It took me a feature movie and endless travelling to answer it. Why does it take me so long for a simple yes or no question?
I was so afraid that my NO will hurt this movie… and above all, you.
It’s not because I think that you are not qualified enough to be my partner in life. God knows how tempting you are to me. It’s me. I am a very weak and selfish person. I am incapable of loving anyone, even you, forever and ever till death do us apart. My love will definitely fade away some day.
That’s why I need a (T) in my cinTa (Indonesian word for love). (T) is the only one who could strengthen me to stand by him through his weaknesses, entertain me through my incidental boredom of marriage, and comfort me not to take divorce as an option no matter how hard it gets.
And I don’t believe your love, or any love will last. I need a man who loves God more than he loves me. Otherwise, he will just leave this stupid weak girl eventually.
OK. I know you love God too, just in a different way. You think it is ridiculous that we cannot be together. But I happen to love singing in the church, and the idea of a God that is more like a father, and I need a partner who see Him as a father. It’s just like I cannot marry anyone who loves partying all night because I am more of a stay home person. It doesn’t mean that partying is bad, it’s just not for me.
The different lifestyle makes me uncomfortable. I need a guy who I can pray with every morning. I need a guy who refers to the same book for our problems. Because no matter how hard I try to tell myself that we are the same, we are not.
Despite my NO, I do believe that God creates us differently for a beautiful reason, not to make myself feel better than others. And I am very grateful that God let me get to know you. If you can see through my eyes, you will see how blessed I feel just to spend an afternoon of absolutely nothing with you.
Thank you. I love you. I always will.
Tampilkan postingan dengan label cin(T)a. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cin(T)a. Tampilkan semua postingan
Minggu, 20 September 2009
Round and round and round....
Setelah nonton adegan Cina dan Annisa ngomongin agama di sebuah mainan puputeran , banyak penonton pusing. Sangkin pusingnya, ada yang ngusulin supaya adegan itu dihapus saja.
Akhirnya dipotong dari 4 menit ke 2 menit, tapi gak boleh dihapus! Karena emang gitu yang gue rasain kalo ngobrol tentang banding-bandingin agama. Puter-puter terus di tempat yang sama, dan ujungnya cuma bikin pusing. Hal lain menjadi semakin blur, yang jelas bagi kita cuma diri kita sendiri. Dalam situasi ini, yang bisa kita lakukan hanya melihat ke Atas, dan tersenyum mensyukuri sinar matahari yang masih bisa dinikmati.
“Kalau lo nggak bisa nyelesaiin konflik yang jau di sana.. the least you can do, jangan bikin konflik baru di sini deh!” seru Annisa mengakhiri puputeran tanpa ujung.
Akhirnya dipotong dari 4 menit ke 2 menit, tapi gak boleh dihapus! Karena emang gitu yang gue rasain kalo ngobrol tentang banding-bandingin agama. Puter-puter terus di tempat yang sama, dan ujungnya cuma bikin pusing. Hal lain menjadi semakin blur, yang jelas bagi kita cuma diri kita sendiri. Dalam situasi ini, yang bisa kita lakukan hanya melihat ke Atas, dan tersenyum mensyukuri sinar matahari yang masih bisa dinikmati.
“Kalau lo nggak bisa nyelesaiin konflik yang jau di sana.. the least you can do, jangan bikin konflik baru di sini deh!” seru Annisa mengakhiri puputeran tanpa ujung.
5.1
“Krrralau tttujuh pulruh mrrenit fffilmnya langggsung happpprrry endrrring, ntar garrkkk serrrru,” tutur robot Annisa sambil memeluk cyborg Cina pada saat premiere cin(T)a di Blitz Bandung.
Buyar sudah kenangan nikmatnya menonton cin(T)a dengan suara bening dan gambar jernih seperti pertama kali menyaksikan cin(T)a di layar lebar National Film Theater London. Premiere di Bandung jadi special edition banget karena... Annisanya blasteran Jawa – Transformer!#?!
Itu cuma sebagian kecil dari cacat suara akibat sutradara bego gak tahu kalau encoding suara dari stereo ke 5.1 itu beresiko tinggi gagal. Akibatnya satu setengah jam premiere menjadi lebih menegangkan dari nonton film action dan menyengsarakan buat sutradara dan produser cin(T)a yang berpelukan duduk di barisan depan dengan posisi ‘get a room’. Tiap suara delay dan Annisa merobot, sutradara menangis-nangis sambil menggigiti produser yang coba menenangkan sambil juga meraung-raung bersama.
But the show must go on! Film gak bisa diberhentikan. Dan sutradara gak boleh keluar,dipaksa menyaksikan her baby transformed into some sci-fi robotic movie. Habislah si produser biru-biru digigiti sutradara selama 79 menit pemutaran.
Untungnya hari itu yang menghadiri premiere adalah keluarga dan calon keluarga kru dan cast, kaum-kaum ‘terpaksa nonton’ yang gak akan mencela film ini karena besarnya cintanya pada kami, filmmaker-filmmaker bodoh ini. Jadinya gue masih punya waktu seminggu sebelum cin(T)a dillepasin ke piranha-piranha film Indonesia minggu depan !
Sejak hari itu sutradara punya hobi baru: Test screening.
Tiap jam 8 pagi sebelum Blitz buka, dan jam 1 pagi setelah Blitz tutup, sutradara terlihat berkeliaran di Grand Indonesia dengan mata hitam tanpa bantuan eye liner. Bahkan pernah suatu hari test screeningnya disusul sprint naek busway ke Blok M di mana wartawan-wartawan udah pada nunggu untuk press conference.
Sammaria terlambat 5 menit, gak sempet pake eye liner, keringetan, bau terminal, dan langsung disambut dengan tuduhan menghina Tuhan dan berusaha membuat agama baru oleh salah satu wartawan. Ngiiik...
Diakhiri dengan tidak jadinya interview cin(T)a ditayangkan di dua televisi nasional Indonesia karena produser mereka merasa isu cin(T) a terlalu sensitive. Batallah program cari jodoh Sammaria di media nasional.
Ditambah dua surat dari organisasi masyarakat kepada LSF yang menyarankan agar cin(T)a ditarik dari peredaran, pemutaran cin(T)a terancam ikutan dibatalkan.
Selain lulus sensor, cin(T)a juga harus lolos test screening Blitz. Kualitas suaranya sudah lebih mendingan dibandingin pas premiere Bandung, tapi masih belum lolos standard screening komersial Blitz.
“Kalau Tuhan mengizinkan, biarlah film ini ditayangkan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa.”
Sammaria, Kunyil, dan Kunyir: tiga mbak-mbak pencari jodoh dengan dalih promo cin(T)a cuma bisa pasrah.
“Masa sudah tiga kali test screening gak lulus juga?” kata si Kunyil nyinyir di suatu pagi buta sepulang test screening, berusaha menirukan salah satu adegan cin(T)a yang di-dubbing si Kunyir. Si Kunyir yang disangka sudah tidur tertawa tanpa suara di pojok sana.
Akhir cerita, trimbakentir tetap tertawa. Some invisible hand save their kere ass from trouble. Pihak Bllitz setuju menayangkan cin(T)a dengan suara stereo walau dengan resiko harus terus merubah setting karena setting cin(T)a tidak standard.
Untungnya filmnya laku, jadinya Blitz agak heppi dikit. Dan untungnya Cina dan Annisa cakep, jadi banyak penonton yang masih mentolerir kualitas suaranya yang kadang-kadang mendem di beberapa studio.
Banyak juga sih yang galak... huhuhu maafkan.
Next time... when we have more money... and more knowledge... and more wisdom... I’ll make sure we have a proper sound man. Janji gak bikin pusing sound editor lagi.
Tapi kalo gak bikin biru-biru pak produser, gak janji ya... Karena ternyata enak juga gigit-gigit produser... Nyum... nyum... krauk...=D
Buyar sudah kenangan nikmatnya menonton cin(T)a dengan suara bening dan gambar jernih seperti pertama kali menyaksikan cin(T)a di layar lebar National Film Theater London. Premiere di Bandung jadi special edition banget karena... Annisanya blasteran Jawa – Transformer!#?!
Itu cuma sebagian kecil dari cacat suara akibat sutradara bego gak tahu kalau encoding suara dari stereo ke 5.1 itu beresiko tinggi gagal. Akibatnya satu setengah jam premiere menjadi lebih menegangkan dari nonton film action dan menyengsarakan buat sutradara dan produser cin(T)a yang berpelukan duduk di barisan depan dengan posisi ‘get a room’. Tiap suara delay dan Annisa merobot, sutradara menangis-nangis sambil menggigiti produser yang coba menenangkan sambil juga meraung-raung bersama.
But the show must go on! Film gak bisa diberhentikan. Dan sutradara gak boleh keluar,dipaksa menyaksikan her baby transformed into some sci-fi robotic movie. Habislah si produser biru-biru digigiti sutradara selama 79 menit pemutaran.
Untungnya hari itu yang menghadiri premiere adalah keluarga dan calon keluarga kru dan cast, kaum-kaum ‘terpaksa nonton’ yang gak akan mencela film ini karena besarnya cintanya pada kami, filmmaker-filmmaker bodoh ini. Jadinya gue masih punya waktu seminggu sebelum cin(T)a dillepasin ke piranha-piranha film Indonesia minggu depan !
Sejak hari itu sutradara punya hobi baru: Test screening.
Tiap jam 8 pagi sebelum Blitz buka, dan jam 1 pagi setelah Blitz tutup, sutradara terlihat berkeliaran di Grand Indonesia dengan mata hitam tanpa bantuan eye liner. Bahkan pernah suatu hari test screeningnya disusul sprint naek busway ke Blok M di mana wartawan-wartawan udah pada nunggu untuk press conference.
Sammaria terlambat 5 menit, gak sempet pake eye liner, keringetan, bau terminal, dan langsung disambut dengan tuduhan menghina Tuhan dan berusaha membuat agama baru oleh salah satu wartawan. Ngiiik...
Diakhiri dengan tidak jadinya interview cin(T)a ditayangkan di dua televisi nasional Indonesia karena produser mereka merasa isu cin(T) a terlalu sensitive. Batallah program cari jodoh Sammaria di media nasional.
Ditambah dua surat dari organisasi masyarakat kepada LSF yang menyarankan agar cin(T)a ditarik dari peredaran, pemutaran cin(T)a terancam ikutan dibatalkan.
Selain lulus sensor, cin(T)a juga harus lolos test screening Blitz. Kualitas suaranya sudah lebih mendingan dibandingin pas premiere Bandung, tapi masih belum lolos standard screening komersial Blitz.
“Kalau Tuhan mengizinkan, biarlah film ini ditayangkan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa.”
Sammaria, Kunyil, dan Kunyir: tiga mbak-mbak pencari jodoh dengan dalih promo cin(T)a cuma bisa pasrah.
“Masa sudah tiga kali test screening gak lulus juga?” kata si Kunyil nyinyir di suatu pagi buta sepulang test screening, berusaha menirukan salah satu adegan cin(T)a yang di-dubbing si Kunyir. Si Kunyir yang disangka sudah tidur tertawa tanpa suara di pojok sana.
Akhir cerita, trimbakentir tetap tertawa. Some invisible hand save their kere ass from trouble. Pihak Bllitz setuju menayangkan cin(T)a dengan suara stereo walau dengan resiko harus terus merubah setting karena setting cin(T)a tidak standard.
Untungnya filmnya laku, jadinya Blitz agak heppi dikit. Dan untungnya Cina dan Annisa cakep, jadi banyak penonton yang masih mentolerir kualitas suaranya yang kadang-kadang mendem di beberapa studio.
Banyak juga sih yang galak... huhuhu maafkan.
Next time... when we have more money... and more knowledge... and more wisdom... I’ll make sure we have a proper sound man. Janji gak bikin pusing sound editor lagi.
Tapi kalo gak bikin biru-biru pak produser, gak janji ya... Karena ternyata enak juga gigit-gigit produser... Nyum... nyum... krauk...=D
Sabtu, 19 September 2009
menonton penonton
Juli dan Agustus gue lewati tanpa menulis. (Good job for someone who wish to be a writer someday) Juli dan Agustus gue diisi dengan menonton penonton cin(T)a di berbagai tempat, monopoli microphone di tiap diskusi dengan harap2 disuruh nyanyi, dan mengurangi populasi unggas dan babi di berbagai pelosok dunia yang mengundang gue muterin cin(T)a. Wauahahhahhahah alhasil program “amazing sammaria, truly asia” gue ditunda karena tidak bisa tampil singset pas premiere.
Juli dan agustus jadi roller coaster terseru di hidup gue, menggeser posisi magic mountain di Anaheim yang efek thrillingnya cuma tahan 5 menit. Ternyata ada lhooo yang mau nonton film cin(T)a. Di atas kertas kotretan produser2 hantu masa kini, film beginian mustahil ada yang nonton. Pemainnya cuma 2 dan entah siapa; produser dan semua krunya baru pertama bikin film; gak ada adegan seks, kekerasan, maupun seks dalam kekerasan; ngomonginnya suku agama ras dan IP sepanjang film... mak! Malas kali pun muda mudi Indonesie ‘ni menonton film macam tu. Untung sutradaranya cantik dan pandai merayu.
Makanya pas tiket cin(T)a sold out di mana-mana, gue diserang rasa takjub sekaligus bersalah. Takjub karena ternyata God Is Really A Director. Cin(T)a adalah bagian kecil dari skenario besar Doi yang jauh lebih seru. Merasa bersalah karena ternyata tagline “God Is A Director” tidak mampu menggambarkan kreativitas Doi. Ternyata God Is A Producer juga. A Promo Manager juga. A Marketing Executive juga.
God is everything... and nothing....
Hahaha... I’ve heard that before, but never could understand the nothingness bullshit. How come anything be nothing and everything at the same time? It took some people a calm and quiet minute to understand. It took me 24 months of hectic movie production , long debates, and endless travelling to actually understand that God is nothing and everything. I guess some Batak are just too stubborn to understand things in serenity.
Respon cin(T)a sangat beragam. Ada yang menyebut gue titisan Yasmin Ahmad. Ada yang bilang gue titisan tukang sampah dan sebaiknya gak usah ada. (Berhubung gua dari Bandung di mana tukang sampah sangat dibutuhkan, I took that as a compliment hehehe) Yang lebih menarik dari menonton cin(T)a ya memang menonton penontonnya. Menonton penonton cin(T)a seperti menonton Indonesia sepuluh tahun ke depan. Karena dalam 10 tahun, orang2 inilah yang akan megang Indonesia.
Bertemu dengan para penonton cin(T)a, gue jadi semakin tenang. Hilang semua kemarahan dan pahit hati yang membensini gue untuk bikin cin(T)a. Mereka tidak selalu setuju dengan gua, dan masih ada juga manusia2 galak yang kupingnya cuma asesoris, tapi setidaknya kebanyakan kuping ternyata masih dipakai untuk saling mendengarkan.
I have a feeling God is smiling watching all of us here.
Juli dan agustus jadi roller coaster terseru di hidup gue, menggeser posisi magic mountain di Anaheim yang efek thrillingnya cuma tahan 5 menit. Ternyata ada lhooo yang mau nonton film cin(T)a. Di atas kertas kotretan produser2 hantu masa kini, film beginian mustahil ada yang nonton. Pemainnya cuma 2 dan entah siapa; produser dan semua krunya baru pertama bikin film; gak ada adegan seks, kekerasan, maupun seks dalam kekerasan; ngomonginnya suku agama ras dan IP sepanjang film... mak! Malas kali pun muda mudi Indonesie ‘ni menonton film macam tu. Untung sutradaranya cantik dan pandai merayu.
Makanya pas tiket cin(T)a sold out di mana-mana, gue diserang rasa takjub sekaligus bersalah. Takjub karena ternyata God Is Really A Director. Cin(T)a adalah bagian kecil dari skenario besar Doi yang jauh lebih seru. Merasa bersalah karena ternyata tagline “God Is A Director” tidak mampu menggambarkan kreativitas Doi. Ternyata God Is A Producer juga. A Promo Manager juga. A Marketing Executive juga.
God is everything... and nothing....
Hahaha... I’ve heard that before, but never could understand the nothingness bullshit. How come anything be nothing and everything at the same time? It took some people a calm and quiet minute to understand. It took me 24 months of hectic movie production , long debates, and endless travelling to actually understand that God is nothing and everything. I guess some Batak are just too stubborn to understand things in serenity.
Respon cin(T)a sangat beragam. Ada yang menyebut gue titisan Yasmin Ahmad. Ada yang bilang gue titisan tukang sampah dan sebaiknya gak usah ada. (Berhubung gua dari Bandung di mana tukang sampah sangat dibutuhkan, I took that as a compliment hehehe) Yang lebih menarik dari menonton cin(T)a ya memang menonton penontonnya. Menonton penonton cin(T)a seperti menonton Indonesia sepuluh tahun ke depan. Karena dalam 10 tahun, orang2 inilah yang akan megang Indonesia.
Bertemu dengan para penonton cin(T)a, gue jadi semakin tenang. Hilang semua kemarahan dan pahit hati yang membensini gue untuk bikin cin(T)a. Mereka tidak selalu setuju dengan gua, dan masih ada juga manusia2 galak yang kupingnya cuma asesoris, tapi setidaknya kebanyakan kuping ternyata masih dipakai untuk saling mendengarkan.
I have a feeling God is smiling watching all of us here.
Jumat, 22 Mei 2009
cin(T)a goes to UK
Dengan rahmat syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, telah sampailah kita ke saat yang berbahagia (walaupun ternyata sama saja seperti hari-hari lainnya)...
cin(T)a goes to UK.
Perjalanan agak panjang mencari tiket untuk memberangkatkan cin(T)a akhirnya berbuahkan hasil. Salah satu mantan pejabat papan atas ibu kota akhirnya tergerak hatinya untuk membantu ekspor beberapa produk unggulan Indonesia ke UK.
Komoditas yang diekspor adalah...
Budi Sasono, the DOP... fungsinya jadi kameramen biar kami punya footage video yang layak untuk disalurkan ke beberapa televisi.
Sunny Soon, mewakili actors department... sekaligus jadi tukang potret keliling memastikan kita punya foto yang layak untuk berita.
Ardanti Andiarti, the publicist... ngakunya sih mau bikin news feed untuk cin(T)a, tapi sepertinya ada agenda cinta yang lain.
Dina Dellyana, the musician... ceritanya sih mewakili homogenic, tapi kalo kita sampai kere kurang duit kayanya doi yang pertama laku dijual. hihihi.
Sammaria Simanjuntak, the director... buat dipajang di depan mengobati luka hati fans saira jihan yang gak ikutan ke london.
Sementara itu Dini Dellyini akan ditinggal di Indonesia buat jaga kandang, agar produk-produk ini bisa diekspor ke tempat lainnya di Indonesia dan mancanegara.
Belum berangkat, sudah ada larangan menonton film ini dari beberapa komunitas. Katanya film ini menghina Tuhan.
God, please...
kalau memang film ini menghina Dirimu, tolong jangan biarkan film ini ditayangkan.
tapi kalau Kau memperbolehkan ditayangkan, tolong undang beberapa ciptaan-Mu yang berdada bidang dan berkulit gelap dan bukan simanjuntak untuk nonton. hihiy=P
And if anything happens, please save me from your followers.
Galak-galak abisnya. serem=P
cin(T)a goes to UK.
Perjalanan agak panjang mencari tiket untuk memberangkatkan cin(T)a akhirnya berbuahkan hasil. Salah satu mantan pejabat papan atas ibu kota akhirnya tergerak hatinya untuk membantu ekspor beberapa produk unggulan Indonesia ke UK.
Komoditas yang diekspor adalah...
Budi Sasono, the DOP... fungsinya jadi kameramen biar kami punya footage video yang layak untuk disalurkan ke beberapa televisi.
Sunny Soon, mewakili actors department... sekaligus jadi tukang potret keliling memastikan kita punya foto yang layak untuk berita.
Ardanti Andiarti, the publicist... ngakunya sih mau bikin news feed untuk cin(T)a, tapi sepertinya ada agenda cinta yang lain.
Dina Dellyana, the musician... ceritanya sih mewakili homogenic, tapi kalo kita sampai kere kurang duit kayanya doi yang pertama laku dijual. hihihi.
Sammaria Simanjuntak, the director... buat dipajang di depan mengobati luka hati fans saira jihan yang gak ikutan ke london.
Sementara itu Dini Dellyini akan ditinggal di Indonesia buat jaga kandang, agar produk-produk ini bisa diekspor ke tempat lainnya di Indonesia dan mancanegara.
Belum berangkat, sudah ada larangan menonton film ini dari beberapa komunitas. Katanya film ini menghina Tuhan.
God, please...
kalau memang film ini menghina Dirimu, tolong jangan biarkan film ini ditayangkan.
tapi kalau Kau memperbolehkan ditayangkan, tolong undang beberapa ciptaan-Mu yang berdada bidang dan berkulit gelap dan bukan simanjuntak untuk nonton. hihiy=P
And if anything happens, please save me from your followers.
Galak-galak abisnya. serem=P
Senin, 04 Mei 2009
May 4th 2009 : RESIGN CLUB 2nd anniversary
Dua tahun yang lalu gue resign karena pengen bikin film. Film yang beda. Film cin(T)a.
“Cinta lagi?”
“Gak kurang banyak apa yang bikin film cinta? “
“Gak salah lo milih judul?”
“Yang maen Desy Ratnasari ya?”
Berkali-kali gue menjelaskan kalau film gue bukan cinta biasa. Ini cintanya dengan T dalam kurung.
Cin(T)a.
Isinya tentang cinta segitiga antara Cina, Tuhan, dan Annisa.
“Oh... cinta beda agama?”
“Sequel Ayat-Ayat Cinta?”
“Yang jadi Tuhan siapa? Kayanya Alex Komang cocok tuh.”
“Mending judulnya Annisa Di Ranjang Cina, gimana?”
Nih judul gak bisa diganti, walaupun banyak yang wanti-wanti nih film bakalan merugi.
“Tenang aja! Duit mah pasti ngejar gue,” jawab gue dengan sombong-sombong cemas meladeni para pesimistis kapitalis.
“Duit tuh ibarat cewe cantik yang biasa dikejar-kejar. Dia cuma mau ngejar orang yang gak ngejar dia,” sabda ketua Babacan dalam salah satu khotbahnya.
Walaupun kadang ragu datang menyerang. Takutku bilang akankah gagal membayang. Apalagi setelah lima minggu, respons sponsor tak kunjung datang.
Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Untungnya Ronan Keating kembali berdendang, mengajak gue untuk kembali bergoyang.
Cha cha cha... tu wa ga pat....
Dangdut tali kecapi...
biar gendut yang penting seksiii...
Kalau bukan karena uang, kenapa gue masih bergoyang?
A) Karena cape nonton film cinta yang bikin cinta terpolusi dan butuh revitalisasi lebih banyak dibanding Cikapundung.
B) Cape dehhh nyela-nyela film orang, gantian sekarang dicela-cela.
C) Karena gue sering mencintai manusia lebih daripada gue cinta Tuhan.
D) Tadinya mo bikin film hantu. Eh kok jadinya film Tuhan?
E) None of the above.
Dua tahun berlalu sejak gue belajar bergoyang. I used to have money, home, and a job with a name card, but I was always afraid of having no money, no home, no job, and no name card. Now I have no money, no job, no name card, and no fear!
And no one to dance with.
Ada yang berani menemani gue bergoyang? =P
No Simanjuntak, please.
“Cinta lagi?”
“Gak kurang banyak apa yang bikin film cinta? “
“Gak salah lo milih judul?”
“Yang maen Desy Ratnasari ya?”
Berkali-kali gue menjelaskan kalau film gue bukan cinta biasa. Ini cintanya dengan T dalam kurung.
Cin(T)a.
Isinya tentang cinta segitiga antara Cina, Tuhan, dan Annisa.
“Oh... cinta beda agama?”
“Sequel Ayat-Ayat Cinta?”
“Yang jadi Tuhan siapa? Kayanya Alex Komang cocok tuh.”
“Mending judulnya Annisa Di Ranjang Cina, gimana?”
Nih judul gak bisa diganti, walaupun banyak yang wanti-wanti nih film bakalan merugi.
“Tenang aja! Duit mah pasti ngejar gue,” jawab gue dengan sombong-sombong cemas meladeni para pesimistis kapitalis.
“Duit tuh ibarat cewe cantik yang biasa dikejar-kejar. Dia cuma mau ngejar orang yang gak ngejar dia,” sabda ketua Babacan dalam salah satu khotbahnya.
Walaupun kadang ragu datang menyerang. Takutku bilang akankah gagal membayang. Apalagi setelah lima minggu, respons sponsor tak kunjung datang.
Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Untungnya Ronan Keating kembali berdendang, mengajak gue untuk kembali bergoyang.
Cha cha cha... tu wa ga pat....
Dangdut tali kecapi...
biar gendut yang penting seksiii...
Kalau bukan karena uang, kenapa gue masih bergoyang?
A) Karena cape nonton film cinta yang bikin cinta terpolusi dan butuh revitalisasi lebih banyak dibanding Cikapundung.
B) Cape dehhh nyela-nyela film orang, gantian sekarang dicela-cela.
C) Karena gue sering mencintai manusia lebih daripada gue cinta Tuhan.
D) Tadinya mo bikin film hantu. Eh kok jadinya film Tuhan?
E) None of the above.
Dua tahun berlalu sejak gue belajar bergoyang. I used to have money, home, and a job with a name card, but I was always afraid of having no money, no home, no job, and no name card. Now I have no money, no job, no name card, and no fear!
And no one to dance with.
Ada yang berani menemani gue bergoyang? =P
No Simanjuntak, please.
Kamis, 30 April 2009
TIPS BIAR DICINTAI AUDIO COMPOSER
Tips biar gak dimusuhi audio composer: I have no idea. Mas Muhammad Betadikara ini species phlegmatis yang tenang, santai, go with the flow, dan gak juga memusuhi gue sekalipun disuruh mengerjakan pekerjaan satu orkestra sendirian. Hasil kerja setahun John Powell and co. bisa dikerjain Beta and co.mputer hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baru di tengah jalan ada beberapa Strangers yang kebetulan lewat bernama Gugun dan Lanlan ngebantuin Beta. Jadinya sutradara kembali dikelilingi musisi-musisi ganteng... damn. I love this job.
Tadinya gue mo menulis tips bagaimana biar dicintai audio composer instead. Tapi ini juga kayanya gak mungkin deh. ‘Komunikasi intens’ gue dengan bapak audio composer tidak mengalihkan cintanya dari Mustika Ramhatoa. Dikasih nama RahmaTOA bukan tanpa prestasi. Rahmatoa baru nyampe Dago, suaranya dah nyampe Cicadas sangkin kerasnya.
Gue curiga jangan-jangan gendang telinga Beta sudah mengalami infeksi kronis yang sudah menjalar ke otak sehingga Beta tidak lagi mampu menerima sinyal-sinyal cinta dari wanita-wanita normal yang desibel suaranya masih dalam range manusia, bukan toa.
Atau mungkin juga karena si Toa jago merayu. Aku terharu deh baca blog mereka. Please check out http://rahmathya.multiply.com/
Tadinya gue mo menulis tips bagaimana biar dicintai audio composer instead. Tapi ini juga kayanya gak mungkin deh. ‘Komunikasi intens’ gue dengan bapak audio composer tidak mengalihkan cintanya dari Mustika Ramhatoa. Dikasih nama RahmaTOA bukan tanpa prestasi. Rahmatoa baru nyampe Dago, suaranya dah nyampe Cicadas sangkin kerasnya.
Gue curiga jangan-jangan gendang telinga Beta sudah mengalami infeksi kronis yang sudah menjalar ke otak sehingga Beta tidak lagi mampu menerima sinyal-sinyal cinta dari wanita-wanita normal yang desibel suaranya masih dalam range manusia, bukan toa.
Atau mungkin juga karena si Toa jago merayu. Aku terharu deh baca blog mereka. Please check out http://rahmathya.multiply.com/
TIPS BIAR GAK DIMUSUHI SOUND EDITOR
1) Jangan pernah bikin script di mana karakter Batak dan Jawa disatuin!
Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.
Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...
2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.
Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.
I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.
3) Sediakan deodoran
Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.
Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.
Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.
Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.
Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...
2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.
Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.
I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.
3) Sediakan deodoran
Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.
Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.
Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.
Rabu, 29 April 2009
TIPS BIAR GAK DIJUTEKIN EDITOR: Catet Adegan!
“Pasti lo shooting diem-diem deh! “ gugat Anky, the editor, sewot gara-gara banyak footage tanpa keterangan dan catatan. Anky harus ngedit footage 25 jam menjadi 2 jam dengan banyak footage yang diambil diam-diam oleh sutradara tanpa sepengetahuan kru lain. Hihihi.
Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.
What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.
What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.
Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.
“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”
Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.
Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.
What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.
What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.
Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.
“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”
Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.
Annisa-Annisa Di Kontes Kecantikan Ibu Kota
“Gue dah dapet Annisa!!!” teriak Sammaria menggetarkan nyali seluruh penduduk Sembian Matahari Film.
Ruang sempit yang diiisi 4 poster film di salahsatu dinding itu hening beberapa saat. Jangkrik pun berhenti berderik sesaat, ikut tidak percaya dengan pernyataan Sammaria.
Lalu para pejuang tim casting dan jangkrik itu menghela nafas panjang setelah lebih dari 4 bulan menahan nafas akibat tidak juga menemukan sang putri utopia ciptaan Sammaria. Yang ini kurang cantik. Yang cantik kurang pinter. Yang pinter kurang menjual. Yang menjual, kurang kurus.
“Kalo ginian, mending gue yang jadi Annisa!” lanjut Sammaria sambil memamerkan lemak di kiri kanan pinggangnya yang konon dianggap seksi di jaman Monalisa.
Tapi akhirnya pencarian jarum di jerami itu berakhir setelah Sammaria bertemu dengan Rainy.
Rainy memang berbeda dengan cewe cantik lainnya yang mereka casting. Dia tidak hanya pintar, tapi juga charming dan rendah hati. Species wanita langka yang bikin wanita lain ingin mempunahkan demi terjaganya kestabilan stock lelaki.
“Rainy dan Sunny! Kebetulan banget gak sih? Emang udah rencana Tuhan nih kayaknya.” Seru Sammaria euphoria sambil menempelkan data casting kedua pemeran utama pilihannya di board depan ruangan.
Sunny dan Rainy. It’s too good to be true. Bahkan sampe membuat Sammaria percaya ada Tuhan yang cukup kreatif menciptakan dunia ini. Terdengar seperti nama karakter fiktif di sebuah chicklit murahan, cetakan penerbit remaja kodian. Tapi ini bukan fiksi. Sunny dan Rainy akan memerankan tokoh Cina dan Annisa dalam film pertamanya.
“If it’s sunny and rainy at the same time, you’re gonna have a rainbow!” seru sebuah YM dari Winda di ujung kota lainnya.
Sammaria sudah tidak sabar melihat pelangi.
“Kapan kita tanda tangan kontrak ama Sunny dan Rainy?”
“Sabar, Bo. Kita harus nego harga dulu ama mereka,” jawab Mas Adi Panuntun pusing karena pilihan Sammaria ternyata pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota. More money.
Sammaria sudah tidak sabar untuk memulai proses rehearsal. Sunny dan Rainy akan menjadi pasangan yang lebih legendaris dari Cinta dan Rangga.
+++
When it rains, it really does pour.
Rainy mengundurkan diri.
Sammaria masih bengong sendirian sepeninggal Rainy. Sammaria terlihat sangat kecil terduduk di antara dua pilar neo Klasik Campus Center putih ITB yang menjulang tinggi, terpuruk dengan keputusan Rainy. Manusia lalu lalang di depannya. Dunia terus berputar, seakan tidak peduli dengan hidup Sammaria yang berhenti beberapa menit yang lalu.
“Kita semua tentunya ingin film ini mencapai hasil yang maksimal. Karenanya, untuk kebaikan semua pihak lebih baik gue mengundurkan diri daripada gue menjadi penghambat di proyek ini,” tutur Rainy dengan bahasa yang sopan dan diatur hasil polesan setahun menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota.
“Anjing! Lo harusnya ngomong gitu dari dulu pas kita nego harga dan jadwal! Bukan pas shooting tinggal sebulan lagi, goblog!” teriak Sammaria sambil melancarkan turbo kick bertubi-tubi ke dada dan pipi Rainy. Tubuh semampai indah itu terkapar tak berdaya, terjatuh terguling-guling sampai di bawah tangga. Sehabis ini, Rainy pasti tidak bisa melenggang indah di panggung catwalk lagi.
Untungnya Sammaria masih berbudaya.
“Gue menghargai keputusan lo. Tapi coba pikirin lagi,” tutur Sammaria ikutan bijak dengan senyum politik paling tulus yang bisa ia pamerkan. Siapa bilang sutradara tidak bisa akting.
“Ntar gue telepon lo lagi setelah gue pastiin jadwal gue,” jawab Rainy mengakhiri pertemuan mereka.
“Tai! Gue tahu lo gak bakalan berani nelpon gue lagi!” teriak Sammaria sambil memberondong tubuh Rainy dengan AK - 47. Rainy berenang gaya punggung sejenak di udara sebelum akhirnya terkapar jatuh menghantam paving block.
Tapi Sammaria masih berbudaya.
Sammaria terseyum sambil memandangi tubuh 172cm yang semakin lama semakin mengecil, dan menghilang menjadi sebuah titik di kejauhan.
“Dor!” sahut Sammaria lemah sambil mencoba menembak titik Rainy dengan pistol jarinya. Tapi titik kecil itu tetap mengecil dan akhirnya lenyap.
Setetes air mendarat di pipi Sammaria. Sammaria menengadah memandang langit mendung yang seakan-akan turut berduka cita dengan kegalauan hatinya. Beginilah akibatnya kalau bekerja pakai hati. Kalau gagal, rasanya lebih sakit daripada putus cinta.
Kalau putus cinta sih gampang, tinggal cari lagi. Kalau diputusin aktris, lebih susah karena melibatkan waktu masyarakat banyak dan modal yang tidak sedikit.
Lebih banyak tetes air mendarat di pipi Sammaria. Manusia-manusia tidak lagi lalu lalang di depan Sammaria. Semuanya sudah mencari tempat berteduh, tidak sudi rambut salonnya keguyur hujan.
Sammaria tetap terduduk, membiarkan tetes demi tetes rainy membasahi tubuhnya. Kebetulan. Biar air mata yang menetes deras dari matanya tersamar oleh air hujan. Sammaria terlalu banyak terkena Efek Rumah Kaca, membuat hati Melayunya semakin mendayu-dayu.
Sammaria tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Mengangis kenapa? Gara-gara cewe kaya Rainy doang? Kaya gitu doang sih sepuluh juga bisa langsung dapet di pasar.
Tapi pasar mana? Rainy itu sempurna. Air mata Sammaria tambah deras memikirkan proses casting panjang yang harus dia lewati untuk menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy. Lebih baik mati saja.
Sammaria mendekati ujung lantai, siap mementalkan tubuh gempalnya ke lantai dasar.
Untungnya tiba-tiba Sammaria teringat komedo di hidung Rainy.
Memang sepertinya ini petunjuk. Rainy kurang sempurna untuk peran Annisa. Nanti Sammaria gak bisa banyak pake shot close up. Sementara wide shots will cost her more.
Sammaria menghapus air yang terus mengguyur wajahnya. Sammaria needs revenge. Sammaria harus menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy, membuat film terbaik Indonesia, dan mati ketawa melihat wajah penuh penyesalan Rainy saat diundang ke premiere.
Anger really corrupted her soul.
PS: cerita di atas kayanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan tempat peristiwa, mungkin memang disengaja.
+++
It’s rainy day. Hallelujah.
Setelah beberapa hari terpuruk di kamar menangisi kepergian Rainy, Sammaria bangkit.
Yang terpikir pertama kali di benak Sammaria adalah seorang cewe yang juga pernah menang si kontes kecantikan ibu kota sebelum Rainy. Hayu adalah salah satu cewe paling cantik dan anggun yang pernah dikenal Sammaria.
“Hi, I’m a new inbound from India,” sapa Hayu ramah saat pertama kali bertemu Sammaria yang duduk di sebelahnya pada suatu acara Rotary Exchange Program di Jakarta.
Sammaria terkesan dengan inbound India yang cantik dan ramah ini. Sammaria menceritakan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris dengan bersemangat.
“This is combro, our traditional food from West Java.”
“Interesting,” jawab Hayu penuh antusiasme.
Sammaria pun kembali beredar menyapa teman-temannya yang lain yang sudah setahun tidak dijumpainya sejak Rotary ke Amerika.
“Liat deh ada inbound dari India. Cantik banget. Baik lagi,” tutur Sammaria pada Ama sambil menunjuk ke arah Hayu yang sedang tertawa-tawa bersama sekumpulan teman lain. Ternyata selain cantik, dia juga jago bergaul. Baru sampai sebentar di Indonesia, dia sudah punya banyak teman.
Ama menoleh melihat ke arah yang ditunjuk dengan heran.
“Itu kan Hayu, baru pulang dari Jepang.”
Monyet! Ternyata Hayu dkk lagi ngetawain gue. What the hell was I doing explaining combro to an Indonesian... in English???
Cantik, anggun, jago menipu. Exactly the type that would be perfect for Annisa. Tanpa casting, gue tawarin Hayu jadi Annisa.
“Ada adegan ciuman??? Lo mau bikin gue cerai?” reaksi Hayu pertama kali gue tawarin. Damn. She’s married now. Two years too late.
Hayu menyarankan beberapa temannya yang juga jebolan kontes kecantikan ibukota dan satu junior kita di Rotary yang ternyata baru saja menjadi finalis salah satu kontes kecantikan ibu kota lainnya, Saira Jihan.
What’s with all this kontes kecantikan ibu kota? Kenapa somehow mereka yang cocok jadi Annisa adalah mereka yang telah dididik di kontes-kontes ini? Mungkin cuma mereka yang telah merasakan seminggu dikarantina tersenyum inilah yang bisa mengerti senyum Annisa.
Bukan senyum terpaksa. Bukan senyum takut dicela wartawan. Bukan senyum takut dikritik juri. Bukan senyum takut menyinggung perasaan orang lain kalau tidak tersenyum. Tapi bukan senyum yang tulus juga. Senyum Annisa... susah digambarkan dengan kata-kata. Senyum yang menyimpan sejuta misteri dan seribu kepedihan. Seyum yang bikin cowo-cowo pengen meluk dan melindungi Annisa dari segala perih dunia.
Aihhhhh mulai kan gue melayu mendayu-dayu. Gue ajalah jadi Annisa. Senyum doang bisalah gue.
Ruang sempit yang diiisi 4 poster film di salahsatu dinding itu hening beberapa saat. Jangkrik pun berhenti berderik sesaat, ikut tidak percaya dengan pernyataan Sammaria.
Lalu para pejuang tim casting dan jangkrik itu menghela nafas panjang setelah lebih dari 4 bulan menahan nafas akibat tidak juga menemukan sang putri utopia ciptaan Sammaria. Yang ini kurang cantik. Yang cantik kurang pinter. Yang pinter kurang menjual. Yang menjual, kurang kurus.
“Kalo ginian, mending gue yang jadi Annisa!” lanjut Sammaria sambil memamerkan lemak di kiri kanan pinggangnya yang konon dianggap seksi di jaman Monalisa.
Tapi akhirnya pencarian jarum di jerami itu berakhir setelah Sammaria bertemu dengan Rainy.
Rainy memang berbeda dengan cewe cantik lainnya yang mereka casting. Dia tidak hanya pintar, tapi juga charming dan rendah hati. Species wanita langka yang bikin wanita lain ingin mempunahkan demi terjaganya kestabilan stock lelaki.
“Rainy dan Sunny! Kebetulan banget gak sih? Emang udah rencana Tuhan nih kayaknya.” Seru Sammaria euphoria sambil menempelkan data casting kedua pemeran utama pilihannya di board depan ruangan.
Sunny dan Rainy. It’s too good to be true. Bahkan sampe membuat Sammaria percaya ada Tuhan yang cukup kreatif menciptakan dunia ini. Terdengar seperti nama karakter fiktif di sebuah chicklit murahan, cetakan penerbit remaja kodian. Tapi ini bukan fiksi. Sunny dan Rainy akan memerankan tokoh Cina dan Annisa dalam film pertamanya.
“If it’s sunny and rainy at the same time, you’re gonna have a rainbow!” seru sebuah YM dari Winda di ujung kota lainnya.
Sammaria sudah tidak sabar melihat pelangi.
“Kapan kita tanda tangan kontrak ama Sunny dan Rainy?”
“Sabar, Bo. Kita harus nego harga dulu ama mereka,” jawab Mas Adi Panuntun pusing karena pilihan Sammaria ternyata pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota. More money.
Sammaria sudah tidak sabar untuk memulai proses rehearsal. Sunny dan Rainy akan menjadi pasangan yang lebih legendaris dari Cinta dan Rangga.
+++
When it rains, it really does pour.
Rainy mengundurkan diri.
Sammaria masih bengong sendirian sepeninggal Rainy. Sammaria terlihat sangat kecil terduduk di antara dua pilar neo Klasik Campus Center putih ITB yang menjulang tinggi, terpuruk dengan keputusan Rainy. Manusia lalu lalang di depannya. Dunia terus berputar, seakan tidak peduli dengan hidup Sammaria yang berhenti beberapa menit yang lalu.
“Kita semua tentunya ingin film ini mencapai hasil yang maksimal. Karenanya, untuk kebaikan semua pihak lebih baik gue mengundurkan diri daripada gue menjadi penghambat di proyek ini,” tutur Rainy dengan bahasa yang sopan dan diatur hasil polesan setahun menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota.
“Anjing! Lo harusnya ngomong gitu dari dulu pas kita nego harga dan jadwal! Bukan pas shooting tinggal sebulan lagi, goblog!” teriak Sammaria sambil melancarkan turbo kick bertubi-tubi ke dada dan pipi Rainy. Tubuh semampai indah itu terkapar tak berdaya, terjatuh terguling-guling sampai di bawah tangga. Sehabis ini, Rainy pasti tidak bisa melenggang indah di panggung catwalk lagi.
Untungnya Sammaria masih berbudaya.
“Gue menghargai keputusan lo. Tapi coba pikirin lagi,” tutur Sammaria ikutan bijak dengan senyum politik paling tulus yang bisa ia pamerkan. Siapa bilang sutradara tidak bisa akting.
“Ntar gue telepon lo lagi setelah gue pastiin jadwal gue,” jawab Rainy mengakhiri pertemuan mereka.
“Tai! Gue tahu lo gak bakalan berani nelpon gue lagi!” teriak Sammaria sambil memberondong tubuh Rainy dengan AK - 47. Rainy berenang gaya punggung sejenak di udara sebelum akhirnya terkapar jatuh menghantam paving block.
Tapi Sammaria masih berbudaya.
Sammaria terseyum sambil memandangi tubuh 172cm yang semakin lama semakin mengecil, dan menghilang menjadi sebuah titik di kejauhan.
“Dor!” sahut Sammaria lemah sambil mencoba menembak titik Rainy dengan pistol jarinya. Tapi titik kecil itu tetap mengecil dan akhirnya lenyap.
Setetes air mendarat di pipi Sammaria. Sammaria menengadah memandang langit mendung yang seakan-akan turut berduka cita dengan kegalauan hatinya. Beginilah akibatnya kalau bekerja pakai hati. Kalau gagal, rasanya lebih sakit daripada putus cinta.
Kalau putus cinta sih gampang, tinggal cari lagi. Kalau diputusin aktris, lebih susah karena melibatkan waktu masyarakat banyak dan modal yang tidak sedikit.
Lebih banyak tetes air mendarat di pipi Sammaria. Manusia-manusia tidak lagi lalu lalang di depan Sammaria. Semuanya sudah mencari tempat berteduh, tidak sudi rambut salonnya keguyur hujan.
Sammaria tetap terduduk, membiarkan tetes demi tetes rainy membasahi tubuhnya. Kebetulan. Biar air mata yang menetes deras dari matanya tersamar oleh air hujan. Sammaria terlalu banyak terkena Efek Rumah Kaca, membuat hati Melayunya semakin mendayu-dayu.
Sammaria tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Mengangis kenapa? Gara-gara cewe kaya Rainy doang? Kaya gitu doang sih sepuluh juga bisa langsung dapet di pasar.
Tapi pasar mana? Rainy itu sempurna. Air mata Sammaria tambah deras memikirkan proses casting panjang yang harus dia lewati untuk menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy. Lebih baik mati saja.
Sammaria mendekati ujung lantai, siap mementalkan tubuh gempalnya ke lantai dasar.
Untungnya tiba-tiba Sammaria teringat komedo di hidung Rainy.
Memang sepertinya ini petunjuk. Rainy kurang sempurna untuk peran Annisa. Nanti Sammaria gak bisa banyak pake shot close up. Sementara wide shots will cost her more.
Sammaria menghapus air yang terus mengguyur wajahnya. Sammaria needs revenge. Sammaria harus menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy, membuat film terbaik Indonesia, dan mati ketawa melihat wajah penuh penyesalan Rainy saat diundang ke premiere.
Anger really corrupted her soul.
PS: cerita di atas kayanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan tempat peristiwa, mungkin memang disengaja.
+++
It’s rainy day. Hallelujah.
Setelah beberapa hari terpuruk di kamar menangisi kepergian Rainy, Sammaria bangkit.
Yang terpikir pertama kali di benak Sammaria adalah seorang cewe yang juga pernah menang si kontes kecantikan ibu kota sebelum Rainy. Hayu adalah salah satu cewe paling cantik dan anggun yang pernah dikenal Sammaria.
“Hi, I’m a new inbound from India,” sapa Hayu ramah saat pertama kali bertemu Sammaria yang duduk di sebelahnya pada suatu acara Rotary Exchange Program di Jakarta.
Sammaria terkesan dengan inbound India yang cantik dan ramah ini. Sammaria menceritakan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris dengan bersemangat.
“This is combro, our traditional food from West Java.”
“Interesting,” jawab Hayu penuh antusiasme.
Sammaria pun kembali beredar menyapa teman-temannya yang lain yang sudah setahun tidak dijumpainya sejak Rotary ke Amerika.
“Liat deh ada inbound dari India. Cantik banget. Baik lagi,” tutur Sammaria pada Ama sambil menunjuk ke arah Hayu yang sedang tertawa-tawa bersama sekumpulan teman lain. Ternyata selain cantik, dia juga jago bergaul. Baru sampai sebentar di Indonesia, dia sudah punya banyak teman.
Ama menoleh melihat ke arah yang ditunjuk dengan heran.
“Itu kan Hayu, baru pulang dari Jepang.”
Monyet! Ternyata Hayu dkk lagi ngetawain gue. What the hell was I doing explaining combro to an Indonesian... in English???
Cantik, anggun, jago menipu. Exactly the type that would be perfect for Annisa. Tanpa casting, gue tawarin Hayu jadi Annisa.
“Ada adegan ciuman??? Lo mau bikin gue cerai?” reaksi Hayu pertama kali gue tawarin. Damn. She’s married now. Two years too late.
Hayu menyarankan beberapa temannya yang juga jebolan kontes kecantikan ibukota dan satu junior kita di Rotary yang ternyata baru saja menjadi finalis salah satu kontes kecantikan ibu kota lainnya, Saira Jihan.
What’s with all this kontes kecantikan ibu kota? Kenapa somehow mereka yang cocok jadi Annisa adalah mereka yang telah dididik di kontes-kontes ini? Mungkin cuma mereka yang telah merasakan seminggu dikarantina tersenyum inilah yang bisa mengerti senyum Annisa.
Bukan senyum terpaksa. Bukan senyum takut dicela wartawan. Bukan senyum takut dikritik juri. Bukan senyum takut menyinggung perasaan orang lain kalau tidak tersenyum. Tapi bukan senyum yang tulus juga. Senyum Annisa... susah digambarkan dengan kata-kata. Senyum yang menyimpan sejuta misteri dan seribu kepedihan. Seyum yang bikin cowo-cowo pengen meluk dan melindungi Annisa dari segala perih dunia.
Aihhhhh mulai kan gue melayu mendayu-dayu. Gue ajalah jadi Annisa. Senyum doang bisalah gue.
Shooting Is My Purgatory. Simei Is My Paradiso.
After “Taxi Driver”, Scorcese said that shooting a movie was a horrible experience. I couldn’t agree more.
After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!
Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”
Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!
Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.
Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?
Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.
Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.
Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.
Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.
Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.
Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.
Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.
She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.
But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .
But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.
Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.
# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......
After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!
Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”
Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!
Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.
Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?
Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.
Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.
Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.
Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.
Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.
Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.
Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.
She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.
But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .
But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.
Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.
# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......
90% OF MOVIE MAKING HAVE NOTHING TO DO WITH MOVIE
When you come close to selling out, reconsider
Give your heaven above more than just a passing glance
And when You get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Sudah lima minggu gue bolak balik Jakarta. Making a movie is one thing. Distributing it is a lot tougher.
Baru aja baca Rebel Without A Crew. Curang. Robert Rodriguez punya Columbia Pictures, Disney, dan Tristar rebutan buat distribusiin film dia. Jadi habis bikin El Mariachi, dia bisa konsentrasi bikn film selanjutnya tanpa pusing dengan distribusi.
Untungnya gue lahir di Indonesia. Jadinya gue masih harus berjuang lebih banyak lagi.
Launching.
Bioskop.
Roadshow.
Bring it on!
Give your heaven above more than just a passing glance
And when You get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Sudah lima minggu gue bolak balik Jakarta. Making a movie is one thing. Distributing it is a lot tougher.
Baru aja baca Rebel Without A Crew. Curang. Robert Rodriguez punya Columbia Pictures, Disney, dan Tristar rebutan buat distribusiin film dia. Jadi habis bikin El Mariachi, dia bisa konsentrasi bikn film selanjutnya tanpa pusing dengan distribusi.
Untungnya gue lahir di Indonesia. Jadinya gue masih harus berjuang lebih banyak lagi.
Launching.
Bioskop.
Roadshow.
Bring it on!
MY OWN FILM SCHOOL
Cin(T)a is finished. I have one movie in hand, no money, and still a lot of things to learn for my next movie. Film school is no option. It will cost me SGD 55.000 a year just for tuition. Bisa aja sih kalo bokap gue jendral tajir atau something Riyadi. Too bad I am not, so the only way is : I need to make my own film school.
I make my own curriculum. And I chose my own list of teachers.
Film cin(T)a gue kirimin ke para pencipta favorit gue. Yasmin Ahmad,Joko Anwar, Garin Nugroho, John De Rantau, Nia Dinata, dan Enison Sinaro in the directing sections. Ayu Utami and Dewi Lestari in the writing sections. Jalaludin Rahmat, Romo Muji, and Bambang Sugiharto in the spiritual sections.
Thanks to XL gratis SMS setiap hari setelah ngirim 8 SMS, gue jadi bisa setiap hari men’teror’ orang-orang sibuk ini sampai akhirnya luluh mau menonton film gue. Garin Nugroho, Nia Dinata, dan Yasmin Ahmad belum berhasil gue ‘teror’. Tapi selama Mentari masih terbit di timur, dan selama XL masih gratis SMS, teror gue belum akan selesai hihihi=P
Thanks to mereka yang bersedia gue ‘teror’. Now I have a better understanding of what I want to do next. Can't wait for it.
I make my own curriculum. And I chose my own list of teachers.
Film cin(T)a gue kirimin ke para pencipta favorit gue. Yasmin Ahmad,Joko Anwar, Garin Nugroho, John De Rantau, Nia Dinata, dan Enison Sinaro in the directing sections. Ayu Utami and Dewi Lestari in the writing sections. Jalaludin Rahmat, Romo Muji, and Bambang Sugiharto in the spiritual sections.
Thanks to XL gratis SMS setiap hari setelah ngirim 8 SMS, gue jadi bisa setiap hari men’teror’ orang-orang sibuk ini sampai akhirnya luluh mau menonton film gue. Garin Nugroho, Nia Dinata, dan Yasmin Ahmad belum berhasil gue ‘teror’. Tapi selama Mentari masih terbit di timur, dan selama XL masih gratis SMS, teror gue belum akan selesai hihihi=P
Thanks to mereka yang bersedia gue ‘teror’. Now I have a better understanding of what I want to do next. Can't wait for it.
OUR OWN FILM CITY
Jababeka boleh jadi mengakui diri sebagai one stop shopping for filmmaker yang pertama di Indonesia. Tapi kita dah bikin duluan dong! Rumah gue: the jalan Bali nomor 7. It’s our own one stop shopping buat film cin(T)a. Mulai dari akomodasi buat kru dan cast, berbagai alternatif lokasi shooting, fasilitas casting, sampai fasilitas editing ada di the Jalan Bali nomor 7!
Mulai dari kamar Annisa yang cantik dengan tesktur dinding, lantai, sampai langit-langit penuh kayu ramin.. sampai ke kamar Cina yang low budget dengan dinding bata, cat biru murahan, dan lantai tripleks dilapisi karpet meteran... semuanya ada di rumah gue! Semuanya mahakarya Ajo, si tukang sulap yang menyamar jadi art director.
Mulai dari kamar Annisa yang cantik dengan tesktur dinding, lantai, sampai langit-langit penuh kayu ramin.. sampai ke kamar Cina yang low budget dengan dinding bata, cat biru murahan, dan lantai tripleks dilapisi karpet meteran... semuanya ada di rumah gue! Semuanya mahakarya Ajo, si tukang sulap yang menyamar jadi art director.
MULTI TALENTED CREWS
Hari H!
Chief lighting gue menghilang. Sound man gue entah di mana. Kameramen gue mengundurkan diri karena ditawari kerjaan oleh Nia Dinata (Ya iyalahhh... bego aja kalo gak ngundurin diri). Terpaksa Budi Sasono sebagai Director Of Photography merangkap Chief Lighting, merangkap Director of Sound, merangkap kamera operator juga.
Kru gue emang multi talented. Hanya menye2! Cowo2 ganteng ini kagak ada yang bisa nyetir dong! Budi Sasono bisa nyetir, tapi gak punya SIM. Jadi selama shooting cowo-cowo ganteng ini disupiri oleh 2 cewe tangguh: gue dan Erika. Ternyata Miss Jihan juga gak bisa nyetirrr! Padahal ada adegan doi nyetir di film ini.
“Bisa sih. Dulu pernah belajar,” aku Jihan.
Yeah right. Baru jalan dikit, tuh mobil udah ndat nduttt. I can’t risk it. Mobilnya pinjeman dari Danu. Terpaksa semua kru dikerahkan untuk mendorong mobil sementara Jihan pura-pura nyetir. All she had to do cuma neken rem.
Cut! Jihan panik jadinya neken remnya terlalu kenceng. It looks really ugly on screen. Terpaksa ditaruh batu di tempat mobil seharusnya berhenti jadi Jihan gak perlu neken apa pun. Doi Cuma perlu terlihat wajar dan pura-pura nyetir. Huahahha mukanya tegang abis! Untung kaca mobilnya gelap. That’s good enough leh! Let’s move on. We still have 20 scenes to go.
Selain menjadi sutradara, scriptwriter, dan produser... gue juga merangkap menjadi supir, tukang pijit, tukang nyapu, dan kadang-kadang astrada di kala astrada Burhan lagi merangkap jadi boomer. Memang kru-kru film cin(T)a ini multi talented semua;P
Chief lighting gue menghilang. Sound man gue entah di mana. Kameramen gue mengundurkan diri karena ditawari kerjaan oleh Nia Dinata (Ya iyalahhh... bego aja kalo gak ngundurin diri). Terpaksa Budi Sasono sebagai Director Of Photography merangkap Chief Lighting, merangkap Director of Sound, merangkap kamera operator juga.
Kru gue emang multi talented. Hanya menye2! Cowo2 ganteng ini kagak ada yang bisa nyetir dong! Budi Sasono bisa nyetir, tapi gak punya SIM. Jadi selama shooting cowo-cowo ganteng ini disupiri oleh 2 cewe tangguh: gue dan Erika. Ternyata Miss Jihan juga gak bisa nyetirrr! Padahal ada adegan doi nyetir di film ini.
“Bisa sih. Dulu pernah belajar,” aku Jihan.
Yeah right. Baru jalan dikit, tuh mobil udah ndat nduttt. I can’t risk it. Mobilnya pinjeman dari Danu. Terpaksa semua kru dikerahkan untuk mendorong mobil sementara Jihan pura-pura nyetir. All she had to do cuma neken rem.
Cut! Jihan panik jadinya neken remnya terlalu kenceng. It looks really ugly on screen. Terpaksa ditaruh batu di tempat mobil seharusnya berhenti jadi Jihan gak perlu neken apa pun. Doi Cuma perlu terlihat wajar dan pura-pura nyetir. Huahahha mukanya tegang abis! Untung kaca mobilnya gelap. That’s good enough leh! Let’s move on. We still have 20 scenes to go.
Selain menjadi sutradara, scriptwriter, dan produser... gue juga merangkap menjadi supir, tukang pijit, tukang nyapu, dan kadang-kadang astrada di kala astrada Burhan lagi merangkap jadi boomer. Memang kru-kru film cin(T)a ini multi talented semua;P
MENULIS FILM CINTA
“Gue pengen bikin film cinta yang dewasa,” seru gue penuh iman dan keyakinan.
Dan Sali pun tertawa.
Huahahhahaha. Cinta yang dewasa tuh kayak apaan sih? Gue keukeuh pokoknya harus cinta yang dewasa. Yang tidak menuntut. Yang gak mendominasi satu sama lain. Sally akhirnya berhenti tertawa gara-gara gue pelototin.
Gara-gara gue berusaha bikin cinta yang dewasa, sementara pengalaman cinta dewasa gue cuma sebatas baca Anthony Giddens dan Paulo Coelho, draft 1 film cin(T)a jadi super basi dan cupu. Gue berusaha memasukkan semua idealisme gue ke dalam tokoh Cina yang masih ABG dan belum seharusnya dewasa. Dia harus nyinyir dulu baru nanti dia bisa ikhlas. He has all the freedom to be nyinyir and demanding . It’s a privelege of an 18 years old boy.
Setelah gue edarkan film ini ke beberapa tokoh yang gue anggap kompeten, semuanya punya tanggapan berbeda-beda. Ada yang menganggap gue Kieslowsky berikutnya. Ada yang gemes pengen ngambil cerita gue dan di-shoot ulang karena gue menyia-nyiakan tema yang keren. Tapi semuanya merasakan hal yang sama: Anger. Pernyataan paling mewakili mungkin adalah .... film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa.
Film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan agama dan kepura-puraan di sekitarnya. Pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan topeng-topeng saleh yang menganggap dirinya atau agamanya lebih baik dari orang lain. I just realized how much anger I had. Untung gue gak bisa bikin bom, jadi bikinnya film.
Man! Dua karya pertama gue ternyata dimotivasi amarah! Padahal gue pengennya bikin film kaya Shawshank Redemption, Little Miss Sunshine, History Boys, Crash, and all other inspiring movies. Pantesan gue gak bisa bikin karya kaya gitu. There are just too much negative energy in my soul to energize a postive energy to others.
Gue baru mengerti kenapa they call it film making. Film is life. So film making is basically life making. In order to learn to make film, I have to learn to live. Pantesan banyak sekolah film di Amerika baru mengajarkan directing sebagai bahan S2. I really need to learn life first, then I can direct. Otherwise, I will be just a visualizer, not a director.
But I hope these two works are enough to get the bad energy out of my system. I am ready to make something I am more shaped to do: menebar benih-benih cinta.
Oh cinta, come to mama! I am ready to love you now. Huehehehe.
Dan Sali pun tertawa.
Huahahhahaha. Cinta yang dewasa tuh kayak apaan sih? Gue keukeuh pokoknya harus cinta yang dewasa. Yang tidak menuntut. Yang gak mendominasi satu sama lain. Sally akhirnya berhenti tertawa gara-gara gue pelototin.
Gara-gara gue berusaha bikin cinta yang dewasa, sementara pengalaman cinta dewasa gue cuma sebatas baca Anthony Giddens dan Paulo Coelho, draft 1 film cin(T)a jadi super basi dan cupu. Gue berusaha memasukkan semua idealisme gue ke dalam tokoh Cina yang masih ABG dan belum seharusnya dewasa. Dia harus nyinyir dulu baru nanti dia bisa ikhlas. He has all the freedom to be nyinyir and demanding . It’s a privelege of an 18 years old boy.
Setelah gue edarkan film ini ke beberapa tokoh yang gue anggap kompeten, semuanya punya tanggapan berbeda-beda. Ada yang menganggap gue Kieslowsky berikutnya. Ada yang gemes pengen ngambil cerita gue dan di-shoot ulang karena gue menyia-nyiakan tema yang keren. Tapi semuanya merasakan hal yang sama: Anger. Pernyataan paling mewakili mungkin adalah .... film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa.
Film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan agama dan kepura-puraan di sekitarnya. Pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan topeng-topeng saleh yang menganggap dirinya atau agamanya lebih baik dari orang lain. I just realized how much anger I had. Untung gue gak bisa bikin bom, jadi bikinnya film.
Man! Dua karya pertama gue ternyata dimotivasi amarah! Padahal gue pengennya bikin film kaya Shawshank Redemption, Little Miss Sunshine, History Boys, Crash, and all other inspiring movies. Pantesan gue gak bisa bikin karya kaya gitu. There are just too much negative energy in my soul to energize a postive energy to others.
Gue baru mengerti kenapa they call it film making. Film is life. So film making is basically life making. In order to learn to make film, I have to learn to live. Pantesan banyak sekolah film di Amerika baru mengajarkan directing sebagai bahan S2. I really need to learn life first, then I can direct. Otherwise, I will be just a visualizer, not a director.
But I hope these two works are enough to get the bad energy out of my system. I am ready to make something I am more shaped to do: menebar benih-benih cinta.
Oh cinta, come to mama! I am ready to love you now. Huehehehe.
MENULIS SAMPAI TITIK PENGHABISAN
I loved telling stories. I wrote novels. I drew comics. But I never finished any of them.
It happens over and over. Excitement yang gue punya di awal bikin karya gak bisa gue pertahankan buat menyelesaikan karya. Selalu banyak alasan keren buat gue untuk gak menyelesaikan. Gue bahkan pernah berpikir kalau gue emang tipe orang yang cuma didesain untuk proyek pendek. Gak buat nulis film panjang atau novel. I hate myself for that because I would like to picture myself with endurance longer than that pink rabbit on TV.
Sampai seorang malaikat yang mengaku temen abang gue ngirim gue pdf: How To Write A Damn Good Novel. I don’t know him and I don’t think any angels will bother to be friends with Sharondeng, abang gue. Tapi buat gue pdf ini another massage from God.
Finish one! And you’ll finish all the next ones.
Karenanya gue harus menyelesaikan satu novel dulu baru gue bikin film. Karena novel itu lebih sendirian, sementara film melibatkan banyak orang. Kalau gue gagal menyelesaikan novel, setidaknya gue cuma merugikan diri sendiri. Kalau gue sampai gagal bikin film, gue merugikan semua orang yang gue ajak. If I can taste the feeling of finishing something, that feeling wil remain and remind me to stay fighting for the longer one: cin(T)a the movie.
So I started writing my first finished novel, Kartini Nggak Sampai Eropa. Gue mengurung diri di kamar selama seminggu penuh. Cuma makan apel dan minum air putih.
Di hari ke tujuh, gue muntah. I hate my writing. I wish it would turn out a lot better. I didn’t even bother to read it again. I sent the first draft right away to the publishers.
Inilah bedanya penulis profesional dan amatir. Everybody can write. But only the professionals rewrite.
Gara-gara tanpa rewrite, tulisan gue jadi terlalu vulgar, tanpa basa-basi , gak indah, bitter... tapi jujur. Terlalu jujur that it drove myself more depressed. I am exposing my own personal tale and others whom I love to public. What am I thinking? But I can’t think of any other story I would die to write that time. I guess anger could really drive you to do anything, even finishing a novel : something I never could have before.
Kartini Nggak Sampai Eropa akhirnya diterbitkan walaupun dengan cover yang berbeda selera dengan gue. Covernya sih sebenernya lumayan, kalau saja tidak dihiasi sebuah bulatan kuning mencrang bertuliskan : Sebuah Novel Karya Sammaria.
Who the hell is this Sammaria? Artis bukan penulis bukan. Ngapain juga namanya harus dikasih bulatan kuning as if her name wil raise the selling? Yuck!
Malu aku malu! Jadi gue gak pernah bilang-bilang ke orang-orang kalo gue bikin novel. But somehow they managed to know. Monyet!
Thanks to tragedi bulatan kuning, temen-temen gue jadi punya bahan celaan baru. Huahahaha. Publishing a novel harusnya membanggakan dongggg... ini malah jadi bikin gue bahan celaan. Belum lagi ditambah tulisan di back cover novelnya yang menyebutkan gue dapet TA terbaik di arsitektur. Monyet! Lagi-lagi mereka dapet bahan celaan baru.
“Cieeeeeeee... TA terbaik!!!” Monyet!
Buat lo yang udah terlanjur beli, silakan menghubungi gue untuk mendapatkan cover asli pilihan hatiku. Gambarnya adalah seorang cewe berkebaya, bersanggul, bercelana jeans, dan merokok. Karya seorang seniman kontemporer berbakat, Patra Aditia. Kata penerbitnya cover ini terlalu old school, gak lagi menjual. They know how to sell more than I do. I wish.
Lepas dari semua perbedaan selera gue dengan penerbit, gue tetap bersyukur dan berterima kasih novel ini bisa terbit. Gue cukup takjub ternyata kenyinyiran gue ada gunanya juga buat orang lain. Ada yang ngirim email ke gue kalau doi gak jadi jadi lesbian setelah baca novel gue. Trus ada yang mau bikin skripsi based on novel gue. Judulnya something like :
"Pencitraan Terhadap Tokoh Wanita dalam Novel "Kartini Nggak Sampai Eropa"
(Analisis Wacana terhadap karakter "Anti" dan "Tesa")
Gue jadi berasa seperti penulis benaran karena karya gue dianalisa. Gue udah kasih si penulis warning kalau in a way dia bakal menganalisa kepribadian gue. Dan kepribadian gue nggak segitunya buat dijadiin skripsi. Kalau kecantikan sih emang gue gak ada taranya.
Thanks. You guys gave me a dose of energy to keep on moving. But the good thing that came out of this novel is: I have the confidence to finish my feature length movie. Dan gue juga turun 4 kilo dalam seminggu. Yeyyyy=P (And I was wondering why I was depressed???)
It happens over and over. Excitement yang gue punya di awal bikin karya gak bisa gue pertahankan buat menyelesaikan karya. Selalu banyak alasan keren buat gue untuk gak menyelesaikan. Gue bahkan pernah berpikir kalau gue emang tipe orang yang cuma didesain untuk proyek pendek. Gak buat nulis film panjang atau novel. I hate myself for that because I would like to picture myself with endurance longer than that pink rabbit on TV.
Sampai seorang malaikat yang mengaku temen abang gue ngirim gue pdf: How To Write A Damn Good Novel. I don’t know him and I don’t think any angels will bother to be friends with Sharondeng, abang gue. Tapi buat gue pdf ini another massage from God.
Finish one! And you’ll finish all the next ones.
Karenanya gue harus menyelesaikan satu novel dulu baru gue bikin film. Karena novel itu lebih sendirian, sementara film melibatkan banyak orang. Kalau gue gagal menyelesaikan novel, setidaknya gue cuma merugikan diri sendiri. Kalau gue sampai gagal bikin film, gue merugikan semua orang yang gue ajak. If I can taste the feeling of finishing something, that feeling wil remain and remind me to stay fighting for the longer one: cin(T)a the movie.
So I started writing my first finished novel, Kartini Nggak Sampai Eropa. Gue mengurung diri di kamar selama seminggu penuh. Cuma makan apel dan minum air putih.
Di hari ke tujuh, gue muntah. I hate my writing. I wish it would turn out a lot better. I didn’t even bother to read it again. I sent the first draft right away to the publishers.
Inilah bedanya penulis profesional dan amatir. Everybody can write. But only the professionals rewrite.
Gara-gara tanpa rewrite, tulisan gue jadi terlalu vulgar, tanpa basa-basi , gak indah, bitter... tapi jujur. Terlalu jujur that it drove myself more depressed. I am exposing my own personal tale and others whom I love to public. What am I thinking? But I can’t think of any other story I would die to write that time. I guess anger could really drive you to do anything, even finishing a novel : something I never could have before.
Kartini Nggak Sampai Eropa akhirnya diterbitkan walaupun dengan cover yang berbeda selera dengan gue. Covernya sih sebenernya lumayan, kalau saja tidak dihiasi sebuah bulatan kuning mencrang bertuliskan : Sebuah Novel Karya Sammaria.
Who the hell is this Sammaria? Artis bukan penulis bukan. Ngapain juga namanya harus dikasih bulatan kuning as if her name wil raise the selling? Yuck!
Malu aku malu! Jadi gue gak pernah bilang-bilang ke orang-orang kalo gue bikin novel. But somehow they managed to know. Monyet!
Thanks to tragedi bulatan kuning, temen-temen gue jadi punya bahan celaan baru. Huahahaha. Publishing a novel harusnya membanggakan dongggg... ini malah jadi bikin gue bahan celaan. Belum lagi ditambah tulisan di back cover novelnya yang menyebutkan gue dapet TA terbaik di arsitektur. Monyet! Lagi-lagi mereka dapet bahan celaan baru.
“Cieeeeeeee... TA terbaik!!!” Monyet!
Buat lo yang udah terlanjur beli, silakan menghubungi gue untuk mendapatkan cover asli pilihan hatiku. Gambarnya adalah seorang cewe berkebaya, bersanggul, bercelana jeans, dan merokok. Karya seorang seniman kontemporer berbakat, Patra Aditia. Kata penerbitnya cover ini terlalu old school, gak lagi menjual. They know how to sell more than I do. I wish.
Lepas dari semua perbedaan selera gue dengan penerbit, gue tetap bersyukur dan berterima kasih novel ini bisa terbit. Gue cukup takjub ternyata kenyinyiran gue ada gunanya juga buat orang lain. Ada yang ngirim email ke gue kalau doi gak jadi jadi lesbian setelah baca novel gue. Trus ada yang mau bikin skripsi based on novel gue. Judulnya something like :
"Pencitraan Terhadap Tokoh Wanita dalam Novel "Kartini Nggak Sampai Eropa"
(Analisis Wacana terhadap karakter "Anti" dan "Tesa")
Gue jadi berasa seperti penulis benaran karena karya gue dianalisa. Gue udah kasih si penulis warning kalau in a way dia bakal menganalisa kepribadian gue. Dan kepribadian gue nggak segitunya buat dijadiin skripsi. Kalau kecantikan sih emang gue gak ada taranya.
Thanks. You guys gave me a dose of energy to keep on moving. But the good thing that came out of this novel is: I have the confidence to finish my feature length movie. Dan gue juga turun 4 kilo dalam seminggu. Yeyyyy=P (And I was wondering why I was depressed???)
MENJALA KRU
“Hah? Bikin film harus PT???” tanya gue dengan terkejut. Baru tahu kalau untuk ngurus izin nanyangIn film, lo harus bernaung di bawah sebuah Perusahaan Terbatas yang punya surat izin untuk memproduksi film.
Hueh! Gak bisa ya bikin film aja sendiri? Kaya jaman gue kuliah dulu. Ngajakin temen-temen yang sudah mengenal gue seperti apa adanya. Teman-teman yang bisa ngerti kalau gue kena sindrom PMS permanen.
Untungnya gue bertemu Adi Panuntun, another si ganteng smells like home, yang menjadi EO LA Lights Indiemovie. Perusahaan mas Adi ini baru saja menjadi PT. Jadinya urusan izin mengizinkan buat film beressss. Sekali lagi some invisible hands save my ignorant ass from trouble. Fiuhhh.
Berhubung gue gak bisa nulis, gak bisa ngedit, gak ngerti kamera, dan gak bisa mimpin... film making ala rebel without a crew versi robert rodriguez really didn’t work for me. Mulailah gue merayu teman-teman gue yang berbakat dan haus bikin film tapi terjebak di kerjaan mereka.
Writer:
Sally, senior gue di Liga Film Mahasiswa ITB. Tugas fotografi gue pas mau masuk LFM dicela-cela ama anak ini. But she’s a damn good writer! Writing with her is like a short course on how to make a mendingan script. Draft 1 gue yang cupu jadi agak layak difilmkan.
Editor:
Anky, musuh seperjuangan gue dari jaman kuliah dulu. Dia yang pertama kali menjebak gue ke dunia kelam perfilman. Jaman dulu gue cuma suka moto. Kalau dia gak pernah ngajak gue buat jadi DOP di film dia, tentunya gue sekarang sudah berbahagia jadi arsitek di Singapur, trus beasiswa S2 ke Delft, trus stay forever di Amerika. Anky gue rayu buat resign dari kerjaannya di Trans 7 sebagai... gak tau jadi apaan.
Director Of Photography:
Tadinya mo nyewa profesional, tapi nggak mampu bayar. Jadi produsernya turun langsung jadi DOP. Budi Sasono, another si ganteng smells like home. Hmmmm. Hidungnya mirip Boni, golden retriever gue yang sering disangka sapi ama publik. Jadi gemes pengen nyubit2 Budi Sasono. Akhirnya anjing gue berubah nama dari Napoleon Bonikarpet menjadi Boni Sasono.
Tugas utama DOP adalah membangun’komunikasi intens’ dengan sutradara. Hihihihi. Lighting the set mah gimana ntar. Yang penting intens dulu dengan sutradara. Hmmmmmm;P
Art Director:
Ajo. Dari belakang gue kira dia mau casting jadi Annisa. Cantik sihhh... sayang berkumis. Hihihi. A very talented and wild art director. Gue berharap our next movie is something that gives more space to imagination so he can show off his unlimited creativity. Ajo dan Koben made up our whole art department sections. Wow.
Production Manager:
Monyet! Gara-gara anak ini nih diet gue gagal. Padahal film sebelumnya, gue turun sekilo sehari. Di film ini, sangkin bahagianya, gue malah tambah gendut. She’s doing a too good of a job. Gue curiga dia emang mensabotase diet gue biar doi tampil cantik sendiri di premiere.
Assistant Director:
Burhan Yogaswara. Sebenernya doi pengennya jadi artis, tapi berhubung mukanya kagak ada cina-cinanya, dan kagak ada cantik-cantiknya, dia jadi astrada aja lah. Sepanjang shooting kerjaannya bikin kegaringan yang menyebabkan kemarau panjang. Di akhir shooting doi dianugerahi tokek award atas prestasi kegaringannya. Krik.... krik... krikk...
Assistant Director 2:
Yunitantri DJ. Tadinya editor gue mo jadi astrada 2. Taunya doi lebih memilih bulan madu daripada memajukan perfilman Indonesia. Yuni sebenarnya pengen jadi artis juga. Tapi berhubung ini bukan film Bollywood, terpaksa Yuni dijadikan astrada merangkap breakfast girl, sekaligus maketor, trainer logat batak, Konti girl, dan merangkap P2 girl.
Wardrobe/ Make Up:
Ibu Yuvie pun gue rayu biar meluangkan waktu di sela-sela jadwal fashion show doi. Sebenernya doi kayanya agak trauma di dunia perfilman setelah bertemu beberapa artis muda kurang berbakat yang juga kurang adat. Tapi doi berhasil dirayu demi kemajuan perfilman kami. Doi dibantu muridnya, Mbak Wenti yang juga belon pernah bikin film.
Production Assistant:
Untungnya si pak produser juga merangkap dosen. Jadinya banyak anak didiknya yang membantu terselenggaranya film ini sampai selesai.Eka, Fauziah, Galih, Reza, Awal,Dina, Asep, Shendi, dan Bagus. Ayo! Kalau mau nilai A, buang astrada 1 ke kolam! Byuuurrrrrr. Good job! We don’t know what to do without you, guys!
Setelah shooting selesai gue baru nyadar ternyata berondong-berondong ini ganteng2. Damn. Inilah akibat terlalu intens dengan DOP jadinya lupa lihat-lihat sekeliling.
Setelah filmnya jadi, ternyata perburuan gue belum selesai. Distributing the movie is a whole new art. Kerjaan satu studio dikerjakan bertiga dengan duo mbak kenthir yang menmani gue betiga menjelajahi jalan-jalan 3 in one jakarta with no money and no boyfriend, but a lot of love to share.
Publicist (merangkap mbok pijit):
Ardanti Andiarti. Doi tumbuh sebagai minoritas di sebuah sekolah katolik. Danti beradaptasi dengan habitatnya sehingga matanya ikutan menyipit. Bahkan doi disangka muallaf pertama kali pake jilbab. Exactly the perfect profile we need to promote this movie. She smells a lot like home, walau kadang ada semilir bau minyak tawon menyertai.
Promo manager (merangkap supir karena mbak-mbak lainnya gagap Jakarta):
Dini Aprilia Murdeani. Sebelum doi dinyatakan lulus dari sekolah bisnis di Bandung, gue udah nongkrong di luar ruang sidangnya, siap-siap menangkap doi sebelum diambil orang lain. I knew her from SMA. We made a great team sebelum doi mengurangi komunikasi intens gue dengan DOP. Ternyata doi punya agenda cin(T)a yang lain.
Hueh! Gak bisa ya bikin film aja sendiri? Kaya jaman gue kuliah dulu. Ngajakin temen-temen yang sudah mengenal gue seperti apa adanya. Teman-teman yang bisa ngerti kalau gue kena sindrom PMS permanen.
Untungnya gue bertemu Adi Panuntun, another si ganteng smells like home, yang menjadi EO LA Lights Indiemovie. Perusahaan mas Adi ini baru saja menjadi PT. Jadinya urusan izin mengizinkan buat film beressss. Sekali lagi some invisible hands save my ignorant ass from trouble. Fiuhhh.
Berhubung gue gak bisa nulis, gak bisa ngedit, gak ngerti kamera, dan gak bisa mimpin... film making ala rebel without a crew versi robert rodriguez really didn’t work for me. Mulailah gue merayu teman-teman gue yang berbakat dan haus bikin film tapi terjebak di kerjaan mereka.
Writer:
Sally, senior gue di Liga Film Mahasiswa ITB. Tugas fotografi gue pas mau masuk LFM dicela-cela ama anak ini. But she’s a damn good writer! Writing with her is like a short course on how to make a mendingan script. Draft 1 gue yang cupu jadi agak layak difilmkan.
Editor:
Anky, musuh seperjuangan gue dari jaman kuliah dulu. Dia yang pertama kali menjebak gue ke dunia kelam perfilman. Jaman dulu gue cuma suka moto. Kalau dia gak pernah ngajak gue buat jadi DOP di film dia, tentunya gue sekarang sudah berbahagia jadi arsitek di Singapur, trus beasiswa S2 ke Delft, trus stay forever di Amerika. Anky gue rayu buat resign dari kerjaannya di Trans 7 sebagai... gak tau jadi apaan.
Director Of Photography:
Tadinya mo nyewa profesional, tapi nggak mampu bayar. Jadi produsernya turun langsung jadi DOP. Budi Sasono, another si ganteng smells like home. Hmmmm. Hidungnya mirip Boni, golden retriever gue yang sering disangka sapi ama publik. Jadi gemes pengen nyubit2 Budi Sasono. Akhirnya anjing gue berubah nama dari Napoleon Bonikarpet menjadi Boni Sasono.
Tugas utama DOP adalah membangun’komunikasi intens’ dengan sutradara. Hihihihi. Lighting the set mah gimana ntar. Yang penting intens dulu dengan sutradara. Hmmmmmm;P
Art Director:
Ajo. Dari belakang gue kira dia mau casting jadi Annisa. Cantik sihhh... sayang berkumis. Hihihi. A very talented and wild art director. Gue berharap our next movie is something that gives more space to imagination so he can show off his unlimited creativity. Ajo dan Koben made up our whole art department sections. Wow.
Production Manager:
Monyet! Gara-gara anak ini nih diet gue gagal. Padahal film sebelumnya, gue turun sekilo sehari. Di film ini, sangkin bahagianya, gue malah tambah gendut. She’s doing a too good of a job. Gue curiga dia emang mensabotase diet gue biar doi tampil cantik sendiri di premiere.
Assistant Director:
Burhan Yogaswara. Sebenernya doi pengennya jadi artis, tapi berhubung mukanya kagak ada cina-cinanya, dan kagak ada cantik-cantiknya, dia jadi astrada aja lah. Sepanjang shooting kerjaannya bikin kegaringan yang menyebabkan kemarau panjang. Di akhir shooting doi dianugerahi tokek award atas prestasi kegaringannya. Krik.... krik... krikk...
Assistant Director 2:
Yunitantri DJ. Tadinya editor gue mo jadi astrada 2. Taunya doi lebih memilih bulan madu daripada memajukan perfilman Indonesia. Yuni sebenarnya pengen jadi artis juga. Tapi berhubung ini bukan film Bollywood, terpaksa Yuni dijadikan astrada merangkap breakfast girl, sekaligus maketor, trainer logat batak, Konti girl, dan merangkap P2 girl.
Wardrobe/ Make Up:
Ibu Yuvie pun gue rayu biar meluangkan waktu di sela-sela jadwal fashion show doi. Sebenernya doi kayanya agak trauma di dunia perfilman setelah bertemu beberapa artis muda kurang berbakat yang juga kurang adat. Tapi doi berhasil dirayu demi kemajuan perfilman kami. Doi dibantu muridnya, Mbak Wenti yang juga belon pernah bikin film.
Production Assistant:
Untungnya si pak produser juga merangkap dosen. Jadinya banyak anak didiknya yang membantu terselenggaranya film ini sampai selesai.Eka, Fauziah, Galih, Reza, Awal,Dina, Asep, Shendi, dan Bagus. Ayo! Kalau mau nilai A, buang astrada 1 ke kolam! Byuuurrrrrr. Good job! We don’t know what to do without you, guys!
Setelah shooting selesai gue baru nyadar ternyata berondong-berondong ini ganteng2. Damn. Inilah akibat terlalu intens dengan DOP jadinya lupa lihat-lihat sekeliling.
Setelah filmnya jadi, ternyata perburuan gue belum selesai. Distributing the movie is a whole new art. Kerjaan satu studio dikerjakan bertiga dengan duo mbak kenthir yang menmani gue betiga menjelajahi jalan-jalan 3 in one jakarta with no money and no boyfriend, but a lot of love to share.
Publicist (merangkap mbok pijit):
Ardanti Andiarti. Doi tumbuh sebagai minoritas di sebuah sekolah katolik. Danti beradaptasi dengan habitatnya sehingga matanya ikutan menyipit. Bahkan doi disangka muallaf pertama kali pake jilbab. Exactly the perfect profile we need to promote this movie. She smells a lot like home, walau kadang ada semilir bau minyak tawon menyertai.
Promo manager (merangkap supir karena mbak-mbak lainnya gagap Jakarta):
Dini Aprilia Murdeani. Sebelum doi dinyatakan lulus dari sekolah bisnis di Bandung, gue udah nongkrong di luar ruang sidangnya, siap-siap menangkap doi sebelum diambil orang lain. I knew her from SMA. We made a great team sebelum doi mengurangi komunikasi intens gue dengan DOP. Ternyata doi punya agenda cin(T)a yang lain.
GAGAL JADI SUTRADARA
Gagal jadi sutradara, gue balik ke Singapur. Gue pikir kalo emang gue bagus, ONM pasti mau nerima gue lagi. It turns out that I am not that good. They have plenty of other me lining up begging to work for them.
Terpaksa gue nyari kerja lagi. The idea of going through another endless interviews were really killing me. Mending gue nyari jodoh aja deh. Gini-gini kan gue ketua umum Babacan selama 4 periode ke depan. Babacan is Batak-Batak Cantik, by the way.
Pergilah gue ke HKBP Singapura, berharap ada spesies Batak ganteng yang mau memperistri dan menafkahi gue seumur hidup sementara gue hahahihi bikin film. Amin.
All the good ones are taken, gay, or simanjuntak. Gue memble tapi kece...wa. Apa gue balik aja ya jadi arsitek? Pada saat itu ekonomi Singapura lagi bagus-bagusnya. Pembangunan di mana-mana. Arsitek tinggal lumpat lumpit gak perlu takut jobless.
I hope you never fear those mountain in the distance
Never settle for a path of least resistance
Tiba-tiba Ronan Keating kembali berdendang. Do I settle for a path of least resistance? Basi banget sih gue. Yuk coba lagi ah. Kembalilah gue ke HKBP berburu suami.
Ternyata yang tersisa di sana hanya para suami. Tak ada spesies Batak ganteng tak beristri. Kecewa lagi, gue terduduk. Apa gue ke cewe aja ya? Mak gue nyuruhnya cari jodoh Batak. Gak bilang harus cowo apa cewe.
Tiba-tiba salah seorang teman bertanya, “Hey! How is our movie? I would love to be the producer.”
Namanya Roland Samosir. Sebenernya ini bukan pertama kalinya doi nawarin bikin film bareng. Suatu hari di masa dulu, di hari-hari di masa gue masih berpikir kalau gue akan bekerja di ONM, make some contacts, and then later make a movie... kita duduk2 minum wine di tepi danau Toba. Dia nanya kenapa gue resign dari arsitektur. Gue nyeritain film yang pengen gue buat.
“I would love to be the producer!!!” serunya penuh semangat.
But I didn’t really take him seriously. Saat itu gue menganggap gue belon siap untuk bikin film sendiri. Gue masih pengen dirodi long hours di perusahaan advertising, atau jadi runner di PH film, atau apapun deh... asal jangan bikin film. It seemed like a no money and insecure choice.
But I have no other choice right now. So I just said OK.
Sekarang gue punya duit buat bikin film. Tinggal nyari alat ama kru. Jadilah film gue.
Or so I thought.
Terpaksa gue nyari kerja lagi. The idea of going through another endless interviews were really killing me. Mending gue nyari jodoh aja deh. Gini-gini kan gue ketua umum Babacan selama 4 periode ke depan. Babacan is Batak-Batak Cantik, by the way.
Pergilah gue ke HKBP Singapura, berharap ada spesies Batak ganteng yang mau memperistri dan menafkahi gue seumur hidup sementara gue hahahihi bikin film. Amin.
All the good ones are taken, gay, or simanjuntak. Gue memble tapi kece...wa. Apa gue balik aja ya jadi arsitek? Pada saat itu ekonomi Singapura lagi bagus-bagusnya. Pembangunan di mana-mana. Arsitek tinggal lumpat lumpit gak perlu takut jobless.
I hope you never fear those mountain in the distance
Never settle for a path of least resistance
Tiba-tiba Ronan Keating kembali berdendang. Do I settle for a path of least resistance? Basi banget sih gue. Yuk coba lagi ah. Kembalilah gue ke HKBP berburu suami.
Ternyata yang tersisa di sana hanya para suami. Tak ada spesies Batak ganteng tak beristri. Kecewa lagi, gue terduduk. Apa gue ke cewe aja ya? Mak gue nyuruhnya cari jodoh Batak. Gak bilang harus cowo apa cewe.
Tiba-tiba salah seorang teman bertanya, “Hey! How is our movie? I would love to be the producer.”
Namanya Roland Samosir. Sebenernya ini bukan pertama kalinya doi nawarin bikin film bareng. Suatu hari di masa dulu, di hari-hari di masa gue masih berpikir kalau gue akan bekerja di ONM, make some contacts, and then later make a movie... kita duduk2 minum wine di tepi danau Toba. Dia nanya kenapa gue resign dari arsitektur. Gue nyeritain film yang pengen gue buat.
“I would love to be the producer!!!” serunya penuh semangat.
But I didn’t really take him seriously. Saat itu gue menganggap gue belon siap untuk bikin film sendiri. Gue masih pengen dirodi long hours di perusahaan advertising, atau jadi runner di PH film, atau apapun deh... asal jangan bikin film. It seemed like a no money and insecure choice.
But I have no other choice right now. So I just said OK.
Sekarang gue punya duit buat bikin film. Tinggal nyari alat ama kru. Jadilah film gue.
Or so I thought.
Label:
chapter 1,
cin(T)a,
LA Lights Indiemovie
SUTRADARA CEMEN
“Kalau nggak bisa mimpin, ya nggak usah jadi sutradara,” tutur Garin Nugroho dengan senyum manisnya. Tapi menusuk!
Gue berdarah-darah, terlalu proud untuk mengundurkan diri jadi sutradara. Ternyata panitia tidak hanya memilih gue doang buat bikin film. Yang dipilih ada lima orang. Lima-limanya pengen jadi sutradara. Dan nggak ada yang mau jadi produser. Entah kenapa yang akhirnya ditunjuk jadi sutradara... gue. (Pastinya karena gue paling cantik.) Padahal cerita yang terpilih bukan cerita gue.
Shooting dua hari, gue turun dua kilo. Good for my diet. Eight more kilos to go!
But not good for my soul. Gue merasa dibenci semua orang. Dan semua ini... gara-gara gue berusaha menyenangkan semua orang.
“I don’t know how to be successful, but I know how to fail. Just try to please everyone!” kata Cosby... more or less kaya gitu deh. Andai gue tahu dari dulu-dulu.
Gue jadi inget film pertama gue di mana semuanya gue kontrol sampai ke satu titik di mana gue merasa yang enjoy ngerjain cuma gue. Yang lain gak berkembang karena kreatifitas mereka gue batasi dengan berbagai macam maunya gue. Untungnya filmnya berakhir keren dan semua kru bahagia melihat hasil akhirnya. Mereka jadi lupa betapa menyebalkannya gue karena bahagia liat filmnya.
Sekarang... film gue jadi gado-gado gara-gara sutradaranya berusaha menyenangkan semua orang. Sampai pada satu titik si sutradara capek nyenengin semua orang, dan mulailah terlihat bentuk aslinya yang suka marah2. Kata Riri Riza, sutradara yang suka marah2 di lokasi shooting tuh cuma sutradara yang kurang persiapan. That’s me!
Gado-gado! Walaupun katanya film ini berhasil masuk tiga besar pada penilaian juri, buat gue film ini tetap pembelajaran yang menyakitkan. And I am so sorry that a lot of people have to suffer because of my lack of leadership and overdosed confidence.
Maybe I am not shaped to be a director after all.
Gue berdarah-darah, terlalu proud untuk mengundurkan diri jadi sutradara. Ternyata panitia tidak hanya memilih gue doang buat bikin film. Yang dipilih ada lima orang. Lima-limanya pengen jadi sutradara. Dan nggak ada yang mau jadi produser. Entah kenapa yang akhirnya ditunjuk jadi sutradara... gue. (Pastinya karena gue paling cantik.) Padahal cerita yang terpilih bukan cerita gue.
Shooting dua hari, gue turun dua kilo. Good for my diet. Eight more kilos to go!
But not good for my soul. Gue merasa dibenci semua orang. Dan semua ini... gara-gara gue berusaha menyenangkan semua orang.
“I don’t know how to be successful, but I know how to fail. Just try to please everyone!” kata Cosby... more or less kaya gitu deh. Andai gue tahu dari dulu-dulu.
Gue jadi inget film pertama gue di mana semuanya gue kontrol sampai ke satu titik di mana gue merasa yang enjoy ngerjain cuma gue. Yang lain gak berkembang karena kreatifitas mereka gue batasi dengan berbagai macam maunya gue. Untungnya filmnya berakhir keren dan semua kru bahagia melihat hasil akhirnya. Mereka jadi lupa betapa menyebalkannya gue karena bahagia liat filmnya.
Sekarang... film gue jadi gado-gado gara-gara sutradaranya berusaha menyenangkan semua orang. Sampai pada satu titik si sutradara capek nyenengin semua orang, dan mulailah terlihat bentuk aslinya yang suka marah2. Kata Riri Riza, sutradara yang suka marah2 di lokasi shooting tuh cuma sutradara yang kurang persiapan. That’s me!
Gado-gado! Walaupun katanya film ini berhasil masuk tiga besar pada penilaian juri, buat gue film ini tetap pembelajaran yang menyakitkan. And I am so sorry that a lot of people have to suffer because of my lack of leadership and overdosed confidence.
Maybe I am not shaped to be a director after all.
Label:
chapter 1,
cin(T)a,
LA Lights Indiemovie
Langganan:
Postingan (Atom)