Jumat, 24 Januari 2014

Mondang, 1965

Mondang, 18 tahun, tiba-tiba gak jadi ujian akhir. SMA 4 Medan ditutup karena katanya negara dalam keadaan darurat.

Saat itu Oktober 1965. Mondang yang gak terlalu suka sekolah, tidak terlalu peduli saat sekolah diliburkan. Gak mau juga ikut-ikutan membunuhi keluarga komunis seperti pemuda lainnya. Gak juga ikut demo seperti para mahasiswa. Mondang lebih suka di rumah membantu Mamak mengurus 5 adik perempuannya.

Mondang suka belanja di pasar, tidak seperti lelaki Medan pada umumnya yang lebih suka duduk-duduk membicarakan politik. Tapi Mondang gak mau beli ikan lele, padahal lele tahun 1965 besar-besar. Puas melahap tubuh-tubuh tertuduh PKI yang mengambang berdesakan di sungai-sungai perkebunan Sumatera Utara.

Mondang di rumah saja membantu Mamak, berusaha agar uang belanja dari pensiun dini Bapak sebagai bendahara Pos mencukupi di saat-saat sulit pangan ini.

Saat sekolah kembali dibuka, Mondang ikut juga sekolah. Mondang baru tahu betapa bengisnya gerakan kaum tak mengenal Tuhan yang mencongkel mata para Jendral tahun lalu. Karenanya memang sudah seharusnyalah pengikutnya dibunuh tanpa pengadilan. Semua demi keselamatan bangsa yang berketuhanan  yang maha esa ini.

Sejak saat itu kenaikan kelas di Indonesia bergeser ke tengah tahun. Tidak lagi akhir tahun. Dan komunis menjadi bahaya laten yang haram dibaca bukunya.

Mondang lulus dengan nilai biasa saja, dan melanjutkan studi ke fakultas ekonomi. Seperti abangnya. Dan seperti kelak 7 adik perempuannya.

Dua tahun berlalu, sekolah ekonomi semakin menyulitkan keuangan. Iseng mengantarkan teman ujian masuk tentara, Mondang disuruh ikutan tes dengan administrasi menyusul.

"Gampang. Ikut tes aja dulu."

Mondang malah lulus. Si teman jadi petugas kereta api.

Mamak tentu tidak mengizinkan kehilangan anak laki-lakinya masuk ke gerombolan menyeramkan itu. Lebih baik hidup biasa-biasa saja sebagai sarjana ekonomi atau pendeta. Mondang nekat mencuri cincin Mamak dan pergi ke Jawa.

Mondang menjalani pendidikan tentara di Magelang mulai tahun 71. Gratis, malah semua keperluan ditanggung. Gak kaya sekolah ekonomi. Semua perintah ia jalankan tanpa banyak berpikir, seperti memang seharusnya tentara. Jalankan perintah atasan, tanpa pertanyaan.

Tahun terus berganti, pemimpin negara tetap tak berganti, masih dari golongan jalankan perintah atasan. Teman-teman sekolah Mondang ada yang jadi bupati, walikota, menantu presiden, menteri, direktur BUMN, dan segala jabatan  berduit di balik slogan dwi fungsi ABRI. Ternyata dengan menjadi tentara di negeri ini bisa merangkap fungsi sarjana ekonomi.

Jadi tentara juga membawa Mondang berkeliling Indonesia tanpa biaya. Mondang baru menyadari kalau dia suka sekali jalan-jalan, sama seperti Mamaknya. Mamak mengunjungi Mondang ke mana pun dia ditempatkan, dari Natuna sampai Jayapura.

Sudah lupa Mamak soal cincinnya yang hilang. Sudah lupa kalau gerombolan itu menyeramkan.  Foto Mondang dengan seragam berbintang satu dipajang di ruang tamu.

Mondang pensiun masih dengan bintang satu di bahu. Mondang tidak pernah jadi pangdam apalagi dankopassus. Tahun-tahun tentaranya lebih banyak dia habiskan menjadi guru. Setelah pensiun Mondang tetap bisa bertualang tanpa membawa uang ke bagian Indonesia manapun karena pemimpinnya pasti bekas muridnya.

Ke Amerika pun bisa. Selama masih ada atase pertahanan. Mondang tertidur pulas di dalam Broadway saat dijamu muridnya ke sana. Nonton pilim anaknya saja Mondang tidur, apalagi nonton singa dan monyet nari-nari hakuna matata.

Sampai jantung Mondang harus dikateter, di-EPS, di-ring, ablasi, ablabla sehingga jalan-jalan Mondang ditunda dulu. Sekarang Mondang harus puas jalan-jalan dengan kereta api Bandung Jakarta mengunjungi dokter-dokter RSPAD.

"The Act Of Killing?" tanya Mondang heran kepada anaknya yang menceritakan tentang sebuah film dokumenter yang mengikuti salah satu veteran Pemuda Pancasila di Medan bernama Anwar Congo.

"Papi gak kenal."

"Masuk Oskar, Pi. Pertama kali orang Indonesia masuk Oskar tapi gak bisa bilang namanya siapa," kata si anak bersemangat menceritakan co-director film itu asli Indonesia. "Papi mau nonton?"

"Ah nanti sajalah. Dua tiga hari lagi," kata Mondang tak bersemangat. Baru 2 jam yang lalu jantungnya dimasuki kabel-kabel panas. Belum waktunya menonton film walaupun katanya ada muka si Samsul, teman Mondang yang dulu gubernur.

Sekarang dipenjara.

Lebih baik nonton TV. Ada istri tetangganya dulu curhat karena dihina-hina rakyat akibat main Instagram sementara Sinabung darurat.

"Zaman Suharto itu, gak akan pernah ada yang berani ngehina Bu Tien. Besoknya pasti sudah hilang," komentar Mondang menyesali adik kelasnya yang dia anggap kurang wibawa.

Anak Mondang hendak mengeluarkan berbagai bantahan.

Gak jadi.

Biarlah Papi tidur tenang dengan pikirannya sendiri. Bu Ani dan para korban Bu Tien punya jalannya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar