Kamis, 06 Februari 2014

Sejuta

"Mbak ini ya duitnya," kata si asisten sambil senyum-senyum. Mungkin malu juga hanya memberi upah sejuta untuk sutradara.

Seharusnya gue juga tidak mau dibayar hanya sejuta sebagai sutradara. Tapi entah kenapa gue bahagia. Padahal sejuta itu sama saja tidak dibayar, udah habis buat makan dan taksi lima hari di jakarta.

Mungkin karena gue masih butuh approval. Gue dibayar orang lain untuk jadi sutradara. Biasanya gue membayar diri sendiri. Di zaman yang enterpreneur lebih keren dari pegawai ini, sisa-sisa jiwa haus approval guru ternyata masih tertanam di jiwa.

Mungkin karena produsernya sudah banyak berjasa. Menolak berarti gue terpotong akses dari berbagai kebaikan dan keseruannya.

Mungkin gue suka dikelilingi seniman-seniman muda bertalenta. Gue baru sadar ini pertama kalinya gue menyutradarai yang bukan pertama kali main film. Ternyata jam terbang memang mempermudah kerja sutradara.

Mungkin karena gue emang demen nyuruh-nyuruh dan menikmati berasa superior waau hanya di set saja.

Mungkin karena gue suka bercerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar