“Tugas kali ini adalah merekam 30 menit setiap hari apa pun yang kalian anggap menarik dari hidup kalian,” kata None Dosen Sammaria.
Bayi menangis. Hujan netes. Getaran bombox. Keong Racun.
30x7 hari. Total 3,5 jam.
Harus jujur! Jangan ngasal! Gue janji nilai kalian pasti bagus. Jangan sia-siain kesempatan mengenal diri kalian sendiri dan mengenal apa yang menarik bagi kalian.
Seperti pelukis yang gak mungkin bikin lukisan tiap jari, makanya bikin sketsa. Filmmaker juga harus bikin sketsa dengan video.
Dan si dosen pun ikut bikin tugas. Belajar sambil mengajar. Untung punya BB baru berkamera.
Ternyata hidup gue menarik. Gue dikelilingi dengan keindahan.
Mata anjing kurapan.
Ekor yang bergoyang melihat tuannya datang.
Mak Gondut makan semangka, penuh noda merah di baju.
What is a better way to learn than to teach?
I think I will give myself an A.
A for Alhamdulilah.
Rabu, 15 September 2010
Mari
Namanya Mari. Mariyuana.
Semua tertawa mendengar namanya. Semua gemas melihatnya. Kecil, berbulu, berpita, dan bermata kelereng. Warna bulunya machiato, campuran coklat dan putih penuh lemak. Muat dimasukin ke tas, biar kaya Paris Hilton.
MAri adalah hadiah ulang tahun manis untuk sang Mama.
Tapi itu dulu.
Sang mama gak doyang anjing. Si adek sekolah ke Jerman. Si kakak ke Malaysia.
Dikurung. Berak di tempat. Disiram. Basah. Gak pernah dikeringkan. Gak pernah dimandikan.
Mariyuana tak lagi machiato. Putihnya berganti abu-abu lengket-lengket. Coklatnya berubah hitam kegot-gotan. Koreng sana sini. Hyper active. Gak lucu. Gak guna. Gak bisa nangkep tikus.
Tapi matanya masih kelereng, memandang Mak Gondut penuh harap. Mak Gondut geer, berasa Mari minta dibawa pulang.
Mariyuana dibawa pulang. Ke rumah di mana anjing bisa berkeliaran bebas, gak
dikurung sendirian.
Ternyata Bonyet dan Boni gak terima. Mari kecil langsung diterkam. Segala teori ‘biarin cium pantat dulu’ ternyata tidak berlaku bagi Bonyet, si anjing kampung cemburu buta.
Mari terpaksa ditaruh di belakang, sementara Bonyet dan Boni berkeliaran bebas di rumah. Padahal yang anjing mahal Mari , Bonyet cuma 40 ribu.
Setelah dibawa ke dokter ama Papi, dimandiin dan diguntingin Cica, Mari kecil agak wangi sedikit, walaupun masih korengan. Belum cukup lucu untuk dikasih ke orang.
Ngidupin pompa air untuk mandi selalu jadi dilema di pagi hari, karena harus melewati kandang Mari. Mari selalu melonjak-lonjak minta diajak main. Gak tega liat matanya sedih tiap kali gue gak bisa lama-lama nemenin.
Kenapa sih si Bonyet? Toh kalau gue sayang Mari, dia gak akan kurang disayangi.
Mungkin ini rasanya jadi Tuhan ngelihat kita gak senag liat orang senang.
There is enough love for everyone.
Enough love.
Semua tertawa mendengar namanya. Semua gemas melihatnya. Kecil, berbulu, berpita, dan bermata kelereng. Warna bulunya machiato, campuran coklat dan putih penuh lemak. Muat dimasukin ke tas, biar kaya Paris Hilton.
MAri adalah hadiah ulang tahun manis untuk sang Mama.
Tapi itu dulu.
Sang mama gak doyang anjing. Si adek sekolah ke Jerman. Si kakak ke Malaysia.
Dikurung. Berak di tempat. Disiram. Basah. Gak pernah dikeringkan. Gak pernah dimandikan.
Mariyuana tak lagi machiato. Putihnya berganti abu-abu lengket-lengket. Coklatnya berubah hitam kegot-gotan. Koreng sana sini. Hyper active. Gak lucu. Gak guna. Gak bisa nangkep tikus.
Tapi matanya masih kelereng, memandang Mak Gondut penuh harap. Mak Gondut geer, berasa Mari minta dibawa pulang.
Mariyuana dibawa pulang. Ke rumah di mana anjing bisa berkeliaran bebas, gak
dikurung sendirian.
Ternyata Bonyet dan Boni gak terima. Mari kecil langsung diterkam. Segala teori ‘biarin cium pantat dulu’ ternyata tidak berlaku bagi Bonyet, si anjing kampung cemburu buta.
Mari terpaksa ditaruh di belakang, sementara Bonyet dan Boni berkeliaran bebas di rumah. Padahal yang anjing mahal Mari , Bonyet cuma 40 ribu.
Setelah dibawa ke dokter ama Papi, dimandiin dan diguntingin Cica, Mari kecil agak wangi sedikit, walaupun masih korengan. Belum cukup lucu untuk dikasih ke orang.
Ngidupin pompa air untuk mandi selalu jadi dilema di pagi hari, karena harus melewati kandang Mari. Mari selalu melonjak-lonjak minta diajak main. Gak tega liat matanya sedih tiap kali gue gak bisa lama-lama nemenin.
Kenapa sih si Bonyet? Toh kalau gue sayang Mari, dia gak akan kurang disayangi.
Mungkin ini rasanya jadi Tuhan ngelihat kita gak senag liat orang senang.
There is enough love for everyone.
Enough love.
Hela Na Burju
Bibik pulang kampung. Papi segera dialihfungsikan menjadi staf ahli pengepel lantai rumah oleh komandan yang mengangkat diri secara aklamasi: Mak Gondut.
Kasihan mendengar bapaknya disuruh-suruh ngepel, Bibik Infal mendatangkan diri khusus dari Jakarta.
Bibik infal datang bersama pel baru magic seharga 350 ribu yang menjanjikan no more peras memeras dan punggung bengkok.
Ternyata bakat-bakat diktator Mak Gondut genetis dan nurun ke Bibik Infal. Dengan dalih musim panen blueberry di ladang farmville, dan deadline proyek jalan layang di social city pimpinannya, proyek ngepel didelegasikan kepada asistennya: Hela na burju, menantu kesayangan Mak Gondut.
Sekarang papi gak sendirian lagi.
Goyang kanan goyang kiri. Hela Na Burju goyang ngepel diiringi Kesha.
Goyang ngepel Hela Na Burju didokumentasikan dan disebarkan ke berbagai situs jaringan sosial oleh Adik Kecil yang lagi latihan ngedit.
Komentar-komentar pun berdatangan. Selain ungkapan belasungkawa, pemesanan produk Hela Na burju sebagai calon suami idaman pun meningkat. Pesanan ini agak susah dipenuhi karena produksinya yang terbatas. Mutu hati Hela Na Burju ini sulit dideteksi karena seringkali dibungkus dengan packaging yang terlalu mini dan terlalu gelap. Jadi kurang bersinar di antara deretan rak calon-calon suami lainnya.
“Look at how he treats his Mom. That’s how he will treat you someday,” kata salah satu bos gue, memberi tips memilih produk hela na burju unggulan.
Tips ini agak berbahaya karena bisa jadi kita membeli produk anak mami yang lebih doyan ngetek ama emaknya daripada ama kita.
Dan tips ini hanya untuk berlaku untuk mencari suami ya! Gak berlaku untuk tips mencari istri. Bisa-bisa pasar gue semakin menyempit.
Pilihlah aku, cyiiinnnnn.
Kasihan mendengar bapaknya disuruh-suruh ngepel, Bibik Infal mendatangkan diri khusus dari Jakarta.
Bibik infal datang bersama pel baru magic seharga 350 ribu yang menjanjikan no more peras memeras dan punggung bengkok.
Ternyata bakat-bakat diktator Mak Gondut genetis dan nurun ke Bibik Infal. Dengan dalih musim panen blueberry di ladang farmville, dan deadline proyek jalan layang di social city pimpinannya, proyek ngepel didelegasikan kepada asistennya: Hela na burju, menantu kesayangan Mak Gondut.
Sekarang papi gak sendirian lagi.
Goyang kanan goyang kiri. Hela Na Burju goyang ngepel diiringi Kesha.
Goyang ngepel Hela Na Burju didokumentasikan dan disebarkan ke berbagai situs jaringan sosial oleh Adik Kecil yang lagi latihan ngedit.
Komentar-komentar pun berdatangan. Selain ungkapan belasungkawa, pemesanan produk Hela Na burju sebagai calon suami idaman pun meningkat. Pesanan ini agak susah dipenuhi karena produksinya yang terbatas. Mutu hati Hela Na Burju ini sulit dideteksi karena seringkali dibungkus dengan packaging yang terlalu mini dan terlalu gelap. Jadi kurang bersinar di antara deretan rak calon-calon suami lainnya.
“Look at how he treats his Mom. That’s how he will treat you someday,” kata salah satu bos gue, memberi tips memilih produk hela na burju unggulan.
Tips ini agak berbahaya karena bisa jadi kita membeli produk anak mami yang lebih doyan ngetek ama emaknya daripada ama kita.
Dan tips ini hanya untuk berlaku untuk mencari suami ya! Gak berlaku untuk tips mencari istri. Bisa-bisa pasar gue semakin menyempit.
Pilihlah aku, cyiiinnnnn.
Dijodohin
“Lo ama adek gue aja. Rumah kami ada dua di jalan Riau. Bisa lo jadiin kantor PH,” kata kakaknya setelah 5 menit kenalan dan ketahuan gue Simanjuntak.
Seru juga punya eda kaya doi. Kalaupun adeknya psycho, setidaknya gue bisa ngerumpi ama kakak ipar yang seru. Plus kantor gratis di Jalan Riau.
Makanya gue mau aja bertemu adiknya di salah satu restoran pancake favoritku. If the conversation was boring, at least the pancake was great. At least I have something sweet when he talked about himself and keep looking at his pager anytime I talk about myself.
OK. That’s it. No more doctors.
“Jangan gitulah kau. Kau coba dululah,” kata Chica balas dendam. Dulu gue menuding dia terlalu singa ama cowo-cowo yang dikenalin ama dia. Every rejections and every boring dates I have are moments of glory for Chica.
“Lo masuk NHKBP aja kalau mau nyari Batak,” kata salah seorang Batak murtad.
“Udah, mbak. Jadi ketua pula.”
Dan dia menghela nafas panjang. “Yah. Harusnya lo jadi sekretaris aja.”
Gue ikutan menghela nafas. Sudah sebegitu burukkah CV-ku? Masa sih nggak ada Batak keren yang pinter cari duit dan rela didominasi istri?
Ada sih. Hanya udah terlanjur diambil Mak Gondut.
Atau kuikuti saja jejaknya meninggalkan HKBP, gereja, dan suami pertamanya yang Batak? Now she live a wholistic life wth her 2nd husband yang tentunya bukan Batak.
Gue masih berharap ada keajaiban walau dia bilang hampaku takkan hilang sekejap oleh pacar impian.
Teringat salah satu kejadian di gereja ketika gue masih 24 dan percaya kalau jodoh bukan dicari, tapi dinanti.
Gue kabur ke WC. Pas balik, kursi gue sudah diduduki seorang Batak ganteng yang gue klaim sebagai jawaban doa-doaku. Jadilah kami berbagi buku ende.
Pulang gereja, aku langsung lapor ama pendeta biar gue dijodohin ama dia sebelum diambil wanita-wanita haus lelaki di gereja ini. Langsung batal pas tahu dia 34. Ketuaan.
Tapi ternyata dia juga gak mau ama gue. Alasannya: gue ketuaan.
What?
He lived happpily ever after with his 19 years old girlfriend.
“Sekaranglah kau kawin. Tambah lama tambah susah nanti nyarinya,” kata Mak Gondut yang ngakunya kapok ngejodohin karena udah tekor akibat usaha menjodohkan Chica melibatkan banyak strategi pura-pura ketemu di toko baju. Gue disuruh cari sendiri, tapi tetap saja beberapa SMS berdatangan.
Gak pernah gue jutekin. I really appreciated them taking the time to send an SMS to a stranger.
Giliran ada yang menarik, langsung berhenti SMS ketika dia tahu gue sutradara.
“Sutradara emang ada gilak-gilaknya,” kata salah satu mertua sepupu gue yang mengaku banyak stock ponakan ganteng. Nggak ngaku lagi begitu tahu gue sutradara.
Mami, Papi... Batak cuma ada 4 juta di dunia ini. Dari 4 juta, paling satu juta non parhuta-huta. Dikurangin yang Simanjuntak, bersistri, dan gay, tinggal berapa yang halal gue jadikan suami? Dikurangin yang nggak mau ama gue karena ketuaan atau ada gilak-gilaknya: ... tinggal mereka yang gak nyambung ama gue tapi tetep neleponin gue karena kejar deadline.
It’s really unfair. You let me out there and kiss all the sweet lips of these world. You let me learn that you needed no languange to connect to a person. When you connect, you just connect. You don’t speak each other languange and yet you speak about the most boring stuffs: the Eastern european politics and still you laugh throughout the whole date.
That’s conection.
And then you expect me to come back here and marry a Batak boy?
None of your Batak boy makes me laugh, Mami.
“Ama Jerman pun tak apa-apanya. Masih satu opung kita. Sama-sama turunan Nomennsen,” Opung Mak bersabda. Mak Gondut langsung merengut, walau agak mikir pas inget cucunya bakal laku maen sinetron.
But I have no German yang bisa gue jebak ngawinin gue and ngasih mami cucu. I am stucked here in Bandung with a population of no eligible Batak that I can connect to.
“Nanti ada Pangaribuan. Udah ada 4 orang yang nawarin ama Mami,” kata Mak Gondut belum menyerah.
Ok, Mami. Bring it on.
To Siantar to Sipirok Padang Panjang Ford de Kock, kankusosor ya kusosor kusosorrrr....
Seru juga punya eda kaya doi. Kalaupun adeknya psycho, setidaknya gue bisa ngerumpi ama kakak ipar yang seru. Plus kantor gratis di Jalan Riau.
Makanya gue mau aja bertemu adiknya di salah satu restoran pancake favoritku. If the conversation was boring, at least the pancake was great. At least I have something sweet when he talked about himself and keep looking at his pager anytime I talk about myself.
OK. That’s it. No more doctors.
“Jangan gitulah kau. Kau coba dululah,” kata Chica balas dendam. Dulu gue menuding dia terlalu singa ama cowo-cowo yang dikenalin ama dia. Every rejections and every boring dates I have are moments of glory for Chica.
“Lo masuk NHKBP aja kalau mau nyari Batak,” kata salah seorang Batak murtad.
“Udah, mbak. Jadi ketua pula.”
Dan dia menghela nafas panjang. “Yah. Harusnya lo jadi sekretaris aja.”
Gue ikutan menghela nafas. Sudah sebegitu burukkah CV-ku? Masa sih nggak ada Batak keren yang pinter cari duit dan rela didominasi istri?
Ada sih. Hanya udah terlanjur diambil Mak Gondut.
Atau kuikuti saja jejaknya meninggalkan HKBP, gereja, dan suami pertamanya yang Batak? Now she live a wholistic life wth her 2nd husband yang tentunya bukan Batak.
Gue masih berharap ada keajaiban walau dia bilang hampaku takkan hilang sekejap oleh pacar impian.
Teringat salah satu kejadian di gereja ketika gue masih 24 dan percaya kalau jodoh bukan dicari, tapi dinanti.
Gue kabur ke WC. Pas balik, kursi gue sudah diduduki seorang Batak ganteng yang gue klaim sebagai jawaban doa-doaku. Jadilah kami berbagi buku ende.
Pulang gereja, aku langsung lapor ama pendeta biar gue dijodohin ama dia sebelum diambil wanita-wanita haus lelaki di gereja ini. Langsung batal pas tahu dia 34. Ketuaan.
Tapi ternyata dia juga gak mau ama gue. Alasannya: gue ketuaan.
What?
He lived happpily ever after with his 19 years old girlfriend.
“Sekaranglah kau kawin. Tambah lama tambah susah nanti nyarinya,” kata Mak Gondut yang ngakunya kapok ngejodohin karena udah tekor akibat usaha menjodohkan Chica melibatkan banyak strategi pura-pura ketemu di toko baju. Gue disuruh cari sendiri, tapi tetap saja beberapa SMS berdatangan.
Gak pernah gue jutekin. I really appreciated them taking the time to send an SMS to a stranger.
Giliran ada yang menarik, langsung berhenti SMS ketika dia tahu gue sutradara.
“Sutradara emang ada gilak-gilaknya,” kata salah satu mertua sepupu gue yang mengaku banyak stock ponakan ganteng. Nggak ngaku lagi begitu tahu gue sutradara.
Mami, Papi... Batak cuma ada 4 juta di dunia ini. Dari 4 juta, paling satu juta non parhuta-huta. Dikurangin yang Simanjuntak, bersistri, dan gay, tinggal berapa yang halal gue jadikan suami? Dikurangin yang nggak mau ama gue karena ketuaan atau ada gilak-gilaknya: ... tinggal mereka yang gak nyambung ama gue tapi tetep neleponin gue karena kejar deadline.
It’s really unfair. You let me out there and kiss all the sweet lips of these world. You let me learn that you needed no languange to connect to a person. When you connect, you just connect. You don’t speak each other languange and yet you speak about the most boring stuffs: the Eastern european politics and still you laugh throughout the whole date.
That’s conection.
And then you expect me to come back here and marry a Batak boy?
None of your Batak boy makes me laugh, Mami.
“Ama Jerman pun tak apa-apanya. Masih satu opung kita. Sama-sama turunan Nomennsen,” Opung Mak bersabda. Mak Gondut langsung merengut, walau agak mikir pas inget cucunya bakal laku maen sinetron.
But I have no German yang bisa gue jebak ngawinin gue and ngasih mami cucu. I am stucked here in Bandung with a population of no eligible Batak that I can connect to.
“Nanti ada Pangaribuan. Udah ada 4 orang yang nawarin ama Mami,” kata Mak Gondut belum menyerah.
Ok, Mami. Bring it on.
To Siantar to Sipirok Padang Panjang Ford de Kock, kankusosor ya kusosor kusosorrrr....
MAAF
Menyambut lebaran, gue mengirim berbagai SMS maaf, kecuali kepada mereka.
Maaf ya. Gue males minta maaf.
Boong ding. Gue gak males. Hanya takut. Takut gak dimaafin.
Setidaknya ada 6 nama yang mengingatkan gue selalu kalau gue bukan orang baik. Jadi setiap kali gue ngerasa diperlakukan gak adil, 6 nama ini akan mencegah gue merasa dizalimi.
Sesama orang berdosa dilarang saling menghakimi.
Nursita Wulansari
Temen SMP gue. Target bulan-bulanan kelas karena suatu hari dia mengaku-ngaku cucu presiden. Mungkin dia mencoba melucu. Tapi gak lucu. The 13 years old me thought that it won’t hurt her feeling to make fun of her cause everyone else did. She’s so used to it.
But I was the worst. Dia nangis. Bukannya minta maaf, gue malah defensive dengan niruin dia ‘nangis’... ngenyek. What a bitch.
Ayu
For not forgiving her. For being a better judge than a better friend in times of her weaknesses.
Cindy
Not for writing her story, but for not writing her story. My first book is a mix of fiction, reality, and childish revenge for her not writing me more often. It gets people confused between what is real and what is not.
Niki
Niki terpilih jadi ketua umum LFM. He is a nice guy and all, but I thought the only reason he was elected was that he was a Moslem, unlike the other candidate whom I think will make a better leader.
I was devastated. Katanya keluarga. Ujung-ujungnya agama.
Niki menawarkan gue menjadi salah satu manager di kabinet dia. Walaupun gue lagi ‘the fly’ mode on (terpuruk dalam benci dan frustasi kala sepi) tawaran Niki gue terima tanpa niat baik. Rencana gue: I do my best, outdo the other managers (all Moslem boys), and wait for the moment they realized their primitive decision electing him based on his religion.
Setahun kemudian, it was supposed to be my moment of glory. LPJ Niki ditolak.
I was even more devastated.
Mami
Paginya mami gue marahin karena ngilangin cable data I pod. Siangnya gue dimasakin ikan teri sambel.
And all other endless Malin Kundang story.
Papi
Papi teriak-teriak nyuruh gue bawa payung. Pura-pura gak denger, gue masuk mobil. Papi cemberut.
Dasar papi. Makin tua makin rewel.
Malemnya gue batuk-batuk. Papi dateng bawa makan malam dan 4 tablet.
Pas gue mau cuci piring, papi rewel ngomel-ngomel kalau ntar gue bakal tambah sakit.
Malam itu, papi rewel yang cuci piring.
Markus
Ich liebe dich nicht.
Maaf ya. Gue males minta maaf.
Boong ding. Gue gak males. Hanya takut. Takut gak dimaafin.
Setidaknya ada 6 nama yang mengingatkan gue selalu kalau gue bukan orang baik. Jadi setiap kali gue ngerasa diperlakukan gak adil, 6 nama ini akan mencegah gue merasa dizalimi.
Sesama orang berdosa dilarang saling menghakimi.
Nursita Wulansari
Temen SMP gue. Target bulan-bulanan kelas karena suatu hari dia mengaku-ngaku cucu presiden. Mungkin dia mencoba melucu. Tapi gak lucu. The 13 years old me thought that it won’t hurt her feeling to make fun of her cause everyone else did. She’s so used to it.
But I was the worst. Dia nangis. Bukannya minta maaf, gue malah defensive dengan niruin dia ‘nangis’... ngenyek. What a bitch.
Ayu
For not forgiving her. For being a better judge than a better friend in times of her weaknesses.
Cindy
Not for writing her story, but for not writing her story. My first book is a mix of fiction, reality, and childish revenge for her not writing me more often. It gets people confused between what is real and what is not.
Niki
Niki terpilih jadi ketua umum LFM. He is a nice guy and all, but I thought the only reason he was elected was that he was a Moslem, unlike the other candidate whom I think will make a better leader.
I was devastated. Katanya keluarga. Ujung-ujungnya agama.
Niki menawarkan gue menjadi salah satu manager di kabinet dia. Walaupun gue lagi ‘the fly’ mode on (terpuruk dalam benci dan frustasi kala sepi) tawaran Niki gue terima tanpa niat baik. Rencana gue: I do my best, outdo the other managers (all Moslem boys), and wait for the moment they realized their primitive decision electing him based on his religion.
Setahun kemudian, it was supposed to be my moment of glory. LPJ Niki ditolak.
I was even more devastated.
Mami
Paginya mami gue marahin karena ngilangin cable data I pod. Siangnya gue dimasakin ikan teri sambel.
And all other endless Malin Kundang story.
Papi
Papi teriak-teriak nyuruh gue bawa payung. Pura-pura gak denger, gue masuk mobil. Papi cemberut.
Dasar papi. Makin tua makin rewel.
Malemnya gue batuk-batuk. Papi dateng bawa makan malam dan 4 tablet.
Pas gue mau cuci piring, papi rewel ngomel-ngomel kalau ntar gue bakal tambah sakit.
Malam itu, papi rewel yang cuci piring.
Markus
Ich liebe dich nicht.
Just Dance
I am one heartbeat away from eternity
When you smile and take the lead
Dancing to the beat of unmanufactured joy
The music of a heart that never asks
For more beat than this dance we have
Lets dance to the simple beat of ‘I love you’
When ‘you love me’ don’t make it less ‘I love you’
Then when all the melody is faded
And no music left but our heartbeat
Just dance, babe
Just dance
Dance to my heart beat
I promise it won't stop beating
Not when you are around
Just dance, babe
Just dance
Dance to my heart beat
When you smile and take the lead
Dancing to the beat of unmanufactured joy
The music of a heart that never asks
For more beat than this dance we have
Lets dance to the simple beat of ‘I love you’
When ‘you love me’ don’t make it less ‘I love you’
Then when all the melody is faded
And no music left but our heartbeat
Just dance, babe
Just dance
Dance to my heart beat
I promise it won't stop beating
Not when you are around
Just dance, babe
Just dance
Dance to my heart beat
cin(T)a dan Roland Barthes
REPRESENTASI PLURALITAS AGAMA DALAM FILM cin(T)a
Studi Semiotika Roland Bathes Terhadap Tanda Yang Menyangkut Pluralitas Agama Dalam Film cin(T)a
Mak Gondut membaca buku tebal yang baru diterimanya dari seorag mahasiswi berjilbab dengan takjub. Ternyata film bisa jadi skripsi.
“Tahu gitu disertasi mami tentang film kau sajalah ya?” kata Mak Gondut yang mulai males mengerjakan s3-nya di sebuah universitas antah berantah.
Teringat gue komentar Mak Gondut pertama kali keluar dari premiere cin(T)a.
“Film ini harus ditonton berkali-kali ya. Butuh pemahaman lebih,” kata Mak Gondut dengan nada bersahaja.
Gue mendengus curiga. “Mami nggak ngerti ya?”
“Nggggaaaakkkkk...,” ringis Mak Gondut kebingungan.
Bahkan setelah mami gue kasih DVD cin(T)a, sampai hari ini belum pernah ditonton juga. Kaya gini mau bikin disertasi tentang cin(T)a?
“Ya nanti kau sajalah yang bikin. Pusing mami.”
“Papi kemaren udah nonton kok,” kata papi nimbrung, bangga.
“Filmnya tentang apa , Pi?” tanya gue.
Papi cuma celingak celinguk pura-pura bakar roti. Curiga papi juga gak ngerti.
Hhhhh... ternyata emang cuma gue dan Roland Barthes yang bisa mengerti.
157 halaman . Gue membaca halaman pertamanya.
“Dan rendahkalah dirimu terhadap mereka berdua (orang tua) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Apalah gunanya semiotika Roland Barthes kalau mereka berdua gak mengerti?
Tobat.
Tidak akan lagi gue membuat film yang tidak dimengerti mereka.
