Senin, 08 April 2013

My Own Dystopia

"Film ini rawan banget looknya kejebak jadi  kaya film-film Dystopia 90an ya. Terminator. Robocop. Underworld...

"Underworld sih masih bagus ya," kata salah satu aktor gue.

Dystopia? Gak mau ketahuan gak tahu, gue langsung cek cek google, my savior.

Definition of DYSTOPIA
1: an imaginary place where people lead dehumanized and often fearful lives
2: anti-utopia

"Nggak akan kok, makanya lo ikutan aja hunting lokasi. Ntar kalau lokasinya udah ketemu, elemen-elemen lain akan mengikuti,"  kata gue mengutip aktor gue lainnya. Sudah 3 lokasi didatangi: hutan hijau bersungai bergua dan berkuburan batu, tempat pembuangan sampah akhir dengan sampah plastik sejauh mata memandang, dan gunung tempat penambangan batu dengan mesin-mesin. Belum ada yang memenuhi dystopia versi kita.

Working with 2 visual artists yang perfeksionis, sutradara diteror untuk lebih bervisi dan berimajinasi kalau gak mau didemo pemain di tengah shooting.

Ayo, sutradara. Bayangkan. Dalam beberapa ratus tahun ke depan, dunia akan menjadi seperti apa?

Dunia tinggal diisi segelintir wanita dan bencong. Laki-laki udah pada mati karena perang, bunuh diri kalah pemilu, atau mati ketimpa billboard kampanye sendiri. Mungkin masih ada Papi dan cowo-cowo non patriarki tersisa, tapi budget gue cuma buat 3 karakter, jadi anggap sajalah mati semua.

Dunia udah gak lagi berpohon. Udah jadi tempat pembuangan sampah buat planet-planet lain. Atau tanahnya abis ditutupin kuburan? Atau simply tandus tak berkehidupan? Yang tersisa hanya segelintir manusia yang menguasai Energi Terbarukan dan budayanya tidak tergantung bahan bakar fosil.

Atau mungkin Danau Toba meledak lagi, jadi 60% populasi dunia punah dan bumi diselimuti musim dingin selama 6 tahun? 40% persen yang tersisa ini siapa saja?  Mereka yang gak tinggal dekat Danau Toba? Tentunya mereka yang punya teknologi pemanas yang gak tergantung PLN karena PLN udah menghancurkan diri sendiri karena tak ada lagi minyak dan gas yang menghidupi. 

Atau mereka yang lemaknya tebal? Bah udah keburu mati kurang kardio.

Atau mereka yang  gak butuh makan banyak karena makanan udah pada abis?

Atau mereka yang bisa makan sesama manusia?

Atau binatang-binatang yang tahan api?  Kecoa?

Mereka yang punya teknologi sejenis kapal Nuh versi volcano resistant?

Lebih seru Bahtera Nuh! The Cube floating in a dystopian world. Nah, selama 6 tahun musim dingin, bukannya bekerja sama menghadapi bencana,  para penghuni Bahtera Nuh ini kemudian saling bertarung satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan.

Jadilah sisanya tinggal para wanita, anak-anak, dan bencong.

Mereka mengembangkan sebuah teknologi yang bisa menghidupkan manusia kembali seperti layaknya pohon. Hanya saja tidak sembarangan orang bisa dihidupkan kembali karena mereka takut kalau orang-orang penjahat bumi akan dihidupkan kembali.

Kenapa Gale harus dihidupkan?  

Kenapa dia gak boleh menari?
 
Kenapa semua harus mati?

Kenapa pohon bisa hidup lagi?

Just wait and see. Ceritanya akan tetapseru walau  endingnya kita sudah tahu.

Pelangi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar