Di saat Big Mac masih lima belas ribu, harganya sudah sejuta.
Sepatu underground laba-laba itu terlihat berbeda di antara sepatu-sepatu abu-abu berusaha milenium di tahun 2000.
Kakakku mendelik kesal melihat aku menimang-menimang si sepatu seharga sebulan gajinya.
Ujungnya menyembul kaya badut. Memakainya, gue gak akan terlihat badut.
Sepetu dibeli. Tentunya bukan gue yang bayar. Bukan juga papi. Seorang Cina teman papi dengan senang hati membayari.
Gue pake ke bazaar SMA. Sipa yang tak bertanya melihatnya?
Walaupun gue terlihat semakin tinggi dan menjauhkan lelaki, gue berjalan dengan bangga.
Lama kelamaan agak membungkuk. Keberatan sepatu. Kenapa ujungnya harus besi?
Sepatu underground laba-laba hanya dipakai beberapa kali. Tahun berikutnya, sudah tidak keren lagi.
Sepatu laba-laba disimpan rapi. Harap-harap suatu hari nanti, dia kembali dikagumi.
Sepuluh tahun kemudian, masih tersimpan rapi.
Kucoba pakai sekali, masihkah membuat diri semakin berarti?
Badut.
Selasa, 15 Maret 2011
Senin, 14 Maret 2011
Babi Kecil Dalam Comberan di Tahun Kelinci
Tahun ini tahunnya para kelinci yang hobi beranak. Bagus untuk melahirkan usaha-usaha baru.
Wahai babi-babi, mulailah membuat usaha tahun ini karena akan berhasil.
Tahun lalu tahun macan. Makanya usaha lo kemakan.
Nguik.
Naga-naga emas, monyet-monyet, kuda, ayam, dan tikus, ayo ramai-ramai berreproduksi.
Mumpung tahun ini tahun kelinci.
So?
Gue gak pernah percaya shio. Zodiak. Air . api. Tanah. Bla bla bla.
Taurus harusnya tanah. Cocok ama Virgo.
Jangan dekat-dekat Aries.
Nah kalau yang ini gue percaya. Bertahun-tahun hidup bersama dua Aries: Yang satu singa. Yang satu anak singa. Babi kecil bermama singa ini pun harus menguik ketakutan tiap mereka saling mengaum.
Tapi sejak kakak gue kawin, mereka jadi akur. Mereka punya misi bersama.
Bagaimana cara agar si anak babi kecil dalam comberan ini terikut arus kelinci-kelinci kawin dan beranak di tahun ini?
“Mari kecil-kecil kok udah mau kawin sih?” tanya Mak Gondut sambil memandikan Mari si anjing kecil yang baru menstruasi. “Si Atid segede itu aja gak mau kawin.”
Kawin dan beranak pinak. Kelinci, kelinci, tidakkah kalian punya mimpi?
Tak inginkah kalian bikin film?
Atau jangan-jangan si babi kecil bikin film juga dengan tujuan akhir kawin dan beranak pinak?
Mau lo dandan, bermusik, beli baju, nyari duit, bikin facebook, nyiptain facebook, semua atas nama kawin dan beranak pinak.
Bagi spesies yang sudah kenal IUD dan kondom, setidaknya demi kawin.
It's all about sex.
Benarkah si babi kecil bikin film demi bisa kawin?
Kadang-kadang QnA memang berhasil menjaring mahkluk berdada bidang. Inteligence is the new boobs job.
Jadi kenapa si babi kecil belum juga kawin dan beranak pinak?
Maybe she is not intelligent enough.
Atau doa Mak Gondut terlalu kuat, menghindarkan si babi kecil dari cinta satu malam.
Damn.
Wahai babi-babi, mulailah membuat usaha tahun ini karena akan berhasil.
Tahun lalu tahun macan. Makanya usaha lo kemakan.
Nguik.
Naga-naga emas, monyet-monyet, kuda, ayam, dan tikus, ayo ramai-ramai berreproduksi.
Mumpung tahun ini tahun kelinci.
So?
Gue gak pernah percaya shio. Zodiak. Air . api. Tanah. Bla bla bla.
Taurus harusnya tanah. Cocok ama Virgo.
Jangan dekat-dekat Aries.
Nah kalau yang ini gue percaya. Bertahun-tahun hidup bersama dua Aries: Yang satu singa. Yang satu anak singa. Babi kecil bermama singa ini pun harus menguik ketakutan tiap mereka saling mengaum.
Tapi sejak kakak gue kawin, mereka jadi akur. Mereka punya misi bersama.
Bagaimana cara agar si anak babi kecil dalam comberan ini terikut arus kelinci-kelinci kawin dan beranak di tahun ini?
“Mari kecil-kecil kok udah mau kawin sih?” tanya Mak Gondut sambil memandikan Mari si anjing kecil yang baru menstruasi. “Si Atid segede itu aja gak mau kawin.”
Kawin dan beranak pinak. Kelinci, kelinci, tidakkah kalian punya mimpi?
Tak inginkah kalian bikin film?
Atau jangan-jangan si babi kecil bikin film juga dengan tujuan akhir kawin dan beranak pinak?
Mau lo dandan, bermusik, beli baju, nyari duit, bikin facebook, nyiptain facebook, semua atas nama kawin dan beranak pinak.
Bagi spesies yang sudah kenal IUD dan kondom, setidaknya demi kawin.
It's all about sex.
Benarkah si babi kecil bikin film demi bisa kawin?
Kadang-kadang QnA memang berhasil menjaring mahkluk berdada bidang. Inteligence is the new boobs job.
Jadi kenapa si babi kecil belum juga kawin dan beranak pinak?
Maybe she is not intelligent enough.
Atau doa Mak Gondut terlalu kuat, menghindarkan si babi kecil dari cinta satu malam.
Damn.
Muka Tua
“Ibu udah terima amplopnya ?”
Gue pura-pura gak denger. Produser gue yang sepuluh tahun lebih tua aja dipanggil Mbak.
Bukan salah dia. Dia cuma berusaha sopan. Dasar emang muka gue tua.
Gak sopan.
Kadang-kadang enak punya muka tua. Pertama kali gue wawancara kerja, bos gue nggak ngeh kalau gue belum lulus dan langsung dikontrak jadi pegawai tetap. Padahal gue ngelamar magang.
Same job desc. More money.
Senangnya muka tua.
Pas mulai kerja, kontraktor gak ada yang look down on me karena mereka gak tau gue fresh gradute. Dengan sedikit cuap-cuap sok tahu, I survive the site.
Umur 13, gue udah dapet SIM. Pak polisi gak curiga karena kaki udah nyampe kopling.
Umur 17, gue bebas beli bir di Amerika. Gak ada yang nanya karena gue terlihat 27.
Senangnya muka tua.
It only hurts when I try to get my own Ashton Kutcher.
“What was the question again? You are very distracting,” kata gue di salah satu QnA membuat si brondong berdada bidang tersipu-sipu.
“Come on. It’s for my friend. He’s too young for me.”
Selesai QnA, dia menghampiri. Gue menyambut dengan senyum-senyum ngarep.
“This is my name card, Mam.”
That’s it.
Gue pura-pura gak denger. Produser gue yang sepuluh tahun lebih tua aja dipanggil Mbak.
Bukan salah dia. Dia cuma berusaha sopan. Dasar emang muka gue tua.
Gak sopan.
Kadang-kadang enak punya muka tua. Pertama kali gue wawancara kerja, bos gue nggak ngeh kalau gue belum lulus dan langsung dikontrak jadi pegawai tetap. Padahal gue ngelamar magang.
Same job desc. More money.
Senangnya muka tua.
Pas mulai kerja, kontraktor gak ada yang look down on me karena mereka gak tau gue fresh gradute. Dengan sedikit cuap-cuap sok tahu, I survive the site.
Umur 13, gue udah dapet SIM. Pak polisi gak curiga karena kaki udah nyampe kopling.
Umur 17, gue bebas beli bir di Amerika. Gak ada yang nanya karena gue terlihat 27.
Senangnya muka tua.
It only hurts when I try to get my own Ashton Kutcher.
“What was the question again? You are very distracting,” kata gue di salah satu QnA membuat si brondong berdada bidang tersipu-sipu.
“Come on. It’s for my friend. He’s too young for me.”
Selesai QnA, dia menghampiri. Gue menyambut dengan senyum-senyum ngarep.
“This is my name card, Mam.”
That’s it.
