Minggu, 03 Mei 2015

My Something Small

“Yang exciting dari masuk kompetisi di Critics Week Cannes, gak cuma filmnya diputer. Tapi Desember nanti gue diundang sebulan nulis di Perancis. Feature Film!”

Sebuah adegan feature film co-production Indonesia-Perancis yang dibintangi Marion Cotillard melintas di benak gue.  

It is good. It is daring. Dan gue yakin, hanya dia yang bisa bikin.

Marion Cotillard tergeser dari benak gue yang flashback ke beberapa tahun lalu, di sebuah kafe kecil bernama Tokyo di Bandung. Hari itu dia datang membawa sebuah majalah yang isinya homo-homo intelektual.

“Gue pengen banget deh bikin kaya gini.  Abisnya kok temen-temen gue ngomonginnya parti-parti mulu. Kan gue gak ada temen buat ngomongin social issues, politics, lifestyle, apapun deh selain sauna dan kucing-kucing.”

Karena gak ada duit bikin majalah, dia memutuskan bikin blog.

Yes, a blog.

The first step is that small.

Kemudian bencong-bencong Jakarta mulai ngobrolin hal lain selain sauna.

Kemudian Ford Foundation tertarik mendanai sebuah webseries berdasarkan blognya.

Kemudian Hivos yang ingin membuat film pendek tentang seksualitas tentunya memilih dia. Siapa lagi sutradara muda Indonesia yang se-edgy dia. Sementara yang lain sedang bikin film horor dan komedi cinta based on some best selling books, he went his own way.

The next thing we know, he is going to Cannes. The second Indonesian film in competition since Tjoet Njak Dien. (PS: Short Film Corner dan Market sebenarnya bukan official selection Cannes. Anyone with money can get in. So don’t get your Cannes news from Indonesian Infotainment.)

Maybe the next news will be Marion Cotillard.

Dan semua dimulai dengan sebuah concern yang sangat kecil. Kecil tapi genuine.

“Gue malu deh ama lo,”  kata gue yang lagi jual murah mode on. Gue menawarkan diri ke banyak produser bervisi duit  yang gak peduli juga ama apa yang mau gue bikin. As if mereka satu-satunya jalan bikin film di Indonesia.

“Don’t compare yourself to others,” kata dia sambil bayarin Lontong Sayur Medan.

“I think I should start with my something small. Tapi gue gak punya concern sebesar itu sama apapun. Gak kayak elo.”

Politik… yang gue tahu cuma sebatas dari media. Dan media you knowlah ada yang punya.

LGBT…  I am a rookie. And I am more interested in making universal films where LGBT is no longer a separated group. Kaya Demi Ucok, a lesbian is just part of everyday life. Gak ada yang usil nanyain.

Kami terdiam di pinggir jalan. Dia dengan rokoknya. Gue dengan my own thoughts, what is my something small?

“I think message lo yang paling kuat so far sih... resign club,” katanya di sela-sela hisapan rokoknya. 

Ternyata dia dari tadi diam tuh juga mikirin my something small.

Gue tertegun.

Resign Club?

It has been there forever dan gue gak nyadar. 

“Lo resign dan ngejar mimpi, I think it is inspiring. Banyak lho orang pengen resign tapi gak berani. You have a market there,” katanya kembali Cina. 

Harus jadi duit bo!

Ternyata I do have my something small all this time. I just need a good bencong who is socially and politically aware untuk menyadarkan.


Marion Cotillard, you will be a very lucky actress to get directed by him. 

Selasa, 04 November 2014

Biografi Kesenian



Saya dilahirkan di zaman Soeharto di saat pendidikan Cara Belajar Siswa Aktif membuat kegiatan berkesenian saya hanya sebatas menggambar dua gunung, satu jalan melintas sawah, dan matahari di balik celah kedua gunung. 

Kadang di kanan atas. 

Saya mulai mengenal jenis gambar lain ketika komik Jepang mulai membanjiri Gramedia. Gambar saya pun mulai menyerupai karakter-karakter di Candy-Candy.

Baru ketika tahun 2000 saya pertukaran pelajar ke Amerika, saya mulai mengenal jenis kesenian lain. Saya mulai mencoba berbagai jenis media seperti  lukisan cat air, lukisan cat minyak, gambar realis, fotografi, kerajinan besi, keramik, paduan suara, band, dan lain-lain. Gambar saya tidak lagi seperti Candy-Candy.  

Sepulang dari Amerika, saya kuliah di  Arsitektur ITB walaupun tidak terlalu mengerti serunya membentuk ruang. Tapi Arsitektur satu-satunya jurusan yang mungkin saya pahami di institut yang diinginkan mama saya. Saat itu saya tak peduli kuliah apa, yang penting ITB. 

Di ITB, saya mulai menonton dan membuat film pendek. Saya sangat senang membuat film karena berbeda dengan bidang seni lain yang cenderung sepi, film media yang populer dan mudah dijangkau masyarakat luas. Setelah lulus, saya ingin menjadi filmmaker.

Setelah lulus, tentunya saya tidak berani dan akhirnya menjadi asitek. Baru setelah saya gagal mendapat visa kerja dan tidak punya pilihan lain selain bikin film, saya mulai membuat film pertama saya.

Film pertama saya judulnya cin(T)a, dibuat oleh orang-oang yang semuanya baru pertama kali membuat film. Filmnya sangat sederhana dan temanya berhasil mencuri perhatian muda-mudi yang naksir orang yang beda agama tapi gak bisa. Film ini memberikan saya Piala Citra untuk skenario dan menjadi tiket masuk saya mengenal filmmaker Indonesia yang komunitasnya cenderung kecil dan tertutup.

Film kedua saya diproduseri salah satu sutradara favorit saya, Nia Dinata. Sebuah dokumentar pendek tentang seorang anak SMP yang juara kontes menyanyi instant di TV yang akhirnya menjadi tulang puggung keluarga. Perjalanan membuat film ini membuat saya berpikir ulang tentang popularitas dan dampaknya kepada passion kita.

Karenanya film ke tiga saya tetap saya produseri sendiri, tanpa artis terkenal, dan didanai ribuan orang lewat program crowdfunding. Judulnya Demi Ucok, tentang seorang anak yang tidak ingin menjadi ibunya yang kawin dan melupakan mimpinya menjadi artis terkenal.  Film ini sangat penting bagi saya karena dibintangi ibu saya sendiri dan perjalanan crowdfunding mengharuskan saya menemui satu per satu orang dan sering kali menemui penolakan. Film ini adalah sebuah begging pilgrimage yang berakhir manis. Film ini menjadi Film Indonesia Terbaik pilihan Majalah tempo dan Ibu saya mendapatkan Piala Citra dan menjadi artis sesuai cita-citanya.

Film ke empat adalah ‘Selamat Pagi, Malam’, film pertama yang tidak saya sutradarai sendiri. DI film ini saya belajar lebih dalam tentang identitas,  seksualitas,  dan melihat keindahan dari keburukan Jakarta.

Industri film Indonesia yang semakin hari semakin krisis penonton menyebabkan saya sempat berpikir untuk tidak lagi menjadi filmmaker. Di jaman New Media ini, sepertinya kita harus lebih fleksibel dan kolaboratif dalam menciptakan karya. Tidak boleh terlalu terpaku pada format film komersial berdurasi 90-360 menit. Sebelum berhenti, saya akan membuat setidaknya satu film lagi, Raja Kata. Sebuah cerita sederhana tentang memaafkan yang terinspirasi dari ayah saya.



Statement Karya

Film adalah bidang seni yang menuntut kompromI paling tinggi karena sangat kolaboratif dan membutuhkan dana yang sangat besar. Karenanya, saya harus sangat berhati-hati dalam membuat film agar tidak terseret arus keinginan populer.

Sejauh ini, saya hanya membuat film yang meresahkan saya. cin(T)a merupakan keresahan saya tentang agama atau cinta. Lima Menit Lagi  tentang popularitas atau passion. Demi Ucok tentang nurut ke orang tua atau mengejar mimpi. Selamat Pagi, Malam tentang mencoba melihat keindahan dalam keburukan. Karenanya, saya membuat film untuk menjawab keresahan diri sendiri. Sambil berharap semoga keresahan ini juga dirasakan cukup banyak orang sehingga filmnya balik modal dan bisa bikin film selanjutnya.

Selama saya masih banyak keresahan dan uneg-uneg, mungkin saya masih akan terus membuat film. 








Sabtu, 01 November 2014

Belajar Terbang

Di depan pintu bar itu dipajang tulisan Ladies Only. Tapi Lucky dan dua teman lelakinya rela masuk demi menemani kami, dua anak burung dari negeri yang tak punya lesbian bar.

Gue melintasi dance floor sempit dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap. Gue cuma berdiri ngintip-ngintip dari ujung ruangan mengamati lesbian Tokyo, sementara si anak burung lain sudah disamperin mbak-mbak berbahasa Inggris di bar.

Lucky dan dua temannya menjauh, seperti induk burung yang menendang anaknya keluar sangkar biar bisa terbang. Tapi sepertinya anak burung ini lebih memilih kembali ke sangkar.

Ini pertama kalinya gue ke Lesbian Bar.  Ternyata banyak juga yang cantik di antara buci-buci. 

Sayup-sayup di belakang sana, gue mendengar Lucky menceritakan kisah gue pada dua temannya. 

“Emang ini semuanya lesbian?” tanya gue pada Anak Burung 2.

“Ya iyalah, Mbak.  Namanya aja Gold Finger. Kalau gak suka cewek sih ya gak akan ke sini,” katanya 

“Lha elo nggak lesbi  ke sini,” tuduh gue.

“Ya gue kan bi,” katanya. 

Ini pertama kalinya gue denger confirmed dari mulut dia. Biasanya Anak Burung 2 berusaha terkesan dia eksperimen doang.

Anak burung 2 lanjut berburu. Anak burung 1 tetap diam mengamati  femme-femme yang datang dengan kostum polisi blasteran suster.

Hari ini malam Halloween.  

Papa burung memutuskan pindah ke restoran Thailand di sebelah biar Anak Burung 1 gak punya sangkar untuk kembali. Tapi Anak Burung 1 malah ngekor.

“Lo party pupper banget sih,” keluh Papa Burung.

“Ih baru tau? Emang kapan gue gak party pupper?” tangkis si anak burung yang  lebih pengen makan pad thai daripada kenalan sama femme-femme cantik. 

Bar memang bukan kandangnya.  Cukup baginya untuk melihat-lihat seperti apa sih lesbian bar. Setelah itu, kembali pulang dan menulis.

Anak Burung 2 yang dicurigai sudah sibuk ciuman di Bar me-whatsapp, ngajak Papa Burung pindah ke club buat dancing-dancing. Papa Burung yang sudah mulai ngantuk pun terpaksa ikut clubbing, menemani Anak Burung 2.

Gue berjalan melewati ribuan manusia dengan kostum Halloween yang merajai  jalan Nicome yang sebelum tengah malam mungkin dipenuhi mobil, Semuanya tertawa senang berusaha memanfaatkan momen Halloween untuk merayu dan dirayu and make the most of their youth. Gue menatap sekeliling, sambil bertanya-tanya what is wrong with me. Apa benar gue gak mau stay dan menikmati semua ini? Apa gue akan jadi party pupper seumur hidup kalau malah naik taksi dan pulang ke hotel?

Bukankah gue seharusnya pengennya di luar sini merayu dan dirayu and make the most of my youth?

Mungkin  deep down inside, I already found you. 

“Hotel Okura, please.”











Death

“I guess as we get older, we are not as funny,” jawab Lucky ketika ditanya kok bisa film ke duanya sangat berbeda dengan Madame X yang kocak dan penuh letupan. ‘In The Absence Of The Sun’ mellow to the low.

Si penerjemah Jepang ikutan mellow to the low mendengar jawaban Lucky.

“You are not old. How old are you?” tanyanya.

“34.”

“You still got a long way to go. People in Japan lives to a hundred.”

“Well, In Indonesia it is only 65.”

“Life expectancy that low?” tanyanya kaget. Padahal dulu dia pernah tinggal di Indonesia. Mungkin tinggalnya di Indonesia bagan expat, di mana udaranya bersih dan makanannya sehat.

Kalau dikonversikan ke mata umur Jepang,  Lucky sudah 50. Gue sedikit mudaan. Tapi akibat tak yoga dan gemar gula, mungkin jadinya lebih tua.

Gue tidak bertanya berapa umur Yumi. Tapi kalau orang tuanya sudah berumur 80, Yumi mungkin sekitar 50. Walau mukanya 30an.

“I am 48,” kata seorang mantan bintang porno.  Mukanya juga 30an.

Mungkin karena dia mantan aktor bintang porno Jepang yang sudah ngecrot di depan kamera di lebih dari seratus film. 

Nggak juga. 

Mungkin karena kulit mereka memang lebih tak berminyak dan cerah. Mungkin makanannya. Mungkin udaranya. Di Tokyo, gue bebas jerawat tanpa obat padahal tiap hari pulang ketiduran lupa cuci muka.  

Teringat papi yang sudah 67 dan selalu merasa waktunya bentar lagi. Papinya Papi meninggal umur 69, karenanya Papi yakin usianya tidak lama lagi. Apalagi mengingat  sudah 3 kali papi pingsan padahal sudah keluar masuk rumah sakit. Dan selalu dokter bilang dia sehat, tak boleh banyak pikiran, tapi nanti pingsan lagi.

Gue selalu tidak percaya setiap Papi bilang mungkin waktunya hanya dua tahun lagi. Papi terlihat sehat-sehat saja. Kematian seperti hal yang mustahil terjadi di hidup gue.

Sampai suatu sore di stasiun Sedagaya.

Sebuah whatsapp roaming dari Bang Gigit mengabarkan si Bobot, anjing menyebalkan yang selalu membuat gue merasa dibutuhkan dengan goyang-goyang ekor tiap gue pulang, ditemukan meninggal di kebun belakang.  

Sebelum gue berangkat ke Tokyo, memang Bobot mengurus. Sudah gak mau makan. Nafasnya terengah-engah.  Mak Gondut sudah mewanti-wanti agar parit kebun belakang ditutup. Anjing  kalau mau mati biasanya  kabur dari rumah.  Bobot jangan dikasih keluar-keluar. Nanti sore mau dibawa ke dokter.

Dan siang itu Bobot diam-diam pergi ke kebun belakang dan gek pernah kembali. Ditemukan sudah kaku.

Gue terdiam di peron, air mata mengalir tanpa suara, cuma menatap kosong, gak ikut rombongan yang terburu-buru keluar stasiun. 

“Yuk makan dessert yuk,” kata Lucky sambil menggiring ke toko kue serba green tea. 

Sejenak lupa Bobot.

Gue melanjutkan hidup berharap Bobot sudah bahagia di sana. Tapi tiba-tiba air mata netes sedikit saat wawancara radio, dan sedikit saat nonton film di sebelah bapak-bapak berkaki bau. Teringat nanti gue pulang gak ada lagi yang goyang-goyang ekor menyambut. 

Melewati stasiun Shibuya, Lucky sudah wanti-wanti jangan sampai gue dekat-dekat patung Hachiko. Tapi gue melipir dan berdoa sebentar.

Bobot tidak dibuatkan patung seperti Hachiko, padahal Bobot  lebih cantik. Bobot dikuburkan di depan jendela kamar Mak Gondut, hanya beda semeter dari tempat dia biasa bobo menemani Mak Gondut. Nanti kalau gue pulang, hanya ada bunga-bunga palsu pindahan dari ruang tamu yang sekarang menandai di mana Bobot bersemanyam.

Gue memandangi foto jenazah Bobot di FB Mak Gondut. Diselimuti kain putih, Bobot terlihat seperti bobo.

“Mukanya sih damai,” whatsapp-nya berusaha menghibur gue.

“Eh nggak ding. Mukanya nyolot.” 

Gue melihat lagi foto Bobot. 

Iya mukanya masih nyolot. Kupingnya berdiri galak. Siaga bacok kalau ekornya disenggol.

Gue tertawa. Iya ya gue gak perlu khawatir dengan Bobot. Preman aja serem ama doi, apalagi hantu dan malaikat maut. Bobot akan baik-baik saja di mana pun dia berada. Dia akan  bacok  siapa saja yang nyenggol ekornya di surga sana.

“Bobot mana masuk surga! Hanya manusia yang dipenuhi kasih Kristus yang masuk surga,” sambar Mak Gondut di satatus FB-nya.

Gue tidak membalas. Tidak membahas.

Di mana pun Bobot berada, semoga dia tahu dia disayang.

“Death really changes the way you see life,” kata Lucky mengenang sewaktu bapaknya meninggal. Dia jadi lebih tidak peduli the nonsense of life. 

Yang penting jambul harus hits. Potong rambut di mana ya?

Menyadari ternyata hidup bisa berakhir, semua keriaan Tokyo menjadi seperti tidak penting.

Gue melihat foto Papi dan Mami.  

Semoga Papi Mami tahu mereka disayang.

“Yuk biin pilim.”


Kartu Nama

“And the best film goes to… Heaven Knows What,” kata James Gunn bersemangat dari atas panggung Tokyo IFF yang kaku dan gak matching dengan aura James Gunn yang sangat hidup. 

Mas-mas Amerika sayang pacar yang pembicaraannya gue kupingin beberapa breakfast yang lalu ternyata sutradaranya. Selain Best Film, dia juga menang Best Director. 

“Bukan pacarnya bok! Istri. Itu udah pake cincin,” sambut Lucky saat gue ceritakan betapa manisnya si Best Director menelepon pacarnya.

“Abis pas nelepon, matanya berbinar-binar banget,” jawab gue yang belum nonton Gone Girl tapi sudah setuju dengan betapa membosankannya perkawinan.

“Ihhh emang kalau ama istri gak bisa berbinar-binar ya?” kata Lucky yang juga sebenanrnya malas kawin tapi gak rela kalau gue benar.

Gue gak menjawab karena terlanjur digiring Attendant tak berbahasa Inggris yang semalaman menjaga kami agar tak kabur. Dia menunjuk-nunjuk luar sambil ngomong something yang sepertinya Bahasa Inggris agar gue melanjutkan langkah ke lantai 49 Roppongi Hills. Semua filmmkaer, distributor, dan programmer sudah dikumpulkan di sana. Waktunya berburu.

Lucky mengarahkan gue menuju ke seorang sutradara Singapur dan distributornya yang kalik aja mau mendistribusikan film kita juga. Mumpung kita jadi closing film di Singapur, kalik aja mereka tertarik.

Belum ditawarin, mukanya udah pada judes. jadi gue batal menawarkan.

Lucky menyuruh gue untuk mingle-mingle. Gue bingung dan akhirnya malah mendekati Sharifa Amani dan tertawa-tawa membayangkan pemutaran ‘Muallaf’ back to back dengan ‘Sayang Can’t Dance’, dua film  yang dibintanginya. Yang satu menang di Tokyo, yang satu malu dia bahas. 

Semakinlah gue bahas.

Lucky balik dengan 2 kartu nama dari Japan Foundation. 

“Nih gue aja udah dapet kartu nama. Kok lo ngobrolnya ama Sharifa Amani muluk?” 

“Eh kalau yang kartu nama ini sih gue udah dapat kalik. Dah pernah ngobrol,” kata gue membela diri. Lagipula ternyata dekat-dekat Sharifa Amani malah sangat strategis,  karena semua lini perfilman kenal dia. Gak usah mingle-mingle, orang yang akan datangin dia dan gue tinggal ikutan nebeng dikenalin. 

“Kayanya next time emang mending artisnya dibawa deh. Enak banget kalau artisnya festival darling kaya dia,” kata gue.

“Well… harusnya kitanya sih yang jadi festival darling,” kata Lucky.

Tapi darlingnya malam ini si mas-mas breakfast. Filmmaker tanpa award terpaksa mengais-ngais kartu nama. Capek, mending ke tempat ruang merokok padahal gue gak ngerokok. Dan tentunya ketemu Malaysia-Malaysia lagi. Tertawa-tertawa, memang paling enaklah ngobrol sesama manusia pulau.

“Where is your executive producer?” tanya gue pada si produser Malaysia.

“Lagi meeting,” jawabnya.

“Tuh produser tuh kaya gitu. Meeting meeting,”  kata Lucky.

Gue mau protes bilang kan doi pejabat Astro. Dan dia udah memproduseri banyak film. Dan produser-produser first time ya  nasibnya masih nongkrong di Smoking Room. Tapi ya sudahlah. Mungkin gue memang bukan produser.

Langsung curhat-curhatan ama produser Malaysia, sesama produser first time.

“You have a screener? I can give it to my executive producer nanti kalau dia dah selesai meeting,” katanya.

Gue memberikan screener dengan bahagia. Sejujurnya, ini screener pertama yang gue beri dan gue rasa akan ada kelanjutannya. Dan semuanya dimulai dengan tertawa-tawa tanpa tukaran kartu nama.

“We should make something together,” katanya sambil membayangkan artis-artisnya disatukan dengan Adinia Wirasti dan si Lesung Pipit Filipina.

Gue setuju dan berjanji akan datang ke premiere dia tanggal 9 Desember nanti di Damansara.

Semoga film kita bisa beredar di Malaysia. Kalaupun tidak, setidaknya 9 Desember nanti akan kita akan menonton hasil karya sahabat-sahabat kita.

Fuck kartu nama.



  

Rabu, 29 Oktober 2014

Nasehat Lipstik Ungu

Dari dalam hangatnya Roppongi Hills Theater, gue melihat mbak-mbak berlipstick ungu meladeni oma-oma Jepang foto bersama di tengah angin musim hampir winter Tokyo yang semakin malam semakin berangin, semakin menghantarkan pantat gue ke dalam Roppongi Theater.

She looks like Yasmin Ahmad's girl.

Wait.

She is Yasmin Ahmad's girl.

Pantat gue kembali mengarungi angin, bergabung dengan oma-oma Jepang minta poto bersama Sharifah Amani. Monik gue seret untuk ikut motoin dengan kamera Olympus barunya, jangan pake kamera Fuji berbatere AA gue.

"Amani," katanya sambil menjulurkan tangannya.

"We met in Jiffest."

"Oh no. It was so long ago... when was it?"

"It was right after she was dead, there was a retrospective on her," jawab gue.

Dia terlihat sedikit menerawang, mungkin teringat almarhumah Yasmin Ahmad.

Hanya sedetik. The next second dia udah kembali pecicilan di depan lensa kamera Monik.

Gue memeriksa hasil fotonya, OMG. Gue terlihat raksasa kali di samping doi. Jadilah itu foto batal jadi profile picture facebook.

"Titip ini tas ye," katanya sambil dipanggil produsernya untuk another foto bareng.

"Sure," jawab gue senang.

"But this is not Malaysia, what? No need lah. No copet here. Aman," katanya jahil.

Gue kembali ke dalam karena Q&A In The Absence Of The Sun hampir dimulai. Meninggalkan Sharifa Amani dan onggokan tas yang diyakini bebas copet Tokyo.

Sempat menyesal kenapa tidak minta nomor contact doi. Harap-harap dia nonton In The Absence Of The Sun.

Nggak.

Ah kalau memang takdir pasti besok ketemu lagi.

Besoknya ketemu lagi di party gathering distributor yang sepertinya langka distributor. Kanan kiri mata memandang hanya ada filmmaker, filmmaker, dan ... alhamdulilah Sharifa Amani.

"The last time I heard you were thinking about directing, right? How is it?"

"I did some short films. One of them was screened here... and in Kyoto, actually," katanya.

Dilanjutkan dengan cerita film terakhir Yasmin Ahmad yang seharusnya di-shoot di Tokyo, dan tampaknya enggan dia ceritakan lebih lanjut.

"You know how it is when you have something precious and everyone wants to have it," katanya mengakhiri cerita yang tidak ingin diceritakan.

"What about your own feature film?"

"I try to take it slow... you know being anak emas Yasmin Ahmad, it certainly has a pressure on it," katanya.

"Well, it doesn't have to be good, right? Just do it," kata gue yang belum pernah merasakan beratnya jadi anak emas Yasmin Ahmad. Gue menyesal memakai tagline Nike sembarangan.

"Well I do short films first lah. Like the first script I wrote, I gave it to Yasmin AD which became my DoP. He was like saying... why was the script so sad? Did Yasmin ever teach you to be this sad?"

Actually, Yasmin never told them anything. She never told anyone to do anything.

But she always wanted her film to have Hope, because it is the only presents she could give to her audience.

Karenanya, Amani menulis ulang scriptnya, berharap ada harapan yang bisa dia berikan pada penonton di sana.

Hope.

Bagi filmmaker yang bikin film dengan tagline 'There's No Place For Us Here', Hope terdengar seperti kemewahan.

"Are you doing anything tonight? Let's go dancing-dancing," kata Amani sambil joget-joget di tengah jalan depan Bar.

Mumpung di Tokyo. Gak ada paparazzi.

"Indonesia are so much better. Di Malaysia, kalau nak dancing-dancing or to smoke in public, it will make it to the front cover," katanya sebal. "But I don't care. I just smoke."

"Well... come to Indonesia then. You can smoke and dance and become the minister," jawab gue merayu doi ke Indonesia.

Muke Lucky sudah siap pulang, malas ikut dancing-dancing. Gue pun akhirnya pulang, bukan karena males ikut dancing-dancing. Tapi karena pengen beli i Phone. Harus hemat.

Lupa lagi minta contact doi.

Damn.

"I just take it slow. Kalau Allah dah mau, semue pasti jadi," kata Sharifah Amani tadi.

Ah kalau memang takdir pasti besok ketemu lagi.

Senin, 27 Oktober 2014

Lost In Calculation

“It was so great. They put the subtitle on the side… yeah… like, vertically. Watching it like that is such a wonderful experience… and the graphic was beautiful…” katanya di antara buah dan teh breakfast paket dari Hotel Okura.

Gue mau tak mau menguping bersama oatmeal, croisant coklat 3 biji, omelette, dan kiwi-kiwi yang mungkin nantinya akan dimakan. Kalau croisant belum mengenyangkan, tentunya.

Teringat pertama kalinya gue melihat Demi Ucok degan subtitle Korea di samping kanan. Langsung gue foto dan whatsapp ke Bang Gigit dan Mama Singa. Scene Bang Gigit dan Mama Singa kawinan denan subtitle Korea langsung dijadiin profile picture sama Bang Gigit. Biar teman-temannya mengira dia jadi bintang pilim Korea.

“And we were also watching The City Lights in the Kabuki Theatre… yes, Chaplin… it was also beautiful,” sambung si sutradara muda dengan mata indah walau sepatu nike-nya tasteless. Teringat 3 menit lagi buffet sarapan pagi akan ditutup, dia berdiri sambil terus menceritakan harinya kepada si pacar nun jauh di salah satu kota di Amerika dengan semangat.

Mungkin dia baru pertama kali ke Tokyo.

Gue juga. Tapi mata gue gak sebersinar dia.

Mungkin dia  punya orang buat ditelepon dan diceritakan.

So I write instead. This is the closest I can get.

Jadi begini ceritanya.

Tadi malam gue pulang ke hotel higienis ini dipenuhi bau rokok dan sake setelah semalaman mencoba mingle-mingle dengan para hadirin Tokyo International Film Festival. Kirain yang diundang minum-minum Maggie hanya gue dan Lucky  doang. Ternyata kita gak that special. Masih ada 4 meja lainnya. Untungnya semua international press, habitat ideal untuk berburu interview.

Gue duduk di ujung dekat tembok, tempat yang sangat tidak strategis untuk berburu wartawan. Pilihan gue hanya ngomong sama tembok atau sama gerombolan filmmaker Filipina yang baru saja premiere film baru mereka.  Bapak si lead actor memperlihatkan video anaknya di atas panggung dengan mbak-mbak Manila berteriak histeris mengharapkan sambutan tangannya.

Ternyata si Lesung pipit manis yang belum cukup umur untuk minum bir ini sejenis Afghan versi Manilla.

Dan lawan mainnya, sejenis Mick Jagger versi Manilla - in his own words describing himself. 

Untung ada Lucky, jadi gue tidak harus ngobrol dengan tembok. Tapi ngapain jauh-jauh ke Jepang hanya untuk ngobrol ama Lucky. Mangsa kami ada di sana,  para wartawan Variety dan Hollywood Reporter.

“Biar filmnya ditulis boooo. This is work,” kata Lucky ketika gue enggan bergerak.

“Oh harus gitu ya?” tanya gue polos. Disambut tatapan ‘ya eyalaaaa’ versi Lucky yang akhirnya mengantarkan gue mengarungi meja seberang. Gagal.

“Cape juga ya mingle-mingle gini. Orang2nya itu-itu aja,” kata lucky.

Ternyata waktu zaman Lucky masih bikin film pendek dan masuk Cannes, Maggie masih di Holywood reporter. Trus pindah Variety. Trus sekarag programmer Tokyo International Film Festival. 

“Filmmakernya aja yang baru-baru,” tambahnya.

Misalnya gue. Saat film pendek Lucky masuk Cannes, gue masih bingung resign atau nggak dari arstektur. 

“Tapi Teteh tuh paling gak pernah deh ikut gini-ginian,” katanya lagi mencari pembenaran gak usah mingle-mingle lagi.

Mungkin dia sudah melewati apa yang kita jalani sekarang. Mingle-mingle sampai bosan demi sebuah review di Variety. Sekarang film dia hanya diputar di film-film festival temannya. Dia gak peduli soal Cannes, kompetisi, atau review Variety. 

Mungkin akan ada saatnya gue juga begitu.  

Lebih baik gue mengamati sekitar gue. Ini kan pertama kalinya gue ke Tokyo. Tapi sudah berasa kenal. Mungkin karena budaya Jepang, NHK, Manga, dan Toyota sudah merajai Jakarta. 

“The road in Japan are so bad,” teringat kata Host Mom gue di tengah salju midwest Amerika. 

Dia belum pernah ke Indonesia.

Jalan dari Narita ke Roppongi yang bertingkat tiga dan melewati lantai 8 bangunan kanan kiri ini jauh dari ‘so bad’. Setiap beberapa kilo ada telepon emergency. Dan semua perubahan jalan diberi tahu dengan signage penunjuk jalan yang bahkan gue yang buta Jepang saja bisa menerka-nerka artinya apa.

“And we should pay to get through???” katanya mengkomplein jalan berbayar di Jepang.

Dia belum pernah ke Indonesia.  

Tapi jalan tol di Indonesia gak ada yang sekali lewat 250 ribu sih. Kaya di sini.

Sebelum pergi Papi memang sudah mewanti-wanti agar tidak belanja apa pun. Di Jepang semua mahal, katanya.

“Ramennya cuma 1000 yen. Sama aja kan kaya di Jakarta,” kata Lucky di Ishiren, yang menurut dia ramen terenak di Tokyo. Gue gak protes karen ramen ini emang enak sekali dibandingkan ramen 50 ribuan di Jakarta. Padahal Ishiren ini sekelas warung tegal di Tokyo.

Walaupun Warung Tegal, ke Ishiren harus melewati tangga perpaduan besi dan kayu jati yang di Jakarta hanya dipakai kafe-kafe hipster  di hotel-hotel boutique Jakarta.

Sebelum masuk kita harus bayar dulu di sebuah vending machine tanpa bahasa Inggris, jadi biar Lucky sajalah yang menentukan.  Begitu masuk harus duduk di meja warteg yang  dikasih pembatas antar tetangga biar gak saling ngobrol. Di depan gue ada sebuah jendela kecil yang menghubungkan gue dan si mas-mas warteg ramen. Begitu ramen diasjikan, tirai ditutup krai bambu, memutuskan gue dari kontak dengan siapa pun. Hanya aku dan ramenku. 

Setelah makan ramen 1000 Yen, gue ikut Lucky makan dessert 1000 yen, minum sake 1000 yen, naik taksi 1000 yen, dan bayar bell boy 1000 yen. Sudah lupa nasehat Papi.

“Di Jepang harusnya gak ada budaya tips,” kata Lucky ketika gue tanya berapa ngasih si bell boy. Tapi karena cakep, bolehlah dikasih 1000.

Total hari ini habis 600 ribu, memang tak jauh beda dengan hidup bersama Lucky di Jakarta.

Tapi kan gue hidupnya sama Sunny Soon.  600 ribu udah bisa seminggu keliling asia tenggara bersama sunny.

Besok harus lebih hemat.

Makan pagi lebih banyak.

Tinggal 1 menit lagi.


Langsung ambil croisant. 

Sabtu, 05 Juli 2014

There
















































Akhirnya "Selamat Pagi, Malam" turun dari bioskop. Tapi perjalanan kita belum selesai. 

If there’s no place for us here, maybe there's a place for us there.

There.


Galeri Kita

Dia punya galeri baru, dikasih nama salah satu teman kita yang mati. Kebanyakan kerja, kata mereka.

Mungkin.

Gue pengen punya galeri kaya dia. 

Do I?

Be careful what you wish.

Punya galeri seperti itu harus dia lewati dengan dibenci banyak orang yang merasa tenaganya dimanfaatkan tanpa dibayar dan diberi credits yang sesuai. 

Dan hari ini dia berkampanye, “Prabowo sudah kaya, nggak mungkin korupsi.”

Wakwaw.

Jangan percaya orang yang dasinya jutaan tapi bayar pegawai kecil.  

Tapi orang seperti gue seringkali silau dengan apa yang di luar. Mahkluk seperti Jokowi mungkin sudah gue lewati kalau pertama kali bertemu.

Padahal kalau gue bisa hidup sederhana, banyak  sekali masalah dunia yang bisa gue minimalisir. 

Kalau gue makan sederhana, gue tidak perlu keluar uang banyak. Tidak perlu asuransi akibat dosa klesterol menahun.

Kalau gue beberes kamar sendiri, gue tidak perlu bayar iuran gym per bulan. Gak perlu nambah pembantu.

Kalau gue menguruskan badan, gue tidak perlu beli baju lagi. Sudah ada satu lemari khusus baju kekecilan yang I wish someday bakal muat siap menyambut tubuh singset ini. Bahkan ada yang belum pernah dipakai sama sekali. Dibeli karena harapan yang tak kunjung kesampaian.

Asal gue bisa hidup sederhana. Tapi kadang diri ini tidak pede berjalan dengan baju yang itu-itu lagi.

Mungkin kita gak butuh galeri. Hanya butuh revolusi diri. 

Enam Rakyat





Mak Gondut meminjam bayi tetangga untuk menambah simpati warga. Diperkirakan dengan image keibuan, warga sekitar akan memilih dia. Manuver terakhir Mak Gondut di hari perhitungan suara yang bebas logo partai.


Ternyata yang milih hanya enam. Dikurangi gue papi dan doi, berarti hanya tiga.

“Gak usah bilang dia,” kata Papi sepulang dari tempat perhitungan suara. Biarkan Mak Gondut bobo setelah berbulan-bulan lelah berkampanye.

“Nanti kita ajak makan es krim aja, biar hepi.”