Selasa, 31 Mei 2016

Resign

Bah! Udah Juni lagi.

Script Kepompong Mak Gondut #1 belum juga selesai. Diundur melulu dari Januari sampai Mei. Body pun belum 63. Malah melembung ke 102.

Di detik-detik terakhir bulan Mei, gue malah pergi jemput Mami Papi ke stasiun dan makan nasi goreng 15 ribuan di 7/11.

Kenapa gue tidak lagi target oriented?

Mungkin karena gue sekarang lebih resigned. I accept that I cannot change everything. Kalau sudah waktunya Kepompong jadi, dia akan jadi.

Ini resign apa malas ya? Mungkin bukan malas. Gue stress dengan target yang gak realistis, malah malas nulis dan memenuhi tubuh ini dengan makanan yang bahkan gak terlalu enak.

Udahlah cukup 5 bulan coba hidup dengan target-target tak kesampaian. Coba sekarang gue hapus target-target ini dan jalani hidup dengan resigned. Kan kita resign club, bukan target oriented club. Siapa tahu malah kesampaian.

Eight years ago, I didn't realize 'resign' will mean much more.

Warna-Warni Di Muka

"Lo gak make up?" tanya Stella melihat gue hendak melenggang ke penutupan festival tanpa warna-warna di muka.

"Perlu ya?"

Kan gue udah mandi.

Stella pun mengubek-ngubek kotak make up gue. Semua pemberian orang. Gak ada yang gue beli sendiri. 

Pergilah gue ke sana dengan tambahan warna-warna di muka, walau tak di bibir. Lipstick Stella dua biji lagi di Mbak itu, jadi gue hanya bisa di-lipbalmin.

Setelah sesi foto, gue langsung bersyukur tadi sempat diwarna. Kalau nggak, gue pasti kucel di antara mereka.

"Beli lipstick yuk," kata gue.

"Ntar aja deh gue beliin."

Kepompongville

Gue pengen punya kandang di mana gue bisa berkarya. Gak gue aja, sekitar gue juga. Gak ada pagar, tapi cukup kondusif buat bareng-bareng mikirin ide-ide yang membuat lingkungan kita jadi lebih membanggakan dan menyenangkan. Lingkungan yang gak saling menghakimi dan lebih senang mengeksplorasi diri masing-masing.

Di sana ada juga kafe Stella. Yang masakannya enak tapi organik.  Yang bahan-bahannya dibeli dari petani sekitar. Gak papalah ada daging-dagingan. Yang penting tahu tempe dan jamur juga ada.

Di sana juga ada perpustakaan Ajo. Di mana anak-anak sekitar bisa belajar apa aja yang mereka mau. Biar sore-sore mereka gak cuma diisi sinetron Turki dan snapchat. Biar kalau si Virgo-Virgo Mokmok berkunjung, mereka ada teman dari berbagai lapisan.

Di sana ada juga tempat pemutaran. Bisa mutar film, nari, nyanyi, atau karaokean. Bisa juga reading karya-karya sastra yang gak harus ditulis di sini, tapi bisa membuat kita lebih menghargai sekitar kita. Gak lagi bermimpi bisa tinggal di luar negeri.

Ada studio film dengan green screen sederhana dan ruangan rapat multi fungsi. Ada ruang musik juga buat dia .

Di bagian belakang, ada rumah susun 4 lantai buat gue, Indri, Mas Yusuf, dan teman-teman gue yang gemar bekerja keras tapi gak mungkin punya rumah dengan sistem ekonomi seperti ini. Lantai dasarnya ada B&B yang bisa gue sewain ke turis-turis yang tertarik dengan gaya hidup kami. Atau buat Lucky Ucu Sunny Daud atau siapa aja yang lagi kabur dari Jakarta. Bisa juga buat Sally atau Anky yang kecapean ngedit dan malas pulang.

Ada kebun dan sumber air juga.  Jadi kalau Indonesia jadi perang dan kami terpaksa bekubang, kita gak akan kekurangan makanan.

"Ya dibikinlah, jangan ngemeng doang," kata si pemilik kafe.

One step at a time.  Tulislah dulu film pembawa uang itu.

Mikir Sendiri

Seorang teman mengirimkan sebuah link kuliah umum tentang oligarki-oligarki di sekitar Jokowi. Roma pas zaman budak aja perbandingan harta si kaya dan miskin cuma 10.000 kali, Amerika sekarang 20.000 kali, Indonesia eng ing eng...

630.000 kali.

"Analisanya kenapa oligarki dan kekuasaaan sejalan di Indonesia bagus sih. Hanya kok solusinya industrialisasi ya? Secara di China Ameriki sana aja industrialisasi udah terbukti gak bikin hidup buruh-buruhnya lebih baik, kok malah mau ditiru di sini," kata gue pada si pemberi link.

"Biasalah ekonom. Bukannya community development. Mungkin karena community development belum ada bukti berhasil ya?"

"Mungkin karena mindset-nya mau bikin Indonesia kaya.  Padahal kan  kita cuma butuh cukup. Gak perlu kaya."

Dalam hati, agak tersenyum. I have my own opinion now. Gak lagi ngekor pembicara-pembicara charming.

Ternyata gue udah lebih rasional.

Atau malah tambah pemimpi?

Dari Tosari Ke GI

Jakarta di Malam Minggu lebih indah dengan busway. Tak perlu bermacet-macetan bersama mobil, motor, dan Metro Mini.

Ternyata banyak babi-babi masuk jalur kami. Malam minggu bersama busway tetap diisi merayap tak sampai-sampai. Begitu sampai, ternyata tak bisa turun di Bunderan HI karena galian MRT sedang merambah haltenya.

Terpaksa turun di Tosari.

Dari Tosari, jalan sedikit sambil mengangkat-angkat pembatas belahan tetek yang terlalu rendah untuk melanggang di pinggir jalan. Kalau di mall nanti, tinggal dikasih syal biar lebih ciamik macam para penduduk subtropis. Kalau di luar sini, tambah anyeplah kalau kupakai itu syal.

Tangan kiri memegang dada, tangan kanan mendekap tas menghalau segala rupa copet dan jambret. Gue melangkah di pinggir jalan, sambil lirik-lirik belakang waspada ekor disenggol motor tak beradab. Tapi gue yang  tak beradab, ini kan jalanan mereka. Apa daya trotoar dipenuhi gerobak jualan. Terpaksalah aku turun ke jalan, dengan resiko motor ketoel ekor.

Akhirnya sampai juga di gerbang Grand Indonesia disambut tidit-tidit metal detector  yang selalu berbunyi tanpa kenal bom atau kawat BH. Asal tak terlihat budug, semua dipersilakan masuk. 

Di sini dunia yang berbeda.  Subtropis.  Ekor bebas toel.  Tetek bisa ke mana-mana, tak akan ada yang mensuit menggoda.

Pulangnya, uber ajalah.

Like My Dad

Gue membanting pintu mobil di depan seorang cowo Batak yang sebenarnya baik-baik saja tapi selalu gue judesin.

"I don't like the way he speaks. He reminds me of my dad," kata gue tanpa mikir.

"Interesting," kata seorang teman tanpa komentar lebih lanjut, membuat gue malah jadi mikir.

Kenapa gue gak suka denger orang yang gaya ngomongnya kaya Papi? Bukankah Papi selalu baik dan ada untuk gue?

Enam tahun kemudian, mendengarkan Papi ngobrol di telepon dengan seorang toke kelapa sawit sementara gue nyetir, baru jawabannya kepikiran.

Gaya Papi ngomong mengakali biar si toke kelapa sawit beli rumahnya di Medan sama dengan gayanya ngomong ke gue. Menurut Papi, itulah gaya ngomong paling tokcer untuk meminta tanpa terkesan meminta. Dipuji-puji dulu, dan diakhiri dengan pertanyaan, jangan permintaan. Biarkan si toke yang menawarkan diri, seakan semua idenya.

Kata Papi, lihai.

Kata gue, bulus tapi kebaca.

Gue bukan toke kelapa sawit. Gue anaknya. Papi gak perlu berlika-liku kalau mau minta tolong gue jemput atau pesenin tiket. Gue gak suka diperlakukan kaya some rich strangers yang harus dibulusin biar dapet maunya.