Hairdryer, Catokan, Dan Epilator
Tiada hari bagi rambutku tanpa dijamah mereka. Tak pede hidup tanpa mereka.
Bagasi nginep seminggu dan semalam jadi sama karena mereka.
BAngun harus lebih pagi karena mereka.
Cuci rambut, conditioner.
Keringin rambut, hairdryer.
Catok poni, catok jambang.
Kasih shine – shine, biar sehat.
Dilanjutkan epilator. Ini adalah lawn mower bagi bulu-bulu tubuh. Membebaskan gue dari kunjungan waxing mingguan ke mbak-mbak India Pasar Baru.
Dicabut sebelum berkembang.
Diluruskan dari takdirnya yang mengembang.
Tak boleh satu pun ada yang membebek.
Lurus sempurna bagai gadis-gadis sunsilk yang kata mereka cantik.
What am I doing to my hair? Am I torturing them?
I like myself better looking like this.
Beauty is hell, babe.
What am I doing living like this?
Pernah kucoba sehari hidup tanpa catokan, Dini langsung protes.
“Lo kaya Mak Gondut.”
The magic spell. I’ll do anything not to be my mom.
Hairdryer, catokan, dan epilator.
Oh so much for the Jason Mraz’s look into the sky and you’ll find love love love inner peace .
Percuma memandangi langit. Jodoh gak dateng dari langit, harus agak ditipu sedikit.
Kecuali jodoh lo perkutut.
Bagasi nginep seminggu dan semalam jadi sama karena mereka.
BAngun harus lebih pagi karena mereka.
Cuci rambut, conditioner.
Keringin rambut, hairdryer.
Catok poni, catok jambang.
Kasih shine – shine, biar sehat.
Dilanjutkan epilator. Ini adalah lawn mower bagi bulu-bulu tubuh. Membebaskan gue dari kunjungan waxing mingguan ke mbak-mbak India Pasar Baru.
Dicabut sebelum berkembang.
Diluruskan dari takdirnya yang mengembang.
Tak boleh satu pun ada yang membebek.
Lurus sempurna bagai gadis-gadis sunsilk yang kata mereka cantik.
What am I doing to my hair? Am I torturing them?
I like myself better looking like this.
Beauty is hell, babe.
What am I doing living like this?
Pernah kucoba sehari hidup tanpa catokan, Dini langsung protes.
“Lo kaya Mak Gondut.”
The magic spell. I’ll do anything not to be my mom.
Hairdryer, catokan, dan epilator.
Oh so much for the Jason Mraz’s look into the sky and you’ll find love love love inner peace .
Percuma memandangi langit. Jodoh gak dateng dari langit, harus agak ditipu sedikit.
Kecuali jodoh lo perkutut.
Black Swan
I just want to be perfect.
I am a girl next door with a Mom who loves me. I love my mom, but I don’t wanna end up like her, a 28 years old ballerina who gets pregnant as an excuse to never see the top.
Me? I want to be perfect.
I am the swan queen.
If he only casted for the white swan, the role will be mine. I know my move. I know my step. I know how to look innocent and fragile. I am the white swan.
But he’s not.
He is also looking for my black twin. I don’t know how to be imprecise. I don’t know how to dance effortlessly. All my life, I have been trying to be nothing but perfect.
Perfection is not only about control. It’s about letting go. Loose control.
How am I supposed to loose control? I need to be perfect.
Like her.
I would do anything to be like her. Anything.
Including killing this fragile good girl inside me.
I just want to be perfect.
And she is perfect.
The Black Swan is perfect.
“No, It’s way too cartoon” kata salah satu binan Singapura, calon sutradara teater yang tak juga bikin drama despite all of his wit and inteliigence.
That’s why it is so good. It’s so cartoon.
Pasti nih anak dulunya gak pernah baca Lovely Mari Chan deh.
Walau apa kata mereka, kau tetap angsa hitamku.
Kak Nora mengirimkan sebuah artikel dari salah satu penari balet New York yang pernah diajak konsultasi oleh Darren Aronofsky sebelum Black Swan lahir.
Dia tersinggung karena Black Swan membuat balerina terlihat seperti orang gila yang harus lesbian dan nge-drugs dulu baru bisa nari.
“Ah ini kan Oscar campaign week. Paling dibayar ama Weinstein Brothers biar King’s Speech menang.”
“I think she just defended her profession,” kata Kak Nora.
And I am defending my black swan.
Apapun kata mereka, I love you my Black Swan.
I am a girl next door with a Mom who loves me. I love my mom, but I don’t wanna end up like her, a 28 years old ballerina who gets pregnant as an excuse to never see the top.
Me? I want to be perfect.
I am the swan queen.
If he only casted for the white swan, the role will be mine. I know my move. I know my step. I know how to look innocent and fragile. I am the white swan.
But he’s not.
He is also looking for my black twin. I don’t know how to be imprecise. I don’t know how to dance effortlessly. All my life, I have been trying to be nothing but perfect.
Perfection is not only about control. It’s about letting go. Loose control.
How am I supposed to loose control? I need to be perfect.
Like her.
I would do anything to be like her. Anything.
Including killing this fragile good girl inside me.
I just want to be perfect.
And she is perfect.
The Black Swan is perfect.
“No, It’s way too cartoon” kata salah satu binan Singapura, calon sutradara teater yang tak juga bikin drama despite all of his wit and inteliigence.
That’s why it is so good. It’s so cartoon.
Pasti nih anak dulunya gak pernah baca Lovely Mari Chan deh.
Walau apa kata mereka, kau tetap angsa hitamku.
Kak Nora mengirimkan sebuah artikel dari salah satu penari balet New York yang pernah diajak konsultasi oleh Darren Aronofsky sebelum Black Swan lahir.
Dia tersinggung karena Black Swan membuat balerina terlihat seperti orang gila yang harus lesbian dan nge-drugs dulu baru bisa nari.
“Ah ini kan Oscar campaign week. Paling dibayar ama Weinstein Brothers biar King’s Speech menang.”
“I think she just defended her profession,” kata Kak Nora.
And I am defending my black swan.
Apapun kata mereka, I love you my Black Swan.
Hampir Sampai
36 / 200
Masih 90 something kilo sebelum sampai Bandung.
“Nanti di kilometer 70an berenti aja dulu. Tutup mata 10 menit. Nyetir malem, mata lebih capai,” saran papi.
Ah nyetir Bandung Jakarta doang. Udah biasa. Gak usah berhenti.
50/ 400
Mata mulai tak bisa memandang jauh. Lelah disinari lampu-lampu mobil berlawanan arah yang tidak mampu diredam pembatas jalan yang kurang tinggi. Lelah berusaha mencari garis kuning yang tertutup lumpur bekas hujan. Lelah menghindari batas tikungan yang tak disinari lampu jalan.
50/ 600
50/ 800
51
51/ 200
Anjing! Jalan tol ini gak bisa bikin pembatas tinggi tapi bisa bikin signage kilometer tiap 200 meter.
Gue mulai membayangkan seorang kontraktor berdasi dan anaknya yang pake Honda Jazz baru.
Fokus! Fokus! Masih 90 kilo.
Lampu mobil belakang mengedip-ngedip agar gue minggir ke lajur kiri. Terbayang bapak teman yang tersambar mobil kencang yang menyalip dari kiri, gue bertahan tetap di kanan.
Mobil belakang masih kedip-kedip, kesal dengan gue yang berjalan 90 km/ jam.
What the...? Kalau mau lebih cepat, salip aja dari kiri. Gue udah 10 km di atas speed limit. Lo kira ini autobahn?
Max 80. Min 60. Signage-signange cuma hiasan.
Jazz baru menyalip. Mungkin anak si kontraktor.
Km 72, gue berhenti.
Tutup mata 10 menit. Nyetir malem, mata lebih capai.
Ayo. 50 kilo lagi.
Mendekati Bandung, jalanan mulai menyepi. Bandung tidak menarik lagi di Minggu malam jam 11.
Mata mulai tersnyum.
Lalu hujan pun turun.
Sebuah tanda seru kuning mengintai di depan. Gue melambat.
Mobil di belakang mengklakson kencang. Gue panik. Pindah ke kiri tanpa lihat belakang.
Papi Mami masih tertidur yenyak.
Gue tetap di kiri. Puas dengan angka 70, the lowest point in my life.
As long as I get to keep the life.
Ayo sedikit lagi.
Masih 90 something kilo sebelum sampai Bandung.
“Nanti di kilometer 70an berenti aja dulu. Tutup mata 10 menit. Nyetir malem, mata lebih capai,” saran papi.
Ah nyetir Bandung Jakarta doang. Udah biasa. Gak usah berhenti.
50/ 400
Mata mulai tak bisa memandang jauh. Lelah disinari lampu-lampu mobil berlawanan arah yang tidak mampu diredam pembatas jalan yang kurang tinggi. Lelah berusaha mencari garis kuning yang tertutup lumpur bekas hujan. Lelah menghindari batas tikungan yang tak disinari lampu jalan.
50/ 600
50/ 800
51
51/ 200
Anjing! Jalan tol ini gak bisa bikin pembatas tinggi tapi bisa bikin signage kilometer tiap 200 meter.
Gue mulai membayangkan seorang kontraktor berdasi dan anaknya yang pake Honda Jazz baru.
Fokus! Fokus! Masih 90 kilo.
Lampu mobil belakang mengedip-ngedip agar gue minggir ke lajur kiri. Terbayang bapak teman yang tersambar mobil kencang yang menyalip dari kiri, gue bertahan tetap di kanan.
Mobil belakang masih kedip-kedip, kesal dengan gue yang berjalan 90 km/ jam.
What the...? Kalau mau lebih cepat, salip aja dari kiri. Gue udah 10 km di atas speed limit. Lo kira ini autobahn?
Max 80. Min 60. Signage-signange cuma hiasan.
Jazz baru menyalip. Mungkin anak si kontraktor.
Km 72, gue berhenti.
Tutup mata 10 menit. Nyetir malem, mata lebih capai.
Ayo. 50 kilo lagi.
Mendekati Bandung, jalanan mulai menyepi. Bandung tidak menarik lagi di Minggu malam jam 11.
Mata mulai tersnyum.
Lalu hujan pun turun.
Sebuah tanda seru kuning mengintai di depan. Gue melambat.
Mobil di belakang mengklakson kencang. Gue panik. Pindah ke kiri tanpa lihat belakang.
Papi Mami masih tertidur yenyak.
Gue tetap di kiri. Puas dengan angka 70, the lowest point in my life.
As long as I get to keep the life.
Ayo sedikit lagi.
my life without god
Tiga bulan tanpa baca firman, hidup mulai dipenuhi ketakutan.
Takut gak dape duit. Takut sendirian. Takut gagal. Takut kelaparan.
Marx benar. Tuhan itu candu. Tanpa dia kita sakaw.
Sulit untuk terus berdoa dalam hening di saat si DS berteriak Tuhan saat ngebacok orang, saat Ryu san berenang bersama mobil, pesawat, dan atap pabrik, dan Tuhan diam saja.
Tidak ada tiang api. Tidak ada tiang awan.
Atau mungkin kita yang kurang mendengar? Terlalu hiruk pikuk.
Bagaimana mau mendengar ketika bangun pagi langsung mengeluh tentang langit yang masih biru melulu.
Mandi pagi tak lagi bernyanyi.
Nyetir bikin frustasi karena harus berbagi jalan dengan sepeda dan gerobak cuankie.
Dulu pernah semua terasa begitu istimewa. Bangun pagi, terkagum-kagum dengan birunya langit. Mandi bernyanyi agar harmoni dengan gemericik air. Gerobak cuankie menjadi hiburan di pagi hari.
Waktu itu gue berpikir ini hari terakhir gue di dunia.
After living everyday like it was my last day, I found a big secret.
It is not my last day.
Gue mulai khawatir dengan hari esok. Makan apa? Pakai apa? Bisa gak ya gue bikin film?
Wlll I be my mom?
I am not special. I am just another desperate pathetic loser trying to be special.
And God is just some fantasy created by this desperate pathetic mind to make life more bearable.
Tapi setelah bikin cin(T)a, it’s harder to believe that all these miracles were the creation of this desperate pathetic mind.
Sulit untuk tidak percaya Tuhan setelah bikin cin(T)a.
“What? You make love and then you believe in God?” tanya seorang teman yang sejak SMP tak lagi berbahasa Indonesia.
Make love - bikin cin(T)a
Abis bikin cin(T)a, percaya Tuhan ada.
Abis make love?
Takut gak dape duit. Takut sendirian. Takut gagal. Takut kelaparan.
Marx benar. Tuhan itu candu. Tanpa dia kita sakaw.
Sulit untuk terus berdoa dalam hening di saat si DS berteriak Tuhan saat ngebacok orang, saat Ryu san berenang bersama mobil, pesawat, dan atap pabrik, dan Tuhan diam saja.
Tidak ada tiang api. Tidak ada tiang awan.
Atau mungkin kita yang kurang mendengar? Terlalu hiruk pikuk.
Bagaimana mau mendengar ketika bangun pagi langsung mengeluh tentang langit yang masih biru melulu.
Mandi pagi tak lagi bernyanyi.
Nyetir bikin frustasi karena harus berbagi jalan dengan sepeda dan gerobak cuankie.
Dulu pernah semua terasa begitu istimewa. Bangun pagi, terkagum-kagum dengan birunya langit. Mandi bernyanyi agar harmoni dengan gemericik air. Gerobak cuankie menjadi hiburan di pagi hari.
Waktu itu gue berpikir ini hari terakhir gue di dunia.
After living everyday like it was my last day, I found a big secret.
It is not my last day.
Gue mulai khawatir dengan hari esok. Makan apa? Pakai apa? Bisa gak ya gue bikin film?
Wlll I be my mom?
I am not special. I am just another desperate pathetic loser trying to be special.
And God is just some fantasy created by this desperate pathetic mind to make life more bearable.
Tapi setelah bikin cin(T)a, it’s harder to believe that all these miracles were the creation of this desperate pathetic mind.
Sulit untuk tidak percaya Tuhan setelah bikin cin(T)a.
“What? You make love and then you believe in God?” tanya seorang teman yang sejak SMP tak lagi berbahasa Indonesia.
Make love - bikin cin(T)a
Abis bikin cin(T)a, percaya Tuhan ada.
Abis make love?
on Marketing
Marketing is ....
I don't know. But if you understand ibu-ibu, you understand marketing.
Kenapa mereka rela ngantri buat ngabisin duit on a totally overpriced bag yang bisa lo dapet KW 3 di Mangga Dua tanpa ngantri?
Kenapa mereka rela reservasi restoran 1 tahun sebelum?
Kenapa yang punya Louis Vuitton ternyata lebih kaya dari para pemilik tambang mana pun di dunia?
We need to feel special.
Kalau si Ibu itu bisa dapet platinum, kenapa gue gold?
Ih dia aja diamond. Gue harus batu bara.
Those who are smart enough to see this can sell any crap they have.
I don't know. But if you understand ibu-ibu, you understand marketing.
Kenapa mereka rela ngantri buat ngabisin duit on a totally overpriced bag yang bisa lo dapet KW 3 di Mangga Dua tanpa ngantri?
Kenapa mereka rela reservasi restoran 1 tahun sebelum?
Kenapa yang punya Louis Vuitton ternyata lebih kaya dari para pemilik tambang mana pun di dunia?
We need to feel special.
Kalau si Ibu itu bisa dapet platinum, kenapa gue gold?
Ih dia aja diamond. Gue harus batu bara.
Those who are smart enough to see this can sell any crap they have.
on Anthropology
Dia mencoba memetakan kami, para filmmaker wannabe yang hendak memasak film-film A di sebuah website bernama cookafilm.com.
Semua sutradara. Semua bermimpi membuat film tanpa kabut-kabut di atas sana. Tapi semua beda-beda.
Kalau Ariani, stabil.
Ucu dan Lucky, asal fun.
Sammaria, serius.
Gue? Serius?
I don’t wanna be serious. I wanna be the fun one.
Ah mungkin dia belum terlalu kenal gue. Kan baru jalan bareng gue 2 hari. Dia kan cuma calon Doktor antropologi dari Harvard. Tahu apa tentang manusia?
Beasiswa pula.
Damn.
Am I really a serious person?
Di saaat orang-orang disko, gue memilih ngafe sambil ngobrol tentang politik Eropa Timur.
Di saat semua orang mabok, gue tidur cantik 8 jam. I find getting drunk pointless.
Damn.
Maybe I am serious.
What is so bad about it?
I wanna be fun. I wanna be the girl whom everyone loves to be around.
Ada momen-momen ketika gue menyenangkan dan dikelilingi massa. I love that me.
But I am not that me lately.
Padahal gue mau bikin film komedi.
Comedy is a serious business.
Chaplin is a serious man.
Maybe this is a price you have to pay to be funny.
Semua sutradara. Semua bermimpi membuat film tanpa kabut-kabut di atas sana. Tapi semua beda-beda.
Kalau Ariani, stabil.
Ucu dan Lucky, asal fun.
Sammaria, serius.
Gue? Serius?
I don’t wanna be serious. I wanna be the fun one.
Ah mungkin dia belum terlalu kenal gue. Kan baru jalan bareng gue 2 hari. Dia kan cuma calon Doktor antropologi dari Harvard. Tahu apa tentang manusia?
Beasiswa pula.
Damn.
Am I really a serious person?
Di saaat orang-orang disko, gue memilih ngafe sambil ngobrol tentang politik Eropa Timur.
Di saat semua orang mabok, gue tidur cantik 8 jam. I find getting drunk pointless.
Damn.
Maybe I am serious.
What is so bad about it?
I wanna be fun. I wanna be the girl whom everyone loves to be around.
Ada momen-momen ketika gue menyenangkan dan dikelilingi massa. I love that me.
But I am not that me lately.
Padahal gue mau bikin film komedi.
Comedy is a serious business.
Chaplin is a serious man.
Maybe this is a price you have to pay to be funny.
You are where you are
I am trying to understand myself better without moving my ass from my bed.
So let’s analyze my room. You are where you live.
Gorden ungu belang-belang abu yang sesuai dengan semangat zaman. Sepuluh tahun lalu.
TV 20 inci gendut idaman semua remaja. Sepuluh tahun lalu.
Bintang bintang di langit-langit yang kelap kelip walau tanpa cahaya. Sepuluh tahun lalu.
Huruf A hasil kreatifitas bubur kertas. Sepuluh tahun lalu.
Jam Mc D beli di batam yang terlihat lucu walau tak berbaterai sejak sepuluh tahun lalu.
Gantungan kunci power puff girls kembar 3 menggantung di lemari. Sejak...
You know.
Kenapa kamar gue gak pernah berubah?
Mungkin benar aku si Taurus, anak tanah. Gemar membuat kandang. Gemar kemapanan dan gak ingin berubah.
Apa yang harus dirubah? If it’s not broken, don’t fix it.
Mungkin gue simply babi kecil daam comberan, pemalas yang merasa comberan cukup bersih untuk ditinggali.
Mungkin gue si miskin tanpa gaji tetap, boro-boro mikirin redekorasi kamar.
Mungkin gue gak punya visi bagaimana seharusnya diri ini. Biarkan saja seperti apa adanya.
Mungkin gue mahkluk setia. Gak pernah bosan dengan benda-benda kesayangan.
Mungkin gue masih tinggal di masa lalu.
Mungkin gue kabanyakan mikirin kaya ginian, makanya gak sempat beres-beres kamar.
So let’s analyze my room. You are where you live.
Gorden ungu belang-belang abu yang sesuai dengan semangat zaman. Sepuluh tahun lalu.
TV 20 inci gendut idaman semua remaja. Sepuluh tahun lalu.
Bintang bintang di langit-langit yang kelap kelip walau tanpa cahaya. Sepuluh tahun lalu.
Huruf A hasil kreatifitas bubur kertas. Sepuluh tahun lalu.
Jam Mc D beli di batam yang terlihat lucu walau tak berbaterai sejak sepuluh tahun lalu.
Gantungan kunci power puff girls kembar 3 menggantung di lemari. Sejak...
You know.
Kenapa kamar gue gak pernah berubah?
Mungkin benar aku si Taurus, anak tanah. Gemar membuat kandang. Gemar kemapanan dan gak ingin berubah.
Apa yang harus dirubah? If it’s not broken, don’t fix it.
Mungkin gue simply babi kecil daam comberan, pemalas yang merasa comberan cukup bersih untuk ditinggali.
Mungkin gue si miskin tanpa gaji tetap, boro-boro mikirin redekorasi kamar.
Mungkin gue gak punya visi bagaimana seharusnya diri ini. Biarkan saja seperti apa adanya.
Mungkin gue mahkluk setia. Gak pernah bosan dengan benda-benda kesayangan.
Mungkin gue masih tinggal di masa lalu.
Mungkin gue kabanyakan mikirin kaya ginian, makanya gak sempat beres-beres kamar.
Langganan:
Postingan (Atom)