“Gue dah dapet Annisa!!!” teriak Sammaria menggetarkan nyali seluruh penduduk Sembian Matahari Film.
Ruang sempit yang diiisi 4 poster film di salahsatu dinding itu hening beberapa saat. Jangkrik pun berhenti berderik sesaat, ikut tidak percaya dengan pernyataan Sammaria.
Lalu para pejuang tim casting dan jangkrik itu menghela nafas panjang setelah lebih dari 4 bulan menahan nafas akibat tidak juga menemukan sang putri utopia ciptaan Sammaria. Yang ini kurang cantik. Yang cantik kurang pinter. Yang pinter kurang menjual. Yang menjual, kurang kurus.
“Kalo ginian, mending gue yang jadi Annisa!” lanjut Sammaria sambil memamerkan lemak di kiri kanan pinggangnya yang konon dianggap seksi di jaman Monalisa.
Tapi akhirnya pencarian jarum di jerami itu berakhir setelah Sammaria bertemu dengan Rainy.
Rainy memang berbeda dengan cewe cantik lainnya yang mereka casting. Dia tidak hanya pintar, tapi juga charming dan rendah hati. Species wanita langka yang bikin wanita lain ingin mempunahkan demi terjaganya kestabilan stock lelaki.
“Rainy dan Sunny! Kebetulan banget gak sih? Emang udah rencana Tuhan nih kayaknya.” Seru Sammaria euphoria sambil menempelkan data casting kedua pemeran utama pilihannya di board depan ruangan.
Sunny dan Rainy. It’s too good to be true. Bahkan sampe membuat Sammaria percaya ada Tuhan yang cukup kreatif menciptakan dunia ini. Terdengar seperti nama karakter fiktif di sebuah chicklit murahan, cetakan penerbit remaja kodian. Tapi ini bukan fiksi. Sunny dan Rainy akan memerankan tokoh Cina dan Annisa dalam film pertamanya.
“If it’s sunny and rainy at the same time, you’re gonna have a rainbow!” seru sebuah YM dari Winda di ujung kota lainnya.
Sammaria sudah tidak sabar melihat pelangi.
“Kapan kita tanda tangan kontrak ama Sunny dan Rainy?”
“Sabar, Bo. Kita harus nego harga dulu ama mereka,” jawab Mas Adi Panuntun pusing karena pilihan Sammaria ternyata pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota. More money.
Sammaria sudah tidak sabar untuk memulai proses rehearsal. Sunny dan Rainy akan menjadi pasangan yang lebih legendaris dari Cinta dan Rangga.
+++
When it rains, it really does pour.
Rainy mengundurkan diri.
Sammaria masih bengong sendirian sepeninggal Rainy. Sammaria terlihat sangat kecil terduduk di antara dua pilar neo Klasik Campus Center putih ITB yang menjulang tinggi, terpuruk dengan keputusan Rainy. Manusia lalu lalang di depannya. Dunia terus berputar, seakan tidak peduli dengan hidup Sammaria yang berhenti beberapa menit yang lalu.
“Kita semua tentunya ingin film ini mencapai hasil yang maksimal. Karenanya, untuk kebaikan semua pihak lebih baik gue mengundurkan diri daripada gue menjadi penghambat di proyek ini,” tutur Rainy dengan bahasa yang sopan dan diatur hasil polesan setahun menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota.
“Anjing! Lo harusnya ngomong gitu dari dulu pas kita nego harga dan jadwal! Bukan pas shooting tinggal sebulan lagi, goblog!” teriak Sammaria sambil melancarkan turbo kick bertubi-tubi ke dada dan pipi Rainy. Tubuh semampai indah itu terkapar tak berdaya, terjatuh terguling-guling sampai di bawah tangga. Sehabis ini, Rainy pasti tidak bisa melenggang indah di panggung catwalk lagi.
Untungnya Sammaria masih berbudaya.
“Gue menghargai keputusan lo. Tapi coba pikirin lagi,” tutur Sammaria ikutan bijak dengan senyum politik paling tulus yang bisa ia pamerkan. Siapa bilang sutradara tidak bisa akting.
