Ekor yang lebih nyaman dan praktis kalau harus duduk banyak atau bobo.
Minggu, 13 April 2014
Jumat, 04 April 2014
She who never was here
What's with the tears oh you the weak minded vulnerable girl?
Just because some last goodbye from she who never was here
How can she say goodbye when she was never here anyway?
So get up and walk all the sugar you crave
Cause she was never here anyway
She was never here
She never was here
She never was here
Kamis, 03 April 2014
Validasi Orang
“Emang pencapaian film itu harus diukur dari masuk festival ya?” tanyanya risih melihat posting seorang teman yang dengan bangga menyebutkan berbagai penghargaan festival manca negara yang dia akui dia produseri .
“Kalau buat orang2 insecure kaya gue, validasi festival sih penting banget. Tapi only the brave one yang gak perlu validasi yang akhirnya bisa bikin something new sih,“ jawab gue mengingat manusia-manusia pembuat Facebook, Google, dan Apple.
Tapi walaupun tahu only the brave one yang bisa benar-benar mendrobrak, tetap saja gue berharap 17 April nanti ada keajaiban Selamat Pagi Malam lolos seleksi Cannes bersama filmnya Innaritu, Welsch, Frears dan nama-nama besar lain yang validasinya dibutuhkan festival agar mereka tetap hits.
Ternyata bukan cuma gue yang butuh validasi. Festival pun butuh validasi.
“Buat gue saat ini sih festival udah nggak penting ya. Filmnya jadi dan truthful ama situasi sekitar gue aja buat gue udah pencapaian,” katanya yang gak kebayang juri-juri Cannes akan mengerti lucunya 4 orang selfie-selfie dengan tas 12,000 Euro. Hanya manusia Jakarta yang akan ketawa.
“Tapi kan lebih enak lo bilang festival gak penting kalau lo emang masuk festivalnya,” jawab gue yang masih butuh validasi.
“Buat gue sih yang penting dari festival ya emak-emak kita bisa jalan-jalan di red carpet. Ya biar mereka pada senanglah,” katanya melihat daftar festival.
“Shanghai aja deh atau Korea. Emak gue kayanya kenalnya Gong Li atau artis-artis Korea deh. Mana dia tahu Lea Seydoux siapa,” katanya.
Shanghai deadlinenya 11 April.
Selasa, 01 April 2014
Pug dan Tikus
Pug berbulu sapi ngintip-ngintip. Si tikus berekor merak sedang makan banyak-banyak.
Tiba-tiba tikus menoleh. Pug tertangkap ngintip-ngintip.
Pug langsung sembunyi dengan kaki-kaki kecilnya. Ekornya yang hendak bergoyang diselipkan ke kaki.
Pug terduduk jauh-jauh. Takut ditendang lagi.
Tikus mendekat. Pug pura-pura tidur.
Tikus mengelus-elus Pug.
Ekor Pug bergoyang pelan.
Senin, 31 Maret 2014
65, Alkitab, dan Cina
Seorang sutradara perempuan pasca nasionalis yang berkesadaran politik mengajak dua sutradara kurang kesadaran politik ke toko buku untuk membeli buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965'.
“Bagus nih pemetaannya. Jadi kita kebayang oh ini apa-apa aja yang terjadi,” kata si Pasca Nasionalis.
Kurang Kesadaran #1 malah mengambil buku lain, Sejarah Alkitab.
“Hiiiy, lo mau baca itu?” tanya Kurang Kesadaran #2.
“Yang nulis Karen Armstrong kok,” kata si Kurang Kesadaran #1.
“Oh,” kata si Kurang Kesadaran #2 sambil mengambil sebuah buku tentang Cina di Indonesia.
Si Pasca Nasionalis anak petani yang dulunya aktif di radio kekiri-kirian, karenanya dia membeli Buku Pasca 1965.
Si Kurang Kesadaran #1 anak tentara orde baru yang seumur hidup dicekoki kalau Alkitab itu Firman Allah yang gak pernah dilihat sisi historisnya. Padahal Alkitab sudah menjadi dasar banyak sekali peristiwa politik dunia yang tidak selalu membanggakan.
Si Kurang Kesadaran #2 anak pengusaha Cina generasi ke tiga yang bapak ibunya terpaksa ganti nama biar terdengar lebih Indonesia.
Si Kurang Kesadaran #1 tetap membeli buku Pasca 1965. Tapi sesampai rumah yang duluan dibaca malah Sejarah Alkitab dan langsung habis dalam semalam.
Semua punya cerita. Semua punya kegelisahan. Tidak harus bersama-sama.
Minggu, 30 Maret 2014
Estetika Orang
“Lagu Ende itu kan sebenarnya lagu-lagu penjajah yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Batak. Kenapa sih harus kita rayakan segitunya?” kata seorang campuran Jerman Batak yang merasa esensi budaya leluhurnya banyak dihambat karena pemahaman agama yang dangkal dicampur inferior complex akut yang sudah terwarisi berabad-abad.
Akhirnya dia menolak tawaran kolaborasi sebuah pagelaran acara musikal berdasarkan Buku Ende karena pihak penyelenggara tidak tertarik menyelidiki lebih jauh tentang budaya asli Batak. Lebih tertarik dengan Batak pasca Nomensen yang bangga karena sudah lebih Jerman.
Gue, si anak batak berayah batak dan beribu batak tidak berani berkomentar. Buku Ende di rumah gue sudah dianggap sebagai lagu-lagu suci yang tidak boleh sembarangan dinyanyikan bersama drum dan gitar elektrik. Nomensen diangap dewa tanpa cela yang berkat jasa-jasanyalah hari ini gue tidak lagi barbar dan bisa membaca.
Bahkan terjemahan laporan asli Nomensen tentang keterlibatannya dalam pemusnahan Batak-Batak yang tidak sesuai kriteria Belanda pun dianggap hoax di rumah Mak Gondut.
Tapi dia berbeda. Lahir sebagai Batak yang beribu Jerman membuat dia lebih berani mengakui kalau lagu-lagu dalam buku Ende bukan budaya Batak asli dan Nomensen bukan dewa yang tidak bisa dikritisi.
Tapi pemahaman agama yang dangkal dan inferior complex akut sepertinya sudah menjangkiti seluruh negeri.
Si Batak beribu Jerman ini bersuamikan Sunda. Sunda punya ritual menghormati air yang sangat membumi. Hari ini dia berangkat ke Taman Hutan Raya untuk merayakan hari air dan suwon dengan alam yang telah memberikan kita air. Tapi ritual ini ternyata sudah diselipi ritual kata pengantar dan budaya hierarki ala Orde Baru, diselipi slogan-slogan Bandung Juara lengkap dengan jempolnya.
Gue membayangkan dia berfoto kebingungan di tengah-tengah para punggawa berseragam dengan senyum lebar dan jempol diacungkan.
Juara.
Wanita-Wanita Pasca Nasional
“Kapan ya Indonesia gak gini-ginian lagi?” kata sesama sutradara sambil menonton bumper Galeri Indonesia Kaya yang tentunya diisi tari-tarian tradisional yang itu-itu lagi walau dengan bumbu-bumbu yang lebih modern.
Di saat Jepang sudah punya Doraemon, dan Amerika sudah punya Walt Disney, Indonesia masih merasa yang dahulu adalah identitas nasionalnya. Seakan yang baru pasti sudah terkontaminasi asing dan bukan lagi identitas Indonesia asli.
Gue tidak menjawab, karena orasi Seno Gumira Ajidarma dalam rangka Hari Film Nasional akan segera dimulai. Judulnya adalah “Film Indonesia dan Identitas Nasional dalam kondisi Pascanasional”.
Seno dengan sangat tajam mengatakan kalau saat ini kita terjebak dalam sebuah cita-cita pseudo nasionalis yang sebenarnya malah membatasi kita dari menjadi manusia kreatif yang mandiri dan selalu berkembang. Apalagi di zaman pasca nasionalis yang semuanya sudah semakin global dalam hitungan waktu yang sangat singkat ini.
Setidaknya itulah yang gue tangkap dari orasi berlembar-lembar penuh dengan bahasa yang tidak pernah dipakai manusia biasa-biasa saja seperti gue. Ada bagian-bagian yang tidak mampu gue mengerti. Tapi bagian akhirnya gue mengerti dan menyejukkan hati karena datangnya dari seorang pria yang pendapatnya kami hormati.
Semua kalimat ngejelimet Seno tadi diakhiri dengan pernyataan kalau mulainya babak baru sinema Indonesia Pasca Nasional mungkin dapat kita pahami dengan menyelidiki bagaimana dari 33 sutradara wanita Indonesia yang pernah tercatat dalam sejarah perfilman kita, ada 28 yang sedang aktif membuat film saat ini.
Jangan-jangan Doraemon dan Walt Disney Indonesia nantinya wanita.
Di saat Jepang sudah punya Doraemon, dan Amerika sudah punya Walt Disney, Indonesia masih merasa yang dahulu adalah identitas nasionalnya. Seakan yang baru pasti sudah terkontaminasi asing dan bukan lagi identitas Indonesia asli.
Seno dengan sangat tajam mengatakan kalau saat ini kita terjebak dalam sebuah cita-cita pseudo nasionalis yang sebenarnya malah membatasi kita dari menjadi manusia kreatif yang mandiri dan selalu berkembang. Apalagi di zaman pasca nasionalis yang semuanya sudah semakin global dalam hitungan waktu yang sangat singkat ini.
Jangan-jangan Doraemon dan Walt Disney Indonesia nantinya wanita.
Atau yang merasa wanita.
Pengen Renang
Kekenyangan makan Mie Goreng Pedas + Roti Bakar Coklat + Kopi Tarik + Es Teh Manis, Sammaria berjalan-jalan di sekitar kompleks Kalibata City dengan harapan lingkar pinggang turun sesenti.
Di ujung Kalibata sana, di sisinya yang mendekati kuburan, ternyata tower-towernya mulai terlihat lebih megah. Toko-tokonya mulai tertata lebih rapi. Nama-namanya mulai tercium lebih luar negeri.
Sammaria mengendap-ngendap memasuki jantung tower-tower yang konon lebih mahal dari towernya sendiri yang walau dinamakan Tower Flamboyan tapi lobbinya bau ayam. Dan penghuninya jauh dari flamboyan.
Jantung tower-tower non proletar itu dibatasi pagar berkawat duri. Sayup-sayup terdengar tawa anak-anak tak kurang gizi dan bunyi kecipak air. Sammaria mengendap kepo mencari asal bunyinya.
Kebetulan serombongan ibu anak dan 2 baby sitter keluar pagar, jadi Sammaria bisa masuk tapa kartu akses.
Ternyata benar bunyi kecipak kolam renang.
Hanya lima menit jalan kaki dari tempat Sammaria berkubang mencuri coklat Sunny ada sebuah kolam yang kalau direnangi tiap hari mungkin lebih baik dari berlari-lari dan mencederai lutut kaki.
Sammaria mencari cara bagaimana caranya agar bisa berenang di sana tiap hari.
1. Membeli condo baru.
Bah. Uang dari mana?
2. “Ya berkawanlah. Semua di dunia ini kan bisa kalau ada teman,” kata Papi sesuai doktrin sekolah tentara zaman masih dwifungsi.
Bah. Muka gue kan seram. Mana punya kawan dekat kuburan.
3. “Gue punya teman yang punya apartemen di sana. Mungkin sesama wanita dia mengerti,” kata Sunny.
Untung teman gue banyak temannya.
Tips Hidup Tenang dan Damai
“Don’t date actors!” katanya menambah satu lagi tips hidup tenang dan damai.
Terakhir kali gue bertemu dia, dia baru saja putus dengan pacarnya yang sudah 6 tahun bersama. Saat itu tips hidup tenang dan damai-nya baru tiga:
1. Don’t date bisexuals. They will just leave you the next time a good guy coming.
2. Don’t share each other’s clothes. You will lose your identity.
Kayanya yang ke tiga : Don’t date anyone with psychological issues.
“In other words, don’t date us,” katanya sambil melirik empat manusia Indonesia di sekitarnya yang ternyata semuanya sutradara. Semuanya dicurigai agak gila. Akan tambah gila kalau dipasangkan dengan aktor yang sudah default-nya penuh drama dan body conscious.
Sekarang pacarnya atlet. Dan atlet adalah species unggul untuk dijadikan pacar para filmmaker yang menghidupi diri dengan drama ini. Karena mereka fokus, disiplin, berkomitmen tinggi, dan tidak ada waktu untuk drama.
“Or scientist!” kata si sutradara #2 berdasarkan usia sambil curi-curi menyelipkan cerita pacar barunya yang astronom di setiap pembicaraan.
“But check their fridge first,” kata sutradara #1 berdasarkan usia sambil mengingatkan bagaimana dia pertama kali mencari suami dengan cara memeriksa kulkas doi. Kalau kulkasnya rapi dan berisi banyak makanan bergizi, berarti bisa jadi ayah yang baik.
Sekarang hidupnya sempurna, andai saja dia mengikuti tips hidup tenang dan damai nomor 5!
“Don’t decide to get married before meeting his mother!” kata sutradara #1 penuh keyakinan.
“Gue udah ketemu emaknya kok,” bantah sutradara #2.
“Did he meet your mother already?”
“Aduh gak usah deh. Ntar malah gak jadi.”
Sutradara #3 dan Sutradara #4 hanya diam sambil mengangguk-angguk dan mencoba memetakan di mana para atlet berhabitat.
“Aduh jangan di gym deh! Ibaratnya ayam, yang di gym tuh broiler,” kata sutradara #1.
Then Senayan it is. Banyak ayam kampung di sana.
Tapi ingat tips #1.
Tuhan, Orang Tua, Dan Cinta
“Jadi lo maunya filmnya kaya apa? Lo ceritain lewat flashback gitu?” tanya sang suami setelah gue menceritakan betapa di Tanah Batak tidak ada kata maaf, tapi ada semacam upacara meminta maaf.
“Yang gue kebayang sih a simple story ya. Tentang ayah dan anak,” jawab gue belum menjelaskan ceritanya.
Karena memang gue belum tahu persisnya apa yang mau gue ceritakan lewat Raja Kata. Gue tahu temanya tentang maaf. Karakter utamanya seorang pendeta wanita muda dan ayahnya yang godfather. Tadinya mau sejenis Olo Panggabean. Tapi kalau mau menceritakan tokoh godfather di Indonesia mendingan karakternya tentara.
Gue tahu ada dua scene yang harus ada. Scene menari mengelilingi mayat diiringi lagu Batak yang sangat festive, gak cocok untuk merayakan kematian bagi banyak budaya di dunia. Dan scene menonton orang tenggelam di Danau Toba yang indah, tanpa berusaha melakukan apapun.
“Kayanya lo mending sekolahnya antropologi atau social studies deh, Tid. Jangan film,” kata sang istri.
Gue mengangguk-angguk seperti anak yang baik. Rasanya senang mendapatkan sepasang suami istri yang bisa gue ajak diskusi banyak hal.
Gue teringat sepasang suami istri lain ketika gue tinggal di Singapura. Sabtu pagi kami selalu diisi diskusi bertiga mengenai Tuhan dan keajaiban-keajaibannya.
Sekarang gue tidak lagi berdiskusi dengan mereka. Mereka lebih suka anaknya bermain bola daripada menonton Glee yang dipenuhi remaja-remaja penyuka sesama.
Karenanya gue mencari orang tua lain.
Mungkin gue selalu mencari orang tua lain.
Bukan karena Papi dan Mami bukan orang tua yang baik. Tapi Papi dan Mami sudah punya dunia sendiri yang mereka yakini benar adanya dan diciptakan dengan baik oleh Tuhan mereka. Dan gue tidak sampai hati mengajak mereka berpetualang dengan pertanyaan-pertanyaan gue yang tidak dapat dijawab tanpa menghormati kemungkinan Tuhan hanyalah imajinasi belaka.
Tuhan, orang tua, dan cinta. Mungkin itulah yang tanpa sadar selalu gue cari dalam dua film sebelumnya dan setidaknya tiga film setelahnya.
Mungkin karena gue dibesarkan di tradisi agama yang memanggil Tuhan sebagai Bapa dan Maria sebagai Bunda.
Mungkin karena gue dibesarkan di negara yang terlalu banyak memakai kata Tuhan, bahkan di lima silanya, tapi Tuhannya cuma boleh milih satu di antara lima.
Mungkin karena Tuhan yang gue kenal sangat santai, tidak seperti pengikutnya.
Mungkin gue hanya ingin bertanya.
Langganan:
Postingan (Atom)