Senin, 01 April 2013

A Little Bit Of Magic

"Tahu Marina Abromovich?" tanya soerang performer yang bellum pernah main film.

Si anak tentara tak berbudaya  menggeleng.

Pina Bausch? Santa Sangre? Suspiria?

Kalau  Black Swan, dia tahu.

Baraka? Akira Kurosawa yang Dreams?

"Iya itu film wajib pas kuliah," kata seorang lulusan Fakultas Film dan Televisi.

Anak tentara menggeleng.

Frida?

Gue mengangguk bahagia. Akhirnya ada juga yang gue tahu.

"Inget scene pas bus-nya ketabrak gak? Itu kan indah banget."

Si lulusan FFTV mengiyakan. Gue lupa.

"Inget scene ending yang di tempat tidur?"

Si lulusan FFTV mengiyakan. Gue lupa.

Dan gue mengaku sutradara.

Kadang-kadang gue merasa kok bisa si anak tentara tak berbudaya ini of all people punya portfolio 2 film panjang, sementara lulusan FFTV yang sangat berbakat dan berbudaya ini  belum. Mungkin emang bikin film gak butuh bakat, cuma butuh nekat.

Gue pulang dibekali Baraka dan Akira Kurosawa. Dan ketika ditonton, gue menganga kagum. Sebentar. Tertidur, sebentar. Dan bangun-bangun mengutuki referensi gue yang sangat Hollywood.

Cek BB, Beberapa email muncul, ternyata dari aktor-ku. Isinya alternatif setting, alternatif kostum, alternatif topeng, dan alternatif awan.

Kalau kata Elia Kazan, tugas sutradara 80% selesai ketika kita memilih aktor yang tepat. In my case, tugas gue 98% selesai karena si aktor datang sepaket dengan alternatif awan. Gue tinggal jaga monitor dan bilang cut.

Semua berkat memilih aktor yang tepat.

Tapi benarkah gue yang memilih?

It's a little bit of magic that takes me here.

More reasons not to put 'a film by sammaria'.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar