Sebelum mati, katanya orang akan menoton kelebat hidupnya dalam 5 detik.
Gue ntar nonton apa ya?
Gue ingat beberapa momen bahagia.
TK, bikin drama tanpa skenario. Mereka ikut-ikut aja gue suruh ngapa-ngapain. Gak mau digencet ama anak komandan.
Kurang ah. Durasinya cuma 5 detik nih. Harus lebih penting.
Menang fashion show karena jalan gue terlihat anggun. Ada behind the scenenya. Ternyata bando gue mau jatuh dan emak gue ketua juri.
Kurang ah.
Bingung ngeliat si guru memberi rapor kursus bahasa inggris sambil senyum-senyum bangga. Biasanya dia paling jutek kalo liat gue yang bego ini.
Ternyata gue tiba-tiba ranking tiga.
Ternyata gak perlu pintar untuk ranking tiga. Cuma perlu rajin ngerjain PR dan mengulang-ngulang pelajaran.
Kurang ah.
Lari-larian di padang di belakang chica. Badan chica masih lebih besar, jadi gue nurut aja.
Ih, itu sih memori menyeramkan.
Sebulan di jakarta pas opung meninggal, masak nasi di depan rumah opung bersama sepupu-sepupu. Bahagia berasa tua.
Kurang ah. Why would I remember me happy being old?
Kelas 4 SD di Medan, dibeliin baju Bugs Bunny baru menggantikan bajuku yang turun temurun chica. Jadi kaya anak jakarta. Gue pake ke mana pun gue pergi.
Ihhhh. Jangan yang itu. Gak mau inget.
Masa sih gak ada yang special di masa kecil gue? Padahal gue termasuk beruntung karena bisa melihat Sabang ampe Merauke. Sementara banyak teman-teman yang hanya bisa mengira we were happy during Suharto.
Burung nuri warna-warni di hutan papua gak special?
Atau rujak di tepi pantai ambon yang banyakan bumbu dari buah?
Finding Nemo seujung jari?
Ternyata gue cepat lupa.
Hari ini apa yang mau gue lakukan dengan hidup gua? Membuat another gerakan-gerakan tak istimewa yang akan segera gue lupakan?
It's not how many breath you take. It's how many moment that take your breath away.
Itu film apa ya?
Lupa.
Rabu, 16 Maret 2011
Selasa, 15 Maret 2011
Art School Confidential
Ada ketua himpunan yang gak terlalu ganteng, tapi digemari wanita. Semua wanita pasti suka, kalau saja dia gak nyadar dia digemari.
Ada si model Close Up yang sempurna secara visual tapi tidak secara oral. Kadang dia ramah, lebih sering dia lupa siapa kita.
Ada the gay guy in a closet. Cewenya gonta ganti tapi gak bisa horny.
Ada si mantan pemudi mesjid yang dulunya berjilbab. Sekarang pacarnya dua. Satu di Bandung, satu di kampung.
Ada anak juragan daerah bermobil toyota, paling keren di daerahnya.
Ada anak jakarta yang dulunya gak pernah jadi ketua. Sekarang dia arus bicara lebih banyak.
Ada mantan NEM tertinggi sepropinsi yang sekarang kawin muda.
The angry lesbian.
Ada mantan juara bulutangkis yang salah jurusan.
Dan gue? Siapa gue?
Si penulis wannabe yang diam dan mengobservasi.
Ada si model Close Up yang sempurna secara visual tapi tidak secara oral. Kadang dia ramah, lebih sering dia lupa siapa kita.
Ada the gay guy in a closet. Cewenya gonta ganti tapi gak bisa horny.
Ada si mantan pemudi mesjid yang dulunya berjilbab. Sekarang pacarnya dua. Satu di Bandung, satu di kampung.
Ada anak juragan daerah bermobil toyota, paling keren di daerahnya.
Ada anak jakarta yang dulunya gak pernah jadi ketua. Sekarang dia arus bicara lebih banyak.
Ada mantan NEM tertinggi sepropinsi yang sekarang kawin muda.
The angry lesbian.
Ada mantan juara bulutangkis yang salah jurusan.
Dan gue? Siapa gue?
Si penulis wannabe yang diam dan mengobservasi.
Arus Balik
Amerika krisis. Lapangan kerja berkurang. Warga asing dipulangkan.
Warga Singapura pulang kampung, butuh kerja. TKI-TKI dipulangkan.
Warga Indonesia pulang kampung, butuh kerja. Siapa yang mau dipulangkan?
Tenaga kerja asing malah tambah diminati. Dari begitu banyaknya sutradara Indonesia, yang dipake Malaysia.
Bukan waktunya mengeluh, mungkin si Malaysia lebih bagus?
Inferior Complex.
Ama Malaysia?
Hahahaha.
Jadi kita kerja apa? Terlanjur dipecat dan dipulangkan.
WNI di Jepang dipulangkan.
WNI Kairo dipulangkan.
Libya.
Arab.
Arus balik semakin banyak.
Kita butuh kerja. Kita butuh makan.
Tak cukup bertanam cabe dan bawang di belakang rumah?
Tak cukup. Kita kan butuh handphone.
XL punya malaysia. Telkomsel punya singapura.
Oh esia saja. Truly Indonesia.
Biar kita bikin kaya sesama orang Indonesia.
Siapa yang kaya raya?
Bukan korban Lapindo, pastinya.
Warga Singapura pulang kampung, butuh kerja. TKI-TKI dipulangkan.
Warga Indonesia pulang kampung, butuh kerja. Siapa yang mau dipulangkan?
Tenaga kerja asing malah tambah diminati. Dari begitu banyaknya sutradara Indonesia, yang dipake Malaysia.
Bukan waktunya mengeluh, mungkin si Malaysia lebih bagus?
Inferior Complex.
Ama Malaysia?
Hahahaha.
Jadi kita kerja apa? Terlanjur dipecat dan dipulangkan.
WNI di Jepang dipulangkan.
WNI Kairo dipulangkan.
Libya.
Arab.
Arus balik semakin banyak.
Kita butuh kerja. Kita butuh makan.
Tak cukup bertanam cabe dan bawang di belakang rumah?
Tak cukup. Kita kan butuh handphone.
XL punya malaysia. Telkomsel punya singapura.
Oh esia saja. Truly Indonesia.
Biar kita bikin kaya sesama orang Indonesia.
Siapa yang kaya raya?
Bukan korban Lapindo, pastinya.
Bebe
Bebe... bebe... bebe, ohhh...
Bebe bebe bebe nooo
Bebe bebe bebe ohhh
Bebe, katanya kamu smart phone, tapi kok makin hari makin bego?
Padahal BBM groupku cuma tiga lho. Jadi kamu gak bisa beralasan aku kebanyakan nge-group.
Aplikasi yang kuinstall pun cuma standar remaja masa kini: facebook, YM, dan twitter.
Tapi kamu tetap bego. Kunanti dan kunanti, lingkaranmu masih berputar-putar pura-pura loading. Page yangkutunggu tak juga muncul, malah sebuah kotak hitam bertuliskan error bla bla bla.
Bebe bebe bebe ohhh
Kau mau kuganti I phone?
Apa? Sama saja?
Mungkin ini bukan salahmu. Mungkin jaringan internetnya yang gak stabil. Maklum seratus ribu sebulan.
Bebe bebe bebe ohhh
Mana janjimu mana sumpahmu? Katanya kamu mau connecting people?
Eh itu sainganmu ya? Sekarang dia susah payah bikin handphone berkamera HD menyambut aspirasi para filmmaker wannabe, tapi kamu tetap lebih dicintai.
Walau diterpa badai pornografi pornoaksi dan berbagai macam undang-undang bodoh ciptaan entahlah yang mengancam BBM dipadamkan.
Walau kamu sama bodohnya.
Bebe bebe bebe ohhh...
Mungkin suah saatnya aku kembali kepada htc ku yang cantik dan curvy, tak seperti kamu yang kaya handphone bapak-bapak.
Tapi takut terasing dari gosip-gosip BBM.
Bebe bebe bebe ohh....
I thought you’d always be mine.
Bebe bebe bebe nooo
Bebe bebe bebe ohhh
Bebe, katanya kamu smart phone, tapi kok makin hari makin bego?
Padahal BBM groupku cuma tiga lho. Jadi kamu gak bisa beralasan aku kebanyakan nge-group.
Aplikasi yang kuinstall pun cuma standar remaja masa kini: facebook, YM, dan twitter.
Tapi kamu tetap bego. Kunanti dan kunanti, lingkaranmu masih berputar-putar pura-pura loading. Page yangkutunggu tak juga muncul, malah sebuah kotak hitam bertuliskan error bla bla bla.
Bebe bebe bebe ohhh
Kau mau kuganti I phone?
Apa? Sama saja?
Mungkin ini bukan salahmu. Mungkin jaringan internetnya yang gak stabil. Maklum seratus ribu sebulan.
Bebe bebe bebe ohhh
Mana janjimu mana sumpahmu? Katanya kamu mau connecting people?
Eh itu sainganmu ya? Sekarang dia susah payah bikin handphone berkamera HD menyambut aspirasi para filmmaker wannabe, tapi kamu tetap lebih dicintai.
Walau diterpa badai pornografi pornoaksi dan berbagai macam undang-undang bodoh ciptaan entahlah yang mengancam BBM dipadamkan.
Walau kamu sama bodohnya.
Bebe bebe bebe ohhh...
Mungkin suah saatnya aku kembali kepada htc ku yang cantik dan curvy, tak seperti kamu yang kaya handphone bapak-bapak.
Tapi takut terasing dari gosip-gosip BBM.
Bebe bebe bebe ohh....
I thought you’d always be mine.
Bibik
Namanya Minah. Atau Suminah?
Dia sendiri gak tahu. Di KTP tertulis Suminah.
Gue menyebutnya Bibik. Sejak tiga tahun terakhir, bibik menggantikan bibik-bibik lain yang silih berganti dicereweti Mak Gondut. Bibik ini berbeda. Bibik ramah, lemah lembut, dan sabar menghadapi tiga tuan muda: Boni, Bonyet, dan Mariyuana.
Datang dari Pamulang ke Bandung untu menjadi pembantu. Bertemu anak setahun sekali selama dua minggu. Tahu-tahu anak sudah masuk SMA.
Kembarannya masih di kelas 3 SMP.
Tiap hari mereka bangun jam 5, siap-siap ke sekolah naik angkot sejam karena sekolah mulai jam 7.
Tiap hari Bibik harus keluar 10 ribu per anak untuk ongkos angkot pulang balik.Uang masuk sekolah 300 ribu. Seragam dan ini itu sekian ratus ribu.
Kenapa gak sekolah di deket rumah aja? Kan ada SMA swasta.
Sebulan bisa seratus ribu. Kalau di negeri, bisa minta keringanan. Walau harus sepuluh ribu sehari.
Gaji bibik habis hanya untuk ongkos sekolah.
Mengharapkan tambahan dari ayahnya yang di Jakarta tidak bisa.
Dulu waktu si ayah muda, jualan rujaknya laku. Jadi si ayah bisa kawin lagi. Sekarang sudah tua, jualan tak selaris dulu. Harus bagi dua pula ama istri muda.
Tahun ini dia mau sebulan puasa di kampung, sekalian mengurus tanah yang mau dijual anak Pak Lurah.
Padahal dulu bibik sudah bayar uang surat ke pak lurah lama. Sekarang pak lurah lama sakit-sakitan, surat belum juga jadi. Tanah malah dijual orang.
Memang cuma 14x6 tapi cuma itu yang Bibik punya. Hasil tidak bertemu anak bertahun-tahun jadi TKI. Selama 15 tahun hidup anaknya, cuma tiap lebaran mereka bertemu.
Kenapa Bibik gak bertani aja? Biar sedikit, kan bisa tinggal sama-sama anak.
Malu.
Dia sendiri gak tahu. Di KTP tertulis Suminah.
Gue menyebutnya Bibik. Sejak tiga tahun terakhir, bibik menggantikan bibik-bibik lain yang silih berganti dicereweti Mak Gondut. Bibik ini berbeda. Bibik ramah, lemah lembut, dan sabar menghadapi tiga tuan muda: Boni, Bonyet, dan Mariyuana.
