Sabtu, 27 Februari 2016

Me, Earl, And The Dying Girl

Greg memasang ipodnya ke proyektor kecil untuk memperlihatkan video buatannya untuk Rachel yang terbaring kanker. Sebenarnya masih jelek, tapi diputar juga oleh Greg karena kabarnya Rachel udah mau mati.

Video itu dimulai dengan Greg agak tertawa. Earl agak tertawa. Mama Rachel agak tertawa. Diikuti stop motion kasar 3 bantal yang terburai menjadi busa dan kembali menjadi bantal.

Rachel tersedak. Greg panik, mengira Rachel akan meninggal. Greg keluar memanggil suster, dokter, mama, siapapun.

Rachel tetap menonton proyeksi video buatan Greg walau terhalangi Greg. Muka Greg yang khawatir dipenuhi proyeksi video gambar-gambar entahlah yang membuat gue merasakan betapa berartinya Rachel buat Greg.

Itulah terakhir kali Greg melihat Rachel, mengira videonya begitu jelek sampai Rachel meninggal.

Itulah terkahir kali Rachel melihat Greg. What a beautiful last sight.

Gue menangis, tidak diam-diam seperti  Rachel. Gue menangis meraung-raung sambil mengigit-gigit kemeja putih yang sudah tercemar ingus.

Emosi tidak harus dibangun naratif.

Pergi Ke Pulau

Seorang teman khawatir dengan keadaan Indonesia yang semakin radikal di status Facebook-nya. Teman lain meng-comment dengan mengajak pindah ke Kanada, di mana Trudeau ikutan pawai pride.

Teman lain me-reply comment dengan antusias, menawarkan mengorganisir daftar formulir bareng-bareng.

Gue mengetik jangan Kanada karena menurut Vice gak seindah itu juga. Species Donald Trump masih memenuhi Kanada. Mending kita beli pulau.

Teman lain mengabari ada pulau di Fiji yang dijual USD 250,000 saja. Lebih murah dari kedai kopi di Kelapa Gading yang ditawar 30 M gak dilepas.

Gue mengusulkan udunan 25 orang masing-masing 1 M.

Teman lain mengusulkan udunan 100 orang masing-masing 250 juta.

Gue bilang di Indonesia ada yang mau jual pulau. Dekat Tanjung Pinang. Transportasi refugee lebih mudah.

Dua orang nge-like.

Lalu gue kembali jaga ponakan.

Kamis, 25 Februari 2016

Rakus

Dia mencomot potongan kue lapis terakhir sebelum garpu kecil gue menancap.

"Makan bagi dua ama lo emang harus dibagi dua dari awal. Kalau nggak, bisa gak kebagian," katanya sewot.

"Kan bisa mesen lagi."

"Jangan mesen lagi. Udah gondut."

Karenanya ketika waktunya makan Choco Oats, satu dia kasih ke gue, satu dia makan, dan satu disembunyikan di balik paha.

Dalam sekejap, Oats gue udah habis. Gue melirik-lirik pahanya, mencari Oats yang belum dibuka.

Dia membuka Oats terakhir, tapi gak dibagi. Gue cuma bisa melirik sambil pasang mata paling kasihan.

"Segigit ya," katanya menawarkan Oats. Jarinya membuat batas suci menghalangi gigi gue dari mengigigit seluruh oats.

Hap.

Gigit jari.

Isolated & Helpless

Gue bangun di lantai sebelas, menghadap jendela berlukiskan Jakarta mendung. Isolated and helpless mencari-cari matahari yang tertutup entah kabut entah polusi.

Atau isolated and helpless ini karena efek neo liberalisme seperti kata Noam Chomsky di link Facebook seseorang?     Doi bilang krisis ekonomi tahun 30an lebih menderita, tapi tidak semenakutkan sekarang karena dulu masyarakat berjuangnya bersama-sama.

Sekarang hanya buruh yang berjuang setelah terlalu menderita. Kelas menengah yang tidak lagi merasa kelas pekerja, ikut mengomel mengutuki demo buruh yang kita sangka penyebab ekonomi kita semakin terpuruk.

Bukan mereka yang menggaji kita.

Kita takut kehilangan kemapanan ini. Padahal hidup kita gak enak-enak amat.  Semua kebahagiaan akhir pekan kita tergantung belas gaji para tuan.  Kita menyia-nyiakan usia produktif kita untuk membuat perusahaan mereka semakin kaya dengan imbalan baju, mobil, gadget, dan ngopi yang  membuat kita mengira kita semakin sejahtera dan merdeka.

Lalu kita tua dan menyadari hidup  dihabiskan tanpa berkarya.  Kita menghibur diri dengan mengatakan semua kerja keras kita kan demi anak kita. Padahal mereka gak mau jadi kaya kita.

Fear, a broken society, and no strong labour movement. That is what we have made of our so called modern life.

Apalah artinya a broken society. Apalah gunanya a strong labour movement.

Gue dilahirkan udah di zaman ini, di mana strong society cuma dipelajari di pelajaran PMP tapi gak pernah dirasakan manfaatnya. Di zaman ketika Michael Jackson - Beat It sedang merajai musik Bandung. Flashdance lebih digemari dari pendongeng-pendongeng lokal. Dan G30S/PKI di-release biar generasi gue gak pernah lupa sejarah.

Tak heran generasi gue galau, mengira yang sukses itu yang besar, yang kaya, yang global. Mbak-mbak under 30 yang jualan pakaian dipuja karena masuk Forbes tanpa peduli buruhnya digaji berapa. Atau CEO yang lebih peduli font bagus daripada umur pekerja pabriknya di Cina dijadikan panutan karya laku dijual.

Jual. Jual. Jual.

Beli. Beli. Beli.

Apalah artinya a broken society. Apalah gunanya a strong labour movement. Lebih baik isolated dan helpless daripada bergabung dengan mereka para pembenci homo dan pemilik surga.

Terdiam sebentar. Sepertinya gue marah.

Marah karena takut. Benci karena marah.

Jangan-jangan kebencian gue sendirilah penyebab gue isolated and helpless.

I don't have to think like this.

Selasa, 23 Februari 2016

SMS Papi

Tuhan, kuserahkan kekerasan hati ku yg membuatku hidup semauku pd jln buntu, dan hikmat-MU saja yg menjagaku tetap berada dijln yg menuju pd semua yg baik dan berbuah. Amin.

Hosea 14:10
"...sebab jalan2 Tuhan adalah lurus, dan org benar menempuhnya."

Syaloom... Mintalah petunjuk kpd Allah, krn DIA yg mengetahui jalannya... Haleluya, Amen.TYM.

SMS Papi di pagi hari membangunkan gue. Entah ini SMS khusus untuk gue yang menurut Papi kurang baik dan berbuah, atau sekedar memanfaatkan  XL 4G LTE lagi banyak gratisan SMS.

Apa yang dimaksud jalan Tuhan oleh Papi? Besok Papi mau ketemu orang di Departemen Kehutanan biar HGU temannya yang mau bangun kompleks penambangan minyak di tanah yang sekarang hutan dilancarkan. Kalau ini menuju pada yang baik dan berbuah, mungkin Papi akan menganggap ini jalan Tuhan.

Tentunya baik dan berbuah versi Papi.

Apa yang dimaksud Jalan Tuhan oleh Hosea? Tuhan di Kitab Hosea super sensi karena Kerajaan Utara menyembah Tuhan lain. Dia menghukum mereka ke pembuangan. Nanti Kerajaan Selatan juga dibuang, meninggalkan Israel menjadi tanah orang lain. 

Apakah hidup Hosea berakhir baik dan berbuah? Kalau tidak, apakah dia bisa kita sebut tidak di jalan Tuhan?

Dan banyak pertanyaan lain yang gak bisa gue diskusikan dengan Papi.

Andai saja Papi meng-SMS ngajakin makan, akan lebih banyak yang bisa kami bicarakan.

Banyak Cara Bercerita

Dia datang naik taksi melintasi bypass dari Kemang menuju Kelapa Gading sore hari. Ada yang genting katanya.

"Gak cuma lesbi-lesbi kabupaten yang diintimidasi. Yang sekitar kita juga," katanya.

Dua teman kami didatangi kepala warga dan polisi untuk menandatangani surat pernyataan kalau mereka cuma teman yang kebetulan tinggal bersama dan tiap sore jalan-jalan berdua keliling kompleks bawa anjing. Mereka langsung pindah ke Kalibata City, tinggal di antara para pendosa yang tak gemar menghakimi.

Badan mata-mata negara pun sudah meminta semua NGO yang biasanya mendukung kegiatan LGBT  berhenti mendanai.

"Kalau kita bikin video-video mengharubiru ala iklan-iklan Thailand gitu ngaruh gak ya?"

"Bisa juga yang biasa-biasa aja, gak usah mengharubiru. Kaya film Yasmin Ahmad... atau Brooklyn. Atau kaya Yesus, mau nyeritainnya apa tapi ngomonginnya biji sesawi."

"Right. Fable is an option."

"Asal gak ngomongin LGBT doang sih... biar yang lain juga ngerasa involved."

Terlalu banyak yang menderita di negara ini. We do not want to sound like the elitist whiny spoiled brats who cares only about MY misery.

"Jadi angle-nya anti kekerasan ya," katanya menyimpulkan.

Dia kembali ke kehidupan sibuknya menjadi editor sebuah platform new media dan sutradara. Sementara gue kembali ngejagain ponakan-ponakan gue sambil membacakan mereka cerita Nina Bobo tentang neoliberalisme yang membuat banyak petani kehilangan tanah  sementara mamak mereka bekerja memperkaya Citigroup.

"Brrrrrrrt," kata si Shema menggetarkan bibirnya.

Mungkin Shema bosan. Gak ngerti juga gue bahasa bayi-bayi ini.

Gue lanjutkan membaca cerita kenapa negara-negara kaya gemar menanam makanan di negara miskin dan negara miskin dengan senang hati memberikan lahannya asal dikasih hutang buat  bangun kereta cepat dan jembatan.

"Brrrt."

Ganti cerita tentang reklamasi Teluk Jakarta.

"Brrrt."

"Kalau mau cerita harus pakai gaya dan intonasi, gak boleh datar," kata mamaknya.

Gue mulai mengangkat tangan dan berjingkrak ala monster, menceritakan sejuta hektar tanah di Merauke yang ditanami kelapa sawit dan tebu tanpa peduli nasib penduduk asli.

Shema mulai mendengarkan.

Mungkin bercerita memang harus ala monster.

Minggu, 21 Februari 2016

Membersihkan Minyak

Setengah botol besar minyak kelapa sawit gue tuang ke penggorengan  untuk menggoreng selusin tahu putih. Gak bisa kurang, karena badan tahu harus terendam semua. Setelah selesai, gue coba masukkan ke tempat minyak biar bisa dipakai lagi, malah melimpah keluar. Tambah satu tempat minyak. Masih meleber memenuhi table top.

Sebanyak ini minyak hanya untuk selusin tahu.

Gue tangkupkan handuk kaki agar minyak gak menetes ke bawah table top. Gue gosok table top dengan berlembar-lembar paper towel. Disusul dengan berbusa-busa sabun. Dan berkali-kali bilasan air.

Masih terasa licin di tangan.

Gosok lagi.

Begini susah membersihkan minyak dari table top dan wajan. Bayangkan membersihkan minyak dari dinding usus dan terowongan darah.

Belum lagi membayangkan bagaimana minyak ini dibuat. Berapa hutan ditebang. Berapa si amang terbakar. Berapa bayi tersedak asap.

Kenapa minyak kelapa sawit masih dibiarkan?

"As long as 20 percent of the population keep snorting that shit, it's better if we keep it in order," kata seorang agen CIA memberi pembenaran kenapa CIA malah terlibat mengatur perdagangan obat terlarang.

Memang bukan minyak kelapa sawit, tapi logikanya sama.

Selama masih ada orang yang menggoreng pake minyak kelapa sawit,  produksi minyak kelapa sawit akan terus berjalan. Legal ataupun tidak.

Waktunya untuk tidak lagi menggoreng.

Sabtu, 20 Februari 2016

Berbagi

Menulis tentang berbagi di apartemen lantai sebelas yang ditinggali sendiri membuat gue merasa seperti mencari cabe di ladang jagung. Makanya mungkin sudah Februari, gue belum juga suka draft ini.

Suatu waktu dulu, pernah gue gemar berbagi. Waktu itu gue baru baca cerita soal seorang biksu yang memberikan hadiahnya buat biksu lain yang menurut dia lebih pantas menerima.  Biksu lain itu malah memberikan hadiah itu pada biksu lain yang lebih pantas. Akhirnya hadiah itu terus dioper sampai akhirnya kembali lagi ke biksu pertama. Si Biksu pertama menikmati hadiahnya dengan bahagia setelah tercipta sebuah circle of joy yang menyentuh semua biksu.

Saat gue muda, gak punya tanggungan, dan gaji dollar datang tiap bulan, berbagi memang lebih membahagiakan. Setelah lima tahun membangun perusahaan sendiri dan belum juga financially stable, berbagi jadi begitu menyeramkan.

Bagaimana kalau nanti gue kekurangan?

Dulu gue percaya gue gak akan kekurangan. Dan gue gak pernah kekurangan.

Setelah gue merasakan hidup dengan yakin gue pasti dicukupkan, sekarang kok bisa gue ketakutan kekurangan?

Mungkin gue kurang beriman. Mungkin gue lebih berpengalaman. Mungkin dulu gue hanya delusional.

Mungkin itu yang harus gue tulis. Tentang orang yang dulu gemar berbagi, sekarang ketakutan kekurangan dan hidup sendirian.

Jumat, 19 Februari 2016

Zootopia

Seekor kelinci ingin jadi polisi walaupun Mama Papa menyuruhnya menjadi petani seperti 250 saudaranya. Seekor rubah ingin jadi pramuka walaupun semua mamalia bilang rubah cocoknya jadi penipu. Seekor domba ingin jadi walikota walaupun warga lebih memilih dipimpin singa.

Lewat cerita sederhana soal kelinci pengen jadi polisi, Zootopia bisa ngomong soal rasisme dan prejudice tanpa menuding. Bahkan gue bisa bersimpati pada si antagonis.

Gue cuma pengen bikin film dengan cerita sederhana kaya gini. Tapi skenarionya ditulis dengan baik, tanpa ada elemen gimmick yang gak membangun cerita. Karakternya menarik dan bisa mengingatkan gue sama orang-orang sekitar. Endingnya memberi harapan kalau kita bisa jadi apapun tanpa sok bijaksana.

Tulisan gue endingnya pasti lebih dark sih. Bukan "from zero to hero". 

Bukan juga "from zero to zero".

"From zero to zero but somehow it's enough" sepertinya sudah menjadi impian hati ini ketika mengetik. Gue menulis untuk memberi diri gue harapan.

Gak bisa ya satu draft langsung kaya Zootopia?

Buat orang kebanyakan mau kaya lo? Nggak deh. Harus berulang-ulang biar semua kecentilan dan kesokbijaksanaan hilang dari permukaan jadi kita bisa menyelam lebih dalam.

Cus menyelam.

Kamis, 18 Februari 2016

Demi Apa?

"Muka lo kok gitu sih?" tanyanya.

"Muka gue gimana?"

"Kaya mau bilang nih orang banyak banget sih maunya."

"Emang banyak maunya. Hari ini aja udah ada tiga cita-cita. Bingung gua mau bantuin yang mana."

"Gue jadi merasa dilecehkan."

Mungkin dia tidak perlu bantuan. Mungkin dia hanya perlu didengarkan. Mimpinya tidak perlu diwujudkan.

Tidak semua orang ingin hidup seperti gua. Demi mimpi dan cita-cita. Ada yang lebih mengutamakan keluarga. Ada yang lebih mengutamakan mobil. Ada yang gak tahu maunya apa.

Semuanya berakhir sama.

Sia-sia.

Apalah manfaat menghakimi. Hanya menambah penat di hidup yang sekejap di  antara gelombang-gelombang Black Hole ini.

"Besok mau nonton apa?"