Jumat, 24 September 2010

Visa Amerika

Aloha! In 3 weeks I am going to Hawaii, baby.

Tickets bought. Hotel booked. Body slimmed.

Dancing-dancing on the floor. Shake it. Shake it.

Wait.

That island is still America. I need a visa. Not just a visa. An american one.

Damn.

I remembered the first time I applied the American visa, I need to go back there three times. And it was the before 9/11. It's even more terrifying now.

I thought the American visa is very hard to get. Till... _Kayanya pake basa Indonesia aja deh ya_ ... Sampai Kakak gue dapet visa tanpa pernah menginjakkan kaki di kedutaan Amerika. Berkat telpon papi.

Tapi gue bukan anak papi. Malu dong ah bawa-bawa papi urusan ginian doang. Gue sih bisa dapet visa sendiri.

Eit.

Ternyata paspor gue expire 5 bulan lagi. Terpaksa bikin paspor dulu. Tapi kali ini aku akan bikin paspor dengan prosedur yang benar, tanpa bantuan papi.

Malu dong ah bawa-bawa papi urusan ginian doang. Gue sih bisa bikin paspor sendiri.

day 1. ambil formulir.
day 4. foto dan bayar.
day 8. ambil paspor.

Damn. Butuh 8 hari untuk ngurus paspor di negara gue tercinta ini.

Terpaksa telpon papi. Paspor sehari jadi.

Sekarang urus visa. Isi form electronic di internet. Done.

Bikin appointment. Dddd...

Damn. Appointment sudah terisi sampai akhir oktober.

Aha! Ternyata ada emergency appointment. Maybe this is my way.

Failure to plan is not an emergency and we usually cannot accommodate last minute appointment requests.

Terpaksa telpon papi.

Ahhh aku tak mau selamanya jadi anak papi. Malu aku malu. Tapi bagaimana caranya bisa jadi warga negara yang taat aturan di negara yang perpanjang paspor aja butuh 8 hari ini?

Ngeluh mulu. Dasar anak papi.

Selasa, 21 September 2010

Jurus Dim Sum

20 September 2008

Sebuah restoran di ujung gedung pulpen/ layar perahu/ topi sultan. Walalupun membuat kebingungan arsitektur, restoran ini terkenal punya teh tarik dahsyat yang bisa dinikmati sambil melihat panorama Jakarta.

Bang Gigit buka daftar menu. Teh tarik Rp 50.000,00 ternyata.

"Di sini gak ada dimsum ya, Mas?"
"Gak ada, Pak."
"Wah, maaf. Saya kira ada dim sum," kata Bang Gigit sebelum mengembalikan buku menu dan mencari restoran lain.

Mending Teh tarik Tamani. Tanpa panorama, tapi hanya 20 ribuan.


20 September 2010

Sepanjang Kelapa Gading ditelusuri, dan sampailah Bang Gigit di sebuah restoran Korea. Grill babi dan sapi. Nyummm.

Bang Gigit buka daftar menu. Bulgogi Rp 150.000,00 ternyata.

"Di sini gak ada dimsum ya, Mas?"
"Gak ada, Pak."
"Wah, maaf. Saya kira ada dim sum," kata Bang Gigit sebelum mengembalikan buku menu dan mencari restoran lain.

Bulgogi Ganggang sulai: all you can eat, 80 ribuan plus minum.


20 September 2013

Bang Gigit buka daftar menu di sebuah restoran di Hawaii. USD 100 untuk seporsi steak.

"Di sini gak ada dimsum ya, Mas?"
"Gak ada, Pak."
"Kalau gitu steak aja dua!"

Sekarang Bang Gigit udah jadi VP top di sebuah bank terkenal.

Amin.

Kalau 2013 belum kesampaian, tenang. Kita masih punya jurus dimsum.

Happy birthday, Bang Gigit.

Senin, 20 September 2010

Tante-Tante Labil

Sabtu pagi. Mentari bersinar. Tiga tante labil dengan kacamata hitam dua puluh ribuannya melarikan diri dari ibu kota, menuju kota kembang tercinta. Walau kota ini tak lagi dihiasi kembang, masih banyak pakaian dan makanan murah yang mengundang tante-tante labil yang lelah dipecut ibu kota.

Walaupun sudah diperingatkan akan bahaya ramainya arus balik di hari Minggu nanti, Tante-tante tetap bertekad berpetualang demi wedges dan perbajuan. Biar labil, tante-tante harus tetap trendy.

Trendy tapi kere. Karenanya tante-tante lebih bahagia dibawa belanja ke Kings, daripada ke Rumah Mode. Tidak seperti species Jakarta lainnya.

Mumpung masih tante. Mari nikmati hidup. Keburu metong, eh malah jadi mayat labil... aihhhh mayat-mayat kok masih labil? Kuntilanak dong cyinnn?

Perbelanjaan dan penggendutan diselilingi gosip-gosip seputar selebriti.

Film, fame, and fortune, and why they became BFF (Best Friend Forever). At least on the outside. The three of them are so different in the inside.

Seekor perawan gendut cuma mendengarkan setengah tak percaya. Maklumlah dia masih sangat ababil dibandingkan tante lainnya. Belajar hidup pun hanya dari baca blog Yasmin Ahmad. Si perawan terlanjur percaya kalau hidup itu yang penting tulus dan jujur, sisanya datang mengejar.

Terkaget-kaget mendengarkan betapa kelamnya perfilman. Inikah sebabnya kenapa film Indonesia masih kelam? Para pembuatnya pun masih kelam. Jadi penasaran apa kata kru Yasmin Ahmad tentang almarhumah.

"Yah terima aja temen lo ada kekurangan. Lo juga gak sempurna. Lo jangan naif deh," kata tante mengingatkan.

Tapi di blog Yasmin Ahmad nggak gitu dehhhh.

Hhhhh... Susah ngomong ama anak kecil.

Ternyata dia belum jadi tante labil. Masih perawan labil.

Jumat, 17 September 2010

David and Jonathan

As soon as he was finished speaking, the soul of Jonathan was knit to the soul of David, and Jonathan loved him as his own soul.

This will be the last time they speak. No more esia. No more long distance call. Not before Bakrie paid up those Lapindo victims.

Then Jonathan made a covenant with David, because he loved him as his own soul. And Jonathan stripped himself of the robe that was on him and give it to David, and his armor, and even his sword and his bow and his belt.

Then Jonathan said to David, "Whatever you say, I will do for you."

David fell on his face to the ground and bowed three times. And they kissed one another and wept with one another, David weeping the most.

Then Jonathan said to David, "Go in peace, The Lord shall be between me and you, and between my offspring and your offspring, forever."

Even if you don't believe in God.

And he rose and departed, and Jonathan went into the city.

"Happy birthday, babe."

Kamis, 16 September 2010

Sang Pencerah

"200 ribu? Itu udah pake askes, mbak?" tanya si Ibu tua di samping gue pada petugas radiologi.

Anggukan si mbak membuat si Ibu tua terduduk, gak jadi daftar USG.

Gue melihat dompet gue, sisa 100 ribu setelah bayar radiologi tanpa askes seharga 303ribu. Kenapa kesehatan begitu mahal?

"Gue sih ogah ke rumah sakit. Kalau gue sakit, ntar gue tembak diri pake pistol aja," kata Ucu yang sedang membuat film dokumenter tentang kesehatan di Indonesia.

Narasumbernya yang datang ke rumah sakit mata ditakut-takuti kalau besok gak operasi, retinanya bisa copot. Abis operasi, doi malah buta.

Dan list panjang malpraktek bermotif uang lainnya yang akan menghiasi film dokumenter Ucu. Lebih murah pake pistol. Toh sama-sama metong.

Negara ini terlalu banyak kesesakan. Tak heran manusianya cuek dan cuma peduli diri sendiri. Gue nggak menyalahkan mereka yang melewati Bunderan HI dengan tatapan kosong. Padahal di samping mereka sedang berteriak-teriak kami yang memprotes tidak dijaminnya kebebasan beragama.

Gue pun kalau bukan karena diajakin Ucu mungkin akan memilih bergabung dengan mereka yang ngopi2 di sisi lain Bunderan HI. Ngapain sih aksi? Paling masuk headline sehari, besoknya orang udah lupa.

Tapi kesinisan gue semakin terkikis seiring bunyi kasidahan.

Tumbuh besar di gereja batak dengan paduan suara indah dan merdu, gue gak pernah suka kasidahan. Ribut. Sengau. Butuh lebih banyak latihan. Tapi kasidahan malam itu terdengar begitu mendamaikan.

"Perdamaian perdamaian..." kata sebaris ibu-ibu kasidahan berseragam lengkap diiringi bunyi air bunderan HI, dikelilingi lilin-lilin dan berbagai tulisan penolakan, pantat gue pun ikut bergoyang.

"Lilin ini untuk HKBP, Ahmadiyah, Kong Hu Cu,..." dan banyak nama lain yang dianggap tidak akan masuk surga oleh segelintir minoritas yang mengatasnamakan diri mayoritas.

Satu abad yang lalu Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pun dituduh kafir karena membuka sekolah kafir: pake meja, kursi, dan buku. Dia juga dituduh kafir karena berpakaian kaya kafir: pake sepatu.

Bayangkan kalau di abad depan kita difilmkan. Maukah kita dikenang sejarah sebagai ulama norak tukang marah-marah yang gak peka perubahan?

Ayo anak muda. Gak peka, gak gaya.

Rabu, 15 September 2010

Faith Hope Joy

Tiga tetes air yang membuat gue bertahan di tengah padang gurun penantian. Menanti matahari yang tak kunjung terbit. Tetap menari di saat-saat paling gelap, di saat menjelang matahari terbit.

Belum ada kabar dari sponsor.

Belum dapet produser.

Gue udah janji akan mengabari orang-orang sehabis lebaran. Untung gak bilang lebaran tahun berapa=D

Huaaaaaaaaaaaaaaa lebaran tahun ini ah.

Ayo matahari, cepatlah terbit. Agar tak sia-sia aku menari dalam gelap. Mau lihat goyangan seksiku kan?

Makanya buruan terbit.

hancurkan dan bentuk sesuai inginmu

Tuhan, terima kasih atas dilarangnya pendirian HKBP di Bekasi sehingga HKBP kembali bersatu.

Tuhan, terima kasih atas pemukulan pendeta Simanjuntak sehingga keputusan pemerintah memberlakukan urban planning yang tidak mendukung toleransi beragama semakin dipertanyakan masyarakat.

Tuhan, terima kasih atas penusukan sintua Lumban Batu, sehingga kami tahu mayoritas teman-teman Muslim tidak berhati batu.

Tuhan, terima kasih atas berkat dan perlindungan yang kau berikan kepada keluarga korban, sehingga mereka tidak perlu menerima bantuan pura-pura peduli.

Tuhan, terima kasih atas prasangka buruk sebagian masyarakat yang menyatakan insiden ini dirancang sendiri oleh pihak gereja, karena gereja semakin berbenah diri dan kembali bergantung kepadamu.

Tuhan, terima kasih atas pernyataan prematur kepolisian yang menyatakan ini cuma tindak kriminal biasa, sehingga lebih banyak masyarakat disadarkan betapa demokrasi hanya bisa terjadi jika penduduk mayoritas melindungi minoritas.

Tuhan, terima kasih atas pers yang lebih tertarik memberitakan pembakaran Al Quran oleh pendeta antah berantah berjemaat 30 orang karena kami jadi menyadari betapa kami lebih suka menonton kebencian dibandingkan kebaikan.

Tuhan, terima kasih atas presiden pemberani yang menelepon Obama tentang pembakaran Al Quran karena membuktikan kalau presiden kami ternyata gak buta dan tuli. Doi juga bisa nyanyi walau ternyata memimpin Indonesia yang majemuk ini gak butuh nyanyi. Butuhnya nyali, booooo.

Tuhan, terima kasih atas presiden yang gak berani membubarkan FPI, karena film Indonesia jadi diramaikan dengan superhero banci.

Tuhan, terima kasih atas Ephorus yang akhirnya angkat bicara di TV nasional karena akhirnya doi gak hanya eksis jadi foto model kalender HKBP saja.

Tuhan, terima kasih atas ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk berani membela yang tertindas, sehingga kami tidak sendirian.

Tuhan, terima kasih atas Desi Anwar karena mampu mengekspresikan kemarahan Dina Anwar tanpa terdengar barbar. Semoga Dina Anwar bisa secerdas Desi Anwar kelak.

Tuhan terima kasih karena telah kau hancurkan hati kami.

Agar bisa kau bentuk sesuai inginmu.

Basuh hati kami dengan air mata.

Tapi jangan tinggalkan kami.

Amin.

Judul

Selamat! Ketiga film kita sudah sampai di babak pic lock.

So you think its’s over?

Sehabis lebaran kita akan disambut rapat membahas babak-babak berikutnya: subtitling, color grading, scoring, sound, titling, bla bla bla.

In the meantime, pikirin judul apa yang cucok buat film kita.


Di atas adalah terjemahan bebas email dari produser tercinta film dokumenter kami, dijawab dengan berbagai email berisi ide judul yang terlintas di sela-sela maaf-maafan:

Intermission.
A pause between acts. Ketiga cerita kita kan tentang hidup tiga wanita jagoan kita di sela-sela panggung mereka. It’s an intermission before the show must go on.


Damn. He is good. Pantesan script- nya kepilih masuk Sundance Lab. Sayang udah keduluan Collin Farrell.

On The Verge.
Batas. Karena semua karakter kita nasibnya sudah di ujung batas, selangkah lagi menuju sukses atau nestapa.


Damn. He is good. Pantesan film pendeknya masuk Rotterdam. Sayang udah keduluan Pedro Almodovar, On The Verge of A Breakdown.

Exit
Jalan Keluar. Karena semua karakter kita mencari jalan keluar dari kemiskinan. Sesuai dengan tema kita: wanita menyiasati kemiskinan.


Damn. She is good. Pantesan jadi salah satu sutradara terbaik Indonesia. Can’t wait for her next one.

Biar Kere Tapi Kece.
Karena walaupun karakter kita kere-kere, tapi kece semua cyiiiin. Dijamin efektif untuk menjebak penonton untuk menonton karena mengira film ini another komedi seks remaja Indonesia. Nanti kalau ke festival, barulah kita pakai itu intermission, on the verge, exit bla bla bla.


Hfffff.... emang dasr gue norak. Pantesan minder di antara mereka.

A long way to go, babe. A long way to go.

Dan suara-suara delusional membisiki: Biar norak, yang penting kece=D

Mimpi Kita

35 menit: total durasi film dokumenter pertama gue. Akhirnya Picture lock.

Riset 2 bulan. Shooting 7 bulan. Ngedit satu bulan. Ngaerjainnya paling lama, jadinya paling pendek dibandingkan 2 film lainnya.

Lima menit lagi dong, ah ah ah.

Jangan ah. Iramanya sudah enakeun. Berkat bantuan editor Aline, rough cut kami disulap menjadi cerita yang lebih berirama.