Datang dari Pamulang ke Bandung untu menjadi pembantu. Bertemu anak setahun sekali selama dua minggu. Tahu-tahu anak sudah masuk SMA.
Kembarannya masih di kelas 3 SMP.
Tiap hari mereka bangun jam 5, siap-siap ke sekolah naik angkot sejam karena sekolah mulai jam 7.
Tiap hari Bibik harus keluar 10 ribu per anak untuk ongkos angkot pulang balik.Uang masuk sekolah 300 ribu. Seragam dan ini itu sekian ratus ribu.
Kenapa gak sekolah di deket rumah aja? Kan ada SMA swasta.
Sebulan bisa seratus ribu. Kalau di negeri, bisa minta keringanan. Walau harus sepuluh ribu sehari.
Gaji bibik habis hanya untuk ongkos sekolah.
Mengharapkan tambahan dari ayahnya yang di Jakarta tidak bisa.
Dulu waktu si ayah muda, jualan rujaknya laku. Jadi si ayah bisa kawin lagi. Sekarang sudah tua, jualan tak selaris dulu. Harus bagi dua pula ama istri muda.
Tahun ini dia mau sebulan puasa di kampung, sekalian mengurus tanah yang mau dijual anak Pak Lurah.
Padahal dulu bibik sudah bayar uang surat ke pak lurah lama. Sekarang pak lurah lama sakit-sakitan, surat belum juga jadi. Tanah malah dijual orang.
Memang cuma 14x6 tapi cuma itu yang Bibik punya. Hasil tidak bertemu anak bertahun-tahun jadi TKI. Selama 15 tahun hidup anaknya, cuma tiap lebaran mereka bertemu.
Kenapa Bibik gak bertani aja? Biar sedikit, kan bisa tinggal sama-sama anak.
Malu.
Ahmadiyah Dilarang
Gubernur Jawa Barat resmi melarang Ahmadiyah.
Apa yang akan terjadi ke Mesjid Ahmadiyah? Tampaknya tidak ada tanda-tanda pembubaran diri.
Gue duduk-duduk di sebelah mesjid, menikmati pizza coklat pisang ditabur es krim vanilla.
It's just like any other day. Paling yang beda ada tiga land cruiser polisi nongkrong di parkiran.
Maybe it's not just any other day for them.
Mungkin mereka gak bisa menikmati pizza, walaupun di sebelah rumah.
“Mereka duluan yang menganggap Islam lain sesat,” kata salah satu teman mendukung tindakan gubernur.
Bagaimana dengan Mormon, Bapak Gubernur? Mereka juga bilang Kristen lain sesat.
Boleh gak saya minta mereka dilarang juga?
Eh jangan deh. Ntar Tuhan sedih. Sesama orang berdosa dilarang saling menghakimi.
Bahkan bus kota saja tahu aturan. Nggak saling mendahului.
Jangan sampai kita kalah sama bus kota, Pak.
Mau dikategorikan Kristen Protestan untuk kemudahan administrasi provinsimu yang gak maju-maju ini juga nggak apa-apa. Toh sama-sama ciptaan Tuhan.
Tuhan terlalu cool untuk bisa dihina ciptaannya.
Apa yang akan terjadi ke Mesjid Ahmadiyah? Tampaknya tidak ada tanda-tanda pembubaran diri.
Gue duduk-duduk di sebelah mesjid, menikmati pizza coklat pisang ditabur es krim vanilla.
It's just like any other day. Paling yang beda ada tiga land cruiser polisi nongkrong di parkiran.
Maybe it's not just any other day for them.
Mungkin mereka gak bisa menikmati pizza, walaupun di sebelah rumah.
“Mereka duluan yang menganggap Islam lain sesat,” kata salah satu teman mendukung tindakan gubernur.
Bagaimana dengan Mormon, Bapak Gubernur? Mereka juga bilang Kristen lain sesat.
Boleh gak saya minta mereka dilarang juga?
Eh jangan deh. Ntar Tuhan sedih. Sesama orang berdosa dilarang saling menghakimi.
Bahkan bus kota saja tahu aturan. Nggak saling mendahului.
Jangan sampai kita kalah sama bus kota, Pak.
Mau dikategorikan Kristen Protestan untuk kemudahan administrasi provinsimu yang gak maju-maju ini juga nggak apa-apa. Toh sama-sama ciptaan Tuhan.
Tuhan terlalu cool untuk bisa dihina ciptaannya.
Ignorant Generation
Fukushima dievakuasi. Biar Rusia Cina dan Korea yang panik. Gue mau ke Plaza Indonesaia.
Ahmadiyah dilarang. Selama gue bisa berdoa dan berpaduan suara, terserah mereka. Siapa suruh bilang Yesus mati di Kashmir?
SBY gak jadi reshuffle kabinet? Whatever. Ganti mentri juga sama aja.
Itu siapa yang bikin iklan tolak kongres tandingan PSSI d TV? Gak bisa milih font.
Megawati gak mau dipanggil KPK, dan mengirim dua dayangnya. Biarinlah. Kasian gak disayang suami.
Si century apa kabar ya? Oh ibu itu dihukum 10 tahun. Emang dia siapanya century ya?
Aril 3 tahun ya? Tak ada peter pan, sm*sh pun jadi.
BBM mau naik? Gue kan udah punya fixie.
Indonesia mau free trade ama australia? Ngaruhnya apa ya ke gue?
Pajak film sebenarnya gak naik? Kok Black Swan tetap gak maen? Ya sudah gue nonton di home theater baru gue aja.
Afrika dijadiin tempat percobaan obat Eropa? Biarlah. Daripada gue takut terus kena AIDS.
Libya masih ribut aja? Kok gak ganti-ganti nih berita.
Mesir juga. Lagi trend ya rusuh di timur tengah?
Gara-gara Amerika?
Dollar 8700? Beli ah. Kalik aja ntar naek lagi.
Mesir masih rusuh ya? Banyak artefak dirampok? Ya sudahlah. Jangan hidup di masa lalu dong. Kita bikin aja artefak baru.
Hah? Gue ignorant, kata lo?
Enak aja lo. Lo tau gak? Gue kan baru bakti sosial banjir bandang di Aceh. Bagi-bagiin sembako. Bagi-bagiin kaos. Lo ngapain coba? Nggak ngapa-ngapain kan? Cuma uh ah uh liatin mobil kapal diseret Tsunami Tokyo. Mana lo tahu di Aceh kebanjiran?
Lo tuh yang ignorant.
Eh tadi mana kaos yang mau gue bagiin? Itu harus dipake ya pas TV dateng. Kalo nggak, biar ada bukti ke pengurus partai.
Ahmadiyah dilarang. Selama gue bisa berdoa dan berpaduan suara, terserah mereka. Siapa suruh bilang Yesus mati di Kashmir?
SBY gak jadi reshuffle kabinet? Whatever. Ganti mentri juga sama aja.
Itu siapa yang bikin iklan tolak kongres tandingan PSSI d TV? Gak bisa milih font.
Megawati gak mau dipanggil KPK, dan mengirim dua dayangnya. Biarinlah. Kasian gak disayang suami.
Si century apa kabar ya? Oh ibu itu dihukum 10 tahun. Emang dia siapanya century ya?
Aril 3 tahun ya? Tak ada peter pan, sm*sh pun jadi.
BBM mau naik? Gue kan udah punya fixie.
Indonesia mau free trade ama australia? Ngaruhnya apa ya ke gue?
Pajak film sebenarnya gak naik? Kok Black Swan tetap gak maen? Ya sudah gue nonton di home theater baru gue aja.
Afrika dijadiin tempat percobaan obat Eropa? Biarlah. Daripada gue takut terus kena AIDS.
Libya masih ribut aja? Kok gak ganti-ganti nih berita.
Mesir juga. Lagi trend ya rusuh di timur tengah?
Gara-gara Amerika?
Dollar 8700? Beli ah. Kalik aja ntar naek lagi.
Mesir masih rusuh ya? Banyak artefak dirampok? Ya sudahlah. Jangan hidup di masa lalu dong. Kita bikin aja artefak baru.
Hah? Gue ignorant, kata lo?
Enak aja lo. Lo tau gak? Gue kan baru bakti sosial banjir bandang di Aceh. Bagi-bagiin sembako. Bagi-bagiin kaos. Lo ngapain coba? Nggak ngapa-ngapain kan? Cuma uh ah uh liatin mobil kapal diseret Tsunami Tokyo. Mana lo tahu di Aceh kebanjiran?
Lo tuh yang ignorant.
Eh tadi mana kaos yang mau gue bagiin? Itu harus dipake ya pas TV dateng. Kalo nggak, biar ada bukti ke pengurus partai.
Gue Mati
Sebuah gambar di belakang truk: seorang wanita berhidung miring yang seharusnya Manohara bersama tulisan Janda Kelantan, dengan setengah wajah tercoret merah.
Darah gue.
Kepala gue tertancap di bumper belakang yang sudah membengkok akibat ditabrak dengan kecepatan 120 km/jam di turunan.
Bibir gue tetap tersenyum, walau sudah tercampur karat. Darah mengalir ke dada.
Kursi belakang mendorong kursi depan, mendorong dagu, mendorong klakson.
Klakson mengiringi bunyi teriakan dan raungan sirene.
Atau di dasar Samudera Pasifik ditemani ikan-ikan bertulang transparan? Badan gue melayang di antara biru yang semakin biru, lama-lama hitam.
Atau meledak di udara di antara kumulus? Serpih-serpihan gue terjun pelan-pelan.
Satu mendarat di antara bunga-bunga. Satu dilindas angkot. Satu di sarang beo. Satu di bulu kucing. Dijilat, masuk ke lambung.
Atau termutilasi menjadi 16 bagian di tanah kosong belakang bekas pabrik?
No, I don’t see how I’ll end up there.
Atau di kamar mandi, terbaring dengan mata terbelalak dan kepala terbelah. Lantai yang tadi biru sekarang merah kekuning-kuningan.
Atau megap-megap di Danau Toba? Gue mencoba berteriak, tapi mereka hanya memandangi heran. Mungkin aku tak bersuara, karena paru-paru sudah dialiri air Danau Toba, mengambil tempat di mana oksigen seharusnya bekerja.
Atau di rumah sakit, sendirian dan kesepian berharap cucu-cucu datang? Atau berkhayal andaikan dulu punya cucu.
My death plays like movie scenes. Too much death in DVD's lately.
Mungkin gue akan menniggal sambil notnon film, sendirian, berpkir I have 300 something more DVD's to watch. Beli mulu. Nonton nggak.
Entah gue meninggal di awan, di laut, di danau, atau di sarang beo, it's only the end. It's the inbetween that matters.
Thank you for this inbetween. It's been quite something.
But I wouldn't mind a company.
Darah gue.
Kepala gue tertancap di bumper belakang yang sudah membengkok akibat ditabrak dengan kecepatan 120 km/jam di turunan.
Bibir gue tetap tersenyum, walau sudah tercampur karat. Darah mengalir ke dada.
Kursi belakang mendorong kursi depan, mendorong dagu, mendorong klakson.
Klakson mengiringi bunyi teriakan dan raungan sirene.
Atau di dasar Samudera Pasifik ditemani ikan-ikan bertulang transparan? Badan gue melayang di antara biru yang semakin biru, lama-lama hitam.
Atau meledak di udara di antara kumulus? Serpih-serpihan gue terjun pelan-pelan.
Satu mendarat di antara bunga-bunga. Satu dilindas angkot. Satu di sarang beo. Satu di bulu kucing. Dijilat, masuk ke lambung.
Atau termutilasi menjadi 16 bagian di tanah kosong belakang bekas pabrik?
No, I don’t see how I’ll end up there.
Atau di kamar mandi, terbaring dengan mata terbelalak dan kepala terbelah. Lantai yang tadi biru sekarang merah kekuning-kuningan.
Atau megap-megap di Danau Toba? Gue mencoba berteriak, tapi mereka hanya memandangi heran. Mungkin aku tak bersuara, karena paru-paru sudah dialiri air Danau Toba, mengambil tempat di mana oksigen seharusnya bekerja.
Atau di rumah sakit, sendirian dan kesepian berharap cucu-cucu datang? Atau berkhayal andaikan dulu punya cucu.
My death plays like movie scenes. Too much death in DVD's lately.
Mungkin gue akan menniggal sambil notnon film, sendirian, berpkir I have 300 something more DVD's to watch. Beli mulu. Nonton nggak.
Entah gue meninggal di awan, di laut, di danau, atau di sarang beo, it's only the end. It's the inbetween that matters.
Thank you for this inbetween. It's been quite something.
But I wouldn't mind a company.
Twitter dan Follower
“Innovation is what distinguishes betwen a twitter and a follower”, tweet Steve jobs.
Edisi revisi dari quote-nya sendiri: “Innovasion is what distinguishes between a leader and a follower.”
So what distinguishes between a leader and a twitter?
Nothing .
Twitter is the new leader, bahkan SBY pun didikte twitter. Menekan presiden untuk bergerak ketika HKBP diserang. Ketika Ahmadiyah diserang. Ketika Padang kena bencana.
Mubarak, Kaddafi, dkk panik digempur twitter.
Twitter is the new AK 47.
Buku dan koran tak lagi didengar. Kompas Gramedia semakin sulit jualan, harus saingan dengan sastra 140 karakter.
Twitter is the new literature.
Filmmakers, kita tak butuh lagi dana jutaan untuk P&A . Kita gak butuh the Weinsteins Brother.Tinggal tweet dan semua orang langsung tahu tentang film lo.
Tentang kue lo yang baru jadi.
Tentang BB lo yang baru dicuri.
Tentang kolor lo yang mendadak hijau.
Twitter is the new publicist.
Or not?
Di antara begitu banyak berita singkat berlomba-lomba ingin didengar, bisakah kita terdengar?
Kemaren Irfan Bachdim yang didengar. Terus ahli-ahli UFO. Hari ini ahli fisika nuklir. Kapan Irfan Bachdim kembali didengar? Atau he has used up all of his 15 minutes of fame?
You don’t need a good voice to be famous for 15 minutes.
Twitter is the new American Idol.
Tapi kenapa SBY masih ongkang-ongkang kaki? Tidakkah dia gentar melihat nasib Mubarak, Kaddafi, dkk?
Ternyata rakyat internet Indonesia cuma 20%.
Edisi revisi dari quote-nya sendiri: “Innovasion is what distinguishes between a leader and a follower.”
So what distinguishes between a leader and a twitter?
Nothing .
Twitter is the new leader, bahkan SBY pun didikte twitter. Menekan presiden untuk bergerak ketika HKBP diserang. Ketika Ahmadiyah diserang. Ketika Padang kena bencana.
Mubarak, Kaddafi, dkk panik digempur twitter.
Twitter is the new AK 47.
Buku dan koran tak lagi didengar. Kompas Gramedia semakin sulit jualan, harus saingan dengan sastra 140 karakter.
Twitter is the new literature.
Filmmakers, kita tak butuh lagi dana jutaan untuk P&A . Kita gak butuh the Weinsteins Brother.Tinggal tweet dan semua orang langsung tahu tentang film lo.
Tentang kue lo yang baru jadi.
Tentang BB lo yang baru dicuri.
Tentang kolor lo yang mendadak hijau.
Twitter is the new publicist.
Or not?
Di antara begitu banyak berita singkat berlomba-lomba ingin didengar, bisakah kita terdengar?
Kemaren Irfan Bachdim yang didengar. Terus ahli-ahli UFO. Hari ini ahli fisika nuklir. Kapan Irfan Bachdim kembali didengar? Atau he has used up all of his 15 minutes of fame?
You don’t need a good voice to be famous for 15 minutes.
Twitter is the new American Idol.
Tapi kenapa SBY masih ongkang-ongkang kaki? Tidakkah dia gentar melihat nasib Mubarak, Kaddafi, dkk?
Ternyata rakyat internet Indonesia cuma 20%.
Langganan:
Postingan (Atom)