Jumat, 27 November 2009

roadshow

“Mbak, udah jam 5:30” seru Fitri di sela-sela kokok ayam pagi-pagi.

Hwaaa!!!

Belum mandi. Belum packing. Langsung gue sambar BH, celana disposable, laptop, baju seadanya, dan tak lupa penyelamat hidupku: catokan + hair dryer. Pesawat gue take off in 30 minutes.

Untung bandara Bandung cuma 10 menit dari rumah gue di pagi buta di mana kambing pun belum bangun ini.

Damn! Ternyata hari ini Idul Adha. Kambing udah bangun, siap2 dipotong. Pajajaran ditutup. Jalanan dipake shalat. Arrrrgggghhh... Terpaksa harus muter.

Nyampe airport, loket check in dah tutup. Delikan bulu mataku tak cukup merayu petugas untuk membiarkan gue masuk. Memble. Hanguslah ticket air asia ku yang tak refundable dan tak transfarable itu.

No debatable, aye didepak pulang. Nyoba cari tiket lain, mahalnyooo! Kerana long wiken , semua orang nak pigi kat KL. Mana katanya Indonesia krisis duit? Maaf sangat , eda dohot ito se-singapur dan Malaysia. Nangboru tak jadi datang retreat=C

Apa mau dikata... padahal dah pasang alarm jam 4 pagi. After a series of 4am morning calls, ternyata hari ini gue tepar juga, tak terbangunkan. Mungkin memang ini pertanda harusnya gue tidur saja. Atau harusnya gue di rumah saja, nulis my so long talk about script “Demi Ucok” yang berenang-renang di kepala tapi tak juga bertransformasi jadi file .doc .

Atau gue di rumah aja, ngerjain foro prewed singa – sigit yang tak juga dikerjakan, padahal dah bawa2 hard disc gede keliling Bangkok- medan- jogja- salatiga-surabaya... tapi tetep gak ada waktu untuk ngerjain foto kakakku singa tercinta. Sibuk pijat dan facial=D

Apalah daya. Aku memang wanita lemah. Tak kuat menahan bujukan John Badalu. Di mana lagi facial 16 steps dengan 9 cream warna warni? Di Jakarta biasanya facial jadi siksaan lahir batin. Teriak-teriak berasa disiksa. Beauty is hell indeed. Tapi di Bangkok beauty is heaven, baby!

Thai massage juga sejam cuma Baht 250. Cowo-cowonya lembut, curiga semuanya gay. Benarkah ini akibat mengkonsumsi makanan rekayasa genetika sejak bayi? I have no idea but ... Man! I love this city. I met mostly gay guys. I came to a point that I have to admit: I love gay guys. I think I am a gay guy trapped in a body of a girl.

Nyampe Medan, langsung creambath. Jomplang banget dibanding sensasi 9 krim Bangkok. Kucoba salon lain yang katanya paling oke semedan. Ternyata doi harus dididik bagaimana melayani tamu. Daripada diperlakukan kaya kambing, gue cabut. Dini danti langsung gue kirim SMS SOS, mnta dicarikan salon di jogja biar insiden Medan tidak terulang lagi.

Tak jadilah aku berburu lelaki di medan. Akibat bulu mataku keburu rontok hihihi. Jadi tidak bisa menipu lelaki dengan mata cling cling bersinar menarik hati. Semua gara2 salon asshole yang tanam bulu mata aja gak bisa tapi lagaknya selangit. Tapi gue tetep cinta kota ini berhubung babi dan sate padangnya menyejukkan jiwa. Nyum. Nyum.

4 am morning call di medan, akyu dan sally langsung ke jogja. Entah kenapa semua panitia di jogja langsung menatap dalam mata ini tiap berkenalan. Ternyata semua ini gara-gara DIni. Doi menginstruksikan semua panitia untuk survey tempat bercocok tanam bulu mata paling oke se Jogjakarta. Monyet. Ketahuan deh bulu mata gue rekayasa.

But they did a good job. Salonnya oke. Jadi sutradara terhindar dari low self esteem akibat bulu mata merontok.

Ternyata sampai Salatiga pun gosip terlanjur menyebar. Panitia menatap dalam mata gue. Dasar dini monyet gak demen liat orang cantik. Padahal gue dah sengaja pake batik cantik Rp 35 ribu hasil berburu di Malioboro. Peduli amat kata Danti gue kaya ubur-ubur. Peduli amat panitia menyangka gue ibu-ibu. Yang penting gue berasa kece. Heheheh.

Orang-orang nonton cin(T)a di Salatiga, gue pijit=D

Orang-orang nonton cin(T)a di Surabaya, gue pijit=D

Maklum kan gue di roadshow ini harus banyak berpikir dan meladeni pertanyaan para mahasiswa mahasiswi harapan bangsa yang pintar-pintar ini. Jadi butuh banyak tekanan untuk melegakan urat syaraf=D

Surabaya-Bandung non stop 24 jam si om Pur nyetir. Berkat om Pur pake baju loreng, kite terhindar dari tangkapan beberapa cicak berbuaya.

Nyampe ke Bandung, bela-belain macet2an langsung ngapelin my new Baby, Ayu Riana. Soalnya besok harus ke Malaysia. Gak bakal ketemu doi lagi sampe desember nanti. Ternyata doi gak di rumah.

Memble, aye pulang. Macet lagi di Pasteur. Nyampe rumah langsung tidur. Gak mandi. Gak packing.

Apa mau dikata. Takdir berkata berbeda. Alarm telah menyala, aku ngorok keterusan. Malaysia terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar