di dalamnya
Gereja adalah orangnya

Masa gak gereja?

Hari ini gue memutuskan gak ke gereja dengan resiko dipelototin Mak gondut dan dicap tak beriman.

Gue tinggal di kamar gue to have a solitary intimacy with You dan gitar gue.

Worship is a lifestyle. Not a weekly occasion.

Daripada menyerah kepada kemunafikan.

Worship is a lifestyle. Not a weekly occasion.

Tapi malah mikirin dia.

Do not give dogs what is holy and do not throw pearls before pigs

Tapi kan dia bukan anjing.

Apalagi babi.

Dia manusia berdosa. Sama seperti gua. Hanya lebih keren dikit.

Lest they trample them underfoot and turn to attack you.

Tahu-tahu udah jam 10.

Sabtu, 26 Maret 2011

Malam-Malam Abis Kawinan

Dia pengen jadi sutradara. The female version of Stanley Kubrick. Tapi harus buru-buru pulang ke Jakarta, kasihan anak ditinggal ama neneknya.

Dia pengen punya banyak uang. Developer. Tambang. Duit. Arsitektur ITB ditinggalkan demi Tianshee, BMW, dan kapal pesiar.

Dia financial planner beranak satu. Teknik Sipil cuma masa lalu.

Dia mantan ketua ekskul yang menikahi adik kelasnya. Vietnam dan Arab. Anaknya ntar kaya apa?

Dia nggak mau sekolah arsitektur. Pengen secepat mungkin lulus dari arsitektur. Sekarang S2 arsitektur di Singapur.

Dia wartawan harian berbahasa Inggris setelah 6 tahun sekolah arsitektur. Tapi calon suaminya arsitek kok, jadi ada gunanya sekolah.

Dia pengen kawin. Sambil menanti, ngerjain proyek PU di sarang calon suami, Medan. Di Dubai susah nyarinya.

Dia pengen kawin jugakah? Dia diam saja. Masih bertahan menerapkan ilmunya dengan mendesain sebuah kota dengan pemimpin-pemimpin buta estetika, Bandung.

Dia doktor dari Jepang. 28 tahun. Pulang-pulang, gak jadi kawin. Akhirnya beli Mazda x2.

Dia doktor dari Perancis. 27 tahun. Sejak lulus sarjana, langsung ke Paris. Pulang-pulang, pacar malah sekolah ke Inggris.

Dia... aduh dia apa ya? Kehalangan tiang.

Pekerjaan, pacar, dan anak. Topik besar di setiap malam-malam abis kawinan teman.

"Tapi kalau ada lo, topiknya pasti homo melulu," kata si Vietnam.

Pekerjaan, pacar, anak dan homo. Topik besar di setiap malam-malam abis kawinan teman.

Kawinan teman yang ternyata tidak homo.

Walaupun kamarnya berseprai merah sulur-sulur dan berbantal emas.

Hasil desain sendiri sampai jam 3 pagi tadi malam.

Ternyata dia kawin.

Yakin lo?

Jumat, 25 Maret 2011

Baju Putih

"Tuhan, kalau dia pake baju putih berarti dia jodoh gue. Kalau nggak, let us be friends."

Doa gue di suatu malam, lelah menafsir bisik-bisik semesta, terinspirasi doa sukses jodoh saudara itikku. Hari itu sahabatnya sejak SMA datang berbaju putih, dan mereka hidup happily ever after.

I need some sign.

A visual one.

Tapi sejak hari itu, baju putih seakan tiba-tiba haram di kamus fashionista di sekitar sammaria.

Sampai hari ini.

Oh, no.

Kemeja putih.

Jangan dia.

Dipadu dengan batik pink dalam rangka mendukung stronger middle class hasil pemikiran Liguina Hananto.

Ligwina!

Iye. Iye.

"Adiknya temen gue di Perancis. Gue dikasih bukunya."

Hidup kok berencana? Gue gak akan kekurangan.

"Gue maunya threesome. Tapi dua cewe satu cowo."

Gue maunya satu! Gak mau bagi-bagi. Gak mau ganti-ganti.

"Kalau nulis pake bahasa indonesia, lebih gampang karena dia bisa jadi cewe atau cowo."

Dia cewe, btw.

"Sembilan bulan lagi gue mau ke Inggris. Sebelumnya nikah dulu."

Untung dia gak mau ama gua.

Kayanya gue doanya kaos putih deh. Bukan kemeja putih.

Atau tank top putih.

Bukan kemeja putih.

Kamis, 24 Maret 2011

Negatif.

"Jadi warisan buat elo masih aman," ping ping YM di pagi hari.

Another failed IVF.

Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

Sebelas tahun menikah tanpa pernah sekali pun terlambat haid.

Sekarang dia 37. Kalau masih mau nyoba IVF lagi, 38. Kalau berhasil, melahirkan di umur 39.

Tulang punggungnya kuat gak?

Kalau gagal lagi...

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?"

Jadi warisan buat gue masih aman?

I don't think so.

We still have 53 years to go, babe.

Ayo jalan-jalan ke Serukam.

Rabu, 23 Maret 2011

TV

Ketoprak Tobong sepi. Tidak ada penonton. Lakon Pamit Mati yang mereka lakukan di Kraton Jogja dengan harap-harap Orang Jawa peduli menyelamatkan ketoprak terakhir di Jogjakarta ini ternyata hanya berbuah headline Kompas.

Penonton tetap sepi.

Requiem untuk seni tradisional?

Atau tak mampu berlomba dengan zaman?

"Jangan lupa. Dari ketoprak Tobong inilah lahir cikal bakal para pelawak terkemuka seperti..." Si bapak pemilik ketoprak menyebutkan beberapa nama yang malang melintang di TV.

TV.

Mungkin ini sebabnya Tobong tak lagi dinikmati. Penontonnya nonton TV. Pemainnya masuk TV.

More money. More fame. More people.

Sepertinya gampang jadi bintang. Hanya dalam waktu beberapa bulan berkompetisi, sudah bisa menyandang gelar 'idola baru Indonesia'.

Seperti Ayu, pemenang kontes dangdut instan di televisi.

Beberapa bulan kemudian, sudah ada another 'Idola Baru Indonesia'.

Ke mana Ayu?

Dari sunatan ke kawinan. Dari 10 juta ke 3 juta. Dari 3 juta ke barisan istri ke dua.

Seperti alumni kontes instan lainnya. Akankah Ayu berakhir seperti mereka?

Knock on wood!

Tanpa manajemen. Tanpa strategi. Tanpa gizi. Tanpa pendidikan. Status keburu bintang, rejeki belum juga datang.

Berharap menjadi Inul Daratista. Tak cukup hanya mengetuk kayu.

"Para penonton, jangan marah kalau Ayu mau goyang... rada panas, rada seksi, maafkanlah..."

Tiba-tiba Inul Daratista muncul nimbrung nyanyi di belakang Ayu. Ayu menangis, merasa mimpinya yang tadinya menjauh setelah dicuekin TV yang melahirkannya kembali dekat. Sebentar lagi dikontrak Inul dan jadi penyanyi terkenal.

Habis ini tinggal jadi bintang iklan dan sinetron.

Di akhir acara, semua pengisi acara bergoyang. Ayu, Inul, dan ketoprak tobong.

"Terima kasih untuk Inul, Ayu... dan kawan-kawan," kata pembawa acara.

Dan Kawan-Kawan?

Requiem untuk seni tradisional.

Tak mampu berlomba dengan zaman.

Heil TV.

Selasa, 22 Maret 2011

A Story No Words Can Tell

Wings Of Desire.

Asyikkkk... dapet film Wim Wenders. Tak sabar ingin menonton.

Play Movie, click.

"Als kind kind..." voice over Bruno Ganz.

Back To Menu, click.

Languange Selection, click.

Korea oder Deutsch

Scheisse.

Terpaksa dengan Bahasa Jerman gua yang enam tahun lalu saja cuma apa adanya, gue mencoba memahami sch sch sch dari para malaikat kesepian di Berlin.

"Haben Sie kein Geld?"

Nah kalau ini gue ngerti. Hepeng. Hepeng.

Disambung dengan lengkung tubuh Marion membelah langit.

Terbang.

Melayang di udara.

Gua menahan nafas.

Dahan tak berdaun berlatar langit.

Daun-daun kering.

Malaikat tak bersayap.

Kopi hangat.

Rokok.

The beauty of no words.

"Warum bin ich ich und nichst du?"

Tak sadar dua jam berlalu.

A story no words can tell.

Film. Ternyata tidak butuh bahasa untuk menikmatimu.

Di akhir cerita si malaikat menjadi manusia. Si malaikat tahu sesuatu yang malaikat lain tak tahu.

Dan aku tahu sesuatu yang penulis lain tak tahu.

Senin, 21 Maret 2011

96

Hutang nulis 16 Desember sampai 21 Maret dibayar lunas!

Bukan 100 tulisan ternyata. 96.

Kepala di kaki. Kaki di kepala.

Nulis 96 tulisan 'no lie no defense' bikin semua terbolak balik. Awalnya harus dipaksa, tulisan menjadi kata-kata meracau tanpa kesatuan. Draft ke dua, kata-kata meracau mulai menunjukkan maksudnya. Draft ke tiga, gue lebih mengerti gua.

Kepala di kaki. Kaki di kepala.

Loose yourself.

Be a puppy!

The Honesty.

Curiousity.

And loyalty.

Semakin gue gak mikir, menulis semakin gampang dan semakin melegakan.

Kalau jujur ternyata begitu menyenangkan, kenapa gue berusaha membuat kesan?

Kata Mother Theresa, ketika ekor lo bergoyang, lo sudah berjalan di jalan yang benar.

Doi pakenya analogi kompas. Tapi berhubung udah jaman Google maps, analogi ekor lebih kontekstual dengan kebahagiaan.

The Honesty.

Curiousity.

And loyalty.

Kalau ekor lo goyang-goyang, berarti lo udah di tujuan hidup lo yang sebenarnya.

Entah itu bikin boneka.

"Hey, ini toy! Bukan boneka!"

Atau mengobati orang kusta.

"Not everyone is Mother Theresa."

Atau ngasih makan anak dua.

"Bukan hanya karena anjuran bapak pembangunan kita."

Ketika ekor lo bergoyang dan lidah lo menjulur, you are possessing what it needs to conquer the world.

The Honesty.

Curiousity.

And loyalty.

Be a puppy!

Doa

Tuhan, terima kasih atas berkat yang kau berikan.
Ajari kami untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Amin.

Doa makan, doa tidur, doa boker, semua sama.

Karenanya setiap acara sudah terbatas waktu, pasti gua yang disuruh berdoa.

Singkat. Padat. Gak jelas.

"Masa doa kaya gitu?" protes Mak Gondut yang belum sempat tutup mata, doa sudah selesai.

Bukan karena gua malas berdoa. Bukan juga karena gua tak bisa merangkai kata. Tapi karena gua gak tahu mau minta apa selain terima kasih.

Produser, Uang, Pacar, pasti semua dikasih tanpa diminta. Jadi buat apa berdoa?

"Buat doain orang yang sedang sengsara?"

Sengsara adalah nikmat. Sakit penyakit, come to mama.

Jadi untuk apa berdoa?

Untuk mendengar.

Hah?

Untuk mendengar.

Lo kira lo doang yang pengen bicara?

Makanya lo selalu gelisah dan gak tahu arah. Doa lo ngomong mulu, ga pernah denger.

Doa adalah komunikasi dua arah.

Tuhan, terima kasih atas berkat yang kau berikan.
Ajari kami untuk menjadi berkat bagi orang lain.

So. Before amin, do you have anything you want to tell me?

Oh no, it’s april!

Gak punya produser. Gak punya pacar. Gak punya I pad.

So what?

Tanpa produser, film gua tetap akan jadi.

Tanpa film gua, dunia juga tetap baik-baik saja.

Tanpa I pad, masih ada punya Chica.

Tanpa pacar, nah itu baru sepi.

Jadi mari kita bersolek dan tebar pesona. Jangan mau kalah sama bunga bakung di ladang.

Film ?

Kalau film udah minta dibuat, apapun gak akan bisa menghambat.

Be still and know that I am God.

Cica-Cica Di Kamar

Cica-Cica di kamar, diam diam membaca.

Tiap manusia punya talentanya masing-masing.

Gua jago menggambar, chica jago menjiplak.
Gua jago makan, chica bikin roti.
Gua jago belanja, chica mengikuti.

"Make it two," katanya cepat setiap gua mau beli barang.

Kesannya kita kompak banget, padahal chica yang terlalu tak berbudaya untuk mampu memilih benda.

Tiap manusia punya talentanya masing-masing.

Tiap Cica-Cica di kamar, diam diam membaca, gue tahu dia sedang merencanakan plagiarisme berikutnya.

Siap-siap membuat blog tandingan Resign Club. Her own version of reality.

Bring it on!

Menang

Jika Allah Di pihak kita siapa dapat melawan
Kita lebih dari pemenang


Jemaat melompat-lompat, mengikuti beat lagu dan pemimpin biduan yang penuh semangat.

"Salam kiri kanan anda. Katakan mereka adalah pemenang."

Salam kanan: tanteku.

"Kita lebih dari pemenang," kataku sambil nyalam dengan senyum selebar-lebarnya. Tante balas menyalam.

Salam kiri.

"Kita lebih dari... ,"

Gak jadi.

Seorang bapak tua yang tak mampu lagi berdiri.

Dia menyadari. Gua menyadari. Beat lagu tidak mampu membuat kami melarikan diri dari realiti.

Dia bukan pemanang. Gak akan bisa lebih dari pemenang.

Halauya kibarkanlah panjinya
Kita lebih dari pemenang


Gue tidak lagi menyanyi bertepuk tangan. Tidak enak dengan si bapak.

Kita lebih dari pemenang

Shut up!

Kenapa kalian masih melompat? Kita bukan pemenang. Kita cuma sekelompok orang ignorant yang gak lihat kanan kiri.

"Beri tos ke kanan kiri dan kiri!" kata si pemimpin biduan.

Pengen gue tendang dan bawa ke sini. Lo gak lihat nih bapak gak bisa tos?

Goblok!

He's miserable.

Si pendeta turun panggung dan mengajak si bapak berdoa dan bersuka cita.

Si bapak tertawa.

Dia lebih dari pemenang.

Bukan realiti yang membuat dia bersedih. Tapi orang-orang seperti gua yang mengasihani dan mengangap dia nggak mungkin menang.

I'm sorry that I feel sorry.

Jika Allah di pihak kita siapa yang butuh kaki
Kita lebih dari pemenang


Karena hidup bukan soal menang.

Last Wish

"Ceritanya apa aja. Yang penting ada efek jumper dan efek time freeze," kata gue, euphoria baru kenalan ama After Effect.

Suatu hari, A Cun pengen ML. Cuci cuci kolor, cukur-cukur bulu, cahar-cahar perut.

Kolor terbaik sudah dicuci, digantung di jendela biar terkena sinar UV. Siap menggoda untuk dilepas nanti malam.

Tak disangka angin membawanya terbang.

Tapi A Cun lebih sigap.

Hap!

Si kolor berhasil ditangkap sebelum tertiup ke jendela tetangga.

Tapi malang tak dapat ditolak, A Cun terjatuh ke luar jendela.

"Nah di sini pake efek time freeze. Si A cun freeze dengan kaki di atas."

Muncullah malaikat maut! Seorang mbak-mbak seksi serba hitam : hot pants, tank top, dan jaket kulit. Lengkap dengan lighter kompor dan marlboro black hitam.

"Nah doi muncul pake efek jumper!"

Sementara kaki A Cun masih freeze, arwah A Cun dan malaikat maut bernegosiasi.

A Cun gak mau mati dulu. Belum ML.

Akhirnya si malaikat maut mau mengabulkan birahi A Cun, daripada si A Cun mati tanpa dosa. Malah masuk surga.

A Cun kembali ke kamar untuk menunaikan satu birahi sebelum mati.

Bagaimana akhir kisah ini?

Saksikan di whatever terdekat yang mau menayangkan.

Minggu, 20 Maret 2011

Mira Wijaya

Cinta Cuma Sepenggal Dusta.

Don't judge a book by its title. Judulnya emang dangdut merana, tapi isinya... dangdut merana juga.

Hey! What's wrong with dangdut? Lo juka suka kan? Ngaku! Tuh kaki lo ikut goyang-goyang saat kau pandang kerlip bintang nun jauh di sana!

Serrr...

Isinya tentang 5 cewe kakak adik cantik-cantik bandel-bandel, idola tetangga sebelah: kosan penuh cowo. Suatu hari datanglah penghuni baru: seorang guru muda, guru mereka di SMA.

Kaya Virgin Suicide.

Tapi tanpa Suicide.

Dan tanpa Virgin juga.

Karena ada aborsi-aborsian.

Sayang filmnya gak disutradarai Sofia Coppola. Kedalaman dalam kenakalan dan kedangkalan remajanya hilang, tinggal kedalaman.

Zzzzzzz....

Dari semua film dan sinetron Mira W yang pernah dibuat , hanya satu yang tidak membuat gue kecewa.

Gue nantikan setiap selasa malam jam 7.

Cinta.

Desy Ratnasari at her best.

Primus at his best (asal gak ngomong).

Adegan ML terbaik untuk TV jaman itu, walau lampu-lampu mendadak biru.

Seandainya aku boleh memilih.

Berburu Produser

"Nggak mau yang tua," kataku berharap bisa tumbuh sama-sama tanpa dompleng nama.

"Nggak mau yang banyak maunya," kataku berharap mimpi menjadi nyata, tak di angan-angan saja.

"Nggak mau yang into drugs and alcohol," kataku berharap hidup sehat sampai tua.

Kucari-cari di selatan. Dia lebih suka bikin FTV Indosiar. Jadwal teratur, duit pasti. Gak peduli hasilnya tanpa hati.

Ternyata track record penting.

Kucari-cari ke utara. Di sana semua dilakukan demi hati. Tapi hati mulai terusik ketika tas doi mendadak 300 jeti.

Ternyata transparansi penting.

Kucari-cari ke timur, partner yang apa adanya dan tanpa kosmetik. Teman yang tepat untuk bicara.

"Gue cuma punya waktu hari ini lunch. Lo datang aja."

Ternyata waktu penting.

Kucoba-coba bikin sendiri, tanpa lagi berburu produser.

Uang, kru, dan cerita, aku sudah punya. Untuk apa punya produser?

Untuk sekedar teman bicara?

Mungkin aku butuhnya pacar, bukan produser.

Mati

"Selamat menempuh hidup baru," kata papan-papan bunga di hari kematian gua.

Hidup baru apa yang akan gua jalani?

Mungkin dilahirkan kembali? Kalau nyebelin jadi kebo, kalau baek jadi putri?

Atau gue akan ditemani bidadari-bidadari yang tak menuntut dinafkahi?

Atau gue akan ngupi-ngupi di sebelah kanan Allah Bapa?

Atau jadi hantu imut transparan dengan kepala segede tweety?

Atau jadi kuntilanak penasaran karena belum nyatain juga?

Atau punya hobi baru ngisap darah perawan?

Atau ngesot di bioskop-bioskop terdekat?

Atau mati ya mati. Toh gue cuma partikel debu yang tak berarti di rentang jutaan tahun evolusi.

Atau cuma jadi another proses fisika? Dari padat jadi cair. Dari cair jadi gas. Dari gas ke padat lagi. Berulang lagi tanpa akhir.

Jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri. Kalau Tuhan bilang ada surga, ya ada surga.

Just don't take the chance. Jangan sampai lo masuk neraka.

Itukah kenapa kita butuh Tuhan? Karena neraka begitu menakutkan?

Katanya kita dipanggang di api? Katanya kita sendiri tanpa teman?

Nggak ada yang tahu pasti.

Padahal satu-satunya yang pasti di kehidupan ini hanya mati. Tapi ketika mati pun kita gak tahu pasti apa yang akan terjadi, mati jadi semakin menakutkan.

Tak kenal maka tak sayang.

Neraka baru mulai ada beberapa ratus tahun sebelum masehi. Sebelumnya hanya ada surga. Neraka pertama ditemukan di kuburan Roma tua, sebelum Roma diduduki Romawi. Mereka berusaha membuat alternatif kematian biar pemuda-pemuda mereka takut berkhianat ke pihak sebarang.

Takut. A very powerful tool.

Jadi neraka ini ciptaan kita atau ciptaan Tuhan?

Tuhan. A very powerful tool.

Tuhan ciptaan kita atau kita ciptaan Tuhan?


PS: Tuhan, I wanna know the ending.

Marriage

Pernikahan ternyata penting. Mujizat Yesus yang pertama dipilih di pernikahan: mengubah air jadi anggur.

Seperti anggur, pernikahan juga seharusnya semakin lama semakin manis. Semakin lama semakin memabukkan. Semakin lama semakin berharga.

Makanya jangan minum kebanyakan. Secukupnya.

"Till death do us part," kata pegantin pria mengikuti kata pendeta. Satu: cukup.

Tapi ternyata yang dipersatukan Tuhan, bisa dipisahkan pengadilan negeri.

Atau dipisahkan King Henry.

Satu : cukup. Tapi kalau udah gak enak, boleh ganti.

Atau satu pun tidak usah. Hidup kita untuk Tuhan. Seperti Paulus.

Tapi kembali dipersatukan Martin Luther.

Satu : cukup.

Cukup sekali!

Tapi Salomo beristri 3000 dan bergundik 5000. Emaknya pun istri ke dua, diambil bapaknya dari Uria.

Salomo dan bapaknya tetap disayang Tuhan.

Kenapa sekarang kita cuma boleh nikah sekali?

Fukushima 50

Lima puluh orang harakiri di tengah radiasi Fukushima, berusaha agar anak istri di rumah tidak perlu terkena dampak radiasi nuklir tempat kerja mereka.

Bukan hanya anak istri yang menanti mereka, gue juga.

Tanpa mereka, dalam waktu 2 atau 3 hari, gue nun jauh di sini juga akan terkena radiasi> Cacat fisik atau sekedar gangguan pencernaan. Sia-sia lari pagi tiap hari.

Pemimpin negara pun ikut meninjau langsung. Tidak perlu bermuka sesedih mungkin sambil prihatin di TV nasional.

Bencana Fuskushima tiba-tiba menjadi berkat di tangan pemimpin yang tepat. Rakyat Jepang pantas bersuka cita dengan musibah ini. Mereka jadi punya sosok-sosok yang membuat mereka mengerti kenapa hidup ini begitu berarti dilewati, tidak sekedar menunggu mati.

Karena kematian membuat kita mengerti arti hidup.

Radiasi nuklir belum sampai, tapi radiasi energi mereka sudah sampai ke sini.

Ternyata hidup ini cuma proses transfer energi. Energi saling menyemangati.

We are lucky to have one moment of it.

God, thank you for the tsunami.

Rich Indonesian

It's global warming time.

Gue harus peduli, biar trendi.

Mulai hari ini gue gak akan naik mobil pribadi. Taksi juga nggak. Gue akan naik angkutan kota, merendahkan diri berbagi dengan kalian agar mengurangi jejak karbonku di bumi ini.

Mau ke Plaza Indonesia atau Senayan City ya?

Angkot penuh. Bus kota bau. Damri aihhhh.

Ah kenapa sih orang Indonesia gemar sekali beranak pinak? Benar-benar tak sadar lingkungan. Semakin banyak manusia , semakin banyak carbon footprint yang harus kita bayar kepada bumi.

Ya sudah. Gue ke singapur saja.

SQ angkutan umum kan?

Ternyata singapur pun sama saja. MRT penuh. Desak-desakan. Bus apalagi.

Katanya penduduk singapura cuma empat juta? Ini semua manusia dari mana?

"Mpokkkk nyang sono sale juga taahhh!" teriak ibu-ibu sipit di belakang gua.

Oh ternyata turis Indonesia semua.

Lebih baik aku belajar sepeda. Tanpa jejak karbon dan tanpa interaksi dengan kalian, manusia kelas pekerja.

Aku terbang ke bandung. Katanya di sana ada jalur sepeda baru.

Ahhh tak ada SQ. Terpaksa bergabung lagi dengan kelas pekerja air asia.

Demi jejak karbon!

To infinity and beyond!

Bagaimana akhir dari cerita ini? Berhasilkah si rich indonesian tampil trendi dengan mengurangi carbon foot print?

Nantikan proyek udang di balik batu berikutnya : The Rich Indonesian.

Di whatever terdekat yang mau menayangkan.

why me?

Tes. Tes. Tes.

Bunyi air mata di atas toilet.

Why me?

This is way too hard. Can't you tell somebody else to do it?

Of course I can. Do you want me to?

Tes. Tes. Tes.

I know the other option. It's not a happy one either.

So why are you crying then?

At least I am not sweating blood.

I was scared too, girlfriend.

My Gethsemane is nothing compared to yours.

Not really. I was not alone. So are you.

Can't you take this cup away from me?

If you want me to.

Not my will, but yours, be done.

I only want what you want.

I want you to be happy.

I want you to be happy.

But not this way. I can't stand people hating me.

Blessed are you when others revile you and persecute you and utter all kinds of evil against you falsely on my account.

Maybe it's not really on your account. Somehow it's all for the glory of me.

Than let people see my glory through the glory of you.

Can't it be a glory of me a little bit?

Of course. They will remember you. But it's too big of a task to do just for the glory of you. You just would not survive.

Tes. Tes. Tes.

Pray that you may not enter into temptation.

Why me?

We are going in circles.

I think I don't love you that much.

Do you want to love me more?

I do. I just don't know how. I think you designed me to be to self centered.

Do you feel comfortable being self centered?

No.

Then you are not designed that way.

What should I do to love you more?

Love others.

Even FPI?

Especially FPI.

Promise you will never leave?

Did I ever leave?

I am scared.

What are you afraid of?

People will hate me.

I love you. Am I not enough?

I guess.

Then go.

I need some sleep.

Why are you sleeping? Rise and pray that you may not enter into temptation.

I don't know what to pray.

Then write it down.

I am scared.

Do you know how not to get scared?

Yeah. Yeah. Pray that I may not get into temptation.

Then why aren't you?

It's too noisy. I have too much in my mind.

What is so important than talking to me?

I guess I am just scared.

The more you tell yourselves you are scared, the more it will be. Your mind is stronger than you thought.

Then what shoould I tell myself? I am loved?

Good one.

I am loved.

Good.

I don't love you. I love myself more.

It doesn't matter. I still love you.

Thank you for loving me.

My pleasure.

Q & A

Q: "What do you think of God?"

Another Q & A.

A: "I think it's subjective. That's why I make a concept: the audience as the (T)hird character. Their response somehow reflects their own opinion on God."

Q: "No I mean what do you think about god?"

This is the thing with making a personal movie. The question is always personal.

I Q him back: "What do you think about god?"

Q & Q.

No more A's.


God is in the air. God is in the sea. God is everything.

He thinks God is in everything.

I need one more A: "What do you think about God?"

"Oh I'm an atheist, " she said.

"That's ok. what do you think about god?"

"I think God is nothing."

"Well I think God is nothing and everything."

The audience stare at me, clueless.

"Do you understand me?"

They laugh.

"Me neither."

Clueless.

It takes some people a moment of serenity to understand. After years of hectic movie making and some short moment when I think I understood, I came to a point where I understand nothing at all.

But I have to act like I do cause I need to give more A's.

Here I am talking in front of people explaining who God is like I know something.

Q: "We are used to be a tolerant society. Why do you think we end up like this?"

A: "I'll pretend that I know the answer."

Finally an honest A.

They laughed. I didn't.

"What I know is only from the news. and it's hard to know which news to trust nowadays. I'd rather see good and bad as something that always come together. Never better, never worse. Just make the best we knew how to."

My A didn't A anything.

Continued by the usual ants Q, the apple Q, the black and white, the bla bla bla Q.

And I keep A and A and A...

Talking talking talking and talking like I know something.

The more A , the more I realize I know nothing.

What am I doing here talking? What do I know?

"You were very witty and smart," she said.

Stay with me more and you'll figure out I am not.

A & A

Mimpi

Kita gak butuh makan. Kita butuh harapan.

Kita butuh mimpi.

I hope you never fear those mountain in the distance
never settle for a path of least resistance

Tanpa mimpi, kita gak akan tahu kenapa kita harus makan.


When you get the chance to sit it out or dance, I hope you dance.

I hope you dance.


Riana berangkat ke ibukota untuk mengikuti sebuah kontes penyanyi idola baru Indonesia dengan uang hasil jualan motor ayahnya.

Motivasi standar wawancara : ingin bantu orangtua.

I hope you dance.

Riana juara.

Setelah ritual 'nangis - nangis', Riana menjadi 'bintang sehari'.

Banyak Riana lain antri ingin menjadi bintang sehari. Gak tahu kalau setelahnya tidak pernah diurus lagi.

I hope you dance.

Kenyataan di balik mimpi-mimpi instant yang dijanjikan TV membuat mimpi-mimpi kita tidak lagi realistis.

Mimpi kok realistis?

Riana ikutan Stardut dengan mimpi jadi bintang dangdut.

Gue ikutan Project Change dengan mimpi jadi sutradara.

Inikah mimpi yang Riana inginkan?

Motivasi sebenarnya : cuma ingin ketenaran baru. Gak harus jadi penyanyi dangdut. Bintang sinetron atau iklan pun boleh.

I wanna be the rock star but I don't have the attitude. So I became a director instead?

The glamour and the fame, our dreams don't fit in it.

What is fame anyway?

Teman-teman arsitek gue gak ada yang tahu siapa Nia Dinata, seperti teman-teman filmmaker gue gak ada yang tahu siapa Norman Foster.

Fortune?

Bikin iklan. Jangan film.

If you come close to selling out reconsider
Give your heaven above more than just a passing glance


Berangkat dari motivasi shallow bertameng atas nama wanita dan kemiskinan, ternyata Project Change tidak banyak merubah masyarakat.

Yang dirubah hanya sutradaranya.

and when you get the chance to sit it out or dance

I hope you dance

Yasmin dan Quentin

Yang satu Malaysia. Yang satu Amerika.

Yang satu suka film India. Yang satu suka action B movie.

Yang satu bikin film buat orang tuanya. Yang satu bikin film demi diri sendiri.

Yang satu a lovable mother. Yang satu a lovable jerk.

What do they have in common?

They both made great movies.

Great? What do I know about great movies?

They both made exciting movies then.

Tapi yang satu bikin film cinta-cintaan, yang satu kejar-kejaran mobil.

Seriously. What do they have in common again?

They both rewrite their script once they cast an actor for every role.

Yasmin: "What I wrote was just fiction. It can't be better than the real one. Every great actor has charisma. It's God's given talent."

God's characters are better than hers. It takes a great mind to acknowledge that.

Quentin: more or less the same.

Without so much the god part, of course.

Still, it takes a great mind to acknowledge that.

Great minds think alike.

So what do they have in common?

Jumat, 18 Maret 2011

Sembunyikan Foto Ungu

Ada kesalahan-kesalahan masa remaja yang terus menghantui dan harus lo bayar mahal di kemudian hari.

"Yak senyum sedikit, kepalanya dimiringkan..."

Ckrek!

"Yak cantik!"

Kalau saja gue tahu gue akan menyesali hari ini, gue gak akan tersipu-sipu percaya ketika gue si fotografer bilang cantik.

Tapi hari itu gue masih lugu dan berrok biru. Masih mencari jati diri.

Gue tidak melawan ketika mami mendandani bibir ini dengan lipstick merah menyala yang nggak matching dalam rompi ungu. Untung dasi tweety ini masih merah juga.

"Tangannya di rompi , ya buka sedikit."

Ckrek!

Dengan latar belakang meteor-meteor ungu, fotoku menghiasi kalender 1997 limited edition karena hanya dicetak sekali.

Si Kalender 1997 menjadi pajangan ruang tamu kebanggaan papi.

Dan menjadi atraksi komedi yang memancing tawa setiap teman yang berkunjung.

Untung dasi tweety?

I shoulda known better.

1997, cepatlah berlalu.

Setahun kemudian, foto ungu tetap mejeng di ruang tamu tanpa peduli tahun. Papi terlanjur suka ama fotonya.

"Cantik kali nona keci papi."

Papi lahir tahun 1947 dan dibesarkan di zaman yang paling ganteng masih Rano Karno. Cantik baginya komedi bagi teman-temanku.

Haruskah kutanggung derita ini seumur hidupku?

Tidak. Aku tak rela kehilangan masa remaja hanya karena kesalahan ini.

Diam-diam aku naik ke dinding, hap!

Lalu ditangkap.

Hari berikutnya, papi kecarian foto ungu yang tak lagi menghiasi ruang tamu.

Hidupku kembali tenang.

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kali gue kucing-kucingan menyembunyikan foto ungu. Tapi hari itu akhirnya tiba.

Ruang tamu kembali dihiasi si foto ungu, terbingkai manis dengan frame 20 ribu dari kosambi.

Masih dengan rompi ungu dan dasi twweety.

Hwaaaa. Hari ini ada teman-temanku mau nginep dari Jakarta.

Ada kesalahan-kesalahan masa remaja yang terus menghantui dan harus lo bayar mahal di kemudian hari.

Jalan Pagi Bersama Mami

Keliling pertama: gosip ibu anu yang udah kawin empat kali.

Keliling ke 2: sejarah tante ini yang sudah kawin 5 kali.

Keliling ke 6: seminar singkat pernikahan semua ibu-ibu teman mami selesai.

Keliling ke 7: susno duaji

keliling ke 8: Mak gondut mulai senam angkat tangan atas bawah. Biar jantung tak cepat ngambek. Susah sambil ngomong.

Keliling ke 9: Senam kanan kiri.

Keliling ke 10: sembilan gaya garuk punggung, biar bisa ngancingin baju belakang.

Keliling ke 11: Mami minta ditemenin pipis, gue memilih lari satu keliling. Jantungku yang baru 27 tahun ini harus dibawa degup lebih cepat.

Baru satu keliling, sudah nemu mak-mak gondut lagi angkat-angkat tangan di depan.

Keliling ke 13: chica harus turun 30 kilo baru bisa punya anak.

"Kebalikan mami. Dulu mami waktu masih muda 49, harus naik berat badan baru bisa punya chica."

"Iya ih. Sekarang mami gendut banget."

"Kau?"

Mak Gondut melirik perut gue yang mulai sejajar dengan dada.

"Turunan." jawab gue sambil melirik perut Mak Gondut.

"Ya segede kau keluar dari sini, gimana gak melar?"

Keliling ke 13: makan di mana kita nanti?

Why I Should Think Before I Speak

1. Biar gak ada artikel Batak Pos berjudul 'sutradara mencari jodoh' di atas foto gue.

"Apa tujuan ito membuat film?" tanya si wartawan yang tak tahu piala citra apa. Bahaya kalau gue jawab menyerempet-nyerempet agama, bisa macam-macam yang dia tulis. Gue jawab aja buat cari jodoh.

Ternyata lebih bahaya.


2. Biar gak kekurangan makan siang

Menasehati mak-mak 55 tahun tentang instropeksi diri dan jangan nyalahin orang lain dapat menyebabkan mogok masak dan berdampak pada kelaparan anak.

Mereka udah tua, lebih tau hidup. Udah gak bisa diubah. Yang muda yang harus berubah.


3. Biar gak dicap 'Kepo Indonesian'

"Boooo... doi tanning di australi, empat hari," lapor gue segera setelah si asisten dosen pergi. Warna coklat rata di dada yang tidak rata itu telah membuat iri seorang pemuda gagal tanning. Dengan gaya sok cuek gak niat nanya, gue berhasil mengorek rahasia kulit indahnya.

Si asisten dosen kembali dan memandu kami berkeliling melihat lukisan affandi yang sekarang menghiasi dinding-dinding kampus negara tetangga.

"I think you really should go for your exhibition," kata gue setelah si asdos selesai menerangkan lukisan dengan mata berbinar-binar.

"I told her before that I wanted to be a painter," kata asdos ke yang lainnya, takut mereka gak ngeh kita bicara apa.

"I know. She told us before," kata Sunny Soon dengan polosnya.

Si asdos bingung.

"She told us about australia too," tambahnya.

Thanks, Sunny.


4. Biar gak jadi top topic di twitter

Gue setuju Indonesia is a beautiful city.

It's not a country. A country should have a government.


5. Biar gak bikin suasana gak enak

Proyek udang di balik batu berlanjut. Seorang mojang sukabumi sedang berusaha di-siregar-kan.

"Kalau Sunny gimana?" tanya si mojang mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Biarin ah. Sunny mah bego," jawab gue.

Sunny melirik sebentar sebelum menunduk lagi.



No lie no defense seringkali memalukan.

That, I can handle.

Tapi bagaimana dengan no lie no defense yang menyakitkan?

Tugas Suami

"Tiap hari nonton DVD aja kau. Gak kerja."

"Ini kan kerja, Mi?"

Di amerika, tiket bioskop bisa diperhitungkan tax rebate bagi sutradara karena dianggap sedang bekerja.

Tapi ini bukan Amerika. Bikin film tidak termasuk daftar tugas mulia cewe Batak.

Tugas kita hanya tiga:
1. Cari suami batak
2. Bikin anak batak
3. Cari menantu batak

"Makanya cepat-cepatlah kau kawin."

Tugas suami: banting tulang menafkahi sementara gue hahahihi nonton film.

Biar Mak Gondut tenang menghadap Debata ni Jahowa na sasadai dengan diiringi uning-uningan dan pesta adat 3 hari 3 malam.

Tapi kalau gak ada cucu, gak boleh diadatin. Dianggap mati mahar. Mati gak berguna.

"Makanya cepat-cepatlah kau kawin."

"Jadi gunanya atid cuma buat bikin cucu?"

Ya buat mundurin mobil juga ternyata.

Tugas suami 2: mundurin mobil sementara gue hahahihi nonton film.

"Kenapa mami gak pake yang paling luar aja?"

Mak Gondut gak mau pake mobil Kia Rio butut yang cuma laku dijual 23 juta. Padahal dulu belinya lebih mahal dari soluna gua.

Mak Gondut mau pake yang inova.

"Bensinnya mahal! Pake yang Kia aja," protes gue. Jakarta Bandung bisa 400 ribu.

"Ya kan biar muat nanti ada cucu," kata Mak Gondut.

"Kan belum ada."

Setelah ngomong itu, gue baru menyesal. Ibaratnya petinju, gue baru saja membuka celah pertahanan gue untuk siap dihantam di dada.

Pasti dia akan bilang 'makanya cepat-cepatlah kau kawin'.

"Iya ya? Ya yang Kia ajalah."

Salah.

Ternyata papi pensiun mulai berpengaruh. Dulu Mak Gondut gak pernah peduli bensin. Bisa selalu diisi di pom bensin negara.

"Makanya cepat-cepatlah kau kawin."

Tugas suami 3: ngisiin bensin sementara gue hahahihi nonton film.

And I am wondering why I have no one.

Ewi-ewi Persahabatan

No strings attached. No pressure.

Latihan untuk the big moment, bersama The One.

Atau gak perlu The One? Cukup begini saja, ewi ewi jika dibutuhkan. Gak perlu investasi perasaan. Gak perlu deg-degan kalau dia gak sms.

Gak bisa.

Tentunya bisa. Selama kita suka sama suka.

Bukankah sex itu seharusnya sakral dan hanya dengan satu orang? It's an exchange of soul. How can you exchange your soul to so many people?

Lo pasti masih perawan deh.

Gue gak mau banyak-banyak. Gue mau satu aja.

Makanya lo cobain dulu. Daripada lo kawin trus ternyata lo lesbi gimana?

Mending gak usah tahu.

Ya mending tahulah. Hidup cuma sekali.

Kawin juga cuma sekali.

Kecuali kalau mati.

Nah abis itu baru lesbi.

Bensin Naik

"BBM Tanpa Subsisdi = Pesanan Penjajah"

Bunyi spanduk demo mahasiswa di siang hari.

Demo panas-panasan tidak akan mengeluarkan kita dari penjajahan. Cuma akan membuat kita jadi mahasiswa bodoh yang cuma bisa marah-marah.

Bagaimana biar kita keluar dari penjajahan? Belajar baik-baik, bikin inovasi, biar ekonomi maju dan gak dijajah lagi.

Inovasi buuh riset! Riset mahal! Harus di negara kaya. Negara penjajah.

"Ntar kalo gue kepinteran, malah pindah warga negara."

Mending gue bego aja. Demo tiap hari. Syukur-syukur jadi pejabat partai.

"Lo lihat tuh?"

Sebuah truk pengantar gas berlambang Pertamina berhenti. Kijang busuk keluaran tahun 1987.

"Pertamina jauh lebih kaya dari Petronas. Kenapa Petronas punya menara dan pertamina beli mobil baru nggak bisa?"

Karena kita bodoh dan cuma bisa korupsi.

Miskin inovasi.

Crop Circle

Seorang Alien Baru Gede baru belajar nyetir UFO, pesiar ke Indonesia setelah dibikin iri oleh beberapa seniornya yang baru pulang tamasya dari Jogja.

Salah arah, malah ke Lembang. Bukannya turun di padi, si alien malah mendarat di kebun teh. Rusaklah pisau cukur si UFO karena tak mampu membabat batang-batang teh gendut.

Biasalah ABG.

This will make a great short movie.

Kalau jadi.

Seperti film-film lain yang dia cita-citakan, baru keren di angan-angan.

"Belajar after effect-nya dulu baru ntar kita kerjain," kata dia seminggu kemaren.

Seminggu kemudian.

Dia sedang duduk sendirian menulis daftar kontrak baru untuk para pekerja PT miliknya. Putus kerja 3 bulan dapet ini. Hamil 7 bulan dapet itu.

"Ternyata bikin PT gak sesimple itu," katanya, lelah dengan birokrasi ini itu.

Pengen bikin PT. Pengen bikin film. Pengen bikin distribusi film. Pengen bikin PH. Pengen bikin video mapping. Pengen bikin bioskop alternatif. Pengen bikin furnitur keren.

Tapi dia punya anak dan istri. Nggak bisa mikirin diri sendiri.

Keburu si alien dewasa.

"Sebelum anak ini ketabrak busway, dia diselamatin ama si alien. Pas dibalikin ama alien ke ke tempat semula, eh salah waktu. Anaknya jadi dua. Yang satu ketabrak, yang satu nggak," kata suami yang lain.

A very great idea for a movie.

Kalau jadi.

"Bikin yang bulutangkis dulu aja. Film pendeknya. Biar nanti kita lebih gampang nyari dana buat yang panjang," kata dia.

Kalau jadi.

Nggak segampang itu bikin film.

Dia juga punya anak istri. Nggak bisa mikirin diri sendiri.

Jadi gue dilarang menghakimi, berhubung gue gak punya anak istri.

Melihat betapa cemerlangnya ide mereka, gue jadi rendah diri karena ide gue biasa aja. Cuma cerita anak yang gak mau jadi kaya ibunya.

Tapi berhubung gue gak punya anak istri, gue gak punya alasan kalau film ini sampai gak jadi.

Harus jadi.

"Eh, kita bikin serial aja yuk. Kalau nulis serial, lo tertarik gak?"

Dan alien terlanjur manula.

Asuransi

"Penipu dia!"

Mami meraung-raung. 120 juta untuk pensiunan tentara bukan jumlah yang sedikit.

Setelah melihat salah satu temannya sakit dan dibayari penuh oleh asuransi, mami mengasuransikan papi. Dua puluh juta per bulan.

Papi nggak mau, tapi mami ngotot.

"Mami maunya yang untuk kesehatan. Masa jadinya yang buat mati?"

Mami menunjukkan SMS-SMS dari si agen asuransi yang membela diri, tidak rela disebut penipu. SMS-nya terlalu kasar.

"Tega kali di nipu orang tua," kata mami dramatis.

Kemungkinan besar si agen bukan penipu. Dia hanya agen asuransi yang pandai bicara. Bertemu ibu rumah tangga yang gak ngerti policy tapi gemar dipuji-puji.

Tau-tau dia udah tanda tangan, tanpa konsultasi ke anak-anaknya yang lebih mengerti asuransi.

Bukan gue pastinya.

"Ya sudahlah 120 juta nanti dicari lagi. Daripada malah mati kau mikirin itu," kata papi bijak mencoba mencairkan kerutan muka mami.

"Bener ya nanti abang ganti," kata mami sambil cubit-cubit papi.

Berhubung 'gak ngerti policy' sepertinya genetis, sebaiknya gue juga jauh-jauh dari asuransi.

"Lo harus punya asuransi. Abis umur 30 ada aja penyakit," kata Chica sambil makan tahu gunting bertelor dan berkacang. Setelah umur 30, berat Chica menyamai angkatannya di sekolah.

Bukan 96 dan bukan 98.

Agar hidup ini bebas asuransi, mulai hari ini gue harus minum air putih, lari pagi, nggak ngerokok, nggak tidur malam, dan perbanyak tertawa.

Jangan sampai berat badan gue menyamai angkatan chica.

My life without deodorant

Deodorant memperkecil pori-pori ketek, menghambat keringat keluar tubuh, bersekutu dengan bakteri-bakteri ketek membuat teman-temanku menjauh pergi.

Kuakui keti ini...

Tapi sekarang beda. Gue punya banyak teman karena keti ini tidak lagi basah dan semerbak.

Berkat deodoran tiga kali sehari.

Tak peduli racun yang seharusnya dikeluarkan bersama keringat kembali beredar di tubuhku. Yang penting aku wangi on the outside.

Deodoran, apalah jadinya hidupku tanpa dirimu? Kalau gak update deodoran di sore hari, keti ini terasa mulai kurang percaya diri.

Tapi akhir-akhir ini bau ketekku berubah. Gak lagi semerbak.

Padahal akhir-akhir ini, gue gak pake deodoran.

Ternyata akhir-akhir ini, gue gak makan daging.

Ternyata akhir-akhir ini bangkai-bangkai itu tidak lagi membuat ketiku bau bangkai.

Pantesan Jason Mraz bisa tersenyum semanis itu. Gak perlu beli deodoran.

Lumayan booo, tiap 2 minggu lima puluh ribu.

Macet

Dua pria duduk terdiam di antara mobil-mobil yang pasang rem tangan di tanjakan menuju puncak.

Tidak biasanya jam segini puncak ke arah atas macet.

Tidak biasanya mereka terdiam.

Biasanya mereka selalu tertawa dan bercanda walau di tengah kemacetan. Ada saja pasangan mobil tetangga yang bisa mereka alih suarakan menjadi telenovela di tengah kemacetan Jakarta.

Tapi hari ini hari istimewa. Hari ini untuk pertama kalinya mereka akan bercinta.

Di Puncak.

Tak disangka SBY lewat.

"Gak mungkin nih!" kata sutradara binan Indonesia sebelum gue sempat melanjutkan cerita. "Kalau dua cowo gak mungkin gini. Yang harus jauh-jauh ke Puncak buat ML tuh pasti cewe."

He knows better pastinya.

Sepasang pria dan wanita duduk terdiam di antara mobil-mobil yang pasang rem tangan di tanjakan menuju puncak.

Tidak biasanya jam segini puncak ke arah atas macet.

Tidak biasanya mereka terdiam.

Biasanya mereka selalu tertawa dan bercanda walau di tengah kemacetan. Ada saja pasangan mobil tetangga yang bisa mereka alih suarakan menjadi telenovela di tengah kemacetan Jakarta.

Tapi hari ini hari istimewa. Hari ini untuk pertama kalinya mereka akan bercinta.

Di Puncak.

Tak disangka SBY lewat.

"Tapi kalau cowo ama cewe basi ahhh...," kata gue berusaha membuat cerita lebih dramatis.

Dua wanita duduk terdiam di antara mobil-mobil yang pasang rem tangan di tanjakan menuju puncak.

Tidak biasanya jam segini puncak ....

"Ahhh kalau cewe ama cewe ntar filmnya jadi dramaaaa.... gak ada ketawa-ketawa."

Dua pria duduk terdiam di antara mobil-mobil yang pasang rem tangan di tanjakan menuju puncak.

Hari ini untuk pertama kalinya mereka akan bercinta.

Di Puncak.

Tak disangka SBY lewat.

Dia sudah tak tahan. Dia mencari-cara pepohonan yang mampu memfasilitasi aktvitas-aktivitas begituan. Tapi Puncak tak lagi berpohon. Semua sudah berganti villa.

Terpaksa mereka melakukan aktivitas yang tidak memerlukan beranjak dari kursi depan.

"Trus endingnya gimana?"

"Ya udah gitu aja."

"Jangan. Kita harus kasih pelajaran ama SBY."

Paduka SBY melihat mobil-mobil yang menghalangi kendaraannya.

Katanya ada dua lelaki digebukin massa setelah ketahuan melakukan maksiat di tengah jalan.

"Ya udah kita naek helikopter aja," sabda paduka.

Ternyata dia punya helikopter.

Monyet.

Kamis, 17 Maret 2011

Nyetirin Papi

"Awas kiri."

Hampir gue nabrak. Bukan karena gak lihat. Karena kaget papi teriak.

"Kanan. Kanan."

Gue manrik nafas dalam-dalam inget doa tadi pagi. Jauhkanlah kami dari pencobaan.

Dua jam nyetir Bandung- Jakarta, dunia aman tentram damai. Hanya ditemani Maroon 5 dan sedikit-sedikit jason mraz.

Begitu papi melek, bangunlah pencobaan.

"Kanan! Kanan!" kata papi menunjuk jalur pembayaran tol yang sedikit lebih pendek di ujung kanan sana.

Gue ikut ke kanan.

"Jangan di atas 100."

Giliran macet, papi nyuruh nyelap-nyelip biar cepet. Pas lengang, 100?

Telepon papi berdering.

Fiuhhh. Setidaknya 5 menit papi gak rewel, sibuk ngobrol di telepon.

Gue masuk jalan tol dalam kota dengan damai sentosa.

"Kenapa tadi gak lewat Cawang?" kata papi melihat jalan tol macet.

"Jakarta malam minggu ya macet di mana-mana , Pi." jawab gue sambil pelan-pelan mengikuti deretan mazda, toyota, dan mobil jepang lainnya.

"Kiri!!! Kita ke arah priuk aja, keluar jatinegara."

"Sama aja pi."

"Kiri!"

Gue belok kiri.

Macet juga.

"Kalau belok ke Cawang, udah nyampai kita dari tadi."

Kalau bukan bapak gue, udah gue suruh setir sendiri.

"Kiri. kiri"

Gue ke kiri.

"Kanan aja!"

Gue berhenti.

"Papi mau nyetir sendiri?"

Papi nyetir sendiri.

Belok ke Jatinegara.

Setengah jam kemudian, masih di Jatinegara.

Sejam kemudian, akhirnya sampai Tebet.

"Kok lama?" tanya om gue menyambut rombongan BAndung yang cemberut.

"Salah ambil jalan tadi. Coba belok ke Cawang."

Terserah deh. Biarin aja papi nyetir sendiri.

Pulang ke Bandung, papi nyetir. 60 km/ jam.

20 km kemudian, papi minta gantian.

Matanya gak kuat. Vertigo.

Tidur 3 hari.

Hari minggu nanti, papi mau ke Jakarta lagi.

Papi duduk di belakang.

Hitam Putih

Hitam
Orangnya hitam
Tetapi putih hatinya
Itulah pilihan saya


Lirik salah satu lagu dangdut di dokumenter 5 Menit Lagi Ah Ah Ah.

"Is it better to have fair skin here?"

Dari sekian banyak pemutaran Working Girls, baru kali ini gue dapat pertanyaan ini. Sebelumnya, gue gak pernah nyadar betapa lirik ini menggambarkan opini massa yang diterima begitu saja sampai seorang sutradara Jerman menanyakannya.

Kulitnya hitam, tetapi putih hatinya.

Apakah semua yang berkulit hitam selalu Rahwana dan si kulit putih selalu Arjuna?

Bertahun tahun dicecoki sastra India Utara dan diminderkan penjajah berkulit putih, membuat kita menganggap kulit hitam identik dengan kejahatan.

Bertahun-tahun setelah merdeka, kita masih membiarkan keminderan kita merasupi lirik-lirik lagu dangdut, mendiskreditkan pria-pria hitam, dan membiarkan wanita-wanita kita berusaha memutihkan diri kalau masih mau disayang suami.

"I saw the commercial on TV," kata another Jerman menyadarkan gue betapa iklan kita inferior complex.

People, kulit hitam tidak identik dengan kejahatan.

Dan hati putih tidak identik dengan kebaikan.

Identiknya hepatitis C.

Sebenarnya

"Apakah seumur hidup mbak akan bikin film?" tanya mahasiswa-mahasiswa fikom yang ditugasi bikin majalah film. Berhubung gue paling mure, gue dijadikan profil.

"Tergantung. Setidaknya saat ini masih dua lagi yang pengen dibikin. Setelah itu, kalau masih ada yang perlu diteriakkan, ya baru bikin. Kalau nggak, ya nggak," jawabku bijak.

Sebenarnya sih pengennya jadi bintang film. Tapi gak ada yang nawarin.

"Kenapa sih mbak sukanya film?"

"Karena film adalah hidup. Setelah bikin film, lo jadi orang yang lebih hidup."

Sebenarnya sih pengennya jadi bintang film. Tapi giliran ada yang nawarin jadi extras 3 line aja udah grogi. Susah dipelototin 3 kamera.


"Selain film, ada nggak sih obsesi mbak sammaria yang lain?"

"Pengen jadi penyanyi."

Sebenarnya sih pengennya jadi bintang film. Tapi kayanya doi lebih percaya kalau gue jawab penyanyi. Batak gitu bo. Pasti suaranya bagus.

Lalalalala

"Selain sutradara, ada gak posisi lain yang mbak pengen?"

"Sebenarnya sih pengennya jadi bintang film. Tapi gampangan jadi sutradara, sembunyi di balik kamera."

Teman-Teman Baruku

"Fish are friends, not food," kata hiu-hiu insyaf di Finding Nemo.

Karenanya tiap ada yang nanya kenapa gue gak makan ikan, gue cuma jawab : "Fish are friends not food."

Efektif menghindarkan gue dari ceramah betapa baiknya ikan bagi pertumbuhan dibandingkan daging bikin penyakit apalagi babi dan gak baik untuk bla bla bla.

Aku tahu babi jorok, tukang makan segala tanpa sadar nutrisi. Tapi setelah disucikan di api lapo, mereka menjadi teman nasi dan cabe hijau yang paling setia setiap sore hari di lapo pemuda.

Jadi babi bukan teman, makanya lo makan?

Pigs are my best friends, makanya mereka merelakan hidupnya buat gue.

Nyummm.

Pernah gue sempat tergoda gak makan daging akibat kata-kata Ayu Utami di Larung. Daging terlihat sebagai bangkai yang semakin dibusukkan dengan berbagai bumbu, dan kita semakin suka.

Yuck!

Tapi cuma seminggu.

Nyummm.

"Vegetarians are lousy hunters," kata gue mengutip some red neck americans.

"Peternakan itu penyebab global warming terbesar. Lo tahu berapa besar lahan dan kotoran yang dihasilkan untuk menternak satu sapi?" argue Sali yang memilih gak makan daging sebagai tumbal karnivor-karnivor overfed kaya gua.

Ya udah kita makan wagyu aja. Sapinya kan gak pernah dibiarin bergerak, gak butuh tempat luas. Dagingnya lembut banget dan tanpa otot.

Tapi coba bayangin betapa stress si sapi gak bisa gerak, bertahun-tahun dikepit, bengong, nunggu dipotong?

Sapi stres kok dimakan?

Makanya kita stress.

Atau makan anak sapi aja? Daging tetap lembut, tanpa hidup tersiksa.

Pernah lihat anak sapi dipotong?

Damn. Gue terlanjur lihat.

Jadinya tahun ini gue bergabung dengan Sali, Jason Mraz, Ellen, Natalie Portman, dan lousy hounter lainnya.

Sekarang temanku bertambah.

Ayam, sapi, udang, dan ikan teri. Natalie Portman belum respond to my friend request.

No more sore hari di lapo pemuda.

Pigs are friends, not food.

Mak Comblang

Blog Risca+Ali, the big day.

It was our good friend Atied (stage name: Sammaria Simanjuntak) who saw this was going nowhere and decided to take some action. Which ended up in Ali confessing his true intentions. A month or so after, we decided to give this couple thing a go on 26th January 2007 (1 month earlier from Ali's intial monumental masterplan of a romantic getaway in Bali).


Wait. Is that me?

Oh no, nambah lagi list pasangan yang tanpa sengaja berhasil gue jodohin.

Am I turning into my mom?

Dangdut, Wanita, dan Kemiskinan

Kenapa dangdut selalu identik dengan wanita dan kemiskinan?

Ada kok dangdut yang gak wanita dan gak kemiskinan.

Rhoma Irama?

Tapi coba lihat dangdut yang identik dengan kemiskinan. Dangdut yang dibayar lima puluh ribu sekali manggung. Dangdut yang butuh disawer baru nutup ongkos datang.
Tidakkah semua wajahnya wanita?

Kenapa?

Karena dangdut ini butuh disawer. Cuma disawer kalo udah joget. Yang punya duit nyawer ya lelaki. Yang disawer harus wanita.

Sudah serendah itukah arti wanita joget di mata kita? Cuma demi uang?

Bukankah kita emang bangsa yang festive? Joget is in our blood. Gak dikasih duit juga kita butuh joget.

Kita bangsa festive.

Festive?

Bahkan kata festive tidak terdengar seperti bangsa kita. Festive itu bangsa karnival di Rio de Jainero sana. Bukan kita.

Kita bukan bangsa festive.

Festival kita bukan di jalan-jalan dengan kostum warna-warni. Kita berjoget di antara tumpukan sampah, bersama ayam mencari bijih di tanah gak beraspal, lalat-lalat mengerubungi ati ampela dan es kelapa muda, dan anak-anak berebutan beli es berperwarna baju.

Yang warna warni hanya si penyanyi. Dan warna-warni itu butuh uang jahit, uang dandan, dan uang makan. Penonton yang berani joget ke panggung, harus berani nyawer.

Ada yang nyawer demi dekat penyanyi.
Ada yang nyawer dami mempertahankan derajat.
Ada yang nyawer demi mendapatkan derajat.

Si penyanyi gak peduli. Yang penting ada yang nyawer. Untuk tambahan bayar bensin motor Bandung - Lembang dan susu bayi yang ditinggal sama teteh sebelah.

Dangdut, wanita, dan kemiskinan.

Masih perlu bertanya kenapa?

Katanya

Harusnya gue gak lahir di abad ini. Abad ini terlalu banyak 'katanya-katanya' yang haram dipertanyakan.

Gue pengen lahir di abad pencerahan. Abad di mana gue bisa mengkritisi semua 'katanya-katanya' yang dipaksa harus dipercaya. Abad di mana cewe chubby tersenyum manis tak hanya laku dipajang di museum.

Betul!

Seharusnya gue lahir di abad ke 16 aja. SAat itu, cewe chubby tersenyum manis masih laku. Bahkan seniman yang biasanya doyan laki aja terinspirasi melukis.

Di zaman itu gereja mulai tidak lagi mendominasi. Manusia mulai punya pikiran sendiri.

Zaman di mana manusia-manusia paling jenius belum punah di Italia. Dan Michaelangelo dan Leonardo bukanlah kura-kura ninja.

Di sana, kita bebas bertanya.

Om Leonardo, benarkah Audrey Tatu cucu Yesus?

Tapi si om gak tahu Audrey Tatu.

Susah nanya om-om beda jaman. Sekalian aja gue lahir di tempat kejadian perkara, biar menyaksikan tanpa 'katanya'.

Galilea, di pergantian masehi. Zaman itu belum disebut masehi. Yesus masih dianggap kriminal. Masuk daftar yahudi militan yang pantas dibunuh karena menghina agama Yahudi dengan dalih mereformasi.

Yesus, benarkah engkau Tuhan?

Berbahagialah orang yang percaya walaupun tidak melihat.

Benarkah kamu lebih cinta Maria Magdalena dibandingkan kami-kami yang seksi ini?

Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan.

Aduh susah ngomong ama Tuhan. mending gue bertanya ke sesama perempuan.

Maria, Maria, siapakah ayah Yesus?

Yusuf atau Roh Kudus?

Berbahagialah orang yang percaya walaupun tidak melihat.

Ternyata Maria pun sudah terpengaruh. Si pemuda tampan di bukit itu memang mempesona kalau bicara.

Bagaimana kalau gue lahir ke zaman di mana pesona dia belum mempengaruhi siapa-siapa?

Tepat 14 generasi sebelumnya, di saat Daud menghampiri Batsyeba.

Ah tanya yang perempuan aja ah. Yang cowo-cowo rempong. Banyak birokrasi.

Batsyeba, Batsyeba, siapa yang kamu cinta? Daud atau Uria?

Batsyeba tidak menjawab.

Ternyata wanita di zaman ini belum boleh bersuara. Pantesan alkitab isinya laki semua.

Gue kembali lompat ke 14 generasi sebelum mereka.

Abraham. Sepertinya sedang menanti Ishak. Atau Ismail?

Siapa yang lebih kamu sayang ?

Tiba-tiba seekor ular lewat sambil mengerling nakal, "godain kita donggg..."

Ternyata salah lahir. Ini zaman Adam sebelum makan buah pengetahuan. Percuma ditanya, Adam gak tahu apa-apa.

Mending gue mundur lagi ke zaman Arjuna.

Eh gue mundur apa maju ya? Siapa duluan sih? Adam atau arjuna?

Jawaban yang benar itu relatif. tergantung nanya ke siapa.

Kalau tanya burung-burung di Israel, tentunya dari kecil sudah didoktrin Adamlah jawabannya.

Kalau tanya burung-burung di Galapagos, yang duluan bukan Adam bukan Arjuna. Tapi monyet-monyet pasca evolusi.

Kalau tanya burung-bururng di Danau Toba, tentunya orang Batak yang pertama.

Jadi gue mundur atau maju nih?

Berbahagialah orang yang percaya walaupun tidak melihat.

Mungkin memang yang percaya aja tanpa melihat bisa lebih bahagia. Hidupnya gak habis bongkar-bongkar kubur demi belajar anatomi, atau marah-marah tiap hari menggugat Tuhan yang sudah dicandukan.

Mana 'katanya' yang benar, tak usah dipertanyakan. Toh kita semua bersaudara. Sama-sama turunan Adam.

Bukan, cyinn. Orang Batak beda. Kita turunan Naga Padoha, turun langsung dari langit. Sebelum itu, gak ada yang lain.

Hhhhh...

Dua

"Jadi mbak nggak mau kaya?"

"Gue sih pasti kaya, tapi bukan prioritas."

Sesuai amanah keluarga berencana, rumah cukup 2, mobil cukup dua. Di dua negara. Gak perlu sampai bisa impor sajadah india untuk nikahin anak gua.

"Jangan ngejar uang. Biarin uang yang ngejar kita."

Wuek.

Lagak gue udah kaya mas-mas hobi motivasi dengan senyum selebar-lebarnya, mata sebulat-bulatnya, dan kepala sebotak-botaknya.

Super!

Uang mana yang ngejar gue?

Tabungan gue tinggal 41 juta. No more deposito.

Tahun ini gue berencana tidak bekerja, demi menyelesaikan Demi Ucok yang posternya sudah ada sejak 2006.

Lima tahun kemudian, filmnya belum jadi juga.

41 juta cukup untuk membiarkan gue berkarya tanpa harus bekerja dan tanpa bahaya kelaparan dan tanpa perlu meninggalkan dunia ngafe-ngafe dan happy hour Rumah Buku.

Cukup untuk membiayai hidup gua sambil menanti Demi Ucok berhasil menghasilkan.

Gue harus buktikan, gua bisa hidup dari mimpi gua.

Kalau sampai gak berhasil?

Ya kawin.

Kalau berhasil?

Ternyata ya kawin juga.

Demi tercapai amanah keluarga berencana, rumah cukup 2, mobil cukup dua. Di dua negara.

Lebih mudah kalau berdua.

Jalur Biru

Bandung udah punya jalur biru khusus sepeda, siap bersaing dengan Kopenhagen, Amsterdam, dan Barcelona menjadi kota-kota sepeda terbaik di dunia.

Ayo bersepeda biar sehat!

Sabtu ini gue mau beli sepeda. Gak perlu yang bisa mundur. Yang penting ada remnya!

"Gak boleh! " kata papi melarang, bertentangan dengan anjuran pemerintah daerah untuk menyehatkan warganya.

Buat apa sehat kalau mati muda? Terserempet mobil dan bus kota yang tak rela jalurnya dijadikan jalur sepeda.

Tapi kan mobil kita cuma dua, pi. Kurang.

Lebih baik papi beli mobil baru. Nona kecil papi gak boleh naik sepeda.

Tapi kan BBM mau naik, pi.

Lebih baik papi mengantar - ngantar nona kecil ke mana-mana.

Kan sayang banget tuh pi jalur sepeda gak ada yang make. Keburu cat birunya luntur.

"Itu yang bikin jalur gak pake otak," tambah papi.

Emang bikinnya nggak pake otak, pi. Tapi kan tetep pake duit.

Udah susah-susah pemerintah daerah kita keluar uang 2 milyar biar warganya bisa sehat.

Duit pajak kita.

Pokoknya nona kecil mau naik sepeda. Walapun harus bersaing dengan mobil parkir, gerobak baso, pejalan kaki, dan warung dadakan gak mau minggir.

Mari kita dukung niat baik pemda kita tercinta dengan rame-rame mati muda keserempet kuda.

Kamu, 20 Tahun Lagi

"Hey, babe," katamu sambil tidak berusaha membawakan tasku.

I don't want you to.

Aku mengikuti kamu, berjalan dengan sepatu beludru hitam, kemeja, dan jeans mahalmu.

Masih sama seperti 20 tahun yang lalu.

Kemeja nggak perlu mahal. Yang penting jeans dan sepatu.

Masih sama seperti 20 tahun yang lalu.

Masih juga gak pernah nyetrika baju.

"Buat apa? Ntar juga lurus sendiri," katamu sambil tersenyum.

Masih senyum yang sama. Hanya ditambah sedikit garis di ujung bibir kiri.

Tidak sedikit pun lemak di kanan kiri. Mungkin karena kamu selalu lari, menikmati udara tanpa timbal di sepanjang wharf di musim semi.

Matamu masih berseri, tidak tampak tanda-tanda pahit hati. Mungkin karena tiap hari kamu menikmati bertemu dan tertawa bersama aborigin-aborigin yang bahagia akhirnya punya rumah. Berkat kantormu.

Kulitmu bersinar. Mungkin karena kamu dicintai.

Kita berjalan menyusuri kota entahlah. Somewhere di mana matahari bersinar lembut, jauh dari bahaya radiasi nuklir.

Tidak ada yang mempedulikan tangan kita yang berpegangan, hanya sekelompok burung-burung putih gendut berkoak-koak iri.

Anakmu sudah dua. Yang terakhir baru saja keluar rumah. Ternyata dia sudah 18.

How time flies when you're having fun.

Yes indeed. Very fun 20 years. Walaupun tanpa kamu.

"I have to go," katamu setelah makan siang. Kasihan nanti aborigin-aborigin itu nggak punya rumah.

Gue melihat kamu berjalan di antara kerumunan rambut pirang. Rambut hitammu tidak berkilau. Masih seperti 20 tahun yang lalu.

Sederhana, tapi mempesona.

Masih sama.

I am still an occasional lunch inbetween your busy days.

And you are still a daily bittersweet symphony inbetween the soundtrack of my lovely life.

Yes indeed. Very lovely 20 years.

Walaupun tanpa kamu.

Rabu, 16 Maret 2011

Kabel

Kabel power Imac.

Kabel hard disc 1 tera ke Imac.

Powernya juga.

Kabel usb 320 giga ke Imac.

Powernya juga.

Dari Imac ke compaq.

Dari compaq ke hard disc 40 giga.

Kabel Kabel Kabel...

Hidupku dipenuhi kabel.

Kalau Purnawarman menyimpan hidupnya dalam sebuah batu, gue nyimpen hidup gue di dalam hard disc-hard disc berkabel.

Mari kita copy ke satu hard disc agar hidup ini tidak terasa berantakan.

Kabel-kabel dialiri kenangan-kenangan, jangan sampai keapus.

Nanti aku keapus.

Aku akan lebih tenang setelah mereka dirapikan. Dalam folder-folder berurutan sesuai jaman.

Atau sesuai type.

Sesuai size.

Tinggal klik kanan.

Butuh 2 hari untuk mindahin. Butuh 2 hari lagi baru bisa klik kanan-klik kanan merapikan.

Habis ini hidupku akan lebih tenang. Tak ada lagi kenangan yang belum dikategorikan. Yang gak pengen dikenang, click Del.

Selesai. Folderku rapi.

Tapi kok kamu masih terbayang?

Reuni dan Jerawat

Acne Moisturising Gel 5, diikuti Acne Foundation 1, dilapisi keringat jogging tengah hari, ditambah sinar UV Henderson Bridge ternyata tidak baik bagi kulit.

Mukaku penuh jerawat kecil-kecil. Dahi. Hidung. Pipi. Dan dagu.

The worst I got in life.

Dan ternyata minyak kayu putih gak baik untuk jerawat.

Mukaku sekarang jadi bercak-bercak hitam.

Lebih baik aku mengurung diri dan menyesali diri di rumah sementara teman-temanku saling update status di Dies Emas.

Lebih baik mereka mengira aku masih sakit hati.

Mengira aku belum sempat diet.

Mengira aku malu tak bawa pacar baru.

Mengira aku belum juga kaya.

Daripada mereka tahu jerawat di pipi ini.

Sali Aja Kawin

cin(T)a pergi ke Singapura tanpa Sali Anomsari.

Bukan karena Sali mendadak Gayus. Tapi Sali lebih memilih penyuluhan di KUA.

Ya benar. Sali si gak mau kawin memilih penyuluhan di KUA.

Gue langsung telepon Ucu. Lebih efektif menyebarkan berita daripada facebook.

Sali dan Aji.

Padahal Aji diprediksi akan menghambat karir Sali. Tapi Sali gak mau berkarir. Sali cuma mau bahagia.

Sali memang terlihat lebih ceria sejak ada Aji. Kalau gak ada aji, tiap 2 menit sekali pasti ada bunyi 'ajiiiii' dari mulut sali, dimasukkan dengan berbagai manuver cantik agar aji tetap kontekstual dalam setiap pecakapan.

Itu rate kalau Sali lagi agak gak cinta atau dikejar deadline. Kalau lagi mesra, rate-nya semenit sekali.

Sekarang sali kawin?

Waspadalah. 2012 memang mungkin mau kiamat.

Gue cepat-cepat revisi script Demi Ucok. Orang yang gak mau kawin baru akan goncang dunianya ketika ada orang kaya Sali tiba-tiba kawin.

Lengkap dengan kebaya dan ibu-ibu pengajiannya pula.

Waspadalah.

Kuhapus Kau

Gue gak mau lagi kenal ama lo.

Being cynical and cruel is totally uncool. I know you have issues with your Khomeini mother, but don't put it out on us.

Gimana caranya biar lo tahu lo anjing?

Sinyal-sinyal mata penuh kebencian gak mempan mengusir lo.

Santet dukun karawang gak mempan bikin lo kapok.

Nulis lo bondon di kamar mandi sekolah, gak akan ada yang liat. Cuma tikus, perokok aktif, dan tai-tai gak disiram yang mau mampir ke sana.

Atau hapus lo dari handphone?

Jangan. Rugi gue angkat kalau lo nelpon dan gue gak nyadar itu nomor lo.

Jangan diapus. Diganti aja nama lo jadi ANJING.

Jangan. Nanti Boni Bonyet dan Mari tersinggung disamain ama lo.

Atau gue tulis aja lo di blog gue? Tanpa nama palsu. Biar lo tahu lo anjing.

Guk!

Maksud gue, lo bondon.

*Maaf ya Boni.

Tapi sama aja menciduk muka sendiri. It will make me look like a bitter Zuckerberg without the facebook and the 250 billion.

That's it! Gue bikin film aja tentang lo. Bikin facebook gue gak bisa. Bikin film sih anak SD juga bisa!

Jangan. Bikin film butuh darah pikiran dan konsentrasi tiap hari. Males aja mikirin lo tiap hari, bisa komplikasi Hepatitis A, B, dan C.

Atau bikinin buku aja? Gak butuh 2 tahun dan modal ratusan juta.

Jangan-jangan lo malah bangga! Ihhh...

Atau buku on line aja?

Ah tunggu ajalah. Sooner or later ntar juga lo masuk neraka.

Kelamaan...

Atau gue ambil aja cowo lo?

Ih males banget deh. Curiga berkutu. Nular dari lo.

Jadi gimana dong caranya biar lo tahu gue bete?

Hapus aja dari facebook.

Almost 28

Tinggal 49 hari lagi gue berhak ngaku 27.

Gak ada lagi keresahan. Gak ada lagi godaan. Gak ada lagi suicide club.

Selamat datang di dunia dewasa.

Pelajaran penting yang gue dapat menjelang kedewasaan ini: jangan bikin janji-janji yang merepotkan diri.

Contoh janji-janji yang merepotkan diri:

"Umur 27, gue mau naik kereta ekonomi."

atau

"Umur 27, gue mau nyium cewe."

atau

"Umur 27, gue mau nyium cewe di kereta ekonomi."

Janji pertama sudah terlaksana. Tepat di hari ulang tahun gue ke 27, gue naek kereta ekonomi ke Jogja, berbagi kursi bertiga bersama ibu-ibu jawa dan anaknya. Bersama ayam, kambing, dan chiki yang gak berhak dapat tempat duduk karena gak bayar 28 ribu.

Semua gara-gara sabda Sali: "Lo belum tau hidup kalau belum naik kereta ekonomi."

Berhubung gue udah tau hidup, pulangnya gue naek Air Asia, direct to Jakarta.

Janji ke dua sulit terlaksana. Takutnya malah suka.

Apa gue nyium si Dini aja ya? Aman. Gue pasti gak suka. Secara doi pasti rasa tutut.

Tapi harus ngantri nungguin doi ngasih makan bayi.

Ya udah gue cium suaminya aja deh. Soniboni kan hidungnya gemes pengen gigit-gigit. Mumpung Dini sibuk ngurusin bayi. Hihihi.

Atau langsung aja janji ke tiga? Naek kereta ekonomi ke Jogja, berbagi kursi bertiga bersama ibu-ibu jawa dan anaknya. Langsung gue cium aja tuh ibu. Peduli amat ayam, kambing, dan chiki berteriak astaga. Kan mereka gak bayar 28 ribu.

Jangan ah. Kasihan kalau si ibu jantungan.

Atau anaknya aja?

Ah anaknya cowo. Eh apa cewe ya?

Cowo ah.

Tapi kok kaya cewe?

Confusion of gender.

Semoga 49 hari lagi, gak ada lagi begini-beginian.

Tragedi Komedi

Seorang ahli nuklir dengan kostum yang terlihat seperti edisi revisi dari karakter-karakter di Apollo 13 terlihat di TV dalam acara Another Berita Krisis Nuklir.

Ganti channel.

Seorang bapak berjaket ungu tua jongkok sambil megang pisau lipat. Di depannya seseorang menyirami benda di tangannya dengan air keran dari selang pink kusam made in china. Kerumunan polisi memenuhi lingkaran dalam garis kuning. Sisnya pharus puas nonton di luar.

Sabung ayam?

"Inilah detik-detik menjelang bom meledak," kata si anchor TV dengan wajah seserius mungkin.

Oh, menjinakkan bom.

Close up tangan berbekal pisau menarik sebuah kotak kecil putih dari dalam buku bercoak.

Sedetik berikutnya layar TV dipenuhi warna abu-abu bergoyang-goyang hitam dengan musik latar 'boom' dan 'aaaaaaaaaaaaaaaa'.

Booomm. Aaaaaaaaaa.

Diulang lagi.

Booomm. Aaaaaaaaaa.

Booomm. Aaaaaaaaaa.

Booomm.

Aaaaaaaaaa. Ini acara berita atau video DJ?

"Bom hanya meledak sekali. Ini hanya pengulangan video, bukan bom meledak berkali-kali," kata si anchor berusaha serius.

Booomm. Aaaaaaaaaa.

Booomm. Aaaaaaaaaa.

Booomm.

Aaaaaaaaaa. Ternyata benar tragedi itu komedi. Apalagi di tangan televisi yang tak tahu bagaimana menyajikan fakta tanpa musik mendayu-dayu.

Adegan berikutnya Kasat Reskrim terbaring di tempat tidur berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Angle kamera dari arah depan, menghalangi gerak suster.

Bukunya tentang apa?

Apa yang akan kita lakukan berikutnya?

Di mana tim Gegana?

Tidak penting karena ini bukan berita. Ini cuma pengisi slot yang ongkos produksinya lebih murah dari reality show.

on Relationship

He's perfect. Cina, Katolik, kaya. Mama papa pasti suka.

Dia langsung suka sejak pertama ketemu. Sama-sama arsitek. Seleranya nyambung.

Delapan tahun mengejar, baru setelah s2 akhirnya mereka bersama.

Bersama-sama mereka membangun mimpi bersama. Tidak usah besar, yang penting punya kita.

Tapi rasa itu tidak lagi ada. Delapan tahun ternyata bukan keinginan hati sebenarnya, mungkin tercampur keinginan menyenangkan mama papa.

Bertemu jadi terasa biasa saja. Mungkin dia cuma bosan.

Mungkin dia memang membosankan.

Mungkin memang bukan dia.

Dia curhat pada sahabatnya. Sahabatnya curhat pada dia. Mereka tertawa bersama.

Tanpa sadar, hidupnya tidak lagi membosankan. Lamban. Tapi tidak pernah membosankan.

Sebuah CD dari sahabatnya tiba-tiba begitu istimewa.

Ternyata ini yang namanya cinta. Tanpa bunga dan kata-kata, tapi penuh tawa.

Dia Islam, Jawa, dan gak lulus-lulus juga. Mama Papa pasti gak suka.

Tapi bersama dia, dia tertawa.

400 ribu

Lama mereka tidak bertemu. Tidak ketika anaknya lahir. Tidak ketika lebaran tiba.

Tapi ketika suatu hari BBM dia bergambar sebuah crocs ungu biru seharga 250 ribu, mereka kembali bertegur sapa.

Di toko 650 ribu.

Ternyata crocs palsu lebih menyambung tari silaturahmi dibandingkan lebaran tiba.

My life in 5 seconds

Sebelum mati, katanya orang akan menoton kelebat hidupnya dalam 5 detik.

Gue ntar nonton apa ya?

Gue ingat beberapa momen bahagia.

TK, bikin drama tanpa skenario. Mereka ikut-ikut aja gue suruh ngapa-ngapain. Gak mau digencet ama anak komandan.

Kurang ah. Durasinya cuma 5 detik nih. Harus lebih penting.

Menang fashion show karena jalan gue terlihat anggun. Ada behind the scenenya. Ternyata bando gue mau jatuh dan emak gue ketua juri.

Kurang ah.

Bingung ngeliat si guru memberi rapor kursus bahasa inggris sambil senyum-senyum bangga. Biasanya dia paling jutek kalo liat gue yang bego ini.

Ternyata gue tiba-tiba ranking tiga.

Ternyata gak perlu pintar untuk ranking tiga. Cuma perlu rajin ngerjain PR dan mengulang-ngulang pelajaran.

Kurang ah.

Lari-larian di padang di belakang chica. Badan chica masih lebih besar, jadi gue nurut aja.

Ih, itu sih memori menyeramkan.

Sebulan di jakarta pas opung meninggal, masak nasi di depan rumah opung bersama sepupu-sepupu. Bahagia berasa tua.

Kurang ah. Why would I remember me happy being old?

Kelas 4 SD di Medan, dibeliin baju Bugs Bunny baru menggantikan bajuku yang turun temurun chica. Jadi kaya anak jakarta. Gue pake ke mana pun gue pergi.

Ihhhh. Jangan yang itu. Gak mau inget.

Masa sih gak ada yang special di masa kecil gue? Padahal gue termasuk beruntung karena bisa melihat Sabang ampe Merauke. Sementara banyak teman-teman yang hanya bisa mengira we were happy during Suharto.

Burung nuri warna-warni di hutan papua gak special?

Atau rujak di tepi pantai ambon yang banyakan bumbu dari buah?

Finding Nemo seujung jari?

Ternyata gue cepat lupa.

Hari ini apa yang mau gue lakukan dengan hidup gua? Membuat another gerakan-gerakan tak istimewa yang akan segera gue lupakan?

It's not how many breath you take. It's how many moment that take your breath away.

Itu film apa ya?

Lupa.

Selasa, 15 Maret 2011

Art School Confidential

Ada ketua himpunan yang gak terlalu ganteng, tapi digemari wanita. Semua wanita pasti suka, kalau saja dia gak nyadar dia digemari.

Ada si model Close Up yang sempurna secara visual tapi tidak secara oral. Kadang dia ramah, lebih sering dia lupa siapa kita.

Ada the gay guy in a closet. Cewenya gonta ganti tapi gak bisa horny.

Ada si mantan pemudi mesjid yang dulunya berjilbab. Sekarang pacarnya dua. Satu di Bandung, satu di kampung.

Ada anak juragan daerah bermobil toyota, paling keren di daerahnya.

Ada anak jakarta yang dulunya gak pernah jadi ketua. Sekarang dia arus bicara lebih banyak.

Ada mantan NEM tertinggi sepropinsi yang sekarang kawin muda.

The angry lesbian.

Ada mantan juara bulutangkis yang salah jurusan.

Dan gue? Siapa gue?

Si penulis wannabe yang diam dan mengobservasi.

Arus Balik

Amerika krisis. Lapangan kerja berkurang. Warga asing dipulangkan.

Warga Singapura pulang kampung, butuh kerja. TKI-TKI dipulangkan.

Warga Indonesia pulang kampung, butuh kerja. Siapa yang mau dipulangkan?

Tenaga kerja asing malah tambah diminati. Dari begitu banyaknya sutradara Indonesia, yang dipake Malaysia.

Bukan waktunya mengeluh, mungkin si Malaysia lebih bagus?

Inferior Complex.

Ama Malaysia?

Hahahaha.

Jadi kita kerja apa? Terlanjur dipecat dan dipulangkan.

WNI di Jepang dipulangkan.

WNI Kairo dipulangkan.

Libya.

Arab.

Arus balik semakin banyak.

Kita butuh kerja. Kita butuh makan.

Tak cukup bertanam cabe dan bawang di belakang rumah?

Tak cukup. Kita kan butuh handphone.

XL punya malaysia. Telkomsel punya singapura.

Oh esia saja. Truly Indonesia.

Biar kita bikin kaya sesama orang Indonesia.

Siapa yang kaya raya?

Bukan korban Lapindo, pastinya.

Bebe

Bebe... bebe... bebe, ohhh...

Bebe bebe bebe nooo

Bebe bebe bebe ohhh

Bebe, katanya kamu smart phone, tapi kok makin hari makin bego?

Padahal BBM groupku cuma tiga lho. Jadi kamu gak bisa beralasan aku kebanyakan nge-group.

Aplikasi yang kuinstall pun cuma standar remaja masa kini: facebook, YM, dan twitter.

Tapi kamu tetap bego. Kunanti dan kunanti, lingkaranmu masih berputar-putar pura-pura loading. Page yangkutunggu tak juga muncul, malah sebuah kotak hitam bertuliskan error bla bla bla.

Bebe bebe bebe ohhh

Kau mau kuganti I phone?

Apa? Sama saja?

Mungkin ini bukan salahmu. Mungkin jaringan internetnya yang gak stabil. Maklum seratus ribu sebulan.

Bebe bebe bebe ohhh

Mana janjimu mana sumpahmu? Katanya kamu mau connecting people?

Eh itu sainganmu ya? Sekarang dia susah payah bikin handphone berkamera HD menyambut aspirasi para filmmaker wannabe, tapi kamu tetap lebih dicintai.

Walau diterpa badai pornografi pornoaksi dan berbagai macam undang-undang bodoh ciptaan entahlah yang mengancam BBM dipadamkan.

Walau kamu sama bodohnya.

Bebe bebe bebe ohhh...

Mungkin suah saatnya aku kembali kepada htc ku yang cantik dan curvy, tak seperti kamu yang kaya handphone bapak-bapak.

Tapi takut terasing dari gosip-gosip BBM.

Bebe bebe bebe ohh....

I thought you’d always be mine.