Oh...

Berbagai Cewe Keren

How do I love myself?
How do I love this girl who loves judging others so much?

"Biar perempuan-perempuan di layar kita gak kaya Dian Sastro semua," kata gue di depan banyak orang, di penutupan sebuah festival.

Did I say it out loud?

"Gak papalah ya diomongin... mumpung orangnya gak ada..." tambah gue. Just to make things worse.

Maksud gue biar cewe-cewe punya role model lain selain Dian Sastro. Biar definisi cewe keren kita gak harus menang gadis sampul, kawin ama pengusaha kaya turun temurun, dan berteman sehat. Kita butuh lebih banyak jenis cewe lain di layar kita.

Biar cewe-cewe yang gak cantik, gak kaya, dan gak sehat juga tahu kalau mereka keren apa adanya.

Biar gue tahu gue keren apa adanya.

Tapi gak perlulah bawa-bawa Dian Sastro.  There are better ways to say it.

Kita butuh jenis cewe lain di layar kita. Yang gak sempurna. Yang banyak celanya.  Yang tetap berjalan. Biar cewe-cewe yang gak cantik, gak kaya, gak sehat, dan suka salah ngomong bisa lebih nerima diri apa adanya.


Too Good To Love

How do you love a city like this?
How do you love a country like this?
Nanyanya aja pakai Bahasa Inggris

I wish this is not my home
I wish I am not one of this people
Yang mengimpor agamanya
Lalu menghakimi saudaranya

Yang bangga karena ramah
Menerima semua budaya
Sampai tidak pernah
Tahu aku ini siapa

How do I love a city like this?
How do I love a country like this? 

Mungkin masalahnya bukan kota ini
The problem is I think I was good
And I deserve something better

Mungkin kalau gue bisa nerima I am not that good
And nerimo that I love mixing things up
Nerimo that I don't know who I am... yet
Maybe we can be a bunch of resigned rejects


Like the rejects in Community

Kamis, 26 Mei 2016

Universe Conspiracy

"Tid, ada undangan VIP buat ulang tahun NET nih. Mau gak?" tanya Bang Gigit.

Dan gue langsung teringat Indri. Indri selalu bersemangat kalau ada Raisa, GAC, apalagi bonus mbak-mbak bule yang honornya bikin NET semakin bleeding tapi terlihat heits. Dia pasti bahagia kalau dikasih undangan ini. Dan gue akan sangat bahagia bisa membahagiakan Indri. 

And then it suddenly strucks me.

What if we are all actually craved to make others happy? We are all craved to mean something to others. To justify our short existence in this universe.

Ok back to Indonesian. I am not Carrie Bradshaw.

Gue bisa tahu Indri maunya apa karena Indri memang passionately consistently bilang-bilang pengen nonton Raisa, Gamaliel, Audrey, dan muda-mudi hits lain sementara Agnes Monica sibuk pacaran dan gak bikin-bikin album.  Sementara banyak teman-teman lain yang ingin gue bantu, tapi gue gak tau dia maunya apa.

Mau bikin B&B masyarakat. Mau nulis film. Gak mau jadi arsitek lagi. Mau maen film. Mau kawin. Mau jalan-jalan keliling dunia. Dan dua menit kemudian, pengen punya anak lagi.

Dan the next time gue ditanyain rekomendasi penulis baru, gue gak akan ingat dia.

Mungkin this all 'universe conspiracy' cuma masalah consistently passionately bilang-bilang terus menerus kita maunya apa biar jika suatu waktu orang punya tiket ulang tahun NET, orang pasti langsung inget kita.

Gue mau bikin film yang adil.

Rabu, 25 Mei 2016

SMS Papi

Papi 5-26 8:33
Pembantu sudah ada yg baru.

Papi 5-26 13:11
Pembantunya sudah kabur. Tks. Gbu.

Papi 5-26 19:43
Lapor. Sudah ada 2 orang pembantu baru di rumah. Semoga betah n tidak lari. Doa in ya . Tks. Gbu.

Update:
5-27
Dua-duanya kabur.

5-31
Mas Yusuf kembali kerja di rumah. Yeyyy.