Tips biar gak dimusuhi audio composer: I have no idea. Mas Muhammad Betadikara ini species phlegmatis yang tenang, santai, go with the flow, dan gak juga memusuhi gue sekalipun disuruh mengerjakan pekerjaan satu orkestra sendirian. Hasil kerja setahun John Powell and co. bisa dikerjain Beta and co.mputer hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baru di tengah jalan ada beberapa Strangers yang kebetulan lewat bernama Gugun dan Lanlan ngebantuin Beta. Jadinya sutradara kembali dikelilingi musisi-musisi ganteng... damn. I love this job.
Tadinya gue mo menulis tips bagaimana biar dicintai audio composer instead. Tapi ini juga kayanya gak mungkin deh. ‘Komunikasi intens’ gue dengan bapak audio composer tidak mengalihkan cintanya dari Mustika Ramhatoa. Dikasih nama RahmaTOA bukan tanpa prestasi. Rahmatoa baru nyampe Dago, suaranya dah nyampe Cicadas sangkin kerasnya.
Gue curiga jangan-jangan gendang telinga Beta sudah mengalami infeksi kronis yang sudah menjalar ke otak sehingga Beta tidak lagi mampu menerima sinyal-sinyal cinta dari wanita-wanita normal yang desibel suaranya masih dalam range manusia, bukan toa.
Atau mungkin juga karena si Toa jago merayu. Aku terharu deh baca blog mereka. Please check out http://rahmathya.multiply.com/
Tampilkan postingan dengan label post pro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label post pro. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 April 2009
TIPS BIAR GAK DIMUSUHI SOUND EDITOR
1) Jangan pernah bikin script di mana karakter Batak dan Jawa disatuin!
Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.
Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...
2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.
Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.
I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.
3) Sediakan deodoran
Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.
Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.
Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.
Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.
Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...
2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.
Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.
I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.
3) Sediakan deodoran
Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.
Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.
Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.
Rabu, 29 April 2009
TIPS BIAR GAK DIJUTEKIN EDITOR: Catet Adegan!
“Pasti lo shooting diem-diem deh! “ gugat Anky, the editor, sewot gara-gara banyak footage tanpa keterangan dan catatan. Anky harus ngedit footage 25 jam menjadi 2 jam dengan banyak footage yang diambil diam-diam oleh sutradara tanpa sepengetahuan kru lain. Hihihi.
Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.
What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.
What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.
Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.
“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”
Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.
Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.
What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.
What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.
Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.
“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”
Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.
Shooting Is My Purgatory. Simei Is My Paradiso.
After “Taxi Driver”, Scorcese said that shooting a movie was a horrible experience. I couldn’t agree more.
After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!
Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”
Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!
Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.
Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?
Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.
Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.
Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.
Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.
Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.
Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.
Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.
She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.
But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .
But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.
Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.
# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......
After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!
Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”
Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!
Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.
Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?
Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.
Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.
Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.
Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.
Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.
Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.
Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.
She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.
But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .
But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.
Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.
# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......
Langganan:
Postingan (Atom)