Kamis, 11 November 2010

A Healthy Suicide

Hari ini gue mau bunuh diri. Bunuh diri in a healthy way.

Writing.

Sayangnya bunuh diri gue membosankan. Terutama karena karakternya utama ceritanya membingungkan. Dramanya gak jelas. Malu-malu. She is not interesting enough.

Berhubung script ini cerita personal gue, I learn something today about myself.

Gue membingungkan. Gue gak jelas. Gue malu-malu. I am not interesting enough.

Ingin ngotot bertahan dengan visiku sebagai sutradara muda, tapi hati kecilku bekata dia benar juga. She really is not interesting enough.

I really am not interesting enough.

Ouch.

Sekarang gue mengerti kenapa dia gak pernah bikin cerita personal. Lebih mudah bunuh diri daripada menulis jujur.

Gue berusaha mengubah karakter utama, tapi sulit menulis karakter utama yang lebih interesting sementara gue sendiri gak interesting.

Karenanya gue membuat karakter utama yang super lame. That I can do.

Anehnya, my script gets to be more interesting.

Selain lame, ternyata gue juga rempong. Gak rela membunuh all the little darlings dan memilih satu tema saja agar fokus, gue malah bikin 2 film.

1 Resign Club
2 Demi Ucok

Karakternya sama. Sama-sama komedi. Sama-sama tentang pencarian jati diri.

Yang pertama tentang passion. Yang ke dua tentang sexuality.

Lumayan booo jadi dua film. Jadi kita bisa cut ongkos pre produksi untuk produksi film ke dua kita.

Dan dua-duanya tetap personal.

Dua-duanya tetap bunuh diri.

Bunuh diri berkali-kali. Seperti Alain de Botton. Satu-satunya cara biar dia bisa nulis jujur adalah menganggap ini adalah cerita terakhirnya. Habis ini, either he is dead or his career is dead.

And you know what the scary part is?

Ternyata doi gak mati-mati juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar