Selasa, 31 Desember 2013

My Own Ending

Dito suka banget nonton Sound Of Music. Dia sudah nonton berkali-kali, tapi DVD selalu diberhentikan di scene menari-nari dikelilingi biru langit danau dan hijau rumput Austria. Tidak pernah ada Nazi di Sound Of Music  Dito. Mereka terus menari dikelilingi langit rumput dan danau.

Gue selalu menertawakan Dito. Sampai gue nonton Blue Is The Warmest Color. Setelah si rambut biru tidak lagi biru, gue gak kuat lagi nonton. Adele terlalu banyak menangis, terlalu membangkitkan emosi-emosi yang gue gak ingin ingat. Karenanya, film Blue Is The Warmest Color selalu gue hentikan saat semua masih biru dan hangat.

Sejak kapan gue jadi mbak-mbak melankolis? In my defense, Lea dan Adele adalah actress pertama dalam sejarah yang dapat Palme Dor di Cannes. Jadi acting mereka memang luar biasa.

Bukan karena gue mbak-mbak melankolis?

I guess gue lebih kuat nonton tentara Nazi mengobrak abrik Austria daripada Mbak-Mbak Perancis berbibir seksi menangis.

Selasa, 18 Juni 2013

BIrthday Wish

Tumpengan hari ini merayakan ulang tahun Papi yang telat 2 hari. Papi tampaknya senang ulang tahun dikelilingi anak-anak angkat kepompong gendut.

"Papi mau dibikinin pilim gak?" tanya gue pada Papi.

"Papi mana bisa main pilim," Mami langsung nimbrung minta diajak main.

"Yang main jangan Papi, Slamet Raharjo," tangkis gue menepis Mak Gondut. Kan film buat Mami udah, sekarang giliran film Papi. Tapi Mak Gondut tetap merapat, berharap diajak maen.

"Papi mau yang maen siapa?" tanya gue manis.

"Mami,"  jawab Papi dengan senyum bulus.

Mami tersipu-sipu.


Senin, 17 Juni 2013

Narasi Membumi

"Kayanya semua lebih ketawa kalau nonton bagian yang ada orangnya Tid, bukan yang animasi," kata editor mengingatkan.

Episode 1 dan 3 Demi Turki sudah memasuki tahap piclock yang membuat makan gue tidak lagi berantakan. Lebih tenang, lega dengan hasilnya.

Ceritanya menyenangkan dan mudah dinikmati. Pace-nya cepat dan banyak animasi lucu.

Gue berharap observasi editor ini cuma karena tadi nontonnya pake laptop tua pinjaman dengan speaker rebek. Kalau Fatwa Indri dan Ridla  bisa mendengar narasinya, mungkinkah mereka ketawa?

Apakah narasinya terlalu banyak? Apakah gue terlalu banyak bicara?

Apakah ego gue menghambat gue menyadari kalau narasinya kurang lucu ?

Atau Fatwa Indri dan Ridla yang terlalu rata-rata?

Gue yang gak bisa deliver cerita kok malah nge-judge mereka rata-rata?

Tapi kalau gak pakai narasi, gue gak kepikiran cara lain untuk membuat pace Demi Turki lebih cepat.

Episode 1 dan 3 sepertinya sudah menarik. Tapi episode 2, 4, dan 5 butuh materi tambahan untuk mengisi screen time, kalau gak mau ceritanya jadi draggy.

Bisakah gue menciptakan narasi yang lebih membumi?

Minggu, 16 Juni 2013

Papi Ulang Tahun

"Ca, Papi ulang tahun Juni atau Juli sih?" tanya gue ke Mama Singa setelah siang-siang Deden bangun dan menanyakan apakah Papi ulang tahun.

"Benar-benarlah kau anak bungsu tak berbakti," aum Mama Singa.

Papi lagi di Manila, mengurangi satu list negara yang ia ingin kunjungi sebelum ia meninggal, bersama Mami. Tadinya Papi mau pulang ke Bandung tanggal 18, tapi diundur jadi tanggal 16. Gue gak ngeh kenapa Papi ngundurin jadwal pulangnya. Ternyata mungkin karena dia ulang tahun.

Ingin menebus dosa, gue berpikir apa yang bisa gue belikan pada Papi untuk dia ulang tahun.

HP baru, ah nanti dia ilangin lagi.

Topi pet baru, ah nanti dia ilangin lagi.

Sepatu lari baru, ah nanti dia gak pakai lagi. Bagi papi sepatu cukup satu.

Papi adalah manusia yang sangat sederhana. Bajunya itu-itu melulu kalau nggak dibeliin Mami. Papi tidak pernah suka barang bermerk. Semua barang yang dia pakai akan terlihat mahal, menurut dia.

Papi gak punya pengetahuan soal keindahan. Semua ruangan di rumah gue ditempeli kalender gratisan dari Apotik Bintang Semesta.

Hobi Papi adalah menyenangkan keluarga. Waktu gue kuliah, setiap pagi mobil gue sudah terisi penuh dengan bengbeng dan aqua nangkring di jok depan. Gue bahkan tidak pernah tahu berapa harga bensin premium sampai 2007, saat uang Papi tak lagi sebanyak sebelum pensiun.

Waktu gue mulai diet, di dapur selalu tersedia pisang, pepaya, dan aqua 1,5 liter berbotol-botol.

Hadiah ulang tahun apa yang perlu gue belikan untuk Papi?

Papi gak minta apa-apa. Mungkin cukup kalau gue gak nyusahin Papi.

Hhhh...

Sabtu, 15 Juni 2013

Another Risk

Hari ini kontrak pemain Dongeng Bawah Angin untuk segmen Dancing Gale ditandatangani. No turning back. Dongeng Bawah Angin akan tetap shooting dengan atau tanpa investor.

Teringat sebuah pentas drama musikal ambisius yang konon akan tampil di Jakarta Teater selama sebulan. Sebulan menjelang tampil, produsernya mengaku mereka tidak punya investor dan semua pentas dibatalkan hanya dengan kompensasi 50% fee yang baru akan dibayar pada 2015.

Gue tidak mau jadi produser seperti itu. Gue harus tahu bagaimana menghargai waktu dan mimpi orang lain. Bukan hanya merpati yang tak pernah ingkar janji. Produser pun seharusnya demikian.

Tapi bagaimana jika investornya menarik diri? Produser si drama musikal tadi juga mungkin tidak pernah berniat membatalkan karyanya sendiri. But shit happens. Investor bisa jadi mnarik diri, apalagi menjelang Pemilu 2014.

Papi menyarankan sebaiknya film ke tiga dan seterusnya dibayari sendiri. Kalau mau besar, harus berani ambil risiko.

Film pertama dan kedua gue dibayari orang lain dan selalu balik modal.   Dengan hanya 'meminjamkan' sebentar 100 juta, dia udah bisa dapat rights cin(T)a. Dengan hanya 'meminjamkan' sebentar 1 miliar, yang lain udah bisa dapat rights Demi Ucok.  Tahu akan balik modal, kenapa gak pake uang mami dulu?

Tapi gue takut, bagaimana jika gak balik modal? Investor Demi Ucok gak akan pusing kalau kehilangan 1 atau 2 M. Mami gue tahu uangnya tidak banyak. 2 M besar buat dia. Lebih baik dia  pakai jalan-jalan menikmati masa tuanya, bukan dihabiskan untuk memuaskan ego anak bungsu.

Makanya jangan merugi.

Tapi bagaimana gue tahu tabiat penonton Indonesia dan cuaca Jakarta?

Ah itu bukan urusan gua. Ada sutradara lain yang sudah merencanakan semuanya. Tugas gua adalah  mempersiapkan film ini sedalam mungkin tapi tetap bisa dicerna bankir2 tak berbudaya seperti Chica.

Today is another risk.

Pipis Berdarah

Semalaman begadang mengerjakan editan Demi Turki episode pertama. Makan gak teratur. Siangnya dipakai tidur.

Bangun-bangun pipis gue berdarah.

Apakah ini ginjal, infeksi virus, atau gonorhea?

Gue ke Anmo Peter Cung, berharap ini anyeng-anyengan biasa.

Gak sembuh.

What did I do? Tiap hari gue minum banyak air dan rajin bolak balik kamar mandi, sekalian menambah langkah pedometer.

Malas ke dokter karena pasti akan diberi segala macam obat-obatan yang belum tentu menyembuhkan.

Badan kita punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Tapi gimana? Biasanya gue banyak minum air putih. Kali ini bingung harus ngapain karena semakin banyak minum, semakin sering pipis, semakin sakit.

Mulai  hari ini gak boleh lagi begadang demi apapun. Badan gue harus lebih dihargai.

Gue melihat kursi editor yang dipakai berhari-hari, membuat sakit punggung dan potensi penyakit-penyakit lain. Gak worth it menyiksa diri cuma demi pekerjaan.

Tapi kursi editor bisa 10-13 juta.

Kesehatan kita tak terbeli.

Besok cari kursi bekas.





Kamis, 13 Juni 2013

My fourth 14.


4 bulan sejak 14 Februari 2013, gue menggendut lagi.

14 Februari berat gue 94 kg.
14 Maret 86 kg.
14 April 82 kg.
14 Mei 80 kg.
14 Juni 84 kg.

Padahal sudah 6 minggu shooting Demi Turki berjalan. Seharusnya berat gue sudah turun 4 kg dari 80, bukan malah naik 4 kg.

Kenapa gue semakin menggendut?
1. Gak renang. Gak yoga. Gak lari lagi.
2. Gak makan buah pagi malam lagi.
3. Gak mindful lagi.

Kenapa gue gak renang gak yoga dan gak lari lagi?
Karena banyak kerjaan ngedit.
No.
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.

Kenapa gue gak makan buah pagi malam lagi?
Karena pikirannya gak mindful. Semua yang lewat depan mata dilahap.

Kenapa gue gak mindful lagi?
Karena waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka.

Kenapa waktunya dipakai nangis-nangis dan berburuk sangka?
Karena gak mindful.

Lain kali mau berburuk sangka lagi, lebih baik sambil lari.

Run, Atid... Run...

Another Parent


Gue gak mau jadi kaya emak gue.

Tapi kata Yasmin Ahmad, the key to success adalah be nice to your parent. Karenanya gue membuatkan film untuk emak gue dengan hasil sesuai kata Yasmin. Sukses tidak hanya datang untuk gue, tapi juga emak gue. Steven Soderbergh bisa menang Cannes umur 26, tapi  emaknya gak menang piala umur 60.

Di semua gegap gempita yang mulai mereda ini, gue teringat  my parents gak cuma satu. Ada papi yang sealu mendukung di belakang.  

Kalau harus memilih, gue lebih pengen jadi Papi daripada Mami. Walaupun kayanya gue semakin hari makin mirip Mami, banci spotlight.

Papi yang baik hati selalu menolong orang tanpa perlu spotlight. Hatinya lembut, walalupun kata-kata pujiannya tidak bisa dipercaya. Papi tentara orde baru yang terlatih menenangkan massa. Setiap ada Viking mendatangi, diputusin pacar, atau minjem bus buat liburan, gue selalu berpaling ke Papi. Papi selalu siap membantu tanpa harap kembali berbintang terms and conditions apply.

Papi tidak pernah berkhotbah Tuhan Tuhan tapi papi orang yang paling dekat dengan Tuhan. Tidak ada masalah di dunia ini yang bisa membuat Papi tidak santai karena Papi selalu yakin Tuhan memang maunya demikian. 

Kecuali kalau lagi kelaparan, dia bisa lebih singa dari Mak Gondut.

Tapi kalau kenyang, Papi  tidak pernah mengaum dan menghakimi siapapun.

Beda dengan gua. Kebanyakan perkataan, kurang perbuatan.


Gue gak pengen jadi Papi. But I don't mind having his heart and his faith. Kalau ada karakter bapak yang ingin gue filmkan semahal 10 miliar, itu harus papi.

Bukan karena gue trying to be nice to my parent, tapi gak semua cerita layak diceritakan dengan budget miliaran.

Papi is a character worth telling.

Selasa, 11 Juni 2013

Ever After

"I believe in divorce," kata seorang anak yang tumbuh dengan Bapak yang gemar selingkuh dan Mama yang kepikiran sampai sakit-sakitan. Mama istri ke dua bapaknya, tapi udah cerai dulu ama yang pertama. Setelah selingkuh dan tak juga ditalak cerai,  bapaknya makin menjadi. Kawin lagi, pindah agama, dan bikin perusahaan berbagi saham dengan si istri muda dan adiknya. Tua jatuh miskin dan harus bagi-bagi aset dengan  istri muda yang tentunya sudah kawin lagi.

Sampai meninggal, Mama tidak juga menceraikan. Pernah sih minta cerai tapi gak dikabulkan Pengadilan karena Bapaknya minta cerai secara Islam padahal nikahnya Katolik.

Melihat mamanya menderita sampai sakit-sakitan demi perkawinan yang tidak layak diperjuangkan, wajar dia tidak percaya manusia boleh diperangkap dalam ikatan yang dosa kalau diputuskan. Apalagi setelah menonton Borgias 2 season, ternyata Paus Vatikan pun punya selingkuhan.

Gue tumbuh di keluarga besar yang bebas perceraian. Dulu ada om gue yang mau cerai karena ketahuan selingkuh, disidang satu keluarga besar dan dimasukin penjara sama bapak gue. Tentunya sekarang mereka tidak  jadi bercerai walau gue yakin si om masih selingkuh.

Papi Mami tidak pernah selingkuh. Tapi gue gak yakin mami cinta sejati papi. Papi orang yang baik dan bersyukur. Semua yang diberikan Tuhan padanya akan dirawat dan dimanjakan dengan penuh perhatian.

Mami, sepertinya paling cinta dirinya sendiri. Jadi kalau ada yang merawat dia segitunya pasti akan dipertahankannya.

Pasangan cerai pertama yang gue kenal adalah mama teman SMP gue.  Mungkin ayah barunya bisa sayang pada mamanya, tapi bisakah sayang juga pada dia?

Pasangan cerai ke dua di hidup gue ketika gue exchange student di Amerika. Host Mom gue anaknya dua, beda-beda nama keluarga dengan dia. Jadi at least dia sudah cerai tiga kali.

Setelah bercerai dengan Host Dad gue, hidupnya berantakan. Tidak lagi tinggal di rumah berjacuzzi. Cerai terlihat jadi the easy way out, dan setelahnya hidupnya tidak juga lebih baik.  Kalau saja dia stick to any of her husband, mungkin dia bisa tua  bersama seperti mami dan papi. Gak terlalu happy tapi at least gak berantakan.

Gue gak mau menikah seperti mami dan papi. Gue mau  hidup dengan seorang partner yang bisa gue puja dan gue manjakan. Gue bilang cantik tiap hari. Gue teriakkan ke semua orang lewat lagu, film, dan tulisan.

"Trophy dong?" kata si pro perceraian.

A trophy with a hint of slavery. Kalau trophy kan dipajang doang, kalau ini gue pengen dia ngerasa paling cantik sedunia dan rela dijadikan budaknya.

Tapi gue gak pernah kawin. Mungkin Papi, Mami,dan lain-lainya juga pengen bahagiakan pasangannya di awal perkawinan. And long years of marriage brought them here.

Semua orang tahu yang terbaik buat dirinya sendiri. Si mama yang diselingkuhi sampai sakit-sakitan mungkin tidak merasa perlu dikasihani, dia malah merasa telah sukses menjadi istri yang setia sesuai iman Katoliknya. Si Papa yang gemar selingkuh juga tidak perlu dikasihani, mungkin dia telah menjalani hidup yang penuh passion tanpa penyesalan. Om gue yang tetap diam-diam selingkuh juga tidak perlu disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia agar bisa survive hidup dengan tante gue yang kejam. Tante gue yang kejam juga tidak bisa disalahkan, mungkin itu satu-satunya cara dia menjaga agar perkawinanya tidak retak sesuai doktrin Protestannya. Host Mom yang hidupnya tidak lagi berjacuzzi juga tidak perlu dikasihani, karena mungkin dia bahagia bisa hidup mandiri.

Semua orang punya jalan sendiri, tidak boleh dihakimi.

Lebih baik menyanyi sambil menyiapkan diri untuk cinta yang hanya hari ini.


Senin, 10 Juni 2013

Sepatu Crocs Merah

Hari ini gue menjelajahi Jakarta bersama sepatu crocs merah yang gak mungkin gue beli sendiri.  Bentuknya seperti sepatu mbak-mbak kebanyakan. Dan merahnya mencolok mata.

Tapi hari ini gue memakainya dengan bangga dan tanpa lecet di kaki. Beda banget dengan hari kemaren.

Kemaren hari gue diawali dengan boots baru yang membuat gue terlihat edgy dan masa kini. Belum 2 jam menjalani lantai  tak berkerikil Kelapa Gading 3, gue sudah meraung minta pulang karena kaki lecet kanan kiri.

Untung Mama Singa baru beli crocs merah, dengan berat hati dipinjami ke gue. Tanpa mikir warnanya gak matching dengan jeans Lazuli Sarae gue, gue langsung pakai.

Ternyata yang nabrak bukan berarti tak serasi.

Dan yang kebanyakan bukan berarti tak nyaman.

Mulai hari ini,  gue tidak akan lagi menghakimi sepatu sebelum menanyakan ke kaki gua.

Terima kasih, mama singa.