Selasa, 30 Agustus 2016

Tiga Badai

Tiga anak kecil tiba-tiba muncul di kantor dan naik menyerbu kamar baby. Ternyata anak-anak teman SMA Chica yang tinggal di Qatar dan hendak bertemu baby-baby tapi Chica sibuk kerja.

Setelah tersadar dari shock gue, gue pun naik ke atas. Biola gue sudah dijadikan gitar. Sofa sudah dijadikan trampolin. Dan baby-baby sudah dijadikan objek selfie.

"I want the fat one," kata si anak sulung hendak gantian gendong Shema.

"Bukan fat! Cuma lebih besar," kata mamaknya berusaha politically correct.

Gue meratakan kaos gue, malas ikutan dituduh fat. Malas di-politically correctkan.

Lalu hujan turun. Si anak bungsu menjerit-jerit.

"Maklum anak gurun. Gak pernah liat hujan," kata mamaknya sambil memboyong mereka pergi.

Badai pun berlalu. Shema dan Sergie kembali mengeong tenang di kamarnya yang damai diiringi bunyi hujan dan petir. Gue mengamati mereka dan bertanya-tanya berapa lama lagi damai ini akan berlanjut sebelum duo baby ini pun berubah menjadi badai.

Sembunyiin biola.

Trotoar

Jalan pagi bersama Kubus. Ternyata trotoar sekeliling jalan-jalan rumah gua sudah bagus.

Bagus?

Lebih tepatnya sudah ada. Dan itu cukup bagus buat gua yang tumbuh tanpa trotoar dan ekor terancam ketoel motor. Sepertinya tidak 'standar internasional' karena gak ada bola beton besar mengawalnya seperti anjuran panca trotoar.  Tapi bagusan begini. Pohon-pohon tua tidak ditebang dan dibiarkan mengawal kami.

Kubus berak meninggalkan jejak. Mau ditinggalkan begitu saja oleh Mak. Terpaksa gue yang berjongkok menghalau berak dengan daun-daun kering.

Lalu kami melanjutkan jalan pagi diselingi gosip Aa Gatot yang menggantikan Jessica Mirna yang selama ini menghiasi hari Mak Gondut. Gue mengangguk-angguk saja sambil pandangan mengamati bekas SMA-ku dan bekas SMP-ku dan mengira-ngira apa yang sama antara trotoar ini dan kedua sekolah ini.

Rigid. Tak peka warna. Dihiasi gambar narsis pemimpinnya.

Pemimpin kami pun lulusan SMP dan SMA ini. Mungkin trotoar ini memang cerminan hasil pendidikan kita selama ini.

Kubus berak lagi.

Minggu, 28 Agustus 2016

Latihan Tanpa Makanan

Jam 1.

"Gak ada yang mau cemilan? Gorengan? Martabak?" tanya gue.

Tidak ada yang menyambut. Beginilah deritanya kalau bekerja dengan penari. Tidak ada gula-gula yang bisa melintas menggoda konsentrasi mereka.

Jam 4.

"Gak ada yang mau makan?"

"Kalau udah selesai, gue mau pulang aja."

Yang lain pun begitu.

Dan begitulah hari itu latihan ditutup tanpa diselingi penganan apa pun.

"Harusnya lo bersyukur punya cast crew gak suka makan," katanya.

Gue mengangguk terangguk. Seharusnya memang begitu. Fabulously Healthy Atid yang sudah direncanakan semenjak Repelita masih kita anggap cita-cita akhirnya akan terwujud.

Ajak Chica makan.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Apa Susahnya Hidup Susah

"Gara-gara lo ganti nama jadi Sammaria Simanjuntak sih," kata Sally melihat angka 13 berderet memenuhi hidup gue sampai menjelang forty nanti.

Sudah beberapa kali Sally meramal gue dengan apps numerologi gratisannya. Sudah beberapa kali gue mendengar angka 13 akan menghadang. Ternyata gue masih saja gentar.

Padahal angka 13 tidak cuma hidup susah. Banyak pemimpin besar dan seniman hebat yang malah berkarya ketika angka mereka tiga belas. Harusnya gue bersyukur. Apa susahnya sih hidup susah?

Tapi mendengar Hegar jalan hidupnya penuh  angka delapan, artinya kemakmuran, gue mikir juga. Tidak usah pakai numerologi pun sebenarnya gue sudah tahu Hegar lebih makmur. Hegar lebih banyak dipanggil produser Jakarta. Mobilnya sudah Nissan Livina. Dan baru-baru ini Hegar gesit merambah dunia potong ayam.

Bu Marintan jalan hidupnya penuh angka sembilan, angka spiritual. Makanya dia selalu intuitif dan dekat dengan alam.

Awal jalan hidupnya damai, tidak ada konflik. Dia suka mengajar dan yang diajar suka diajar.

Hanya gue yang dipenuhi angka 13. Gue melanjutkan hunting konsumerisme Paris Van Java sambil bertanya-tanya  andai gue memilih jalan berbeda. Gue pasti sedang belanja H&M dan Zara tanpa berpikir duit dan dampaknya bagi lingkungan.

"Emang mereka kenapa ama lingkungan?" tanya Hegar.

Gue memilih menjawab seadanya dan membiarkan dia di jalan delapannya. Lanjut meminta Hegar merekam tulisan-tulisan  'Better Cotton, Better Fashion'  yang membuat mereka terkesan peduli.

"Kalau lo pakai nama asli, angka lo 5. Jadi jalan-jalan," kata Sally menyambut kami yang kembali karena kehabisan batre.

Gue terharu. Sally menghitung nama asli pasti manual. Nama gue terlalu panjang untuk dihitung gratisan.

"Jadi hidup lo kombinasi keduanya lah. Jalan-jalan dan hidup susah."

Sounds like a filmmaker.

Film & Performance Art

"Pertunjukan itu hasilnya abstrak, tapi prosesnya semua real, ada di panggung. Kalau bikin film itu hasilnya real, tapi prosesnya abstrak dan penuh rekayasa," kata seorang artistic director panggung yang baru pertama kali membuat film.

Coba-coba ditontonnya Behind The Scene 'Alice'. Terkaget-kagetlah dia melihat semuanya hijau. Bahkan baju aktornya aja hijau.

"Aktor film berarti harus jago pisan ya?" katanya membayangkan harus beracting dikelilingi hijau. Belum lagi urutan scene yang loncat-loncat membuat aktor harus siap ikut meloncat dari satu emosi ke emosi lain. Beda dengan pertunjukan yang aktornya bisa membangun emosi dari awal sampai akhir.

"Tapi kalau di film, aktornya banyak bala bantuan untuk membangun emosi. Bisa dengan editing, lighting, framing, sound... banyaklah. Kalau aktor panggung cuma punya badannya sendiri dan gak bisa salah. Makanya mungkin aktor film banyak yang manja ya?" jawab gue.

Makanya dulu seorang aktor bilang dia lebih suka teater.

"Theater is actor's art. Film is director's art," katanya.

Makanya teater lebih horizontal. Kalau film lebih vertikal. Semua tergantung sutradara.

Tapi melihat cara mereka bekerja, sebenarnya banyak yang bisa sutradara pelajari dari mereka. Berembuk bersama-sama di awal sepertinya bisa melahirkan banyak inovasi, daripada mengharapkan kejeniusan seorang yang borderline egomaniac.  Tapi berembuk ini butuh waktu lebih lama dan... dana.

Semoga waktu dan uang lebih bersahabat.

Floating/ Swimming

Apa-apa gak ya kalau gue gak bikin film lagi?

Kata link artikel facebook dari seorang penulis bijak yang kayanya namanya seharusnya gua tahu tapi nggak, tujuan hidup yang terlalu jelas itu malah akan menjauhkan gue dari diri gue sendiri. Selama ini kupikir hidup itu harus ada tujuan jelas biar tahu mau berenang ke mana. Kalau gak, kita hanya floating around ngabisin waktu yang gak banyak ini.

"Better floating around than swimming aimlessly," kira-kira begitu katanya.

Setelah mencoba membuat film dengan adil dan sepertinya tidak mungkin di industri ini, kupikir-pikir ada benarnya juga kawan ini.

Kukira tujuan hidupku mau jadi sutradara, atau mau bikin film. Tapi tujuan ini malah membuat gue merubah diri lebih mirip sutradara-sutradara lain. Gue berpakaian lebih mereka. Gue nonton film yang mereka nonton. Gue gak lagi mengerjakan apa yang gue suka dan memakai apa yang gue suka. Yang gue paling gak suka, gue mulai percaya kalau gak ada yang adil di dunia ini.

Saran doi gimana kalau gue ngejarnya way of life, bukan goal of life. Misalnya gue ingin jadi manusia yang lebih adil. Ya gue adillah dalam hidup sehari-hari termasuk  membuat film. Jadi gue gak akan terlalu stres ketika dihadapkan pada pilihan bikin film yang gak adil karena tujuan gue bukan membuat film. Kalau my way of life membawa gue membuat film, syukur... kalau nggak, ya cari media lain.

Hari gini kok rigid.

Lebih nerimo, lebih legowo, dan menghindarkan gue dari menjadi orang yang gue tak cintai.

Jadi pengen bikin something.

Mengeong Rindu

Semakin sering ketemu, semakin rindu.
Semakin rindu, semakin gampang ngeong.

Ya udah gak usah ketemu.

Semakin gak ketemu, semakin rindu.
Semakin rindu, semakin gampang ngeong.

Ya udah ketemu.

Rindu lagi, ngeong lagi.

Ya udah nerimo.
Ngeong-ngeong basamo.

Tiga Mamak

"Lu harus tuh urus sebelum 30 September. Kalau nggak, naik lagi jadi 3%. Kalau gue kemaren cuma bayar 0,5%. Bisa dicicil lagi tiga kali," kata Mamak 1.

Mamak 2 dan Mamak 3 hanya tertawa-tawa tak gentar. Yang satu istri pensiunan polisi. Yang satu istri pensiunan tentara. Seumur hidup mereka tahunya pajak bisa diatur.

Mamak 1 Cina, janda seorang pengusaha Surabaya.

"Kalau nanti mau jual rumah dan kita belum lapor, bisa-bisa kena penalti 200%," kata Mamak 1 menambahkan. Mamak 2 dan Mamak 3 tetap tertawa-tawa.

Mungkin mereka kira ini masih zaman Suharto.

Gue hanya menyetir tanpa ikut berkomentar. Malam ini premiere Tiga Perawan, dan gue ditugasi mengawal Tiga Mamak ini sementara anaknya mau red carpetan. Tempatnya di gedung orang Golkar. Sponsornya pun group orang Golkar.

Mungkin memang kita masih di zaman Suharto.

"Lu yang urusin lah, Tid. Mamah-mamah mah biasanya cuek ama yang beginian," kata Mamak 1 cemas. Gue mengangguk mengiyakan. Walau bukan mamah-mamah, gue pun cuek tax amnesty.

"Ah itu tax amnesty salah sasaran. Masa kita yang kena? Yang gede-gede itulah dikejar," kata Mamak 3 sekilas sebelum melihat Titik Puspa lewat. Langsung ngantri minta poto.

Mamak 2 dengan Tara Basro walaupun gak tahu itu siapa. Anaknya yang minta.

Premiere malam ini lebih meriah dari film-film lainnya. Ada penari, band, dan karpet merah. Mungkin karena memang budget-nya lebih besar dari film biasanya, walau tadi di panggung si Produser bilang gak ada duit promo.

Mungkin dengan tax amnesty ini, akan  banyak premiere karpet merah di film Indonesia. Mungkin gak ada pengaruhnya karena salah sasaran. Mungkin gak ada pengaruhnya karena duit film justru duit gak kena sasaran.

"Tid, fotoin mami dong!" kata Mamak 3 yang sudah tiba gilirannya berfoto dengan Titik Puspa.

Klik.

Selasa, 23 Agustus 2016

Sabar

Apa yang paling diperlukan untuk selamat menjadi storyteller di luar jalur mainstream?

Sabar.

Ketika dapat pinjaman dua kamera dan dua-duanya baterainya  drop.

Ketika art team baru yang sudah di set 3 jam yang lalu belum masang green screen.

Ketika studio sejuta 12 jam ini gak punya speaker dan masih dipenuhi lampu-lampu yang punya.

Ketika tim produksi gak mau meminjamkan orangnya karena itu bukan kerjaan dia. Dan memang bukan kerjaan dia.

Ketika gue sadar untunglah ini cuma test cam. Bukan shooting beneran.

Tapi orang-orang inilah yang nanti akan shooting beneran bareng gue.

Sembilan tahun yang lalu, waktu bikin cin(T)a, kami memulai dengan semuanya orang baru. Tapi sekarang kesulitan filmnya meningkat. Orang-orang baru jadi keteteran.

Bisa saja sih sabar kalau waktunya lama. Bisakah gue sabar kalau shootingnya dua minggu lagi? Apa yang penting buat gue?

Film dan pembuatannya adil.

Senin, 22 Agustus 2016

Para Penari Istana

Ada yang pagi-pagi sudah mendatangi tetangganya.

"Saya mau nari di sini. Sitayana, bukan Ramayana," katanya. Lalu si tetangga dijadikan api biru yang mengelilingi dia. Dia tentunya jadi Sitayana.

"Padahal dia sudah enam puluhan dan tak kecil lagi," kata salah satu muridnya. Tapi katanya nanti di Bali yang jadi Sita muridnya.

Ternyata dia lagi.

Pernah dia menari bersama segerombolan penari Jawa. Gantian. Saat Penari-Penari Jawa mentas, dia berisik di pinggir panggung memberi instruksi kepada murid-muridnya. Saat mereka manggung, yang Jawa duduk tak bergeming sedikit pun di pinggir panggung.

Saat pengajuan dananya ditolak oleh Departemen, dia berteriak-teriak mengamuk sampai ke lift.

Ada lagi penari lain yang sudah dijanjikan 800 juta oleh departemen untuk pagelaran 70 tahunnya setelah mengabdi bertahun-tahun menjadi penari istana. Tiba-tiba si Bapak berkelat-kelit tak jadi ngasih padahal semua persiapan sudah dimulai.

Dia hanya diam, mengambil semua berkasnya, dan kembali ke rumahnya tanpa dendam. Menghitung ulang semua dengan dana seadanya.

Tapi dari wajahnya yang diam, kita tahu dia menekan kemarahan.

Ada lagi yang memang tulus ikhlas dari sananya. Seperti si penari Jawa yang hanya diam di pinggir panggung tanpa bergeming.

Penari... penari... ceritamu banyak sekali.

Ingin kuberi kalian panggung.