Otak fiksi kami membuat rough cut terlalu terpatok pada skenario awal: TV sang antagonis penyebar mimpi instan yang menyebabkan lingkaran setan kemiskinan.
Ternyata footage yang menunjang kurang. Bukan karena mereka tidak dibodohi TV, tapi karena mereka tak lagi nongkrongin TV setiap kami datang . Mereka lebih tertarik mengerubungi kami, their way of another 5 minutes of fame .

Tidak perlulah ditambah berbagai macam drama. Berbagai macam animasi centil. Berbagai macam kulit yang gue idamkan di awal pembuatan. Biar film ini centil apa adanya.

Lima menit lagi, ah ah ah.

Walau ada beberapa gambar goyang yang mengusik mata fiksiku. Gatel pengen nge-delete. Tapi informasi gambarnya terlalu penting. Haram dikorbankan.

Content di atas segala-galanya.

Dasar dokumenter.

Tak apa-apalah. Yang penting awalnya nendang. Endingnya nonjok.

“Riana mah Cuma pengen tetep dikenal ama penggemar,” kata Riana mengakhiri film, mengenang masa-masa kemenanganya di suatu acara kontes dangdut instan di televisi.

“Makanya mau pengen ikut kontes-kontes kaya di TV lagi biar orang gak lupa,” kata Riana.

Benarkah ini kata Riana? Bukan kata ayahnya, ibunya, atau mereka-mereka yang nebeng mimpi di pundak ABG ini?

Riana, 14 tahun, gak pernah diberi kesempatan untuk tahu mimpinya apa.

“Emang mimpi mbak Atid apa?” tanya Riana polos.

“Bikin film,” jawab gue.

Proyek ini adalah the Stardut of filmmaker, Riana. Gue ikut proyek ini cuma untuk ngedeketin Nia Dinata. Ternyata gue malah belajar lebih banyak dari kamu, sayang. Belajar tentang mimpi gue sendiri.

Thanks for the bittersweet story of yours. Kamu menyadarkan gue kalau fame and fortune bukan mimpi gue.

Somehow I feel your story will bring me my five minutes of fame.

If the time comes, please give me the strength to pass it on. Yeah, babe, pass it on.

The world of ‘lima menit lagi ah ah ah’ really gets us nowhere.

Favorite Books

“Sebutkan 5 buku terakhir atau terfavorit yang pernah lo baca,” tanya sepupu salah satu teman yang bekerja di salah satu majalah di Jakarta.

Terfavorit? Banyak bangettt. Naming only 5 of them will provoke a riot in this democracy I call my heart. So I settle with the last 5 aja ya.

#1 What The Dog Saw – Malcolm Gladwell

What The Dog Saw adalah kumpulan tulisan di New York Times. He made statistic interesting.

Yang paling berkesan adalah ‘The Late Bloomers’. Dunia lebih memuja jenius muda seperti Picasso dan Orson Welles. Ternyata ada jenius tipe ke dua seperti Cezanne yang mulai seusia Picasso tapi baru menemukan gayanya di akhir karirnya. Kalau saja the dream team around him nggak support dia 100%, Cezanne pasti udah keburu menyerah pas umur 40-an.

Seperti juga Ben Fountain yang resign di umur 30 dan bermimpi jadi penulis langsung memenangkan penghargaan dengan novel pertamanya. .. 18 tahun kemudian.

Bayangkan kalau si istri gak rela kerja sendiri dan ngatain doi penulis gagal di tahun ke 16.

Tes. Tes. Air mata menetes. Antara iri dan haru. What a lucky guy.

#2 Biografi Rick Warren

“Your life is not about you,” kata Warren mengawali bukunya, The Purpose Driven Life yang mengubah hidup gue, makanya gue penasaran baca biografi dia. Ternyata dosa terbesarnya adalah nabrak bumper mobil orang dan kabur gak bilang-bilang.

Aihhhh kayak gituan dosa terbesar. Kalau kayak gue dimasukkan neraka mana ya nanti?

What I like about him is he doesn’t go and condemn people. He still make friends with people of different stand. Contohnya Melissa Etheridge, the gay singer. Atau Obama deh, biar lebih seru .

Rick Warren: no abortion, no gay marriage. Obama: free choice for abortion, free choice marrying anyone you love. Tapi Rick tetap mau mimpin doa di inagurasi Obama, bukan karena dia setuju dengan Obama, tapi demi unity in diversity booo. Dimulai dari pemimpinnya dong ah.

Padahal awlanya doi cuma niat jadi pastor biasa aja kaya bapaknya. Dia memulai dengan mendirikan the church for people who hates church. Tak sangka gerejanya jadi 25000 orang sekali kebaktian, menjadikan dia pastor paling berpengaruh saat ini. Temen Facebooknya tenar-tenar booooo: dari Tony Blair, Benjamin Natannyahu, sampai Usher.

#3 Biografi Paulo Coelho

“If you want something so bad, the whole universe will consppire to help you,” kata Paulo Coelho di Alchemist: salah satu racun resign gue buat bikin film. My life was a blessing ever since. Eh sebelumnya juga ding. Hanya jadi nyadar aja.

Tak sangka kata-kata bijak ini ditulis oleh orang yang gemar keluar masuk rumah sakit jiwa, a long history of drugs addiction, promiscuous sex with girls (and guys), dan bersahabat dengan berbagai aliran setan.

Gue terbengong-bengong baca biografinya, apalagi abis baca biografi Rick Warren yang too good to be true.

Ternyata orang senista Paulo Coelho juga bisa jadi berkat. Hhhhh... jadi orang kaya gue ini masih ada harapan.

#4

#1, #2, dan #3 masih teronggok di sebelah gue makanya gue inget. Sebelum itu apa ya? I think I need to credit some other writers that really influences me. Not only those I last read. So the other two spots I will give to my favorite writers.

Chuck Palahniuk? Salman Rushdie? Rumi? JD Sallinger? Neale Donald Welsch? Joestein Gaarder?

Akhirnya Chuck Palahniuk , untuk mengimbangi # 1-3 yang terlalu bright. I need one to show the dark side of me.

But which one?

Choke bikin gue menolong orang tanpa ngarep terima kasih.
Survivor bikin gue berhenti merokok.
Diary bikin gue pengen jadi seniman.
Fight club bikin gue bikin Resign Club. Same risk, less blood.

Pusing, gue malah milih Invisible Monsters.

Karena... speechless.

#5 Yang Indonesia donggg.

Banyak banget juga yang keren. Tapi yang semua karyanya gue baca Cuma Pramoedya, Ayu Utami, dan Mira W.

Karena 4 nama pertama beresiko membuat gue terdengar terlalu keren, I need someone to show the true part of me: the drama queen.

Mira W – Seandainya Aku Boleh Memilih.

Si sepupu sampai menanyakan ulang, memastikan gak salah dengar. Seandainya aku Boleh Memilih? Agak janggal diurutkan bersama Chuck Palahniuk dan Paulo Coelho.

Masih untung gue gak kasih tahu dia my actual favorite Mira W.

Cinta Cuma Sepenggal Dusta.

Jreng jreng jreng. Gak kurang dangdut apa tuh? Tapi gak gue bilang. Bukan karena takut dia tambah shock, tapi karena gue ingin mempromosikan sinetron favorit gue: Cinta, baesd on Seandainya Aku Boleh Memilih.

Setiap Selasa malam gue ngamuk kalau pas iklan RCTI diganti. I don’t wanna miss a second of Desy Ratnasari. Bahkan gue sorak-sorak pas dia menang Panasonic Awards. She totally deserved that. Hanya itu film Mira W yang memuaskan hati dramaku ini.


Ih bacaan gue banyak juga ya?

This is one of the reason I thank God I am pengangguran.