Minggu, 11 April 2010

cin(T)a DVD out today

eh boooo hari ini gue mau keliling-keliling Bandung, foto-foto ama DVD cin(T)a yang dijual di toko-toko terdekat.

Huahahhahaha... norak ya gue? Abisnya gue belum pernah punya film yang dijual di toko. Ah senangnyaaaaaa.

Walaupun ada 2 hidung di awal menu DVD yang tiba-tiba mengusik mata (Padahal seinget gue dah gue minta apus) dan ada beberapa subtitle yang tidak pada tempatnya (Padahal kayanya udah gue minta geser) dll dkk dan cacat-cacat lain yang bikin gue mencak-mencak... tapi gue tetep bahagia.

Pak Ronny dan teman-teman Jive, terima kasih ya atas kerja kerasnya=D

Sing A Little Prayer

Aku tertahan, tertawan
Demi pembelajaran

Persetan pembelajaran
Cuma pembenaran

Aku tertawa, tertahan
Dan pura-pura senang
Menunggu datangnya malam
Nikmati kebencian

Gue gak bisa berdoa. Tiap berdoa, gue selalu tidur. Karenanya gue menyanyi. Dan semburan di atas adalah salah satu lirik lagu gue di suatu saat dahulu kala ketika gue masih terdaftar jadi anggota barisan sakit hati.

Or so I thought.

I thought I was so over it. Hari-hari di mana dendam dan amarah muncul ke permukaan dan membuat kulit gue tidak seindah mentari. Sampai suatu dialog malam sepi ditemani seorang teman ternyata masih menggelitik kebencian di dasar hati yang kukira sudah bebas luka. Kulit gue yang indah terancam kembali korodok.

Karenanya gue menulis lirik lain yang lebih utopia dengan harapan agar si dendam terusir kembali ke dasar hati. Semoga lirik ini bisa menemani hari-hari gue ke depan yang bebas pahit hati, dan gue tetap tampil cantik apa adanya (tentunya dengan bantuan catokan, epilator, dan eye liner.)

Aku yang dulu mati demi sebuah harga diri
Kini ku bangkit berseri tanpa sisa perih di hati

Ku kan menyanyi, ku kan menari
Ku kan rayakan sebuah damai di hati
Memuji Dia yang bri arti pada hidupku ini

Yang dulu ada, sekarang, sampai slama-lamanya
Ayubkan aku selalu sampai ku rendah hati
Tak ingin lagi menjadi barisan sakit hati
Ku kan terus menari tanpa harap diberkati

Ku kan menari, menyanyi tanpa perih di hati
Karna ku yakin cinta-Mu takkan pernah berakhir
Walau ku jatuh tertatih ku kan terus menari
Menanti saat ku nanti menari dengan-Mu lagi

Beri ku hati mengalir tanpa harap dipuji
Agar ku layak nanti menari dengan-Mu lagi

Minggu, 28 Maret 2010

Lebaran

Setelah puasa facebook sebulan penuh, hari ini hari kemenangan. Ternyata aku bisa hidup tanpa-mu, facebook sayang.

Di hari kemenangan ini, hikmahnya adalah gue berhasil nulis draf 2 Demi Ucok. Nulisnya sih cuma dua hari. Sisanya gue nonton DVD, 4 DVD sehari. Itu pun masih tersisa 120 film dari daftar top 250 IMDB yang belum gue tonton. Belum termasuk DVD hasil berburu di sekolah film gue, Kota Kembang, yang menumpuk tak terjamah dan terus bertambah despite my oath not to buy more before I finished all of them.

It gets me to think. There are too many movies already. I barely have time to watch all of them. Why bother to add another one, my own? Why do I make movies?

Then it suddenly hits me. Ya buat cari jodoh lahhhhh.

Ok. Good enough reason to make another one.

So nantikan yaaaaaa.

Demi Ucok.

Cause Butet is forbidden.

Senin, 08 Maret 2010

Cast vs Crew

Suatu hari seorang sutradara besar ulang tahun.

Para cast and crew penting membuat kejutan besar di tengah shooting.

Teman-temannya tertawa-tawa, potong kue tepat jam 12.

Lalu foto2 bahagia di atas panggung.

And I think to myself, " This is the kind of shooting I want to have."

Dari atas panggung, gue bisa melihat semua wajah extras dan kru kurang penting yang tidak diajak tertawa-tawa...

And I have a second thought.

Is this really the kind of shooting I want?

Mendengar

Bayangkan lo seorang pendeta. Atau ulama. Atau apa pun deh yang kerjaannya ngomong.

Kata-kata lo selalu didengar orang, haram dibantah karena suara lo dianggap mewakili suara Tuhan!

Dan sekarang lo dilatih seminggu untuk... mendengar.

Mendengar umat lo sendiri, yang bukan siapa-siapa, mengajari lo berbicara.

Ternyata narsisme bukan hanya penyakit umat. Gue jadi semakin yakin film gue Raja Kata emang tokohnya harus pendeta.

Amin.

Minggu, 28 Februari 2010

V

"Tolong buka celananya," kata si mbak suster untuk ke dua kalinya. Gue pura-pura gak denger.

"Tolong buka celananya," kata si dokter dengan penuh otoritas. Gue gak bisa lagi pura-pura gak denger.

Gue tersudut, gak bisa mikir alasan lain. Terpaksa gue buka celana dan ngangkang sesuai perintah dokter.

Si dokter dan 2 susternya menjadi 3 orang pertama yang melihat vagina gue. Gue jadi yang ke 4, setelah si dokter menaruh cermin di bawah sana.

For the first time in life, I see my own vagina.

And my first thought was, " I don't wanna be a lesbian!!! "

2 Bulan

Matahari terlalu bersinar di Sunda Kelapa.

Depak dang dan dut tak mampu merayu ibu-ibu yang pura-pura sibuk memotong kue bolu. Puluhan lalat berusaha mengerubungi bolu, tapi keburu meninggal karena tak tahan dengan bau Sunda Kelapa. Bau mayat ikan asin bercampur keringat kuli bercampur matahari. Bahkan lalat pun hilang selera makan.

Sammaria nongkrong di sana bersama si nenek menanti cucunya yang sedang berhias di salon. Hari ini cucunya yang bernama seperti salah satu dewi kahyangan akan menikah. Si nenek bercerita betapa cantik paras cucunya. Betapa aduhai goyangannya dulu di salah satu kontes instan dangdut di TV nasional dua tahun lalu. Betapa merdunya suaranya.

Walau cuma juara lima, si dewi sukses menjaring seorang toke ikan. Tak apalah umurnya baru 18 tahun. Kawinkan saja mumpung ada toke yang mau.

Sebuah beca mendekat. Dikayuh seorang kakek hitam dengan keringat mengucur dari dadanya ke perut six pack tanpa gym.

Dari beca buduk tak berbunga itu, turunlah si cucu berkebaya dan ber-make up campur peluh. Cantik, hanya perutnya terlalu buncit.

Perutnya buncit bukan karena gagal diet pengantin. Bukan juga karena ke binaria. Tau-tau berbadan dua. Tak perlu diceritakan kenapa. Semua orang sudah menduga, walau tak ada yang bicara.

Hamil sebelum nikah masih memalukan di negara ini, tapi tidak di Sunda Kelapa. MC mendoakan kandungan si bayi di corong mic yang menyiarkan kehamilannya ke seluruh pelosok kampung.

Si toke tak kunjung datang. Sang dewi duduk sendiri, di kursi tamu di pernikahannya sendiri. Pelaminan diisi tamu-tamu kecil yang berlarian sana-sini.

Katanya si abang keciduk narkoba. Tapi si nenek berkata beda. Katanya si istri tua tak rela didua.

MC kembali mendoakan agar si dewi menjadi keluarga mawadah sakinah bla bla bla. Air mata membanjiri semua wanita.

Mereka tahu. Bahkan sebelum menikah pun, si dewi sudah menjanda.

Cerita di atas sebenarnya tak perlu ditulis karena ternyata cuma cerita biasa di sana.

Senin, 08 Februari 2010

WARNING

Stay away from me. Your fear might end up in a movie.

Stay away from me. Your pain might end up in a book.

Stay away from me. Your line might end up in my facebook profile.

But too late. I know you already. So no use of staying away. Your story is already here. In this lump of meat they called heart.

And I'll try my best to keep you here.

You and I Both

" Until the dawn it brings another day to sing about the magic that was you and me..."

Jason Mraz took me back to the magic in a coffee shop in Changi Airport. It was early in the morning when everyone else was rushing to work. You and I, counting last words.

U might forget, but I remember everything you sang.

The cards were laid open on the table. They were decorated with some of my best works, my portfolio. They were intended to impress the creative director in a production house where I was going to have an interview in less than two hours. My portfolio became our tarot for the moment.

"Will you be a director?" You asked me, the tarot reader.

And the cards said no. I suddenly felt a deep jab in my heart.

"Will I ever see you again?" You asked.

I didn't want to open the card, afraid to face my verdict.

And the cards said no. Another jab. Ouch! This even hurt more.

But I didn't see any pain in your face. It hurt me even more at first.

With total confidence, you said " We will meet again, when you are a director."

Then you told me to go. Otherwise I might be late for the interview. I might lose my chance to be the director. Lose the chance to feel the magic of more you and me.

You took your flight to your dream land.

"See I'm all about them words Over numbers, unencumbered numbered words Hundreds of pages, pages, pages forwards More words then I had ever heard and I feel so alive You and I"

Two years passed without you. Two years full of tears and laughs. I didn't get the interview. But I tried my best and made myself something I could call a director. I guessed if I became a director , I would get to taste more of the magic.

The magic returned. Twice. Nice!

"Not so little you and I anymore And with this silence brings a moral story More importantly evolving is the glory of a boy ." (or in my case, a girl. But this little boy inside me also evelved , i guess)

Years passed. Jason Mraz's beautiful words still ring the bell in me, remind me how You and I are not You and I anymore.

And it's okay if you have go away Oh just remember the telephone works both ways And if I never ever hear them ring ... If nothing else I'll think the bells inside Have finally found you someone else

and that's okay Cause I'll remember everything you sang

You might forget, But I remember everything you sang.

Cause you and I both loved what you and I spoke of ....
and others just read of ....
and if you could see now well I'm finally free.

I am free. Cause you and I both loved what you and I spoke of.
I guess we do not need more i love you' s and thank you's

"I'm finally out of, finally, deedeeededede well I'm almost finally, finally, finally out of words."

Reality Bawang Seksi

Berita jadi reality show. Reality show jadi fiksi. Fiksi jadi reality. Reality gue jadi ompong, bahkan untuk dituliskan menjadi fiksi. Tidak lagi menggigit.

Kemaren tiga wanita muda duduk di Midori, mencincang sebuah tulisan 8 babak yang seharusnya berisi hidup mereka. Tentunya sudah dibumbui dan dimasak sana sini yang menurut buku dewa koki How To Cook A Damn Good Script seharusnya menjadi lebih gurih.

Tapi hasilnya basi, sama sekali tidak menggelitik hidung untuk menyuruh tangan mengambil dan mulut mengunyah.

Kenapa menulis tentang diri sendiri menjadi begitu memuakkan? Membasikan? Mematikan? Memalukan?

Mungkin karena terlalu banyak kesan yang ingin gue paksakan. Ternyata tampilan masih lebih penting daripada rasa. Koki lebih sibuk mengukir bawang untuk hiasan, padahal harusnya tuh bawang gue celup biar melebur, nambah rasa tulisan gue.

I don't want anyone to see my layers, mungkinkah aku hanya sebongkah bawang gendut?

Dangdut tali kecapi, biar gendut yang penting seksi.

Tiba-tiba semilir angin berbisik "Ayo bawang seksi, terus menulis."

Dan si bawang kembali menulis.