“Ntar gue telepon lo lagi setelah gue pastiin jadwal gue,” jawab Rainy mengakhiri pertemuan mereka.
“Tai! Gue tahu lo gak bakalan berani nelpon gue lagi!” teriak Sammaria sambil memberondong tubuh Rainy dengan AK - 47. Rainy berenang gaya punggung sejenak di udara sebelum akhirnya terkapar jatuh menghantam paving block.
Tapi Sammaria masih berbudaya.
Sammaria terseyum sambil memandangi tubuh 172cm yang semakin lama semakin mengecil, dan menghilang menjadi sebuah titik di kejauhan.
“Dor!” sahut Sammaria lemah sambil mencoba menembak titik Rainy dengan pistol jarinya. Tapi titik kecil itu tetap mengecil dan akhirnya lenyap.
Setetes air mendarat di pipi Sammaria. Sammaria menengadah memandang langit mendung yang seakan-akan turut berduka cita dengan kegalauan hatinya. Beginilah akibatnya kalau bekerja pakai hati. Kalau gagal, rasanya lebih sakit daripada putus cinta.
Kalau putus cinta sih gampang, tinggal cari lagi. Kalau diputusin aktris, lebih susah karena melibatkan waktu masyarakat banyak dan modal yang tidak sedikit.
Lebih banyak tetes air mendarat di pipi Sammaria. Manusia-manusia tidak lagi lalu lalang di depan Sammaria. Semuanya sudah mencari tempat berteduh, tidak sudi rambut salonnya keguyur hujan.
Sammaria tetap terduduk, membiarkan tetes demi tetes rainy membasahi tubuhnya. Kebetulan. Biar air mata yang menetes deras dari matanya tersamar oleh air hujan. Sammaria terlalu banyak terkena Efek Rumah Kaca, membuat hati Melayunya semakin mendayu-dayu.
Sammaria tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Mengangis kenapa? Gara-gara cewe kaya Rainy doang? Kaya gitu doang sih sepuluh juga bisa langsung dapet di pasar.
Tapi pasar mana? Rainy itu sempurna. Air mata Sammaria tambah deras memikirkan proses casting panjang yang harus dia lewati untuk menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy. Lebih baik mati saja.
Sammaria mendekati ujung lantai, siap mementalkan tubuh gempalnya ke lantai dasar.
Untungnya tiba-tiba Sammaria teringat komedo di hidung Rainy.
Memang sepertinya ini petunjuk. Rainy kurang sempurna untuk peran Annisa. Nanti Sammaria gak bisa banyak pake shot close up. Sementara wide shots will cost her more.
Sammaria menghapus air yang terus mengguyur wajahnya. Sammaria needs revenge. Sammaria harus menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy, membuat film terbaik Indonesia, dan mati ketawa melihat wajah penuh penyesalan Rainy saat diundang ke premiere.
Anger really corrupted her soul.
PS: cerita di atas kayanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan tempat peristiwa, mungkin memang disengaja.
+++
It’s rainy day. Hallelujah.
Setelah beberapa hari terpuruk di kamar menangisi kepergian Rainy, Sammaria bangkit.
Yang terpikir pertama kali di benak Sammaria adalah seorang cewe yang juga pernah menang si kontes kecantikan ibu kota sebelum Rainy. Hayu adalah salah satu cewe paling cantik dan anggun yang pernah dikenal Sammaria.
“Hi, I’m a new inbound from India,” sapa Hayu ramah saat pertama kali bertemu Sammaria yang duduk di sebelahnya pada suatu acara Rotary Exchange Program di Jakarta.
Sammaria terkesan dengan inbound India yang cantik dan ramah ini. Sammaria menceritakan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris dengan bersemangat.
“This is combro, our traditional food from West Java.”
“Interesting,” jawab Hayu penuh antusiasme.
Sammaria pun kembali beredar menyapa teman-temannya yang lain yang sudah setahun tidak dijumpainya sejak Rotary ke Amerika.
“Liat deh ada inbound dari India. Cantik banget. Baik lagi,” tutur Sammaria pada Ama sambil menunjuk ke arah Hayu yang sedang tertawa-tawa bersama sekumpulan teman lain. Ternyata selain cantik, dia juga jago bergaul. Baru sampai sebentar di Indonesia, dia sudah punya banyak teman.
Ama menoleh melihat ke arah yang ditunjuk dengan heran.
“Itu kan Hayu, baru pulang dari Jepang.”
Monyet! Ternyata Hayu dkk lagi ngetawain gue. What the hell was I doing explaining combro to an Indonesian... in English???
Cantik, anggun, jago menipu. Exactly the type that would be perfect for Annisa. Tanpa casting, gue tawarin Hayu jadi Annisa.
“Ada adegan ciuman??? Lo mau bikin gue cerai?” reaksi Hayu pertama kali gue tawarin. Damn. She’s married now. Two years too late.
Hayu menyarankan beberapa temannya yang juga jebolan kontes kecantikan ibukota dan satu junior kita di Rotary yang ternyata baru saja menjadi finalis salah satu kontes kecantikan ibu kota lainnya, Saira Jihan.
What’s with all this kontes kecantikan ibu kota? Kenapa somehow mereka yang cocok jadi Annisa adalah mereka yang telah dididik di kontes-kontes ini? Mungkin cuma mereka yang telah merasakan seminggu dikarantina tersenyum inilah yang bisa mengerti senyum Annisa.
Bukan senyum terpaksa. Bukan senyum takut dicela wartawan. Bukan senyum takut dikritik juri. Bukan senyum takut menyinggung perasaan orang lain kalau tidak tersenyum. Tapi bukan senyum yang tulus juga. Senyum Annisa... susah digambarkan dengan kata-kata. Senyum yang menyimpan sejuta misteri dan seribu kepedihan. Seyum yang bikin cowo-cowo pengen meluk dan melindungi Annisa dari segala perih dunia.
Aihhhhh mulai kan gue melayu mendayu-dayu. Gue ajalah jadi Annisa. Senyum doang bisalah gue.
Tampilkan postingan dengan label pre production. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pre production. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 April 2009
MENULIS FILM CINTA
“Gue pengen bikin film cinta yang dewasa,” seru gue penuh iman dan keyakinan.
Dan Sali pun tertawa.
Huahahhahaha. Cinta yang dewasa tuh kayak apaan sih? Gue keukeuh pokoknya harus cinta yang dewasa. Yang tidak menuntut. Yang gak mendominasi satu sama lain. Sally akhirnya berhenti tertawa gara-gara gue pelototin.
Gara-gara gue berusaha bikin cinta yang dewasa, sementara pengalaman cinta dewasa gue cuma sebatas baca Anthony Giddens dan Paulo Coelho, draft 1 film cin(T)a jadi super basi dan cupu. Gue berusaha memasukkan semua idealisme gue ke dalam tokoh Cina yang masih ABG dan belum seharusnya dewasa. Dia harus nyinyir dulu baru nanti dia bisa ikhlas. He has all the freedom to be nyinyir and demanding . It’s a privelege of an 18 years old boy.
Setelah gue edarkan film ini ke beberapa tokoh yang gue anggap kompeten, semuanya punya tanggapan berbeda-beda. Ada yang menganggap gue Kieslowsky berikutnya. Ada yang gemes pengen ngambil cerita gue dan di-shoot ulang karena gue menyia-nyiakan tema yang keren. Tapi semuanya merasakan hal yang sama: Anger. Pernyataan paling mewakili mungkin adalah .... film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa.
Film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan agama dan kepura-puraan di sekitarnya. Pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan topeng-topeng saleh yang menganggap dirinya atau agamanya lebih baik dari orang lain. I just realized how much anger I had. Untung gue gak bisa bikin bom, jadi bikinnya film.
Man! Dua karya pertama gue ternyata dimotivasi amarah! Padahal gue pengennya bikin film kaya Shawshank Redemption, Little Miss Sunshine, History Boys, Crash, and all other inspiring movies. Pantesan gue gak bisa bikin karya kaya gitu. There are just too much negative energy in my soul to energize a postive energy to others.
Gue baru mengerti kenapa they call it film making. Film is life. So film making is basically life making. In order to learn to make film, I have to learn to live. Pantesan banyak sekolah film di Amerika baru mengajarkan directing sebagai bahan S2. I really need to learn life first, then I can direct. Otherwise, I will be just a visualizer, not a director.
But I hope these two works are enough to get the bad energy out of my system. I am ready to make something I am more shaped to do: menebar benih-benih cinta.
Oh cinta, come to mama! I am ready to love you now. Huehehehe.
Dan Sali pun tertawa.
Huahahhahaha. Cinta yang dewasa tuh kayak apaan sih? Gue keukeuh pokoknya harus cinta yang dewasa. Yang tidak menuntut. Yang gak mendominasi satu sama lain. Sally akhirnya berhenti tertawa gara-gara gue pelototin.
Gara-gara gue berusaha bikin cinta yang dewasa, sementara pengalaman cinta dewasa gue cuma sebatas baca Anthony Giddens dan Paulo Coelho, draft 1 film cin(T)a jadi super basi dan cupu. Gue berusaha memasukkan semua idealisme gue ke dalam tokoh Cina yang masih ABG dan belum seharusnya dewasa. Dia harus nyinyir dulu baru nanti dia bisa ikhlas. He has all the freedom to be nyinyir and demanding . It’s a privelege of an 18 years old boy.
Setelah gue edarkan film ini ke beberapa tokoh yang gue anggap kompeten, semuanya punya tanggapan berbeda-beda. Ada yang menganggap gue Kieslowsky berikutnya. Ada yang gemes pengen ngambil cerita gue dan di-shoot ulang karena gue menyia-nyiakan tema yang keren. Tapi semuanya merasakan hal yang sama: Anger. Pernyataan paling mewakili mungkin adalah .... film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa.
Film ini adalah sebuah pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan agama dan kepura-puraan di sekitarnya. Pertanyaan putus asa dari seorang warga negara yang muak dengan topeng-topeng saleh yang menganggap dirinya atau agamanya lebih baik dari orang lain. I just realized how much anger I had. Untung gue gak bisa bikin bom, jadi bikinnya film.
Man! Dua karya pertama gue ternyata dimotivasi amarah! Padahal gue pengennya bikin film kaya Shawshank Redemption, Little Miss Sunshine, History Boys, Crash, and all other inspiring movies. Pantesan gue gak bisa bikin karya kaya gitu. There are just too much negative energy in my soul to energize a postive energy to others.
Gue baru mengerti kenapa they call it film making. Film is life. So film making is basically life making. In order to learn to make film, I have to learn to live. Pantesan banyak sekolah film di Amerika baru mengajarkan directing sebagai bahan S2. I really need to learn life first, then I can direct. Otherwise, I will be just a visualizer, not a director.
But I hope these two works are enough to get the bad energy out of my system. I am ready to make something I am more shaped to do: menebar benih-benih cinta.
Oh cinta, come to mama! I am ready to love you now. Huehehehe.
MENULIS SAMPAI TITIK PENGHABISAN
I loved telling stories. I wrote novels. I drew comics. But I never finished any of them.
It happens over and over. Excitement yang gue punya di awal bikin karya gak bisa gue pertahankan buat menyelesaikan karya. Selalu banyak alasan keren buat gue untuk gak menyelesaikan. Gue bahkan pernah berpikir kalau gue emang tipe orang yang cuma didesain untuk proyek pendek. Gak buat nulis film panjang atau novel. I hate myself for that because I would like to picture myself with endurance longer than that pink rabbit on TV.
Sampai seorang malaikat yang mengaku temen abang gue ngirim gue pdf: How To Write A Damn Good Novel. I don’t know him and I don’t think any angels will bother to be friends with Sharondeng, abang gue. Tapi buat gue pdf ini another massage from God.
Finish one! And you’ll finish all the next ones.
Karenanya gue harus menyelesaikan satu novel dulu baru gue bikin film. Karena novel itu lebih sendirian, sementara film melibatkan banyak orang. Kalau gue gagal menyelesaikan novel, setidaknya gue cuma merugikan diri sendiri. Kalau gue sampai gagal bikin film, gue merugikan semua orang yang gue ajak. If I can taste the feeling of finishing something, that feeling wil remain and remind me to stay fighting for the longer one: cin(T)a the movie.
