Rabu, 13 Oktober 2010

Sampah Otak

14 days without writing.

I have so many things to write. But this fear keeps shouting: "You are not Oscar Wilde. We don't need your crap."

Padahal semakin gue gak nulis, semakin bertumpuk sampah di otak ini. Sampah yang gak dibuang sehari aja sudah siap diincar tikus-tikus lapar untuk digerogoti, apalagi pikiranku: the home of my lonely restless soul.

No wonder 2 minggu ini gue dihantui keinginan-keinginan tak sampai. Cinta tak sampai. Film tak sampai. Sampai nyetir pun tak sampai-sampai karena Jakarta semakin hari semakin merayap. Solusi si kumis hanya menaikkan tarif parkir 5 kali lipat tanpa menghadiahi kami MRT.

Andaikan mereka baca kaskus. Infrastruktur transportasi se-Jakarta dapat diperbaiki seandainya mereka gak jadi membangun gedung baru yang melengkung indah dan katanya akan menaikkan gengsi negara kita di mata dunia.

Untuk apa menaikkan gengsi di mata dunia kalau kalian tak lagi dihormati rakyat sendiri?

Andai saja kalian baca kaskus, mungkin gak akan bikin gedung melengkung. Gak perlu juga study banding jauh-jauh ke Afrika Selatan. Just google it, and the world is yours.

But you just don't care, do you?

Spechless.

Rakyat kaya apa yang memilih mereka jadi wakilnya?

Rakyat kaya gua tentunya. Yang kalau sampai kepilih jadi legislatif pun mungkin akan tergoda jalan-jalan ke Afrika.

Enough blaming others. Let's blame me. Happiness is in me, right? Change me and the world will change with me. Mungkin ini cuma pengaruh sampah otak yang tak dibersihkan 2 minggu. Membuat gue lebih sensitif. Lebih curiga.

Gue ingin berpikir positif. Kaya Jason Mraz.

Beusaha berpikir positif terus menerus membuat gue semakin negatif.

Jason Mraz tinggal di negara yang pemimpinnya ngurusin warganya (walau bikin sengsara negara lain) Tak heran Jason bisa nyanyi-nyanyi bahagia dan bersenandung indahnya dunia. Kapolrinya gak terang-terangan mendukung ormas barbar untuk menertibkan rakyatnya.

Who do you think we are, Mister?

I need to blame someone. I need to justify this confusion.

Or maybe I just need to write. Write like nobody reading. Write and write. Cause only words last long after we are all gone.

Pada mulanya adalah firman. Pada akhirnya adalah firman.

Or as Oscar Wilde said: "some things are beautiful because it doesn't last."

Shut up. You are not Oscar Wilde.

Don't believe everything he said. He doesn't.

1 komentar:

  1. kak sammaria.. akhirnya nulis lagi, aku tungguin... hiihi

    BalasHapus