Rabu, 07 September 2016

Shooting Lagi

Akhirnya malam ini tiba juga. Besok gua  shooting lagi. Cerita yang memang gua pengen bikin. Bukan pesanan. Bukan paksaan.

Diawali dengan tawaran membuat film pendek 30 juta yang akhirnya gua terima juga karena temanya menarik dan gak ada yang lain yang nawarin gue bikin film. Lalu nambah 100 juta karena ada organisasi perempuan yang keresahannya pun sama dengan gua.

Semua shot sudah direncanakan. Waktu sudah diperkirakan. Filmnya sudah setengah jadi di kepala.

Malam ini gue melipat baju ganti dan handuk, dimasukkan ke tas. Kalik aja gue butuh mandi dan berbahagia. Merapikan buku catatan dan skenario. Kalik aja gue lupa. Mengisi ulang baterai MP3. Kalik aja gue butuh sanctuary di tengah-tengah purgatory setting lampu.

Sudah jam 11 malam. Gue berbaring di kasur. Besok bangun pagi. Gak bisa tidur, bukan karena resah gelisah. Ada damai yang aneh menyelusup.

Semua yang datang membantu dibayar ala kadarnya. Gue berjanji gak akan marah-marah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Berserah dan nikmati semua yang datang, disyukuri dan dianggap petunjuk ilahi yang mengarahkan gue ke jalan yang benar.

Ini film Anteh. Bukan film gua.

Duit Mami

"Tid... Tid..." teriak Mak Gondut dari lantai bawah.

Dengan langkah malas gue bangkit dari kasur, turun ke bawah. Mau apa lagikah mamakku kali ini? Dianterin ke stasiun? Facebook salah password? Gak bisa post instagram?

Gue menghampiri Mak Gondut yang sedang berdiri di antara lautan ulos yang baru saja dia keluarkan setelah belasan tahun mengendap di lemari. Si Siti berjongkok di bawah sana melipat-lipat dan memisahkan ulos sesuai telunjuk Mak Gondut.

"Mami mau jual tanah mami... ada sisa uang 6M. Kita bikin museum kaya Madame Tussaud aja, Tid?"

Bah.

"Mana cukup 6 M bikin museum Madame Tussaud. Mending Mami bikin Mak Gondut Center," jawab gue asal.

"Oh gitu? Apa isinya?" tanya Mak Gondut lebih tertarik mendengar namanya menggantikan madam entah berentah.

”Ya buat film, acting, teater... apalah yang bisa bikin film kita lebih baik. Bisa makai talent sekitar. Atau kalau Mami mau stand up ama teman-teman mami lansia juga bisa."

"Gak cukup kalau sekalian kita bikin film?" tanya Mak Gondut.

Barulah gue melek. Gak percaya dengan pendengaran gue.

"Mau pakai duit Mami?"

"Ya tapi harus baliklah. Biar nanti kita bisa bikin lagi," katanya.

Bertahun-tahun gue ke mana-mana cari uang buat film, gak dapat-dapat. Kalau dapat, untungnya mau gue bikin Kepompongville biar sementara gak bikin film tetap bisa berkarya bersama talent-talent lokal.  Masa dapatnya tiba-tiba begini? Dengan belek di mata dan ulos di kanan kiri?

"Tapi kau cari jugalah duit lain. Biar lebih heboh filmnya. Jangan lewat gitu aja," tambah Mak Gondut mengembalikan gue ke dunia nyata yang terlalu kebetulan untuk dijadikan drama.

Gue malah gentar. 

Ini duit emak gue sendiri. Bisa dibeliin rumah, tanah, disumbang ke orang miskin... Dikasih ke si Siti biar si Siti gak perlu ngelipetin ulos di rumah orang. Balik ngumpul ama keluarganya di kampung...

Kenapa harus jadi film?

"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu,  tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu," kata Mak Gondut.

Eh, Yesus.

Kalau bukan ini jalannya, tolong jauhkan pembeli-pembeli dari tanah mami. Kalau memang ini, tolong bersama-sama kami.

Senin, 05 September 2016

20.000

Jumlah penonton wiken pertama hanya dua puluh ribu. Memang bukan film gua. Tapi gua langsung terhenyak.

Padahal filmnya menyenangkan. Bintang-bintangnya bertebaran. Sutradara dan produsernya banyak kenalan. Promonya jalan-jalan.

Kenapa bisa angkanya serendah ini?

Karena terlalu banyak berbahasa inggris? Karena isinya tentang perempuan urban? Karena tariannya kurang maksimal? Karena musiknya kurang dikenal? Karena terlalu liberal?

Karena sial?

Produser AADC aja pernah bikin film 25 Milyar tapi flop. Produser Habibie Ainun pun sequelnya gak selaku itu.  Lebih banyak film gak laku daripada laku.

Cuma pertanyaannya, mampukah kita terus membuat film setelah kehilangan uang?

Mungkin uang bukan hambatan utama.

Mental.

Industri ini memang bikin banyak jiwa mental.

Ridiculous

"Sejak dengar filmnya 12 menit tapi script cuma 4 halaman, gue udah curiga," kata Line Producer menanggapi sutradara yang hendak batal diet setelah pusing menyusun jadwal shooting.

180 shot harus selesai dalam waktu 26 jam.  Dikiranya  26 jam buat shooting semua. Ternyata sudah termasuk setting art, setting camera, istirahat, dan sholat jumat.

Sisa 18 jam.

"Gue kurangin shot deh," kata sutradara.

"Jangan kurangin shot. Diatur lagi aja biar gak ridiculous," kata Line Producer.

"Ini tuh udah dipangkas dari 50 jam. Gak ridiculous," kata sutradara mulai meninggi.

"Maksud gue diatur lagi mana shot yang bisa disatukan. Jangan dikurangin. Sayang," kata Line Producer tetap sabar.

Setelah atur mengatur, ternyata memang bisa shooting 18 jam tanpa ngurangin shot. Asal semua dikelompokkan dengan strategis.

Gue jadi menyesal tadi sudah meninggi suaranya. Ternyata si Line Producer benar. Solusi bukan cuma ngurangin shot. Tapi bisa kerja lebih strategis.

Lain kali harus lebih strategis. Dan jangan langsung ngambek dibilang ridiculous.

Mungkin memang iya.

Minggu, 04 September 2016

Diet

"Gue dan Aji pernah ngobrol, kayanya elu mah gak berhasil-berhasil diet justru karena langsung ekstrim semua gak boleh," kata Sally menyambut 'besok gue diet ah' yang ke sekian.

Si pencatat adegan pun tertawa-tawa mengiyakan. Sejak dia kenal gua, sudah berkali-kali gue bilang besok mau diet.

Gue kenal dia empat hari yang lalu.

"Gak usah bikin target ekstrim. Ntar malah stres sendiri," kata yang lain menyambut 'september ini gue 90kg ah' yang ke sekian.

Sepertinya semua orang lebih tahu gue daripada gue sendiri.

Jumat, 02 September 2016

Still

Studio tanggal 10 udah di-book orang. Kita telat karena kemarin-kemarin harus menunggu kepastian mesin tenun bisa dibongkar apa nggak. Kalau nggak, mau bikin replika atau pindah set? Bla bla bla.

Terpaksa pindah hari shooting ke tanggal 9.

Gak bisa tanggal 9 karena butuh satu hari membuat dinding hijau kami berubah putih sesuai request pelanggan tanggal 10. Harus tanggal 8.

Pemeran gak bisa. Mau rapat awal semester di tempatnya mengajar.

Pilihannya pindah lokasi atau shooting tanpa green wall.

Pindah lokasi tak ada studio seluas ini di Bandung. Dan semurah ini.

Shooting tanpa green wall? Bisa sih, tapi Erickson kerjanya lebih berat.

Ya udah shooting tanpa green wall. Nanti diset aja pakai kain hijau.

Eh pemeran cuma bisa setelah jam 12.

Ya udah mulai jam 12 sampai tengah malam. Pemeran inapkan di hotel biar besoknya mulai  shooting lagi jam 6.

Semua darurat ini gue hadapi tanpa khawatir. Mungkin gue sudah terbiasa. Mungkin gue sudah kembali percaya semua ini ada baiknya.

Erickson yang pusing.

Kamis, 01 September 2016

Timeline dan Setrika

"Ya nanti kainnya disetrika dulu," katanya.

Mendengar kata setrika, senyum gue mengambang. Sudah lama gue tidak mendengar kata setrika di rapat film ini. Setelah tim art mengundurkan diri dan art kembali digantikan orang film, kata setrika kembali mengumandang.

"Nanti saya bikin timeline-nya. Biar kebayang gimana 8 hari ini ngapain aja."

Mendengar kata timeline, kepala gue mengangguk-angguk. Seperti musafir yang lama tak bertemu air, gue dibanjiri kata-kata biasa yang ternyata gue rindukan: timeline, budget, setrika, cheat cheat... Kata-kata yang membuat gue lebih yakin pekerjaan akan selesai pada waktunya.

Dua hari ini menyadarkan gue kalau bikin film itu pekerjaan kotor di dasar gunung keindahan bernama kesenian.