Studi Semiotika Roland Bathes Terhadap Tanda Yang Menyangkut Pluralitas Agama Dalam Film cin(T)a
Mak Gondut membaca buku tebal yang baru diterimanya dari seorag mahasiswi berjilbab dengan takjub. Ternyata film bisa jadi skripsi.
“Tahu gitu disertasi mami tentang film kau sajalah ya?” kata Mak Gondut yang mulai males mengerjakan s3-nya di sebuah universitas antah berantah.
Teringat gue komentar Mak Gondut pertama kali keluar dari premiere cin(T)a.
“Film ini harus ditonton berkali-kali ya. Butuh pemahaman lebih,” kata Mak Gondut dengan nada bersahaja.
Gue mendengus curiga. “Mami nggak ngerti ya?”
“Nggggaaaakkkkk...,” ringis Mak Gondut kebingungan.
Bahkan setelah mami gue kasih DVD cin(T)a, sampai hari ini belum pernah ditonton juga. Kaya gini mau bikin disertasi tentang cin(T)a?
“Ya nanti kau sajalah yang bikin. Pusing mami.”
“Papi kemaren udah nonton kok,” kata papi nimbrung, bangga.
“Filmnya tentang apa , Pi?” tanya gue.
Papi cuma celingak celinguk pura-pura bakar roti. Curiga papi juga gak ngerti.
Hhhhh... ternyata emang cuma gue dan Roland Barthes yang bisa mengerti.
157 halaman . Gue membaca halaman pertamanya.
“Dan rendahkalah dirimu terhadap mereka berdua (orang tua) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Apalah gunanya semiotika Roland Barthes kalau mereka berdua gak mengerti?
Tobat.
Tidak akan lagi gue membuat film yang tidak dimengerti mereka.
Papi
“Masak nona manis bannya botak? Nanti ketahuan udah mulai miskin nonanya,” kata Papi.
Padahal pagi ini gue cuma lapor kalau kaca spion dan pintu kanan rusak ditabrak orang. Tiga jam kemudian tidak hanya kaca spion dan pintu yang sudah mulus, ban belakang pun baru. Sekarang nona manis bisa pergi meni pedi dan bebas praduga miskin.
Dari spion baru, gue melihat ke belakang. Bayangan papi menggotong ban makin lama makin mengecil.
Papi yang dulu gagah sekarang agak kesusahan bawa 2 ban besar. Papi yang dulu agak botak sekarang sudah lebih botak walau masih tetap pake Brylcreem tiap pagi.
Sekarang papi 63 tahun. Hampir satu dasawarsa pensiun. Tak seperti purnawirawan lainnya yang jadi komisaris ini dan itu. Papi lebih suka di rumah sembari sesekali jalan-jalan keliling Indonesia.
“Ke mana pun papi pergi, papi gak pernah bawa duit. Pasti ada yang bayarin. Orang lain kalau udah pensiun gak pernah berani lagi jalan,” kata papi membanggakan kemampuannya ngeter dan bersahabat.
Papi, Suharto sudah jatuh. Persiden kita masih tentara, tapi tak lagi bergigi. Orang tidak lagi memberi papi hotel gratis dan mobil dengan senang hati.
Papi gak apa-apa. Papi gak pernah suka dengan kemewahan. Gak pernah minta dilayani orang. Dia cukup senang nginep di mess tentara.
Tapi nona manis nggak. Nona manis butuh hotel.
Makanya Nona Manis gak mau ikutan papi kalau jalan-jalan, takut papi gak dapet hotel. Bukan karena Nona Manis gemar travel in style, tapi papi selalu ingin bikin Nona Manis seneng. Papi sedih kalau Nona Manis tinggal di mess jelek.
Pernah papi jadi komisaris beberapa perusahaan kayu, bijih besi, dan entahlah lain. Entahlah mewarnai berbagai proses perizinan perusahaan yang berkomisaris papi tapi entahah punya siapa ini.
Untunglah gagal. Jadi papi gak terlalu kaya, dan lebih banyak tinggal di rumah ngurusin Boni, Bonyet, dan mami.
Jadinya emak-emak post power syndrome yang gemar ngerumpi, kuliah s3, meeting di 4 partai politik berbeda ada yang ngurusin pas tangannya patah akibat lari pagi.
Untunglah yang patah jari mami, bukan papi. Bukannya kami anak durhaka. Kalau mami yang sakit pasti ada papi yang ngejagain.
Kalau papi yang sakit, gak pernah bilang-bilang. Tau-tau udah pingsan di kereta.
Giliran gue yang sakit, papi yang ngurusin. Mulai dari bikinin roti, berburu nyamuk, sampai membersihkan pispot. Adegan Babel ketika Brad Pitt ngebantuin istrinya yang lagi sakit pipis gak lagi menyentuh buat gue karena adegan pispot papi lebih menyentuh.
“Manisssss....”
Nulis pause bentar. Papi mendekat dari belakang, bawa makan malam dan obat biar nona kecil cepat sembuh.
Glek. Glek. Glek.
Yuk sambung lagi. Barusan Papi cerita baru pulang dari ngelayat temen seangkatannya di Akabri yang mati makkar.
Makkar. Mati tak berguna. Tak berguna karena tak boleh diadati. Buat apa? Toh anaknya belum ada yang kawin. Adak Batak memang kadang-kadang tegaan.
"Padahal anaknya udah pada tua. 27," kata Papi.
Papi bulus tak pernah meminta. Tak pernah menyuruh.
Cukup menceritakan kisah Batak tua yang meningal tanpa punya menantu, gue sudah mengerti. Dia pengen lihat gue kawin. Dia pengen mati gak makkar. Dia pengen mati diadatin.
Biar papi gak mati makkar, gue harus nyari batak buat gue atau buat Sharondeng.
Si Deden pacarnya Cina. Dan gue kayanya gak cocok ama cowo Batak. All the good ones demennya sama yang kaya emak gue. Cantik (dulu), langsing (dulu), sekolah kecantikan (dulu), dan nurut ama suami (dulu).
Gue termenung, mencoba lanjut menulis. Pengen menulis betapa gue sayang papi.
Pause lagi menyadari papi datang.
Kali ini Papi bawa jus jambu biar Nona Manis rabu udah sembuh. Bisa ke Jakarta gak batuk-batuk.
Glek. Glek. Glek.
Papi turun. Gue kembali mencoba menulis. Pengen menulis betapa gue sayang papi. Tapi sesayang sayangnya gue ama papi, lebih sayang papi ama gue.
If marrying a Batak guy is what makes him happy, then be it. I don’t mind trading my heart with a glass of jus jambu. Maybe it’s now not time for a revolution.
Maybe It’s the luxury of a generation after me.
I wish he doesn’t love me this much.
Then I will have more reason for revolution.
Padahal pagi ini gue cuma lapor kalau kaca spion dan pintu kanan rusak ditabrak orang. Tiga jam kemudian tidak hanya kaca spion dan pintu yang sudah mulus, ban belakang pun baru. Sekarang nona manis bisa pergi meni pedi dan bebas praduga miskin.
Dari spion baru, gue melihat ke belakang. Bayangan papi menggotong ban makin lama makin mengecil.
Papi yang dulu gagah sekarang agak kesusahan bawa 2 ban besar. Papi yang dulu agak botak sekarang sudah lebih botak walau masih tetap pake Brylcreem tiap pagi.
Sekarang papi 63 tahun. Hampir satu dasawarsa pensiun. Tak seperti purnawirawan lainnya yang jadi komisaris ini dan itu. Papi lebih suka di rumah sembari sesekali jalan-jalan keliling Indonesia.
“Ke mana pun papi pergi, papi gak pernah bawa duit. Pasti ada yang bayarin. Orang lain kalau udah pensiun gak pernah berani lagi jalan,” kata papi membanggakan kemampuannya ngeter dan bersahabat.
Papi, Suharto sudah jatuh. Persiden kita masih tentara, tapi tak lagi bergigi. Orang tidak lagi memberi papi hotel gratis dan mobil dengan senang hati.
Papi gak apa-apa. Papi gak pernah suka dengan kemewahan. Gak pernah minta dilayani orang. Dia cukup senang nginep di mess tentara.
Tapi nona manis nggak. Nona manis butuh hotel.
Makanya Nona Manis gak mau ikutan papi kalau jalan-jalan, takut papi gak dapet hotel. Bukan karena Nona Manis gemar travel in style, tapi papi selalu ingin bikin Nona Manis seneng. Papi sedih kalau Nona Manis tinggal di mess jelek.
Pernah papi jadi komisaris beberapa perusahaan kayu, bijih besi, dan entahlah lain. Entahlah mewarnai berbagai proses perizinan perusahaan yang berkomisaris papi tapi entahah punya siapa ini.
Untunglah gagal. Jadi papi gak terlalu kaya, dan lebih banyak tinggal di rumah ngurusin Boni, Bonyet, dan mami.
Jadinya emak-emak post power syndrome yang gemar ngerumpi, kuliah s3, meeting di 4 partai politik berbeda ada yang ngurusin pas tangannya patah akibat lari pagi.
Untunglah yang patah jari mami, bukan papi. Bukannya kami anak durhaka. Kalau mami yang sakit pasti ada papi yang ngejagain.
Kalau papi yang sakit, gak pernah bilang-bilang. Tau-tau udah pingsan di kereta.
Giliran gue yang sakit, papi yang ngurusin. Mulai dari bikinin roti, berburu nyamuk, sampai membersihkan pispot. Adegan Babel ketika Brad Pitt ngebantuin istrinya yang lagi sakit pipis gak lagi menyentuh buat gue karena adegan pispot papi lebih menyentuh.
“Manisssss....”
Nulis pause bentar. Papi mendekat dari belakang, bawa makan malam dan obat biar nona kecil cepat sembuh.
Glek. Glek. Glek.
Yuk sambung lagi. Barusan Papi cerita baru pulang dari ngelayat temen seangkatannya di Akabri yang mati makkar.
Makkar. Mati tak berguna. Tak berguna karena tak boleh diadati. Buat apa? Toh anaknya belum ada yang kawin. Adak Batak memang kadang-kadang tegaan.
"Padahal anaknya udah pada tua. 27," kata Papi.
Papi bulus tak pernah meminta. Tak pernah menyuruh.
Cukup menceritakan kisah Batak tua yang meningal tanpa punya menantu, gue sudah mengerti. Dia pengen lihat gue kawin. Dia pengen mati gak makkar. Dia pengen mati diadatin.
Biar papi gak mati makkar, gue harus nyari batak buat gue atau buat Sharondeng.
Si Deden pacarnya Cina. Dan gue kayanya gak cocok ama cowo Batak. All the good ones demennya sama yang kaya emak gue. Cantik (dulu), langsing (dulu), sekolah kecantikan (dulu), dan nurut ama suami (dulu).
Gue termenung, mencoba lanjut menulis. Pengen menulis betapa gue sayang papi.
Pause lagi menyadari papi datang.
Kali ini Papi bawa jus jambu biar Nona Manis rabu udah sembuh. Bisa ke Jakarta gak batuk-batuk.
Glek. Glek. Glek.
Papi turun. Gue kembali mencoba menulis. Pengen menulis betapa gue sayang papi. Tapi sesayang sayangnya gue ama papi, lebih sayang papi ama gue.
If marrying a Batak guy is what makes him happy, then be it. I don’t mind trading my heart with a glass of jus jambu. Maybe it’s now not time for a revolution.
Maybe It’s the luxury of a generation after me.
I wish he doesn’t love me this much.
Then I will have more reason for revolution.
Unsent Email
“Please welcome the most wonderful, the kindest, and the smartest woman I ever met,” Ellen deGeneres introduced her wife, Portia de Rossi, the first gay couple legalized by the state of California.
No, she’s not! I know someone more wonderful, kinder, and smarter.
You.
“I was lonely when I came to Singapore, till you came and brighted my days. Keep those stars in your eyes.”
It was on your goodbye note before leaving for Sidney.
What stars? I looked at my eyes in the mirror and found none . I think they only lighten up when they met yours.
So I scan your card, write the same exact words (even the gramatically-error brighted) , and give it to you.
“I was lonely when I came to Singapore, till you came and brighted my days. Keep those stars in your eyes.”
Some call it plagiarism. You call it romantic. I call it honest.
Echt! Except for the lonely part. I was never lonely in Singapore. You were already there.
Even after you left, I was never lonely. I missed you, always, but never felt lonely. I think you left me with enough love and confidence to say loving will never leave you empty handed. Me after you was the best me I ever had, even after you were no longer there.
Life was a celebration because I never felt less loved.
And I found nothing sinful about my feeling.
There is a reason they called it homosexuals. Because it is sexual. As long as I expressed my love not in a sexual way, we will have a very healthy relationship.
It really was.
It was fun. It was nice. It’s over.
But life blessed me with another two days of you in Sidney. I was so waiting for it even if I have to have breakfast with your husband.
Good choice, indeed. Not a tall good looking one, but a genuinely loving human being. You never cared about look. Maybe that’s why you don’t mind spending time with me. And that’s why I love spending time with you.
As long as the Sidney Opera House is for just the two of us. I have no interest of listening some fat lady singing in Italian, or the architecture of the turtles having sex, I was more interested in capturing those stars in your eyes.
Bwehhhhh... What was I saying? I am not a romantic. I found no stars in your eyes. Only glimmering lights, not stars.
But you said I am. I am a romantic.
I looked at myself in the reflection of the darkened Sidney shops. Romantic? Huh! I guess it was another side of me exist only when you are around.
Then you came next to me, and I turned my back. I hate our reflection together. I hate every photographs of us together. Because it tells me a reality: we don’t look good together.
Why would I hate it? I do not want to be together with you. I do not want to marry you. I do not want to move to Melbourne and spend my lifetime with you. I do not want to chat with your sisters. I do not even know how many you have. I am not interested in being friends with your mom. I am perfectly happy with what we are today.
Am I?
At least until before I saw Ellen and Portia. I do not dare to point fingers and condemn them to burn to hell. They are so beautiful together. How can anything so beautiful be called sin?
What if I was wrong? What if you were actually the one? What if I have passed my Portia de Rossi in the sake of path of least resistance? The path where my mom and my dad will be happier and hopefully live longer.
Life blessed me another dose of you. This time: Bandung.
I keep telling myself I do not want to be gay. The thought of sex freaks me out. The platonic one gives me more peace.
But why did my heart beat faster everytime you hold my hand to cross the street? I am a spoiled brat, too afraid to cross one. But when I was with you, I took the path of more crossing. Yeyyyy=D
And your lips.
Your eyes.
The scar on your back.
You are tempting. But it doesn’t mean I am a lesbian. Who will not love you? You are considerate, fun, loving, and beautiful. Any woman I know that knows you love you. They just don’t tell you like I do.
Maybe I am not a lesbian. Maybe I am simply the most honest woman in this world.
But then those women do no write any book or any movie based on you. Your smell is just all over my works. It’s impossible to hide that I thought about you a lot.
Do you think about me?
“It’s gloomy in Sidney. It gets me more to think about some stuffs. You are one of them.”
I got out and did a raindance, hoping God will notice and make it always sunny and bright in Sidney so she will have no time thinking about me.
Or maybe once every two years, for a minute or two, let it be gloomy, God.
Only so she can know how it feels to be me.
No, she’s not! I know someone more wonderful, kinder, and smarter.
You.
“I was lonely when I came to Singapore, till you came and brighted my days. Keep those stars in your eyes.”
It was on your goodbye note before leaving for Sidney.
What stars? I looked at my eyes in the mirror and found none . I think they only lighten up when they met yours.
So I scan your card, write the same exact words (even the gramatically-error brighted) , and give it to you.
“I was lonely when I came to Singapore, till you came and brighted my days. Keep those stars in your eyes.”
Some call it plagiarism. You call it romantic. I call it honest.
Echt! Except for the lonely part. I was never lonely in Singapore. You were already there.
Even after you left, I was never lonely. I missed you, always, but never felt lonely. I think you left me with enough love and confidence to say loving will never leave you empty handed. Me after you was the best me I ever had, even after you were no longer there.
Life was a celebration because I never felt less loved.
And I found nothing sinful about my feeling.
There is a reason they called it homosexuals. Because it is sexual. As long as I expressed my love not in a sexual way, we will have a very healthy relationship.
It really was.
It was fun. It was nice. It’s over.
But life blessed me with another two days of you in Sidney. I was so waiting for it even if I have to have breakfast with your husband.
Good choice, indeed. Not a tall good looking one, but a genuinely loving human being. You never cared about look. Maybe that’s why you don’t mind spending time with me. And that’s why I love spending time with you.
As long as the Sidney Opera House is for just the two of us. I have no interest of listening some fat lady singing in Italian, or the architecture of the turtles having sex, I was more interested in capturing those stars in your eyes.
Bwehhhhh... What was I saying? I am not a romantic. I found no stars in your eyes. Only glimmering lights, not stars.
But you said I am. I am a romantic.
I looked at myself in the reflection of the darkened Sidney shops. Romantic? Huh! I guess it was another side of me exist only when you are around.
Then you came next to me, and I turned my back. I hate our reflection together. I hate every photographs of us together. Because it tells me a reality: we don’t look good together.
Why would I hate it? I do not want to be together with you. I do not want to marry you. I do not want to move to Melbourne and spend my lifetime with you. I do not want to chat with your sisters. I do not even know how many you have. I am not interested in being friends with your mom. I am perfectly happy with what we are today.
Am I?
At least until before I saw Ellen and Portia. I do not dare to point fingers and condemn them to burn to hell. They are so beautiful together. How can anything so beautiful be called sin?
What if I was wrong? What if you were actually the one? What if I have passed my Portia de Rossi in the sake of path of least resistance? The path where my mom and my dad will be happier and hopefully live longer.
Life blessed me another dose of you. This time: Bandung.
I keep telling myself I do not want to be gay. The thought of sex freaks me out. The platonic one gives me more peace.
But why did my heart beat faster everytime you hold my hand to cross the street? I am a spoiled brat, too afraid to cross one. But when I was with you, I took the path of more crossing. Yeyyyy=D
And your lips.
Your eyes.
The scar on your back.
You are tempting. But it doesn’t mean I am a lesbian. Who will not love you? You are considerate, fun, loving, and beautiful. Any woman I know that knows you love you. They just don’t tell you like I do.
Maybe I am not a lesbian. Maybe I am simply the most honest woman in this world.
But then those women do no write any book or any movie based on you. Your smell is just all over my works. It’s impossible to hide that I thought about you a lot.
Do you think about me?
“It’s gloomy in Sidney. It gets me more to think about some stuffs. You are one of them.”
I got out and did a raindance, hoping God will notice and make it always sunny and bright in Sidney so she will have no time thinking about me.
Or maybe once every two years, for a minute or two, let it be gloomy, God.
Only so she can know how it feels to be me.
Rabu, 01 September 2010
Miskin. Bodoh. Sombong.
"Kan saya udah minta maaf, mbak," katanya marah.
Kenapa dia yang marah? Bukankah kaca spion dan pintuku yang ditabrak dengan semena-mena???
"Saya nggak bisa ganti, mbak. Saya kan miskin." katanya lagi.
Apakah miskin memberi kamu hak untuk semena-mena menabrak mobil orang dan pergi atas nama kemiskinan?
"Saya puasa, mbak. Ini udah mau buka."
Apakah puasa memberi kamu hak untuk meninggalkan korbanmu tanpa sopan santun?
Kamu dan 2 orang boncenganmu melengos pergi. Aku speechless di tengah jalan. Baru sepuluh menit yang lalu aku bernapas lega karena akhirnya membelok ke Jalan Bunga Mawar, setelah 2 jam macet di jalan. Sudah terbayang tajil dan obrolan teman-teman menonton hasil editan. Kantor sudah di depan mata. Eh kamu datang menabrak dari belakang.
