Rabu, 02 Juli 2014

Naomi

“Bagus ya Selamat Pagi Malam itu. Yang Papi paling senang karakternya Naomi,” kata Papi setelah selesai makan sate daging-dagingan yang diwanti-wanti mami penyebab kanker usus tapi tetap dimakan papi. 

Sate gelatin gue teronggok di kerongkongan, lupa ditelan. Ikut kaget mendengar Papi suka Selamat Pagi Malam, apalagi sampai bisa menyebutkan nama karakternya. 

Naomi.

Biasanya papi tidur kalau nonton film, tapi yang ini bisa ingat?

“Biasanya papi tidur kalau nonton film, tapi yang ini Papi nonton sampai akhir.”

Gelatin masuk ke lambung gue dengan bahagia, bercampur dengan endorphin dan hormon-hormon terharu.  Papi yang tentara orde baru  bisa melekat dengan karakter Naomi. Luar Biasa.

“Mainnya pun bagus si Naomi.”

Gue sudah hendak menelepon Marissa. Atau Lucky. Mengabarkan prestasi ini yang lebih mengharukan dari tangisan penonton manapun.

“Papi senang sekali dia akhirnya menikah sama laki-laki. Ya memang jatuh cintanya sama perempuan, tapi ya memang menikahnya sebaiknya dengan laki-laki.”

Ow.

Gue tertawa terbahak-bahak, tidak jadi whatsapp Lucky.

Ternyata papi masih tetap tentara orde baru. Dilatih bermanuver dan melobi cantik tanpa menyinggung masyarakat.


“Papi mau sate lagi?”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar