Rabu, 27 April 2016

Aji Les

Di awal sembilan puluhan, Aji yang baru lulus SMA datang dari Jakarta ke Cisitu untuk les seni rupa biar bisa masuk ITB. Tapi emaknya memanggil pulang, lebih baik kuliah di Jakarta saja. Nemenin mamak.

Aji pun pulang. Les Seni Rupa sia-sia.

Di sekolah Jakarta, Aji ketemu Anky. Anky  menjodohkan Aji dengan Sally. Sally dan Aji ke mana-mana bersama, termasuk tiap ketemu gue.

Hari ini Aji mengajak gue ke tempat dia les dua puluhan tahun yang lalu.

Yang gue lihat adalah sebuah rumah yang lahir tahun 70an, dengan pagar tanaman rendah jadi bisa gosip ama tetangga, jalan sempit berbatu alam indah tapi dengan selokan yang baik,   lapangan di ujung gang yang membatasi dengan kampung tepi sungai. Gue sibuk membayangkan shooting Kepompong Mak Gondut  sementara Aji beli gorengan.

"Sering-sering main sini ya," kata si Ibu senang mencium Aji doyan jajan.

Gue mundur sedikit, melihat si rumah dari ujung kompleks garasi bersama yang memungkinkan rumah-rumah itu jalannya intim. Yang gue lihat adalah si rumah dengan latar belakang apartemen  yang menjulang dan sepertinya akan bertambah banyak dan bukan dibuat untuk si Ibu penjual gorengan.

Semua yang ingin gue ceritakan di Kepompong Mak Gondut dapat gue shoot dalam satu frame ini.

Untung dulu Aji les di Bandung.

Si Nur Pulang

Majikan pulang dari Jakarta, mengamuk menyadari Si Nur gak di rumah. Rumah harus selalu dijaga. Kalau mau pergi, harus nunggu Majikan pulang dulu.

Nur datang 2 menit kemudian, bilang dia hanya sebentar ke apotik depan, beli obat dan pulsa. Tolong jangan marah-marah, dia masih pusing. Kemaren pendarahan.

Kan Nur sudah dibawa ke dokter, kata Majikan.

Nur bilang itu bulan dokter, hanya dilihat-lihat saja entah sama siapa. Dokternya gak ada.

Gue baru tahu ternyata Nur belum ke dokter.

Majikan tetap mengamuk. Berarti selama ini Nur suka pergi-pergi kalau dia gak ada.

Nur bilang kalau Ibu gak suka, biar Nur pulang saja.

Majikan bilang tunggu ada gantinya.

Tapi sejam kemudian, Nur naik ke atas. Minta plastik sampah gue yang besar. Dia disuruh pulang, tapi gak boleh bawa tas dan baju-baju pemberian Majikan saat bersih-bersih gudang bulan lalu.

Majikan memeriksa plastik Nur. Banyak barang-barang yang dicuri Nur.

Nur bilang dulu sudah dikasih ke dia.

Majikan mendepak Nur, menguncinya di luar. Gak boleh masuk lagi.

Gue menyelipkan uang pada Nur, jangan sampai dilihat Majikan. Mungkin Nur memang pencuri. Mungkin dia suka kabur kalau gak ada orang di rumah. Mungkin dia memang ingin pindah kerja.

Mungkin tidak.

Yang jelas Nur manusia, yang punya anak, punya perasaan, dan kalau naik ojek harus bayar.

Semoga Nur mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan bisa berkumpul dengan anaknya.

Post It Di Pintu

Matahari pagi menyelinap
Hangatnya berlomba dengan AC yang dipasang di 25 tapi berasa 18
Dua post it kuning menempel di pintu
Gue terlalu malas bergerak
Menerka-nerka apa isinya dalam setengah tidur

Mungkin dari Tuhan
Siapa lagi yang usil masuk diam-diam
Menembus kunci pintu depan
Tanpa mengambil barang-barang

Mungkin isinya  menyuruh gue bangun
Membaca buku Romo Mangun
Setelah kemarin Sambo Mockbee dan Avianti Armand
Tentang arsitektur-arsitektur yang lain
Yang bukan piala buat si kaya

Ada suatu waktu dulu gue gak mau jadi arsitek
Terlalu lama, kataku
Lebih baik membuat film

Tapi gue tidak harus memilih
Gue kan bukan buruh Adam Smith
Gak harus spesifik demi produktivitas
Gue arsitek
Gue filmmaker
Gue apapun, asal bukan piala si kaya

Kalau arsitektur saja bisa, kenapa film tidak

Gue pun bangun dan siap bekerja
Post It di pintu sudah hilang
Ternyata post it hanya cahaya
Yang mengikuti matahari tanpa nunggu dibaca

Kamis, 21 April 2016

Ngomong

Kelamaan berkubang di kotak gue, gue jadi lupa betapa bahagianya gue ngomong dan didengarkan orang. I have a gift for words, kalau kata guru les Bahasa Inggris gue di zaman SMA dulu. Gue di-vote seluruh kelas sebagai orang yang paling jago ngomong.

Seperti hari ini, gue menceritakan cerita-cerita yang menyenangkan gua. Sepertinya mereka juga senang mendengarkan.

Tapi kegemaran gue bercerita sebenarnya pedang bermata dua. Seringkali gue terlalu ketagihan didengarkan dan tidak lagi mendengarkan.  Padahal cerita gue cuma menarik kalau gue banyak mendengarkan.

Banyak mendengar memperkaya gue dengan cerita-cerita seru orang lain yang akan membawa manfaat bagi banyak orang kalau diceritakan, tapi mereka tidak bisa menceritakannya. Karena gue dikaruniai banyak waktu menonton karya storyteller lain, gue jadi lebih peka akan timing dan editing agar cerita lebih fokus menyampaikan rasa.

Karena yang diingat orang adalah rasa. Kadang bahkan cerita pun bisa dilupakan.

Jadi ingatlah hari ini. Bagaimana rasanya menjadi mulut dari sebuah cerita besar. Lebih menyenangkan daripada sendirian menjadi the center of attention, ketakutan salah ngomong atau kurang keren. Rasa ini lebih menenangkan.

Dan semua dimulai dari mendengarkan.

Rabu, 20 April 2016

Ekor Bergoyang

Dari belakang, ekornya bergoyang-goyang
Sesekali matanya melirik
mencari-cari pengekornya
Memastikan si pengekor ikut berbelok

Mungkin akan tiba waktunya
Mereka akan berjalan berdampingan
Berpegangan tangan seperti pasangan

Mungkin tidak
Mungkin dia lebih ingin punya anak

Si pengekor hanya bisa mengekor
Mengikuti ke mana ekor bergoyang

Mumpung hari ini masih bergoyang

Hujan Di Akhir April

Jam 7 pagi, berasa jam 5
Matahari belum muncul
Mungkin kembali berselimut
Malas melihat hujan
Yang muncul di akhir April

Yuhuuu hujan... kau terlambat 4 bulan
Ini bulannya aku bersinar

Tapi hujan tetap bertahan
Sambil menari bersama kabut
Matahari pulang ke kandang
Mungkin Al Gore ada benarnya

Selasa, 19 April 2016

Komunitas

"Komunitas itu sebenernya PH tapi gak laku," kata seorang sutradara iklan yang sepertinya gak pernah bikin film bareng-bareng teman tanpa bayar.  Walaupun di kemudian hari gue tahu ternyata dia sering gak bayar orang walaupun bukan teman, kata-katanya masih membekas sampai hari ini.

Komunitas sering berarti no money, no profit, no legal entity, no professional background, no future...  mereka datang dan pergi tanpa ada hukum yang mengikat. Yang menyatukan mereka hanya kecintaan yang sama, kebutuhan yang sama, atau keinginan yang sama. Sampai tiba waktunya, mereka tak lagi sama.

Di dunia neoliberal yang semakin bikin gue ngerasa isolated and helpless ini, komunitas tiba-tiba menjadi jawaban. Sharing economy menjadi dimungkinkan. Tiba-tiba gue gak perlu punya mobil, gak perlu punya villa, gak perlu punya pacar untuk menikmati hidup. Bahkan gue gak perlu kenal sama yang punya mobil, punya villa, atau yang punya pacar. Semua bisa dibagi.

Bagaimana dengan film yang bukan kebutuhan utama dan dananya sampai 5 Miliar? Apakah sharing economy bisa diterapkan di sini?

Coklat Jahat

"Pi, nanti lain kali kalau beli coklat jangan yang ijo ya," kata gue saat sarapan sambil menaburkan bubuk coklat berbungkus hijau yang seharusnya diminum tapi lebih suka gue kunyah bareng roti.

"Kenapa?" tanya Papi.

"Soalnya perusahaannya jahat. Ladang soyanya di Amerika Selatan segede Eropa. Tapi petani di sebelah ladangnya kelaparan."

"Ah semua kau bilang jahat. Bisa aja itu cuma isu lawan bisnisnya," sahut Mak Gondut.

Lalu Mak Gondut lanjut bercerita tentang tontonannya tadi malam,  petinggi BPK yang kurang ajar punya account di Panama  dan betapa Ahok pasti benar.

Mending gue makan coklat hijau.

Sabtu, 16 April 2016

Pegangan Tangan

Pada suatu ketika, mereka berpegangan tangan. Walaupun sebuah cincin melingkar di jari manis si wanita.

Eh, tunggu dulu. Satunya lagi tangan cewe juga.

"Iya mereka emang sempat pacaran dua tahun," kata make up artist, sumber segala pengetahuan di dunia pergosipan. Sering dianggap gak punya telinga, padahal suaranya bisa jalan ke mana-mana.

"Bah! Kok gak cerita kau dari dulu?" kata gue kepo. Kenapa selama ini kalau ketemu kami malah ngomongin gimana caranya membuat film yang adil dan inequality dalam kru film.

Bukannya ngomongin si aktris beranak dua, bersuami sutradara, yang jatuh cinta dengan sutradara lain yang sama-sama perempuan,  putus, lalu sekarang jadian ama penata artistik yang juga perempuan.

Dan gue masih di sini saja.

Pengen pegangan tangan.

Celana Mini

Pagi-pagi ke Rumah Mode, membeli celana mini 70 ribu saja. Lumayan buat di Jakarta, gak gerah di rumah, gak basah di paha.

Test drive dululah di Bandung. Walaupun dingin menyerang, daripada pakai celana kesempitan bikin belahan pantat nampang.

"Pendek kali celana kau. Ingat, kau udah tiga puluhan, bukan anak kecil lagi!" seru Mak Gondut.

Di zaman hot pants berlomba terus memanjat melewati selangkangan, ternyata celana begini bagi Mak Gondut masih kependekan.

Hanya Mak Gondut yang bisa membuatku kangen Jakarta.