Selasa, 07 Desember 2010

Another Fame

1 Desember 2010: hari AIDS sedunia, premiere film WORKING GIRLS.

Sengaja dipilih hari ini karena salah satu film dari 3 film di antologi ini bercerita tentang waria AIDS yang pulang ke kampungnya: Aceh!!! ULFIE PULANG KAMPUNG karya Daud dan Nazyra.

Film ke dua tentang grup kesenian nomaden, Ketoprak Tobong, yang ternyata menjadi Melrose Place ala Jogjakarta. ASAL TAK ADA ANGIN karya Anggi Cecep.

Dan tentunya 5 MENIT LAGI AH AH AH atau 5 MINUTES OF FAME UH UH UH (salah tulis jadi 5 MINUTES TO FAME AH AH AH) karya Sammaria dan Sally ANOMA Sari (ANOMA menambah daftar panjang salah ketik di undangan festival ini). Isi filmnya tentang juara salah satu kontes penyanyi instan ala TV yang merindukan ketenaran baru.

Premier film kami ini dihadiri para undangan festival yang terlalu sibuk untuk datang dan undangan kami: teman, pacar, keluarga, calon keluarga, produser, calon produser, dan tentunya narasumber .

Gue udah nonton film ini berkali-kali, tapi nonton bareng narasumber tetap bikin gue pipis berkali-kali.

Adegan Ayu dipegang-pegang. Adegan teman Ayu hamil 7 bulan. Adegan Ayah marah-marah.

Mereka marah gak ya?

Risih gak liat anaknya dipegang-pegang?

Tersinggung gak dikatain istri sendiri gak bisa ngatur uang?

Sedih gak liat anaknya gak punya mimpi sendiri?

Penonton kebanyakan langsung menyatakan pemikiran gue sendiri, betapa keluarga ini aneh, shocking, dan memerah anak sendiri.

Dengan raga siap dibacok dan hati siap dicecar, gue dekati keluarga ini. Mereka sedang tersenyum bahagia, foto-foto sama artis dangdut idola mereka.

“Mamah mah bukan gimana-gimana... tapi kayanya film kita mah paling menarik ya? Yang lain mah gak menarik,” kata Mamah narsis.

Ternyata mereka suka. Mereka gak ngelihat kalau film ini adalah pertanyaan terhadap gaya hidup mereka. Meeka gak ngeliat ada yang salah. Mereka hanya ngelihat diri mereka yang paling menarik.

Beda dunia?

Beda norma?

Pemikiran gue yang terlalu middle class?

Atau mereka yang teralu narsis untuk melihat fakta?

Gue memilih tidak menghancurkan delusi mereka dan menikmati raga yang tidak jadi dibacok. Ayu dan keluarga pulang ke Bandung dengan bahagia.

Malam ini juga gua seharusnya bahagia karena pujian datang membanjiri. Hinaan juga banyak, tapi mereka lebih memilih menulis atau ngomong ke orang lain daripada bilang ke gue tentunya. Jadi malam ini gue harus puas hanya dibanjiri pujian saja.

Setelah terlalu banyak pujian, sulit untuk kembali memikirkan Riana. Tapi apa yang harus dipikirkan?

Riana tidak merasa haknya sebagai anak sudah terebut. Dia tidak merasa ada hidup lain yang lebih baik dari ini. Riana tidak keberatan kebanjiran berkali-kali (cuma 2 meter kok) Riana tidak ingin film ini dibawa ke komisi anak.

Dia hanya ingin ketenaran baru.

Dan gue hanya ingin bikin film. Bukan ketenaran baru?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar