Senin, 04 Juli 2016

Travel atau Kereta


Kalau naik Travel, tinggal ngesot dekat rumah. Tapi harganya lebih mahal 30,000 dari tiket kereta. Bisa dipake buat ongkos taksi ke stasiun.

Kalau naik Kereta, sepanjang jalan bisa bebas nyolok laptop, bebas kebelet, bebas jalan-jalan, dan bebas macet. Hanya harus bangun lebih pagi, naik taksi, dan menambah carbon footprint.

Akhirnya naek travel.

Gue memilih kursi paling depan, teringat dulu pernah duduk sempit-sempitan dengan bapak-bapak ngorok. Gue mencoba menutup pintunya yang mulai kropos. Sunshade-nya ditulisi 'Jangan Lupa Berdoa' dengan spidol buluk dan font berusaha metallica.

Supir mengerem mendadak. Besi-besi karatan truk aqua beserta galon-galonnya seperti berguling menuju muka gue. Memang terhalangi kaca mobil. Tapi  biasanya ada muncung mobil yang menambah jarak. Mobil ini tak bermuncung.

Pantas harus ditulisi 'Jangan Lupa berdoa'.


Next time naik kereta.

Festival Film Internasional Di Bandung


"Kita harus punya festival fillm internasional di Bandung," kata seorang filmmaker Bandung yang seperti filmmaker Bandung lainnya tidak ada yang ngeh dia Bandung. Dianggap sekotak sama Jakarta.

Berbeda dengan filmmaker Jogja yang gampang terdeteksi. Selain karena ksennya yang kelewat beda, mereka sepertinya selalu rindu pulang. Tiap  Desember banyak yang sudah mengosongkan jadwal biar bisa ke Jogja menonton/ membuat berbagai festival macam JAFF, FFD, dan banyak lagi.

Bandung beda. Bandung punya tak kalah banyak filmmaker sukses, tapi belum tentu orang tahu dia Bandung. Juga tidak ada kerinduan menyediakan waktu khusus kembali ke Bandung karena tiap hari juga bisa. Apalagi kalau nanti ada kereta cepat.

Sebenarnya Bandung potensial menjadi tempat berkarya. Musik. Fashion. Kuliner. Tapi bukan film.

Sudah sering gue dengar pengen bikin festival film internasional. Ada pemerintah banyak duit tapi kurang pengetahuan. Ada mahasiswa idealis tapi kurang perencanaan. Ada komunitas clueless yang nonton film aja gak suka-suka amat. Tapi dia beda. Dia punya pengetahuan dan jaringan yang sepertinya bisa mewujudkan festival ini.

Tapi gue selalu curiga dengan yang terlalu besar.

Sebelum gue terjerumus lagi di program-program ambisius cowo-cowo kebanyakan ego, gue harus menanyakan ke diri sendiri. Emang gue butuh festival film?

Ada satu masa gue senang sekali menonton film di festival karena gue bisa nonton film-film keren yang gak bisa gue tonton kalau gak di festival. Semenjak internet membuka kesempatan nonton semua film, legal maupun tidak, gue jadi kehilangan semangat nonton di festival. Festival cuma jadi ajang networking, bukan nonton film.

"Kenapa sih lo mau bikin festival film?"

"Bandung semakin ekstrim kanan. Kalau ada festival film kan kita bisa memperlihatkan banyak dunia lain yang lebih menarik daripada membeda-bedakan orang," katanya.


Tentunya cuma di dalam angan-angan gue.

Minggu, 03 Juli 2016

Muncung-Muncung

Tiap ketemu gue sendirian, dia selalu nanya 'udah ada pacarmu dek'. Tiap ketemu gue ama cewe, dia selalu nanya 'ini pacarmu dek'.

Hari ini gue sendirian.

"Ada kau kenal cewe buat anak ini?" tanyanya dari kursi supir ke mbak-mbak blasteran yang duduk di jok belakang yang sepertinya artis terkenal yang tentunya gue gak kenal tapi dia gak peduli padahal gue udah pura-pura cuek duduk di jok depan menatap pagar rimbun sekolahan tempat shooting teman.

"I don't know, Bang. I don't know any lesbians here. I think no one is out."

"Atau lo aja. Lo mau gak jadi lesbian?" tanya teman lain di jok belakang yang sayangnya gue kenal yang muncungnya pengen gue bungkam pakai 4 toples kue-kue lebaran di paha gue tapi muncungnya malah semakin aktif bertanya.

Mungkin si mbak blasteran menjawab tidak. Gue gak mau lihat belakang. 

Memang babi-babilah orang-orang ini.

Muncung kembali bercerita, "Gue pernah tuh dideketin lesbian. Negro gitu... gede... langsung nyosor gue trus bilang... Hey I like you, you know?"  Dia memberatkan suara menirukan si Mbak African American. 

"Aku pun kalau deketin kau kayak gitu! He! Sini dulu muncung kau itu!" kata gue sepenuh hati. Bukan pengen kucium muncungnya, pengen kubungkam pake nastar.

"Kau gimanalah mau dapat cewek kalau di pahamu ada 4 toples kue?" kata si abang supir menoleh nyinyir.

"Ini kan punya kau!" tangkis gue sebal sambil mengembalikan toples-toplesnya. Tadi diajaknya kami ke mobil dengan iming-iming mau makan siang ke Kemang. Ternyata dia cuma mau ngadem pake AC di mobil sambil makan nastar.

Toples-toples pindah ke pahanya. Langsung dikunyah.

Siap-siap mau kubalas 'pantaslah kau gak punya pacar, di pahamu ada empat toples kue'.


Gak jadi.

104,2

"Sebentar lagi 105," ramalnya kejam.

Gue meraung tak rela. Once upon a time, gue pernah 78 kg. Dan once upon a time itu hanya dua tahunan yang lalu ketika shooting Demi Turki. Saat itu Chica 103 kg.

Walaupun bilangnya 98.

Sekarang gue lebih berat dari Chica yang sudah beranak dua.

Dua minggu yang lalu gue 103. Dua minggu di Jogja dan naik gak nyampe dua kilo sih prestasi buat mahkluk lemah macam ai. Tapi...

"Kayanya gak 105 sih.  Bentar lagi 110," sabdanya semakin kejam.

Teringat dulu gue 63 waktu SMA udah paling endut sesekolah.

Pas pulang dari Amerika 85 udah dikatain raksasa sama Mak Gondut.

"Kalau pulang dari Bandung masih di atas 101, baju-baju lo yang gak muat gue ambil ya," ancamnya.

Waktunya menyempit.

Cewe-Cewe Kuliner Dan Belanja

"Kenapa sih geng cewe di film Indonesia kerjaannya kuliner ama belanja mulu?" tanya gue setelah menonton AADC 2.

"Indri ama temen-temen emang gitu sih. Kerjanya kuliner ama belanja,"  jawab Indri takut-takut. Ditambah emoji tertawa sambil keringat dingin, soalnya ini settingnya whatsapp.

Tak beranilah kubantah lagi.

"Gue taunya lo bedua kan cewe tough banget ya, Mbak. Kok nulisnya tentang cewe-cewe yang kodependen banget? Gue gak bisa relate," kata gue. Kali ini bukan di whatsapp.

"Karena target marketnya begitu."

Tak beranilah kubantah lagi. 

Lebih baik aku kuliner saja di Via Via sambil belanja di bakery-nya. 

Endes.

The Philosophy Of Less

Katanya bukunya bagus, jadi kucari-carilah donlotan e-book-nya. Gak ada yang gratisan. Yang ada hanya rangkuman: hidup gue akan lebih 'lebih' kalau gue ngerjain sedikit tapi fokus.

Sounds like a book for me.

Awali dengan mengidentifikasi 5 hal paling esensial dalam hidup gue: Karya, Cinta, Keluarga, Menikmati Karya, dan Kesehatan.  Berhubung akhir-akhir ini gue sering sakit dan menghambat empat lainnya, kesehatan jadi berasa paling penting.

Gak ada makanan. Gak ada nyoba-nyoba tempat makanan baru. Tapi kenapa gue malah menghabiskan kebanyakan jam gue di tempat makan?

Mungkin karena cinta, karya, dan keluarga semua sukanya makan. 

Hmmm... sepertinya #pertemanansehat is not a bad idea at all.

I got a better idea.

#pertemanansehatdanmurah


Sampah


Kalau ngomongin sampah, gue gak bisa gak ngomongin HIPOCRISY. Sebagai filmmaker yang kadang-kadang bekerja dengan brand yang harus jualan jualan dan jualan, I am part of the problem.  I create beautiful images for people to lure them to buy something they do not need, to impress people they do not like, with money they do not have.

Tapi gue juga korban. I need to buy their stuffs to keep a certain image and a certain level of comfort. I buy something I do not need, to impress people I do not like, with money I do not have.

Hipocrisy ini bukan hanya dosa gue. Semua yang hidup di society modern ini at one point of their life jadi part of the sin.  Bahkan mereka yang sudah sukses merintis hidup minimalis atau simple living atau apalah gak bebas 100 % dari dosa sampah. 

Kalau mau berkelit, dosa gue gak sebesar  the richest 20% of society yang meyumbang 76.6% sampah. Mereka ini pemilik fast fashion, fast food, fast housing, dan segala perusahaan yang lebih cinta keuntungan daripada lingkungan. Gue dan kelas menengah lainnya cuma menyumbang 21.9%. The poorest  20% cuma menyumbang 1.5%.  

Biar tetap kaya, pemilik-pemilik ini menciptakan perangkat untuk merekayasa nilai-nilai ke masyarakat demi memperkuat kapitalnya sendiri. Perangkatnya salah satunya adalah media, film, dan kadang-kadang gue. Umat penjunjung nilai-nilai yang sudah direkayasa itu adalah gue dan kebanyakan kelas menengah. Kadang gue gak ngeh hasilnya adalah  ketidakadilan terutama untuk kelas buruh dan ngomel-ngomel kalau mereka demo. Makin tinggi tingkat ekonomi kita, makin tidak pernah kita melihat sampah secara langsung. Semakin rendah, bahkan bisa kita hidup dengan sampah.  

Tapi gue gak mau lama-lama jadi part of the problem. Cewe munafik ini juga pengen jadi part of the solution.

Caranya ke mana-mana bawa botol minum, gak lagi beli  botol plastik sembarangan. Baju cukup 30.  Naik transportasi umum. Dan bikin film tentang sampah walau dengan resiko ketahuan munafik. 

Tapi sesuatu harus dimulai. Jangan sampai tempat ini nanti hanya dihuni sampah dan Wall E.


Indahnya Sakit

Seekor sapi terbatuk-batuk
Seekor tikus ingin memeluk
Si sapi ditepuk-tepuk
Dan dijanjikan dibawakan sup

Sapi tambah batuk-batuk



Kamis, 23 Juni 2016

Jam Kayu

Dua bulan yang lalu, gue membeli jam kayu di pameran.

"Hari Senin kita kirim dari Jogja, Mbak. Ini soalnya buat contoh."

"Tali jamnya jangan yang inj ya, Mas. Jelek."

Hari Senin tidak ada kabar.

Hari Rabu gue bertanya.

"Maunya jamnya yang ini atau ini?" whatsappnya dengan dua gambar  jam tak bertali.

Ternyata belum dikerjakan.

Bulan depannya, gue bertanya lagi.

"Minggu depan kita kirim ya, Mbak."

Minggu depannya gue bertanya lagi, "Mas, saya mau ke Jogja. Apa saya ambil langsung aja?"

"Iya Mbak ambil langsung aja."

Pergilah gue bersama Gojek.

Talinya belum bener.

"Nanti saya anter ke sekolah aja, Mbak."

Lalu...

"Nanti saya anternya sorean ya, Mbak."

Lalu...

"Nanti saya anter ke hotel aja ya, Mbak."

Lalu...

"Mbak, saya sudah di lobby."

Talinya belum bagus.

Ya sudahlah.

Selasa, 21 Juni 2016

Generasi Menunduk

"Film ini tentang tidak percaya diri. Diceritakan lewat seorang generasi menunduk yang selalu melihat HP dan pengen ganti HP setiap sekitarnya upgrade HP dengan mengorbankan apapun. Genre-nya komedi apokaliptik," kata sutradara kelompok bimbingan gue setelah gue kompori perlahan-lahan gimana caranya membuat konsep visual film ini lebih wah.

Seluruh penduduk bumi menunduk, bahkan ketika berjalan. Si penjual HP digambarkan sebagai preman berbaju pendeta, di tangannya ada keselamatan dan kebinasaan. Dengan HP dagangannya, karakter utama akan bebas dari rasa tidak percaya diri.

"Apokaliptik artinya apa, Mbak?" tanya sutradara.

"Ya kaya film-film distopia yang kamu suka. Kayak the end of the time, kiamat, pokoknya dunia ini udah mau selesai."

Dia mengangguk-ngangguk berusaha terlihat ngerti.

Gue pulang dengan puas setelah menugasi mereka melengkapi cast, lokasi, dan props sepanjang weekend.

H-1, cast belum ada, lokasi belum locked.

"Foto lokasi counter HP-nya mana?"

"Kemaren tutup, Mbak."

"Hari ini buka?"

"Nggak tahu, Mbak."

"Jadi besok kita shooting gimana?"

"Ya besok bisa kok kayanya, Mbak."

Daripada besok gue murka dan apocalypse beneran, komedi ajalah.