Minggu, 10 Januari 2016

Yin dan Yang

Mereka berpelukan. Nemplok seperti yin dan yang, bergumpal saling mengisi.

"Kalau lo dah punya pacar, kita masih bisa pelukan kaya gini?" tanya Yin.

"Bisa. Tinggal diatur jadwalnya," jawab Yang.

Yin mentoyor kepala Yang, mendorong Yang lebih menggumpal masuk ke dada Yin.

Yin dan Yang datang dari dua dunia yang sekilas serupa tapi berbeda. Mereka terlihat indah ketika disatukan dalam sebuah lambang yang menjamuri kuil-kuil Budha.

Di toko alai Cihampelas gak indah lagi sih.

Untuk menggumpal berdua membentuk lingkaran sempurna, terlalu banyak yang harus mereka lawan.

Yin harus terus melingkar, mengikuti gerakan Yang yang selalu ingin menjadi bentuk  di dunia yang menurutnya terlalu putih. Yang juga harus terus melingkar, mengikuti  gerakan Yin yang selalu ingin putih bersama dunia sampai tak tahu dia siapa.

Di dalam Yin, ada sebuah hitam yang akan terus ada di sana.


Di dalam Yang, ada sebuah putih yang akan terus di sana.

Grow Up

"Email ini saya kirimkan atas inisiatif saya sendiri mengingat jadwal workshop yang semakin dekat dan kesibukan mentor-mentor yang padat," kata koordinator project yang perasaan tahun lalu masih peserta.

Sudah dua bulanan sejak nama gue diumumkan  akan menjadi mentor di salah satu workshop film bikinan dia. Baru hari ini gue ditanya kesediaannya.

Profesionalisme memang bukan kebanggaan PH merangkap yayasan mereka. Setiap gue kerja dengan mereka, selalu saja diawali dengan makan-makan seru di salah satu tempat makan terenak di Jakarta yang kok dia tahu aja, lalu diakhiri dengan gue  bersumpah gak akan kerja lagi dengan dia.

Tapi lalu dia ngirim cheese cake in a cup, dan gue teringat lagi betapa menyenangkannya makan-makan dan ngobrol bersama dia. Lalu lupalah gue akan sumpah gue.

Seperti  natal kemarin.

Cheese cake darinya membuat hari ini gue kembali galau bilang iya atau nggak. Apalagi dua teman persekutuan gue sudah tercucuk hidung.

"Gue pengen ketemu filmmaker-filmmaker baru," kata yang satu.

"Ilmu lo tuh harus dibagi," kata yang lain, membuat gue tambah galau.

Ditambah setiap kali gue bikin film, dia selalu membantu. Gue gak akan begini kalau bukan karena bantuan dia.

Tapi itu juga mungkin makanya dia sesuka hati. Generosity is power.

Gue gak boleh begini terus. Waktunya grow up dan berdiri sendiri.

"Sorry kali ini gue gak bisa ikutan. Mau nyiapin film baru."


Amin.

Bosan Di Bandung

Hari ini gue sampai di Bandung dengan berbagai To Do List yang lebih murah di Bandung.

Potong rambut di Black Salon.

Nambal gigi di Dokter Betty.

Makan-makan di The Kiosk, sekalian ulang tahun Stella.

"Di Bandung tuh bosen ya. Mau ngapain coba? Paling makan, nonton..." tanyanya.

"Makanya kita harus bikin film deh. Pokoknya tahun ini Dongeng Bawah Angin dan Kepompong Mak Gondut harus jadi," jawab gue sebagai solusi membuat Bandung tak membosankan.

Indri memandang gue sambil mengangkat alis kanannya. Mungkin mau bilang 'ah atid mah tahun lalu juga bilang gitu', tapi takut gak dibayarin makan.

Tapi kalau tidak tahun ini, mungkin tidak akan bisa lagi.

Rumah Mak Gondut sepertinya akan segera dijual. Rumah ini bukan milik doi, tapi milik TNI-AD yang bisa dia pakai sampai mati. Tapi itu kata Menkopolkumham.  Beda dengan Kepala Staf Angkatan Darat yang maunya semua pensiunan keluar dari rumah Angkatan Darat.

Karenanya, shooting Kepompong Mak Gondut harus secepat mungkin. Bikin film action kaya Kepompong Mak Gondut di Jakarta pasti mahal sekali.

"Ya udah nonton aja yuk. Ada film apa sih?"

"Star Wars aja yuk."

"Aduh gue gak suka nonton Star Wars. Cowo banget."

"Yang kali ini beda kok.  Pemeran utamanya cewe."


Semakin banyak film action dengan pemeran utama cewe. Another sign for Kepompong Mak Gondut.

Lipstick Purbasari

"Dulu gue sempat kudus, dua bulan," katanya menceritakan saat-saat si Boru Juntak kecil berbaju ungu-ungu itu baru lahir.

"Trus ya kembali ke asal, kan udah ada bapaknya yang ngurus. Sampe bapak gue bilang 'lebih banyak  kulihat waktumu begaya daripada ngurus anak. Sebel kan gue...," katanya sambil memakai lipstick Purbasari 12 ribuan kalau beli 12 biji di Tokopedia. 

Kalau di Pasar Tebet bisa satuan tapi 50 ribu.

"Tapi gue ingetlah warisan itu, jadi kudus lagilah gue," katanya sambil tertawa riang.

Bapaknya  dulu mantan direktur salah satu perusahaan telekomunikasi nasional.

Saat itu di rumah Opung, ngumpul-ngumpul tahun baru seperti biasa. Tapi ini pertama kalinya sejak Opung meninggal. Dia mungkin tidak sadar atau terlalu cuek. Obrolan warisan sensitif di sini. 

Makanya gue lebih suka duduk dekat-dekat dia saja daripada bergabung dengan yang lain.

Menurut adat Batak, rumah orang tua akan menjadi milik anak laki-laki terakhir, yaitu Papi. Ditambah lagi Opung punya dua rumah dan dua anak laki-laki. Yang satu sudah dikasih ke Abang Papi.

Tetapi ini zamannya hukum Indonesia, bukan hukum adat. Papi bersaudara 2 cowo, 7 cewe. Sebagian besar  minta rumah Opung  dibeli Papi seharga pasar dan uangnya dibagi rata.

"Pokoknya aku cuma punya uang  segitu. Kalau mereka minta lebih, lepas aja Bang. Biar mereka jual ke orang. Jangan kita terima uangnya," kata Mak Gondut yang merasa dulu Opung Doli secara lisan mengatakan rumah itu memang didesain untuk dia dan Papi.

"Gak ada lisan-lisan, harus hitam di atas putih," kata abang Papi sewaktu dia masih kaya raya dan punya banyak bisnis. 

Sekarang dia tidak kaya raya.

"Ih bagus yaaaa... ngapain selama ini gue beli YSL," kata saudara lain, gak mau ngomongin warisan.


Hari itu kami hanya ngomongin lipstick Purbasari.

Mencari Jodoh Pria Batak

"Cuma si Atid aja yang gak ada yang melet," kata Mak Gondut tiba-tiba di sela-sela pembicaraan soal pelet ikan dan arsik di rumah Nantulang.

Gue tidak ikut tertawa, pasang tampang judes, berusaha tidak memperpanjang joke pelet ini menjadi obrolan perjodohan gue.

Tentunya kalau diperpanjang, gue akan dengan terpaksa bilang gue gak tertarik ama cowo. Tentunya Mak Gondut gak mau nantulang ini tahu. Nantulang ini pernah posting betapa menjijikkannya pernikahan sesama jenis di Whatsapp Group.

Nanti gak jadi Mak Gondut makan arsik.

Gue meninggalkan area arsik, menuju ruang tamu yang bebas manusia. Mending melihat-lihat manusia dunia maya daripada berhadapan dengan realita.

Kakak sepupu gue share posting Facebook dari enam tahun yang lalu. Artikel Batak Pos, koran Batak yang mengusung tagline 'kebebasan demi kebenaran' memberitakan kalau 'Sutradara film cin(T)a Mencari Jodoh Pria Batak'.

Gue melihat foto gue di situ. Entah kenapa dia memakai foto gue dari screening cin(T)a di Sidney. Mungkin asal browsing.

Setelah foto itu, gue menjalani Sidney Harbour di saat malam, berdua dengan the girl that was on my mind the whole time I wrote cin(T)a.

Sekarang Batak Pos sudah gak ada.

Apa kabarnya si pencari pria Batak?

Lagi nonton Carol untuk entah ke berapa kalinya. Mengulangi bagian saat bibir Cate Blanchett pelan-pelan menelusuri tubuh Rooney Mara. Rambut emasnya membelai lembut kulit Rooney Mara sampai ke bawah.


Cate Blanchett is so soft.