"Kenapa si Cina nggak menjelaskan ke Annisa kalau Yesus itu Tuhan, bukan manusia?" tanya salah satu penanya yang gak terima Tuhannya tidak dibela Cina dalam suatu scene cin(T)a.
"Maaf ya ama teman-teman yang Islam," sambungnya lagi.
Gue malu ke teman-teman Islam gua: Saira dan Sali. Kok pertanyaan seperti ini muncul di diskusi gereja?
Tapi gue teringat gue 3 tahun lalu. Gue yang mengutuki dunia. Gue yang marah. Gue yang tersinggung Tuhan gue dihina, seakan Tuhan memang bisa dihina. Gua yang ignorant, malas membaca alkitab sendiri, tapi penuh emosi. Mau tak mau gua memaklumi dia menyadari gua juga sama aja.
Pertanyaan seperti ini tidak boleh gue jawab dengan jawaban. Gue menjawab dengan pertanyaan.
"Apakah semua orang Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan?"
Sebelum dia sempat menjawab dan membuat another scene putar-putaran seperti setiap kali gua ngomongin Tuhan, Tuhan menjawab.
Mati lampu.
Huahahahhahahhahaleluya.
Gue tertawa haleluya.
Tampaknya Tuhan juga setuju, gue tidak usah menjawab pertanyaan ini.
Di sela-sela kegelapan, si anak dan teman-temannya menghampiri gua, masih terus berusaha membela Tuhan.
"Kita perlu ngasih tahu ke orang Islam kalau Yesus itu Tuhan. Selalu itu yang sering dipakai untuk menyerang kita."
Gua cuma tersenyum dan berdoa.
Tak ada kata-kata yang bisa melembutkan hatinya. Apa pun yang gua jawab dia gak akan mengerti kalau Tuhan tidak perlu dibela.
Jadi gue berlalu tanpa memberi dia jawaban yang memuaskan. Dia harus disakiti, menyakiti, dan mengerti sendiri.
Gua turun, masuk mobil, dan menghidupkan mesin.
Dan lampu gedung menyala kembali.
Huahahhahahahha.
"Tuh kan. Gue bilang juga apa. Paling bener tuh Tuhan versi gua," kata Sali tertawa-tawa.
Bagi Sali, Tuhan bukan sutradara dan bukan arsitek. God is a comedian.
Comedy is all about timing. It's an art of kapan berkata, kapan diam, dan kapan menampar.
The timing.
The precision.
That's what makes a slap on Srimulat a comedy, not a tragedy.
As an epilogue to our todays comedy, panitia memberi kami amplop berisi 200 ribu rupiah.
90 ribu untuk tiket sunny dan jihan kembali ke jakarta.
"Sisanya cuma 110 ribu. Emang bisa buat makan-makan?"
Gampang.
Plan busuk 1: diam-diam tinggalin Jihan. Biar Jihan yang nambahin sisanya, berhubung dia paling kaya sekarang.
Plan busuk 2: Sali nggak usah makan.
Malam itu dihabiskan dengan makan malam penuh tawa bersama teman-teman Islamku yang tidak pernah menganggap Yesus Tuhan, tapi tetap disayang Tuhan.
Hampir tengah malam. Bon diberikan.
109 ribu. Sisa seribu untuk parkir.
Ternyata Sali yang benar.
God is a comedian.
Sabtu, 31 Juli 2010
Gue nulis apa ya hari ini?
"Tentang FFI aja," usul Cina Coon.
Seharusnya hari ini para pemenang citra diundang makan malam sambil membicarakan pembagian insentif. Dua jam menjelang acara, panitia membatalkan dengan alasan banyak yang gak bisa datang. Padahal gua udah terlanjur menunda keberangkatan ke Bandung demi memenuhi kuota kehadiran. Batal dapat insentif, gue malah dianugerahi hadiah menyetir Jakarta-Bandung di Jumat malam.
4 jam!
Lo kira gue gak ada kerjaan lain ?
Emang gak ada sih. But I don't wanna waste my time writing about some pejabat wasting my time.
Jadi gue nulis apa? Apa yang mengganggu gua saat ini?
My L world?
What L world? Nothing to tell about anyway. I never kissed a girl.
My L world started with a kiss on a cheek yang ternyata bukan sekedar cipika cipiki di belahan Amerika Utara. A 17 years old me was a homophobic, tight ass anak udik, delivered straight from a third world country, gak pernah tinggal di luar negeri, dan menyangka homophobic is the only right disposition .
The 21 year old me was a politically incorrect homophobic in the middle of free thinker North European where lesbian is legal.
"You'll never know you're gay or not before you kiss a girl," tantang Sophie yang pernah ama cewe dua kali, yakin banget dirinya gak lesbi, dan yakin banget all homophobics are homo in denial.
The 23 year old me was the best me I ever had. happy, positive, and ready to conquer the world. A good job, good money, good heart, and never insecure to tell a girl:
"Hey! Gue kayanya jatuh cinta ama lo. Tapi gue gak mau jadi cewe lo. Kita temenan aja ya... Tapi mesra doooooong."
Disambung dengan a life long relationship tanpa sentuhan fisik. Jadi tetep... I have no qualified lesbian episode to tell.
Apa dong yang cukup berharga untuk gue tulis hari ini?
Gimana kalau tentang seorang saira yang gak tau bedanya nanas, sirih, dan sereh. Gua disuruh jemput dia di gerbang tol kebun sirih yang hanya ada di imajinasinya. Sampai buta gua mutar-mutar ahmad yani, tidak ditemukan gerbang tol siluman ciptaan saira jihan.
Ternyata gerbang tol jatinegara.
"Maaf ya. Abisnya gua gak pernah nyetir," katanya tanpa perasaan bersalah, menambah kedengkian gua pada cewe-cewe cantik Jakarta yang punya list cadangan supir buat nganterin ke mana-mana.
Untungnya gue ditraktir nonton, jadi niat nyela-nyela dia di blog gua dibatalkan. Plus ditraktir Cina Coon makan gyu-something-don sambil melihat-lihat 50 most eligible bachelor versi majalah cleo.
"Ini Batak ganteng yang gue bilang ama lo," kata seekor belasteran kelinci yang tiba-tiba sudah terbang dari Tomang ke senayan city mendengar kata traktir.
Gue melirik foto saingan Cina Coon nomor something belas.
Ternyata gua gak suka pria-pria pamer dada. Walaupun doi bermarga.
Dilanjutkan dengan sesi obrolan gak penting menanti undangan FFI jam 7 (tentang saira yang ikut take a celebrity out bersama artis-artis terbang-terbang Indosiar, tentang Koh Sunny yang trauma dibohongi perempuan, dan tentang agnes monica yang nyebelin atau nggak), diselingi nonton angelina jolie, dan dilanjutkan dengan another sesi obrolan gak penting menanti 3 in one setelah tahu FFI dibatalkan.
Blasteran kelinci bercerita tentang teman chattingnya yang memenuhi semua kriteria calon suami: Cina, kaya, sekolah di Ostrali, cocok ama keluarganya, gua bisa nerima, dan bla bla bla yang bikin gua kadang lupa dia lagi ngomongin pacar, bukan piala.
Zzzzzzzzzzzz...
"Besok gue bikin blog khusus tentang lo deh. Biar lo ngeh cerita lo basi banget," kata gue berusaha menyadarkan kelinci.
"Dulu gua pernah suka ama orang, suka banget, bahkan gue yang nyatain. Trus ditolak, padahal aneh gitu. Tiap hari dia masih nganter jemput gue basket, baek banget ke gua, bla bla bla bla..."
Semua curhat pelan-pelan fade out.
Hening.
Track in...
Close Up ke hidung kelinci. Speed diturunkan.
Gak gerak.
Damn.
Dia gak boong. Dia emang suka.
Konsentrasi.
Gue mendengar detak jantungnya berhenti.
Matanya menatap lantai.
Hening.
Ludah ditelan, melewati kerongkongan.
Ternyata dia juga another mantan penasaran.
Ganti cerita ah. Yang ini terlalu adolesence untuk dituliskan, terlalu sakit untuk dilupakan.
Jadi gue cerita apa hari ini? Tampaknya tidak ada yang istimewa dalam hidupku hari ini. Selain jalan2 bersama 1 peserta take her out indonesia yang lampunya dimatiin ama christian bautista, 1 most eligible bachelor versi majalah cleo, dan 1 belasteran kelinci yang mengaku pernah masuk finalis model kawanku, hai, mode, anita atau something like them.
Tanpa gua sadari gua sudah menulis 2 halaman.
Terima kasih, Tuhan.
Seharusnya hari ini para pemenang citra diundang makan malam sambil membicarakan pembagian insentif. Dua jam menjelang acara, panitia membatalkan dengan alasan banyak yang gak bisa datang. Padahal gua udah terlanjur menunda keberangkatan ke Bandung demi memenuhi kuota kehadiran. Batal dapat insentif, gue malah dianugerahi hadiah menyetir Jakarta-Bandung di Jumat malam.
4 jam!
Lo kira gue gak ada kerjaan lain ?
Emang gak ada sih. But I don't wanna waste my time writing about some pejabat wasting my time.
Jadi gue nulis apa? Apa yang mengganggu gua saat ini?
My L world?
What L world? Nothing to tell about anyway. I never kissed a girl.
My L world started with a kiss on a cheek yang ternyata bukan sekedar cipika cipiki di belahan Amerika Utara. A 17 years old me was a homophobic, tight ass anak udik, delivered straight from a third world country, gak pernah tinggal di luar negeri, dan menyangka homophobic is the only right disposition .
The 21 year old me was a politically incorrect homophobic in the middle of free thinker North European where lesbian is legal.
"You'll never know you're gay or not before you kiss a girl," tantang Sophie yang pernah ama cewe dua kali, yakin banget dirinya gak lesbi, dan yakin banget all homophobics are homo in denial.
The 23 year old me was the best me I ever had. happy, positive, and ready to conquer the world. A good job, good money, good heart, and never insecure to tell a girl:
"Hey! Gue kayanya jatuh cinta ama lo. Tapi gue gak mau jadi cewe lo. Kita temenan aja ya... Tapi mesra doooooong."
Disambung dengan a life long relationship tanpa sentuhan fisik. Jadi tetep... I have no qualified lesbian episode to tell.
Apa dong yang cukup berharga untuk gue tulis hari ini?
Gimana kalau tentang seorang saira yang gak tau bedanya nanas, sirih, dan sereh. Gua disuruh jemput dia di gerbang tol kebun sirih yang hanya ada di imajinasinya. Sampai buta gua mutar-mutar ahmad yani, tidak ditemukan gerbang tol siluman ciptaan saira jihan.
Ternyata gerbang tol jatinegara.
"Maaf ya. Abisnya gua gak pernah nyetir," katanya tanpa perasaan bersalah, menambah kedengkian gua pada cewe-cewe cantik Jakarta yang punya list cadangan supir buat nganterin ke mana-mana.
Untungnya gue ditraktir nonton, jadi niat nyela-nyela dia di blog gua dibatalkan. Plus ditraktir Cina Coon makan gyu-something-don sambil melihat-lihat 50 most eligible bachelor versi majalah cleo.
"Ini Batak ganteng yang gue bilang ama lo," kata seekor belasteran kelinci yang tiba-tiba sudah terbang dari Tomang ke senayan city mendengar kata traktir.
Gue melirik foto saingan Cina Coon nomor something belas.
Ternyata gua gak suka pria-pria pamer dada. Walaupun doi bermarga.
Dilanjutkan dengan sesi obrolan gak penting menanti undangan FFI jam 7 (tentang saira yang ikut take a celebrity out bersama artis-artis terbang-terbang Indosiar, tentang Koh Sunny yang trauma dibohongi perempuan, dan tentang agnes monica yang nyebelin atau nggak), diselingi nonton angelina jolie, dan dilanjutkan dengan another sesi obrolan gak penting menanti 3 in one setelah tahu FFI dibatalkan.
Blasteran kelinci bercerita tentang teman chattingnya yang memenuhi semua kriteria calon suami: Cina, kaya, sekolah di Ostrali, cocok ama keluarganya, gua bisa nerima, dan bla bla bla yang bikin gua kadang lupa dia lagi ngomongin pacar, bukan piala.
Zzzzzzzzzzzz...
"Besok gue bikin blog khusus tentang lo deh. Biar lo ngeh cerita lo basi banget," kata gue berusaha menyadarkan kelinci.
"Dulu gua pernah suka ama orang, suka banget, bahkan gue yang nyatain. Trus ditolak, padahal aneh gitu. Tiap hari dia masih nganter jemput gue basket, baek banget ke gua, bla bla bla bla..."
Semua curhat pelan-pelan fade out.
Hening.
Track in...
Close Up ke hidung kelinci. Speed diturunkan.
Gak gerak.
Damn.
Dia gak boong. Dia emang suka.
Konsentrasi.
Gue mendengar detak jantungnya berhenti.
Matanya menatap lantai.
Hening.
Ludah ditelan, melewati kerongkongan.
Ternyata dia juga another mantan penasaran.
Ganti cerita ah. Yang ini terlalu adolesence untuk dituliskan, terlalu sakit untuk dilupakan.
Jadi gue cerita apa hari ini? Tampaknya tidak ada yang istimewa dalam hidupku hari ini. Selain jalan2 bersama 1 peserta take her out indonesia yang lampunya dimatiin ama christian bautista, 1 most eligible bachelor versi majalah cleo, dan 1 belasteran kelinci yang mengaku pernah masuk finalis model kawanku, hai, mode, anita atau something like them.
Tanpa gua sadari gua sudah menulis 2 halaman.
Terima kasih, Tuhan.
Kamis, 29 Juli 2010
Kota (?)
Kiri: Muara. Kanan: Bandara
Kiri. Kok malah keluar tol?
Anjing.
"Bang, ke tol merak ke mana?"
"Terus aja. Mentok belok kanan."
Terus.. terus... mana belok kanan???
Signage: Tol merak kiri.
Anjing! Ternyata kiri.
Masuk. Bayar 4000.
4 km kemudian: bayar 2000.
Bayar lagi. 7000.
Kiri: Tangerang. Kanan : Serpong.
Kanan=D
Buntu!#?! Kanan belum selesai.
Terpaksa kiri.
Serpong atau sumarecon?
Serpong.
Ternyata Alam Sutera. Salah jalan.
Terus... BSD Junction.
Putar arah. BSD Junction lagi.
Dua jam kemudian: masih BSD junction.
Anjingggggggggggggggggggg!
Telat datang 1 jam. Mungkin bukan nasib gue ngajar di sana.
Ternyata ditunggu. Presentasi lancar. Diterima.
"Dengan kualifikasi kamu, paling Rp 105.000 per sks."
Terserahlah. Asal uang transportasi 200 ribu sekali datang.
Lancar.
Tapi jalanan nggak.
Tol lagi.
Jakarta atau merak? Jakarta.
4 km kemudian : 4000.
"Mau ke Bunderan HI? Masuk tol Tomang aja mbak."
Kelewatan. Macet. Iri liat di tol kota lancar.
Semanggi belok kiri.
Ini gak ya kirinya? Kok gak ada signage-nya lagi?
Kelewatan.
Anjing.
Turun semanggi, naik lagi
Turun semanggi, naik lagi.
Turun semanggi... kembali menuju bundaran HI=D
Satu jam kemudian, baru bunderan HI.
Anjing!
Ketemu Batak ganteng bermata kelinci. Dia tanem bulu mata ya?
Balik ke Rawamangun berbahagia.
Hati-hati muter Bunderan. Polisi mengawasi, siap menangkap mangsa salah jalur.
Yeyyyy... lewat perangkap!
Masuk jalan diponegoro, eh apa hasanudin, eh apa ya? Pokoknya arah cikini. Terus aja.
Kebawa ke kiri.
Jalan apa ini? Kok sepi?
Anjing!
Untung ketemu Taman Ismail Marzuki. Tinggal lurus terus, menanti mentok biar belok kanan. Sampai deh salemba raya tercinta.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Sejam kemudian: masih di cikini.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Nyalakan radio, biar menikmati.
"...di istora. 36 abang none yang sudah terpilih dari 6 wilayah akan berlomba. siapakah yang pantas menjadi duta pariwisata jakarta..."
anjing! Siapa yang tega nyuruh wisata ke Jakarta? Ganti!
"...perda nomor 1 tahun 2001. Siapa yang membuang sampah di tempat ini akan dikenakan kurungan atau denda 5 juta."
Ganti!
"...Untuk menutupi biaya jaminan penggantian mobil hilang, parkir jakarta akan naik. Menurut gubernur, selain meningkatkan apbd, kebijakan ini akan mengurangi jumlah kendaraan bermotor terutama di daerah padat..."
"...Joki 3 in 1 tewas tertabrak busway. Tubuhya hancur beranta..."
Radio dimatikan.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Lampu berganti hijau. Tuh kan. There is enough for all of us=D
Mobil di depan tak juga maju. Terhalang kendaraan yang melintang dari arah kanan.
Anj.................
Hhh.
Tak lagi mampu berkata-kata.
Jakarta... jakarta.... masih berani mengaku kota?
Uang transportasi 200 ribu tidak akan cukup merehabilitasi jiwa yang tercemar lalu lintas Jakarta.
Kiri. Kok malah keluar tol?
Anjing.
"Bang, ke tol merak ke mana?"
"Terus aja. Mentok belok kanan."
Terus.. terus... mana belok kanan???
Signage: Tol merak kiri.
Anjing! Ternyata kiri.
Masuk. Bayar 4000.
4 km kemudian: bayar 2000.
Bayar lagi. 7000.
Kiri: Tangerang. Kanan : Serpong.
Kanan=D
Buntu!#?! Kanan belum selesai.
Terpaksa kiri.
Serpong atau sumarecon?
Serpong.
Ternyata Alam Sutera. Salah jalan.
Terus... BSD Junction.
Putar arah. BSD Junction lagi.
Dua jam kemudian: masih BSD junction.
Anjingggggggggggggggggggg!
Telat datang 1 jam. Mungkin bukan nasib gue ngajar di sana.
Ternyata ditunggu. Presentasi lancar. Diterima.
"Dengan kualifikasi kamu, paling Rp 105.000 per sks."
Terserahlah. Asal uang transportasi 200 ribu sekali datang.
Lancar.
Tapi jalanan nggak.
Tol lagi.
Jakarta atau merak? Jakarta.
4 km kemudian : 4000.
"Mau ke Bunderan HI? Masuk tol Tomang aja mbak."
Kelewatan. Macet. Iri liat di tol kota lancar.
Semanggi belok kiri.
Ini gak ya kirinya? Kok gak ada signage-nya lagi?
Kelewatan.
Anjing.
Turun semanggi, naik lagi
Turun semanggi, naik lagi.
Turun semanggi... kembali menuju bundaran HI=D
Satu jam kemudian, baru bunderan HI.
Anjing!
Ketemu Batak ganteng bermata kelinci. Dia tanem bulu mata ya?
Balik ke Rawamangun berbahagia.
Hati-hati muter Bunderan. Polisi mengawasi, siap menangkap mangsa salah jalur.
Yeyyyy... lewat perangkap!
Masuk jalan diponegoro, eh apa hasanudin, eh apa ya? Pokoknya arah cikini. Terus aja.
Kebawa ke kiri.
Jalan apa ini? Kok sepi?
Anjing!
Untung ketemu Taman Ismail Marzuki. Tinggal lurus terus, menanti mentok biar belok kanan. Sampai deh salemba raya tercinta.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Sejam kemudian: masih di cikini.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Nyalakan radio, biar menikmati.
"...di istora. 36 abang none yang sudah terpilih dari 6 wilayah akan berlomba. siapakah yang pantas menjadi duta pariwisata jakarta..."
anjing! Siapa yang tega nyuruh wisata ke Jakarta? Ganti!
"...perda nomor 1 tahun 2001. Siapa yang membuang sampah di tempat ini akan dikenakan kurungan atau denda 5 juta."
Ganti!
"...Untuk menutupi biaya jaminan penggantian mobil hilang, parkir jakarta akan naik. Menurut gubernur, selain meningkatkan apbd, kebijakan ini akan mengurangi jumlah kendaraan bermotor terutama di daerah padat..."
"...Joki 3 in 1 tewas tertabrak busway. Tubuhya hancur beranta..."
Radio dimatikan.
Sabar. Sabar. There is enough for all of us.
Lampu berganti hijau. Tuh kan. There is enough for all of us=D
Mobil di depan tak juga maju. Terhalang kendaraan yang melintang dari arah kanan.
Anj.................
Hhh.
Tak lagi mampu berkata-kata.
Jakarta... jakarta.... masih berani mengaku kota?
Uang transportasi 200 ribu tidak akan cukup merehabilitasi jiwa yang tercemar lalu lintas Jakarta.
Selasa, 27 Juli 2010
History
"I would love to be one of the 10001. It's history!" katanya setelah gue selesai presentasi.
Lumayan. Kalaupun nanti perusahaannya gak mau jadi partner, setidaknya director-nya terrayu jadi 10001 EP.
9969 to go.
"We really don't mind if you later decide to go with the other company to screen your movie," kata salah satu programmer.
I know u won't. But I would.
I want to make a movie, make a profit, and I want to make it in a fun way. I don't want to waste my life copromising with a system that will only get me rich and miserable.
I want to be rich, happy, dan tentunya trendy.
Kompromi? Ntar aja kalau daya tawar gue lebih tinggi. Jadi tetep gak perlu kompromi=D
"We will get back to you as soon as we talk with the marketing and everything."
Please do. kata gue begging-begging dalam hati.
Dengan penuh percaya diri gue bermobil pergi. Inilah akibatnya kalau kerja pake hati. Belum disetujui, gue udah hepi. Teringat beberapa hari yang lalu gue harap-harap SMS, ketakutan.
Ketika asisten si Batak berdada bidang nelepon, gue langsung hepi.
Eh kebalik ding. Gue hepi dulu, baru si asisten berdada bidang nelpon.
I attract what I think.
Lalalalala...
La?
La gimana ntar kalau ditolak ya?
Apa gue begging-begging aja?
Fifty fifty gimana?
Kerja ama yang lain aja deh. Kayanya lebih berduit.
Lagak lo tuh. Siapa gue?
Lenyap all the hepi-hepi joy joy feeling, yang gue bangun berhari-hari baca buku tebal penyemangat hati.
Fear gets me in just a snap.
FEAR: False Emotion Appearing Real.
Emang kenapa kalau film ini gagal? Toh dunia tetap dunia. Edensor akan tetap tayang. The Bagindas akan tetap berkumandang. Lady Gaga akan tetap ngangkang. Cukup banyak seniman untuk dipuja dan dicela di dunia fana ini. Gak butuh film gua.
Damn.
Gue butuh J Co green Tea.
More! I need cappucino avocado, donut glazzy, dan penganan haram lainnya menurut fatwa Marie France.
Nyummmmm... nikmat surgawi.
Eat. Pray. Love.
At least I get the first step right;D Tinggal berdoa agar love come secepatnya to mama.
Now I have enough endorphin to make history.
No. Not history.
I have enough endorphin to make herstory.
And it starts with Miss Green Tea.
Lumayan. Kalaupun nanti perusahaannya gak mau jadi partner, setidaknya director-nya terrayu jadi 10001 EP.
9969 to go.
"We really don't mind if you later decide to go with the other company to screen your movie," kata salah satu programmer.
I know u won't. But I would.
I want to make a movie, make a profit, and I want to make it in a fun way. I don't want to waste my life copromising with a system that will only get me rich and miserable.
I want to be rich, happy, dan tentunya trendy.
Kompromi? Ntar aja kalau daya tawar gue lebih tinggi. Jadi tetep gak perlu kompromi=D
"We will get back to you as soon as we talk with the marketing and everything."
Please do. kata gue begging-begging dalam hati.
Dengan penuh percaya diri gue bermobil pergi. Inilah akibatnya kalau kerja pake hati. Belum disetujui, gue udah hepi. Teringat beberapa hari yang lalu gue harap-harap SMS, ketakutan.
Ketika asisten si Batak berdada bidang nelepon, gue langsung hepi.
Eh kebalik ding. Gue hepi dulu, baru si asisten berdada bidang nelpon.
I attract what I think.
Lalalalala...
La?
La gimana ntar kalau ditolak ya?
Apa gue begging-begging aja?
Fifty fifty gimana?
Kerja ama yang lain aja deh. Kayanya lebih berduit.
Lagak lo tuh. Siapa gue?
Lenyap all the hepi-hepi joy joy feeling, yang gue bangun berhari-hari baca buku tebal penyemangat hati.
Fear gets me in just a snap.
FEAR: False Emotion Appearing Real.
Emang kenapa kalau film ini gagal? Toh dunia tetap dunia. Edensor akan tetap tayang. The Bagindas akan tetap berkumandang. Lady Gaga akan tetap ngangkang. Cukup banyak seniman untuk dipuja dan dicela di dunia fana ini. Gak butuh film gua.
Damn.
Gue butuh J Co green Tea.
More! I need cappucino avocado, donut glazzy, dan penganan haram lainnya menurut fatwa Marie France.
Nyummmmm... nikmat surgawi.
Eat. Pray. Love.
At least I get the first step right;D Tinggal berdoa agar love come secepatnya to mama.
Now I have enough endorphin to make history.
No. Not history.
I have enough endorphin to make herstory.
And it starts with Miss Green Tea.
Senin, 26 Juli 2010
Ronggeng Dayeuh Kolot
Riana menyusui Goder. Si bukan perawan yang belum pernah beranak itu menemukan kenikmatan seksual lain di luar meladeni laki-laki berharta.
Marsusi duduk, menawarkan kalung berlian seperti punya istri Pak Lurah.
Riana tetap menggendong Goder. Mamah Ida menenangkan Pak Marsusi.
Anak muda memang gila. Bapak dewan uangnya banyak. Uang rakyat. Haram ditolak!
"Masa Riana dibandingin ama Srintil? Jauh!" kata si Mbak pemuja Ahmad Tohari, tak rela perempuan kebanggaannya disamakan dengan penyanyi dangdut korban popularitas TV.
Inilah akibatnya kalau membiarkan Sali ngedit sendiri, sementara gue bertamasya ke Dukuh Paruk melalui kata-kata Ahmad Tohari. Berkenalan dengan Srintil kecil yang gemar maen dengan anak gembala dan menyusui bayi.
Mata membaca, kuping dengerin editan Riana. Wajah Srintil berubah menjadi seorang cewe Sunda baru haid 5 bulan yang menyanyi menggoda.
"Ayo bang... Silahkan dibelaaaacch..."
Today I learn sebuah ternyata akibat belum selesai membaca, sudah menyimpulkan.
1. Ternyata gue belum mengerti manusia.
Srintil kecil memang mirip dengan Riana. Tapi Srintil pasca jatuh cinta sangatlah berbeda, lebih madonna. Perempuan-perempuan yang tahu bagaimana caranya menjajah laki-laki.
Riana... bahkan nggak tahu maunya apa.
Dia cuma seorang anak berbakat tanpa visi dan mimpi menjadi besar, dikelilingi berbagai jenis seniman gagal, sehingga mimpinya adalah mimpi sekitarnya.
Masuk TV. Nyanyi. Inul. Pacar kaya. Mobil APV.
Patah hati.
Mau jalan ke mana? Adakah jalan lain selain bernyanyi?
Riana. Ronggeng bertalenta tanpa wibawa. Tinggal menunggu waktu sampai dia jadi istri ke dua.
What?
Jangan.
Gua bukan Mesias. Bukan penyelamat dunia. Bukan penyelamat Riana. Cuma seorang sutradara kecil yang tak boleh banyak campur tangan agar karyanya lebih ...
lebih...
lebih apa?
"Tujuan lo tuh mau ngomong apa sih?" kata produser mengendus kebingungan gua. Footage 55 menit menghibur untuk ditonton, tapi gak jelas ngomong apa.
Biasalah sutradara muda. Banyak kemauan, minim kemampuan.
Gua mau ngomong apa? Gue megap-megap berusaha keluar dari kenyataan 85 kaset kehidupan Riana.
Takut merusak masa depannya.
Takut mereka kecewa.
Monyet. Dokumenter itu shootingnya bahagia, ngeditnya sengsara.
"Lo liburan dulu deh. Ntar minggu depan baru lo ngobrol ama editor," kata produser.
Yey! I am up for that.
Mari kita lanjutkan baca Ronggeng Dukuh Paruk.
Srintil duduk melihat anak Sentika. Ternyata kurus, tidak seperti Tri Murdo. Riana tidak habis pikir ada pemuda yang masih main burung kec... waaaaaaaaaaaaa!
Kok Riana lagi?
Gue kembali mencoba membaca, fokus ke Dukuh Paruk. Lupakan Dayeuh Kolot.
Sentika, Kartareja, Srintil, Madonna...
Hari ini gue belajar sebuah ternyata:
1. Ternyata gue belum mengerti manusia.
Setelah mulai mengerti manusia, gua merinding menyadari ternyata ke dua:
2. I have them all within me.
Marsusi duduk, menawarkan kalung berlian seperti punya istri Pak Lurah.
Riana tetap menggendong Goder. Mamah Ida menenangkan Pak Marsusi.
Anak muda memang gila. Bapak dewan uangnya banyak. Uang rakyat. Haram ditolak!
"Masa Riana dibandingin ama Srintil? Jauh!" kata si Mbak pemuja Ahmad Tohari, tak rela perempuan kebanggaannya disamakan dengan penyanyi dangdut korban popularitas TV.
Inilah akibatnya kalau membiarkan Sali ngedit sendiri, sementara gue bertamasya ke Dukuh Paruk melalui kata-kata Ahmad Tohari. Berkenalan dengan Srintil kecil yang gemar maen dengan anak gembala dan menyusui bayi.
Mata membaca, kuping dengerin editan Riana. Wajah Srintil berubah menjadi seorang cewe Sunda baru haid 5 bulan yang menyanyi menggoda.
"Ayo bang... Silahkan dibelaaaacch..."
Today I learn sebuah ternyata akibat belum selesai membaca, sudah menyimpulkan.
1. Ternyata gue belum mengerti manusia.
Srintil kecil memang mirip dengan Riana. Tapi Srintil pasca jatuh cinta sangatlah berbeda, lebih madonna. Perempuan-perempuan yang tahu bagaimana caranya menjajah laki-laki.
Riana... bahkan nggak tahu maunya apa.
Dia cuma seorang anak berbakat tanpa visi dan mimpi menjadi besar, dikelilingi berbagai jenis seniman gagal, sehingga mimpinya adalah mimpi sekitarnya.
Masuk TV. Nyanyi. Inul. Pacar kaya. Mobil APV.
Patah hati.
Mau jalan ke mana? Adakah jalan lain selain bernyanyi?
Riana. Ronggeng bertalenta tanpa wibawa. Tinggal menunggu waktu sampai dia jadi istri ke dua.
What?
Jangan.
Gua bukan Mesias. Bukan penyelamat dunia. Bukan penyelamat Riana. Cuma seorang sutradara kecil yang tak boleh banyak campur tangan agar karyanya lebih ...
lebih...
lebih apa?
"Tujuan lo tuh mau ngomong apa sih?" kata produser mengendus kebingungan gua. Footage 55 menit menghibur untuk ditonton, tapi gak jelas ngomong apa.
Biasalah sutradara muda. Banyak kemauan, minim kemampuan.
Gua mau ngomong apa? Gue megap-megap berusaha keluar dari kenyataan 85 kaset kehidupan Riana.
Takut merusak masa depannya.
Takut mereka kecewa.
Monyet. Dokumenter itu shootingnya bahagia, ngeditnya sengsara.
"Lo liburan dulu deh. Ntar minggu depan baru lo ngobrol ama editor," kata produser.
Yey! I am up for that.
Mari kita lanjutkan baca Ronggeng Dukuh Paruk.
Srintil duduk melihat anak Sentika. Ternyata kurus, tidak seperti Tri Murdo. Riana tidak habis pikir ada pemuda yang masih main burung kec... waaaaaaaaaaaaa!
Kok Riana lagi?
Gue kembali mencoba membaca, fokus ke Dukuh Paruk. Lupakan Dayeuh Kolot.
Sentika, Kartareja, Srintil, Madonna...
Hari ini gue belajar sebuah ternyata:
1. Ternyata gue belum mengerti manusia.
Setelah mulai mengerti manusia, gua merinding menyadari ternyata ke dua:
2. I have them all within me.
Sabtu, 24 Juli 2010
The Art of 'I Don't Give A Damn'
"Apa tujuan mbak menerbitkan buku ini?"
Pertanyaan klasik launching.
Jawaban si mbak penulis bergema akibat audio Cina. Kayanya gak jauh-jauh dari 'ingin berbagi pengalaman', 'menghantarkan sebuah pesan', bla bla bla.
Nyerah menafsirkan gema.
Kami bikin diskusi sendiri. Dimulai dari si Lumba-lumba berjilbab biru: bagaimana caranya menulis, menambah another 'pengen jadi penulis' in the list of everyone I know.
"Yang penting jujur," jawabku seakan-akan gue tahu gimana caranya mentang-mentang menang satu piala.
Ternyata dia tidak ingin menulis. Dia ingin diterbitkan. Jujur saja masih kurang.
Published or not published. It is the question.
Lo belum penulis kalau belum diterbitkan.
"Terbitin on demand aja. Sapardi aja on demand," kata another teman.
Haruskah tulisan diterbitkan?
Writing is an art of 'I don't give a damn'. It was supposed to be fun. Do you even have time give a damn about this 9W 1H?
"Gue suka banget blog lo. Story telling lo fresh banget," kata another teman.
Now I started to give a damn.
I might be a much better writer than I really am.
Gue mulai merekayasa...
Berusaha menulis cantik...
mereka bakal suka gak ya?
and there goes my damned 'I don't give a damn'.
This is another hopeless suffering of me trying too hard: the worst enemy of writing.
Damn.
So much that i appreciate all your attention, my friend, I just don't give a damn.
Gue ngin menulis cerita seindah seniman-seniman pujaan gua. About all the important stuffs of the world: cinta, harapan, dan hamster tetangga.
It all starts with 'I don't give a damn'.
Menang piala, masuk KLA, diterbitkan... I don't give a damn.
Published or not published, I don't give a damn.
I am a storyteller.
Ayo, lumba-lumba. I am waiting for your 'I don't give a damn'!
Dan tiba-tiba semua penerbit ngantri nerbitin kita.
Salah satu pembaca akan bertanya:
"Apa tujuan mbak menerbitkan buku ini?"
Pertanyaan klasik launching.
Jawaban kita bergema lantang:
"Agar bisa bilang 'I don't give a damn' dengan bangga."
Pertanyaan klasik launching.
Jawaban si mbak penulis bergema akibat audio Cina. Kayanya gak jauh-jauh dari 'ingin berbagi pengalaman', 'menghantarkan sebuah pesan', bla bla bla.
Nyerah menafsirkan gema.
Kami bikin diskusi sendiri. Dimulai dari si Lumba-lumba berjilbab biru: bagaimana caranya menulis, menambah another 'pengen jadi penulis' in the list of everyone I know.
"Yang penting jujur," jawabku seakan-akan gue tahu gimana caranya mentang-mentang menang satu piala.
Ternyata dia tidak ingin menulis. Dia ingin diterbitkan. Jujur saja masih kurang.
Published or not published. It is the question.
Lo belum penulis kalau belum diterbitkan.
"Terbitin on demand aja. Sapardi aja on demand," kata another teman.
Haruskah tulisan diterbitkan?
Writing is an art of 'I don't give a damn'. It was supposed to be fun. Do you even have time give a damn about this 9W 1H?
"Gue suka banget blog lo. Story telling lo fresh banget," kata another teman.
Now I started to give a damn.
I might be a much better writer than I really am.
Gue mulai merekayasa...
Berusaha menulis cantik...
mereka bakal suka gak ya?
and there goes my damned 'I don't give a damn'.
This is another hopeless suffering of me trying too hard: the worst enemy of writing.
Damn.
So much that i appreciate all your attention, my friend, I just don't give a damn.
Gue ngin menulis cerita seindah seniman-seniman pujaan gua. About all the important stuffs of the world: cinta, harapan, dan hamster tetangga.
It all starts with 'I don't give a damn'.
Menang piala, masuk KLA, diterbitkan... I don't give a damn.
Published or not published, I don't give a damn.
I am a storyteller.
Ayo, lumba-lumba. I am waiting for your 'I don't give a damn'!
Dan tiba-tiba semua penerbit ngantri nerbitin kita.
Salah satu pembaca akan bertanya:
"Apa tujuan mbak menerbitkan buku ini?"
Pertanyaan klasik launching.
Jawaban kita bergema lantang:
"Agar bisa bilang 'I don't give a damn' dengan bangga."
Rabu, 21 Juli 2010
Harap-Harap SMS
"Hi. Saya Sammaria, sutradara cin(T)a. Saya sedang bikin film ke-2 dan agak ilfeel dengan kompetitor anda yang belum apa-apa udah minta setoran. Saya ada konsep agar film saya diputar hanya di bioskop anda dan kita tetap kaya raya. Kalau anda ada waktu, minggu depan kita boleh ketemu? Terima kasih sebelumnya."
Itu isi SMS gua kemarin ke salah seorang Batak berdada bidang yang belum gue kenal. Hari ini belum juga dibalas.
Dia udah baca belum ya?
Apa dia lagi di luar negeri?
Mungkin yang megang HP asistennya?
Dan dilanjutkan dengan sesi mengutuki diri.
Gue kurang sopan apa ya?
Kita tetap kaya raya? What kind of sentence was that?
Apa gue tanya boleh nelpon dulu gak ya?
Inilah akibatnya kalau kerja pake hati. Rasanya lebih deg-degan daripada nungguin SMS pacar.
Pengalaman gue bekerja dengan mereka di film pertama sangat menyenangkan karena mereka sangat membantu gua yang bukan siapa-siapa. Bukan salah gua kalau gua jatuh cinta dan berharap bisa mengarungi kebangkitan film Indonesia bersama-sama.
Padahal bisa saja gue pindah ke lain hati, ke bioskop sebelah. Tinggal SMS tanpa perlu deg-degan. Hanya perlu membayar setoran ke manager untuk sekedar sebuah pertemuan.
Lebih baik aku sms dia lagi.
Mungkin gue akan ditolak, tak dibalas, diacuhkan dan segala atau lain yang membuat gue hampir memilih the path of least resistance.
Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan, tolong rayu agar dia mau mendekat.
Amin.
Itu isi SMS gua kemarin ke salah seorang Batak berdada bidang yang belum gue kenal. Hari ini belum juga dibalas.
Dia udah baca belum ya?
Apa dia lagi di luar negeri?
Mungkin yang megang HP asistennya?
Dan dilanjutkan dengan sesi mengutuki diri.
Gue kurang sopan apa ya?
Kita tetap kaya raya? What kind of sentence was that?
Apa gue tanya boleh nelpon dulu gak ya?
Inilah akibatnya kalau kerja pake hati. Rasanya lebih deg-degan daripada nungguin SMS pacar.
Pengalaman gue bekerja dengan mereka di film pertama sangat menyenangkan karena mereka sangat membantu gua yang bukan siapa-siapa. Bukan salah gua kalau gua jatuh cinta dan berharap bisa mengarungi kebangkitan film Indonesia bersama-sama.
Padahal bisa saja gue pindah ke lain hati, ke bioskop sebelah. Tinggal SMS tanpa perlu deg-degan. Hanya perlu membayar setoran ke manager untuk sekedar sebuah pertemuan.
Lebih baik aku sms dia lagi.
Mungkin gue akan ditolak, tak dibalas, diacuhkan dan segala atau lain yang membuat gue hampir memilih the path of least resistance.
Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan, tolong rayu agar dia mau mendekat.
Amin.
Selasa, 20 Juli 2010
27 club
"Lo masih perawan?"
"Menurut lo?"
"Mmmm... masih."
Damn. Sejak kapan jadi perawan di negeri ini jadi begitu memalukan?
"Abis gue gak pernah liat lo jalan ama cowo."
"Bisa aja ama cewe."
"Mmmmmm..." Dia mengamati gue lebih seksama. "Masih."
Berlalu sudah hari-hari di mana gue bisa dengan bangga berkata gue masih perawan. The days when I was forever 21.
Today is the day when being a virgin berarti lo gak laku-laku.
Gue langsung menyekap abang-abang terdekat, and get him to fuck me.
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gua masih berbudaya. Gue duduk manis di sana, mendengarkan dia menganalisa.
"Kayanya lo gak bakalan kawin deh. Abisnya kayanya lo terlalu bahagia sendirian. Independent."
"I don't mind ditemani lho."
"Kayanya cowo susah nemenin lo."
Siapa yang butuh ditemani? Gue cuma butuh ditiduri.
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gue masih berbudaya. Gue menjawab dengan harga diri seorang perawan tongtong.
"Masa sih satu aja gak ada yang kuat? Gue cuma butuh satu kok, gak butuh semua cowo di dunia bisa tolerate gua."
Kata gue menebar konsep utopia, di mana ada seorang lelaki yang cukup kuat ditinggal-tinggal gua, dan cukup kuat mengangkat gua to our four poster nirvana.
Gue coba menyalahkan orang tua. Mungkinkah gue gak berhasrat menikah karena gak pengen jadi kaya mereka?
Lalu gue menyalahkan dunia. Mungkinkah gue tak berhasrat menikah karena gak pengen basi kaya pasangan lainnya?
Lalu gue menyalahkan masa remaja. Mungkinkah gue tak berhasrat menikah karena trauma ditolak dia?
Lalu gue menyalahkan marie france. Mungkikah gue gak berhasrat menikah karena body tak kunjung biola?
Lalu gue menyalahkan usia. Mungkin ini ulah hormon usia 27, yang merongrong gue untuk mendefinisikan sebuah identitas.
Siapa gua?
Udah ngapain aja gua?
Aw I worth living?
"Usia 27 itu gue paling chaos. Tiba-tiba pengen berhenti kerja, pindah kota, tanpa jaminan yang jelas. Temen gue yang paling kulkas sampai ngelus2 kepala gue... kayanya kasihan liat gua." kata Sali.
Tapi untungnya bagi Sali, hormonnya membawa dia ke Jakarta, bertemu dengan Aji, si pengisi hidupnya. Sekarang hidup sali (dan kuping kami juga) dipenuhi aji aji dan aji.
Kurt Cobain, Jim Morrison, dan lain-lain tak seberuntung Sali. Mereka akhirnya bunuh diri dan bergabung menjadi anggota 27 club.
Sudah 56 hari gue berusia 27. Gue masih punya 309 hari untuk menentukan gue akan bergabung dengan 27 Club atau dengan Sali.
Is life really about menanti Aji?
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gua masih berbudaya. Ugh ugh ugh gua tunda sampai gua sendirian di sana.
Berbudaya tapi sengsara... sampai kapan aku terus merana?
Sampai casting berikutnya tentunya =D Selama mentari masih indosat, dan telkomsel belum sepenuhya singapura, aku akan tetap menantimu hai lelaki berdada bidang dan bertulang rusuk yang hilang.
I'm yours.
"Menurut lo?"
"Mmmm... masih."
Damn. Sejak kapan jadi perawan di negeri ini jadi begitu memalukan?
"Abis gue gak pernah liat lo jalan ama cowo."
"Bisa aja ama cewe."
"Mmmmmm..." Dia mengamati gue lebih seksama. "Masih."
Berlalu sudah hari-hari di mana gue bisa dengan bangga berkata gue masih perawan. The days when I was forever 21.
Today is the day when being a virgin berarti lo gak laku-laku.
Gue langsung menyekap abang-abang terdekat, and get him to fuck me.
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gua masih berbudaya. Gue duduk manis di sana, mendengarkan dia menganalisa.
"Kayanya lo gak bakalan kawin deh. Abisnya kayanya lo terlalu bahagia sendirian. Independent."
"I don't mind ditemani lho."
"Kayanya cowo susah nemenin lo."
Siapa yang butuh ditemani? Gue cuma butuh ditiduri.
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gue masih berbudaya. Gue menjawab dengan harga diri seorang perawan tongtong.
"Masa sih satu aja gak ada yang kuat? Gue cuma butuh satu kok, gak butuh semua cowo di dunia bisa tolerate gua."
Kata gue menebar konsep utopia, di mana ada seorang lelaki yang cukup kuat ditinggal-tinggal gua, dan cukup kuat mengangkat gua to our four poster nirvana.
Gue coba menyalahkan orang tua. Mungkinkah gue gak berhasrat menikah karena gak pengen jadi kaya mereka?
Lalu gue menyalahkan dunia. Mungkinkah gue tak berhasrat menikah karena gak pengen basi kaya pasangan lainnya?
Lalu gue menyalahkan masa remaja. Mungkinkah gue tak berhasrat menikah karena trauma ditolak dia?
Lalu gue menyalahkan marie france. Mungkikah gue gak berhasrat menikah karena body tak kunjung biola?
Lalu gue menyalahkan usia. Mungkin ini ulah hormon usia 27, yang merongrong gue untuk mendefinisikan sebuah identitas.
Siapa gua?
Udah ngapain aja gua?
Aw I worth living?
"Usia 27 itu gue paling chaos. Tiba-tiba pengen berhenti kerja, pindah kota, tanpa jaminan yang jelas. Temen gue yang paling kulkas sampai ngelus2 kepala gue... kayanya kasihan liat gua." kata Sali.
Tapi untungnya bagi Sali, hormonnya membawa dia ke Jakarta, bertemu dengan Aji, si pengisi hidupnya. Sekarang hidup sali (dan kuping kami juga) dipenuhi aji aji dan aji.
Kurt Cobain, Jim Morrison, dan lain-lain tak seberuntung Sali. Mereka akhirnya bunuh diri dan bergabung menjadi anggota 27 club.
Sudah 56 hari gue berusia 27. Gue masih punya 309 hari untuk menentukan gue akan bergabung dengan 27 Club atau dengan Sali.
Is life really about menanti Aji?
Ugh... ugh... ugh...
Untungnya gua masih berbudaya. Ugh ugh ugh gua tunda sampai gua sendirian di sana.
Berbudaya tapi sengsara... sampai kapan aku terus merana?
Sampai casting berikutnya tentunya =D Selama mentari masih indosat, dan telkomsel belum sepenuhya singapura, aku akan tetap menantimu hai lelaki berdada bidang dan bertulang rusuk yang hilang.
I'm yours.
Minggu, 18 Juli 2010
Bali, Bandung

Akhirnya pulang juga...
Meeting Senin ini TIBA-TIBA dibatalkan karena si produser TIBA-TIBA harus shooting video klip, dan gue cuma sutradara nestapa yang tak punya suara membantah semua TIBA-TIBA ini.
Gue pundung, mengungsi ke Bali.
Baliku bukan nun jauh di sana, di mana si pretty woman makan, berdoa, dan bercinta. Di mana Yasmin Ahmad menulis semua skripnya. Baliku ada di sini, di pengkolan sebelah SMA.
Di Jalan Bali, Bandung tercinta.
Sudah lama tidak menikmati indahnya nyetir tanpa AC dan segarnya menghirup udara Pasteur. Jakarta is hell compared to Bandung. Kecuali akhir pekan tentunya, karena semua penghuni neraka pada tamasya ke Bandung.
Walaupun di luar tol gue langsung disambut billboard besar bapak walikota dalam baju dinas putihnya lengkap dengan berbagai tanda jasa. Seakan-akan senyum di wajahnya akan mampu meningkatkan tingkat kedatangan para turis dan biaya majang senyumnya lebih murah daripada memperbaiki jalan bolong-bolong se-Bandung raya.
Tapi senyum bapak walikota tidak membuatku kurang mencintai Bandung mengingat ritual tiap pagi di Bandung:
- Bangun pagi, langsung melatih jantung memakai sepatu jogging pink ungu-ku yang sudah lama tidak diajak berlari
- Masih keringetan, pijit seluruh badan di Jarima (Jari-Jari Mantap)
- Sarapan roti bakar (plus bubur ayam) Mau nambah kupat agak malu karena bau minyak GPU
- Mandi wangi di shower air panas dan melintasi kamar tanpa busana
- Nyamperin Mak gondut di kamarnya untuk konsultasi teknologi: bikin file word mak gondut jadi rata kanan kiri, dan sign in account facebook mak gondut
- mengangguk-ngangguk seakan ngerti pas Mak gondut curhat panjang lebar.
Sudah 3 bulan ini Mak Gondut takut ke mana-mana, ngeri dijambak ama adiknya. Mak Gondut dituduh menipu duit adiknya dan ada maen ama suaminya.
What?
Stranger than fiction.
Emang gue curiga gue nih ada keturunan gila. Makanya harus rajin berdoa setiap pagi biar gue tetap tampil cantik jelita mempesona dan menjauhkan gen-gen gila dari penglihatan calon suami potensial. Biarlah nanti saja dia tahu kalau sudah terlanjur cinta gua.
- berdoa, zzzzzzz... malah ketiduran. Ganti bernyanyi dan baca mazmur. Agar kulit tetap bercahaya dan suara tetap mempesona.
- ngebalesin email, tapi Mak Gondut sambung curhat lagi sepanjang masa.
Curhat ibu kepada beta ... tak berakhir sepanjang masa
Hanya didengar, tak harap mendengar
Bagai DPR menyikapi dunia
"Anggap aja ini berkat Tuhan biar mami gak sombong," kata gue memotong.
Dor!
Sehabis itu Mak Gondut gak curhat lagi. Males dikotbahin gue.
Gantian papi yang kena tulah sementara gue makan ikan teri balado porsi ke dua yang disambal bersama terong full bawang.
Muka papi terkesan mendengarkan, berkat latihan bertahun-tahun dalam bahtera perkawinan.
Semoga bokap gue dikaruniai umur panjang =D
Sabtu, 17 Juli 2010
karakter ke (T)iga
cin(T)a adalah kisah cinta segitiga antara cina, annisa, dan (T).
(T) adalah karakter yang paling sulit digambarkan. Every religions tried to describe Him. Every art tried to figure Him. But nothing is really like Him... or Her.
(T) ini sangat subjektif.
Karenanya gue datang dengan konsep menjadikan POV penonton sebagai POV karakter ke tiga : (T).
Kami mungkin salah. Tapi karena kami yakin Tuhan itu maha pengasih dan maha pengampun... kalaupun kami salah, kami tidak akan dibinasakan, kami memberanikan diri keluar dengan konsep ini.
Reaksi penonton terhadap film cin(T)a menggambarkan definisinya sendiri tentang (T).
Setiap gue salah, (T) terbukti selalu kreatif mengingatkan gue untuk kembali ke jalan yang benar. Dia selalu punya cara yang lucu dan original: bisa melalui angin, melalui hujan, melalui matahari tenggelam, bahkan melalui Tina Arena.
Kali ini (T) memilih melalui IMDB.
Pemeran cin(T)a di IMDB tiba-tiba bertambah tiga.
IMDB ini adalah situs database film paling terpercaya di dunia. Tidak semudah itu menambahkan pemeran ke dalam list-nya.
Si pemeran ke-(T)iga ini muncul di atas nama Sunny Soon dan Saira Jihan, seakan-akan menegaskan kalau dia lebih penting dari dua karakter lainnya.
Ini wahyu. Sebaiknya gue langsung bertobat. Kerajaannya sudah dekat.
Si (T) sepertinya berhasrat ngeksis di film ke dua. Bisa-bisa supply nasi goreng maling dan udang sereal berkurang bagi sutradara.
Demi (T), script Demi Ucok langsung gue revisi agar bisa bertambah satu karakter.
(T)ukang Baso - Sahat Gultom.
(T) adalah karakter yang paling sulit digambarkan. Every religions tried to describe Him. Every art tried to figure Him. But nothing is really like Him... or Her.
(T) ini sangat subjektif.
Karenanya gue datang dengan konsep menjadikan POV penonton sebagai POV karakter ke tiga : (T).
Kami mungkin salah. Tapi karena kami yakin Tuhan itu maha pengasih dan maha pengampun... kalaupun kami salah, kami tidak akan dibinasakan, kami memberanikan diri keluar dengan konsep ini.
Reaksi penonton terhadap film cin(T)a menggambarkan definisinya sendiri tentang (T).
Setiap gue salah, (T) terbukti selalu kreatif mengingatkan gue untuk kembali ke jalan yang benar. Dia selalu punya cara yang lucu dan original: bisa melalui angin, melalui hujan, melalui matahari tenggelam, bahkan melalui Tina Arena.
Kali ini (T) memilih melalui IMDB.
Pemeran cin(T)a di IMDB tiba-tiba bertambah tiga.
IMDB ini adalah situs database film paling terpercaya di dunia. Tidak semudah itu menambahkan pemeran ke dalam list-nya.
Si pemeran ke-(T)iga ini muncul di atas nama Sunny Soon dan Saira Jihan, seakan-akan menegaskan kalau dia lebih penting dari dua karakter lainnya.
Ini wahyu. Sebaiknya gue langsung bertobat. Kerajaannya sudah dekat.
Si (T) sepertinya berhasrat ngeksis di film ke dua. Bisa-bisa supply nasi goreng maling dan udang sereal berkurang bagi sutradara.
Demi (T), script Demi Ucok langsung gue revisi agar bisa bertambah satu karakter.
(T)ukang Baso - Sahat Gultom.
Langganan:
Postingan (Atom)