Jumat, 02 Maret 2012

2 Months of Humiliation

Hari Ibu 2011, gue bikin Layar Tancep di Bandung, terbatas untuk cast, crew, orangtua cast&crew, dan teman-teman. Review jelek ada. Review bagus ada.

Yang paling penting adalah Mak Gondut senang lihat filmnya. Kru bahagia.

I have a good feeling we are so gonna go high=D

Dimulailah perburuan gue mencari 10 ribu orang yang mau ngasih gue 100 ribu biar Demi Ucok bisa release di bioskop April 2011.

Di bayangan gue, I will make history. Biar gue ajarin tuh orang2 yang mengeluh susah cari duit kalau nyari duit itu gampang. Banyak cara. Lo doang yang loser, kebanyakan drama.

www.demiapa.com dikonsep untuk jadi komunitas. Dikasih personality test dan database manusia berdasarkan kepribadian. Web kita ngasih manfaat lebih buat kalian. Gak cuma buat tahu kami dan dimintain seratus ribu. Lo bisa lebih mengenal diri lo sendiri.

Keren kan website kami?

Ternyata malah jadi bumerang karena web-nya jadi gak fokus. Tes Kepribadian-nya gak jalan, nyari cara buat ikutan coProduser pun sulit.

Now I know that I know nothing about psychology of a website.

Akhir Januari, coPro Demi Ucok baru 3% dari target.

Beda dengan kickstarter.com yang sudah punya sistem pembayaran credit card dan budaya masyarakat yang tidak gagap online. Di Indonesia, ternyata lebih banyak yang ikutan jadi coProduser Demi Ucok tidak lewat online. Harus didatangi satu-satu.

Di ujung Februari, masih 700an. Butuh 9300an lagi untuk sampai 10 ribu.

Di ujung Februarui, gue menjadi salah satu orang yang mengeluh susah cari duit. Nyari duit itu gak gampang. Gak banyak cara. Gue jadi loser kebanyakan drama. Mending nyari 1M dari 1 orang daripada dari 10 ribu orang.

*tarik nafas panjang...

Ya udah kita mauin deh tawaran si Bapak yang mau nge-blow up film ini. Lelah begging 100 ribu ke orang. Malu ditolak. Gak mungkin kita bisa ngumpulin 9300 orang dalam 1 bulan.

Atau kita turunin aja angkanya? Jangan 10 ribu, kebanyakan. Kita tayang pake format digital aja, terbatas di beberapa kota.

Ya udah panjangin aja waktunya. Kalau 2300 orang per bulan masih mungkin kan?

Hmmmm... gak terlalu bikin sesak nafas.

Ayo kita perpanjang perburuan sampai Juni 2012=D

Hhhhhh... agak lega dikit.

Tiba-tiba muncullah situs-situs lain. Ada patungan.net dan WujudlkanID.com

Ternyata memang susah ya nyari uang yang tidak menyetir orang? Bahkan untuk sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana masih harus crowdfunding.

Ah andai saja mereka lebih cepat datang, seharusnya gue ikutan mereka aja. Gak perlu susah2 bikin web sendiri.

Tapi Demi Ucok beda dengan film-film lain yang melakukan crowdfunding untuk mendanai filmnya. Crowdfunding ini sudah menjadi bagian dari cerita di dalam film Demi Ucok itu sendiri. Si karakter Glo mencari 10ribu orang yang mau ngasih 100 ribu agar dia bisa mendanai film yang udah dia omongin dan gak pernah buat selama 4 tahun ini.

Dengan cerita yang integrated dengan cara pendanaan dan promosi, gue kira ini jadi cara baru promo yang unik dan menyenangkan untuk film ini.

The idea of communal funding is heart warming and brings smile to a hopelessly optimistic romantic.

Setelah 2 bulan, hhhh.....

Nafas lebih panjang...

No more smile on my face.

Tapi gue kembali tersenyum dan bersyukur gue memilih cara crowdfunding ini.

Jatuh bangun, gue jadi yakin online tidak lagi jadi andalan. Twitter, Facebook, dan Web hanya jadi tambahan.

It's the era of personal touch.

Kami harus kemballi ke pendekatan satu-satu dan bergantung pada hubungan antar manusia.

Sudah terbukti ada 2 film sepi penonton padahal jadi trending topic di twitter. Twitter and facebook can tell you things, but it doesn't move your heart (and your ass) to go and see a movie.

What will?

We don't know yet.

Banting setir, we'll go offline. Satu demi satu acara kecil kami datangi. Melelahkan dan lambat.

For now. Still waiting for the exponensial curve... the tipping point...

Kalau gak sampai tipping point?

Tetap bersyukur.

Gue melihat investasi yang lebih dari sekedar uang di tim gue. Mereka jadi lebih humble, hardworking, grateful, dan menyenangkan.

Prinsipnya:
Kalau gak menyenangkan, jangan dikerjakan.
Kalau kebayang akan gagal, berarti masih kurang sibuk.

Kesimpulannya:
nilai positif crowdfunding: filmmaker lebih mengenal penontonnya
Nilai negatif cowdfunding: cape... jiwa dan raga. Selling a film is all about humiliation.

Kalau lo bukan Riri Riza dan Mira Lesmana, crowdfunding ini bukan jalan gampang. Lebih gampang nyari 1M dari 1 orang daripada 10 ribu orang (sejauh ini udah ada 2 produser yang menawarkan untuk mendistribusikan Demi Ucok tanpa gue harus cape-cape crowdfunding)

Tapi gue akan jadi filmmaker memble yang gak percaya mimpi.

I am a dreamer and I am not the only one. At least gue tahu udah ada 725 lainnya.

Masa sih gak ada 9275 orang lain yang masih simpati ama mimpi dan para pemimpi?

Di draft akhir film Demi Ucok, karakter Glo akhirnya tidak berhasil mengumpulkan 100 persen dana untuk filmnya.

Film 'Demi Ucok' ini diakhiri dengan kalimat "somehow it's enough =D"

Enough dalam artian apa? Apakah Glo tetap berhasil bikin film dengan dana segitu? Apakah gak berhasil bikin film tapi Glo tetap puas? Enough seperti apakah yang dialami Glo?

Jangan diceritain dulu ya, nanti spoiler.

Kalau Sammaria? Akankah Sammaria berhasil mengumpulkan 10 ribu orang untuk filmnya?

Tuhan, jangan diceritain dulu ya. Nanti spoiler.

Tapi Sammaria sudah tahu semua hussle ini akan diakhiri dengan sebuah kalimat.

"Somehow it's enough..."

9275 coPro, come to Mama=D

1 komentar:

  1. suruh dua orang yang nawarin blow up 35mm itu untuk bookingin blitz. undangin tuh temen2 mereka yang bermandikan harta sampe 1 studio penuh. dagang 100 ribu tuh sama mereka... siapa tau jadi banyak peluang di sana

    BalasHapus