So I started writing my first finished novel, Kartini Nggak Sampai Eropa. Gue mengurung diri di kamar selama seminggu penuh. Cuma makan apel dan minum air putih.
Di hari ke tujuh, gue muntah. I hate my writing. I wish it would turn out a lot better. I didn’t even bother to read it again. I sent the first draft right away to the publishers.
Inilah bedanya penulis profesional dan amatir. Everybody can write. But only the professionals rewrite.
Gara-gara tanpa rewrite, tulisan gue jadi terlalu vulgar, tanpa basa-basi , gak indah, bitter... tapi jujur. Terlalu jujur that it drove myself more depressed. I am exposing my own personal tale and others whom I love to public. What am I thinking? But I can’t think of any other story I would die to write that time. I guess anger could really drive you to do anything, even finishing a novel : something I never could have before.
Kartini Nggak Sampai Eropa akhirnya diterbitkan walaupun dengan cover yang berbeda selera dengan gue. Covernya sih sebenernya lumayan, kalau saja tidak dihiasi sebuah bulatan kuning mencrang bertuliskan : Sebuah Novel Karya Sammaria.
Who the hell is this Sammaria? Artis bukan penulis bukan. Ngapain juga namanya harus dikasih bulatan kuning as if her name wil raise the selling? Yuck!
Malu aku malu! Jadi gue gak pernah bilang-bilang ke orang-orang kalo gue bikin novel. But somehow they managed to know. Monyet!
Thanks to tragedi bulatan kuning, temen-temen gue jadi punya bahan celaan baru. Huahahaha. Publishing a novel harusnya membanggakan dongggg... ini malah jadi bikin gue bahan celaan. Belum lagi ditambah tulisan di back cover novelnya yang menyebutkan gue dapet TA terbaik di arsitektur. Monyet! Lagi-lagi mereka dapet bahan celaan baru.
“Cieeeeeeee... TA terbaik!!!” Monyet!
Buat lo yang udah terlanjur beli, silakan menghubungi gue untuk mendapatkan cover asli pilihan hatiku. Gambarnya adalah seorang cewe berkebaya, bersanggul, bercelana jeans, dan merokok. Karya seorang seniman kontemporer berbakat, Patra Aditia. Kata penerbitnya cover ini terlalu old school, gak lagi menjual. They know how to sell more than I do. I wish.
Lepas dari semua perbedaan selera gue dengan penerbit, gue tetap bersyukur dan berterima kasih novel ini bisa terbit. Gue cukup takjub ternyata kenyinyiran gue ada gunanya juga buat orang lain. Ada yang ngirim email ke gue kalau doi gak jadi jadi lesbian setelah baca novel gue. Trus ada yang mau bikin skripsi based on novel gue. Judulnya something like :
"Pencitraan Terhadap Tokoh Wanita dalam Novel "Kartini Nggak Sampai Eropa"
(Analisis Wacana terhadap karakter "Anti" dan "Tesa")
Gue jadi berasa seperti penulis benaran karena karya gue dianalisa. Gue udah kasih si penulis warning kalau in a way dia bakal menganalisa kepribadian gue. Dan kepribadian gue nggak segitunya buat dijadiin skripsi. Kalau kecantikan sih emang gue gak ada taranya.
Thanks. You guys gave me a dose of energy to keep on moving. But the good thing that came out of this novel is: I have the confidence to finish my feature length movie. Dan gue juga turun 4 kilo dalam seminggu. Yeyyyy=P (And I was wondering why I was depressed???)
It happens over and over. Excitement yang gue punya di awal bikin karya gak bisa gue pertahankan buat menyelesaikan karya. Selalu banyak alasan keren buat gue untuk gak menyelesaikan. Gue bahkan pernah berpikir kalau gue emang tipe orang yang cuma didesain untuk proyek pendek. Gak buat nulis film panjang atau novel. I hate myself for that because I would like to picture myself with endurance longer than that pink rabbit on TV.
Sampai seorang malaikat yang mengaku temen abang gue ngirim gue pdf: How To Write A Damn Good Novel. I don’t know him and I don’t think any angels will bother to be friends with Sharondeng, abang gue. Tapi buat gue pdf ini another massage from God.
Finish one! And you’ll finish all the next ones.
Karenanya gue harus menyelesaikan satu novel dulu baru gue bikin film. Karena novel itu lebih sendirian, sementara film melibatkan banyak orang. Kalau gue gagal menyelesaikan novel, setidaknya gue cuma merugikan diri sendiri. Kalau gue sampai gagal bikin film, gue merugikan semua orang yang gue ajak. If I can taste the feeling of finishing something, that feeling wil remain and remind me to stay fighting for the longer one: cin(T)a the movie.
So I started writing my first finished novel, Kartini Nggak Sampai Eropa. Gue mengurung diri di kamar selama seminggu penuh. Cuma makan apel dan minum air putih.
Di hari ke tujuh, gue muntah. I hate my writing. I wish it would turn out a lot better. I didn’t even bother to read it again. I sent the first draft right away to the publishers.
Inilah bedanya penulis profesional dan amatir. Everybody can write. But only the professionals rewrite.
Gara-gara tanpa rewrite, tulisan gue jadi terlalu vulgar, tanpa basa-basi , gak indah, bitter... tapi jujur. Terlalu jujur that it drove myself more depressed. I am exposing my own personal tale and others whom I love to public. What am I thinking? But I can’t think of any other story I would die to write that time. I guess anger could really drive you to do anything, even finishing a novel : something I never could have before.
Kartini Nggak Sampai Eropa akhirnya diterbitkan walaupun dengan cover yang berbeda selera dengan gue. Covernya sih sebenernya lumayan, kalau saja tidak dihiasi sebuah bulatan kuning mencrang bertuliskan : Sebuah Novel Karya Sammaria.
Who the hell is this Sammaria? Artis bukan penulis bukan. Ngapain juga namanya harus dikasih bulatan kuning as if her name wil raise the selling? Yuck!
Malu aku malu! Jadi gue gak pernah bilang-bilang ke orang-orang kalo gue bikin novel. But somehow they managed to know. Monyet!
Thanks to tragedi bulatan kuning, temen-temen gue jadi punya bahan celaan baru. Huahahaha. Publishing a novel harusnya membanggakan dongggg... ini malah jadi bikin gue bahan celaan. Belum lagi ditambah tulisan di back cover novelnya yang menyebutkan gue dapet TA terbaik di arsitektur. Monyet! Lagi-lagi mereka dapet bahan celaan baru.
“Cieeeeeeee... TA terbaik!!!” Monyet!
Buat lo yang udah terlanjur beli, silakan menghubungi gue untuk mendapatkan cover asli pilihan hatiku. Gambarnya adalah seorang cewe berkebaya, bersanggul, bercelana jeans, dan merokok. Karya seorang seniman kontemporer berbakat, Patra Aditia. Kata penerbitnya cover ini terlalu old school, gak lagi menjual. They know how to sell more than I do. I wish.
Lepas dari semua perbedaan selera gue dengan penerbit, gue tetap bersyukur dan berterima kasih novel ini bisa terbit. Gue cukup takjub ternyata kenyinyiran gue ada gunanya juga buat orang lain. Ada yang ngirim email ke gue kalau doi gak jadi jadi lesbian setelah baca novel gue. Trus ada yang mau bikin skripsi based on novel gue. Judulnya something like :
"Pencitraan Terhadap Tokoh Wanita dalam Novel "Kartini Nggak Sampai Eropa"
(Analisis Wacana terhadap karakter "Anti" dan "Tesa")
Gue jadi berasa seperti penulis benaran karena karya gue dianalisa. Gue udah kasih si penulis warning kalau in a way dia bakal menganalisa kepribadian gue. Dan kepribadian gue nggak segitunya buat dijadiin skripsi. Kalau kecantikan sih emang gue gak ada taranya.
Thanks. You guys gave me a dose of energy to keep on moving. But the good thing that came out of this novel is: I have the confidence to finish my feature length movie. Dan gue juga turun 4 kilo dalam seminggu. Yeyyyy=P (And I was wondering why I was depressed???)
Langganan:
Postingan (Atom)