Minggu, 29 Agustus 2010

Teks, Estetika, dan Selangkangan

Teks dan estetika. Dua mantra yang memandu para juri membaca film nominasi untuk diberi piala. Salah satu juri berbagi cerita dengan salah satu pemenang di sebuah kedai kopi di Kemang.

Teks: lo mau ngomong apa?

Estetika: lo ngomongnya gimana?

Teks tanpa estetika jadinya khotbah. Estetika tanpa teks jadinya sirkus, bukan film.

Dia menjelaskan kenapa film kami yang dipilih menjadi pemenang skrip terbaik. Padahal waktu penjurian terpaksa juri-juri disuruh nonton di rumah masing-masing karena audio film kami bikin budeg telinga. Padahal film kami hanya rekaman orang ngobrol sambil pindah-pindah setting. Padahal film kami sebenarnya lebih menang di cerita, bukan di skenario.

Malam minggu gue berubah jadi kursus kilat semiotika film A to Z dalam 2 jam. Kuliah warung kopi bagaimana membuat film yang baik ini ternyata bisa dirangkum dalam 2 kata:

kegelisahan.

kejujuran.

Dua hal yang membuat Sumanjaya gatal melihat OKB.

Membuat Teguh Karya gerah menjadi Cina.

Membuat Djenar mengeksplor selangkangan.

Membuat Nia Dinata diusik poligami.

gelisah dan jujur.

It sounds simple. Tapi kenapa begitu banyak bakat yang mencoba dan gagal?

Karena jujur itu menyakitkan banyak orang. Tidak ada yang suka digugat. Digugat itu menyakitkan. Dan menggugat itu juga membuka celah untuk disakiti.

Tapi melegakan.

Contohnya salah seorang cerpenis yang baru datang bergabung. Karyanya gelap, menyiarkan luka lama ke seluruh dunia. Tapi karyanya mengobati lukanya. Sekarang lukanya sudah kering, membuat dia menjadi pribadi jujur apa adanya yang bisa bilang "gue cerpenis, penulis cerita penis" di depan irjen film dan jajarannya tanpa malu-malu. Si Irjen yang jadi malu-malu.

"Gue orgasme pertama kali tuh ama cewe," katanya setelah pria-pria di dekade usia 12-14 tidak mampu memuaskannya.

Gue membayangkan gue di umur 14. Ciuman aja belum. Apalagi orgasme.

Cerpenis hidup tanpa penis selama satu setengah tahun. Akhirnya capek dan kembali ke penis setelah sadar kalau lesbi di Indonesia itu terlalu posesif.

"Ntar kabari ya lo doyannya laki atau perempuan," katanya nakal saat gue pamit pulang. Udah jam 2 malam, tampaknya obrolan belum menujukkan tanda-tanda berakhir. Anak cupu ini udah rindu kasur.

"Gue yang bayarin," katanya sambil berusaha menyelipkan lima puluh ribuan gue kembali ke kantong. Gagal menemukan kantong celana, diselipkanlah ke belahan dada.

Teks, Estetika, dan Selangkangan: membuat film begitu menggairahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar