Senin, 22 Agustus 2016

Tentang Yang Lain

"Kita bertiga pernah ngobrol... Seandainya Sammaria bikin film yang tidak tentang dirinya sendiri... Lebih tentang karakter urban Batak sekitarnya, pasti filmnya lebih bagus," kata seorang aktivis film menceritakan diskusinya dengan dua pengamat/pembuat lain.

Gue hanya menjawab dalam hati. Seandainya Demi Ucok bukan tentang dirinya sendiri dan mamaknya sendiri, filmnya gak akan jadi. Terlalu banyak bensin dibutuhkan untuk menyelesaikan Demi Ucok. Butuh alasan yang sangat sangat personal sampai film tanpa bintang tanpa CGI selesai.

Dan tayang.

Lalu dia menceritakan tentang film-film yang ingin dia bikin. Tentang karakter-karakter terpinggirkan di Jakarta. Yang bukan dirinya sendiri. Yang belum jadi-jadi.

Apapun cerita gue, semoga gue bisa bikin film jujur. Bukan jujur honest, tapi truthful.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Pilih-Pilih

Seorang ibu beranak tiga membuat sanggar seni untuk anak-anak. Di saat anak-anak lain sibuk ber-Frozen dan ber-Justin Bieber, anak-anaknya bermain gendang afrika dan membuat lagu tentang pergi ke gunung.

Brand pun mulai berdatangan mengajak mereka pentas untuk acara promo mereka. Keuangan sanggar mulai membaik.

Tapi Brand mengatur kostum, mengatur waktu, mengatur lagu mereka agar lebih sesuai image brand.

"Tapi yang bikin gue akhirnya gak terima adalah ketika mereka memilih pemeran," katanya menyembunyikan sedih dan amarah di balik ketenangannya.

Gak mau yang gendut. Gak mau yang kaca mata. Bagusan yang cantik. Mending yang udah terkenal.

"Ini kan anak-anak... Kalau dari kecil sudah kita bawa masuk ke dunia dengan pemikiran seperti itu,  buruk untuk masa depan mereka," katanya.

Akhirnya dia memilih jalan yang berbeda. Setelah setahun bekerja sama dengan sebuah badan  pendana untuk membuat teater musikal anak, mereka pun percaya padanya. Cast menjadi otoritas dia tanpa boleh diganggu gugat.

Dia pun memakai si gendut, si kacamata, si tak cantik, dan semua yang tak  dipandang industri hiburan yang semakin hari semakin membuat anak-anak kita cita-citanya menjadi cantik dan terkenal.

Sebagai anak gendut berkacamata tak cantik dan tak terkenal, gue bersyukur ada di sini.

Jujur/ Syukur

Seorang Ibu mengajak dua pengasuh baby-nya makan-makan di restoran.

"Gimana basonya?"

"Enak banget, Bu," kata Yang Tua.

"Biasa aja," kata Yang Muda.

Mungkin yang muda kurang bersyukur. Mungkin simply lebih jujur.

Guess siapa yang akan diajak next time si Ibu jalan-jalan.

Kamis, 18 Agustus 2016

Bangga

Sepasang atlet bulu tangkis berhasil memenangkan medali emas sebuah ajang olah raga yang seringkali jadi ajang konsumerisme berbulu heroisme. Gue berusaha tidak ikut-ikutan jadi anak dunia ke tiga yang silau dengan kata dunia, tapi melihat mereka berdua menggigit emas dengan jahil mau tak mau terharu juga.

Seperti kata artikel di facebook seorang teman bermata sipit, mereka adalah paduan yang pas untuk membungkam semua kata-kata pedih yang menghina perbedaan. Yang satu Islam, satu Kristen. Satu cowo, satu cewe. Satu pribumi, satu Cina.

Ternyata shuttle cock tidak mengenal ras, katanya.

Melihat rambut salah satu atlit, gue menulis komen, "Curiga shuttlecock tidak mengenal orientasi seksual."

Semenit kemudian, gue delete.

Curiga kita masih di tahap memahami perbedaan ras. Gak usah curi spotlight.

Rabu, 17 Agustus 2016

Merdeka

Di sela-sela roti Nutella, sebuah lagu berkumandang khidmat dari siaran TV One.

Ini lagu apa? Sepertinya lagu kebangsaan Indonesia. Dimainkan dengan drum band, orchestra ala Eropa, dan oleh pemuda pemudi berseragam macam tentara Eropa abad pertengahan. Tapi indah dan menggugah rasa bangga jadi orang Indonesia.

Oh hari ini hari kemerdekaan kita.

Gue tidak lagi mengunyah Nutella dan mulai mendengarkan TV One. Sudah sering gue mendengarkan lagu-lagu ini. Hanya biasanya dengan lirik-lirik patriotis yang untuk zaman sekarang malah mengingatkan pada pemuda-pemuda asal teriak NKRI harga mati.

Tapi jika dilantunkan tanpa lirik, malah membawa gue membayangkan zaman dahulu kala. Ketika Indonesia masih jajahan orang. Dan pemuda-pemudinya merindukan kemerdekaan. Dan slogan-slogan kebangsaan mungkin bukan hanya di mulut saja, memang mengalir ke jiwa raga mereka, dan tersampaikan  dengan sendu dan bangga pada gue melalui musik mereka.

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya...

Apa yang bisa gue lakukan di kemerdekaan ini?

Makan buy 1 menu 17.000 di Tawan. Atau diskon 17+8+45% di Haagen Dasz.

Selasa, 16 Agustus 2016

Satu Scene

Akhirnya storyboard untuk satu scene 'Weaving Anteh'  selesai juga. Total 41 gambar. Dua jam-an. Gambar sendiri. Gak ada budget storyboard artist.

Masih ada 9 scene lagi.

Tiba-tiba malas mulai menjangkit. Gak bisa ya langsung shooting aja? Toh nanti gak ada yang bakal lihat storyboard ini.

Kalau ngegambarnya aja malas, apalagi shootingnya.

Teringat film-film yang lalu-lalu. At the end, yang gue inget bukan award-nya, bukan screening-nya, tapi ngebuatnya. Saat gue menikmati dan mencurahkan semua energi gue untuk the lot that has been given to me.

Cause all is vanity and striving after wind.

Lanjut scene dua dengan seksama.

Senin, 15 Agustus 2016

Seni dan Doa

"Bu, ntar set-nya gak jadi kaya teater ya? Gak realistis?" tanya Director Of Photography.

"Bisa jadi," kata gue.

But it wasn't a bad thing. For me. Gue udah pernah lihat stage dia. Mistis. Beda. Gak kaya set film memang, tapi gue pengen nyoba.

Dan bukan set mereka saja yang berbeda. Cara kerja mereka pun berbeda.

Tidak ada gambar kerja detail yang bisa di-breakdown menjadi daftar belanja/sewa. Haram menyebut kata budget, bilangnya list art.

Alhasil Line Producer mulai bertaring bekerja tanpa pegangan dokumen apa-apa. Mengharapkan keajaiban hari H set langsung jadi magic sepertinya impossible di kamusnya.

"Gue tuh setiap hari berdoa, berharap dituntun apa yang harus gue lakukan," kata si Production Designer dulu saat menceritakan pagelaran epiknya di sebuah lapangan tengah kota bersama 2500 penari. Hasilnya di luar dugaan.

Mungkin gue juga harus berdoa.

Line Producer tambah bertaring.

Minggu, 14 Agustus 2016

Baby Cewe

"Lo hamil? Pantesan muka lo bersinar," kata gue.

"Kata suami gue juga gue jadi lebih dandan," katanya.

"Mungkin anaknya cewe," kata yang lain.

"Atau cong!" kata gue.

Tidak ada yang menjawab.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Talent & Personality

"Find one whose talent and personality you respect," nasehatnya dalam mencari kru.

Prakteknya, selain talent dan personality, budget-nya juga harus masuk.

Sudah budget-nya masuk, harus cocok dengan kru lain yang talent dan personality-nya gue respect tapi bukan berarti tanpa kesulitan.

"Kalau dia mau ganti jadwal seenaknya, sekalian aja dia yang bikin jadwal," kata kru pengatur jadwal sewot ketika kru baru minta ganti jadwal.

"Kok langsung pundung sih? Kalau gak bisa, ya bilang aja gak bisa. Simple," jawab gue sebel.

Membangun kru di Bandung bukan tanpa tantangan. Jam terbang rendah membuat banyak hal kecil bisa menjadi besar.

"Kami mohon fleksibilitasnya untuk menggeser jadwal produksi," kata panitia Jakarta seakan semua orang bisa menggeser jadwal mereka semua sesuai jadwal project ber-budget thank you ini.

Gue menghela napas mencoba mengingat-ingat kenapa gue menerima project ini.

Karena gue respect talent dan personality mereka.

Jadi nikmatilah ketidakpastian ini. Yang pasti, gue yakin mereka semua berusaha yang terbaik.

Jumat, 12 Agustus 2016

Yang Heits 60 Tahun Yang Lalu

Seorang nenek khawatir cucunya belum kawin juga padahal umurnya sudah 29. Itulah motivasi yang menggerakkan cerita keluarga seorang nenek, duda, dan tiga anak daranya dalam film yang dibuat 60 tahun yang lalu ini.

Ternyata 60 tahun kemudian, masalah kita masih sama.

Dulu sang sutradara membuat film ini karena perusahaannya butuh uang. Film seperti 'Darah dan Doa' dan segala cita-cita membuat film dengan identitas bangsa ternyata tidak cukup untuk menghidupi perusahaan. Dia harus bikin film seperti film musikal Hollywood yang laku saat itu.

Ternyata 60 tahun kemudian, masalah kita masih sama.

Tapi ada yang berubah. Cowo-cowo klimis berkumis tipis tidak lagi dianggap ganteng. Dansa-dansa cha cha cha ala Amerika tidak lagi dianggap kekinian.

Sekarang yang kekinian Korea. Jepang. Eropa. Amerika juga masih sih. Hipster-hipster pecinta kebudayaan lokal pun pahamnya impor dari luar sana.

60 tahun lagi, masihkah kita inferior?

Tak sabar menanti 2076.