“Hah? Bikin film harus PT???” tanya gue dengan terkejut. Baru tahu kalau untuk ngurus izin nanyangIn film, lo harus bernaung di bawah sebuah Perusahaan Terbatas yang punya surat izin untuk memproduksi film.
Hueh! Gak bisa ya bikin film aja sendiri? Kaya jaman gue kuliah dulu. Ngajakin temen-temen yang sudah mengenal gue seperti apa adanya. Teman-teman yang bisa ngerti kalau gue kena sindrom PMS permanen.
Untungnya gue bertemu Adi Panuntun, another si ganteng smells like home, yang menjadi EO LA Lights Indiemovie. Perusahaan mas Adi ini baru saja menjadi PT. Jadinya urusan izin mengizinkan buat film beressss. Sekali lagi some invisible hands save my ignorant ass from trouble. Fiuhhh.
Berhubung gue gak bisa nulis, gak bisa ngedit, gak ngerti kamera, dan gak bisa mimpin... film making ala rebel without a crew versi robert rodriguez really didn’t work for me. Mulailah gue merayu teman-teman gue yang berbakat dan haus bikin film tapi terjebak di kerjaan mereka.
Writer:
Sally, senior gue di Liga Film Mahasiswa ITB. Tugas fotografi gue pas mau masuk LFM dicela-cela ama anak ini. But she’s a damn good writer! Writing with her is like a short course on how to make a mendingan script. Draft 1 gue yang cupu jadi agak layak difilmkan.
Editor:
Anky, musuh seperjuangan gue dari jaman kuliah dulu. Dia yang pertama kali menjebak gue ke dunia kelam perfilman. Jaman dulu gue cuma suka moto. Kalau dia gak pernah ngajak gue buat jadi DOP di film dia, tentunya gue sekarang sudah berbahagia jadi arsitek di Singapur, trus beasiswa S2 ke Delft, trus stay forever di Amerika. Anky gue rayu buat resign dari kerjaannya di Trans 7 sebagai... gak tau jadi apaan.
Director Of Photography:
Tadinya mo nyewa profesional, tapi nggak mampu bayar. Jadi produsernya turun langsung jadi DOP. Budi Sasono, another si ganteng smells like home. Hmmmm. Hidungnya mirip Boni, golden retriever gue yang sering disangka sapi ama publik. Jadi gemes pengen nyubit2 Budi Sasono. Akhirnya anjing gue berubah nama dari Napoleon Bonikarpet menjadi Boni Sasono.
Tugas utama DOP adalah membangun’komunikasi intens’ dengan sutradara. Hihihihi. Lighting the set mah gimana ntar. Yang penting intens dulu dengan sutradara. Hmmmmmm;P
Art Director:
Ajo. Dari belakang gue kira dia mau casting jadi Annisa. Cantik sihhh... sayang berkumis. Hihihi. A very talented and wild art director. Gue berharap our next movie is something that gives more space to imagination so he can show off his unlimited creativity. Ajo dan Koben made up our whole art department sections. Wow.
Production Manager:
Monyet! Gara-gara anak ini nih diet gue gagal. Padahal film sebelumnya, gue turun sekilo sehari. Di film ini, sangkin bahagianya, gue malah tambah gendut. She’s doing a too good of a job. Gue curiga dia emang mensabotase diet gue biar doi tampil cantik sendiri di premiere.
Assistant Director:
Burhan Yogaswara. Sebenernya doi pengennya jadi artis, tapi berhubung mukanya kagak ada cina-cinanya, dan kagak ada cantik-cantiknya, dia jadi astrada aja lah. Sepanjang shooting kerjaannya bikin kegaringan yang menyebabkan kemarau panjang. Di akhir shooting doi dianugerahi tokek award atas prestasi kegaringannya. Krik.... krik... krikk...
Assistant Director 2:
Yunitantri DJ. Tadinya editor gue mo jadi astrada 2. Taunya doi lebih memilih bulan madu daripada memajukan perfilman Indonesia. Yuni sebenarnya pengen jadi artis juga. Tapi berhubung ini bukan film Bollywood, terpaksa Yuni dijadikan astrada merangkap breakfast girl, sekaligus maketor, trainer logat batak, Konti girl, dan merangkap P2 girl.
Wardrobe/ Make Up:
Ibu Yuvie pun gue rayu biar meluangkan waktu di sela-sela jadwal fashion show doi. Sebenernya doi kayanya agak trauma di dunia perfilman setelah bertemu beberapa artis muda kurang berbakat yang juga kurang adat. Tapi doi berhasil dirayu demi kemajuan perfilman kami. Doi dibantu muridnya, Mbak Wenti yang juga belon pernah bikin film.
Production Assistant:
Untungnya si pak produser juga merangkap dosen. Jadinya banyak anak didiknya yang membantu terselenggaranya film ini sampai selesai.Eka, Fauziah, Galih, Reza, Awal,Dina, Asep, Shendi, dan Bagus. Ayo! Kalau mau nilai A, buang astrada 1 ke kolam! Byuuurrrrrr. Good job! We don’t know what to do without you, guys!
Setelah shooting selesai gue baru nyadar ternyata berondong-berondong ini ganteng2. Damn. Inilah akibat terlalu intens dengan DOP jadinya lupa lihat-lihat sekeliling.
Setelah filmnya jadi, ternyata perburuan gue belum selesai. Distributing the movie is a whole new art. Kerjaan satu studio dikerjakan bertiga dengan duo mbak kenthir yang menmani gue betiga menjelajahi jalan-jalan 3 in one jakarta with no money and no boyfriend, but a lot of love to share.
Publicist (merangkap mbok pijit):
Ardanti Andiarti. Doi tumbuh sebagai minoritas di sebuah sekolah katolik. Danti beradaptasi dengan habitatnya sehingga matanya ikutan menyipit. Bahkan doi disangka muallaf pertama kali pake jilbab. Exactly the perfect profile we need to promote this movie. She smells a lot like home, walau kadang ada semilir bau minyak tawon menyertai.
Promo manager (merangkap supir karena mbak-mbak lainnya gagap Jakarta):
Dini Aprilia Murdeani. Sebelum doi dinyatakan lulus dari sekolah bisnis di Bandung, gue udah nongkrong di luar ruang sidangnya, siap-siap menangkap doi sebelum diambil orang lain. I knew her from SMA. We made a great team sebelum doi mengurangi komunikasi intens gue dengan DOP. Ternyata doi punya agenda cin(T)a yang lain.
Rabu, 29 April 2009
GAGAL JADI SUTRADARA
Gagal jadi sutradara, gue balik ke Singapur. Gue pikir kalo emang gue bagus, ONM pasti mau nerima gue lagi. It turns out that I am not that good. They have plenty of other me lining up begging to work for them.
Terpaksa gue nyari kerja lagi. The idea of going through another endless interviews were really killing me. Mending gue nyari jodoh aja deh. Gini-gini kan gue ketua umum Babacan selama 4 periode ke depan. Babacan is Batak-Batak Cantik, by the way.
Pergilah gue ke HKBP Singapura, berharap ada spesies Batak ganteng yang mau memperistri dan menafkahi gue seumur hidup sementara gue hahahihi bikin film. Amin.
All the good ones are taken, gay, or simanjuntak. Gue memble tapi kece...wa. Apa gue balik aja ya jadi arsitek? Pada saat itu ekonomi Singapura lagi bagus-bagusnya. Pembangunan di mana-mana. Arsitek tinggal lumpat lumpit gak perlu takut jobless.
I hope you never fear those mountain in the distance
Never settle for a path of least resistance
Tiba-tiba Ronan Keating kembali berdendang. Do I settle for a path of least resistance? Basi banget sih gue. Yuk coba lagi ah. Kembalilah gue ke HKBP berburu suami.
Ternyata yang tersisa di sana hanya para suami. Tak ada spesies Batak ganteng tak beristri. Kecewa lagi, gue terduduk. Apa gue ke cewe aja ya? Mak gue nyuruhnya cari jodoh Batak. Gak bilang harus cowo apa cewe.
Tiba-tiba salah seorang teman bertanya, “Hey! How is our movie? I would love to be the producer.”
Namanya Roland Samosir. Sebenernya ini bukan pertama kalinya doi nawarin bikin film bareng. Suatu hari di masa dulu, di hari-hari di masa gue masih berpikir kalau gue akan bekerja di ONM, make some contacts, and then later make a movie... kita duduk2 minum wine di tepi danau Toba. Dia nanya kenapa gue resign dari arsitektur. Gue nyeritain film yang pengen gue buat.
“I would love to be the producer!!!” serunya penuh semangat.
But I didn’t really take him seriously. Saat itu gue menganggap gue belon siap untuk bikin film sendiri. Gue masih pengen dirodi long hours di perusahaan advertising, atau jadi runner di PH film, atau apapun deh... asal jangan bikin film. It seemed like a no money and insecure choice.
But I have no other choice right now. So I just said OK.
Sekarang gue punya duit buat bikin film. Tinggal nyari alat ama kru. Jadilah film gue.
Or so I thought.
Terpaksa gue nyari kerja lagi. The idea of going through another endless interviews were really killing me. Mending gue nyari jodoh aja deh. Gini-gini kan gue ketua umum Babacan selama 4 periode ke depan. Babacan is Batak-Batak Cantik, by the way.
Pergilah gue ke HKBP Singapura, berharap ada spesies Batak ganteng yang mau memperistri dan menafkahi gue seumur hidup sementara gue hahahihi bikin film. Amin.
All the good ones are taken, gay, or simanjuntak. Gue memble tapi kece...wa. Apa gue balik aja ya jadi arsitek? Pada saat itu ekonomi Singapura lagi bagus-bagusnya. Pembangunan di mana-mana. Arsitek tinggal lumpat lumpit gak perlu takut jobless.
I hope you never fear those mountain in the distance
Never settle for a path of least resistance
Tiba-tiba Ronan Keating kembali berdendang. Do I settle for a path of least resistance? Basi banget sih gue. Yuk coba lagi ah. Kembalilah gue ke HKBP berburu suami.
Ternyata yang tersisa di sana hanya para suami. Tak ada spesies Batak ganteng tak beristri. Kecewa lagi, gue terduduk. Apa gue ke cewe aja ya? Mak gue nyuruhnya cari jodoh Batak. Gak bilang harus cowo apa cewe.
Tiba-tiba salah seorang teman bertanya, “Hey! How is our movie? I would love to be the producer.”
Namanya Roland Samosir. Sebenernya ini bukan pertama kalinya doi nawarin bikin film bareng. Suatu hari di masa dulu, di hari-hari di masa gue masih berpikir kalau gue akan bekerja di ONM, make some contacts, and then later make a movie... kita duduk2 minum wine di tepi danau Toba. Dia nanya kenapa gue resign dari arsitektur. Gue nyeritain film yang pengen gue buat.
“I would love to be the producer!!!” serunya penuh semangat.
But I didn’t really take him seriously. Saat itu gue menganggap gue belon siap untuk bikin film sendiri. Gue masih pengen dirodi long hours di perusahaan advertising, atau jadi runner di PH film, atau apapun deh... asal jangan bikin film. It seemed like a no money and insecure choice.
But I have no other choice right now. So I just said OK.
Sekarang gue punya duit buat bikin film. Tinggal nyari alat ama kru. Jadilah film gue.
Or so I thought.
Label:
chapter 1,
cin(T)a,
LA Lights Indiemovie
SUTRADARA CEMEN
“Kalau nggak bisa mimpin, ya nggak usah jadi sutradara,” tutur Garin Nugroho dengan senyum manisnya. Tapi menusuk!
Gue berdarah-darah, terlalu proud untuk mengundurkan diri jadi sutradara. Ternyata panitia tidak hanya memilih gue doang buat bikin film. Yang dipilih ada lima orang. Lima-limanya pengen jadi sutradara. Dan nggak ada yang mau jadi produser. Entah kenapa yang akhirnya ditunjuk jadi sutradara... gue. (Pastinya karena gue paling cantik.) Padahal cerita yang terpilih bukan cerita gue.
Shooting dua hari, gue turun dua kilo. Good for my diet. Eight more kilos to go!
But not good for my soul. Gue merasa dibenci semua orang. Dan semua ini... gara-gara gue berusaha menyenangkan semua orang.
“I don’t know how to be successful, but I know how to fail. Just try to please everyone!” kata Cosby... more or less kaya gitu deh. Andai gue tahu dari dulu-dulu.
Gue jadi inget film pertama gue di mana semuanya gue kontrol sampai ke satu titik di mana gue merasa yang enjoy ngerjain cuma gue. Yang lain gak berkembang karena kreatifitas mereka gue batasi dengan berbagai macam maunya gue. Untungnya filmnya berakhir keren dan semua kru bahagia melihat hasil akhirnya. Mereka jadi lupa betapa menyebalkannya gue karena bahagia liat filmnya.
Sekarang... film gue jadi gado-gado gara-gara sutradaranya berusaha menyenangkan semua orang. Sampai pada satu titik si sutradara capek nyenengin semua orang, dan mulailah terlihat bentuk aslinya yang suka marah2. Kata Riri Riza, sutradara yang suka marah2 di lokasi shooting tuh cuma sutradara yang kurang persiapan. That’s me!
Gado-gado! Walaupun katanya film ini berhasil masuk tiga besar pada penilaian juri, buat gue film ini tetap pembelajaran yang menyakitkan. And I am so sorry that a lot of people have to suffer because of my lack of leadership and overdosed confidence.
Maybe I am not shaped to be a director after all.
Gue berdarah-darah, terlalu proud untuk mengundurkan diri jadi sutradara. Ternyata panitia tidak hanya memilih gue doang buat bikin film. Yang dipilih ada lima orang. Lima-limanya pengen jadi sutradara. Dan nggak ada yang mau jadi produser. Entah kenapa yang akhirnya ditunjuk jadi sutradara... gue. (Pastinya karena gue paling cantik.) Padahal cerita yang terpilih bukan cerita gue.
Shooting dua hari, gue turun dua kilo. Good for my diet. Eight more kilos to go!
But not good for my soul. Gue merasa dibenci semua orang. Dan semua ini... gara-gara gue berusaha menyenangkan semua orang.
“I don’t know how to be successful, but I know how to fail. Just try to please everyone!” kata Cosby... more or less kaya gitu deh. Andai gue tahu dari dulu-dulu.
Gue jadi inget film pertama gue di mana semuanya gue kontrol sampai ke satu titik di mana gue merasa yang enjoy ngerjain cuma gue. Yang lain gak berkembang karena kreatifitas mereka gue batasi dengan berbagai macam maunya gue. Untungnya filmnya berakhir keren dan semua kru bahagia melihat hasil akhirnya. Mereka jadi lupa betapa menyebalkannya gue karena bahagia liat filmnya.
Sekarang... film gue jadi gado-gado gara-gara sutradaranya berusaha menyenangkan semua orang. Sampai pada satu titik si sutradara capek nyenengin semua orang, dan mulailah terlihat bentuk aslinya yang suka marah2. Kata Riri Riza, sutradara yang suka marah2 di lokasi shooting tuh cuma sutradara yang kurang persiapan. That’s me!
Gado-gado! Walaupun katanya film ini berhasil masuk tiga besar pada penilaian juri, buat gue film ini tetap pembelajaran yang menyakitkan. And I am so sorry that a lot of people have to suffer because of my lack of leadership and overdosed confidence.
Maybe I am not shaped to be a director after all.
Label:
chapter 1,
cin(T)a,
LA Lights Indiemovie
PULANG KAMPUNG
I hope you never fear those mountain in the distance
Never settle for a path of least resistance
Living might mean taking chances but it’s worth making
Loving might be a mistake but it’s worth making
Visa gue ditolak! Gue termenung tak percaya menatap layar komputer, sementara Ronan Keating berdendang.
Tuhan memang suka nyeleneh. Bahkan Ronan Keating pun bisa Doi pake buat ngomong ama gue. Gue anggap ini adalah petunjuk Doi kalau pintu ini bukan buat gue. Gue harus buka pintu lain.
Tiba-tiba sebuah SMS dari malaikat Andik datang. Isinya tentang LA Lights Indiemovie 2007 yang menghadiahi 15 juta buat bikin film pendek. Gue mulai bersyukur visa gue ditolak. Mungkin ini petunjuk lain atas skenario Doi biar gue sempet bikin film pendek dulu sementara visa gue diurus kembali. Jadinya gue masih punya waktu buat ngurusin badan juga soalnya gue belon mulai mulai diet juga hihihihi. Yeyyy! Same old story.
Dengan pede abis gue mendaftar LA Lights Indiemovie. Gue yakin gue pasti kepilih!
Gue terpilih menjadi sutradara di salah satu dari dua wakil film pendek Bandung. Gue tersenyum dalam hati. Semua berjalan sesuai rencana. Sekarang tinggal nunggu visa kerja di Singapur keluar sambil bikin salah satu film pendek terbaik Indonesia. Jadi nanti gue akan memulai pekerjaan baru di Singapura dengan berbekal porto tambahan satu film pendek keren dan satu novel yang gue yakin juga pasti banyak yang mau menerbitkan.
Or so I thought.
Never settle for a path of least resistance
Living might mean taking chances but it’s worth making
Loving might be a mistake but it’s worth making
Visa gue ditolak! Gue termenung tak percaya menatap layar komputer, sementara Ronan Keating berdendang.
Tuhan memang suka nyeleneh. Bahkan Ronan Keating pun bisa Doi pake buat ngomong ama gue. Gue anggap ini adalah petunjuk Doi kalau pintu ini bukan buat gue. Gue harus buka pintu lain.
Tiba-tiba sebuah SMS dari malaikat Andik datang. Isinya tentang LA Lights Indiemovie 2007 yang menghadiahi 15 juta buat bikin film pendek. Gue mulai bersyukur visa gue ditolak. Mungkin ini petunjuk lain atas skenario Doi biar gue sempet bikin film pendek dulu sementara visa gue diurus kembali. Jadinya gue masih punya waktu buat ngurusin badan juga soalnya gue belon mulai mulai diet juga hihihihi. Yeyyy! Same old story.
Dengan pede abis gue mendaftar LA Lights Indiemovie. Gue yakin gue pasti kepilih!
Gue terpilih menjadi sutradara di salah satu dari dua wakil film pendek Bandung. Gue tersenyum dalam hati. Semua berjalan sesuai rencana. Sekarang tinggal nunggu visa kerja di Singapur keluar sambil bikin salah satu film pendek terbaik Indonesia. Jadi nanti gue akan memulai pekerjaan baru di Singapura dengan berbekal porto tambahan satu film pendek keren dan satu novel yang gue yakin juga pasti banyak yang mau menerbitkan.
Or so I thought.
Selasa, 28 April 2009
RESIGN CLUB
I hope you still feel small when you stand beside the ocean
Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Gue Sammaria, bukan siapa-siapa tapi mengangkat diri jadi ketua umum Resign Club selama 4 periode mendatang . Sudah sesumbar akan resign dan menjadi filmmaker sejak bulan pertama bekerja. Tetapi gak resign-resign karena malu kalau gak punya perusahaan yang mempekerjakan. Padahal semua orang sudah resign, sementara si ketua umum belum juga resign.
Takut resign karena gue bukan siapa-siapa. Gue cuma salah satu dari jutaan sutradara instan yang bermimpi jadi sutradara beneran. Sejak tingkat tiga kuliah, gue sudah sesumbar. Pokoknya gue harus jadi sutradara, gak mau jadi arsitek!
Setelah lulus, gue terserang ketakutan kelaparan yang mendamparkan gue ke singapur dan jadi arsitek di sebuah perusahaan berinisial SAA, yang gue akui ke teman2 gue adalah kepanjangan dari Sari Astrid Architects. Pertama kalinya punya kartu nama bertuliskan SAM MARIA- architect. Bangga punya kartu nama arsitek, walaupun gak punya karya dan tiap hari ngomongin film. Bangga punya gaji awal SGD 2050 padahal 450 dollar lebih rendah dibandingkan lulusan Singapur.
Maybe it’s not the job. It’s the company. SAA terlalu korporat buat mahkluk bengal kaya gue. Akhirnya gue melamar ke salah satu biro boutique di Singapur yang karyanya, Duxton Public Housing, menginspirasi tugas akhir gue sampai akhirnya gue diganjar TA terbaik, masuk majalah, diundang seminar, presentasi, bla bla bla. It didn’t realy impress them. Interviewnya beda banget ama korporasi-korporasi lainnya. It took about an hour. He asked me to draw some house, snake, water, and other psycho analysis stuffs. The interview was more like a nice conversation in your living room. By the end of the one hour he said...
“There’s a production house next door. Why didn’t you apply there instead?”
Damn. I shoulda known that this guy has a graduate degree in psychology. He is into that mind reading stuffs. I didn’t say anything about movie making during the whole hour and still he gets my thoughts.
“This is the worst no I’ve ever got,” sahut gue sambil melangkah ringan ke kantor tetangga.. a production house.
Gue ditolak lagi.
Penolakan is a penundaan for penerimaan. Gue lamar semua PH di Singapur. Gak pernah dapet, tapi dapet banyak teman dan a bit of glimpse tentang jenis2 production house selama interview. At least now I know which kind of production house I will have. Have? Naaaaaaaa. The admin work is just to much. I just need to find one that smells like home so I can learn how to make a movie. That was my plan.
Gue gak mau resign. Takut. Mungkin gue harus dipecat dulu biar gue kepaksa nyari kerjaan lain. Nice idea! I can get out of the company and make 3 months pesangon kalo dipecat.
So I wrote this song on a dinner and dance held by my company. I complained about all the long hours and how bad the company treated us and bla bla bla... moga2 senen pagi gue dipecat. Yeyyy!
Monday morning: the director calls me to meet him. Yeyyy! Gue dipecat.
Ternyata he gave me a raise. Damn!
Di bulan ke 12 gue belum juga resign sementara semua anggota gue di resign club sudah hijrah ke perusahaan lain. Akhirnya with no job offer in hand, gue resign! This is it. This is my ‘no turning back’ point. Merdeka atau mati!
Sebenernya gak seberani itu juga sihhhh. Gue mencoba melamar ke sebuah perusahaan advertising berinisial ONM. Gue rasa ini langkah yang bijak. PH di Singapur masih kecil-kecil, gak sanggup bayar jaminan ke pemerintah buat hire foreigners. So advertising is a good step. Gaji masih bulanan, but one step closer to filmmaking. So I thought.
“Why do you go into advertising if you actually wanna make movie?” tanya sang creative director yang ganteng dan smell like home. Hmmmmm...
“Because I wanna be like Yasmin Ahmad,” jawab gue dengan bangga.
“Do you know she used to be a guy?”
Gue terdiam. Shock! Merasa seperti anak kecil yang gak tau apa-apa.
Padahal harusnya gue bilang aja ... “Do you know I used to be a guy too?” biar si creative director yang shock hihihihi! Biar bibir basahnya menganga terbuka sedikit. Hmmmm...
So he gave me a chance to pursue Yasmin Ahmad’s path. Or so I thought.
Sementara menunggu visa keluar, gue balik dulu ke Indonesia. Do some charity work in my kampong, write a damn good novel I have been so long talking about (and never wrote), and loose some weight. So I could go back to Singapore and look fabulous on my first day working in one of Singapore most prestigious advertising company. That seemed like a good plan. Or so I thought.
And my story began.
Whenever one door closes I hope one more open
Promise me that you’ll give faith a fighting chance
And if u get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
Gue Sammaria, bukan siapa-siapa tapi mengangkat diri jadi ketua umum Resign Club selama 4 periode mendatang . Sudah sesumbar akan resign dan menjadi filmmaker sejak bulan pertama bekerja. Tetapi gak resign-resign karena malu kalau gak punya perusahaan yang mempekerjakan. Padahal semua orang sudah resign, sementara si ketua umum belum juga resign.
Takut resign karena gue bukan siapa-siapa. Gue cuma salah satu dari jutaan sutradara instan yang bermimpi jadi sutradara beneran. Sejak tingkat tiga kuliah, gue sudah sesumbar. Pokoknya gue harus jadi sutradara, gak mau jadi arsitek!
Setelah lulus, gue terserang ketakutan kelaparan yang mendamparkan gue ke singapur dan jadi arsitek di sebuah perusahaan berinisial SAA, yang gue akui ke teman2 gue adalah kepanjangan dari Sari Astrid Architects. Pertama kalinya punya kartu nama bertuliskan SAM MARIA- architect. Bangga punya kartu nama arsitek, walaupun gak punya karya dan tiap hari ngomongin film. Bangga punya gaji awal SGD 2050 padahal 450 dollar lebih rendah dibandingkan lulusan Singapur.
Maybe it’s not the job. It’s the company. SAA terlalu korporat buat mahkluk bengal kaya gue. Akhirnya gue melamar ke salah satu biro boutique di Singapur yang karyanya, Duxton Public Housing, menginspirasi tugas akhir gue sampai akhirnya gue diganjar TA terbaik, masuk majalah, diundang seminar, presentasi, bla bla bla. It didn’t realy impress them. Interviewnya beda banget ama korporasi-korporasi lainnya. It took about an hour. He asked me to draw some house, snake, water, and other psycho analysis stuffs. The interview was more like a nice conversation in your living room. By the end of the one hour he said...
“There’s a production house next door. Why didn’t you apply there instead?”
Damn. I shoulda known that this guy has a graduate degree in psychology. He is into that mind reading stuffs. I didn’t say anything about movie making during the whole hour and still he gets my thoughts.
“This is the worst no I’ve ever got,” sahut gue sambil melangkah ringan ke kantor tetangga.. a production house.
Gue ditolak lagi.
Penolakan is a penundaan for penerimaan. Gue lamar semua PH di Singapur. Gak pernah dapet, tapi dapet banyak teman dan a bit of glimpse tentang jenis2 production house selama interview. At least now I know which kind of production house I will have. Have? Naaaaaaaa. The admin work is just to much. I just need to find one that smells like home so I can learn how to make a movie. That was my plan.
Gue gak mau resign. Takut. Mungkin gue harus dipecat dulu biar gue kepaksa nyari kerjaan lain. Nice idea! I can get out of the company and make 3 months pesangon kalo dipecat.
So I wrote this song on a dinner and dance held by my company. I complained about all the long hours and how bad the company treated us and bla bla bla... moga2 senen pagi gue dipecat. Yeyyy!
Monday morning: the director calls me to meet him. Yeyyy! Gue dipecat.
Ternyata he gave me a raise. Damn!
Di bulan ke 12 gue belum juga resign sementara semua anggota gue di resign club sudah hijrah ke perusahaan lain. Akhirnya with no job offer in hand, gue resign! This is it. This is my ‘no turning back’ point. Merdeka atau mati!
Sebenernya gak seberani itu juga sihhhh. Gue mencoba melamar ke sebuah perusahaan advertising berinisial ONM. Gue rasa ini langkah yang bijak. PH di Singapur masih kecil-kecil, gak sanggup bayar jaminan ke pemerintah buat hire foreigners. So advertising is a good step. Gaji masih bulanan, but one step closer to filmmaking. So I thought.
“Why do you go into advertising if you actually wanna make movie?” tanya sang creative director yang ganteng dan smell like home. Hmmmmm...
“Because I wanna be like Yasmin Ahmad,” jawab gue dengan bangga.
“Do you know she used to be a guy?”
Gue terdiam. Shock! Merasa seperti anak kecil yang gak tau apa-apa.
Padahal harusnya gue bilang aja ... “Do you know I used to be a guy too?” biar si creative director yang shock hihihihi! Biar bibir basahnya menganga terbuka sedikit. Hmmmm...
So he gave me a chance to pursue Yasmin Ahmad’s path. Or so I thought.
Sementara menunggu visa keluar, gue balik dulu ke Indonesia. Do some charity work in my kampong, write a damn good novel I have been so long talking about (and never wrote), and loose some weight. So I could go back to Singapore and look fabulous on my first day working in one of Singapore most prestigious advertising company. That seemed like a good plan. Or so I thought.
And my story began.
Langganan:
Postingan (Atom)