Rabu, 29 September 2010

CINtA dan cin(T)a

Q film fest gak hanya homo banci dan lesbi aja lho, Cong!

Ada juga sesi human rights. Makanya cin(T)a termasuk dalam jajaran film yang ditayangkan. Bukan karena posternya dicurigai film lesbi karena kulit putih Cina yang lebih mulus dari Annisa.

Gue juga gak tahu menahu ketika poster cin(T)a menghiasi salah satu adegan film pendek di pembukaan Q Film Festival. Dua orang pasangan gay sholat bareng dengan background poster cin(T)a.

Telunjuk kedua gay ini menunjuk. Tauhid. Tuhan itu satu. Sama kaya poster film di belakangnya.

Film cin(T)a sudah melangkah lebih jauh dari pikiran gue, sampai gue tidak berani lagi menyebut guelah pembuatnya. Terlalu banyak kebetulan yang melebihi akal pikiran seorang sutradara.

Contohnya CINtA. Sebuah film pendek tugas akhir yang sidang di hari yang sama dengan launching cin(T)a.

Sutradara mana yang bisa menyuruh salah satu lulusan ter-oke IKJ bikin Tugas Akhir film dengan judul sama?

Sutradara mana yang bisa nyuruh dosen-dosennya bikin sidang di hari yang sama dengan launching film cin(T)a?

Sutradara mana yang bisa membuat Titi Sjuman, Djenar, dan turunan Sjumandjaya lain aware akan keberadaan film buatan sutradara antah berantah?

Tentunya bukan sembarang sutradara.

Mungkin benar Tuhan itu sutradara, tapi yang pasti sutradara itu emang bukan Tuhan.

Hey Sutradara, terima kasih karena aku sudah boleh lewat-lewat dikit di filmmu ini. I like it so far. I can't wait to see what's next.

1 komentar:

  1. hmmm..berarti benar kata temenku..ada film cin(T)a versi jakarta juga.....tp diproduksi ke dvd gak yahhh mbak??

    BalasHapus