Minggu, 25 Oktober 2015

Kawan Papi

Papi senang sekali, pembantu barunya bisa segala.

Sarman dan Darsih sepasang suami istri dari kampung bapaknya Bang Gigit. Sarman dulunya bekas supir truk. Jadi bisa disuruh nyetir, dan bisa diandalkan benerin genteng. Darsih pintar memasak dan menjahit. BH-BH rusak terpakai kembali berkat keahliannya.

Selama Mak Gondut dan Papi ke Eropa, rumah terasa tenang dan damai. Boni dan Manohara dimandikan, dan segala pelosok kebun dirapikan.

Begitu Mak pulang dari Eropa, langsung mereka minta pulang.

"Mami cuma negor dia kalau masak telor jangan banyak-banyak. Nanti gak ada yang makan. Eh dia malah minta pulang,"  tangkis Mak Gondut membela diri.

Walau gue curiga mungkin cara Mak Gondut tidak bersahabat. Sudah berkali-kali pembantu minta pulang, pastinya bukan karena Papi.  Papi selalu bersahabat, tak pernah menganggap pembantu itu pembantu.

"Pembantu itu harus dianggap kawan," kata Papi sambil membelikan mereka kopi dan Indomie.

Tapi tekad Darsih sudah bulat. Dia mau pulang.

"Ya nanti kita cari lagi," kata Papi di tengah-tengah pusing kepala yang entah kenapa sebabnya. Sampai setelah dokter jantung, dokter lambung, dan dokter darah, papi tetap pusing-pusing.

"Atau biarlah Mami yang cari. Papi capek."

Sarman pun gak jadi pulang. Kasian sama Papi.


Tapi cuma tahan sebulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar