“Krrralau tttujuh pulruh mrrenit fffilmnya langggsung happpprrry endrrring, ntar garrkkk serrrru,” tutur robot Annisa sambil memeluk cyborg Cina pada saat premiere cin(T)a di Blitz Bandung.
Buyar sudah kenangan nikmatnya menonton cin(T)a dengan suara bening dan gambar jernih seperti pertama kali menyaksikan cin(T)a di layar lebar National Film Theater London. Premiere di Bandung jadi special edition banget karena... Annisanya blasteran Jawa – Transformer!#?!
Itu cuma sebagian kecil dari cacat suara akibat sutradara bego gak tahu kalau encoding suara dari stereo ke 5.1 itu beresiko tinggi gagal. Akibatnya satu setengah jam premiere menjadi lebih menegangkan dari nonton film action dan menyengsarakan buat sutradara dan produser cin(T)a yang berpelukan duduk di barisan depan dengan posisi ‘get a room’. Tiap suara delay dan Annisa merobot, sutradara menangis-nangis sambil menggigiti produser yang coba menenangkan sambil juga meraung-raung bersama.
But the show must go on! Film gak bisa diberhentikan. Dan sutradara gak boleh keluar,dipaksa menyaksikan her baby transformed into some sci-fi robotic movie. Habislah si produser biru-biru digigiti sutradara selama 79 menit pemutaran.
Untungnya hari itu yang menghadiri premiere adalah keluarga dan calon keluarga kru dan cast, kaum-kaum ‘terpaksa nonton’ yang gak akan mencela film ini karena besarnya cintanya pada kami, filmmaker-filmmaker bodoh ini. Jadinya gue masih punya waktu seminggu sebelum cin(T)a dillepasin ke piranha-piranha film Indonesia minggu depan !
Sejak hari itu sutradara punya hobi baru: Test screening.
Tiap jam 8 pagi sebelum Blitz buka, dan jam 1 pagi setelah Blitz tutup, sutradara terlihat berkeliaran di Grand Indonesia dengan mata hitam tanpa bantuan eye liner. Bahkan pernah suatu hari test screeningnya disusul sprint naek busway ke Blok M di mana wartawan-wartawan udah pada nunggu untuk press conference.
Sammaria terlambat 5 menit, gak sempet pake eye liner, keringetan, bau terminal, dan langsung disambut dengan tuduhan menghina Tuhan dan berusaha membuat agama baru oleh salah satu wartawan. Ngiiik...
Diakhiri dengan tidak jadinya interview cin(T)a ditayangkan di dua televisi nasional Indonesia karena produser mereka merasa isu cin(T) a terlalu sensitive. Batallah program cari jodoh Sammaria di media nasional.
Ditambah dua surat dari organisasi masyarakat kepada LSF yang menyarankan agar cin(T)a ditarik dari peredaran, pemutaran cin(T)a terancam ikutan dibatalkan.
Selain lulus sensor, cin(T)a juga harus lolos test screening Blitz. Kualitas suaranya sudah lebih mendingan dibandingin pas premiere Bandung, tapi masih belum lolos standard screening komersial Blitz.
“Kalau Tuhan mengizinkan, biarlah film ini ditayangkan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa.”
Sammaria, Kunyil, dan Kunyir: tiga mbak-mbak pencari jodoh dengan dalih promo cin(T)a cuma bisa pasrah.
“Masa sudah tiga kali test screening gak lulus juga?” kata si Kunyil nyinyir di suatu pagi buta sepulang test screening, berusaha menirukan salah satu adegan cin(T)a yang di-dubbing si Kunyir. Si Kunyir yang disangka sudah tidur tertawa tanpa suara di pojok sana.
Akhir cerita, trimbakentir tetap tertawa. Some invisible hand save their kere ass from trouble. Pihak Bllitz setuju menayangkan cin(T)a dengan suara stereo walau dengan resiko harus terus merubah setting karena setting cin(T)a tidak standard.
Untungnya filmnya laku, jadinya Blitz agak heppi dikit. Dan untungnya Cina dan Annisa cakep, jadi banyak penonton yang masih mentolerir kualitas suaranya yang kadang-kadang mendem di beberapa studio.
Banyak juga sih yang galak... huhuhu maafkan.
Next time... when we have more money... and more knowledge... and more wisdom... I’ll make sure we have a proper sound man. Janji gak bikin pusing sound editor lagi.