Bibik

Namanya Minah. Atau Suminah?

Dia sendiri gak tahu. Di KTP tertulis Suminah.

Gue menyebutnya Bibik. Sejak tiga tahun terakhir, bibik menggantikan bibik-bibik lain yang silih berganti dicereweti Mak Gondut. Bibik ini berbeda. Bibik ramah, lemah lembut, dan sabar menghadapi tiga tuan muda: Boni, Bonyet, dan Mariyuana.

Datang dari Pamulang ke Bandung untu menjadi pembantu. Bertemu anak setahun sekali selama dua minggu. Tahu-tahu anak sudah masuk SMA.

Kembarannya masih di kelas 3 SMP.

Tiap hari mereka bangun jam 5, siap-siap ke sekolah naik angkot sejam karena sekolah mulai jam 7.

Tiap hari Bibik harus keluar 10 ribu per anak untuk ongkos angkot pulang balik.Uang masuk sekolah 300 ribu. Seragam dan ini itu sekian ratus ribu.

Kenapa gak sekolah di deket rumah aja? Kan ada SMA swasta.

Sebulan bisa seratus ribu. Kalau di negeri, bisa minta keringanan. Walau harus sepuluh ribu sehari.

Gaji bibik habis hanya untuk ongkos sekolah.

Mengharapkan tambahan dari ayahnya yang di Jakarta tidak bisa.

Dulu waktu si ayah muda, jualan rujaknya laku. Jadi si ayah bisa kawin lagi. Sekarang sudah tua, jualan tak selaris dulu. Harus bagi dua pula ama istri muda.

Tahun ini dia mau sebulan puasa di kampung, sekalian mengurus tanah yang mau dijual anak Pak Lurah.

Padahal dulu bibik sudah bayar uang surat ke pak lurah lama. Sekarang pak lurah lama sakit-sakitan, surat belum juga jadi. Tanah malah dijual orang.

Memang cuma 14x6 tapi cuma itu yang Bibik punya. Hasil tidak bertemu anak bertahun-tahun jadi TKI. Selama 15 tahun hidup anaknya, cuma tiap lebaran mereka bertemu.

Kenapa Bibik gak bertani aja? Biar sedikit, kan bisa tinggal sama-sama anak.

Malu.

Piracy

Federal Warning: Piracy Is A Crime.

Itu kan di negara anda. Di negara saya, pembajakan itu mulia. Siapa lagi yang bisa mendidik bangsa selain karakter-karakter di DVD bajakan? Para pemimpin yang mjeng di televisi tidak mampu menggugah hati kami walaupun dengan senyum tulus di iklan 2 milyarnya.

Kota Kembang is our MIT. Semua judul DVD dapat kami akses dengan hanya 5000 rupiah saja. 7000 kalau di jakarta. Anda tahu berapa yang harus kami bayar kalau ke pusat film negara kami?

Kalau gak dapet di kota kembang, bisa buka internet. Working Girlsyang dibuat Lizzie Borden saat saya masih balita pun ada.

www.filetube.com

Ini kaya you tube tapi bisa didownload. Susah kalau nonton di youtube. Maklum internet negara kami tak bisa lebih cepat dari militernya. Bisa keburu manula kalau harus nunggu streaming you tube.

Download gratis hanya bermodal kesabaran menanti film yang telah dipecah sepuluh kembali bersatu sebelum bisa ditonton. Kalau gak mau nunggu, ya bayar saja 50 ribu sebulan. Lebih murah dari harga DVD terbitan Paman Sam.

Pengen nonton cin(T)a? Kalau yang ini masih bisa ditonton di youtube. Yang upload bangsa sendiri.

Selain menguntungkan filmmaker, pembajakan pun menguntungkan banyak pekerja yang diserap industrinya: pembuat DVD, preman, penjual, dan polisi.

Berapa banyak yang dirugikan? Para produser film tentunya. Tapi hanya Jerry Bruckheimer dkk. DVD Indonesia nggak dibajak.

Tapi kok cin(T)a ada di Glodok?

Ya gak apa-apalah satu dua. Cuma pelu sedikit bumbu positif thinking, simsalabim, piracy turns into flattery.

Ingatlah betapa kita telah dididiknya. Tanpa dia, kita harus puas menonton film di TV yang tak mengerti kita.

Filmmaker harus lebih kreatif untuk mencari uang. Toh pendapatan terbesar filmmaker masih dari bioskop dan TV. Lupakanlah DVD. Begitu DVD keluar, yang beli DVD hanya segelintir mahkluk berbudaya dan berharta.

Jadi bagaimana agar kita tetap bisa nonton berbagai film impor tapi filmmaker tetap kaya raya?

1. Biarkan film kita dititipi produk-produk yang membayar mahal untuk dibuatkan film

2. Biarkan film kita disisipi pesan-pesan propaganda calon presiden pemilu berikutnya

3. Biarkan suami kita menafkahi lahir batin dan rela mendanai walau film kita hanya ditonton 100 ribu orang

4. www.cookafilm.com

Ahmadiyah Dilarang

Gubernur Jawa Barat resmi melarang Ahmadiyah.

Apa yang akan terjadi ke Mesjid Ahmadiyah? Tampaknya tidak ada tanda-tanda pembubaran diri.

Gue duduk-duduk di sebelah mesjid, menikmati pizza coklat pisang ditabur es krim vanilla.

It's just like any other day. Paling yang beda ada tiga land cruiser polisi nongkrong di parkiran.

Maybe it's not just any other day for them.

Mungkin mereka gak bisa menikmati pizza, walaupun di sebelah rumah.

“Mereka duluan yang menganggap Islam lain sesat,” kata salah satu teman mendukung tindakan gubernur.

Bagaimana dengan Mormon, Bapak Gubernur? Mereka juga bilang Kristen lain sesat.

Boleh gak saya minta mereka dilarang juga?

Eh jangan deh. Ntar Tuhan sedih. Sesama orang berdosa dilarang saling menghakimi.

Bahkan bus kota saja tahu aturan. Nggak saling mendahului.

Jangan sampai kita kalah sama bus kota, Pak.

Mau dikategorikan Kristen Protestan untuk kemudahan administrasi provinsimu yang gak maju-maju ini juga nggak apa-apa. Toh sama-sama ciptaan Tuhan.

Tuhan terlalu cool untuk bisa dihina ciptaannya.

Ignorant Generation

Fukushima dievakuasi. Biar Rusia Cina dan Korea yang panik. Gue mau ke Plaza Indonesaia.

Ahmadiyah dilarang. Selama gue bisa berdoa dan berpaduan suara, terserah mereka. Siapa suruh bilang Yesus mati di Kashmir?

SBY gak jadi reshuffle kabinet? Whatever. Ganti mentri juga sama aja.

Itu siapa yang bikin iklan tolak kongres tandingan PSSI d TV? Gak bisa milih font.

Megawati gak mau dipanggil KPK, dan mengirim dua dayangnya. Biarinlah. Kasian gak disayang suami.

Si century apa kabar ya? Oh ibu itu dihukum 10 tahun. Emang dia siapanya century ya?

Aril 3 tahun ya? Tak ada peter pan, sm*sh pun jadi.

BBM mau naik? Gue kan udah punya fixie.

Indonesia mau free trade ama australia? Ngaruhnya apa ya ke gue?

Pajak film sebenarnya gak naik? Kok Black Swan tetap gak maen? Ya sudah gue nonton di home theater baru gue aja.

Afrika dijadiin tempat percobaan obat Eropa? Biarlah. Daripada gue takut terus kena AIDS.

Libya masih ribut aja? Kok gak ganti-ganti nih berita.

Mesir juga. Lagi trend ya rusuh di timur tengah?

Gara-gara Amerika?

Dollar 8700? Beli ah. Kalik aja ntar naek lagi.

Mesir masih rusuh ya? Banyak artefak dirampok? Ya sudahlah. Jangan hidup di masa lalu dong. Kita bikin aja artefak baru.

Hah? Gue ignorant, kata lo?

Enak aja lo. Lo tau gak? Gue kan baru bakti sosial banjir bandang di Aceh. Bagi-bagiin sembako. Bagi-bagiin kaos. Lo ngapain coba? Nggak ngapa-ngapain kan? Cuma uh ah uh liatin mobil kapal diseret Tsunami Tokyo. Mana lo tahu di Aceh kebanjiran?

Lo tuh yang ignorant.

Eh tadi mana kaos yang mau gue bagiin? Itu harus dipake ya pas TV dateng. Kalo nggak, biar ada bukti ke pengurus partai.

Gue Mati

Sebuah gambar di belakang truk: seorang wanita berhidung miring yang seharusnya Manohara bersama tulisan Janda Kelantan, dengan setengah wajah tercoret merah.

Darah gue.

Kepala gue tertancap di bumper belakang yang sudah membengkok akibat ditabrak dengan kecepatan 120 km/jam di turunan.

Bibir gue tetap tersenyum, walau sudah tercampur karat. Darah mengalir ke dada.

Kursi belakang mendorong kursi depan, mendorong dagu, mendorong klakson.

Klakson mengiringi bunyi teriakan dan raungan sirene.

Atau di dasar Samudera Pasifik ditemani ikan-ikan bertulang transparan? Badan gue melayang di antara biru yang semakin biru, lama-lama hitam.

Atau meledak di udara di antara kumulus? Serpih-serpihan gue terjun pelan-pelan.

Satu mendarat di antara bunga-bunga. Satu dilindas angkot. Satu di sarang beo. Satu di bulu kucing. Dijilat, masuk ke lambung.

Atau termutilasi menjadi 16 bagian di tanah kosong belakang bekas pabrik?

No, I don’t see how I’ll end up there.

Atau di kamar mandi, terbaring dengan mata terbelalak dan kepala terbelah. Lantai yang tadi biru sekarang merah kekuning-kuningan.

Atau megap-megap di Danau Toba? Gue mencoba berteriak, tapi mereka hanya memandangi heran. Mungkin aku tak bersuara, karena paru-paru sudah dialiri air Danau Toba, mengambil tempat di mana oksigen seharusnya bekerja.

Atau di rumah sakit, sendirian dan kesepian berharap cucu-cucu datang? Atau berkhayal andaikan dulu punya cucu.

My death plays like movie scenes. Too much death in DVD's lately.

Mungkin gue akan menniggal sambil notnon film, sendirian, berpkir I have 300 something more DVD's to watch. Beli mulu. Nonton nggak.

Entah gue meninggal di awan, di laut, di danau, atau di sarang beo, it's only the end. It's the inbetween that matters.

Thank you for this inbetween. It's been quite something.

But I wouldn't mind a company.

Twitter dan Follower

“Innovation is what distinguishes betwen a twitter and a follower”, tweet Steve jobs.

Edisi revisi dari quote-nya sendiri: “Innovasion is what distinguishes between a leader and a follower.”

So what distinguishes between a leader and a twitter?

Nothing .

Twitter is the new leader, bahkan SBY pun didikte twitter. Menekan presiden untuk bergerak ketika HKBP diserang. Ketika Ahmadiyah diserang. Ketika Padang kena bencana.

Mubarak, Kaddafi, dkk panik digempur twitter.

Twitter is the new AK 47.

Buku dan koran tak lagi didengar. Kompas Gramedia semakin sulit jualan, harus saingan dengan sastra 140 karakter.

Twitter is the new literature.

Filmmakers, kita tak butuh lagi dana jutaan untuk P&A . Kita gak butuh the Weinsteins Brother.Tinggal tweet dan semua orang langsung tahu tentang film lo.

Tentang kue lo yang baru jadi.

Tentang BB lo yang baru dicuri.

Tentang kolor lo yang mendadak hijau.

Twitter is the new publicist.

Or not?

Di antara begitu banyak berita singkat berlomba-lomba ingin didengar, bisakah kita terdengar?

Kemaren Irfan Bachdim yang didengar. Terus ahli-ahli UFO. Hari ini ahli fisika nuklir. Kapan Irfan Bachdim kembali didengar? Atau he has used up all of his 15 minutes of fame?

You don’t need a good voice to be famous for 15 minutes.

Twitter is the new American Idol.

Tapi kenapa SBY masih ongkang-ongkang kaki? Tidakkah dia gentar melihat nasib Mubarak, Kaddafi, dkk?

Ternyata rakyat internet Indonesia cuma 20%.