Rekor!
Gue bisa tahan 12 hari di Ibu Kota. Gue teruji nyetir 5 jam sejauh 70 km setiap hari. Mostly Rawamangun - Warung Buncit, mengunjungi produser gue yang cantik jelita tapi bloonita. Cong!
Susah-susah gue sebrangi Jatinegara, Pancoran, dan Simatupang sejauh 30 km buat ke kantor doi... cuma untuk balik lagi nyeberang pancoran, jatinegara, dan akhirnya Ancol.
Untung doi mau ngenalin gue ke seorang Batak ganteng berdada bidang, jadinya perjalanan ke Ancol di jam pulang kantor jadi lebih termaafkan dan produser batal gue makan.
"Single? " tanya si Batak ganteng.
Aku mengangguk malu-malu. Geer.
Ternyata doi udah beristri.
Inilah akibatnya kalau gak pernah nonton TV. Tertinggal gosip infotainment masa kini.
Doi malah mangggil salah satu kru untuk moto gue. Kayanya doi mau masukin gue jadi peserta di acara cari jodoh TV yang di-host doi.
Geer lagi. Fotonya rame-rame.
Lumayanlah. Setidaknya wajahku jadi menghiasi salah satu koleksi foto di BB doi.
Setelah itu gue ditinggal ngobrol dengan om manager, karena doi harus ngebut shooting si kuis cari jodoh yang tak juga kehabisan peserta di episodenya yang ke 200 sekian.
Ternyata banyak sekali jomblo di negeri ini. No wonder ai masih sendiri.
"Peer kalian sekarang, bikin film cerita yang pemerannya Batak ganteng tadi," katanya menangkap basah binar-binar mataku mengagumi doi di set. Tetap ganteng walau dengan bedak 5 inci.
"Lha ini kan kita lagi nawarin."
"Jangan cameo. Pemeran utama."
"Dua tahun lagi ya , Mas. Kita bikin film dua tahun satu film."
"Hah? Biasanya kan bisa 3 setahun?"
Pantesan gue miskin. Masa 1 film/ 2 tahun?
Tapi bagaimana caranya bisa bikin 3 film/ tahun di kota di mana gue cuma bisa bergerak 12 km/jam ini?
Berhubung otak gue gak sanggup bikin 3 film/ tahun, sementara gue gak rela kalau gak kaya raya... berarti pendapatan 1 film gue tetap harus sama dengan pendapatan 6 film mereka.
2tahun x 3 film x 300000 penonton...
1.8 juta penonton !!!
Minimal.
Bagaimana strategi gue untuk mengumpulkan penonton sebanyak ini?
1) Bekerja sepenuh hati
2) Bikin cerita yang jujur
3) Baek-baek ama emak gue
Paling susah yang ke tiga. Tapi penting... biar Promo Manager gue yang Maha Jagopromo itu terrrrrayu untuk menyuruh 1.8 juta ciptaan-Nya menonton film gue.
Agar aku bisa hidup kaya raya dan mati masuk surga.
Mudah-mudahan ada surga lain selain di telapak kaki ibu. Kalau cuma ada di sana, ingetin gue sedia daktarin sebelum mati.
Rabu, 07 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
AFA
"This is my third and last application I am sending you. If you do not take me, I will come to Pusan with my feature film instead."
Ancaman itu mengakhiri sebuah letter of intention yang gue ketik buat Asian Film Academy 2010, sebuah workshop film tahunan untuk 24 future Asian filmmakers di Pusan International Film Festival.
Pusan termakan gertak batak. Aplikasinya langsung diterima.
Sayangnya bukan aplikasi gue, but another batak. Itu surat gue ketikin buat Tumpal Tampubolon. He is going to AFA this year.
Gue bahagia banget pas tahu Tumpal masuk AFA, walau 5 menit kemudian langsung memble pas tahu gue gak dapet.
Gue kirain dengan track record kegagalan sepanjang gue, another kegagalan gak akan mempengaruhi gue. Apalagi yang akhirnya diterima adalah Tumpal Tampubolon, salah satu species langka yang dikarunia sensitifitas cerita yang mengharukan... Gue berani taruhan film Tumpal akan jadi salah satu film terbaik Indonesia.
Tapi sayang pedenya berbanding terbalik dengan bakat.
Apa gue kebalikanya Tumpal ya? Kebanyakan pede, tapi bakat kurang. Apakah gue kurang usaha ? Kurang passionate? Apa surat rekomendasi gue kurang terpercaya? (It was Nia Dinata, by the way)
Mungkin niat busuk gue sudah terbaca. Gue mau ke Pusan bukan untuk workshop film, tapi untuk berburu hujan dan nyari 10ribu pendana buat Demi Ucok. 15 won kan kaya sekali makan Korea. Banyak fimmaker idealis bertebaran yang bisa gue palakin di sana=D
Tapi takdir dan AFA berkata beda. Tumpal yang berangkat. Aku nelangsa.
Padahal tiap gue gagal, selalu ternyata Doi punya rencana yang lebih seru daripada hasil pikiran gue. Tapi tetep aja gue nelangsa. Kok gue lambat belajar ya? Padahal IQ gue 161 lho.
So I am back to what I did best. Mengintimidasi.
Berhubung teknik intimidasi sepertinya lebih efektif, langsung gue mengirim sms ancaman ke Tumpal.
"Pokoknya target lo ke Pusan harus nyari minimal 1000 pendana buat gue. Kalau nggak, jangan berani pulang kau Bang."
Tumpal langsung menurut takut kubuat. Gue tinggal nyari 8980 korban lagi deh=D
Sementara Tumpal workshop di Korea, gue punya banyak PR di sini: nyelesaiin editing '5menit lagi' dan 'Demi Ucok'.
Pusan, it was my first and last application I am sending you. Since you do not take me, I will come to Pusan with my feature film instead.
Amin.
Ancaman itu mengakhiri sebuah letter of intention yang gue ketik buat Asian Film Academy 2010, sebuah workshop film tahunan untuk 24 future Asian filmmakers di Pusan International Film Festival.
Pusan termakan gertak batak. Aplikasinya langsung diterima.
Sayangnya bukan aplikasi gue, but another batak. Itu surat gue ketikin buat Tumpal Tampubolon. He is going to AFA this year.
Gue bahagia banget pas tahu Tumpal masuk AFA, walau 5 menit kemudian langsung memble pas tahu gue gak dapet.
Gue kirain dengan track record kegagalan sepanjang gue, another kegagalan gak akan mempengaruhi gue. Apalagi yang akhirnya diterima adalah Tumpal Tampubolon, salah satu species langka yang dikarunia sensitifitas cerita yang mengharukan... Gue berani taruhan film Tumpal akan jadi salah satu film terbaik Indonesia.
Tapi sayang pedenya berbanding terbalik dengan bakat.
Apa gue kebalikanya Tumpal ya? Kebanyakan pede, tapi bakat kurang. Apakah gue kurang usaha ? Kurang passionate? Apa surat rekomendasi gue kurang terpercaya? (It was Nia Dinata, by the way)
Mungkin niat busuk gue sudah terbaca. Gue mau ke Pusan bukan untuk workshop film, tapi untuk berburu hujan dan nyari 10ribu pendana buat Demi Ucok. 15 won kan kaya sekali makan Korea. Banyak fimmaker idealis bertebaran yang bisa gue palakin di sana=D
Tapi takdir dan AFA berkata beda. Tumpal yang berangkat. Aku nelangsa.
Padahal tiap gue gagal, selalu ternyata Doi punya rencana yang lebih seru daripada hasil pikiran gue. Tapi tetep aja gue nelangsa. Kok gue lambat belajar ya? Padahal IQ gue 161 lho.
So I am back to what I did best. Mengintimidasi.
Berhubung teknik intimidasi sepertinya lebih efektif, langsung gue mengirim sms ancaman ke Tumpal.
"Pokoknya target lo ke Pusan harus nyari minimal 1000 pendana buat gue. Kalau nggak, jangan berani pulang kau Bang."
Tumpal langsung menurut takut kubuat. Gue tinggal nyari 8980 korban lagi deh=D
Sementara Tumpal workshop di Korea, gue punya banyak PR di sini: nyelesaiin editing '5menit lagi' dan 'Demi Ucok'.
Pusan, it was my first and last application I am sending you. Since you do not take me, I will come to Pusan with my feature film instead.
Amin.
Senin, 05 Juli 2010
The Art Of Happiness
Dalai Lama: Most of our troubles are due to our passionate desire for and attachment to things that we misapprehend as enduring entities.
Even some Tibetan philosophy remind me of you.
You are most of my troubles.
The object of my obsession.
My passionate desire.
My misapprehended attachment.
My so long waited phone call.
You are my enduring entity.
How come I am not yours to endure?
Today I want my soul to be glad and rejoice in this lot that I was given.
Even this lot has no you.
Cause his steadfast love endures forever.
Even some Tibetan philosophy remind me of you.
You are most of my troubles.
The object of my obsession.
My passionate desire.
My misapprehended attachment.
My so long waited phone call.
You are my enduring entity.
How come I am not yours to endure?
Today I want my soul to be glad and rejoice in this lot that I was given.
Even this lot has no you.
Cause his steadfast love endures forever.
Minggu, 04 Juli 2010
Minggu Pagi Di Rawamangun
Nggak terlalu beda sama di Victoria Park.
Ada bibik infal baru yang lagi bikinin gue roti bakar di dapur. Ada mas-mas bercelana pendek robek dikit yang nyuciin mobil gue di luar. Sementara gue duduk-duduk nulis blog gue yang penting buanget ini karena selalu dinanti oleh Danti, Ratie, dan Winda .... tentunya sambil menanti roti bakar yang mulai menggoda bulu-bulu hidung gue.
"Ca, gue mau pake meses ya," teriak gue ke bibi infal baru.
Bibi infal baru menoleh sewot.
"Bikin sendiri!" seru Bibi Infal Baru nyinyir ngeliat si adik kecil yang udah seminggu ini susah diusir dari rumah barunya.
Tapi lima menit kemudian roti bakar gue udah siap sedia=D
Scene minggu pagi di rumah Chigit membuatku merasa orang terhappy di dunia, padahal baru lima menit yang lalu aku nestapa karena kamu belum juga sms akyu.
I wish everyday will be like this. Like Sunday.
and voila... Ternyata hari ini hari Senin.
How can I forget days? Am I the happiest person in the world or am I just being unemployed for too long?
Either way, I thank You for this day.
And the roti bakar.
And the cuci gratis.
Now I have to get back to nyuci piring. Si bibi infal baru yang ternyata nyonya rumah ini udah mulai mengirimkan sinyal-sinyal pengusiran ngeliatin gue seenaknya maen komputer abis makan roti bakar.
There is no such thing as a free breakfast. But there are some breakfast that money can't pay.
Ada bibik infal baru yang lagi bikinin gue roti bakar di dapur. Ada mas-mas bercelana pendek robek dikit yang nyuciin mobil gue di luar. Sementara gue duduk-duduk nulis blog gue yang penting buanget ini karena selalu dinanti oleh Danti, Ratie, dan Winda .... tentunya sambil menanti roti bakar yang mulai menggoda bulu-bulu hidung gue.
"Ca, gue mau pake meses ya," teriak gue ke bibi infal baru.
Bibi infal baru menoleh sewot.
"Bikin sendiri!" seru Bibi Infal Baru nyinyir ngeliat si adik kecil yang udah seminggu ini susah diusir dari rumah barunya.
Tapi lima menit kemudian roti bakar gue udah siap sedia=D
Scene minggu pagi di rumah Chigit membuatku merasa orang terhappy di dunia, padahal baru lima menit yang lalu aku nestapa karena kamu belum juga sms akyu.
I wish everyday will be like this. Like Sunday.
and voila... Ternyata hari ini hari Senin.
How can I forget days? Am I the happiest person in the world or am I just being unemployed for too long?
Either way, I thank You for this day.
And the roti bakar.
And the cuci gratis.
Now I have to get back to nyuci piring. Si bibi infal baru yang ternyata nyonya rumah ini udah mulai mengirimkan sinyal-sinyal pengusiran ngeliatin gue seenaknya maen komputer abis makan roti bakar.
There is no such thing as a free breakfast. But there are some breakfast that money can't pay.
10001 Executive Producers + 1 Lover
Viral marketing is so last year. It is now time for viral financing.
"Lo bisa jadi salah satu dari 10 ribu orang beruntung yang berkesempatan mendanai film gue berikutnya. Dengan hanya 100 ribu rupiah, nama lo akan ditulis di semua poster 'Demi Ucok' sebagai executive producers, masuk Museum Rekor Indonesia, dan lo akan diundang ke acara gala demi ucok yang diberi judul 'see the music, hear the movie'..."
OK... i know this sounds a bit dewi lestari, but i cannot find a better line than that.
Acara gala ini adalah kolaborasi layar tancap 'demi ucok', konser homogenic, dan beberapa tukang bajigur, bubur ayam, dan roti bakar paling enak se-bandung raya.
That was my big mouth blabbing di salah satu acara yang diadakan di sebuah padepokan mini indonesia. Padahal hal ini belum boleh bocor sampai september, setelah semua sponsor fix.
Tapi kettika 4 orang yang baru saja gue kenal memberikan gue seratus ribuan, gue mau tak mau jadi terharu biru.
"Pokoknya gue nomor 13, " kata oming oke. Dia memaksa memberikan duitnya saat itu juga, takut nomor saktinya kerebut orang.
"Gue nomor 88," kata Cina Coon tanpa memberikan uang dulu. Curiga duitnya gue beliin martabak keju, instead of bikin film.
"Nomor 8888 aja, lebih banyak delapannya," kata Sali yang paling mengerti cina.
"Nggak ah. Gua cukup 2 delapan aja," kata Cina Coon, membuat gue makin cinta.
Memang cewe2 jaman sekarang udah pada gak punya mata. Masa cowo sekeren ini dibiarkan menjanda tanpa pasangan hidup?
Karenanya, di demi ucok ini, kami punya 3 misi mulia:
1) mengumpulkan 10oo1 executive producers yang akan memodali kami bikin film ter-belagu dalam sejarah perfilman Indonesia (so far udah ada 20 korban, tinggal nyari 9980 lagi)
2) mencarikan jodoh untuk Cina Coon (either lelaki maupun perempewi, aku rela... asal Cina bahagia)
3) mencarikan lelaki yang dapat menafkahi lahir batin sang sutradara, agar dia bisa hahahihi bikin film ke-tiga tanpa direcoki Mak Gondut : "kawinlah kauuuuu...."
Misi pertama dan ke dua sepertinya gampang terlaksana. Karenanya misi ke tiga akan menjadi parameter paling penting dalam mengukur keberhasilan proyek film ini.
Biasanya sutradara kalau gak jadian ama produser, pasti ama aktor.
Sayangnya produser kali ini wanita, jadi haram dinikahi menurut fatwa HKBP.
Eh... tapi doi batak sih. Mak gue kan nyuruhnya gue nyari Batak, gak bilang cewe apa cowo.
Ah tapi serem gue. Doi cantik sih, hanya ke mana-mana bawa pisau booo... akibat keseringan nonton Buser dan teracuni betapa kejamnya ibu kota. Bisa-bisa gue ntar ditikam kalo ketahuan selingkuh.
Jadi harapan kita untuk menunaikan misi ke tiga sebagai sineas muda Indonesia tinggal mencari aktor yang berdada bidang, agak Batak, dan halal dinikahi sutradara.
Casting kemarin cukup memberi harapan. Walaupun banyak bintang muda berbakat Indonesia yang menolak casting kalau nggak pasti dapet perannya.
Haloooow! Tom Cruise aja masih casting lhooo di hollywood sana. Don't they know there is this such thing that is called chemistry? Walaupun lo aktor terkenal tetep aja harus dicasting.
Tapi tak apa-apalah. Gue jadi tak perlu ngabisin waktu dengan the snobby ones. Masih banyak the jason mraz type di Jakarta. The type yang gelasnya setengah penuh. The type who sees himself in five years not as the most famous actor in Indonesia, but simply as someone five years older... and hopefully wiser. Exactly the type i love.
Too bad he's 175 cm. Semoga bisa diakali kamera.
This type makes me wish I was 5 cm shorter and 15 kg lighter.
God, I love my job.
"Lo bisa jadi salah satu dari 10 ribu orang beruntung yang berkesempatan mendanai film gue berikutnya. Dengan hanya 100 ribu rupiah, nama lo akan ditulis di semua poster 'Demi Ucok' sebagai executive producers, masuk Museum Rekor Indonesia, dan lo akan diundang ke acara gala demi ucok yang diberi judul 'see the music, hear the movie'..."
OK... i know this sounds a bit dewi lestari, but i cannot find a better line than that.
Acara gala ini adalah kolaborasi layar tancap 'demi ucok', konser homogenic, dan beberapa tukang bajigur, bubur ayam, dan roti bakar paling enak se-bandung raya.
That was my big mouth blabbing di salah satu acara yang diadakan di sebuah padepokan mini indonesia. Padahal hal ini belum boleh bocor sampai september, setelah semua sponsor fix.
Tapi kettika 4 orang yang baru saja gue kenal memberikan gue seratus ribuan, gue mau tak mau jadi terharu biru.
"Pokoknya gue nomor 13, " kata oming oke. Dia memaksa memberikan duitnya saat itu juga, takut nomor saktinya kerebut orang.
"Gue nomor 88," kata Cina Coon tanpa memberikan uang dulu. Curiga duitnya gue beliin martabak keju, instead of bikin film.
"Nomor 8888 aja, lebih banyak delapannya," kata Sali yang paling mengerti cina.
"Nggak ah. Gua cukup 2 delapan aja," kata Cina Coon, membuat gue makin cinta.
Memang cewe2 jaman sekarang udah pada gak punya mata. Masa cowo sekeren ini dibiarkan menjanda tanpa pasangan hidup?
Karenanya, di demi ucok ini, kami punya 3 misi mulia:
1) mengumpulkan 10oo1 executive producers yang akan memodali kami bikin film ter-belagu dalam sejarah perfilman Indonesia (so far udah ada 20 korban, tinggal nyari 9980 lagi)
2) mencarikan jodoh untuk Cina Coon (either lelaki maupun perempewi, aku rela... asal Cina bahagia)
3) mencarikan lelaki yang dapat menafkahi lahir batin sang sutradara, agar dia bisa hahahihi bikin film ke-tiga tanpa direcoki Mak Gondut : "kawinlah kauuuuu...."
Misi pertama dan ke dua sepertinya gampang terlaksana. Karenanya misi ke tiga akan menjadi parameter paling penting dalam mengukur keberhasilan proyek film ini.
Biasanya sutradara kalau gak jadian ama produser, pasti ama aktor.
Sayangnya produser kali ini wanita, jadi haram dinikahi menurut fatwa HKBP.
Eh... tapi doi batak sih. Mak gue kan nyuruhnya gue nyari Batak, gak bilang cewe apa cowo.
Ah tapi serem gue. Doi cantik sih, hanya ke mana-mana bawa pisau booo... akibat keseringan nonton Buser dan teracuni betapa kejamnya ibu kota. Bisa-bisa gue ntar ditikam kalo ketahuan selingkuh.
Jadi harapan kita untuk menunaikan misi ke tiga sebagai sineas muda Indonesia tinggal mencari aktor yang berdada bidang, agak Batak, dan halal dinikahi sutradara.
Casting kemarin cukup memberi harapan. Walaupun banyak bintang muda berbakat Indonesia yang menolak casting kalau nggak pasti dapet perannya.
Haloooow! Tom Cruise aja masih casting lhooo di hollywood sana. Don't they know there is this such thing that is called chemistry? Walaupun lo aktor terkenal tetep aja harus dicasting.
Tapi tak apa-apalah. Gue jadi tak perlu ngabisin waktu dengan the snobby ones. Masih banyak the jason mraz type di Jakarta. The type yang gelasnya setengah penuh. The type who sees himself in five years not as the most famous actor in Indonesia, but simply as someone five years older... and hopefully wiser. Exactly the type i love.
Too bad he's 175 cm. Semoga bisa diakali kamera.
This type makes me wish I was 5 cm shorter and 15 kg lighter.
God, I love my job.
Sabtu, 03 Juli 2010
Aku Merasa Orang Ter-oke di Dunia
No. That wasn't true.
Sometimes I do. But most of the time , no.
Apalagi di depan kamu. I have to be oke cause I don't think you will take something less.
But if you do take me, aku akan merasa jadi orang ter-oke di dunia.
Oh... another chapter of codependent love. Aren't I tired of being a fool?
Cause it turns out being a wise girl is not that all fun.
So let me be a fool for tonight.
Sometimes I do. But most of the time , no.
Apalagi di depan kamu. I have to be oke cause I don't think you will take something less.
But if you do take me, aku akan merasa jadi orang ter-oke di dunia.
Oh... another chapter of codependent love. Aren't I tired of being a fool?
Cause it turns out being a wise girl is not that all fun.
So let me be a fool for tonight.
Rabu, 30 Juni 2010
Soniboni, Diniboni, dan boni-boni lainnya
"Kalau ada wanita lain yang bilang soni baik, belum tentu. Di mata Allah, Soni hanya benar-benar baik kalau dini yang mengatakannya." kata pak ustaz mengakhiri ceramah kawinan soniboni.
Air mata pun mengalir malu-malu dari sudut mataku _ pause bentar , Cek baby cek bulu mata masih aman _ baru gue lanjut menangis lagi. Hik hik huaaaa.
Teringat aku setahun yang lalu perselisihanku dengan soniboni di hadapan udang saus mentega di jalan cilaki. Soniboni yang baru dekat dengan diniboni gue jutekin.
"Pokoknya gue baru percaya kalau lo dah kawin ama dini," seru gue nyinyirita mengingat track record soniboni yang tanpa sengaja menggantung sejumlah korban wanita yang jatuh cinta sia-sia. I think dini deserves better than that.
Dan hari ini the boni's menikah... gue malah nangis-nangis bawang putih. Tidakkah aku bahagia? Jangan-jangan aku masih memendam cinta pada soniboni.
Karenanya, dari panggung kukirimkan sebuah lagu rayuan terakhir kepada soniboni di podium sana ... putuskanlah saja pacarmu.
Ternyata suara merduku gagal membuat soniboni meninggalkan istri barunya. Tapi gue belum pustus harapan. Gue naik podium, nyempil di antara pengantin, dan ikut nyalam-nyalam seolah-olah dini tak nyata. Gagal.
Akhirnya gue menyerah. Mungkin soniboni memang bukan untukku. Lebih baik aku mencari korban lain. First step : rebutan buket bunga.
Pyungggggggg...
Buket terlempar...
Buket sudah dalam radius tangkapan...
Aku bahagia...
Jariku menyentuhnya...
Jodoh sudah di depan mata...
Ternyata bukan jodoh. Atun yang sudah di depan mata.
Menyikut gue dan mengambil buket bungaku.
Gue gak terima!#?!
Atun gue terkam. Berusaha mengambil buket-ku... Jodohku...
Tapi jangan remehkan kekuatan desperate para thirty plus ... buketku melayang dibawa kabur atun.
Ya sudahlah. Mungkin si om ini memang lebih butuh. Kurelakan buketku.
Tapi ternyata adegan penerkaman diabadikan oleh Cina Coon dengan kameranya dan diedarkan secara ilegal di belakangku. Mengurangi pasar potensial calon suami yang ketakutan melihat gue menerkam atun demi sebuket bunga.
Monyet.
Air mata pun mengalir malu-malu dari sudut mataku _ pause bentar , Cek baby cek bulu mata masih aman _ baru gue lanjut menangis lagi. Hik hik huaaaa.
Teringat aku setahun yang lalu perselisihanku dengan soniboni di hadapan udang saus mentega di jalan cilaki. Soniboni yang baru dekat dengan diniboni gue jutekin.
"Pokoknya gue baru percaya kalau lo dah kawin ama dini," seru gue nyinyirita mengingat track record soniboni yang tanpa sengaja menggantung sejumlah korban wanita yang jatuh cinta sia-sia. I think dini deserves better than that.
Dan hari ini the boni's menikah... gue malah nangis-nangis bawang putih. Tidakkah aku bahagia? Jangan-jangan aku masih memendam cinta pada soniboni.
Karenanya, dari panggung kukirimkan sebuah lagu rayuan terakhir kepada soniboni di podium sana ... putuskanlah saja pacarmu.
Ternyata suara merduku gagal membuat soniboni meninggalkan istri barunya. Tapi gue belum pustus harapan. Gue naik podium, nyempil di antara pengantin, dan ikut nyalam-nyalam seolah-olah dini tak nyata. Gagal.
Akhirnya gue menyerah. Mungkin soniboni memang bukan untukku. Lebih baik aku mencari korban lain. First step : rebutan buket bunga.
Pyungggggggg...
Buket terlempar...
Buket sudah dalam radius tangkapan...
Aku bahagia...
Jariku menyentuhnya...
Jodoh sudah di depan mata...
Ternyata bukan jodoh. Atun yang sudah di depan mata.
Menyikut gue dan mengambil buket bungaku.
Gue gak terima!#?!
Atun gue terkam. Berusaha mengambil buket-ku... Jodohku...
Tapi jangan remehkan kekuatan desperate para thirty plus ... buketku melayang dibawa kabur atun.
Ya sudahlah. Mungkin si om ini memang lebih butuh. Kurelakan buketku.
Tapi ternyata adegan penerkaman diabadikan oleh Cina Coon dengan kameranya dan diedarkan secara ilegal di belakangku. Mengurangi pasar potensial calon suami yang ketakutan melihat gue menerkam atun demi sebuket bunga.
Monyet.
Tiada Dina, Cina Pun Jadi
Hari ini Dina nikah. Aku nelangsa.
Bukan karena gue naksir Dina _ although I do think she is gorgeous (kalau lagi gulung-gulung kabel di panggung)_ tapi karena gak ada yang nemenin gue milih baju ke nikahan Dina.
Wedding is always a nightmare to me. Biasanya Dina will come to save me from a fashion disaster. Today, dia sibuk didandani . So I am left alone fighting this battle of satin vs cotton.
Tiba-tiba datang sms dari seorang anak terlantar, Cina Coon, yang terkatung-katung di bandung tak tahu hendak ke mana.
Tiada Dina , Cina pun jadi.
Bersama Cina, aku tamasya ke Rumah Mode.
"Nggak ada korset ya, Tit?" tanya Cina takut digebuk sambil melirik baju XL yang menyempit di bagian perut.
Monyet. I'll let him go this time. Daripada ntar malem gue dinyinyirin pengantin akibat kurang trendi.
Akhirnya terpilihlah sebuah dress agak longgar masa kini dilengkapi sabuk hitam penyamar lemak perut. Gue berangkat ke medan perang telat satu setengah jam yang ternyata masih saja dipenuhi mahkluk cakep se-Bandung Raya.
Untung perut besar sudah tertutupi sabuk hitam. Jadi gue bisa tampil pede menaiki podium, menyalami Dina yang hari ini tampak gorgeous walau tak sedang gulung-gulung kabel.
"They both are so small. I thought she will pick someone dark tall and handsome." kata Kathy yang jauh2 datang dari Singapur untuk ke kawinan dina dan dini (not them together, dini is on the next day).
Gue jadi baru menyadari betapa kecilnya erias, suami dina.
Then I did langsung naksir dina. Because she doesn't pick someone dark, tall, and handsome. Plus she looks gorgeous kalau lagi gulung-gulung kabel juga tentunya.
Great wedding, erias. You are one lucky little guy.
Have an even greater marriage. Amin.
Bukan karena gue naksir Dina _ although I do think she is gorgeous (kalau lagi gulung-gulung kabel di panggung)_ tapi karena gak ada yang nemenin gue milih baju ke nikahan Dina.
Wedding is always a nightmare to me. Biasanya Dina will come to save me from a fashion disaster. Today, dia sibuk didandani . So I am left alone fighting this battle of satin vs cotton.
Tiba-tiba datang sms dari seorang anak terlantar, Cina Coon, yang terkatung-katung di bandung tak tahu hendak ke mana.
Tiada Dina , Cina pun jadi.
Bersama Cina, aku tamasya ke Rumah Mode.
"Nggak ada korset ya, Tit?" tanya Cina takut digebuk sambil melirik baju XL yang menyempit di bagian perut.
Monyet. I'll let him go this time. Daripada ntar malem gue dinyinyirin pengantin akibat kurang trendi.
Akhirnya terpilihlah sebuah dress agak longgar masa kini dilengkapi sabuk hitam penyamar lemak perut. Gue berangkat ke medan perang telat satu setengah jam yang ternyata masih saja dipenuhi mahkluk cakep se-Bandung Raya.
Untung perut besar sudah tertutupi sabuk hitam. Jadi gue bisa tampil pede menaiki podium, menyalami Dina yang hari ini tampak gorgeous walau tak sedang gulung-gulung kabel.
"They both are so small. I thought she will pick someone dark tall and handsome." kata Kathy yang jauh2 datang dari Singapur untuk ke kawinan dina dan dini (not them together, dini is on the next day).
Gue jadi baru menyadari betapa kecilnya erias, suami dina.
Then I did langsung naksir dina. Because she doesn't pick someone dark, tall, and handsome. Plus she looks gorgeous kalau lagi gulung-gulung kabel juga tentunya.
Great wedding, erias. You are one lucky little guy.
Have an even greater marriage. Amin.
Minggu, 11 April 2010
cin(T)a DVD out today
eh boooo hari ini gue mau keliling-keliling Bandung, foto-foto ama DVD cin(T)a yang dijual di toko-toko terdekat.
Huahahhahaha... norak ya gue? Abisnya gue belum pernah punya film yang dijual di toko. Ah senangnyaaaaaa.
Walaupun ada 2 hidung di awal menu DVD yang tiba-tiba mengusik mata (Padahal seinget gue dah gue minta apus) dan ada beberapa subtitle yang tidak pada tempatnya (Padahal kayanya udah gue minta geser) dll dkk dan cacat-cacat lain yang bikin gue mencak-mencak... tapi gue tetep bahagia.
Pak Ronny dan teman-teman Jive, terima kasih ya atas kerja kerasnya=D
Huahahhahaha... norak ya gue? Abisnya gue belum pernah punya film yang dijual di toko. Ah senangnyaaaaaa.
Walaupun ada 2 hidung di awal menu DVD yang tiba-tiba mengusik mata (Padahal seinget gue dah gue minta apus) dan ada beberapa subtitle yang tidak pada tempatnya (Padahal kayanya udah gue minta geser) dll dkk dan cacat-cacat lain yang bikin gue mencak-mencak... tapi gue tetep bahagia.
Pak Ronny dan teman-teman Jive, terima kasih ya atas kerja kerasnya=D
Sing A Little Prayer
Aku tertahan, tertawan
Demi pembelajaran
Persetan pembelajaran
Cuma pembenaran
Aku tertawa, tertahan
Dan pura-pura senang
Menunggu datangnya malam
Nikmati kebencian
Gue gak bisa berdoa. Tiap berdoa, gue selalu tidur. Karenanya gue menyanyi. Dan semburan di atas adalah salah satu lirik lagu gue di suatu saat dahulu kala ketika gue masih terdaftar jadi anggota barisan sakit hati.
Or so I thought.
I thought I was so over it. Hari-hari di mana dendam dan amarah muncul ke permukaan dan membuat kulit gue tidak seindah mentari. Sampai suatu dialog malam sepi ditemani seorang teman ternyata masih menggelitik kebencian di dasar hati yang kukira sudah bebas luka. Kulit gue yang indah terancam kembali korodok.
Karenanya gue menulis lirik lain yang lebih utopia dengan harapan agar si dendam terusir kembali ke dasar hati. Semoga lirik ini bisa menemani hari-hari gue ke depan yang bebas pahit hati, dan gue tetap tampil cantik apa adanya (tentunya dengan bantuan catokan, epilator, dan eye liner.)
Aku yang dulu mati demi sebuah harga diri
Kini ku bangkit berseri tanpa sisa perih di hati
Ku kan menyanyi, ku kan menari
Ku kan rayakan sebuah damai di hati
Memuji Dia yang bri arti pada hidupku ini
Yang dulu ada, sekarang, sampai slama-lamanya
Ayubkan aku selalu sampai ku rendah hati
Tak ingin lagi menjadi barisan sakit hati
Ku kan terus menari tanpa harap diberkati
Ku kan menari, menyanyi tanpa perih di hati
Karna ku yakin cinta-Mu takkan pernah berakhir
Walau ku jatuh tertatih ku kan terus menari
Menanti saat ku nanti menari dengan-Mu lagi
Beri ku hati mengalir tanpa harap dipuji
Agar ku layak nanti menari dengan-Mu lagi
Demi pembelajaran
Persetan pembelajaran
Cuma pembenaran
Aku tertawa, tertahan
Dan pura-pura senang
Menunggu datangnya malam
Nikmati kebencian
Gue gak bisa berdoa. Tiap berdoa, gue selalu tidur. Karenanya gue menyanyi. Dan semburan di atas adalah salah satu lirik lagu gue di suatu saat dahulu kala ketika gue masih terdaftar jadi anggota barisan sakit hati.
Or so I thought.
I thought I was so over it. Hari-hari di mana dendam dan amarah muncul ke permukaan dan membuat kulit gue tidak seindah mentari. Sampai suatu dialog malam sepi ditemani seorang teman ternyata masih menggelitik kebencian di dasar hati yang kukira sudah bebas luka. Kulit gue yang indah terancam kembali korodok.
Karenanya gue menulis lirik lain yang lebih utopia dengan harapan agar si dendam terusir kembali ke dasar hati. Semoga lirik ini bisa menemani hari-hari gue ke depan yang bebas pahit hati, dan gue tetap tampil cantik apa adanya (tentunya dengan bantuan catokan, epilator, dan eye liner.)
Aku yang dulu mati demi sebuah harga diri
Kini ku bangkit berseri tanpa sisa perih di hati
Ku kan menyanyi, ku kan menari
Ku kan rayakan sebuah damai di hati
Memuji Dia yang bri arti pada hidupku ini
Yang dulu ada, sekarang, sampai slama-lamanya
Ayubkan aku selalu sampai ku rendah hati
Tak ingin lagi menjadi barisan sakit hati
Ku kan terus menari tanpa harap diberkati
Ku kan menari, menyanyi tanpa perih di hati
Karna ku yakin cinta-Mu takkan pernah berakhir
Walau ku jatuh tertatih ku kan terus menari
Menanti saat ku nanti menari dengan-Mu lagi
Beri ku hati mengalir tanpa harap dipuji
Agar ku layak nanti menari dengan-Mu lagi
Langganan:
Postingan (Atom)