Jumat, 22 Mei 2009

cin(T)a goes to UK

Dengan rahmat syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, telah sampailah kita ke saat yang berbahagia (walaupun ternyata sama saja seperti hari-hari lainnya)...

cin(T)a goes to UK.

Perjalanan agak panjang mencari tiket untuk memberangkatkan cin(T)a akhirnya berbuahkan hasil. Salah satu mantan pejabat papan atas ibu kota akhirnya tergerak hatinya untuk membantu ekspor beberapa produk unggulan Indonesia ke UK.

Komoditas yang diekspor adalah...

Budi Sasono, the DOP... fungsinya jadi kameramen biar kami punya footage video yang layak untuk disalurkan ke beberapa televisi.
Sunny Soon, mewakili actors department... sekaligus jadi tukang potret keliling memastikan kita punya foto yang layak untuk berita.
Ardanti Andiarti, the publicist... ngakunya sih mau bikin news feed untuk cin(T)a, tapi sepertinya ada agenda cinta yang lain.
Dina Dellyana, the musician... ceritanya sih mewakili homogenic, tapi kalo kita sampai kere kurang duit kayanya doi yang pertama laku dijual. hihihi.
Sammaria Simanjuntak, the director... buat dipajang di depan mengobati luka hati fans saira jihan yang gak ikutan ke london.

Sementara itu Dini Dellyini akan ditinggal di Indonesia buat jaga kandang, agar produk-produk ini bisa diekspor ke tempat lainnya di Indonesia dan mancanegara.

Belum berangkat, sudah ada larangan menonton film ini dari beberapa komunitas. Katanya film ini menghina Tuhan.

God, please...

kalau memang film ini menghina Dirimu, tolong jangan biarkan film ini ditayangkan.

tapi kalau Kau memperbolehkan ditayangkan, tolong undang beberapa ciptaan-Mu yang berdada bidang dan berkulit gelap dan bukan simanjuntak untuk nonton. hihiy=P

And if anything happens, please save me from your followers.

Galak-galak abisnya. serem=P

Senin, 04 Mei 2009

May 4th 2009 : RESIGN CLUB 2nd anniversary

Dua tahun yang lalu gue resign karena pengen bikin film. Film yang beda. Film cin(T)a.

“Cinta lagi?”
“Gak kurang banyak apa yang bikin film cinta? “
“Gak salah lo milih judul?”
“Yang maen Desy Ratnasari ya?”

Berkali-kali gue menjelaskan kalau film gue bukan cinta biasa. Ini cintanya dengan T dalam kurung.

Cin(T)a.

Isinya tentang cinta segitiga antara Cina, Tuhan, dan Annisa.

“Oh... cinta beda agama?”
“Sequel Ayat-Ayat Cinta?”
“Yang jadi Tuhan siapa? Kayanya Alex Komang cocok tuh.”
“Mending judulnya Annisa Di Ranjang Cina, gimana?”

Nih judul gak bisa diganti, walaupun banyak yang wanti-wanti nih film bakalan merugi.

“Tenang aja! Duit mah pasti ngejar gue,” jawab gue dengan sombong-sombong cemas meladeni para pesimistis kapitalis.

“Duit tuh ibarat cewe cantik yang biasa dikejar-kejar. Dia cuma mau ngejar orang yang gak ngejar dia,” sabda ketua Babacan dalam salah satu khotbahnya.

Walaupun kadang ragu datang menyerang. Takutku bilang akankah gagal membayang. Apalagi setelah lima minggu, respons sponsor tak kunjung datang.

Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance


Untungnya Ronan Keating kembali berdendang, mengajak gue untuk kembali bergoyang.

Cha cha cha... tu wa ga pat....
Dangdut tali kecapi...
biar gendut yang penting seksiii...


Kalau bukan karena uang, kenapa gue masih bergoyang?
A) Karena cape nonton film cinta yang bikin cinta terpolusi dan butuh revitalisasi lebih banyak dibanding Cikapundung.
B) Cape dehhh nyela-nyela film orang, gantian sekarang dicela-cela.
C) Karena gue sering mencintai manusia lebih daripada gue cinta Tuhan.
D) Tadinya mo bikin film hantu. Eh kok jadinya film Tuhan?
E) None of the above.

Dua tahun berlalu sejak gue belajar bergoyang. I used to have money, home, and a job with a name card, but I was always afraid of having no money, no home, no job, and no name card. Now I have no money, no job, no name card, and no fear!

And no one to dance with.

Ada yang berani menemani gue bergoyang? =P

No Simanjuntak, please.

Sabtu, 02 Mei 2009

Agama : Manfaat dan Mudarat

Meminjam pemikiran seorang teman yang telah 41 tahun bergumul dangan Tuhannya dan masih seksi ajeee, akhirnya doi berkesimpulan agama ternyata gak semuanya mudarat, Bo. Ada juga manfaatnya. Setidaknya ada dua manfaat agama:

Yang satu memberi tempat kepada mereka yang terpinggirkan.
Di gereja doi, ada beberapa teman cacat mental yang sekolah bareng ama doi. Semakin dewasa,teman-teman ini semakin menghilang dari sekolah karena keterbatasan kemampuan mereka. Sementara di gereja, mereka masih bisa eksis dan masih nyanyi ajeee.

Setidaknya agama memberi kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa batas kemampuan otak, finansial, sosial, dan lain-lain. Agama memberi tempat buat mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Yang ke dua: agama sebenarnya lebih bermanfaat buat anak-anak... yang masih harus dicerewetin jauh-jauh dari api biar gak kebakar. Agama juga memberikan kesempatan minta baju baru dan makan-makan seru sekali setahun... pokoknya festive! Suasana yang paling bikin anak-anak senang dan menanti-nanti.

Semakin dewasa,kita gak butuh sekedar festive.Kita butuh cara beragama yang lebih advanced. Kita membutuhkan beragama bukan karena baju baru sekali setahun. Kita membutuhkan agama bukan karena kita takut dihukum. Kita membutuhkan agama bukan karena kita nggak bisa ngatur diri sendiri. Kita mulai belajar beragama gak lagi secara childish. (There is a difference between childish and child-like.)

Bayangkan jika semua orang masih beragama dengan cara yang anak2. Ada yang beda sedikit, marah. Ada yang gak sesuai dengan hatinya, ngamuk. Jika ditanya kenapa nangis, gak bisa menjelaskan... cuma bisa menjerit sambil mecah-mecahin barang. Kita menjadi monster-monster kecil yang bertindak berdasarkan keinginan hati sendiri. Mama, papa, dan kakak-kakak harus turut kebenaran gue.

Dari semua manfaat agama, sayangnya agama jugalah yang menciptakan monster-monster infantil ini.

Infantil. That’s a better word. Bukan childish. Maaf ya, anak-anak.

Bandung : Verona Van Java

Tralala trilili. Gue mau nonton Romeo Juliet. Ceritanya gak jauh beda ama film gue, cinta beda agama. Yang satu agamanya Viking, yang satu The Jak. Tuhan dan keluarga merestui hubungan mereka, tetapi sepak bola tidak.

Ternyata film ini dilarang beredar di Bandung. Kabarnya karena ada sebagian masyarakat yang menganggap film ini menghina masyarakat Sunda. Polisi takut film ini akan menimbulkan keresahan pada masyarakat bla bla bla.

Akhirnya Ucup, si sutradara, bikin private screening di Blitz dengan mengundang pihak-pihak yang merasa dihina, terutama komunitas Viking. Para wakil yang diundang menonton akhirnya datang. Bukan untuk menonton, tapi untuk ngegebukin sutradaranya.

Screening dibatalkan.

Sebagai orang Bandung, gue merasa malu. Ini adalah bukti kami tidak cukup dewasa menerima pendapat orang lain. Kami membiarkan minoritas radikal bersuara lantang dan menyetir keputusan di kota ini. Sementara mayoritas yang sebenarnya tidak radikal ternyata tidak cukup punya keberanian... atau kepedulian.

Di usianya yang sudah aki-aki, Bandung melewatkan satu lagi momen untuk tumbuh dewasa.

Kamis, 30 April 2009

Thank You, Robert Rodriguez

I cut this from his book. It gets me out there and keeps enjoying making imperfect movies. I hope you and I are not done yet in whatever passion we have.

A Rebel Without A Crew:

I think that everyone has at least a dozen or so bad movies in them. The sooner you get them out, the better off you are.

Think of it as a research or studying before the big test. If you walk in for the test on the day, having not done some homework or studying on your own, you’ll get clobbered. Many students in the film class spent about $1000 on their projects since it was 16mm and the projects came out lame, because they were trying to learn everything at once and expected the results to be better.

I talked to a few of these students who all semester had been talking about how much they wanted to be directors, then they made their first film and it’s less than they expected and so they got discouraged. They gave up and said “I don’t want to be directors anymore,I don’t think that’s my bag. What I really want to do is produce!”

First of all, this is where producers come from.
Second, they wouldn’t have been so discouraged and given up so easily if they had just kept going.
Third, the more experience you give yourself, the more prepared you are for the next project. If you want to be a rock star, you don’t go to a rock star school and expect to come out like Jimi Hendrix after a few short classes. You have to lock yourself in the garage and practice till your fingers bleed.

Enough schooling. Get your ass out there and make a movie because I’m telling you, Hollywood is ripe for the taking. There are so many creative people out there itching to make something, but they’re too negative in thinking they’ll never get anywhere or it’ll never happen.

Good luck to following whatever passion you have. You will most probably succeed in attaining it. And if you don’t, you’ll find that if it’s really your passion you are following then you will find enormous fulfillment and incredible satisfaction from at last trying.

Thank you for your time and I hope someday I can meet you in person. Until then... Good luck and God Bless.

TIPS BIAR DICINTAI AUDIO COMPOSER

Tips biar gak dimusuhi audio composer: I have no idea. Mas Muhammad Betadikara ini species phlegmatis yang tenang, santai, go with the flow, dan gak juga memusuhi gue sekalipun disuruh mengerjakan pekerjaan satu orkestra sendirian. Hasil kerja setahun John Powell and co. bisa dikerjain Beta and co.mputer hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baru di tengah jalan ada beberapa Strangers yang kebetulan lewat bernama Gugun dan Lanlan ngebantuin Beta. Jadinya sutradara kembali dikelilingi musisi-musisi ganteng... damn. I love this job.

Tadinya gue mo menulis tips bagaimana biar dicintai audio composer instead. Tapi ini juga kayanya gak mungkin deh. ‘Komunikasi intens’ gue dengan bapak audio composer tidak mengalihkan cintanya dari Mustika Ramhatoa. Dikasih nama RahmaTOA bukan tanpa prestasi. Rahmatoa baru nyampe Dago, suaranya dah nyampe Cicadas sangkin kerasnya.

Gue curiga jangan-jangan gendang telinga Beta sudah mengalami infeksi kronis yang sudah menjalar ke otak sehingga Beta tidak lagi mampu menerima sinyal-sinyal cinta dari wanita-wanita normal yang desibel suaranya masih dalam range manusia, bukan toa.

Atau mungkin juga karena si Toa jago merayu. Aku terharu deh baca blog mereka. Please check out http://rahmathya.multiply.com/

TIPS BIAR GAK DIMUSUHI SOUND EDITOR

1) Jangan pernah bikin script di mana karakter Batak dan Jawa disatuin!

Si Cina tereak-tereak, sementara Annisa bisik-bisik. A Andri harus kerja keras buat nyamain level suaranya. Tips ini juga berlaku kalo gak mau dimusuhi color grader. Si Cina dan Annisa beda warna kulit. Susah mendapatkan tone warna yang asik buat kedua jenis kulit. Si Cina dah bagus, eh kulit Annisa jadi agak kuli bangunan. Diubah dikit, eh si Cina jadi vampir anemia.

Kalo lo tetep pengen bikin script Jawa ama Batak... lo harus punya duit buat bayarin artis lo latihan vokal. Biar suaranya bisa lembut tapi volumenya tetep kenceng. Atau kalo lo gak punya duit buat bayarin latihan vokal, setidaknya...

2) Jangan pernah nyuruh astrada lo merangkap boomer.

Get yourself seorang lelaki berdada bidang yang kuat menyangga boom 2 minggu. It sounds like a boring job but it is very important for the movie. You have to direct your boom in the right angle so it would catch even ‘bisik-bisik Annisa’ perfectly.

I actually did get a cool dude to be the boomer. Decky, seorang musisi handal yang KTP-nya bertuliskan --- PEKERJAAN : MUSISI. Tapi tiba-tiba doi menghilang. Gosipnya masalah percintaan. Oh cinta memang kejam, tak mengenal waktu shooting.

3) Sediakan deodoran

Si boomer harus pede pamer ketek selama mengangkat boom. Bau-bau tidak sedap akan mengganggu konsentrasi akting pemain yang berada di radius ketek boomer.




Sammaria, there was a reason they called it audio visual, u know! They put audio first then visual bacuse it is in a way more important than the the visuals. Apalagi film “No Action Talk Only” kaya film lo seharusnya lebih mempersiapkan diri dengan audio. Bego.

Untungnya kita diselamatkan lagi oleh another tukang sulap yang kali ini menyamar jadi Sound Editor. A Andri bisa menyulap teras di rumahnya menjadi ruang editing suara, dan menyulap bisik-bisik Annisa biar kedengeran, dan menyulap audio cin(T)a menjadi lebih watchable. Sebuah perjuangan yang panjang apalagi mengingat ada suara entog tetangga sebelah yang narsis hayang kapelem. Entog selalu berbunyi tiap kita lagi dubbing.

Rabu, 29 April 2009

TIPS BIAR GAK DIJUTEKIN EDITOR: Catet Adegan!

“Pasti lo shooting diem-diem deh! “ gugat Anky, the editor, sewot gara-gara banyak footage tanpa keterangan dan catatan. Anky harus ngedit footage 25 jam menjadi 2 jam dengan banyak footage yang diambil diam-diam oleh sutradara tanpa sepengetahuan kru lain. Hihihi.

Seharusnya setiap malam tuh footage-footage gagal sudah dihapus dari hard disc biar gak menuh-menuhin back up hard disc. Jadinya nanti yang dimasukin ke hard disc master cuma footage yang akan dipakai saja. Lumayan kan bisa menghemat space hard disc. Shooting dengan P2 menghabiskan 16GB untuk tiap footage 15 menit.

What? Back up hard disc? Master hard disc? Apaan tuh? We only have one hard disc. And we took it anywhere we went.

What a kere system of film making. Please don’t consider following us. Fortunately another invisible hand save our kere ass from trouble. Semua footage cin(T)a aman tanpa cacat berarti.

Tapi tetep more works for the editor. Dan si sutradara terpaksa nongkrongin mencari adegan2 ‘hilang’ yang lupa dicatat. Untung si editor baru bulan madu, jadinya lagi in a very good mood. Tapi tetep rese, gak berhenti-berhentinya bikin sirik sutradara.

“Makanya lo cepetan kawin. Enak!”

Monyet. Pokoknya film gue berikutnya harus tentang Batak. Biar gue bisa casting seorang lelaki Batak berdada bidang, berkulit gelap, dan bukan Simanjuntak. Amin.

Annisa-Annisa Di Kontes Kecantikan Ibu Kota

“Gue dah dapet Annisa!!!” teriak Sammaria menggetarkan nyali seluruh penduduk Sembian Matahari Film.

Ruang sempit yang diiisi 4 poster film di salahsatu dinding itu hening beberapa saat. Jangkrik pun berhenti berderik sesaat, ikut tidak percaya dengan pernyataan Sammaria.

Lalu para pejuang tim casting dan jangkrik itu menghela nafas panjang setelah lebih dari 4 bulan menahan nafas akibat tidak juga menemukan sang putri utopia ciptaan Sammaria. Yang ini kurang cantik. Yang cantik kurang pinter. Yang pinter kurang menjual. Yang menjual, kurang kurus.

“Kalo ginian, mending gue yang jadi Annisa!” lanjut Sammaria sambil memamerkan lemak di kiri kanan pinggangnya yang konon dianggap seksi di jaman Monalisa.

Tapi akhirnya pencarian jarum di jerami itu berakhir setelah Sammaria bertemu dengan Rainy.

Rainy memang berbeda dengan cewe cantik lainnya yang mereka casting. Dia tidak hanya pintar, tapi juga charming dan rendah hati. Species wanita langka yang bikin wanita lain ingin mempunahkan demi terjaganya kestabilan stock lelaki.

“Rainy dan Sunny! Kebetulan banget gak sih? Emang udah rencana Tuhan nih kayaknya.” Seru Sammaria euphoria sambil menempelkan data casting kedua pemeran utama pilihannya di board depan ruangan.

Sunny dan Rainy. It’s too good to be true. Bahkan sampe membuat Sammaria percaya ada Tuhan yang cukup kreatif menciptakan dunia ini. Terdengar seperti nama karakter fiktif di sebuah chicklit murahan, cetakan penerbit remaja kodian. Tapi ini bukan fiksi. Sunny dan Rainy akan memerankan tokoh Cina dan Annisa dalam film pertamanya.

“If it’s sunny and rainy at the same time, you’re gonna have a rainbow!” seru sebuah YM dari Winda di ujung kota lainnya.

Sammaria sudah tidak sabar melihat pelangi.

“Kapan kita tanda tangan kontrak ama Sunny dan Rainy?”

“Sabar, Bo. Kita harus nego harga dulu ama mereka,” jawab Mas Adi Panuntun pusing karena pilihan Sammaria ternyata pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota. More money.

Sammaria sudah tidak sabar untuk memulai proses rehearsal. Sunny dan Rainy akan menjadi pasangan yang lebih legendaris dari Cinta dan Rangga.

+++


When it rains, it really does pour.

Rainy mengundurkan diri.

Sammaria masih bengong sendirian sepeninggal Rainy. Sammaria terlihat sangat kecil terduduk di antara dua pilar neo Klasik Campus Center putih ITB yang menjulang tinggi, terpuruk dengan keputusan Rainy. Manusia lalu lalang di depannya. Dunia terus berputar, seakan tidak peduli dengan hidup Sammaria yang berhenti beberapa menit yang lalu.

“Kita semua tentunya ingin film ini mencapai hasil yang maksimal. Karenanya, untuk kebaikan semua pihak lebih baik gue mengundurkan diri daripada gue menjadi penghambat di proyek ini,” tutur Rainy dengan bahasa yang sopan dan diatur hasil polesan setahun menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan ibukota.

“Anjing! Lo harusnya ngomong gitu dari dulu pas kita nego harga dan jadwal! Bukan pas shooting tinggal sebulan lagi, goblog!” teriak Sammaria sambil melancarkan turbo kick bertubi-tubi ke dada dan pipi Rainy. Tubuh semampai indah itu terkapar tak berdaya, terjatuh terguling-guling sampai di bawah tangga. Sehabis ini, Rainy pasti tidak bisa melenggang indah di panggung catwalk lagi.

Untungnya Sammaria masih berbudaya.

“Gue menghargai keputusan lo. Tapi coba pikirin lagi,” tutur Sammaria ikutan bijak dengan senyum politik paling tulus yang bisa ia pamerkan. Siapa bilang sutradara tidak bisa akting.

“Ntar gue telepon lo lagi setelah gue pastiin jadwal gue,” jawab Rainy mengakhiri pertemuan mereka.

“Tai! Gue tahu lo gak bakalan berani nelpon gue lagi!” teriak Sammaria sambil memberondong tubuh Rainy dengan AK - 47. Rainy berenang gaya punggung sejenak di udara sebelum akhirnya terkapar jatuh menghantam paving block.

Tapi Sammaria masih berbudaya.

Sammaria terseyum sambil memandangi tubuh 172cm yang semakin lama semakin mengecil, dan menghilang menjadi sebuah titik di kejauhan.

“Dor!” sahut Sammaria lemah sambil mencoba menembak titik Rainy dengan pistol jarinya. Tapi titik kecil itu tetap mengecil dan akhirnya lenyap.

Setetes air mendarat di pipi Sammaria. Sammaria menengadah memandang langit mendung yang seakan-akan turut berduka cita dengan kegalauan hatinya. Beginilah akibatnya kalau bekerja pakai hati. Kalau gagal, rasanya lebih sakit daripada putus cinta.
Kalau putus cinta sih gampang, tinggal cari lagi. Kalau diputusin aktris, lebih susah karena melibatkan waktu masyarakat banyak dan modal yang tidak sedikit.

Lebih banyak tetes air mendarat di pipi Sammaria. Manusia-manusia tidak lagi lalu lalang di depan Sammaria. Semuanya sudah mencari tempat berteduh, tidak sudi rambut salonnya keguyur hujan.

Sammaria tetap terduduk, membiarkan tetes demi tetes rainy membasahi tubuhnya. Kebetulan. Biar air mata yang menetes deras dari matanya tersamar oleh air hujan. Sammaria terlalu banyak terkena Efek Rumah Kaca, membuat hati Melayunya semakin mendayu-dayu.

Sammaria tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Mengangis kenapa? Gara-gara cewe kaya Rainy doang? Kaya gitu doang sih sepuluh juga bisa langsung dapet di pasar.

Tapi pasar mana? Rainy itu sempurna. Air mata Sammaria tambah deras memikirkan proses casting panjang yang harus dia lewati untuk menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy. Lebih baik mati saja.

Sammaria mendekati ujung lantai, siap mementalkan tubuh gempalnya ke lantai dasar.
Untungnya tiba-tiba Sammaria teringat komedo di hidung Rainy.

Memang sepertinya ini petunjuk. Rainy kurang sempurna untuk peran Annisa. Nanti Sammaria gak bisa banyak pake shot close up. Sementara wide shots will cost her more.

Sammaria menghapus air yang terus mengguyur wajahnya. Sammaria needs revenge. Sammaria harus menemukan Annisa yang lebih sempurna dari Rainy, membuat film terbaik Indonesia, dan mati ketawa melihat wajah penuh penyesalan Rainy saat diundang ke premiere.

Anger really corrupted her soul.


PS: cerita di atas kayanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan tempat peristiwa, mungkin memang disengaja.


+++


It’s rainy day. Hallelujah.


Setelah beberapa hari terpuruk di kamar menangisi kepergian Rainy, Sammaria bangkit.
Yang terpikir pertama kali di benak Sammaria adalah seorang cewe yang juga pernah menang si kontes kecantikan ibu kota sebelum Rainy. Hayu adalah salah satu cewe paling cantik dan anggun yang pernah dikenal Sammaria.

“Hi, I’m a new inbound from India,” sapa Hayu ramah saat pertama kali bertemu Sammaria yang duduk di sebelahnya pada suatu acara Rotary Exchange Program di Jakarta.

Sammaria terkesan dengan inbound India yang cantik dan ramah ini. Sammaria menceritakan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris dengan bersemangat.

“This is combro, our traditional food from West Java.”

“Interesting,” jawab Hayu penuh antusiasme.

Sammaria pun kembali beredar menyapa teman-temannya yang lain yang sudah setahun tidak dijumpainya sejak Rotary ke Amerika.

“Liat deh ada inbound dari India. Cantik banget. Baik lagi,” tutur Sammaria pada Ama sambil menunjuk ke arah Hayu yang sedang tertawa-tawa bersama sekumpulan teman lain. Ternyata selain cantik, dia juga jago bergaul. Baru sampai sebentar di Indonesia, dia sudah punya banyak teman.

Ama menoleh melihat ke arah yang ditunjuk dengan heran.

“Itu kan Hayu, baru pulang dari Jepang.”

Monyet! Ternyata Hayu dkk lagi ngetawain gue. What the hell was I doing explaining combro to an Indonesian... in English???

Cantik, anggun, jago menipu. Exactly the type that would be perfect for Annisa. Tanpa casting, gue tawarin Hayu jadi Annisa.

“Ada adegan ciuman??? Lo mau bikin gue cerai?” reaksi Hayu pertama kali gue tawarin. Damn. She’s married now. Two years too late.

Hayu menyarankan beberapa temannya yang juga jebolan kontes kecantikan ibukota dan satu junior kita di Rotary yang ternyata baru saja menjadi finalis salah satu kontes kecantikan ibu kota lainnya, Saira Jihan.

What’s with all this kontes kecantikan ibu kota? Kenapa somehow mereka yang cocok jadi Annisa adalah mereka yang telah dididik di kontes-kontes ini? Mungkin cuma mereka yang telah merasakan seminggu dikarantina tersenyum inilah yang bisa mengerti senyum Annisa.

Bukan senyum terpaksa. Bukan senyum takut dicela wartawan. Bukan senyum takut dikritik juri. Bukan senyum takut menyinggung perasaan orang lain kalau tidak tersenyum. Tapi bukan senyum yang tulus juga. Senyum Annisa... susah digambarkan dengan kata-kata. Senyum yang menyimpan sejuta misteri dan seribu kepedihan. Seyum yang bikin cowo-cowo pengen meluk dan melindungi Annisa dari segala perih dunia.

Aihhhhh mulai kan gue melayu mendayu-dayu. Gue ajalah jadi Annisa. Senyum doang bisalah gue.

Shooting Is My Purgatory. Simei Is My Paradiso.

After “Taxi Driver”, Scorcese said that shooting a movie was a horrible experience. I couldn’t agree more.

After cin(T)a, gue kabur ke Singapur... pusingggggggg!

Tiap gue shooting, selalu gue bertanya-tanya “What the hell am I doing here?”

Shooting is purgatory! It’s a constant pressure pushing you to show off your true skin. The worst and the best in you!

Tapi tiap gue selesai bikin film, I always suffer from short term memory loss. Tiba-tiba semua buruk-buruknya shooting jadi lupa. I only felt the love and positive improvement it brought to my soul. Every movie I make, I feel like I became a better person. I always forget how horrible the shooting was... sampai gue shooting berikutnya tentunya.

Then I start complaining again. What the hell am I doing here?!?!?!?

Di pelarian gue di Singapur, gue cuma berkubang di apartemen Kak Ria, nonton DVD bajakan yang dibawa dari Indonesia. It’s all the vacation I need right now after 2 weeks of constant pressure.

Kak Ria ini emak gue versi Singapur... dan salah satu bukti hidup kalau Tuhan itu ada.

Alkisah di awal 2006, a papi’s little girl arrived at Harbour Front along with her mami, papi, and 6 big suitcases. All of 6 belong to papi’s little girl yang akan memulai kerja pertamanya di Singapur . Sebuah mercedes hitam berplat kedutaan menjemput mereka dan mengantar mereka melihat-lihat beberapa calon rumah buat si kecil. Nothing fits. Yang satu tak ber-AC. Yang satu tak ber-MRT. Yang lain tak ber-WC. Nanti kasian nona kecil papi kalau tinggal di tempat begitu.

Tiba-tiba KSAD berkunjung ke Singapur. Karena si papi jauh kurang penting dibandingkan pak KSAD, Mercedes hitam harus segera pulang mengurus KSAD. Padahal si kecil belum dapet rumah. Si mami mengusulkan untuk sementara menginap di rumah anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun.

Setelah 70 missed call tanpa jawaban,mami nekat ngetok pintu apartemen si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu. Ternyata si anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu baru pulang dari pasar dan lupa bawa handphone. Nona kecil papi kemudian dititipkan untuk sementara sambil nyari rumah yang cucok.

Susah nyari rumah. Akhirnya si kecil bilang ke suaminya anaknya kakaknya teman lamanya Mami yang udah gak ketemu selama 15 tahun itu kalau si kecil mau numpang dulu di rumah mereka selama 3 bulan baru nanti nyari lagi. Bang Ucok Gultom pada dasarnya nggak keberatan. Kebetulan juga ada yang bisa nemenin istrinya soalnya dia harus bolak-balik Jakarta Singapur karena perusahaannya ada di Jakarta sementara istrinya kerja di Singapur.

Tiga bulan berlalu, si kecil mulai ngelunjak. Gak mau pindah. Si kecil mengangkat diri jadi anak dan ngaku2 bermarga Gultom. Tiap ditanya kapan dia mau pindah, si kecil pura-pura nggak denger.

She was looking for a house, and she found a home. She was happy there.

But nothing lasts forever. Sembilan bulan kemudian visa si kecil ditolak. Si kecil terpaksa pulang kampung ke Bandung .

But it’s not that easy to get rid of her. Si kecil punya paspor Batam, jadi gak pelu bayar fiskal.
Si kecil tetep ngelunjak, masih berasa punya rumah di Singapur. Jadinya si kecil masih sering muncul di Singapur dan minta makan ke Bang Ucok dan Kak Ria.

Seperti saat habis shooting cin(T)a, si kecil dateng ke Singapur cuma buat nonton DVD dan ngabisin makanan di Simei : Nasi Goreng Maling. It’s number five on ten things she loves about Singapore.

# 4: udang nestum
# 3: Bang Ucok
# 2: Kak Ria
# 1: ......