Tapi kalo gak bikin biru-biru pak produser, gak janji ya... Karena ternyata enak juga gigit-gigit produser... Nyum... nyum... krauk...=D
Tampilkan postingan dengan label promo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label promo. Tampilkan semua postingan
Minggu, 20 September 2009
Sabtu, 19 September 2009
menonton penonton
Juli dan Agustus gue lewati tanpa menulis. (Good job for someone who wish to be a writer someday) Juli dan Agustus gue diisi dengan menonton penonton cin(T)a di berbagai tempat, monopoli microphone di tiap diskusi dengan harap2 disuruh nyanyi, dan mengurangi populasi unggas dan babi di berbagai pelosok dunia yang mengundang gue muterin cin(T)a. Wauahahhahhahah alhasil program “amazing sammaria, truly asia” gue ditunda karena tidak bisa tampil singset pas premiere.
Juli dan agustus jadi roller coaster terseru di hidup gue, menggeser posisi magic mountain di Anaheim yang efek thrillingnya cuma tahan 5 menit. Ternyata ada lhooo yang mau nonton film cin(T)a. Di atas kertas kotretan produser2 hantu masa kini, film beginian mustahil ada yang nonton. Pemainnya cuma 2 dan entah siapa; produser dan semua krunya baru pertama bikin film; gak ada adegan seks, kekerasan, maupun seks dalam kekerasan; ngomonginnya suku agama ras dan IP sepanjang film... mak! Malas kali pun muda mudi Indonesie ‘ni menonton film macam tu. Untung sutradaranya cantik dan pandai merayu.
Makanya pas tiket cin(T)a sold out di mana-mana, gue diserang rasa takjub sekaligus bersalah. Takjub karena ternyata God Is Really A Director. Cin(T)a adalah bagian kecil dari skenario besar Doi yang jauh lebih seru. Merasa bersalah karena ternyata tagline “God Is A Director” tidak mampu menggambarkan kreativitas Doi. Ternyata God Is A Producer juga. A Promo Manager juga. A Marketing Executive juga.
God is everything... and nothing....
Hahaha... I’ve heard that before, but never could understand the nothingness bullshit. How come anything be nothing and everything at the same time? It took some people a calm and quiet minute to understand. It took me 24 months of hectic movie production , long debates, and endless travelling to actually understand that God is nothing and everything. I guess some Batak are just too stubborn to understand things in serenity.
Respon cin(T)a sangat beragam. Ada yang menyebut gue titisan Yasmin Ahmad. Ada yang bilang gue titisan tukang sampah dan sebaiknya gak usah ada. (Berhubung gua dari Bandung di mana tukang sampah sangat dibutuhkan, I took that as a compliment hehehe) Yang lebih menarik dari menonton cin(T)a ya memang menonton penontonnya. Menonton penonton cin(T)a seperti menonton Indonesia sepuluh tahun ke depan. Karena dalam 10 tahun, orang2 inilah yang akan megang Indonesia.
Bertemu dengan para penonton cin(T)a, gue jadi semakin tenang. Hilang semua kemarahan dan pahit hati yang membensini gue untuk bikin cin(T)a. Mereka tidak selalu setuju dengan gua, dan masih ada juga manusia2 galak yang kupingnya cuma asesoris, tapi setidaknya kebanyakan kuping ternyata masih dipakai untuk saling mendengarkan.
I have a feeling God is smiling watching all of us here.
Juli dan agustus jadi roller coaster terseru di hidup gue, menggeser posisi magic mountain di Anaheim yang efek thrillingnya cuma tahan 5 menit. Ternyata ada lhooo yang mau nonton film cin(T)a. Di atas kertas kotretan produser2 hantu masa kini, film beginian mustahil ada yang nonton. Pemainnya cuma 2 dan entah siapa; produser dan semua krunya baru pertama bikin film; gak ada adegan seks, kekerasan, maupun seks dalam kekerasan; ngomonginnya suku agama ras dan IP sepanjang film... mak! Malas kali pun muda mudi Indonesie ‘ni menonton film macam tu. Untung sutradaranya cantik dan pandai merayu.
Makanya pas tiket cin(T)a sold out di mana-mana, gue diserang rasa takjub sekaligus bersalah. Takjub karena ternyata God Is Really A Director. Cin(T)a adalah bagian kecil dari skenario besar Doi yang jauh lebih seru. Merasa bersalah karena ternyata tagline “God Is A Director” tidak mampu menggambarkan kreativitas Doi. Ternyata God Is A Producer juga. A Promo Manager juga. A Marketing Executive juga.
God is everything... and nothing....
Hahaha... I’ve heard that before, but never could understand the nothingness bullshit. How come anything be nothing and everything at the same time? It took some people a calm and quiet minute to understand. It took me 24 months of hectic movie production , long debates, and endless travelling to actually understand that God is nothing and everything. I guess some Batak are just too stubborn to understand things in serenity.