Untung Mas Sigit dari kantor lewat. Kau kami kejar dan tahan di pinggir jalan. Sedikit membuat kemacetan karena kamu nggak mau mingir. Aku maksa ikut ngebonceng di jokmu, membuat kamu gak bisa bergerak dan terpaksa minggir. Untung badanku besar.
Di mana rumah majikanmu?
Di MPR. Di Batam. Dan beberapa alamat fiktif lainnya.
Berapa teleponnya?
081382213371. 08787937470. 081382213370. Gak aktif semua.
Kuminta kaubawa ke rumahmu, kau tak mau.
Aku tak akan minta ganti padamu, tentunya. Tidak mungkin. Aku hanya ingin ketemu bosmu. Bilang pada dia biar kamu jangan diberi motor lagi karena kamu tidak bertanggung jawab.
Boncengan bertiga. Tanpa helm. Tanpa SIM, STNK. Tanpa tanggung jawab. Untung yang luka kamu, bukan anak kecil yang kamu bonceng.
"Saya kan miskin," katamu lagi.
Miskin tidak memberimu hak untuk tidak jujur. Miskin tidak memberimu hak untuk menzalimi orang. Saya juga bekerja. Satu setengah juta gak turun dari langit.
Tapi tentunya aku nggak mungkin minta padamu.
Salahku juga kamu bodoh. Salahku juga kamu miskin. Salahku juga kamu sombong.
Karena aku dididik, kamu tidak. Negara ini diatur mereka yang kamu sebut 'kaum'-ku. Negara ini tidak memberi perlindungan padamu. Sudah sepantasnya 'kaum'-ku nerimo kalau ditabrak motor 'kaum'-mu.
Miskin. Bodoh. Sombong.
Kamu cuma bisa pilih dua, sayang. Kalau sampai tiga-tiganya, jangan salahkan 'kaum'-ku kalau kamu sampai sekarang tetap sengsara.
Mungkin bukan miskin dan bodoh yang membuat kamu tak pernah dicukupkan.
Aku tidak merasakan niat baikmu, dan aku tidak punya waktu melayani keangkuhanmu. Aku harus ke kantor, sudah terlambat untuk preview tentang keluarga miskin bodoh sombong lainnya. Mereka tak pernah lepas dari lingkaran kemiskinan.
Kunci motormu kuambil ya, sayang. Kalau mau, ambil ke kantorku. Tak sampai 5 menit jalan.
Aku tahu kamu nggak akan pernah datang. Aku tahu kamu pasti punya kunci cadangan. Tapi kubiarkan juga kamu pergi.
Hari ini aku berbahagia karena aku dizalimi. Dan kau akan lihat kalau aku akan semakin dicukupkan.
Bagaimana dengan kamu, sayang? Sayang disayang kamu sombong.
Miskin. Bodoh. Sombong.
Kamu cuma bisa pilih dua, sayang.
Kenapa dia yang marah? Bukankah kaca spion dan pintuku yang ditabrak dengan semena-mena???
"Saya nggak bisa ganti, mbak. Saya kan miskin." katanya lagi.
Apakah miskin memberi kamu hak untuk semena-mena menabrak mobil orang dan pergi atas nama kemiskinan?
"Saya puasa, mbak. Ini udah mau buka."
Apakah puasa memberi kamu hak untuk meninggalkan korbanmu tanpa sopan santun?
Kamu dan 2 orang boncenganmu melengos pergi. Aku speechless di tengah jalan. Baru sepuluh menit yang lalu aku bernapas lega karena akhirnya membelok ke Jalan Bunga Mawar, setelah 2 jam macet di jalan. Sudah terbayang tajil dan obrolan teman-teman menonton hasil editan. Kantor sudah di depan mata. Eh kamu datang menabrak dari belakang.
Untung Mas Sigit dari kantor lewat. Kau kami kejar dan tahan di pinggir jalan. Sedikit membuat kemacetan karena kamu nggak mau mingir. Aku maksa ikut ngebonceng di jokmu, membuat kamu gak bisa bergerak dan terpaksa minggir. Untung badanku besar.
Di mana rumah majikanmu?
Di MPR. Di Batam. Dan beberapa alamat fiktif lainnya.
Berapa teleponnya?
081382213371. 08787937470. 081382213370. Gak aktif semua.
Kuminta kaubawa ke rumahmu, kau tak mau.
Aku tak akan minta ganti padamu, tentunya. Tidak mungkin. Aku hanya ingin ketemu bosmu. Bilang pada dia biar kamu jangan diberi motor lagi karena kamu tidak bertanggung jawab.
Boncengan bertiga. Tanpa helm. Tanpa SIM, STNK. Tanpa tanggung jawab. Untung yang luka kamu, bukan anak kecil yang kamu bonceng.
"Saya kan miskin," katamu lagi.
Miskin tidak memberimu hak untuk tidak jujur. Miskin tidak memberimu hak untuk menzalimi orang. Saya juga bekerja. Satu setengah juta gak turun dari langit.
Tapi tentunya aku nggak mungkin minta padamu.
Salahku juga kamu bodoh. Salahku juga kamu miskin. Salahku juga kamu sombong.
Karena aku dididik, kamu tidak. Negara ini diatur mereka yang kamu sebut 'kaum'-ku. Negara ini tidak memberi perlindungan padamu. Sudah sepantasnya 'kaum'-ku nerimo kalau ditabrak motor 'kaum'-mu.
Miskin. Bodoh. Sombong.
Kamu cuma bisa pilih dua, sayang. Kalau sampai tiga-tiganya, jangan salahkan 'kaum'-ku kalau kamu sampai sekarang tetap sengsara.
Mungkin bukan miskin dan bodoh yang membuat kamu tak pernah dicukupkan.
Aku tidak merasakan niat baikmu, dan aku tidak punya waktu melayani keangkuhanmu. Aku harus ke kantor, sudah terlambat untuk preview tentang keluarga miskin bodoh sombong lainnya. Mereka tak pernah lepas dari lingkaran kemiskinan.
Kunci motormu kuambil ya, sayang. Kalau mau, ambil ke kantorku. Tak sampai 5 menit jalan.
Aku tahu kamu nggak akan pernah datang. Aku tahu kamu pasti punya kunci cadangan. Tapi kubiarkan juga kamu pergi.
Hari ini aku berbahagia karena aku dizalimi. Dan kau akan lihat kalau aku akan semakin dicukupkan.
Bagaimana dengan kamu, sayang? Sayang disayang kamu sombong.
Miskin. Bodoh. Sombong.
Kamu cuma bisa pilih dua, sayang.
Langganan:
Postingan (Atom)