Jumat, 04 Juli 2014

24 Jam Terakhir

“Kalau hidup lo tinggal 24 jam, dan lo bisa ketemu siapa aja, lo bakal ketemu siapa?” tanyanya di ruang tunggu dokter malam itu.

Gue berpikir sejenak. Hanya sejenak. Malas lama-lama.

“Gue di rumah ajalah, nonton DVD.”

Bahkan bukan DVD. Donlotan. Gak perlu bergerak sedikit pun untuk membeli.

“Siapa aja. Selebriti juga bisa.”

Gue masih di rumah.

“Lo bisa multiply diri. Gak harus ketemu satu orang.”

Gue masih di rumah.

Dia pun mulai bercerita tentang 24 jam terakhirnya yang ternyata dihabiskan dengan gosip-gosip nyampah bersama teman baiknya, dan multiply diri ketemu om-nya di sebuah kota kecil di Sumatera Utara yang mungkin tidak lagi mengenali dia. Terakhir ketemu ketika dia masih kecil banget, belum berjerawat dan bertetek.

Lalu suster memanggilnya. Dia masuk tanpa mengajak gue. Gue sama sekali tidak tersinggung dan mulai mencari  kol goreng Mc Darmo yang berjelaga tapi sedap rasanya.

Seharusnya gue sudah bisa menebak, dia bertanya bukan tanpa sebab. 

Setelah ayam, tahu, tempe, dan rokok 2 batang barulah dia mulai bercerita. Dokter menyuruhnya  tes penyakit yang menurutnya memalukan.

Sebagai wanita dengan banyak teman waria, gue tidak kaget atau menghina. Banyak teman gue yang kena, dan hidup normal tanpa cela.

“Bokap gue kalau tahu gimana?”

“Ya nggak usah kasih tahu.”

Dia menambah rokok ke tiga.

Ke empat.

Ke lima.

Sampai tidak ada lagi sisa.

Dia mengira-ngira siapa yang menularkannya. Mungkin si Filipino sialan yang  secara impulsif dia tiduri tanpa pengamanan. Baru menyesal ketika sadar ada rash kulit di punggungnya. 

“Kalau HIV tuh rash kulitnya kaya apa sih?” katanya sambil googling-gooling.

“Temen-temen gue yang HIV sih kayanya gak pada punya rash ya.”

“Ada tauk,” katanya sambil terus menelususri gambar.

“Gue harus ngasih tahu semua pacar gue gak ya? Yang sepuluh tahun terakhir aja.”

“Aduh gue gak kebayang deh pasti drama. Emang ada berapa?”

“Gak sampai 20 sih.”

“Gak usah deh.”

“Tapi kalau gue jadi mereka, gue sih pengen tahu.”

“Ya udah besok aja dipikirinnya. Belum tentu positif juga kan?”

“Iya sih.”

Dia melirik kotak rokoknya, menyesal sudah habis. Hiburannya kali ini hanya gue.

Gue cuma mendengarkan, gak berusaha menenangkan. Mungkin mati bukan hal terburuk dalam hidup.

Besok kita nonton DVD seharian.


Eh donlotan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar