Minggu, 07 Februari 2010

5 minutes of fame

Andy Warhol said "In the future, everyone will be famous for 15 minutes."

But Warhol's future is a past now. Now, everyone is famous only for five minutes. And those who have tasted the sweet temptation of fame will be craving for more...

5 minutes of fame.

This became our working title for my first documentary... about dangdut, women, and poverty.

I am diving into the world of a 14 years old dangdut singer who was a winner of an American Idol wannabe show on TV. I was imagining a world full of beats and goyang and a happy musical documentary full of off style characters. That was what I had first in mind when I started this documentary, together with Sally Anomsari.

I was naive.

What do you do after all the fame has gone and you have to keep the lifestyle you have been addicted to? The "5 minutes of fame" lifestyle.

Maybe you will get yourself into a world of Dayeuh Kolot Lolita.

A Purpose Driven Life

Dear God,

Once upon a time, I read this book. It started with :

"Your life is not about you!"

It shocked me deeply. How come my life is not about me? I even made that stupid song " My life is not about me" and sang it in a church and embarrassed myself because the mic was broken. Still, I sang with all my heart.

And now, 3 years later... after all the grace You showed me, all the miracle and "goyang dulu" moments, I get to know You more and I get to like You even more. You really are a cool God, not cranky and moody and easy to put fire on me like some people said before.

But now I am back here again to a place where "my life is all about me".... damn. This world You created is really awesome, God. With all the sweet talkings and praise and all the pretty faces.... bla bla bla... And I thought I was everything, and I could do anything, and You will always be there to support me, and I will be everything I wanted to be, and suddenly... I write boring scripts.

So is there anyway that I can get back to you?

dream/dreamed/dreamt

I dreamt about you last night. You look really good naked, babe.

And when I told my friends about my obsession, they corrected my spelling instead.

Is it dreamed or dreamt?

Are you British or American?

I am neither of them. So what am I doing writing in English?

Tonight I wanna dream of a world where I can speak or write or sing any language I want, without anyone telling me I am British, American, or from some third world country who have to speak English to be understood.

And I'll make sure there is a naked 'you' in it, Babe.

Senin, 18 Januari 2010

Wrong turn?

Setiap kali ada resign clubber yang berminat kembali bekerja di perusahaan yang dia tak suka demi sesuap gaji, I always have the urge to take their hand and shout.

"No! You are going the wrong way."

Atau memberi petuah kata-kata bijak mengutip Paulo Coelho.

"The darkest time of the night is when the sun is about to rise."

Atau setidaknya mendendangkan lagu Ronan Keating.

"I hope you never fear those mountains in the distance. Never settle for a path of least resistance."

Beberapa berbalik. Menolak menjual jiwa mereka demi dunia. Dan mereka tetap membuat lagu-lagu terindah di kuping gua.

Tapi kebanyakan tetap pergi menjauh, padahal pagi sudah dekat.

Dan gue tetap diam. Tidak berani membangkang alam. Maybe they have to take another wrong turn, if there was such a thing as a wrong turn.

I pray for you, my friend. May you find whatever thing you are looking for.

I'll meet you there.

Kamis, 07 Januari 2010

Happy new year, Happy new film

Hari ini draft 1 Demi Ucok selesai. Tanpa direncanakan, gue nulisnya di tepi Danau Toba. Tampaknya gue emang ada chemistry sendiri ama danau yang semakin tak berikan ini. Tanpa diajak, gue ikut nemenin kakak gue bulan madu. Hueh!

Tadinya mereka mo pegi bedua aja. Tapi terus mami inisiatif ikut serta karena mo jual tanah di Medan. Berhubung hasil jual tanah itu akan dibelikan rumah yang akan mereka tempati di Jakarta, terpaksa mami tak bisa ditolak ikut.

Tak mungkin Mak Gondut pergi tanpa asisten. Asisten mami (papi) juga ikut dibawa. Deden yang lagi di Indonesia juga diajak. Nona kecil papi gak mau ditinggal sendiri. Akhirnya kami sekeluarga berangkat bulan madu beramai-ramai hihihi=D

Sampai di Medan, kontingen Bulan Madu bertambah. Sepupu gue, si Ambo juga ikut berbagi 'kebahagiaan' cica igit. Bahkan Bulan Madu mereka ke Israel yang diundur jadi bulan April nanti berhubung Januari lagi dingin banget (I'm talking about the weatherm, not the war) pun direncanakan untuk disertai gue sebagai fotografer dan mak gondut sebagai penyandang dana.

Di sela-sela babi, ayam, babi, udang, babi, sapi, dan lemak yang kami punahkan... gue menyempatkan diri menulis Demi Ucok. Gak enak ama Bu Danti yang sudah menagih script yang seharusnya dah gue tulis sejak tahun lalu tetapi entah kenapa belum berani gue tulis. Memulai nulis selalu naro beban berat di pundak. Takut gagal. Takut garing. Takut salah. Takut bla bla bla. I thought the second one is gonna be easier.

No, it's not.

But once I get started, dalam hitungan 6 jam draft 1 Demi Ucok udah jadi. Tentunya dengan kualitas memalukan yang menjauhkan gue dari harap-harap dapet citra yang ke dua kalinya.

Oh iya. Did I tell you we get the citra for best original screenplay?

Lepas dari penyelenggaraan citra yang lebih mirip konser musik diselingi bagi-bagi piala, dan kemenangan skrip cin(T)a yang tidak lebih bagus dari Ruma Maida, gue tetep seneng dapet citra. Emak gue jadi agak tenang sedikit setelah dua tahun was was ngeliatin anaknya luntang lantung gak jelas tanpa pekerjaan bergaji tetap yang bisa dia pamerin ke tetangga. Sekarang piala citra nongkrong di ruang tamu mami. Bahkan mak Sally belum sempat liat pialanya karena keburu dimonopoli ama Mak Gondut. Pas gue mau bawa tuh piala ke kantor, doi malah merajuk dan minta perpanjangan waktu sebulan lagi... setidaknya sampai pesta kawin kakak gue. Biar Batak se-singapur dan sigumpar tahu kalau anaknya menang citra.

Gue juga bersyukur yang menang kali ini bukan nama-nama besar, tapi kami yang bukan siapa-siapa ini. Bayangin kalau Ayu Utami atau Aria yang menang.

"Ya iyalah .. ayu utami gitu lho."

That's it. Tapi kalau gue yang menang...

"ya elah script kaya gituan doang bisa menang. Yuk tahun depan kita bikin yuk."

Nah! Setidaknya jadi tambah rame kan tuh citra tahun depan. Makanya pidato kita isinya:

1) selamat kepada FFI karena tahun depan akan dibanjiri film dari wajah-wajah baru yang bukan siapa-siapa dan nekat bikin film. (sebenernya ini gak original. Kita plagiat pidato Robert Rodriguez pas menang Sundance. Dan tahun berikutnya beneran Sundance dibanjiri film-film indie sampe jurinya kebingungan)

2) masa lulusan fisika gak boleh bikin film? Undang-undangnya ganti dong, om. (Ini juga gak original. Nyadur aspirasi John Badalu, Nia Dinata, Mira Lesmana, dll)



Karenanya kami datang dari awal dengan niat kalo sampai menang, jangan sampai kesempatan emas ini dilewatin untuk thanks to-thanks to-an. Gak ada thanks to sama sekali. Soalnya waktunya cuma semenit. Tuhan dan teman-teman bisa kita ucapin terima kasih lewat berbagai media di jaman twitteria ini. Tapi ada beberapa mahkluk yang harus diteriakin di TV nasional dulu baru mau denger. Tadinya mau pake acara nangis-nangis dan pingsan biar dramatis. Tapi pas tau beneran menang, keburu grogi.

Padahal kita dah latihan lho bo. Hilang semua speech yang sudah dipersiapkan. Bahkan sweater pun lupa kubuka. Hilanglah lagi kesempatanku menipu lelaki dengan tabur pesona di TV nasional. Percuma hari sebelumnya sudah mendatangkan khusus dina dellyana untuk milihin baju yang akan gue pakai. Blink blink menyilaukan mata.

Apalah daya sweater lupa dilepas. Jadinya si blink blink gue tak terpamerkan. Untung bulu mata sudah direkayasa sempurna. Jadinya ada segelintir mahkluk yang tertipu pesona mata indah hasil jamahan dukun Anata.

Tampaknya bulu mata sudah menjadi isu besar di hidup gue akhir -akhir ini. Katanya kalau bulu mata rontok, tandanya ada yang kangen. KAlau bulu mata palsu yang rontok, adakah yang kangen padaku selain Mbak-mbak Anata?

Sabtu, 28 November 2009

WANTED : Mahkluk-mahkluk seperti ini


Kunyir - Production Manager - Pemimpin Jamaah Al Jamuiyah, bau Minyak Tawon, sedia Tolak Angin ke mana pun. Cewe, 30 tahun, Jawa.


Jilbabe - Asisten Sutradara - Wanita berkalung silet, dan berkerudung petasan.
cewe (atau mantan cowo), 23-27 tahun, sunda.



DICARI : Produser/ Suami

Seriously. Lebih gampang nyari duit buat bikin film daripada nyari produser buat partner bikin film.

9 Matahari punya banyak proyek lain. Gue butuh produser yang bisa jadi partner gue di Demi Ucok biar gue bisa konsentrasi directing.

Gue diketawain. Di mana-mana produser yang nyari sutradara. Kok ini sutradara nyari produser? Namanya juga zaman emansipasi sutradara. Sutradara-suradara harus pdkate duluan dong.

Hihihi kalik aja gue bisa mengikuti trend sutradara-produser masa kini yang berlanjut ke jenjang perkawinan. JAdi gue bisa hahahihi bikin film sementara doi nyari duit. Jadi para produser di luar sana: adakah yang sevisi denganku?

I can't wait to meet you=D

SOLD OUT

cin(T)a di medan... abis.

Jogja... abis.

Salatiga... abis.

Surabaya... abis.

Di bangkok... cuma 30 orang. Baru tau ternyata di festival tuh kita harus publikasi sendiri.

Hari pertama 20 orang, ke dua 10 orang. But somehow it's enough=D

Terima kasih.

Jumat, 27 November 2009

Please welcome, My New Baby!




Please welcome, my new baby. Ayu Riana: The Next Rita Sugiharto=D

13 tahun, tapi suaranya... speechless.

Karya terbaru Sammaria dan Sally, yang kali ini dokumenter tapi tetep di bioskop. Abis ini Sally gak mau lagi bikin film ama gue, bisi keterusan cenah.(Padahal kayanya doi takut jatuh cinta ama gue. Aji cuma kamuflase.)

Filmnya bakalan release akhir tahun 2010. Tentang dangdut, wanita, dan kemiskinan.

roadshow

“Mbak, udah jam 5:30” seru Fitri di sela-sela kokok ayam pagi-pagi.

Hwaaa!!!

Belum mandi. Belum packing. Langsung gue sambar BH, celana disposable, laptop, baju seadanya, dan tak lupa penyelamat hidupku: catokan + hair dryer. Pesawat gue take off in 30 minutes.

Untung bandara Bandung cuma 10 menit dari rumah gue di pagi buta di mana kambing pun belum bangun ini.

Damn! Ternyata hari ini Idul Adha. Kambing udah bangun, siap2 dipotong. Pajajaran ditutup. Jalanan dipake shalat. Arrrrgggghhh... Terpaksa harus muter.

Nyampe airport, loket check in dah tutup. Delikan bulu mataku tak cukup merayu petugas untuk membiarkan gue masuk. Memble. Hanguslah ticket air asia ku yang tak refundable dan tak transfarable itu.

No debatable, aye didepak pulang. Nyoba cari tiket lain, mahalnyooo! Kerana long wiken , semua orang nak pigi kat KL. Mana katanya Indonesia krisis duit? Maaf sangat , eda dohot ito se-singapur dan Malaysia. Nangboru tak jadi datang retreat=C

Apa mau dikata... padahal dah pasang alarm jam 4 pagi. After a series of 4am morning calls, ternyata hari ini gue tepar juga, tak terbangunkan. Mungkin memang ini pertanda harusnya gue tidur saja. Atau harusnya gue di rumah saja, nulis my so long talk about script “Demi Ucok” yang berenang-renang di kepala tapi tak juga bertransformasi jadi file .doc .

Atau gue di rumah aja, ngerjain foro prewed singa – sigit yang tak juga dikerjakan, padahal dah bawa2 hard disc gede keliling Bangkok- medan- jogja- salatiga-surabaya... tapi tetep gak ada waktu untuk ngerjain foto kakakku singa tercinta. Sibuk pijat dan facial=D

Apalah daya. Aku memang wanita lemah. Tak kuat menahan bujukan John Badalu. Di mana lagi facial 16 steps dengan 9 cream warna warni? Di Jakarta biasanya facial jadi siksaan lahir batin. Teriak-teriak berasa disiksa. Beauty is hell indeed. Tapi di Bangkok beauty is heaven, baby!

Thai massage juga sejam cuma Baht 250. Cowo-cowonya lembut, curiga semuanya gay. Benarkah ini akibat mengkonsumsi makanan rekayasa genetika sejak bayi? I have no idea but ... Man! I love this city. I met mostly gay guys. I came to a point that I have to admit: I love gay guys. I think I am a gay guy trapped in a body of a girl.

Nyampe Medan, langsung creambath. Jomplang banget dibanding sensasi 9 krim Bangkok. Kucoba salon lain yang katanya paling oke semedan. Ternyata doi harus dididik bagaimana melayani tamu. Daripada diperlakukan kaya kambing, gue cabut. Dini danti langsung gue kirim SMS SOS, mnta dicarikan salon di jogja biar insiden Medan tidak terulang lagi.

Tak jadilah aku berburu lelaki di medan. Akibat bulu mataku keburu rontok hihihi. Jadi tidak bisa menipu lelaki dengan mata cling cling bersinar menarik hati. Semua gara2 salon asshole yang tanam bulu mata aja gak bisa tapi lagaknya selangit. Tapi gue tetep cinta kota ini berhubung babi dan sate padangnya menyejukkan jiwa. Nyum. Nyum.

4 am morning call di medan, akyu dan sally langsung ke jogja. Entah kenapa semua panitia di jogja langsung menatap dalam mata ini tiap berkenalan. Ternyata semua ini gara-gara DIni. Doi menginstruksikan semua panitia untuk survey tempat bercocok tanam bulu mata paling oke se Jogjakarta. Monyet. Ketahuan deh bulu mata gue rekayasa.

But they did a good job. Salonnya oke. Jadi sutradara terhindar dari low self esteem akibat bulu mata merontok.

Ternyata sampai Salatiga pun gosip terlanjur menyebar. Panitia menatap dalam mata gue. Dasar dini monyet gak demen liat orang cantik. Padahal gue dah sengaja pake batik cantik Rp 35 ribu hasil berburu di Malioboro. Peduli amat kata Danti gue kaya ubur-ubur. Peduli amat panitia menyangka gue ibu-ibu. Yang penting gue berasa kece. Heheheh.

Orang-orang nonton cin(T)a di Salatiga, gue pijit=D

Orang-orang nonton cin(T)a di Surabaya, gue pijit=D

Maklum kan gue di roadshow ini harus banyak berpikir dan meladeni pertanyaan para mahasiswa mahasiswi harapan bangsa yang pintar-pintar ini. Jadi butuh banyak tekanan untuk melegakan urat syaraf=D

Surabaya-Bandung non stop 24 jam si om Pur nyetir. Berkat om Pur pake baju loreng, kite terhindar dari tangkapan beberapa cicak berbuaya.

Nyampe ke Bandung, bela-belain macet2an langsung ngapelin my new Baby, Ayu Riana. Soalnya besok harus ke Malaysia. Gak bakal ketemu doi lagi sampe desember nanti. Ternyata doi gak di rumah.

Memble, aye pulang. Macet lagi di Pasteur. Nyampe rumah langsung tidur. Gak mandi. Gak packing.

Apa mau dikata. Takdir berkata berbeda. Alarm telah menyala, aku ngorok keterusan. Malaysia terlupakan.