Minggu, 31 Januari 2016

Arisan Lima Juta

Papi mau minjam uang lima juta. Mau ada arisan Marpaung di rumahnya.

"Kok mahal banget arisan aja lima juta?" tanya gue yang baru pertama kali ini seumur hidup dipinjam duitnya ama Papi.

"Ini kan kebanggaan, harus kita service. Biasanya arisan Bonataon itu gak pernah di rumah boru."

Artinya:

Ini kebanggaan buat Papi yang seorang Simanjuntak. Biasanya arisan tahun baru selalu dilakukan di rumah yang suaminya bermarga Marpaung. Ini kan yang Marpaung itu istri Papi, Mak Gondut.

Karenanya Papi hari ini memesan babi panggang karo di tempat terbaik. Nur mengupas kentang berkilo-kilo. Mak memasak ikan berekor-ekor.

Semua untuk menyambut datangnya para hula-hula.

Artinya:

Para lelaki dari marga Mami.

Yang datang hanya 20.

Mami membungkusi ikan dan babi yang berlimpah untuk dibawa pulang lalu pergi tidur dengan sedih.

Sabtu, 30 Januari 2016

The Quiet Film

"Sepi kali... kayak bukan nonton film," kata Mak Gondut kecewa setelah nonton Siti.

Berbeda sekali dengan reaksi gue dulu ketika pertama kali nonton Siti. Gue terdiam, tidak berkomentar. Diam-diam dalam hati berjanji tidak akan lagi mengacuhkan mbak-mbak penjual peyek. Gue berjanji akan membeli dagangan mereka walaupun gue gak suka peyek.

Diam yang sedih bercampur bahagia. Sedih karena Siti sepertinya tidak punya pilihan, sementara gue di sini berkelimpahan. Walau tidak ada adegan melankolis berdoa menangisi nasib diri sendiri, gue tetap peduli pada Siti. Bahagia karena akhirnya ada film Indonesia yang membuat gue peduli sama karakternya.

Setelah mempromosikan Siti di sebuah whatsapp group mantan arsitek ITB, ada satu orang yang berhasil dirayu menonton walau harus meninggalkan anaknya yang sakit. Dia sedih karena di satu bioskop hanya ada dua yang menonton.

Tapi gue tidak sedih. Gue sudah menyangka film seperti Siti tidak akan ramai ditonton. 

Mungkin saat ini dunia lebih suka film-film yang bersuara lantang. Makanya Carol yang isinya pandang-pandangan gak masuk nominasi Best Film. Dan Brie Larson yang teriak-teriak di Room dianggap lebih mampu ber-acting daripada  Saoirse Ronan yang menggambarkan perubahan si cewe Brooklyn hanya dengan cara bernapas dan menatap.

Bukan berarti dalam sepinya, mereka tidak meninggalkan jejak di hati.


Jumat, 29 Januari 2016

Berani

Oscar season is here. Gue berkubang di kotak gue di lantai 11, marathon berbagai film heits dari satu pelosok dunia. Hollywood.

Ternyata Amerika dulu sangat ketakutan. Takut masuk neraka sampai lesbian dianggap tindak kriminal. Takut sama presiden, sampai lupa kalau tugas stasiun berita adalah mempertanyakan. Takut komunis sampai memenjarakan penulis-penulis terbaiknya. Takut kelihatan gak macho sampai memilih pemimpin aktor-aktor sok macho sok bijak yang di film kayanya bijaksana.

Tapi selalu ada orang-orang berani yang ingin berubah. Kalau Amerika bisa berubah, Indonesia pun bisa.

Lalu baca kenapa Donald Trump mungkin jadi the next president. Banyak white Americans yang takut mereka gak lagi diurus dan lama kelamaan tergerus imigran. Mereka mau Amerika yang dulu.

Ternyata Amerika belum berubah.

Sejarah selalu berulang. Manusia ketakutan selalu tampak lebih mendominasi. Tapi hanya mereka yang berani yang akhirnya dibikin jadi film diperankan Cate Blanchett.

Lawannya takut bukan berani.

Cinta.


The Bah Big Short

Sudah banyak dokumenter tentang Krisis Ekonomi 2008 yang gue tonton. Baru kali ini gue nangis.

Mungkin karena yang ini bukan dokumenter, more dramatization. Mungkin karena gue lagi mens. Mungkin karena sekarang udah punya ponakan, lebih takut masa depan mereka disetir bankir-bankir tak bernurani.

Ada waktunya dahulu kala gue kagum dengan bankir-bankir bergaji ratusan juta.

Nggak lagi.

"Cepetan resign deh," kata gue sama kakak gue yang kerja di satu dari tiga bank paling serakah di dunia. Sewaktu kuliah, bisa kerja di sana sepertinya membanggakan.

Nggak lagi.

"Yang jahat kan yang di New York sana, Tid. Kaya gue-gue gini ya taunya kerja aja, dapet gaji, buat anak-anak."

Lalu dia menceritakan pekerjaannya, menganalisa performa kartu kredit. Semakin macet, semakin disukai. Justru yang kaya gue, yang selalu bayar tepat waktu, gak menguntungkan buat bank.

"Sayang bakat dan waktu lo kalau diabisin buat memperkaya sistem yang cuma untung kalau orang lain rugi. Mending lo kerja di perusahaan yang gajinya lebih gede, deket rumah, jamnya lebih manusiawi, lebih bermanfaat buat masa depan Duo Mokmoks"

"Kau carikanlah."

"Emang gaji lo berapa sih? Kita majuin Kepompong Gendut aja."

Hampir 500 juta.

Bah.

Rabu, 27 Januari 2016

Love Over Stupidity

Mak Gondut nge-whatsapp sebuah berita yang sepertinya dia copas dari whatsapp lain yang copas dari web aceh cyber berdesain ala matrix reloaded yang dicopas dari online sebuah koran terbelakang yang dikutip dari seorang Menteri Agama yang melihat LGBT hanya dari sudut pandang agama versi dia sendiri.

"Masyarakat hendaknya tidak menyalahkan dan menyudutkan pelaku LGBT, mereka adalah korban yang perlu bantuan."

Gue memilih tidak menjawab whatsapp Mak Gondut. Di saat banyak  hal yang seharusnya diurusi agama terjadi di dunia malah tidak mendapatkan bantuan, berdebat soal LGBT boleh atau tidak menjadi menjemukan. Korban perang Siria yang ditolak di mana-mana, misalnya.

"Perilaku LGBT bisa saja disebabkan oleh genetik atau keturunan dan faktor lingkungan yang telah menjadi gaya hidup. Mereka ini seharusnya dapat dirangkul dan diayomi serta dibimbing agar mendapatkan solusi yang terbaik."

Gue juga tidak akan mengkhotbahi betapa homoseksualitas sudah ada di semua spesies sejak dahulu kala.Kalau mereka mau mereka bisa baca sendiri. Tapi kalau mereka ada waktu membaca lebih baik membaca kenapa Arab Saudi bisa sesuka hati ngebom Yaman.

Mungkin karena didukung lingkungan, tetmasuk the big brothers Inggris dan Amerika. Arab Saudi ini seharusnya dirangkul dan diayomi agar tidak terus menerus membunuh orang demi keuntungan dagang senjata dan minyak.

"Bahkan, bisa saja mereka sebenarnya tidak ingin terus-menerus berperilaku seperti itu. Mereka bisa saja ingin bebas dari masalah yang mereka rasakan."

Ah itu kan perasaan sok tahu bapak saja. Gue sudah menerima kok kalau gue memang diciptakan begini, dan tidak ingin menjadi orang lain yang sesuai standar baik seorang menteri yang tidak berusaha mendalami masalah dan hanya menjawab berdasarkan komentar populer.

Lebih baik kita bersama-sama membicarakan hal-hal yang kita bisa sepakati. Hal-hal yang membuat lingkungan hidup kita lebih baik. Gak usah jauh-jauh ke Yaman dan Siria.

Bisa dimulai dengan gimana caranya si Nur yang kerja di rumah kita demi anaknya di kampung bisa merasa lebih berarti. Atau industri film yang akan dihapus dari Daftar Negatif Investasi dan dampaknya pada budaya dan ekonomi kita.

Selasa, 26 Januari 2016

Mamak-Mamak Beranak Kembar

"Tujuh ratus lima belas ribu rupiah," kata si mbak-mbak kasir spa.

Gue kaget. Kirain paling lima ratus ribu.Tapi gue udah terlanjur janji bayarin Chica nyalon. Minggu depan Chica kembali bekerja setelah empat bulan ngurusin Duo Mokmoks.

Chica pengen resign dan konsentrasi ngurusin Duo Mokmoks. Tapi dia takut gak punya uang. Takut anaknya malah jadi anaknya pengasuh. Takut kehilangan momen-momen ngerangkak Duo Mokmoks. Takut bosan di rumah dan malah jadi mamak kejam.

Karenanya biarlah hari ini dia leha-leha. Uang kan bisa dicari.

"Biar kakinya gak tebel kaya gini, mending tiap malam pakai baby lotion trus dibungkus kaos kaki, Mbak," kata terapis Chica sambil mengamplas telapak kakinya.

"Udah gak kepikiran, Mbak. Saya baru ngelahirin anak kembar."

"Saya juga baru melahirkan anak kembar, Mbak. Ini saya baru masuk lagi kerja," kata mbak-mbak terapis.

Sama-sama kembar cewe. Sama-sama baru empat bulan. Umur si Mbak pun sama dengan Chica.

Berat badannya beda sih.

Sambil terus mengasah kuku kaki Chica, dia menceritakan kedua anak kembarnya yang dua-duanya di bawah dua kilo. Karena dia gak punya uang bayar NICU yang sehari lima juta, anaknya tiga hari langsung dibawa pulang walaupun masih kuning. Tiap hari dia sinari sendiri dengan botol Coca Cola diisi air dan dua lampu sebagai pengganti NICU 5 juta.

"Untungnya udah 2.5 kg sekarang... jadi saya bisa kembali kerja."

"Gak takut ninggalin anak di rumah, Mbak?"

"Ya kadang satu saya bawa kerja juga, Mbak. Satu ditinggal sama mertua."

Sore itu Chica pulang dengan lebih tegar, menyadari kalau banyak yang lebih harus berjuang.

Memang sudah harusnya kami nyalon.

Senin, 25 Januari 2016

Berbagai Baju Dia

"Jadi gitu dek caranya presentasi ke client," katanya.

Ini pertama kalinya gue bekerja sama dengan dia, mengikuti proses dia mulai dari cari ide sampai nanti shooting, ngedit, dan presentasi lagi. Dia memang berbeda di depan client dan di depan kami. Hanya bajunya saja yang selalu hitam.

Walau cari idenya hanya 5 menit, ditulis hanya dalam waktu 5 menit karena dia lanjut mau kencan,  di depan client dia bisa mempresentasikan dengan meyakinkan, menggunakan frase-frase berbahasa Inggris yang seperti dipanen dari brandbook client.

Tiga jam gue mikirin ide cerita gak ketemu karena banyak batasan. Lokasinya harus satu. Harus bisa menarik orang selama 80 menit. Dan yang paling penting, product client harus masuk.

"Macam film Circle itu aja lah. Udah nonton kan kau?"

Gue mengangguk walau ternyata yang gue udah nonton Signs. Untung Circle ada di Netflix.

Sepertinya dia sudah menonton semua film di dunia. At least semua film yang premisnya bagus, bukan yang kata kritik bagus. Makanya bisa bikin ide cerita 5 menit jadi.

"Jadi begitu dari kami. Next kami akan...," katanya mengakhiri meeting. Tidak membiarkan client mengatur jadwal kami. Waktu kami sangat berharga.

Dalam hati gue bersyukur bisa mengamati cara dia bekerja dari dekat.

Selama makan siang, tidak ada obrolan soal film sedikitpun. Dia menceritakan seorang berondong beragama yang dia sosor di Facebook.  Sudah beda lagi dengan berondong kencan kemaren.

"Aku pengen kawin lah, Dek..."

"Lah abang pacaran tiga tahun aja bosan,  kok bisa pengen kawin?"

"Pesanlah dulu... pesan..."

Gue menyisir menu, tidak lagi ngomongin kawin.

Dia berbeda ke tiap-tiap orang. 

Minggu, 24 Januari 2016

There Is Enough For Everyone

"Jadi ibu kan bayar saya 90 ribu. Saya dapat 90 ribu kurang 20%. Yang punya mobil dapat 90 ribu kurang 20%," kata si supir sebuah taksi aplikasi.

"Lah terus perusahaan apps taksi ini dapat apa?" kata gue yang menghitung-hitung si apps taksi malah tekor 60%.

"Ya itu saya nggak ngerti, Bu. Bisnis sekarang udah gak konvensional lagi. Untungnya bisa dari informasi. Macam whatsapp yang merugi terus aja malah dibeli gede ama Facebook."

Atau memang bisnis ini bukan untuk nyari duit, tapi nyari data untuk menguasai 99% penduduk bumi yang tahunya hanya bertahan hidup. Toh the top 1% sudah punya 99% kekayaan dunia.

Sistem uang di dunia ini semakin tidak masuk akal. Dibuat sedemikian rumit agar yang miskin semakin tak paham dan yang paham semakin kaya.

Padahal tidak harus begini.

Bayangkan sebuah dunia di mana semua orang berkecukupan. Tidak ada yang perlu dibeli atau dijual. Semua bisa bepergian dengan cuma-cuma. Semua orang bisa fokus ke legenda hidup mereka dan tidak perlu mengerjakan hal yang mereka gak suka karena semua sudah berkecukupan. Semua orang tidak perlu merasa superior untuk mengobati insecurity mereka karena semua sudah happy menjalani hidup yang sesuai the joy that is only in their heart.

Tapi, selama gue masih butuh uang, gue tidak akan pernah bebas.

Apa sih yang gue butuh sampai harus pakai uang?

1. Tagihan air/ listrik/ pajak. - Ini gue udah salah banget sih karena tinggal di apartemen yang bisa sesuka hati bikin tarif. Seharusnya gue tinggal di rumah yang bisa bikin energi sendiri. 

2. Transportasi. - Kalau gak terlalu perlu, gak usahlah gue pergi-pergi. Lebih baik eksplorasi sekitar gue dengan lebih mendalam. Kalaupun harus pergi-pergi, public transportation is better. Jangan nambah-nambahin beban diri dan planet dengan beli mobil.

3. Makanan/ minuman. - Diet. You need that. Dan kalau sudah waktunya nanti, tanam sendiri. Cari rumah yang dekat sumber air yang belum terjamah perusahaan air minum.

4. Baju. - bikin sendiri? atau at least beli yang dibuat dengan fair trade dan tahan lama. Jangan berpartisipasi bikin Bodat-Bodat tambah kaya. OMG semakin nomor 4 kok semakin mirip Gandhi ya? Gue dah telat puluhan tahun.

5. HP/ Informasi/ Hiburan. - Internet adalah teknologi yang membuat gue bersyukur hidup di masa kini, membebaskan gue nyari informasi dari media alternatif, gak cuma dari media besar yang isinya dikontrol. Mungkin gak ya gue nanti gak pake HP? Benar2 berkomunikasi lewat wifi aja?

6. Kesehatan, termasuk pijit. - Kalau gue makan lebih sehat dan jalan lebih banyak, harusnya biaya ini bisa dihilangkan.

Tinggal di desa jadi semakin menarik.

Sabtu, 23 Januari 2016

Fat, Sick, and Nearly Dead

Seorang eksekutif muda 41 tahun beratnya 145 kg, dan kebanyakan kilo extra ini ngumpulnya di perut. Kegendutan ini membuat dia banyak muncul merah-merah di kulit dan harus makan obat terus menerus. Bosan seumur hidup makan obat, dia memulai revolusi diri dengan makan hanya juice buah dan sayuran selama 60 hari.

Hasilnya tidak hanya gatal-gatalnya hilang, beratnya pun sekarang 90 kg.

Lalu dia membantu seorang supir truk dengan penyakit yang sama persis dengan dia. Beratnya 250 kiloan, udah cerai dua kali, dan sepertinya dari caranya berjalan tidak punya lagi kebanggaan diri.

Kadang-kadang kegendutan memang mencerminkan gak sayang diri sendiri.

Karenanya, gue kembali melirik resolusi awal tahun. Setelah tahun baru yang dipenuhi coklat cheesecake dan tiramisu, berat gue 99,6 kg. Hampir sebulan berlalu, berat gue sempat 95kg. Tapi pasca berkunjung ke Ruku dan meeting dekat Ketoprak Ciragil,  berat gue kembali 99,6.

Melihat mereka, sepertinya 55 kg dalam 6 bulan masih terlihat sehat.  Berat ideal gue 55, jadi cukuplah 45 kg dalam 6 bulan.

170 cm dan 55 kg gue jadi kaya apa ya?

Google...

Jessica Alba.

Siapa sih Jessica Alba?

Sedih banget kalau gue diet cuma biar mirip Jessica Alba.

Tapi yang paling menarik dari dokumenter ini, setelah dia jadi 90kg dia jadi punya banyak duit karena pengeluarannya berkurang drastis. Dia jadi bisa invest duitnya di salah satu fashion designer lokal.

Kalau gue diet dan mengurus, gue gak perlu lagi beli baju di H&M dan M&S dan fast fashion lainnya. Bisa beli baju lokal yang biasanya gak ada buat orang gendut. Maybe in time gue bisa invest di fashion lokal yang fokus ke plus size women.

Baru deh 'dangdut tali kecapi biar gendut yang penting seksi' gak jadi slogan lucu-lucuan doang.

Jumat, 22 Januari 2016

Annual

"Jadi mereka mau bikin screening yang annual, nah pas kan tuh ama visi acara lo. Kalik aja bisa kerjasama."

Lalu kami melanjutkan ngobrol soal screening yang ingin dia kerjakan di Bandung. Konsistensi menjadi kunci penting. Harus annual.

"Maksud lo rutin kali ya?" katanya setelah annual gue yang entah ke berapa.

Ternyata annual artinya tahunan.

"Iya maksudnya rutin," jawab gue malu.

Selain konsistensi, penggunanaan bahasa yang gue tahu artinya juga penting.

Konsistensi artinya apa ya?