"Kalau teater kan olah rasa, kita olah hasil," katanya dilanjutkan pilihan bahan yang bisa dipakai untuk mengakali mesin tenun replika terlihat realistis.

Gue membiarkan dia kembali diskusi budget dengan Line Producer. Apakah benar film itu hanya olah hasil? Apakah itu yang membuat film kita gak bagus-bagus?

Film Indonesia sering dianggap sebelah mata oleh dunia seni, karena dianggap  seni kompromi. Ya gak bisa disalahkan juga mengingat banyak filmnya begini.

Banyak yang gue belum mengerti.

Rabu, 31 Agustus 2016

Lanjut Bekerja

Atid, maaf... aku kayanya mundur dari tim kerja ini, silakan lanjut aja, kl perlu masukan, dg senang hati silakan WA/ tel atau ketemuan, begitu jg dg tim art. Aku merasa ga manfaat utk berada dlm iklim kerja spt ini, yg harusnya menyenangkan, membuka kemungkinan baru dan saling dukung spt rencana awal...memang butuh waktu untuk penyesuaian cara kerja dan prl dialokasikan waktunya, atau dicari solusi terbaiknya...Kl film ini low budget dan tak menyejahterakan, minimal kita bisa dapatkan kebersamaankebahagiaan kerja...

....anyway... this is not the way i work with people and it will never be...

Whatsapp dia membuat gue bertanya-tanya, ngapain gue ngerjain film ini? Agar orang mengkonsumsi dengan lebih bijak? Agar masuk festival? Agar gue lebih eksis? Simply gue suka membuat diri sendiri menderita?

Gue melihat kanan kiri. Kru yang tersisa masih mendiskusikan bagaimana membuat film ini terwujud padahal sudah sejam sejak meeting ini dibubarkan. Mungkin mereka juga deg-degan karena shooting tinggal 9 hari lagi dan banyak sekali hal yang masih harus direncanakan.

This is the way I work with my people. Seringkali banyak tekanan, tapi gue percaya mereka.

Lanjut bekerja.

Selasa, 30 Agustus 2016

Tiga Badai

Tiga anak kecil tiba-tiba muncul di kantor dan naik menyerbu kamar baby. Ternyata anak-anak teman SMA Chica yang tinggal di Qatar dan hendak bertemu baby-baby tapi Chica sibuk kerja.

Setelah tersadar dari shock gue, gue pun naik ke atas. Biola gue sudah dijadikan gitar. Sofa sudah dijadikan trampolin. Dan baby-baby sudah dijadikan objek selfie.

"I want the fat one," kata si anak sulung hendak gantian gendong Shema.

"Bukan fat! Cuma lebih besar," kata mamaknya berusaha politically correct.

Gue meratakan kaos gue, malas ikutan dituduh fat. Malas di-politically correctkan.

Lalu hujan turun. Si anak bungsu menjerit-jerit.

"Maklum anak gurun. Gak pernah liat hujan," kata mamaknya sambil memboyong mereka pergi.

Badai pun berlalu. Shema dan Sergie kembali mengeong tenang di kamarnya yang damai diiringi bunyi hujan dan petir. Gue mengamati mereka dan bertanya-tanya berapa lama lagi damai ini akan berlanjut sebelum duo baby ini pun berubah menjadi badai.

Sembunyiin biola.

Trotoar

Jalan pagi bersama Kubus. Ternyata trotoar sekeliling jalan-jalan rumah gua sudah bagus.

Bagus?

Lebih tepatnya sudah ada. Dan itu cukup bagus buat gua yang tumbuh tanpa trotoar dan ekor terancam ketoel motor. Sepertinya tidak 'standar internasional' karena gak ada bola beton besar mengawalnya seperti anjuran panca trotoar.  Tapi bagusan begini. Pohon-pohon tua tidak ditebang dan dibiarkan mengawal kami.

Kubus berak meninggalkan jejak. Mau ditinggalkan begitu saja oleh Mak. Terpaksa gue yang berjongkok menghalau berak dengan daun-daun kering.

Lalu kami melanjutkan jalan pagi diselingi gosip Aa Gatot yang menggantikan Jessica Mirna yang selama ini menghiasi hari Mak Gondut. Gue mengangguk-angguk saja sambil pandangan mengamati bekas SMA-ku dan bekas SMP-ku dan mengira-ngira apa yang sama antara trotoar ini dan kedua sekolah ini.

Rigid. Tak peka warna. Dihiasi gambar narsis pemimpinnya.

Pemimpin kami pun lulusan SMP dan SMA ini. Mungkin trotoar ini memang cerminan hasil pendidikan kita selama ini.

Kubus berak lagi.