Respon cin(T)a sangat beragam. Ada yang menyebut gue titisan Yasmin Ahmad. Ada yang bilang gue titisan tukang sampah dan sebaiknya gak usah ada. (Berhubung gua dari Bandung di mana tukang sampah sangat dibutuhkan, I took that as a compliment hehehe) Yang lebih menarik dari menonton cin(T)a ya memang menonton penontonnya. Menonton penonton cin(T)a seperti menonton Indonesia sepuluh tahun ke depan. Karena dalam 10 tahun, orang2 inilah yang akan megang Indonesia.
Bertemu dengan para penonton cin(T)a, gue jadi semakin tenang. Hilang semua kemarahan dan pahit hati yang membensini gue untuk bikin cin(T)a. Mereka tidak selalu setuju dengan gua, dan masih ada juga manusia2 galak yang kupingnya cuma asesoris, tapi setidaknya kebanyakan kuping ternyata masih dipakai untuk saling mendengarkan.
I have a feeling God is smiling watching all of us here.
Rabu, 29 April 2009
90% OF MOVIE MAKING HAVE NOTHING TO DO WITH MOVIE
When you come close to selling out, reconsider
Give your heaven above more than just a passing glance
And when You get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Sudah lima minggu gue bolak balik Jakarta. Making a movie is one thing. Distributing it is a lot tougher.
Baru aja baca Rebel Without A Crew. Curang. Robert Rodriguez punya Columbia Pictures, Disney, dan Tristar rebutan buat distribusiin film dia. Jadi habis bikin El Mariachi, dia bisa konsentrasi bikn film selanjutnya tanpa pusing dengan distribusi.
Untungnya gue lahir di Indonesia. Jadinya gue masih harus berjuang lebih banyak lagi.
Launching.
Bioskop.
Roadshow.
Bring it on!
Give your heaven above more than just a passing glance
And when You get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Sudah lima minggu gue bolak balik Jakarta. Making a movie is one thing. Distributing it is a lot tougher.
Baru aja baca Rebel Without A Crew. Curang. Robert Rodriguez punya Columbia Pictures, Disney, dan Tristar rebutan buat distribusiin film dia. Jadi habis bikin El Mariachi, dia bisa konsentrasi bikn film selanjutnya tanpa pusing dengan distribusi.
Untungnya gue lahir di Indonesia. Jadinya gue masih harus berjuang lebih banyak lagi.
Launching.
Bioskop.
Roadshow.
Bring it on!
MY OWN FILM SCHOOL
Cin(T)a is finished. I have one movie in hand, no money, and still a lot of things to learn for my next movie. Film school is no option. It will cost me SGD 55.000 a year just for tuition. Bisa aja sih kalo bokap gue jendral tajir atau something Riyadi. Too bad I am not, so the only way is : I need to make my own film school.
I make my own curriculum. And I chose my own list of teachers.
Film cin(T)a gue kirimin ke para pencipta favorit gue. Yasmin Ahmad,Joko Anwar, Garin Nugroho, John De Rantau, Nia Dinata, dan Enison Sinaro in the directing sections. Ayu Utami and Dewi Lestari in the writing sections. Jalaludin Rahmat, Romo Muji, and Bambang Sugiharto in the spiritual sections.
Thanks to XL gratis SMS setiap hari setelah ngirim 8 SMS, gue jadi bisa setiap hari men’teror’ orang-orang sibuk ini sampai akhirnya luluh mau menonton film gue. Garin Nugroho, Nia Dinata, dan Yasmin Ahmad belum berhasil gue ‘teror’. Tapi selama Mentari masih terbit di timur, dan selama XL masih gratis SMS, teror gue belum akan selesai hihihi=P
Thanks to mereka yang bersedia gue ‘teror’. Now I have a better understanding of what I want to do next. Can't wait for it.
I make my own curriculum. And I chose my own list of teachers.
Film cin(T)a gue kirimin ke para pencipta favorit gue. Yasmin Ahmad,Joko Anwar, Garin Nugroho, John De Rantau, Nia Dinata, dan Enison Sinaro in the directing sections. Ayu Utami and Dewi Lestari in the writing sections. Jalaludin Rahmat, Romo Muji, and Bambang Sugiharto in the spiritual sections.
Thanks to XL gratis SMS setiap hari setelah ngirim 8 SMS, gue jadi bisa setiap hari men’teror’ orang-orang sibuk ini sampai akhirnya luluh mau menonton film gue. Garin Nugroho, Nia Dinata, dan Yasmin Ahmad belum berhasil gue ‘teror’. Tapi selama Mentari masih terbit di timur, dan selama XL masih gratis SMS, teror gue belum akan selesai hihihi=P
Thanks to mereka yang bersedia gue ‘teror’. Now I have a better understanding of what I want to do next. Can't wait for it.
Langganan:
Postingan (Atom)