Rabu, 16 Desember 2015

Rumah Bersama


"Budaya kita kan emang keluarga tuh tinggal di satu rumah rame-rame. Jadi ya gue tinggal aja ama mertua gue, gak perlu pusing mikirin beli rumah. Duitnya bisa gue pakai buat modal usaha," jawab salah satu teman ketika ngomongin harga tanah di Jakarta yang semakin gak kebeli.

Kalau orang tua atau mertuanya gak suka ngatur-ngatur sih ya mungkin bisa aja ya. 

"Ya orang tua di mana-mana suka ngatur. Kita yang muda aja yang harus lebih kompromi."

Kebudayaan komunal ala Rumah Gadang dan rumah-rumah tradisional lain  mungkin bisa jadi jawaban permasalahan tanah terutama di Jakarta yang semakin didikte tuan-tuan tanah yang jumlahnya hanya beberapa tapi berkuasa itu. Kalau semua orang rame-rame tinggal di rumah orang tua masing-masing, nggak akan ada yang beli dagangan mereka. Kalau gak ada yang beli, otomatis harganya gak bisa sesuka hati mereka.

Tapi haruskah kita mengorbankan kebebasan individu demi gak didikte kapitalis?  Balik lagi ke zaman di mana gue sekolah apa atau kawin ama siapa masih tergantung orang tua?

Kayanya lebih mudah nyari duit sebanyak-banyaknya aja deh buat beli rumah.

Dan harga rumah semakin mahal.

Apakah gue aja yang emang terlalu prideful gak mau tinggal sama orang tua? Padahal kalau gue tinggal ama mereka, mungkin banyak yang bisa gue pelajari dari mereka. Dan gak bakal ada juga itu cerita orang tua depresi karena kesepian atau ditelantarkan anaknya di panti jompo.

Jangan-jangan kebanggan kita akan  cara hidup modern yang memuja individuality ini malah menjauhkan kita dari living to our fullest, malah sibuk menghabiskan our prime years mencari uang beli rumah dan melupakan hal-hal yang penting. Passion... Keluarga...

Lalu Mak Gondut ngebeliin apartemen.


Bah.

Film Simpang Senen


"Pelan-pelan bentar," kata Mak Gondut ketika mobil kami melewati simpang Senen.

Sudah beberapa kali kami melewati simpang ini, dan selalu Mak Gondut minta pelanin demi melihat billboard besar film yang ada muka dia.

Ini bukan film pertamanya, tapi ini pertama kalinya muka Mak Gondut dipajang besar-besar di Senen. Dan saudaranya banyak di Senen.

Sepertinya Mak Gondut bangga.

Gue melihat jejeran film yang terpasang besar-besar di sana. Film gue juga belum pernah dipajang di sana. Kalaupun iya, sepertinya bukan ini yang akan membuat gue bangga.

Ada yang membuat film untuk nyari duit, bangga karena bisa memberi kehidupan layak buat anaknya.

Ada yang membuat film yang gak ingin dilupakan generasinya.

Ada yang membuat film untuk menghibur orang tua dan teman-teman, sambil sekalian memahami Tuhan.

Dia menyebut dirinya storyteller, bukan filmmaker.

Bercerita bisa dengan apa saja. Tulisan. Nyanyian. Tarian. Gambar. Foto. Boneka. Tumbuhan. Pidato. Tatapan mata.


Menjadi filmmaker di zaman seperti ini sepertinya membatasi diri sendiri.

Adapproval

Karpet hijau Lucky bagus kali. Gue ikutan beli versi yang lebih kecil.

Sejak gue sering maen ama Lucky, selera gue jadi makin seperti doi.

Dulu waktu gue sering maen ama Dina, gue pun ikutan tanam bulu mata.

Baju-bajunya pun semakin mirip Dina. Body-nya aja nggak.

Dulu waktu gue shooting di Dayeuh Kolot, pulang-pulang gue jadi nyunda.

Gue kan harusnya turunan manusia gunung yang gak mudah beradaptasi dengan sekitar. Kenapa kelakuan gue jadi seperti  manusia pantai?

Mungkin ini gara-gara dari kecil gue selalu berpindah-pindah, jadi harus terus menyesuaikan diri dengan sekitar.

Atau gara-gara gue dididik secara CBSA sehingga selalu haus approval? Gak tahan menjadi beda dengan sekitar?

Kayanya approval deh.

Mulai sekarang semboyan gue harus ditambah dari 'No Lie, No Defense' jadi 'No Lie, No Defense, No Approval'.


'No Lie' nggak usah deh.

Kamera-Kamera Tua

Gue memandangi kamera-kamera tua itu. Dibaikin, gak worth it. Dijual, gak laku. Jadi harus gue apain?

Ya pajanglah. Daripada gue beli pajangan di mall yang gak ada arti personal buat hidup gue, mending gue jadiin kamera-kamera ini sebagai everyday reminday of my past and my hopeful future.

Mulai dari Nikon F2 warisan dari Papi, kamera pertama gue. Mengingatkan kalau all the best thing will stand the test of time. Setelah hampir lima puluh tahun, dia semakin cantik saja.

Kamera Nikon F100, kamera jurnalistik paling mahal di jamannya. Mengingatkan kalau expensive stuffs will wither away. Gak pernah gue pakai untuk apapun, terlanjur rame-rame pindah ke digital.

Kamera Nikon Coolpix 5600 Chica. Mengingatkan kalau it's okay to be broken after living life to the fullest. Hari-hari Jerman gue ditemani doi.

Sekarang yang bisa ready dipakai tinggal 7D Deden dan Sony VG10. Sony VG 10 gue beli karena waktu itu lagi berantem ama Deden, jadi gak boleh pakai 7D. I guess the silver lining is I finally get to buy my first camera, kamera yang muncul di Demi Ucok.

Sejak itu belum pernah beli lagi. Teknologinya terlalu cepat berubah, membuat gue merasa lebih baik nyewa.


Mungkin nanti, ketika 7D dan VG 10 sudah habis dipakai. Jangan sampai mereka dipajang cuma setelah dipakai untuk satu film. Malu ama tetangga-tetangganya.

Danau Toba

Danau yang indah dan damai ini ternyata  hasil ledakan super volkano terbesar di dunia 75.000 tahun lalu. 60% penududuk bumi musnah dan bumi dilanda musim dingin selama 6 tahun. That's the price of this beauty.

Dari sinilah gue berasal.

Kalau lihat dari bentuk wajahnya, kemungkinan  kami datang dari Asia Selatan. Tapi Orang Batak lebih ingin percaya kalau kami diturunkan langsung dari langit oleh some dewa naga atau cicak sakti, gue gak yakin.

Mendiskusikan asal muasal kami bisa menimbulkan perang saudara. Jadi lebih baik kita menikmati keindahan Danau Toba ini tanpa mempertanyakan apa yang terjadi di sini hampir 2 abad yang lalu. Mari kita nyanyikan lagu-lagu daerah kita, tak peduli kalau lagu kita itu lagu Jerman.

Sejarah hanya mengoyak  luka lama, apalagi di tanah yang gak punya kata untuk bermaaf-maafan ini. 

Di bawah air yang tenang ini, masih ada magma yang sewaktu-waktu siap meledak kembali memusnahkan kita.


Sebuah setting yang epic untuk cerita kecil tentang memaafkan.